Bab 1

Suatu pagi di akhir musim gugur. Saat fajar menyingsing menggantikan gelapnya malam, sinar mentari di ufuk timur memberikan sedikit kehangatan di udara dingin yang menusuk.

Saat itu lampu minyak di ruang bawah tanah rumah kediaman Keluarga Luo terlihat masih menyala. Seorang pemuda bernama Zen Luo duduk tegak di depan meja, tubuhnya menutupi sebagian besar cahaya yang terpancar dari lampu minyak tersebut, diam-diam dia mengeluarkan sebuah buku yang dijilid dengan benang dan terlihat sudah cukup usang.

Zen Luo adalah seorang pemuda bertubuh kurus dan tidak dapat dibilang tampan yang baru saja berusia 17 tahun, dia memiliki temperamen yang sangat lembut, matanya begitu bersinar bahkan di bawah cahaya lampu minyak yang redup dan temaram pun, tetap saja terlihat begitu bersinar dan mempesona.

"Aku membutuhkan waktu kira-kira sebulan untuk menyelesaikan buku 'Prinsip Surgawi' ini, semua argumentasi yang tertulis di dalam buku ini memang sangat baik, tetapi empat kata yang berbunyi 'Membalas kejahatan dengan kebaikan' sungguh sangat menjijikkan." Bisik Zen sambil menatap api di lampu minyak yang seukuran kacang. Wajahnya terlihat sangat sedih, "Jika saja ayah tidak berbaik hati dan mempercayai empat kata tersebut, aku sebagai keturunan langsung dari Klan Luo pasti tidak akan berakhir seperti ini, dan ayah juga pasti masih hidup ..."

Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka kunci pintu ruang bawah tanah yang kemudian membuyarkan lamunannya. Ekspresi wajahnya yang sedih langsung berubah menjadi sangat serius, dia dengan segera meniup api yang ada di lampu minyaknya dan menyelimuti dirinya dengan selimut katun yang sudah usang.

Pintu ruang bawah tanah pun akhirnya terbuka, lalu terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekatinya. Seorang petugas melangkah menuju ke arahnya dan menginjakkan kakinya di tempat tidur Zen, dia lalu berteriak kepadanya, "Apakah kamu masih tidur? Apakah kamu sedang bermimpi menjadi tuan muda dari Klan Luo? Bangun sekarang juga! Kamu harus pergi sekarang!"

Pria tersebut dulunya adalah seorang pelayan yang bekerja untuk Klan Luo, tampangnya terlihat agak keji, kutil yang tumbuh di dahinya sering membuat orang yang melihatnya merasa jijik, Zen duduk di tempat tidurnya sambil menggosok matanya, dia lalu menyingkap selimutnya, dan bangkit dari tempat tidurnya, kemudian mengenakan pakaian, kaus kaki, dan sepatunya dengan santai tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun pakaian itu sudah tua dan lusuh tapi Zen tetap menyimpannya dengan rapi, dia adalah pria yang sangat rapi dan teliti.

Petugas tersebut memutar bola matanya, lalu mengkritiknya, dan kemudian memberi isyarat kepada yang lain dengan melambaikan tangannya, beberapa pria lalu datang menghampiri dan mengepung Zen, mereka lalu memakaikan baju pelindung kulit yang tebal dan juga memborgol tangan dan kakinya dengan paksa.

Setelah selesai, Zen lalu mengikuti para petugas tersebut berjalan keluar dari ruang bawah tanah dan pergi menuju ke Balai Seni Bela Diri Luo.

Klan Luo memiliki ratusan tambang dan juga jutaan hektar tanah yang sangat subur, mereka adalah klan yang sangat besar dan berkuasa di Kabupaten C.

Namun mereka tidak ada apa-apanya jika berada di wilayah timur karena di sana memiliki ribuan kota kabupaten dan juga keluarga kaya dan terkemuka yang tak terhitung jumlahnya.

Zen berjalan keluar dari ruang bawah tanah yang suram dengan dikawal oleh beberapa pria, ini sudah menjadi ritual hariannya, jadi dia sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Untuk pergi ke Balai Seni Bela Diri, dia harus berjalan melewati banyak paviliun, jembatan, dan ruang galeri.

Balai seni bela diri tersebut berada di area terbuka, tempat itu adalah tempat di mana anak-anak dari Klan Luo belajar dan berlatih seni bela diri. Pintu masuknya dihiasi dengan patung singa jantan dan singa betina yang terbuat dari marmer putih, lantainya terbuat dari lempengan batu basal yang hitam dan besar. Hanya dengan berdiri di pintu masuk saja, orang-orang bisa merasakan kekuatan yang memancar dari dalam Balai seni.

Di tengah Balai Seni Bela Diri tersebut, ada puluhan anak dari Klan Luo yang terlihat sedang berlatih seni bela diri di bawah bimbingan seorang guru, mereka semua mengenakan jubah abu-abu.

mereka terus menerus melayangkan tinjunya sambil berteriak.

Anak-anak tersebut harus belajar dengan rajin dan berlatih dengan keras agar bisa memenangkan posisi tertentu dalam Klan mereka, semua anak-anak yang ada di sana terlihat hanya berusia 10 tahun ke atas.

Pada akhir musim gugur ini, meskipun angin dingin sudah mulai bertiup, mereka tetap saja berlatih dengan semangat hingga bermandikan keringat. Panas dan dingin yang kontras memenuhi seluruh balai seni yang diselimuti oleh kabut putih.

Di sisi lain Aula Seni Bela Diri berdiri lebih dari selusin pria yang berpakaian seperti Zen, mengenakan pelindung kulit dengan tangan dan kaki yang dibelenggu. Orang-orang itu terlihat sangat menyedihkan, sekujur tubuh mereka dipenuhi oleh luka dan darah.

Zen lalu dikawal masuk ke dalam Balai Seni Bela Diri, penjaga menempatkannya di antara orang-orang yang terluka tersebut.

Sebagian besar dari mereka adalah terpidana mati yang telah dibeli oleh Klan Luo dari penjara lokal dan dijadikan sebagai budak. Para budak ini dijadikan sebagai alat bagi anak-anak dari Klan Luo untuk melatih dan menguji kekuatan mereka, mereka diperbolehkan untuk menyerang para budak itu sesuka hati mereka, beberapa budak bahkan sampai terbunuh dan cacat akibat dari serangan tersebut. Seiring berjalannya waktu, jumlahnya semakin bertambah, tidak tahu sudah berapa banyak budak yang kehilangan nyawa mereka di sana.

Namun kondisi Zen sangatlah berbeda, dia tidaklah dibeli dan juga bukanlah terpidana mati, dia adalah anak tertua dari cabang tertua Klan Luo. Anggota Klan yang lain biasa memanggilnya dengan sebutan tuan muda, dulunya dia juga seorang bangsawan, para rekannya pasti akan membungkuk dan memberi hormat padanya, bahkan para tetua keluarga pun bersikap sangat sopan kepadanya.

Sampai dua tahun yang lalu semua langsung berubah, sebuah bencana tiba-tiba terjadi di Kabupaten C, ayah Zen yang merupakan kepala Klan Luo diracuni oleh saudaranya sendiri, dia langsung meninggal di tempat saat itu juga.

Tidak lama setelah itu, cabang tertua dari Klan Luo langsung diambil alih oleh tiga cabang lainnya. Mereka memfitnah dan membuat tuduhan palsu terhadap ayah Zen dengan mengatakan kalau dia adalah seorang pemberontak di dalam Klan mereka, dan karena hal itu keluarga mereka tidak bisa bertahan dan cabang tertua menjadi tidak sekuat sebelumnya.

Zen yang tadinya merupakan tuan muda dari Klan Luo, juga dicap sebagai pemberontak dan langsung dijadikan sebagai budak mereka, dia dijadikan sebagai alat untuk latihan seni bela diri dan dipukuli sesuka hati oleh anak-anak dari Klan Luo tersebut.

Zen telah menjalani hidup seperti ini selama dua tahun, dia bahkan sudah tidak tahu berapa banyak tinju dan hinaan yang dia telah dia terima selama dua tahun terakhir ini.

"Latihan tinju hari ini sudah selesai, kalian boleh memilih seorang budak untuk latihan berikutnya sekarang! Dengan memukul tubuh manusia, memungkinkan kalian untuk bisa sepenuhnya memahami keterampilan tempur yang sebenarnya, dan juga bisa mengetahui kelemahan serta struktur tubuh manusia!"

Setelah guru tersebut selesai berbicara, anak-anak yang ada di sana langsung memilih budak mereka. Seketika itu, suara para budak yang memohon ampun dan belas kasihan pun langsung terdengar di seluruh ruang balai seni, anak-anak tersebut tidak pernah memperlakukan budak-budak tersebut sebagai manusia, mereka dilatih untuk memukul tanpa ampun dan belas kasihan.

Banyak dari mereka yang mencoba untuk menemukan Zen. Bisa memukuli mantan tuan muda dengan serangan dan pukulan sebanyak mungkin memberi mereka sebuah rasa pencapaian yang sangat besar!

Dengan sikap yang tenang, Zen melindungi bagian vital tubuhnya saat dirinya dipukuli bak karung pasir, dan karena sudah dua tahun menjadi budak di sana jadi sekarang dia sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Tidak lama kemudian, beberapa orang terlihat berjalan masuk ke dalam Balai Seni Bela Diri, seorang pria muda yang berpakaian rapi terlihat seperti pemimpin mereka.

"Tuan muda telah tiba!"

"Tuan muda, akhirnya Anda selesai menjalankan pelatihan. sekarang Anda terlihat lebih segar dan bersemangat, kemampuan dan kekuatanmu juga pasti telah berkembang pesat!"

"Tuan muda kita adalah orang yang cerdas, dia adalah bibit Klan Luo yang sangat berbakat. sekarang dia pasti sudah semakin kuat dan telah memasuki tingkat pemurnian tulang yang lebih tinggi."

Melihat kedatangan tuan muda tersebut, anak-anak langsung menghentikan aktivitas mereka dan mulai berkumpul di sekitarnya, beberapa dari mereka bahkan berjalan mendekatinya dan melemparkan beberapa pujian kepadanya. Jelas terlihat kalau mereka semua sangat menyanjungnya.

Zen menatap pemuda itu dengan penuh kemarahan, Pria muda yang dipanggil tuan muda oleh anak-anak ini adalah Perrin Luo, dia adalah putra tertua dari cabang kedua Klan Luo, usianya sama dengan Zen.

Perrin menggantikan posisi Zen sebagai tuan muda dari Klan Luo setelah dia diturunkan dan dijadikan sebagai budak mereka.

Beberapa waktu lalu, Zen mendengar kabar kalau Perrin pergi ke tempat terpencil untuk berlatih, dia menghilang untuk waktu yang cukup lama, dan sepertinya kemampuannya meningkat dengan pesat setelah dia melakukan pelatihan tersebut.

Perrin Luo yang sangat sensitif kemudian menolehkan kepalanya ke arah Zen dan menyadari kalau sepupunya itu sedang menatapnya dengan penuh kebencian. Dia lalu tersenyum menyeringai sambil berjalan ke arahnya dan berkata, "Zen, aku pergi berlatih dalam jangka waktu yang cukup lama, dan saat aku kembali kesini, aku tidak menyangka kalau kamu masih hidup."

"Terima kasih karena sudah begitu peduli padaku, sayang sekali aku masih hidup." Jawabnya dengan geram.

"Berani sekali kamu! kata-kata macam apa itu? Beraninya kamu berbicara seperti itu pada tuan muda!?"

"Kamu hanya seorang budak di sini, berlutut! Cepat berlutut dan minta maaf pada tuan muda atau kamu akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini!"

Beberapa anak dari Klan Luo lalu meneriakinya, seolah-olah dia telah melakukan suatu kesalahan yang tidak termaafkan pada mereka.

Zen melihat sekelilingnya dengan acuh tak acuh. Saat dia menjadi tuan muda, semua orang-orang yang ada di sana berperilaku seperti anjing kecil di depannya, bahkan bernapas saja mereka juga tidak berani, namun setelah dia kehilangan kekuasaannya, sikap mereka langsung berubah, semua ini terjadi begitu tiba-tiba. Sekarang, mereka semua telah menjadi anjing Perrin.

Perrin lalu mengangkat tangannya untuk memberi isyarat pada anak-anak tersebut agar berhenti berteriak. Dia pun lalu berkata pada Zen dengan senyum kemenangan, "Zen, tahukah kamu mengapa aku pergi berlatih?"

Zen tidak berbicara sepatah kata pun, Dia hanya menatap Perrin dengan ekspresi yang datar.

Bab 2

"Kamu pasti tahu bahwa keluarga kita memiliki dua Pil Ajaib. Aku menggunakan salah satu pil itu beberapa waktu lalu." Perrin berkata sambil membanggakan dirinya, "Pil itu benar-benar luar biasa. Kekuatan magis yang murni mengalir di seluruh tubuhku dan sangat membantuku untuk meningkatkan dari tingkat pemurnian daging ke tingkat pemurnian tulang. Ternyata kemanjuran pil ini hanya sepersepuluh! Sisanya tetap berada di dalam tubuhku dan memasok energi ke badanku tanpa henti. Aku hanya perlu melewati satu lagi garis tipis untuk mencapai tingkat pemurnian organ, dan tingkat pemurnian sumsum sudah sangat dekat untuk kugapai!"

Zen menggertakkan giginya ketika dia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Perrin. Kedua pil itu adalah harta paling berharga milik Klan Luo. Itu adalah pil suci yang ditinggalkan turun temurun oleh leluhur Luo. Mereka disimpan dengan hati-hati di tempat suci yang hanya diketahui oleh segelintir orang dalam keluarga. Kebanyakan orang tidak diizinkan untuk menggunakan atau bahkan melihat pil ini.

Menurut kepercayaan lama, hanya mereka yang sudah mencapai tingkat pemurnian tulang sebelum mereka berusia 16 tahun yang memenuhi syarat dan diperbolehkan untuk menggunakan Pil Ajaib.

Latihan tubuh mencakup lima tingkat dimulai dari tingkat pemurnian kulit. Mereka yang telah menguasainya akan pindah ke tingkat kedua, yaitu tingkat pemurnian daging. Pemurnian tulang adalah tingkat ketiga dari pelatihan tubuh. Tingkat keempat adalah pemurnian organ dan yang terakhir adalah pemurnian sumsum. Masing-masing dari lima tingkat itu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, dan sangat sulit bagi kebanyakan orang untuk menguasai setiap tingkat tanpa berlatih selama puluhan tahun.

Jadi jika ada seseorang mencapai tingkat ketiga sebelum dia berusia 30 tahun, itu adalah suatu keajaiban. Seluruh Klan akan mengakui orang seperti itu sebagai orang yang berbakat.

Menurut kepercayaan lama, hanya mereka yang mencapai level ketiga sebelum berusia 16 tahun yang bisa memenuhi syarat untuk menggunakan Pil Ajaib!

Orang yang bisa mencapai tingkat pemurnian tulang sebelum usia itu tidak diragukan lagi adalah orang yang kuat. Selama berabad-abad ini, tak seorang pun di seluruh Kabupaten C pernah melihat seseorang yang seperti itu. Itulah alasan mengapa Pil Ajaib tidak pernah digunakan dalam tiga ratus tahun terakhir.

Sebelum kemalangan itu terjadi, Zen dikenal sebagai anak yang menjanjikan.

Pada usia 14 tahun, dia sudah memasuki puncak tingkat pemurnian daging. Dia bahkan dipuji oleh raja Kabupaten C untuk bakat dan usahanya. Raja telah mengumumkan bahwa Zen adalah harapan kemakmuran bagi Klan Luo, yang disukai oleh Tuhan, dan merupakan bakat di antara para talenta!

Namun, sangat disayangkan bahwa pada saat yang genting seperti itu, keluarga tersebut malah mengalami perselisihan internal dan ayahnya telah dibunuh oleh saudara-saudaranya sendiri. Zen telah dibuang ke tempat perbudakan, dan telah menjadi karung pasir dan tahanan selama ini. Dia kehilangan kesempatan untuk meminum pil itu karena dia tidak bisa berlatih lagi.

Perrin hanyalah orang biasa dan tidak memiliki bakat apa pun di dalam dirinya. Bahkan dia baru saja mencapai level pemurnian daging pada usia 16 tahun. Dia tidak memenuhi syarat untuk menggunakan Pil Ajaib tetapi dia seenaknya meminum pil itu.

Pil Ajaib itu seharusnya milik Zen. Tapi tanpa diduga, pil itu malah diambil oleh orang bodoh yang tidak memiliki bakat apa-apa. Meskipun Zen sudah menghabiskan dua tahun untuk menenangkan diri dan menerima nasib keluarganya, hatinya tetap merasa tidak damai. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengamuk. "Perrin, dasar bajingan kamu! Beraninya kamu mengabaikan ajaran para leluhur dan meminum pil suci itu tanpa izin?"

"Yah, kamu sama tidak pentingnya dengan serangga yang ada di celah-celah. Orang yang tidak berguna! Aku telah melangkah ke puncak tingkat pemurnian tulang. Aku bisa memegang lima ratus kilo di satu tanganku! Kamu hanyalah seorang budak. Aku bisa menghancurkanmu begitu saja dengan satu tangan. Hari ini aku sudah menyelesaikan latihanku, dan aku ingin menemukan sebuah karung pasir untuk memberi selamat pada diriku sendiri!" Perrin mengabaikan apa yang diucapkan Zen dan menunjuk seseorang secara acak. "Baiklah, aku memilihmu!"

Dia tidak memilih Zen, melainkan menunjuk ke arah seorang pria paruh baya. Pria paruh baya itu melihat Perrin menunjuk ke arahnya dan seketika badannya gemetar. Pria itu takut akan nyawanya meskipun dia sudah mengenakan pelindung kulit tebal yang bisa menahan banyak pukulan dan tidak gampang rusak. Lagi pula, Perrin telah mencapai tingkat pemurnian tulang, dan baju pelindung itu tidak akan bisa melindunginya. Pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menggigil dan kencing di celana.

Kemudian Perrin menarik napas dalam-dalam sebelum mengambil posisi unik dari Tinju Cahaya Ungu. Ini adalah Jurus eksklusif milik Klan Luo. Dia mencoba untuk pamer kepada semua yang ada di sana dan menggunakan kekuatan batinnya sebaik mungkin, yang menutupi seluruh tubuhnya dengan cahaya ungu.

"Tolong... Tolong... Tuan muda! Aku mohon belas kasihanmu! Ampuni aku!" Mata pria paruh baya itu menunjukkan ekspresi putus asa ketika dia melihat gerakan Perrin. Dia pasti akan mati jika dia terkena tinju Perrin. Jadi, dia jatuh berlutut dan dia terus merendahkan diri untuk meminta belas kasihan darinya.

"Bummm!"

Perrin tidak akan pernah mendengarkan permintaan seorang budak. Dia meninju dada pria itu. Baju pelindung kulit yang melindungi area dadanya tiba-tiba hancur berkeping-keping. Pria itu terbang ke belakang dengan benturan dan menabrak hancur dinding Aula Seni Bela Diri. Tubuhnya yang sudah tak bernyawa jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk.

Satu pukulan yang dilakukan Perrin telah membunuh budak itu.

"Tinjumu sangat kuat! Tuan muda! Tak seorang pun di antara anak-anak Klan kita yang bisa lebih kuat darimu dan berani melawanmu."

"Tuan muda kita akan memastikan bahwa Klan Luo berkembang, dan dia akan membawa seluruh keluarga untuk maju ke depan."

Anak-anak itu menjilat tuan muda tersebut sambil terkesan dan bahkan ketakutan.

Perrin tampaknya sangat puas dengan efek pukulan yang dia lakukan. Dia kemudian membalikkan badannya untuk melihat Zen dengan kejam.

Zen melangkah mundur untuk menjaga jarak. Meskipun dia jauh lebih kuat daripada pria paruh baya itu, tetap saja dia tidak akan sanggup menerima pukulan Perrin.

Perrin tertawa dan mengulurkan tangannya untuk menepuk bahu Zen dua kali dengan keras. "Tenanglah, sepupu. Aku tidak akan membunuhmu secepat itu. Aku ingin kamu memperhatikanku baik-baik, dan tahu bahwa aku, Perrin, jauh lebih kuat darimu!"

Perrin berhenti berbicara dan membalikkan badannya untuk pergi. Tepat saat itu, dia seperti mengingat sesuatu, lalu dia menolehkan kepalanya dan berkata, "Oh iya, aku lupa akan satu hal. Aku mendengar bahwa sepupuku yang jenius tidak baik-baik saja di Sekte Awan karena dia sudah menyinggung orang yang berpengaruh. Dia telah dikirim ke Gunung Neraka untuk menjalani hukumannya. Aku akan menyelamatkannya nanti saat aku mencapai tingkat pemurnian organ, ha ha ha..."

Dada Zen menegang dan jantungnya berdetak lebih cepat setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Perrin.

Bab 3

Zen tidak peduli tentang dirinya yang diasingkan menjadi budak, atau dijadikan karung tinju untuk anak-anak dari Klan Luo, atau bahkan kehilangan Pil Ajaib, yang dirampok oleh Perrin.

Dia tidak peduli akan hal-hal tersebut. Kelemahan terbesarnya adalah adik perempuannya, Yan Luo!

Yan adalah satu-satunya harapan untuk cabang tertua dari keluarga Luo. Yan adalah orang yang sangat berbakat. Dia meninggalkan rumah pada usia tiga belas tahun ketika Sekte Awan memilihnya sebagai murid. Dia selamat dari kudeta yang terjadi di dalam Klan Luo karena alasan ini.

Zen yang menjadi budak selama dua tahun terakhir tidak dapat mengetahui apa pun tentang kabar ataupun keberadaan adik perempuannya itu. Sekarang setelah Perrin memberitahunya informasi tentang situasi Yan saat ini, Zen mendapati dirinya merasa cemas tentang kesejahteraan saudaranya itu.

Tersesat dalam pikirannya yang mengkhawatirkan adik perempuannya, Zen lupa melindungi bagian vital tubuhnya dan menerima beberapa pukulan dahsyat dari anak-anak Luo. Dia akhirnya kembali sadar setelah mendapat beberapa pukulan.

Pada malam hari, Zen kembali ke kamarnya di ruang bawah tanah. Dia berjalan tertatih-tatih saat rasa sakit yang menyiksa membanjiri seluruh tubuhnya.

"Obat ini akan membantumu agar segera pulih!" Pelayan Klan Luo melemparkan obat itu ke Zen sebelum membalikkan badannya untuk berjalan pergi.

Mau bagaimana pun juga karung tinju manusia tidak terbuat dari baja. Dalam beberapa hari saja, mereka pasti akan mati karena luka dalam jika mereka tidak diberi obat penyembuhan luka. Jadi para pelayan membagikan obat-obatan kepada para budak untuk membantu mereka pulih sesegera mungkin.

Namun, obat penyembuhan ini pun tidak terlalu efektif.

Zen membuka kantong kertas yang dia dapat dan tercengang ketika melihat hanya ada satu pil di dalamnya. "Darren Fang! Mengapa aku hanya mendapatkan satu pil hari ini?" Zen bertanya.

"Kamu seharusnya mensyukuri apa yang kamu miliki sekarang. Kenapa? Apa masalahnya? Apakah pil itu tidak cukup untukmu?" Pelayan itu mengejeknya.

"Sudah ditetapkan bahwa setiap budak harus mendapatkan tiga pil penyembuhan setiap hari. Tapi sekarang hanya ada satu di dalam kantongku. Jelas sekali kamu menggelapkan pil-pil ini. Penggelapan di dalam keluarga Luo adalah kejahatan besar. Beraninya kamu melakukan hal ini, Darren? Apakah kamu tidak takut mati?" Zen berteriak sambil menatap Darren dengan berani.

"Hei! Tentu saja aku takut mati, tapi aku tidak takut padamu sedikit pun. Kamu hanyalah seorang budak sekarang. Apa yang bisa kamu lakukan di sini? Kamu ingin memberontak? Aku benci melihat sikapmu. Apakah kamu masih menganggap dirimu sebagai tuan muda di sini? Lihatlah ke cermin dan hadapi kenyataanmu yang sebenarnya, Zen. Ha ha ha!" Darren tidak begitu menyukai Zen dan tidak segan-segan mengambil kesempatan ini untuk menghina mantan tuan muda itu.

Tapi Zen bukannya marah, dia malah menjadi tenang setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Darren. Zen menenangkan dirinya sebelum memelototi Darren. Dia bermaksud untuk menyampaikan kebenciannya melalui matanya yang jernih, tatapan tajam, dan wajah tanpa ekspresi.

Dan cara itu berhasil karena Darren merasa tidak nyaman saat melihat reaksi Zen. Dia menjadi takut ketika dia melihat api menari di mata Zen. Alih-alih mundur, Darren malah berjalan mendekat ke arah Zen dan menyodok dada Zen dengan jari telunjuknya sambil berkata, "Apa yang kamu lihat? Kamu berani menantangku? Apakah kamu pikir bahwa kamu bisa melawanku?"

Tiba-tiba Zen memancarkan kekuatan yang kuat dari dalam dadanya. Tubuh Darren gemetar saat kekuatan itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian lutut Darren menyerah dan dia terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

"Kamu... Kamu... Kamu hanyalah seorang budak. Apakah kamu ingin memberontak saat ini?" Darren berdiri dan mencoba untuk terlihat berkuasa. Namun, ekspresi paniknya sudah cukup menyampaikan perasaannya yang sebenarnya.

Zen mengambil dua langkah ke depan sambil meretakkan buku-buku jarinya, dan membentaknya kembali, "Seorang pelayan yang bahkan bukan anggota Klan Luo berani begitu sombong di sini? Apakah kamu pikir aku tidak bisa memukulmu?"

Darren ketakutan dan tidak ingin berada dalam situasi ini lebih lama lagi. Jadi dia bergegas membalikkan badannya dan melarikan diri sesegera mungkin dari sana. Dia baru memelototi Zen segera setelah gerbang besi ruang bawah tanah itu tertutup.

"Perilaku jahat!"

"Perilaku jahat katanya?" Zen mencibir sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap Darren. Dia merasa bahwa pelayan itu tidak sepadan dengan waktunya.

Dia duduk dengan tenang di dalam kamarnya, mengeluarkan korek api untuk menyalakan lampu minyak, dan dengan tergesa-gesa membalik halaman buku yang biasa dia baca. Zen merasa frustrasi karena dia tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang kembali kepada apa yang dikatakan Perrin tadi tentang saudara perempuannya, Yan.

"Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi." Zen mengerutkan keningnya sambil memikirkan ada pilihan apa yang bisa dia lakukan. 'Aku baru saja mencapai tingkat pemurnian daging. Akan sulit bagiku untuk meninggalkan ruang bawah tanah ini dengan tingkat itu, apalagi pergi ke Sekte Awan untuk menyelamatkan Yan.'

Zen mondar-mandir di kamarnya yang kecil di ruang bawah tanah. Dadanya semakin sesak dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia tampak seperti binatang buas yang sedang gelisah dan mencoba mencari jalan keluar.

Zen telah menerima nasibnya selama dua tahun terakhir ini. Dia tidak memiliki motivasi apa pun untuk memikirkan alternatif bagi dirinya. Dia merasa kehilangan bakat dan kepercayaan dirinya seiring berjalannya waktu.

Ini akhirnya menyebabkan dia benar-benar tidak percaya pada kekuatannya sendiri. Zen berdiri di tengah-tengah ruangan sambil merasionalisasikan dirinya sendiri. 'Sekarang aku adalah seorang budak. Bertahun-tahun dipaksa menjadi karung pukul untuk anak-anak di Klan Luo telah melemahkan kekuatanku. Yang lebih buruknya lagi adalah cedera harian yang kudapatkan mencegahku untuk berlatih ketika aku kembali ke ruang bawah tanah ini. Tetapi cepat atau lambat aku pasti akan mati terbunuh oleh salah satu anak-anak ini jika aku terus-menerus diam dan tinggal di sini. Aku perlu mengambil sebuah tindakan drastis.'

Zen semakin cemas semakin dia memikirkannya. Dia mengarahkan pandangannya ke arah buku tua, Prinsip Surgawi, yang tergeletak di atas meja.

"Buku sialan ini tidak lain tidak bukan hanyalah sekumpulan teori kehidupan. Dan sejauh ini, apa yang dikatakan buku ini tidak ada yang berhasil untuk ayahku, maupun diriku. Tidak ada gunanya bagiku membaca buku ini. Mengapa aku harus terus membacanya? Buku itu sama sekali tidak berguna." Kemarahan dan ketidakberdayaan melanda pikiran Zen. Dia melangkah mendekat ke arah buku itu, mengambilnya dari meja, dan meletakkannya di atas lampu minyak sampai mulai mendesis dan berderak.

Senyum perlahan tumbuh di bibir Zen saat buku itu mulai terbakar.

Namun, Zen langsung menyesaali perbuatannya sesaat kemudian. Dia berbisik dengan putus asa, "Zen, Zen, kenapa kamu repot-repot marah pada sebuah buku?" Zen menyesal melihat buku yang terbakar itu dan mengeluh, "Buku ini mengajarkan orang untuk menjadi baik. Buku ini memberi tahu orang hal-hal apa yang memalukan dan salah, serta hal-hal apa yang bijaksana dan benar. Buku ini tidak bisa disalahkan atas kesulitan yang terjadi padaku. Aku seharusnya menyalahkan diri sendiri karena akulah yang tidak cukup kuat, karena telah menjadi seperti anak domba kecil yang mudah dikendalikan oleh orang lain."

Sayangnya, saat itu buku itu sudah menjadi tumpukan abu dan tidak bisa diselamatkan.

Tiba-tiba, Zen melihat seberkas cahaya keemasan melintas dari dalam tumpukan abunya. Dia tercengang untuk sesaat.

"Apa itu?"

Zen mendorong tumpukan abu itu ke samping, dan mengambil sepotong kecil emas yang memancarkan sinar cahaya terang. Zen berusaha mempelajari kertas emas tipis itu.

Dia tidak pernah menemukan kertas emas ini ketika dia membaca buku ini berulang kali. Sepertinya kertas itu tersembunyi di lapisan dalam buku.

'Apa gunanya selembar kertas emas itu? Emas sama tidak berharganya dengan tanah liat untuk keluarga besar seperti Klan Luo.'

Namun ketika Zen sedang fokus pada kertas emas itu, sebuah penglihatan yang aneh muncul!

Kertas emas itu diukir dengan kata-kata kecil yang tak terhitung jumlahnya dan berbentuk seperti berudu. Zen tidak mengerti satu pun kata-kata yang tertulis di kertas emas itu.

Kertas emas itu hancur di tangannya saat matanya sedang menganalisa kertas itu. Ribuan keping emas kecil, masing-masing membawa sebuah kata, terbang mendekat ke arahnya.

Wajah, mata, leher, lengan, badan, kaki...

Setiap bagian tubuh Zen dibalut oleh pecahan emas kecil ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED