Bab 1

Setelah istriku melahirkan, sebulan yang lalu, otomatis aku tidak bisa melakukan hubungan badan dengannya, dan aku pun berpikir itu memang sebuah kewajaran, semua orang pun mengalaminya.

Aku termasuk lelaki yang sedikit hypersex pun tetap menyadarinya hingga onani menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk melampiaskan hasrat seksualku yang rada ugal-ugalan.

Semua berjalan baik-baik saja, sampai aku berkenalan dengan tetangga agak jauh, ia seorang ibu rumah tangga muda berusia sama dengan istriku. Dia sudah menikah selama tiga tahun, namum belum dikarunia anak. Namanya Irda, orangnya cantik, berkulit putih dengan ukuran badan yang ideal sesuai dengan tingginya.

Dari pertemuan pertama sampai pertemuan yang keempat, semuanya masih berjalan dalam batas-batas yang wajar, hanya sekali-kali aku memberanikan diri untuk membuka topik pembicaraan yang mengarah kepada hal-hal yang berbau seks. Terlebih lagi Irda juga sudah tahu kalau saat itu aku sedang dalam masa puasa bersetubuh dengan istriku.

Pada pertemuan berikutnya, aku iseng mengundang Irda makan siang di tempat yang santai dan hanya kami berdua.

"Kenapa harus di tempat khusus, Mas?" tanya Irda penasaran tapi terkesan senang.

"Hanya untuk keamanan masing-masing pihak mengingat status, agar tidak membawa masalah pada urusan rumah-tangga masing-masing," jawabku, dan akhirnya kami sepakat check-in di sebuah motel yang lux dengan fasilitas whirpool dalam kamar.

Habis menyantap makan siang, kami berdua bercerita ke sana-kemari dengan iringan sentuhan-sentuhan kecil yang sengaja aku lakukan, dan ternyata Irda kelihatan merasa tidak keberatan dengan apa yang aku lakukan. Kemudian aku mulai membelai tengkuknya dan menyentuh bagian belakang daun telinganya dengan sentuhan-sentuhan yang lembut.

Irda menikmatinya dengan memejamkan mata dan terdengar lirihan kecil dari bibirnya. Kupalingkan wajah Irda menghadap mukaku, dagunya kuangkat sedikit sehingga bibirnya tepat berhadapan dengan bibirku, dengan lembut kukecup bibirnya, sekejap Irda tersentak kaget, tapi aku terus mengulum bibirnya dan mulai memainkan lidahku.

Desah napas Irda mulai meninggi, dan dia mulai membalas ciumanku. Cukup lama kami menikmati adegan ciuman ini, desah napas Irda semakin tidak teratur ketika tanganku mulai membuka kancing bajunya satu-per satu dan meraba payudaranya dengan sentuhan halus pada pangkal bukitnya. Irda mulai menggelinjang, napasnya berat tak beraturan, tanganku semakin menggila meremas dan memilin puting payudaranya.

Terlepas sudah baju atas Irda, dan dengan mudah aku tanggalkan behanya. Sepasang bukit indah dengan puting yang berdiri tegak tampak di hadapanku, tak kuasa aku untuk tidak menjilat dan mengisapnya. Terlebih sudah hampir dua bulan tak mendapatkan dari Riri, istriku.

Oh, ternyata payudara Irda adalah salah satu bagian daerah sensitifnya. Penisku tegang sekali, tetapi aku berusaha untuk tetap memegang kendali permainan ini. Rok mini Irda telah aku tanggalkan, hanya tinggal celana dalam warna pink yang tersisa di tubuhnya. Tanganku mulai menyelinap ke balik celana dalam Irda, dan ternyata vaginanya telah membasah, dengan pasti tanganku yang sudah terlatih memainkan clitnya, kupilin-pilin dan kugosok-gosok dengan ujung jariku.

Irda meronta liar, dan erangan luapan rasa nikmatnya keluar tanpa sadarnya dengan keras sekali, namun seketika itu juga dia mencoba menahannya dengan menutupkan bantal di mukanya. Dari pengalamanku bercinta dengan wanita saat belum menikah dengan istriku, aku mengetahui bahwa Irda adalah jenis wanita yang suka dengan lepas bebas mengeluarkan rasa nikmatnya sewaktu melakukan hubungan seks.

"Irda, jangan kamu tutupi mukamu dengan bantal, Mas Adit tahu bahwa kamu menyukai hal ini, keluarkan rasa nikmatmu dengan bebas dan lepas," kataku.

"Aku malu, malu sekali, Mas," jawabnya.

Aku tidak memberikan komentar, malah dengan agresifnya kujilat puting payudaranya dan aku melihat Irda menahan rasa gairahnya dengan mencengkram keras alas tempat tidur. Kutelusuri ketelanjangannya dengan lidahku, mulai dari bagian payudara dan berhenti pada pangkal vaginanya.

Irda meronta dan berusaha untuk tidak mengeluarkan erangan kenikmatannya dengan cara mengelinjang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tapi meskipun tidak sekeras yang pertama, pada akhirnya Irda mengerang juga.

"Oooh its so nice, Mas Adit."

Posisi bibirku masih berada di sekitar pangkal vaginanya, aku mainkan lidahku menjilati pangkal vagina Irda, menurun mendekati clitorisnya, dan akhirnya aku jilat dan kuhisap dengan buasnya clit Irda tanpa henti.

"Oh, Mas Adit, please fuck me....!" Irda memohon, tetapi aku tetap saja melanjutkan mempermainkan clitoris Irda dengan ujung lidahku.

Dengan kematangan pengalamanku mencumbu wanita, meskipun penisku sudah begitu tegang, aku masih tetap berusaha untuk menguasai diriku agar tidak cepat-cepat terangsang untuk dengan segera menyetubuhi Irda.

Aku ingin agar Irda benar-benar merasakan bahwa bermain cinta dengan lelaki yang jauh lebih berpengalaman akan memberikan kenikmatan yang lebih, khususnya kalau dia membandingkan kemahiranku di dalam soal seks dengan suaminya yang umurnya tiga puluh tahun lebih tua dariku. Menurut ceritanya Irda menikahi seorang duda yang sudah agak tua karena perjodohan.

"Mas Adit..., cepat masukin aku sudah tidak kuat lagi," Irda merintih lagi. Pada kali ini aku dengan sigap memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

"Ohh..." Irda melepaskan rintihan rasa nikmatnya ketika penisku mulai memasuki vaginanya. Aku mulai menggoyangnya, dan aku lihat Irda terus merintih kecil sambil memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang aku berikan.

Berbagai macam gaya telah aku berikan untuk memuaskan Irda, tetapi dia belum juga mencapai orgasme, sehingga aku merasakan bahwa Irda mulai merasa keletihan demikian pula diriku, sehingga aku mengajaknya untuk beristriahat sebentar.

Pada kesempatan istriahat tersebut aku bertanya, "Ir, kamu kok sedemikian lama masih juga belum orgasme, apakah Mas Adit tidak memuaskan kamu?"

"Mas Adit, kamu hebat sekali," jawab Irda.

"Tetapi, pada kenyataannya kamu belum orgasme, please jangan basa-basi Ir. Ada apa yang salah?" tanyaku penasaran.

Sejenak Irda diam saja.

"What's wrong Irda, please tell me!" pintaku lagi.

"Mas Adit, aku juga tidak tahu mengapa setiap kali making love dengan suamiku, aku belum pernah sekalipun mencapai orgasme, padahal dia cukup telaten merangsangku. Yang aku sering lakukan hanyalah melakukan pura-pura orgasme untuk memuaskan suamiku itu," tuturnya.

"Apakah suami kamu termasuk laki yang cepat 'keluar?'" tanyaku mengingat usia suaminya sudah tua.

"Walau sudah tua dia masih sangat perkasa. Kalau dibandingkan Mas Adit, dia kalah lama, tapi 10-15 menit dia masih bisa bertahan," katanya.

Kalau melihat begitu liarnya Irda di tempat tidur aku rasa waktu fucking 10-15 menit akan cukup membuat Irda orgasme beberapa kali, tapi pada kenyataannya Irda malah belum pernah orgasme sekalipun selama dia making love dengan suaminya dan suaminya itu masih sangat perkasa.

Aku pikir musti ada yang salah pada diri Irda, atau dia menyembunyikan sesuatu yang sangat mempengaruhi pikirannya sehingga setiap kali making love dengan suaminya pikiran itu mengganggunya.

"Ir, Mas Adit mau Irda menjawab dengan jujur pertanyaan Mas ini. Apakah Irda sewaktu married masih dalam keadaan virgin atau tidak?" tanyaku.

Sejenak dia hanya terdiam.

"Oke Mas, aku mau cerita tapi ini sangat rahasia," katanya.

"Oke, percayalah aku bisa jaga rahasia, carry on I'm listening," kataku.

"Sewaktu married memang aku sudah tidak virgin lagi, dan itu aku ceritakan sama calon suamiku sekitar tiga bulan sebelum married. Dia tetap mau menikahiku, karena dia mengatakan bahwa mencintaiku secara keseluruhan, bukan hanya virginitas saja."

"Oke," responku.

"Saat itu aku sangat bahagia. Walau dia sudah tua tapi sangat baik dan tahu bahwa aku bukan perawan lagi, tetap selama pacaran dia hanya melakukan seks sebatas peting and necking saja samaku, tidak lebih. Dia berkata bahwa dia belum pernah sekalipun making love diluar nikah dan hanya mau melakukannya kalau sudah sah."

"Good man!" timpalku.

"Aku benar-benar merasa tersanjung dan makin mencintai dia. Tapi setelah kami menikah, seperti yang aku katakan, setiap kali making love tidak pernah bisa orgasme. Hanya sampai pada tingkat gairah dan rangsangan yang luar biasa saja, setiap kali rasanya mau orgasme ada sesuatu yang menekan dan menggangu pikiranku," tuturnya.

"Ir, Mas Adit sekarang ingin dengar cerita Irda sewaktu pertama kehilangan keperawanan itu," kataku.

"Aku diperawanin pada waktu berumur 17 tahun kelas 2 SMA. Ketika itu aku punya pacar berumur 22 tahun, anak ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta. Kejadiannya sewaktu aku telah selesai berenang di rumahnya, aku berganti pakaian di kamarnya dan setelah itu aku diajak nonton film porno."

"Oh ya?"

"Iya, aku suka filmnya dan tanpa terasa sangat terangsang dengan setiap adegan yang dilihat dalam film tersebut. Mas Dodi pacarku, kelihatannya sudah agak biasa dengan film-film seperti itu, sehingga dia kerjanya hanya godain aku sambil ketawa-ketawa." Dan akhirnya Irda menceritakan dengan lengakap apa yang terjadi setelah itu.

Setelah selesai menceritakan bagaimana dia diperawanin oleh pacarnya dengan sangat mantap dan menyenangkan, Irda terdiam sambil memejamkan matanya. Aku sendiri sengaja mendiamkannya untuk beberapa saat. Dari kaca yang terpasang di atas tempat tidur aku lihat, dalam keadaan masih telanjang, begitu putih dan indah bentuk tubuh Irda dengan bentuk payudara yang masih kencang.

Tanpa sadar aku membayangkan diriku sendiri yang menjadi Dodi, kekasih Irda dan terbayang di dalam benakku bagaimana seru dan nikmatnya bersenggama dengan seorang gadis perawan yang masih berumur 17 tahun. Lamunan tersebut membuat penisku mulai bangkit kembali dan tanganku tanpa dapat ditahan lagi sudah mendarat di payudara Irda.

Dari cerita Irda tersebut aku dapat menangkap bahwa pengalaman pertamanya dalam making love dapat membuat Irda mencapai orgasme berganda alias multiple orgasm, meskipun pada awalnya khawatir, dan ini wajar bagi seorang gadis perawan, memiliki rasa was-was dan takut di dalam melakukannya.

Dan aku sangat yakin jika Irda sangat terkesan dengan Dodi karena permainannya yang liar dan bebas berekspresi, termasuk biasa mengeluarkan kata-kata vulgar nan kotor. Sementara suaminya justru memperlakukan Irda laksana putri keraton yang lemah lembut saat sedang bercinta. Rupanya Irda tak bisa lepas dari bayangan Dodi yang brutal dan liar saat sedang bercinta.

Dengan keyakinanku itu tanpa sadar secara agak kasar aku mulai remas-remas payudaranya, dan Irda membuka matanya sambil tersenyum manis sekali dan sangat menggairahkan. Aku jilat putingnya, mulai dari yang sebelah kiri sampai yang kanan, dan mulai dari pangkal sampai ke bukitnya. Berulang kali aku lakukan itu, sampai terdengar keluhan rasa nikmat keluar dari mulut Irda.

Aku telusuri tubuh putih telanjang ini mulai dari leher sampai pada bibir vaginanya. Irda mulai meronta kembali. Kakinya dia angkat sendiri membentuk huruf V, sehingga tonjolan clitorisnya sangat jelas menantang untuk dihisap. Aku mengerti keinginannya, lidahku mulai menari-nari menggelutinya. Irda mengerang sambil berkata

"Mass... aku suka sekali dijilati itilku aaaah."

Ya, benar dugaanku Irda suka berbicara bebas saat terangsang birahinya.

^*^

Bab 2

Aku hentikan permainan lidahku pada clitorisnya, karena aku ingin sekali mencium bibirnya yang sangat sensual itu.

Lama kami berdua berciuman. Birahi Irda sudah mulai meninggi, terasa dari gigitan-gigitannya pada bibirku. Dalam benakku sekilas terlintas bahwa ini adalah saatnya untuk memulai mencoba memainkan ulang rekaman tersebut. Irda harus merasakan kembali kebrutalan dan kekasaran Dodi, sang mantan.

"Ir, Mas mau ngentotin Irda lagi tapi Irda harus membayangkan bahwa Mas Adit ini adalah Mas Dodi-mu, gimana?" tanyaku.

Irda menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Mas nanti tersinggung dan merasa cemburu kalau aku membayangkan Mas Dodi."

"Ini permintaan khusus, Ir. Dan Irda harus lepas bebas berteriak seolah-olah Irda sedang dientot dan diperawanin Mas Dodi. Bebas mau bicara vulgar atau apapun, bebas. Pokoknya sama seperti waktu itu," kataku.

"Tidak Mas." Irda tetap menolak.

Dan dengan tolakannya yang kedua ini maka aku secara brutal dan ganas meremas dan menciumi payudaranya sampai Irda mengerang keras, semuanya habis aku lumat dan aku jilati secara agak kasar payudara Irda.

"Oooooh Mass Adit, ini seperti yang pernah Mas Dodi lakukan padaku," teriak Irda tanpa sadar.

"Irda jangan panggil Mas dengan nama Adit, teriakan saja nama Mas Dodi, oke!" pintaku sambil makin buas aku melumat payudaranya dan seiring dengan kebuasanku itu teriakan Irda semakin lepas. "Mas kamu buas sekali tetapi aku suka."

Sengaja remasanku di payudaranya aku kencangkan, sambil aku berkata kepada Irda, "Panggil aku Mas Dodi ayo Irda, panggil aku Mas Dodi!"

Akhirnya Irda mulai berani berteriak, "Mas Dodi... Mas Dodi... aduh Mas Dodi... nikmat sekali remasanmu... Mass.." Dan ajaibnya diriku makin terangsang dengan teriakan Irda menyebutkan nama Mas Dodi, serasa aku sedang mencoba untuk mengoyak gadis perawan yang masih berumur 17 tahun.

Irda sudah tidak sungkan lagi untuk mengerang, menjerit dan meneriakan nama Mas Dodi, lengkap dengan kata-kata vulgarnya. Dan aku sendiri semakin brutal saja menghisap dan menjilat clitorisnya.

Pada saat penisku sudah demikian tegang dan rontaan Irda semakin dahsyat, secara keras aku tancapkan penisku ke vaginanya persis seperti cerita Irda kepadaku.

"Mas Dodii... sakit, memekku sakit..." teriaknya.

Aku tidak peduli, kugoyang persis seperti cerita Irda kepadaku bagaimana Dodi menyetubuhi dia untuk pertama kalinya. Luar biasa sekali reaksinya, Irda meronta liar, mengerang dan menjerit serta mencakar punggungku sambil tidak berhenti memanggil nama Mas Dodi dengan erangan yang keras.

"Mas Dodi... aku keluar... aku keluar Mass... aku ngecrott... ahh... Mas Dodi nikmat sekali entotannya... kontolmu enak banget, aku nggak kuat... aku keluar puas banget," rontaan dan erangan Irda hanya bertahan beberapa menit saja. Lalau aku cabut penisku dari vaginanya dan aku masukkan ke dalam mulutnya, Irda mengulum dan menjilati penisku dengan penuh gairah.

"Ini kontol Mas Dodi, Irda harus hisap kontol ini dengan cara yang halus sekali ya," kataku.

Irda mengedipkan matanya sambil terus mengulum penisku.

"Mas Dodi sekarang pengen ngentot Irda lagi, boleh?" kataku.

Dengan bersemangat Irda menjawab, "Mas Dodi, ini gaya ngentot yang Mas paling suka kan?" ucapanya sambil badannya membelakangiku, dan sebelah kakinya dia angkat, maka penisku masuk ke vaginanya dari samping.

Posisi senggama semacam ini memang nikmat sekali, penis masuk dalam sekali dan tangan kananku dengan leluasa dapat memainkan clitoris Irda. Bagian kuduk Irda kuciumi, tanpa menghentikan tangan kananku memaikan clitnya yang sekali-kali kupindahkan untuk meremas payudaranya.

Irda kembali liar meronta dalam kenikmatan, sambil tidak berhenti mengucapkan kata 'Mas Dodi' berulang-kali.

"Mas Dodi sekarang kok kuat sekali, dari tadi Mas Dodi belum keluar," ucapnya.

"Mas Dodi baru akan keluar kalau Irda sudah benar-benar puas," kataku.

Ternyata dengan Irda menghadap ke cermin yang ada di tembok justru semakin merangsang dirinya.

"Mas Dodi, lihat tuh di kaca, aku lagi dientot sama kamu Mas Dodi," ucapnya.

"Irda kan yang minta dientot sama Mas Dodi," kataku.

"Aku sama sekali tidak merasa menyesal diperawanin oleh Mas Dodi, karena sekarang aku bisa merasakan bahwa ngentot itu nikmat sekali, Mas."

Gerakanku dalam menyetubuhi Irda semakin kupercepat, dan erangan Irda mulai keras kembali tanpa rasa sungkan. Posisi Irda sekarang berada di atas badanku, goyangannya luar biasa sekali. Sambil sekali-kali melihat ke kaca, Irda memainkan sendiri payudaranya.

"Terus Ir, mainkan susumu... Mas Dodi senang melihatnya," ujarku.

Irda semakin liar, "Mas Dodi lihat tuh kontol Mas Dodi keluar masuk di memekku," ucap Irda sambil menundukan kepalanya memperhatikan penisku keluar masuk vaginanya.

Dalam gairah birahi yang begitu tinggi semua 'rekaman' di-playback tanpa disadarinya, dan aku benar-benar mengikuti setiap adegan yang diinginkan oleh Irda.

"Mas Dodi seneng kan lihat memek dan itilku?" katanya sambil tangan kirinya menarik bibir vaginanya sehingga tonjolan clitnya tampak dengan jelasnya. Tangannya yang sebelah kanan mulai memilin dan memainkan clitnya sendiri, hasilnya, Irda meronta liar dan gerakan senggamanya semakin bertambah cepat.

Irda benar-benar hebat dalam bersenggama, kuat dan sangat bergairah sekali. Wanita semacam Irda ini tidak mungkin dapat dipuaskan oleh laki-laki yang cepat 'keluar'.

"Ir, kamu nungging, biar Mas Dodi entot kamu dari belakang," pintaku.

Dalam posisi menungging kugoyang vagina Irda secara ganas, dan dia menjerit-jerit kenikmatan, yang akhirnya,

"Mas Dodii... aku keluar lagi... aacchh... ucchh... aku ngecrot lagi dientot kamu mass......" Gerakan liarnya berhenti sambil merintih merasakan rasa nikmat yang baru saja diperolehnya.

"Mas Adit luar biasa sekali, dan aku merasa sangat puas dengan semuanya, tapi aku kasihan sama Mas Adit, karena aku selalu teriak-teriak manggil nama Mas Dodi." Irda berkata sambil memeluk diriku.

"Ir, Mas Adit sama sekali tidak merasa cemburu atau tidak enak dengan sikap Irda tersebut, justru Mas merasa puas sekali dapat memuaskan Irda," jawabku.

"Aku senang dengan cara Mas Adit menyetubuhiku, pokoknya aku mau sering sama Mas Adit, aku juga ingin memuaskan Mas Adit dengan cara apa saja asal Mas Adit puas. Sekarang giliran Mas Adit untuk 'keluar', aku masih tahan kok, Mas," ujar Irda.

"Kalau Irda senang dengan entotan Mas Adit, Irda harus selalu mau ya kalau Mas Adit mau ngentotin Irda," jawabku.

"Tentu Mas, aku janji," jawabnya.

Aku memang belum keluar, dan dalam soal bersetubuh, hampir semua perempuan yang sudah aku tiduri selalu bilang bahwa aku kuat sekali. Memang, meskipun penisku tidak terlalu besar tetapi daya tahanku kalau lagi bersenggama kuat sekali. Tidak ada wanita yang tidak pernah puas kalau main bersamaku, termasuk istriku sendiri.

"Ir, pegangin dong kontol Mas Adit," pintaku.

"Aku isep lagi kontolnya ya, Mas?" pintanya.

Jilatan dan isapan Irda pada penisku memang halus sekali, dia mampu mengisap penisku tanpa menyentuhkan giginya sama sekali di penisku. Luar biasa nikmatnya. penisku sudah tegang kembali, Irda begitu menikmatinya menghisap dan menjilat penisku.

"Mas, kontol Mas ini pasti sudah masuk ke banyak memek kan?" tanyanya.

"Irda harus tahu bahwa Mas bukan laki-laki yang munafik dan Mas tidak suka dengan orang yang munafik. Memang Mas sering ngentot, tapi sekalipun Mas belum pernah ngentot dengan perempuan yang dasarnya dia mau di-entot karena uang."

"Good."

"Mas senang ngentot atas dasar rasa suka sama suka dan saling membutuhkan, sehingga kedua belah pihak dapat saling memuaskan sehingga terasa benar bahwa ngentot itu adalah sesuatu yang indah dan nikmat untuk dilakukan," jawabku.

Dengan jilatan dan isapan penisku sudah semakin menegang. Kuraba-raba buah pantat Irda dan perlahan-lahan kujilati. Irda menggelinjang kegelian. Buah pantat Irda putih dan montok, kujilati terus di sekitar buah pantatnya dan kadang-kadang lidahku menyusup ke belahan pantatnya.

Irda mulai bergairah dan mulai merintih perlahan, "Mas geli, tapi aku suka... aaaah..."

Semakin berani lidahku menjilati belahan pantatnya, dan Irda semakin meronta merasakan kenikmatan yang diberikan oleh ujung lidahku.

"Ir, kamu nungging biar Mas Adit jilat pantat kamu dengan lebih leluasa," pintaku. Dan dengan posisi seperti itu lidahku bermain semakin leluasa di sekitar anusnya.

Irda sambil menghadap ke kaca mencoba untuk menahan rangsangan yang aku berikan, tapi akhirnya dia tidak tahan dan berteriak kecil, "Mas Adiiit nikmat sekali, aku baru merasakannya sekarang, dulu Mas Dodi tidak pernah menjilati pantat dan sekitar anusku."

Lalu aku jilat jariku agar cukup basah, dan secara perlahan-lahan aku masukkan ke anusnya. Irda mengerang "Mas perih pelan-pelan, Mas... tapi jangan dicabut." Lalu aku mainkan jariku di permukaan anusnya dengan halus sekali dan secara perlahan-lahan aku tekan terus jari telunjukku ke dalam anusnya.

"Enak Mas... tapi masih pedih... acchh... rasanya aku seperti diperawanin lagi... ucchh... enaakk," Irda mengerang nikmat tanpa henti.

"Ir, sekarang Mas Adit perawanin anusnya Irda ya?" pintaku. Irda hanya mengangguk ragu, tapi aku tidak menunggu jawabannya lebih lanjut.

Kemudian aku basahi penisku dengan air ludahku, dan secara perlahan kucoba memasukkannya ke anus Irda. Baru ujung penisku saja Irda sudah menjerit kesakitan,

"Mas saakkiitt banget... do it slowly, please..."

"Irda, coba kamu isep dulu kontol Mas Adit, biar licin," pintaku.

Aku coba secara perlahan-lahan memasukkan penisku lagi, Irda mengerang, tapi aku tambah bergairah sekali, kutekan lebih dalam lagi dan Irda terus mengerang, semakin Irda mengerang semakin dalam penisku masuk di anusnya.

"Ir, kontol Mas sudah hampir setengah masuk ke anus Irda, gimana nikmat gak?" tanyaku.

Irda tidak menjawab, tapi diluar dugaanku justru dia sendiri yang menekankan pantatnya ke penisku sehingga sambil Irda menjerit keras penisku masuk semuanya ke dalam anus Irda. "Mas giillaa ternyata rasanya nikmat setelah kontol Mas masuk semuanya," teriaknya.

Aku tancap penisku di anusnya untuk beberapa saat, karena kalau langsung digerak-gerakan pasti Irda masih akan merasa kepedihan. Di luar dugaanku, tiba-tiba Irda mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sambil berteriak-teriak. "Mas Adit enakk banget... aduhh pedih... aduhh nikmat... acchh nikmat."

Irda menjadi liar sekali setelah jariku juga masuk di vaginanya. "Achh rasanya kaya di-entot dua kontol sekaligus Mas. Aku baru kali ini merasakan ngentot seperti ini... nikmaaat bangeeet Maaaas." Irda tidak berhentinya mengerang dan berteriak merasakan kenikmatan yang aku berikan.

Karena gerakan Irda semakin 'liar' maka aku pun mulai berani memainkan anus Irda, setiap aku menggerakkan penisku.

Irda menjerit, "Mas saakitt, tapi enaaaaaak, ah perrrrih tapi mau teruuuuussss...."

Aku tidak tahan lagi, dan dengan sekali gerakan kutancapkan dalam-dalam penisku di anus Irda, Irda menjerit keras sambil berteriak "Aku ngecret lagi Mas... ampun... enakk banget... aku puas banget... uhh enaakk sekali...." Bersamaan dengan teriakan Irda tersebut spermaku keluar menyembur membasahi bagian dalam anusnya.

^*^

Bab 3

Lelah tetapi nikmat sekali. Kami berdua merebahkan diri sambil saling menatap kaca yang terpasang di atas langit-langit kamar. Irda menggengam tanganku erat sekali.

"Mas Adit terima kasih. Mas begitu baik mau membantuku sehingga aku sekarang menemukan laki-laki yang mengerti kemauanku kalau lagi disetubuhi. Sehingga dalam satu hari bisa orgasme sampai tiga kali. Mas Adit benar-benar luar biasa," ujarnya.

"Tapi bagaimana mungkin aku bisa sebebas dan seliar tadi kalau sama suamiku?" tanyanya.

"Irda, masalah Irda ini sebenarnya dapat dipecahkan dengan membuka jalur komunikasi dengan suami kamu khususnya mengenai masalah seks kalian berdua, yang dapat kamu mulai lakukan setiap kali kalian selesai making love, karena kalau Irda atau suami Irda tidak memiliki kemampuan atau keberanian untuk memulainya maka masalah kamu ini bisa menjadi kendala keharmonisan hubungan kalian," kataku.

"Memang Mas tahu bahwa tidak banyak pasangan suami istri yang mengetahui bagaimana cara meminta apa yang kita inginkan, memberi kritikan dengan bungkus kasih sayang, mendengarkan pasangan dengan penuh pengertian atau memberi dengan tanpa syarat," lanjutku.

"Kalau aku memahami apa yang Mas maksud, dan selama ini suamiku tidak pernah memperlihatkan adanya tanda-tanda bahwa dia mengerti apa sebenarnya yang diinginkan istrinya selama making love, maka aku harus berani untuk membuka jalur komunikasi ini dengan cara seperti yang Mas katakan tadi."

"Ya, ungkapkan secara bertahap, dan lakukan komunikasi tersebut dengan bungkus kasih sayang. Tentu hasilnya tidak akan tiba-tiba, tetapi setelah jalur komunikasi itu terbuka, Mas yakin, bahwa masalah keberhasilannya hanya soal waktu saja," lanjutku.

Tampaknya Irda mengerti apa yang aku maksudkan.

"Tapi seperti kata Mas sendiri untuk menuju keberhasilannya kan akan memakan waktu, nah selama suamiku belum dapat membuatku orgasme, terus aku gimana?" tanyanya.

"Don't worry honey, Mas siap jadi sukarelawan," selorohku yang dijawabnya dengan diciumnya bibirku dengan mesra sekali.

Dan setelah itu aku dan Irda jadi mulai sering melakukan hubungan badan, bahkan di rumahnya ketika suaminya tidak ada.

Pada satu waktu Irda bertanya kepadaku. "Mas mungkin aku dalam soal seks gak normal ya?"

Aku bukannya menjawab pertanyaan Irda tersebut, malah aku balik bertanya, "Ir, kamu tahu gak batasan yang disebut tidak normal di dalam soal hubungan seks?"

Irda menjawab "Gak tahu."

Aku menjelaskan pada Irda bahwa segala cara, gaya dan frekuensi di dalam melakukan hubungan seks akan selalu disebut normal apabila dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak, dengan tujuan untuk saling memuaskan pasangannya. Kalau pasangan kita melakukan cara-cara yang tidak kita sukai tetapi dia terus memaksakan keinginannya untuk mencapai kepuasannya sendiri, maka pasangan kita tersebut dapat dikatakan memiliki penyimpangan seksual.

Pada akhir-akhir ini, setiap kali aku bersenggama dengan Irda, jari-jari tanganku, khususnya jari telunjuk, sering dijilatinya dan di masukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati dan dihisapnya. Semakin liar gerakanku dalam menyetubuhi Irda, semakin bernafsu Irda menjilati dan menghisap jari telunjukku.

"Ir, kamu sekarang ini selama ngentot sering sekali menghisap jari telunjuk Mas, dan kelihatannya Irda makin sangat terangsang kalau selama ngentot Irda dapat menghisap jari telunjuk Mas. Pasti kamu sangat menikmatinya kan?" tanyaku.

"Aku makin terangsang kalau dapat menghisap jari telunjuk Mas karena jari-jari Mas sekali-kali menyentuh langit-langit mulutku, rasanya geli dan sangat merangsang sekali."

Dari jawabannya tersebut aku mulai menduga-duga jangan-jangan pikiran Irda selama senggama pada akhir-akhir ini telah diisi dengan fantasi seksualnya yang baru. Aku memiliki keyakinan bahwa jari telujukku itu pasti dibayangkan oleh Irda sebagai penis kedua yang dapat dinikmatinya bersama-sama dengan penisku. Keyakinan itu timbul dari expresi Irda selama menghisap jari telunjukku. Irda begitu menikmatinya.

"Ir, kalau Irda mau bagaimana kalau kita coba untuk melakukan threesome dengan menambah satu orang laki-laki lagi dalam acara ngentot kita," tanyaku.

Irda tersentak kaget dengan tawaranku, dan sejenak dia hanya terdiam saja. Aku mencoba untuk menjelaskan pada Irda bahwa tawaran ini tentunya hanya sebuah tawaran yang dapat dia tolak, kalau memang Irda tidak menginginkannya. Tapi sewaktu aku menyinggung kepada kebiasaannya pada akhir-akhir ini Irda senang menjilati dan menghisap jari telunjukku selama senggama, Irda menimpalinya dengan mengatakan

"Mas memang benar, karena pada akhir-akhir ini aku sering berfantasi bagaimana rasanya tubuhku ini dijamah dan dicumbu oleh dua orang laki-laki dan aku dapat bermain dengan dua penis sekaligus dalam satu tempat tidur. Meskipun aku takut untuk mencobanya, tapi keinginan untuk mencoba hal itu selalu muncul setiap kali main, baik itu dengan Mas Adit maupun dengan suamiku, tapi aku masih ragu-ragu dan takut."

Aku mencoba lagi untuk meyakinkan Irda, "Memiliki perasaan ragu-ragu dan takut untuk mencoba sesuatu yang baru adalah sangat wajar sekali, tetapi yang paling penting di sini adalah keputusan dari Irda sendiri, apakah Irda mau mencobanya atau tidak?" ungkapku.

"Aku mau Mas, tapi takut makin bertambah orang yang tahu bahwa aku sebagai seorang istri ternyata tidak setia pada suaminya sendiri, dimana sekarang ini kan hanya Mas yang tahu," ujarnya.

"Yang penting adalah keputusan Irda bahwa Irda mau mencobanya, soal Irda takut bertambahnya orang yang mengetahui selingkuhnya Irda akan menjadi tanggung jawab Mas. Mas sendiri kan harus dapat menjaga kerahasiahan diri Mas sendiri, jadi Irda tidak usah khawatir," kataku.

Bagiku sendiri melakukan threesome sudah sering aku lakukan bersama-sama dengan sahabatku yang bernama Jordi, ketika masih bujangan meskipun sudah berumur 28 tahun. Jordi ini adalah lady killer yang berpostur tinggi, tegap serta ganteng dan penisnya untuk ukuran orang Indonesia termasuk gede.

Selain postur tubuhnya kelebihan lain dari Jordi ini adalah supel dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya serta dapat dipercaya. Aku hubungi dia, dan dia setuju dan menunggu untuk dihubungi olehku kembali.

Pada hari yang telah direncanakan aku menghubungi Irda dan mengatakan bahwa hari ini aku akan memperkenalkan temanku kepadanya.

"Mas, sungguh-sungguh dengan rencana 'threesome' itu?" tanya Irda.

"Itu soal nanti yang penting kita bertiga ketemu dulu dan tentunya Irda sendiri yang harus memutuskan apakah akan dilanjutkan dengan acara 'threesome ' atau tidak."

"Oke, Mas, jemput aku di tempat biasa jam sebelas ya," pinta Irda.

Jam 10.30 aku bersama Jordi meluncur untuk menjemput Irda. Sesampainya ditujuan, begitu Jordi melihat Irda, Jordi berkomentar "Gila tu binor keren banget, mengapa baru sekarang gue dikenalin, Man."

Aku kenalkan Jordi pada Irda, dan kita bertiga duduk. Kami meluncur ke arah utara kota menuju sebuah tempat. Selama di perjalanan Jordi secara aktif membuka pembicaraan dengan Irda untuk membuat suasana lebih akrab lagi antara mereka. Tujuanku adalah sebuah motel yang selain kamarnya bagus juga makanannya nikmat-nikmat.

Makan siang dilakukan di dalam kamar, dan selesai makan siang dilanjutkan dengan nonton laser disc sambil ngobrol-ngobrol. Pada waktu Irda selesai dari kamar mandi, dekat pintu kamar mandi aku sempat bertanya kembali kepada Irda apakah dia mau lanjut dengan acara 'threesome' atau merasa tidak cocok dengan Jordi.

Irda menjawab "Jordi ganteng Mas, dan untuk acara...." Irda diam, dan hanya tersenyum penuh arti kepadaku.

Aku dapat menangkap isyaratnya. Irda mau untuk mencoba 'threesome' tetapi malu untuk mengatakannya.

Kembali ke kamar tidur, Irda duduk di sofa di samping Jordi, dan aku duduk di sebelah kanan Irda. Posisi duduk di sofa itu menjadi Irda duduk di tengah diapit oleh aku di sebelah kanan dan Jordi di sebelah kirinya.

Film yang diputar melalui laser disc cukup seru, sebuah film drama percintaan dengan diselingi adegan-adegan ranjang yang halus tetapi cukup merangsang. Obrolan di antara kami bertiga semakin hidup, dan kelihatan kekakuan Irda dengan kehadIrdan Jordi sebagai kenalan barunya sudah mulai hilang.

Aku berpikir bahwa kini sudah saatnya untuk aku memulai berinisiatif menyerang Irda. Tanganku mulai mengelus paha putihnya, Irda melirik kepadaku dan tersenyum cantik sekali. Elusan-elusan tanganku di atas paha putih Irda terus kulakukan yang dengan sekali-kali sengaja tanganku menyusup lebih tinggi lagi mendekati pangkal paha Irda.

Hal itu aku lakukan dengan mataku tetap menatap layar teve, dan sekali-kali aku mencuri pandang melihat kepada Jordi. Sampai tahap ini Jordi masih belum bereaksi, pandangannya tetap mengikuti film yang tertayang di teve.

Rok mini Irda semakin tersingkap, dan tanganku dengan leluasanya merambah dan mengelus naik turun sampai kesekitar pangkal pahanya, Irda mulai sering menggelinjang menahan rangsangan akibat dari apa yang kulakukan ini.

Kesempatan ini aku pergunakan untuk terus lebih merangsang Irda dengan mulai menyusupkan tangan kananku ke dalam blues Irda, pangkal payudaranya mulai kusentuh dan Irda mendesis sambil tetap berusaha mempertahankan posisi dirinya agar tidak semakin doyong bersandar ke tubuh Jordi.

Tanganku masih belum begitu leluasa untuk meremas dan memainkan payudara Irda karena masih terhalang oleh beha yang dipergunakannya. Maka kembali tangan kananku kuturunkan untuk kembali mengelus paha Irda dan kali ini tanganku mulai menyelinap ke balik celana dalamnya.

Irda tersentak menahan rangsangan ketika tanganku menyentuh clitnya, dan tanpa sadar kepala Irda jatuh di dada Jordi. Dengan sigap tangan kiri Jordi menyangga kepala Irda dan tangan kanannya mulai meraba payudara Irda.

Irda mulai merintih lirih menahan nikmat. Dengan tangan kanannya Jordi mulai melepaskan kancing baju atas Irda satu per satu. Sedangkan aku sendiri makin ganas memilin clitoris Irda dengan tanganku.

Erangan Irda semakin keras, ketika tangan Jordi berhasil menyusup kebalik behanya dan mulai meremas payudaranya dengan remasan-remasannya yang mampu membuat Irda sangat terangsang. Goyangan kepala Irda semakin liar, dan dengan tangan kirinya Jordi mengangkat muka Irda ke atas sehingga posisi bibir Irda sangat dekat dengan mulut Jordi.

Tanpa menunggu lagi, Jordi melumat bibir Irda dengan bernafsunya dan Irda pun membalasnya dengan tidak kalah buasnya. Lalu aku angkat kedua kaki Irda ke atas pahaku, kemudian kaki kanannya kusandarkan di sandaran sofa.

Dengan posisi seperti ini tanganku semakin bebas memainkan clit Irda yang sudah mulai basah. Aku melihat ke Jordi, ternyata tangan kanannya masih terus meremas-remas payudara Irda, dan bibirnya sibuk mengulum bibir Irda.

Begitu Jordi melepaskan lumatannya, Irda berteriak, "Pindah ke tempat tidur, aku ingin lebih bebas menikmati kalian berdua."

Jordi dan aku bersama-sama mengangkat Irda ke tempat tidur. Kulepaskan rok mini Irda berikut celana dalamnya sedangkan Jordi melucuti baju dan behanya. Irda sekarang telah telanjang bulat dan badan yang putih serta montok itu seakan menantang untuk dijarah oleh aku dan Jordi.

Lalu aku lebarkan kaki Irda, sehingga tampak jelas menonjol clititorisnya yang merah kecoklatan. Kuturunkan kepalaku untuk mulai melumat dan menghisap clitnya.

"Oh... oh... Mas, aku suka banget isepan Mas pada itilku..." Irda mengerang menahan rasa gairah yang kuberikan.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED