Bab 1

"Rachel! Kamu cari mati!"

Di ranjang berukuran king, wajah pria itu tampak seperti sebuah topeng kemarahan, mata hitamnya kini terbakar oleh amarah dan rasa benci. Pembuluh darah di dahi dan lengannya sudah menonjol saat dia mencekik leher ramping wanita itu.

Wanita itu masih dalam keadaan setengah tertidur, tapi dia bisa merasakan ada hal yang tidak beres. Dia menyadari bahwa sekarang dirinya tidak bisa bernapas!

Rachel Verdianto membuka matanya lebar-lebar, masih belum sepenuhnya tersadar karena baru saja terbangun dari tidurnya. Kini dia bisa merasakan sepasang tangan di lehernya yang sedang mencekik dan merampas kehidupan dari dirinya. Rachel bingung dan mulai dikuasai oleh rasa takut dan juga panik.

Saat paru-parunya mulai berteriak mencari udara, naluri bertahan hidupnya mulai muncul ke permukaan. Rachel mengangkat tangannya ke tenggorokannya, mencoba menyingkirkan tangan penyerang yang kini masih mencekik tenggorokannya dengan erat.

Namun, pria itu sama sekali bergeming. Sebaliknya, pria ini justru malah mengencangkan cengkeramannya di lehernya, menyebabkan wajah Rachel kini berubah menjadi memerah dan penglihatannya kabur.

Brak!

Pintu kamar terbuka dan kepala pelayan bergegas masuk ke dalam kamar. Wajahnya memucat saat melihat pemandangan yang ada di depannya, sang kepala pelayan bergegas berlari ke arah ranjang, meraih lengan pria itu dan berteriak, "Tuan Rayadinata! Tuan Rayadinata! Tolong lepaskan Nona Rachel! Anda akan membunuhnya!"

"Dia pantas mati!" Pria itu memiliki tatapan mata yang begitu teguh, ucapan yang terlontar dari mulutnya diucapkan dengan begitu tegas.

Kepala pelayan tahu bahwa dirinya tidak bisa menghentikan pria itu secara fisik, jadi dia memilih untuk berlutut di samping ranjang dan mulai memohon untuk keselamatan hidup Rachel, "Tuan Rayadinata, saya mohon! Jika Anda membunuhnya, bagaimana Anda akan menghadapi Nenek Anda? Nenek Anda tidak akan bisa beristirahat dengan tenang di alam sana!"

Nenek?

Mendengar kata-kata kepala pelayan, Victor Rayadinata akhirnya sedikit mengendurkan cengkeramannya.

Rachel mengambil kesempatan yang sudah diberikan oleh kepala pelayan untuk melepaskan diri dari genggamannya dan merangkak pergi. Punggungnya membentur kepala tempat tidur dan dia tetap berada di sana dalam keadaan meringkuk, menatap Victor dengan mata terbelalak lebar dan ketakutan.

Kepala pelayan melihat perubahan sikap Victor sebagai sebuah petunjuk bahwa dia harus terus mendesaknya, "Tuan Rayadinata, mohon bersabarlah! Hari ini perceraian Anda akan segera diresmikan. Anda tidak akan pernah melihat wanita ini lagi! Biarkanlah dia tetap hidup demi Ibunya. Ibunya pernah menyelamatkan Nenek Anda, apa Anda ingat itu? Tolong tenangkan diri Anda!"

Victor sepertinya merasa kata-kata kepala pelayannya masuk akal. Pria itu bangkit dari tempat tidur, mengenakan piyama miliknya dalam diam. Setelah selesai, dia membalikkan badan dan berbicara dengan nada suara sedingin es.

"Aku akan memberi tahu Ivan untuk mengirim surat cerai ke sini. Tanda tangani surat itu dan enyahlah. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."

Dengan tatapan terakhir yang dipenuhi dengan kebencian, Victor berjalan keluar meninggalkan ruangan, diikuti oleh kepala pelayan.

Pintu langsung terbanting di belakangnya, suara kencang itu menyakiti telinga Rachel. Wanita yang bernama Rachel itu menutupi dirinya dengan selimut, masih diliputi oleh rasa shock. Wajahnya sekarang pucat pasi, jantungnya berdebar kencang.

Rachel menundukkan kepalanya dan melihat ke arah tubuhnya sendiri. Dia sekarang dalam keadaan tanpa sehelai pun pakaian yang melekat di tubuhnya dan banyak memar gelap menodai kulitnya yang seharusnya mulus tanpa cacat.

Adrenalin yang mengalir di nadinya telah menumpulkan rasa sakitnya sampai sekarang. Tapi ketika kejadian yang terburuk telah berlalu, Rachel merasa seluruh tubuhnya sakit. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana.

Rachel tidak bisa menemukan pakaian wanita di dalam lemari. Isi lemari itu hanya berupa kemeja pria dan jas hitam.

Tangannya meraih kemeja dan celana yang ada di sana, kemudian memakainya. Celana yang dia kenakan berukuran sangat besar untuknya, membuatnya terseret di lantai.

Di atas rasa sakit yang sudah dia rasakan, Rachel merasakan sakit kepala yang mengerikan mulai menusuk kepalanya. Sambil mengerang kesakitan, dia berjalan ke sofa dan duduk. Rachel menyandarkan kepalanya yang sakit ke belakang dan memejamkan matanya. Ingatan-ingatan yang bukan miliknya mulai membanjiri seluruh indranya.

Beberapa saat kemudian, Rachel membuka matanya lagi. Ingatan itu adalah milik mantan pemilik tubuh ini, wanita yang bernama Rachel. Setelah diam-diam memilah-milah bermacam-macam hal-hal dalam pikirannya, dia akhirnya sampai pada dua kesimpulan.

Entah bagaimana, dia telah dilahirkan kembali dari dirinya yang lama yaitu Shelia Davis menjadi Rachel Verdianto.

Yang menghuni tubuh ini sebelumnya adalah seorang gadis tidak berguna yang jatuh cinta pada seorang pria bernama Victor Rayadinata. Ibu asli Rachel jatuh sakit dan meninggal beberapa waktu yang lalu dan Ayahnya adalah seorang buaya darat yang menyedihkan.

Ada suara ketukan di pintu.

Suara yang tiba-tiba itu mengejutkan Rachel dari lamunannya. Suara dingin datang dari sisi lain pintu itu, "Bolehkah saya masuk ke dalam?"

Rachel buru-buru menggulung bagian bawah celana dan bergegas membuka pintu. Seorang pria tinggi dan tampak biasa saja berdiri di sana, memegang setumpuk kertas di tangannya.

"Ivan." Rachel dengan cepat mencari ingatannya dan menemukan nama pria itu.

Wajah pria itu tanpa ekspresi, Ivan Guntoro lalu menyerahkan dokumen dan pena pada Rachel, "Tuan Rayadinata meminta saya untuk mengawasi Anda keluar. Segera setelah Anda menandatangani surat cerai ini."

Rachel melirik dokumen-dokumen itu, mengingat apa yang dikatakan oleh kepala pelayan sebelumnya untuk menyelamatkan nyawanya. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kedua antara Victor dan Rachel, tapi mulai sekarang, itu juga akan menjadi hari yang sama sebagai akhir dari pernikahan mereka.

Apa perjanjian perceraian bisa dibuat dalam waktu kurang dari satu jam? Victor pasti begitu membenci Rachel.

Rachel menerima dokumen itu dan mulai membaliknya, lalu menandatangani bagian mana pun yang membutuhkan tanda tangannya sebagai "Rachel Verdianto" dengan rapi. Dia menyelesaikan semua itu dalam waktu kurang dari 30 detik.

"Ini," ucap Rachel sambil mengembalikan dokumen dan pena pada Ivan.

Ivan menatap wanita yang ada di depannya dengan pandangan penuh keheranan, alisnya terangkat. Dia tidak menyangka urusan ini akan menjadi begitu mudah. Ketika Victor memintanya untuk membawa dokumen perjanjian, Victor memberitahunya bahwa Rachel bersikeras tidak ingin menandatanganinya, jadi dia mungkin harus menggunakan kekerasan agar Rachel mau menandatanganinya.

"Apa Anda tidak ingin membacanya dulu?" ucap Ivan, masih belum mengulurkan tangan untuk mengambil dokumen-dokumen itu dari Rachel.

Rachel mengangkat alisnya dan menjawab dengan nada datar, "Tidak."

"Apa Anda tidak ingin tahu tentang apa yang akan Anda dapatkan dari perceraian ini?" Ivan mengerutkan kening sekarang, tampak semakin bingung dengan sikap Rachel.

Rachel mengangkat alisnya sambil menaikkan celana yang dia kenakan. Dia memberi Ivan seulas senyum, "Tidak perlu membacanya. Aku tahu bahwa ada dua kemungkinan hasil dari perceraian ini. Salah satunya adalah bahwa aku mungkin terlilit hutang dan akan segera bangkrut, dan yang lainnya adalah aku harus meninggalkan pernikahan ini tanpa membawa uang sepeser pun. Aku yakin Victor mengumpulkan tim pengacara yang luar biasa untuk membuat pilihan terbaik untuknya."

Mata Ivan seketika berubah menjadi suram. Akhirnya dia mengambil dokumen perceraian itu dan berkata, "Tuan Rayadinata hanya ingin Anda pergi tanpa mendapatkan asetnya."

"Kalau begitu pastikan kamu menyampaikan rasa terima kasihku padanya." Rachel benar-benar tidak peduli sama sekali dengan semua ini. Mantan penghuni tubuh inilah yang sangat mencintai Victor, bukan dirinya. Dia bahkan tidak peduli apakah pria itu hidup atau mati.

Dia tidak ingin pria yang kejam seperti Victor menjadi suaminya. Seorang pria yang bisa begitu membenci istrinya sampai-sampai ingin mencekik istrinya sendiri sampai mati. Rachel sekarang memiliki kesempatan lain untuk bisa melanjutkan hidup dan dia berniat untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

Mata Ivan jatuh ke leher Rachel.

"Apa Anda ingin saya memanggilkan seorang dokter untuk Anda?"

Untuk sesaat, Rachel merasa bingung. Kemudian, dia ingat memar di lehernya dan mengangkat tangannya untuk menyentuh bagian di mana Victor mencekiknya. Perasaan ketika dirinya sesak napas dan berada di ambang kematian kembali menerjangnya, dan dia harus menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan perasaan itu.

"Tidak, terima kasih untuk tawarannya. Aku tidak apa-apa. Ini tidak terlalu buruk," jawabnya sambil mengangkat bahu.

"Kalau begitu, tolong kemasi barang-barang Anda." Nada bicara Ivan kini kembali normal, terasa dingin dan sangat profesional.

Rachel mengangguk dan meninggalkan kamar Victor tanpa mengenakan alas kaki, masih menarik celananya. Dia harus menempuh jalan yang cukup panjang untuk bisa mencapai kamarnya sendiri. Victor sangat membenci Rachel hingga dia bahkan tidak ingin bertemu dengan istrinya di koridor, jadi kamarnya berada di ujung rumah besar itu.

Butuh waktu hampir dua menit baginya untuk bisa sampai ke sana.

Kamar tidur Rachel awalnya adalah ruang gudang, tapi setelah pernikahan Rachel dan Victor berlangsung, Rachel pindah ke sini. Dia mendorong pintu hingga terbuka dan berjalan melalui pintu yang sempit dengan gesit.

Ruangan itu sangat kecil. Kamar itu hanya berisi ranjang dan meja rias, perabotannya terletak sangat berdekatan hingga tidak ada ruang untuk bisa berjalan dengan leluasa.

Rachel tidak punya banyak barang untuk dikemas. Kecuali kosmetiknya yang berserakan di meja rias dan beberapa pakaian, selain itu dia tidak punya banyak barang lagi. Dia berganti pakaian dan memasukkan barang-barang lainnya ke dalam koper.

"Oke, aku sudah selesai berkemas. Aku akan pergi sekarang. Kuharap aku tidak akan pernah melihatmu lagi, Ivan! Selamat tinggal!" Rachel berkata dengan suara dingin, tapi masih dipenuhi dengan rasa riang sambil menyeret kopernya melintasi aula.

"Rachel, ke mana kamu akan pergi?" Tiba-tiba, pintu lift terbuka dan memperlihatkan seorang wanita yang mengenakan setelan bisnis. Suara sepatu hak tingginya berbunyi saat bersinggungan dengan lantai marmer, suara itu bergema renyah, sangat kontras dengan suara wanita yang tajam itu.

Bab 2

Rachel berhenti untuk melihat wanita yang sedang berjalan mendekatinya.

"Alice?" Alice Aditama adalah adik tirinya dan merupakan seorang wanita jahat yang benar-benar bermuka dua.

Alice berdiri di hadapan Rachel sambil memamerkan senyum lebarnya, "Kakakku sayang, apa kamu akan pindah?"

Rachel memutar bola matanya, kemudian dia memasang senyum palsu di wajahnya, "Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu. Kenapa kamu masih suka mengajukan pertanyaan bodoh? Sudah tahu tapi masih saja bertanya."

Perkataan Rachel membuat Alice marah. Namun, dia segera menahan amarahnya dan memasang ekspresi polos lagi.

"Aku hanya mencoba menunjukkan sedikit perhatian padamu. Bagaimana bisa kamu menganggapku seperti itu?"

Perhatian?

Benar-benar konyol! Alice hanya ingin mengejeknya.

Dengan wajah tanpa emosi, Ivan ikut campur dalam percakapan mereka. Dia mengingatkan Rachel, "Nyonya Rayadinata, sudah waktunya untuk pergi. Tuan Rayadinata sebentar lagi akan kembali."

Mendengar perkataan Ivan membuat sudut mulut Rachel berkedut. Kemudian, dia menunjuk Alice dan berkata pada Ivan, "Bukannya aku tidak ingin pergi, hanya saja ada seekor hewan jelek yang menghalangi jalanku. Aku takut dia akan menggigitku."

Ivan dibuat terdiam dengan jawaban Rachel.

Di sisi lain, Alice mulai meneteskan air mata palsunya, "Rachel, aku tahu kamu akan bercerai hari ini. Aku sangat khawatir kamu akan merasa sedih, jadi aku meninggalkan pekerjaanku lebih awal untuk datang menemuimu. Bagaimana... Bagaimana bisa kamu mengatakan ucapan seperti itu padaku? Aku adalah adikmu."

"Diam! Aku tidak punya adik yang seperti seekor hewan." Rachel bergegas menjauh dari Alice dan berbalik ke arah Ivan lagi, "Ivan, bagaimana aku pergi?"

Ivan mulai merasakan pelipisnya terasa sakit dan dia gagal mempertahankan ekspresi tegasnya untuk sesaat. Tidak punya pilihan lain, dia berkata pada Alice, "Nona Aditama, mohon permisi."

Alice menggigit bibir bawahnya, tatapan matanya terlihat berapi-api karena amarah yang dia rasakan saat ini. Untungnya, poni panjangnya berhasil menutupi tatapan matanya yang membara itu.

"Ivan, seekor hewan yang tidak terlatih tidak bisa memahami bahasa manusia," ujar Rachel mengejeknya.

Ucapan yang dilontarkan Rachel membuat Alice semakin merasa marah. Dia mengepalkan tinjunya dan memelototi Rachel.

Ketika melihat Alice sedang mencoba menahan amarahnya, Rachel memiringkan kepalanya sedikit dan menyunggingkan seulas senyum untuk membuatnya semakin kesal.

Senyum arogan yang terlukis di wajah Rachel membuat Alice sangat kesal.

'Apa yang sedang terjadi? Rachel biasanya pemalu, dia selalu bersikap patuh dan berterima kasih padaku. Kenapa sekarang kepribadiannya berubah?'

"Nona Aditama," panggil Ivan, suaranya menunjukkan sedikit ketidaksabaran.

Alice mengerucutkan bibirnya, menekan kecurigaannya, "Ivan, aku tidak bermaksud melarang Kakakku untuk pergi. Hanya saja, Victor memintaku untuk melihat bagaimana keadaan di sini."

Baik Ivan maupun Rachel terkejut mendengar perkataan Alice.

"Victor tahu aku akan datang ke sini, jadi dia secara khusus menyuruhku untuk melihat Rachel berkemas dan pergi. Dia mengatakan bahwa menurut perjanjian perceraian, Rachel tidak diizinkan mengambil apa pun yang menjadi milik Keluarga Rayadinata Aku di sini hanya untuk memastikan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan." Alice berkata sambil melihat ke arah koper yang ada di samping Rachel.

"Jadi Rachel, bisakah kamu membuka kopermu? Aku perlu memeriksa apa kamu mengambil sesuatu yang bukan milikmu atau tidak."

Rachel mengerutkan kening ketika mendengar ucapan itu, "Koper ini hanya berisi beberapa pakaian. Aku tidak mengambil apa pun milik Keluarga Rayadinata!"

Alice mengambil koper dari tangan Rachel dan berkata, "Sayangnya, bukan kamu yang memutuskan hal itu. Jika kamu memang tidak mengambil sesuatu yang bukan milikmu, kenapa kamu begitu takut untuk memperlihatkan isi kopermu padaku?"

Setelah mengatakan itu, Alice meletakkan koper Rachel di lantai dan membukanya.

Di dalamnya, beberapa pakaian menumpuk berantakan. Sepertinya Rachel memang benar-benar tidak membawa sesuatu yang berharga.

Melihat kenyataan ini, Alice menggertakkan giginya. Dia tidak menyangka Rachel mengatakan yang sebenarnya. Tidak ingin membiarkannya pergi begitu saja, Alice mulai mengobrak-abrik pakaian itu. Seolah-olah dia tidak akan berhenti sampai menemukan bukti yang bisa membuktikan bahwa Rachel telah mencuri sesuatu dari Keluarga Rayadinata.

Tidak ada barang lain selain pakaian dan kosmetik di dalam koper milik Rachel, tapi Alice terus mengobrak-abrik kopernya selama lebih dari 10 menit.

"Apa kamu sudah selesai memeriksa?" tanya Rachel sambil menatap Alice.

"Aku hanya mengikuti perintah Victor. Lebih baik aku memeriksa dengan teliti," jawab Alice lembut.

"Oke. Silakan, periksa pakaian itu selama yang kamu inginkan. Aku tidak menginginkan mereka lagi." Rachel menggelengkan kepalanya.

Memar di tubuhnya masih belum sembuh. Dia benar-benar tidak ingin membuang waktunya lebih lama lagi dengan Alice, dan dia juga tidak ingin menunggu Victor hingga kembali dan mencoba mencekiknya lagi.

Setelah selesai berbicara, Rachel langsung melewati Alice dan berjalan menuju lift, kemudian dia menekan tombol lift. Ivan segera mengikutinya di belakang.

Ting!

Tak lama kemudian, lift pun tiba di lantai tiga dan pintunya terbuka perlahan. Tepat ketika Rachel hendak masuk, dia tiba-tiba merasakan udara dingin menyergapnya. Suhu di sekitarnya turun beberapa derajat, membuat tubuhnya seketika menggigil dan terasa kaku.

Hal pertama yang Rachel lihat adalah sepasang sepatu kulit yang mengkilat. Kemudian, ketika mengangkat kepalanya, dia melihat wajah Victor yang acuh tak acuh.

"Tuan Rayadinata." Ivan yang pertama kali bereaksi, dia menundukkan kepalanya dengan hormat.

"Rachel, sepertinya kamu lupa apa yang kukatakan padamu pagi ini." Ada kilatan peringatan di mata Victor, dan suaranya juga terdengar sedikit marah.

Ketika melihatnya, Rachel teringat bagaimana Victor mencekiknya pagi ini. Sekarang tubuhnya gemetar ketakutan dan secara naluriah Rachel bersikap waspada terhadap apa yang mungkin dilakukan pria itu padanya.

Masih sambil berdiri diam dengan tubuh kaku, Rachel kemudian berkata, "Tidak, aku ingat."

"Oh, kamu ingat? Lalu, kenapa kamu masih di sini?" Victor bertanya sambil berjalan perlahan ke arahnya.

Rachel masih terus berjalan mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Dia memejamkan matanya sejenak, kemudian memberanikan diri untuk menatap mata Victor.

"Kamu harus bertanya pada Alice. Aku mau pergi, tapi dia muncul entah dari mana dan menahanku. Itu sebabnya aku..."

Rachel hampir menyelesaikan penjelasannya ketika Alice tiba-tiba memotongnya.

"Bagaimana kamu bisa berbohong seperti itu?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak berbohong!" Saat ini, Rachel mengutuk Alice di dalam hati. Jika bukan karena wanita ini, dia pasti sudah pergi satu jam yang lalu, dan dia tidak akan bertemu dengan Victor.

Sial.

Alice bertingkah seolah-olah akan menangis dan berkata, "Victor, aku tidak bermaksud menunda kepergian Rachel. Aku hanya mengikuti perintahmu untuk memeriksa barang bawaannya. Aku takut dia akan mencuri barang-barangmu. Kakakku suka berbohong, aku tidak menyangka dia akan berbohong lagi kali ini."

Perkataan Alice mengingatkan Victor akan semua yang telah dilakukan Rachel, membuatnya terlihat lebih kesal dari biasanya, "Apa kamu benar-benar berpikir aku tidak berani membunuhmu?"

Tiba-tiba, Victor mencekik Rachel dengan tangannya dan membuat bagian belakang kepalanya terbentur ke dinding. Rachel tidak melihat serangan itu datang, tapi dia refleks meraih tangan Victor. Rasa sakit yang datang dari bagian belakang kepalanya membuatnya pusing.

"Vic... Victor!" Rachel dengan susah payah memanggil Victor.

"Beraninya kamu menguji kesabaranku berulang kali?" ujar Victor.

Rachel merasa mulai kehilangan kesadarannya. Dia sama sekali tidak bisa melepaskan dirinya dari cengkeraman Victor.

Melihat situasi ini, Ivan memutuskan untuk turun tangan. Dia buru-buru melangkah maju dan berkata, "Tuan Rayadinata, jika sesuatu terjadi pada Nyonya Rayadinata, orang-orang di jajaran direksi akan menggunakannya untuk melawanmu. Jika itu terjadi, rencanamu untuk memusatkan ekuitas akan terhambat."

"Enyah!" bentak Victor.

Sekarang, jari-jari Victor yang mencengkeram leher Rachel menjadi pucat dikarenakan cengkeramannya yang sangat kuat.

Bab 3

Ivan mengkhawatirkan Rachel, tapi dia tidak berani menjawab perkataan Victor lagi.

Di sisi lain, Rachel masih belum mau mati.

Dia menggunakan sisa kekuatannya untuk mendorong tangan Victor dari lehernya. Setelah merasa bahwa napasnya sedikit lebih baik, Rachel menatap Victor dengan matanya yang sudah memerah.

"Jika aku mati di sini sekarang, maka aku akan mati sebagai istrimu, masih merupakan anggota keluarga Rayadinata. Suatu hari nanti, ketika kamu mati, kamu akan dikuburkan di sebelahku dan aku akan menghantuimu di akhirat!"

Rachel berkata dengan susah payah, wajahnya menjadi merah karena hampir kehabisan napas. Sedikit demi sedikit, kekuatan Rachel untuk melawan Victor pun hilang. Dan perlahan, Rachel bisa merasakan kesadarannya pun ikut menghilang.

"Kamu pikir kamu siapa? Kamu tidak pantas dikuburkan di makam keluargaku." Nada suara Victor terdengar dingin, "Jika kamu mati, aku akan mengkremasi tubuhmu dan membuang semua abumu ke tempat sampah. Wanita sepertimu lebih pantas beristirahat dengan sampah!"

Mendengar perkataan Victor membuat Rachel tertawa terbahak-bahak.

"Kenapa kamu tertawa?" tanya Victor.

"Bahkan jika kamu membuang abuku ke tempat sampah, itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku adalah istri sahmu dan aku adalah bagian dari silsilah keluargamu. Kamu membenciku, bukan? Maaf, tapi kamu tidak akan pernah bisa menyingkirkanku, bahkan jika aku mati!"

Victor menatap Rachel tajam sambil mengencangkan cengkeramannya di lehernya, kemudian dia mengangkatnya ke udara. Rachel dibuat menjerit kesakitan dan beberapa bulir air mata mengalir ke pipinya.

Tepat ketika bayangan tentang pasangan tak tahu malu di kehidupan sebelumnya terlintas di benak Rachel, Victor tiba-tiba melepaskannya.

Tubuh Rachel pun jatuh ke lantai. Rachel merasa seolah-olah setiap tulang di tubuhnya patah, bahkan gerakan sekecil apa pun bisa membuatnya kesakitan.

"Uhuk! Uhuk!" Rachel terbatuk-batuk keras dan bernapas terengah-engah.

Ivan melirik ke arah Rachel dengan dingin, kemudian dia menundukkan kepalanya, "Tuan Rayadinata, ini semua salahku. Aku tidak mendesaknya untuk pergi tepat waktu. Aku bersedia menanggung akibatnya."

Wajah Alice memucat ketakutan ketika dia melihat Victor mencekik Rachel. Dia berlutut dan memohon, "Victor, aku... Ini salahku! Aku tidak memeriksa koper Rachel dengan lebih cepat. Itu sebabnya dia memiliki kesempatan untuk berbohong dan mengulur waktu untuk dirinya sendiri."

Rachel bisa merasakan dadanya sesak ketika dia terbatuk.

"Aku tidak mengambil apa pun yang menjadi milikmu," ujar Rachel dengan suara serak.

Victor mengeluarkan tisu basah untuk membersihkan tangannya yang dia gunakan untuk menyentuh leher Rachel. Kekecewaan terlihat begitu jelas di wajahnya.

"Kamu tidak mengambil apa-apa? Kamu membeli semua pakaianmu menggunakan uangku. Beraninya kamu mengatakan bahwa kamu tidak mengambil barang-barangku?"

Rachel mengatupkan bibirnya, dia tidak bisa membantah ucapan Victor. Di hari pernikahannya, Alice telah membakar semua pakaian yang Rachel beli dengan uangnya sendiri. Alice berkata bahwa pakaiannya terlalu vulgar dan Victor mungkin tidak ingin melihatnya memakainya.

"Buka pakaiannya dan usir dia!" Setelah mengatakan itu, Victor pergi tanpa ragu-ragu dengan diikuti oleh Ivan di belakangnya.

Baru setelah mereka berdua pergi menjauh, Alice bangkit dan berjalan menuju Rachel. Kelembutan yang sebelumnya dia tunjukkan telah menghilang.

"Rachel, kamu menikahi Victor dan tidur dengannya, lalu apa? Pada akhirnya, dia mengusirmu! Kamu ingin membuatnya jatuh cinta padamu, bukan? Itu tidak akan pernah terjadi! Apa kamu benar-benar berpikir aku memintamu untuk memakai riasan tebal dan menambah berat badan karena Victor menyukainya? Benar-benar konyol! Aku tidak percaya kamu benar-benar memercayainya. Tidak ada pria yang akan menyukai wanita gemuk dan idiot sepertimu! Aku hanya bermain-main denganmu. Aku hanya ingin membuatnya semakin membencimu!"

Wajah Rachel berubah menjadi pucat pasi ketika mendengar perkataan Alice, dia bahkan tidak memandangnya. Rachel bersikap acuh tak acuh terhadap perkataan Alice, seolah-olah dia hanya mendengarkan omong kosong belaka.

Melihat Rachel yang tidak memberikan tanggapan sama sekali, Alice menggertakkan giginya dengan kesal, "Kenapa kamu menatapku seperti itu?"

"Huh! Kamu sangat menyedihkan." Rachel terkekeh, mencoba menahan rasa sakitnya.

Rachel yakin bahwa dia telah menderita luka dalam yang serius. Berbicara sedikit saja sudah cukup membuatnya merasa kesakitan seolah-olah organ-organ di dalam tubuhnya sedang dipelintir.

Namun, dia tidak bisa memperlihatkan sisi lemahnya sekarang. Jika tidak, Alice akan terus menyiksanya. Wanita ini benar-benar sangat jahat.

"Apa katamu?" Mata Alice membelalak lebar karena terkejut mendengar cibiran Rachel. Dia merasa terpancing oleh ucapan itu.

"Aku berkata," Rachel menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sakit di dadanya, "Kamu menjalani kehidupan yang menyedihkan dan konyol. Kamu adalah orang paling menyedihkan yang pernah kutemui! Disebut anak haram pasti membuatmu merasa rendah diri, bukan? Kamu telah mencoba yang terbaik untuk mencuri semua yang kumiliki sejak kita masih kecil, karena aku adalah putri kandung Keluarga Verdianto, sedangkan kamu hanya anak simpanan yang kotor. Kamu itu hanyalah anak haram!"

"Rachel! Tutup mulutmu!" teriak Alice. Tampaknya perkataan Rachel berhasil membuatnya kesal.

Rachel kemudian menyeringai dan melanjutkan, "Dua tahun terakhir ini, aku memercayaimu, tapi kamu menipuku dengan memanfaatkan keinginanku untuk menarik perhatian Victor. Kamu membodohiku untuk melakukan hal-hal bodoh di depannya, sehingga dia akan membenciku. Pada awalnya, dia tidak memiliki perasaan apa-apa padaku, kemudian perlahan-lahan dia mulai membenciku. Dan sekarang, dia terlalu jijik untuk melihatku. Kamu pasti bangga dengan pencapaian ini, bukan?"

Alice mengepalkan tangannya sambil menatap Rachel dengan penuh kebencian, "Kamu harus menyalahkan dirimu sendiri karena begitu bodoh!"

"Kamu benar, aku memang bodoh." Rachel mengakui. Saat ini, Rachel merasa malu atas apa yang telah dia lakukan dalam dua tahun terakhir.

Meskipun dirinya merupakan putri dari keluarga yang kaya dan berkuasa, kehidupan yang Rachel jalani selama ini sangat menyedihkan. Bagaimana bisa dia berakhir seperti ini?

"Kamu sadar diri juga." Ekspresi wajah Alice membuatnya tampak seperti dia adalah pemenang di antara mereka berdua.

"Aku hampir mati dan itu cukup untuk menyadarkanku. Lagi pula, otakku tidak lambat sepertimu." Rachel ingin memastikan bahwa dia tidak mengalami patah tulang, jadi dia mencoba bangun dengan menopang dirinya menggunakan kedua tangannya. Namun, rasa sakitnya terlalu berat untuk ditanggungnya, jadi Rachel kembali terjatuh.

Rachel mengerang kesakitan, butir-butir keringat bercucuran di dahinya dan tangannya menopang pada lantai yang keras. Pembuluh darah di punggung tangannya menonjol karena Rachel mengerahkan semua kekuatan yang bisa dia kumpulkan.

Kini wajah Alice berubah menjadi suram.

"Akhirmu sudah dekat, Rachel. Beraninya kamu berbicara seperti itu padaku? Ingat, kamu bukan lagi istri Victor dan kamu bukan lagi bagian dari Keluarga Rayadinata! Neneknya sudah mati sekarang, jadi tidak ada orang yang bisa melindungimu! Jika kamu memiliki otak di kepalamu yang kosong itu, kamu seharusnya berlutut dan memohon padaku untuk membujuk Ayah agar mengizinkanmu pulang!"

Ketika Alice menyebut Nenek Victor, raut wajah Rachel terlihat sedih.

Nenek Victor yang memilih Rachel untuk menjadi istri Victor. Tidak lama setelah Rachel menikah dengan keluarga Rayadinata, wanita tua itu meninggal karena sakit. Saat masih hidup dulu, Nenek Victor adalah satu-satunya pelindung Rachel. Selama waktu itu, Rachel menjalani kehidupan yang bermartabat di dalam kediaman Keluarga Rayadinata.

"Apa kamu pikir kamu dapat menikahi Victor dan berbagi Grup Rayadinata dengannya setelah aku menceraikannya?"

Mendengar perkataan Rachel, Alice berdiri dengan bangga, "Kamu bisa melakukannya, jadi aku juga mungkin bisa."

"Tidak bisa," ujar Rachel lemah tapi tegas.

"Mengapa kamu begitu yakin bahwa Victor akan setuju untuk menikahimu? Hanya karena dia juga anak haram, kamu pikir kamu cukup baik untuk menjadi istrinya? Ibumu adalah seorang simpanan, seorang perusak rumah tangga! Tidak sepertimu, Victor lahir bahkan sebelum Ayahnya menikah. Dan Ibunya tidak pernah menghancurkan pernikahan pria itu! Karena itu, kamu tidak akan pernah pantas menjadi istri Victor," ujar Rachel.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED