“Maaf Bintang, sampai merepotkan kamu, jauh-jauh datang ke sini.” Azzalyn berkata dengan tak enak hati.
“Nggak pa-pa, sekalian aku juga ingin tahu kampung halaman kamu,” Bintang tersenyum manis. “Lagi pula aku kasihan lihat Abyl kayak orang stress. Kerja nggak fokus, padahal lagi banyak proyek perusahaannya.”
“Jadi karena itu dia nggak bisa datang sendiri ke sini?” tanya Azzalyn.
“Bukan hanya karena itu sih katanya. Dia bilang ingin ke sini, tapi takut Ibu kamu marah lagi.”
Azzalyn diam. Ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu, waktu Abyl datang ke rumahnya. Saat itu Abyl berniat untuk meminta restu dari ibunya agar mereka bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Abyl berniat meminang Azzalyn.
Awalnya semua baik-baik saja. Renita begitu ramah menyambut kedatangan Abyl. Namun sikap ibunya berubah tatkala Abyl menceritakan tentang orang tua dan keluarganya. Renita mengusir Abyl dan meminta Abyl untuk memutuskan hubungan asmaranya dengan Azzalyn.
“Memangnya apa yang terjadi hari itu? Apa Abyl menyinggung perasaan Ibumu?” pertanyaan Bintang mengagetkan Azzalyn yang sedang melamun.
“Azzalyn menghela napas. “Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba aja Ibu marah, mengusir Abyl dan mengunciku di kamar selama hampir dua hari. Ibu juga mengambil dan menyimpan HP ku.”
“Panteess... Jadi karena itu Abyl nggak bisa menghubungi kamu sama sekali,” Bintang bergumam. “Sekarang Ibu kamu di mana?”
“Ibu kerja di pelabuhan kecil dekat sini. Mungkin sebentar lagi pulang.”
“Jadi, apa kamu bisa ikut aku pulang ke kota? Aku udah janji sama Abyl mau bawa kamu kalau balik nanti.”
“Aku nggak janji, Bintang. Aku nggak berani ke mana-mana kalau Ibu nggak ngizinkan. Lagi pula aku masih penasaran. Kenapa Ibu sangat menentang hubunganku dan Abyl. Apalagi dari yang kudengar, ini menyangkut keluarga Abyl. Aku rasa Ibuku punya hubungan dengan keluarga Abyl di masa lalu.”
Kening Bintang berkerut. “Hubungan apa?”
Azzalyn mengedikkan bahu. “Ibu nggak mau bilang. Tiap kutanya Ibu selalu tampak mengalihkan omongannya. Ibu melarangku untuk bertemu Abyl lagi. Aku harus gimana?” mata Azzalyn mulai memerah. Tiba-tiba ia merasa sangat rindu pada Abyl. Dia dan Abyl saling mencintai, meski keluarga Abyl terutama ibu dan adiknya tak menyukai hubungan mereka.
Bintang hanya menatap gadis cantik di depannya. Gadis yang sebenarnya sudah lama ia sukai dalam diam. Meski sebenarnya ia yang lebih dulu mengenal dan menyukai Azzalyn, tapi ia terlalu lama bertindak. Ia terlalu malu untuk mendekati dan mengungkapkan perasaannya. Hingga saat ia mengenalkan Abyl pada Azzalyn, ia merasa semua sudah terlambat. Azzalyn jatuh ke pelukan Abyl. Dan sebagai sahabat Abyl, ia hanya bisa merestui hubungan mereka meski hatinya merasa sakit tiap kali melihat kemesraan Abyl dan Azzalyn.
“Kita tunggu Ibumu pulang dan aku akan minta izin untuk membawamu kembali ke kota.”
“Azzalyn nggak akan ke mana-mana!”
Tiba-tiba suara Renita terdengar, membuat mereka terkejut.
“Ibu? Pulang awal?” tanya Azzalyn yang heran, sebab biasanya sang ibu belum pulang jam segini.
Renita tak menjawab pertanyaan anaknya. Ia mendekati Bintang yang tampak salah tingkah.
“Bilang sama temanmu untuk menjauhi Azzalyn. Selamanya! Dan jangan coba-coba dia menyuruh siapa pun untuk membawa anakku pergi dari sini. Sekarang kamu pulang!” kata Renita pada Bintang sambil menarik paksa lengan Azzalyn. Dengan satu hentakan kasar ia menutup pintu. Meninggalkan Bintang yang bahkan tak sempat mengucapkan sepatah kata pun.
***
“Kenapa Bu? Apa alasan Ibu tidak merestui hubungan kami?” tanya Azzalyn sambil memandang kegelapan malam di luar sana.
Renita sedang duduk dengan pandangan kosong di sofa sambil menyilangkan kedua lengannya di dada. Sementara Azzalyn berdiri di depan jendela yang terbuka, mengharapkan angin malam yang dingin dapat menyejukkan hatinya yang baru saja kecewa.
“Kamu sudah tahu kalau keluarganya tidak merestuimu, Azzalyn . Tapi kenapa kamu malah nekat dengan menerima pinangannya? Apa yang menutupi hatimu? Apakah karena dia kaya? Kamu pikir dengan menikah tanpa restu dari keluarganya akan membuat kamu bahagia? Mereka akan menerima kamu? Jangan mimpi! Mereka selamanya akan menganggap kamu nggak selevel dengan mereka! Kamu hanya akan sakit hati!” Renita menumpahkan segala kekesalannya pada Azzalyn.
“Kami saling mencintai Bu. Bukan karena dia kaya. Tapi karena memang aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya.” Azzalyn menjawab dengan emosi. Dia memang memiliki watak yang keras dan tidak mau ditentang tanpa alasan yang jelas. Azzalyn akan mempertahankan apa pun keinginannya selagi ia merasa apa yang ia mau bukanlah suatu kesalahan.
“Cinta itu nggak akan bertahan lama Azzalyn. Pernikahan itu bukan untuk seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, atau setahun dua tahun... Pernikahan itu untuk seumur hidup. Kalau dari awal pernikahan kalian saja sudah diawali dengan tanpa adanya restu, maka selamanya akan seperti itu.”
“Om Krisna menyukaiku Bu. Hanya Tante Riska dan adik perempuan Abyl yang memang terlihat lain sikapnya terhadapku. Tapi kata Abyl sifat mereka memang seperti itu.”
“ Jangan menjadikan itu sebuah pembenaran Azzalyn! Sekali sikap mereka seperti itu, maka selamanya mereka akan seperti itu!”
“Kenapa Ibu bicara seolah-olah sangat mengenal mereka?”
“Ibu memang mengenal mereka. Karena itu Ibu minta jangan berurusan lagi dengan keluarga Abyl!”
“Beri aku alasan Bu, kenapa aku harus melepaskan Abyl. Alasan yang kuat. Kalau hanya karena Ibu mengenal mereka secara sekilas, itu tak cukup untuk mengikis perasaanku pada Abyl,” Azzalyn masih ngotot. Dia bukanlah orang yang mudah melepaskan keinginannya.
“Cukup dengarkan Ibu Azzalyn! Putuskan hubunganmu dengan mereka. Lupakan Abyl. Berhenti bekerja di tempat mereka. Lebih baik kau tetap di sini bersama Ibu.” Renita berkata tegas.
“Sekarang Ibu meminta aku untuk berhenti bekerja? Ibu tahu kan kalau ini adalah pekerjaan impianku? Kerja di kantor layaknya wanita karir seperti cita-citaku sejak dulu baru kudapat setelah diterima bekerja di perusahaan Abyl Bu! Apa Ibu nggak merasa kalau Ibu terlalu mengekang dan mengatur hidupku?”
“Ini demi kebaikan kamu Azzalyn! Demi masa depanmu!”
“Kalau gitu bilang Bu, kenapa? Kenapa aku harus melepaskan semuanya. Aku nggak sanggup kalau harus berhenti bekerja. Aku juga nggak bisa putus dari Abyl! Aku akan memperjuangkan Abyl dan pekerjaanku!”
“Jangan kau tanyakan lagi Azzalyn! Ibu nggak mau membuka luka lama!”
“Kalau Ibu nggak mau jujur apa alasannya, maka aku juga nggak akan mau mendengarkan Ibu. Aku akan pergi sekarang!” Azzalyn berbalik dan masuk ke kamarnya. Dengan tergesa ia memasukkan pakaian dan barang-barang miliknya ke dalam koper. Ia berniat akan pergi malam itu juga.
Sementara Renita hanya bisa menangis, sambil berusaha menahan tangan Azzalyn yang dengan cepat memasukkan barang ke kopernya, tapi Azzalyn selalu menepis tangannya.
“Azzalyn tolong dengarkan Ibu! Tolong jangan pergi!” katanya sambil menangis.
“Ibu nggak bisa memberiku alasan yang jelas mengapa aku harus putus dari Abyl. Maka aku pun tak punya alasan untuk tetap bertahan di sini Bu! Biarkan aku mengejar kebahagiaanku sendiri!”
“Azzalyn kamu nggak boleh menikah sama dia! Dia saudara kamu! Krisna Hadi itu Ayah kandung kamu!” pekik Renita sambil memeluk anaknya dari belakang. Azzalyn berbalik dan memandang Renita dengan wajah kebingungan, penuh tanda tanya. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sudah terjadi.
Mata Renita menerawang. Mengingat kembali kejadian menyedihkan yang menimpa dirinya di masa lalu.
Dimulai dari pertemuan pertama dengan Krisna, pernikahan yang tak direstui sang ibu mertua pada awalnya, hingga malam kejadian saat ia diusir dari rumah dalam keadaan sedang mengandung Azzalyn.
Semua ia ceritakan pada Azzalyn sambil berurai air mata. Tak ada lagi yang ditutupi.
“Ibu pikir Bu Narti benar-benar perhatian dan menyayangi Ibu, karena hampir setiap malam dia membuatkan jus semangka kesukaan Ibu. Tapi suatu hari, tanpa sengaja Ibu melihat apa yang ia lakukan. Dia mencampurkan pil KB yang sudah ia haluskan ke dalam jus yang setiap malam ia berikan pada Ibu. Entah sudah berapa lama dia melakukan itu. Dia benar-benar tidak mau memiliki cucu dari Ibu.” Renita menangis.
“Lalu?”
“Saat tahu apa yang ia perbuat, diam-diam Ibu selalu membuang jus yang diberikannya. Dan tak lama Ibu mengandungmu. Tapi belum sempat Ibu memberitahu Krisna, tanpa sengaja pernikahan sirinya dengan Riska saat itu terbongkar. Saat itu Riska sudah hamil. Dan tentu saja dengan mudah Bu Narti mendepak Ibu dari rumah. Malam itu Ibu diusir.” Renita menyeka air matanya.
“Jadi Ibu memilih pergi dan tidak memberitahu mereka kalau Ibu sedang mengandung?”
“Apa gunanya Ibu bilang kalau Ibu sudah hamil? Pernikahan Ibu sudah terlanjur hancur. Ayahmu tega berkhianat dengan dalih berbakti pada Ibunya.” Air mata Renita mengalir deras.
“Tolong jangan sebut dia Ayahku, Bu! Dia nggak pantas!” geram Azzalyn. “ Lagi pula sejak dulu yang aku tahu Ayah sudah meninggal,” lanjutnya.
“Maafkan Ibu, Azzalyn. Ibu terpaksa berbohong. Selama ini Ibu telah mengecewakanmu.” Tangis Renita semakin menjadi.
“Nggak! Bukan Ibu, tapi mereka. Orang yang sebenarnya adalah Ayah dan Nenekku. Mereka telah jahat pada Ibu. Kenapa mereka mencampakkan kita? Aku... Aku...” Azzalyn mulai menangis. Renita meraih kepala anak gadisnya itu dan memeluknya.
“Saat Ibu tahu Oma Narti memberi Ibu pil KB diam-diam setiap malam, kenapa nggak langsung bilang dengan Om Kris?” tanya Azzalyn.
“Nggak ada gunanya. Ibu nggak punya cukup bukti. Krisna itu sangat patuh dan penurut pada Ibunya. Kalau Ibu bilang tanpa bukti, pasti Ibu dibilang mengada-ada.”
“Jahat Sekali Tante Riska. Padahal dia teman Ibu. Sampai hati dia merebut suami temannya sendiri.”
“Bukan cuma teman. Kami sahabat. Riskalah yang dulu selalu mencarikan Ibu pekerjaan menyanyi di kafe-kafe kenalannya. Ibu tidak tahu kalau ternyata ia sudah menaruh hati pada Krisna sejak pertama kali Ibu memperkenalkan Krisna sebagai calon suami Ibu padanya. Riska orang pertama yang Ibu beri tahu soal kabar bahagia itu.”
“Apa Oma Narti sebegitu nggak sukanya dengan Ibu?”
“Iya, bahkan sejak awal dia memang menentang keinginan Krisna yang saat itu ingin menikahi Ibu. Dia tidak mau punya menantu yang hanya seorang penyanyi kafe. Dia pikir selama menjadi penyanyi, Ibu menjual diri. Dia merasa Ibu tak pantas mendampingi anaknya yang kaya dan berpendidikan. Saat itu Ibu masih sangat muda. Yang ada dalam pikiran Ibu hanya cinta dan ingin hidup bersama. Krisna meyakinkan Ibu untuk tetap menikah dan mengabaikan larangan ibunya. Krisna berjanji akan selalu mencintai dan menjaga Ibu. Tapi nyatanya...” Renita kembali tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menutup muka dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar menahan tangis.
“Hanya karena Ibu saat itu belum mengandung setelah dua tahun menikah, dia tega mengkhianati Ibu dengan diam-diam menikahi Riska yang anak orang kaya itu. Padahal Ibu belum hamil karena Oma Narti yang jahat!” Azzalyn menyimpulkan semua cerita Ibunya.
“Bu Narti malu punya menantu mantan penyanyi kafe. Karena itu, sejak kembali ke rumah Mbah, Ibu tidak pernah lagi menerima pekerjaan sebagai penyanyi. Ibu nggak mau kamu malu. Ibu tahu kamu juga malu karena punya Ibu yang hanya seorang pembantu nelayan. Tapi Ibu pikir itu lebih baik daripada jadi penyanyi malam,” kata Renita.
“Azzalyn nggak pernah malu apa pun keadaan Ibu. Ibu sudah berjuang keras sampai saat ini,” Azzalyn semakin kuat memeluk ibunya. Tangisnya semakin menjadi. Dada Renita basah terkena air mata Azzalyn. Baru ia sadari betapa menderita Ibunya selama ini.
“Apa karena itu sampai saat ini Ibu tak menikah lagi? Ibu trauma?” tanya Azzalyn.
“Ibu tak menikah lagi karena ingin fokus merawat dan membesarkanmu Azzalyn. Ibu takut kasih sayang Ibu terbagi kalau menikah lagi dan punya anak. Ibu sedih membayangkan kau yang tak mendapat kasih sayang seorang Ayah, harus kehilangan kasih sayang dari Ibu juga.”
Azzalyn semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya pedih. Selama ini ia terlalu egois, membiarkan Ibunya yang menanggung semua sendiri.
“Ibu bisa minta tolong?” tanya Renita.
Azzalyn melepaskan pelukannya, memandang Renita dengan mata yang membengkak akibat menangis sejak tadi.
“Tolong lupakan Abyl, dan berhenti bekerja. Cari pekerjaan di sini saja. Jangan kembali ke kota itu,” pinta Renita.
Azzalyn mengangguk. “Tapi Azzalyn tetap harus ke kantor, selain masih banyak barang yang tertinggal di sana, Azzalyn juga harus menghadap HRD, untuk meminta Surat Pengalaman Kerja. Biar Azzalyn punya kesempatan untuk diterima bekerja di perusahaan lain. Ibu tenang aja, Azzalyn akan mengakhiri semuanya,” kata Azzalyn mantap.
Renita tersenyum. Beban di dadanya selama 25 tahun ini akhirnya terlepas. Azzalyn sudah mengetahui semuanya, dan kini ia tak menyembunyikan apa pun dari anak semata wayangnya itu.
“Bu, apa setelah Ibu pergi, tak pernah sekalipun Om Kris mencari kita?”
Renita menggeleng. “ Ibu nggak tahu. Setelah kejadian itu, Mbah mengajak pindah ke sini, di mana tempat ini tak ada siapa pun yang mengenal kami. Mbah tak ingin berurusan lagi dengan mereka. Begitu pula dengan Ibu.”
Azzalyn kembali memeluk Ibunya.
***
Abyl berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang HRD. Sekitar setengah jam yang lalu, Bu Endang, Kepala HRD di kantornya mengirim chat kalau Azzalyn datang dan mengajukan surat pengunduran diri. Saat itu Abyl sedang duduk dengan Krisna, hendak menanyakan perihal tentang ibu Azzalyn yang sepertinya mengenal keluarga mereka.
Begitu mendapat kabar kalau Azzalyn akan berhenti kerja di kantornya, Abyl merasa ada yang tidak beres. Ia pergi tanpa mempedulikan pertanyaan heran dari sang ayah.
“Mana Azzalyn?” tanya Abyl saat sampai di ruang kantor Bu Endang. Tak dilihatnya ada Azzalyn di situ.
“Emangnya Bapak nggak berpapasan tadi? Dia baru keluar sekitar lima menit yang lalu. Oh, mungkin dia singgah ke ruang kerjanya. Katanya mau ambil barang tertinggal sekaligus pamitan sama yang lain,” jawab Bu Endang. Dia termasuk salah satu yang mengetahui hubungan asmara antara Abyl dan Azzalyn.
Saat Azzalyn mengantarkan surat pengunduran dirinya tadi, ia merasa heran. Karena itu ia memberi kabar pada Abyl, yang merupakan Bos muda di kantornya itu. Perusahaan ini adalah milik keluarga Krisna Hadi, dan kini Abyl yang bertanggungjawab memegang kepemimpinan di perusahaan.
Abyl berbalik dan berlari menuju ruang karyawan. Tapi sesampainya di sana pun tak dilihatnya Azzalyn.
“Tadi dia sebentar aja di sini Pak. Kayaknya terburu-buru. Habis pamitan, ambil barang terus pergi. Tapi kayaknya belum jauh,” kata sindy.
Lagi-lagi Abyl berlari. Kali ini tujuannya ke luar, ke tempat parkir. Benar saja, dilihatnya Azzalyn yang sedang meletakkan kardus berisi barang dan mengikatnya di bagian belakang sepeda motor.
“Azzalyn, kau mau ke mana? Kenapa kau berhenti bekerja di sini?” Abyl menangkap tangan Azzalyn. Membuat gadis itu terkejut. “Jangan bilang kau benar-benar menuruti Ibumu dan memutuskan hubungan kita,” imbuhnya.
“Kita selesai sampai di sini, Abyl!”
“Aku nggak paham apa maksud kamu, Azzalyn!”
“Kita putus Abyl. Seharusnya kita memang nggak boleh punya hubungan apa-apa sejak awal. Seharusnya kita nggak usah bertemu dan nggak usah saling kenal.”
“Kau menyesal sudah mengenalku? Apakah yang telah kita lewati selama ini tidak ada artinya apa-apa bagimu?” suara Abyl terdengar lemah. Ia tak menyangka semudah ini Azzalyn memutuskan hubungan mereka.
Azzalyn diam. Biar bagaimanapun Abyl adalah orang yang ia cintai. Orang yang sangat ingin dia miliki seumur hidupnya. Sampai Azzalyn mengetahui kenyataan kalau dia dan Abyl bersaudara, dan Ibu Abyl yang menjadi penyebab ia dan ibunya menderita selama ini.
“Bisakah kita bicarakan semuanya pelan-pelan? Jangan ambil keputusan terlalu cepat Azzalyn,” pinta Abyl.
“Nggak akan ada yang berubah Abyl. Apa pun yang menjadi pembicaraan kita nanti keputusanku akan tetap sama. Aku nggak mau ada hubungan apa-apa lagi denganmu.”
Azzalyn berbalik hendak menaiki sepeda motornya. Tapi Abyl cepat menangkap tangan Azzalyn dan memutar badan gadis itu hingga berhadapan langsung dengannya.
“Apa semudah itu cintamu hilang? Atau sejak awal kau memang tidak mencintaiku? Beberapa hari yang lalu kita berjanji untuk akan tetap bertahan meski semua orang di dunia ini menentang kita. Kita sudah berjanji akan menghadapi semua tantangan ini bersama. Tapi kenapa sekarang kau bilang akan mengakhiri semuanya?”
Azzalyn tak menyahut. Jarak mereka yang begitu dekat membuat dadanya berdebar. Tak bisa dipungkiri, Azzalyn sangat mencintai Abyl. Dan tak mungkin semudah itu ia menghapus cintanya dalam semalam, meski alasan untuk menghilangkan perasaan itu sangat kuat.
Tapi Azzalyn tak mungkin untuk terus mencintai orang yang bisa disebut kakak lelakinya itu. Kemarin-kemarin dia memang tak akan peduli dengan orang-orang yang tak merestui mereka, tapi sekarang dia yang memang harus menyerah.
“Iya, aku memang nggak pernah mencintaimu, aku mendekatimu karena hanya ingin hartamu!” Azzalyn berbohong. Dia hanya ingin Abyl menyerah dan membiarkan dia pergi.
“Tuh kan, aku bilang juga apa? Kak Abyl nggak percaya kalau kemarin aku bilang cewek itu cuma mau harta doang!” suara seorang gadis mengejutkan mereka berdua. Kompak Abyl dan Azzalyn menoleh ke arah suara. Dwita, adik perempuan Abyl terlihat berdiri di samping seorang lelaki muda dan tampan.
“Ngapain kamu ada di sini?” Abyl gondok. Adik perempuannya itu suka sekali ikut campur urusannya. Dan Abyl tahu kalau Dwita tidak menyukai Azzalyn.
“Aku minta antarin Kak Bintang ke sini. Papa telepon tadi, nyuruh liatin Kak Abyl ada nggak di kantor. Papa khawatir tadi Kak Abyl bawa mobil kayak orang kesetanan.”
“Aku nggak pa-pa. Udah, pulang sana!” Abyl mengusir Dwita. Ia ingin Dwita dan Bintang segera pergi. Ia tak mau urusannya dengan Azzalyn terganggu dengan kehadiran adik dan sahabatnya itu.
“Nggak mau! Pengen dengar kalian berantem lagi! Kalian putus ya?” tanya Dwita menyebalkan.
“Nggak ada urusan sama kamu! Ngapain repot-repot ke sini?
“Yeee... Ni orang dibilangin aku ke sini di suruh Papa. Pikun, masih muda juga.”
“Kamu lihat kan? Aku nggak pa-pa! Bisa pergi sekarang?!” Abyl mulai emosi. Adiknya itu benar-benar pembangkang. Padahal usia mereka terpaut lumayan jauh, hampir tujuh tahun. Tapi sikap Dwita padanya terlalu santai, bahkan kadang terkesan kurang ajar.
“Mbak, kalau mau putus, putus aja yah. Mbak sudah berada pada keputusan yang tepat. Sadar diri biarpun terlambat nggak pa-pa, cari yang selevel sama Mbak. Jangan ketinggian cari tipe calon suami.” Dwita mengejek Azzalyn. Ia senang sekali saat tadi ia mendengar kalau Azzalyn memutuskan hubungannya dengan kakak lelakinya itu. Ibunya pasti sangat senang sekali mendengar berita ini.
“Bisa diem nggak??!!! Bintang, tolong bawa dia pulang sekarang. Tolong!!!” Abyl hampir kehilangan kesabarannya. Saat genting seperti ini, ada saja yang mengganggu.
“Ayo kita pulang, Dwi. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.” Bintang menarik tangan Dwita, dan ia menurut. Dwita memang menyukai Bintang sejak lama. Tapi tak ada tanda-tanda kalau lelaki itu menyukainya seperti menyukai lawan jenis. Bintang sepertinya hanya menganggap dia seorang adik.
“Dwita, kamu...” suara Azzalyn yang tiba-tiba, menghentikan langkah Dwita dan Bintang. Dwita berbalik badan dan menatap Azzalyn yang kini juga sedang memandangnya dengan tatapan dingin. “Kamu juga seharusnya cepat sadar diri. Jangan terlalu suka mepetin cowok yang jelas-jelas nggak suka sama kamu. Apalagi dengan minta diantar ke sana-sini. Ngerepotin orang aja. Kalau aku, biarpun level yang kucari terlalu tinggi, tapi aku dengan mudah bisa membuat mereka bertekuk lutut. Kamu nggak laku? Sampai-sampai nggak capek ngejar satu cowok doang?”
“Kau....” Dwita panas mendengar kalimat Azzalyn. Badannya sudah bergerak hendak mendekati Azzalyn. Tapi tangan Bintang cepat menahannya.
“Udah ayo pulang!” Bintang memaksa Dwita, memutar badan gadis itu agar pergi menjauh.
“Jangan sok hebat! Sok menaklukkan cowok kaya, putus juga kan?” Dwita masih tak puas hati. Badannya yang sudah agak menjauh tadi ia lepaskan dari pegangan tangan Bintang.
“Iya aku putus karena aku sudah dapat yang lebih baik. Kakakmu ini nggak ada apa-apanya!” Azzalyn membalas, ia bukanlah tipe orang yang diam saat dihina. Dia tak akan pernah membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya.
“Apaan...” Dwita hendak membalas lagi, tapi Bintang kembali menangkap badannya, dan menyeret sambil memeluknya. Meski tak puas hati, Dwita terpaksa menurut. Dia begitu menyukai Bintang, sahabat Abyl sejak SMP itu.
Setelah Dwita dan Bintang tak terlihat lagi, Azzalyn kembali sibuk mengikat kardusnya.
“Azzalyn, tolong kita harus bicara,” Abyl memohon.
Tapi Azzalyn tak menjawab sama sekali. Ia menghidupkan mesin kendaraannya dan meninggalkan Abyl yang kini hanya bisa memandang Azzalyn yang kian menjauh.
***
“Papa dengar dari Dwi, katanya kamu putus dengan Azzalyn?” Krisna bertanya pada putranya yang kini sedang mengurut keningnya. Terlihat sekali kalau Abyl sedang frustasi.
“Dasar mulut ember!” ucap Abyl kesal.
“Kenapa?”
“Nggak tahu Pa. Mungkin karena di keluarga ini nggak ada yang merestui hubungan kami,” kata Abyl dengan nada sedih. Krisna pun jadi ikut sedih mendengarnya.
“Papa menyukai Azzalyn, tapi nggak tahu kenapa, ada suatu hal mengganjal yang membuat Papa nggak mau kamu menikahinya.”
“Sama aja, Pa!”
“Sebenarnya, ada sesuatu tentang Azzalyn yang mengganggu pikiran Papa,” Krisna berkata dengan ragu. “Tapi Papa nggak berani mikir terlalu jauh. Udah lama Papa ingin kamu mengatur pertemuan untuk Papa dan Azzalyn. Ada yang mau Papa ketahui tentang dia. Tapi tahu kan, Mama kamu itu selalu aja ngikutin Papa ke mana-mana. Sejak Papa pensiun dari perusahaan, Papa makin nggak bisa bebas.”
“Papa mau nanyain apa? Kenapa nggak bilang dari dulu?”
“Kamu tahu kan kalau Mama dan Dwita nggak suka sama Azzalyn, Oma juga. Jadi Papa nggak berani bilang kalau ada mereka. Papa nggak mau bertengkar.”
“Pa, sebenarnya kemarin Abyl ke rumah Azzalyn. Maafkan Abyl Pa. Tapi Abyl sangat mencintai Azzalyn. Abyl ingin menikah dengannya. Jadi Abyl pikir nggak akan peduli sekalipun di rumah ini tak ada yang merestui kami, asal Ibu Azzalyn menyetujui hubungan kami.”
Mata Krisna membulat. Ia tak menyangka putranya senekat itu. “Lalu?” tanyanya, masih berusaha untuk bersikap bijak.
“Ternyata Ibu Azzalyn pun tak merestui kami. Bahkan dia mengusirku dan meminta untuk menjauhi Azzalyn selamanya. Papa tahu, apa alasannya?”
“Apa?”
“Dia bilang, karena aku anak Papa dan Mama. Dia bilang dia mengenal keluarga kita.”
Kening Krisna berkerut. “Kamu tahu siapa nama Ibunya Azzalyn?” tanyanya kemudian. Ada yang ingin ia pastikan. Dan jawaban dari Abyl membuat jantungnya hampir copot.
“Renita Frastika.”