Bab 2

Tiba-tiba hujan mengguyur kota dengan deras, membasahi aspal dan memantulkan cahaya lampu jalanan menjadi jutaan titik-titik kecil yang berkelap-kelip. Di tengah badai itu, Stevie berdiri di pinggir jalan, tubuhnya gemetar menahan dingin. Di pelukannya, Luna tertidur pulas, wajahnya memerah karena pengaruh minuman keras.

"Aduh Lun, kenapa kamu harus mabuk sih? Kita basah kuyup karena kehujanan nih!" Gumam Stevie.

Stevie sudah menunggu taksi selama setengah jam, tapi tak satu pun yang lewat. Ia mencoba menghubungi beberapa layanan taksi, namun semuanya penuh. Kecemasan mulai menggerogoti hatinya. Ia harus segera membawa Luna pulang, namun tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba, sebuah mobil Porsche hitam berhenti tepat di depan mereka. Stevie mengerutkan kening, tak percaya dengan keberuntungannya. Seorang pria berjas hitam keluar dari mobil, wajahnya tampak dingin dan tegas. Ia menatap Stevie dengan tajam, kemudian pandangannya beralih ke Luna yang tertidur lelap.

"Luna?" tanya pria itu, suaranya dingin dan berwibawa.

Stevie tertegun. Ia mengenal pria itu, Brian, ayah mertua Luna.

"Pak Brian," ucap Stevie gugup.

"Luna mabuk, saya sedang menunggu taksi."

Brian menatap Stevie dengan tatapan tajam, seakan-akan ingin membaca isi hatinya.

"Kenapa kau membiarkannya mabuk?" tanya Brian, suaranya terdengar dingin.

Stevie terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bersalah, namun tak ingin menyalahkan dirinya sendiri. "Saya... saya tidak tahu," jawabnya terbata-bata.

Brian menghela napas panjang.

"Masuk," perintahnya, lalu membuka pintu mobil.

Stevie ragu-ragu, namun akhirnya masuk ke dalam mobil. Brian meletakkan Luna dengan hati-hati di kursi depan dan memakaikannya sabuk pengaman, lalu ia duduk di kursi kemudi. Stevie berada di belakang karena rumahnya dekat dari tempat itu. Mobil melaju dengan cepat, meninggalkan malam dalam keheningan yang mencekam.

Sepanjang perjalanan, Brian tak berbicara sepatah kata pun. Stevie hanya bisa merasakan tatapan tajamnya yang menusuk ke dalam jiwanya. Ia merasa seperti sedang diadili, dihakimi atas kesalahannya.

Saat mobil berhenti di depan rumah Stevie, Brian menatap Stevie dengan tatapan dingin.

"Jangan pernah membiarkannya mabuk lagi," kata Brian, suaranya tegas.

"Aku tidak akan segan-segan untuk menuntutmu jika kau mengulangi kesalahan yang sama."

Stevie terdiam, merasa tak berdaya. Ia hanya bisa mengangguk patuh. Stevie keluar dari mobil, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan Stevie yang masih berdiri dijalanan.

"Hah, Astaga. Menakutkan sekali, seperti bos mafia. Tampan dan seksi sih, tapi galak banget." Ucap Stevie berkomentar tentang ayah mertua Luna.

***

Hujan semakin deras, membasahi kaca mobil dan menghalangi pandangan Brian. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan yang saling bercampur aduk. Kecewa, marah, dan sedikit... terpesona. Aneh memang, tetapi menantunya benar-benar menunjukkan penampilan yang berbeda di waktu yang berbeda.

Luna tertidur di sampingnya, tubuhnya sedikit basah karena hujan yang mengguyur mereka saat Stevie mengantarnya ke mobil. Rambutnya yang biasanya rapi kini kusut dan menempel di pipinya yang memerah. Bibirnya sedikit terbuka, memperlihatkan gigi putihnya yang teratur. Wajahnya yang biasanya polos dan ceria kini terlihat sedikit sensual, seolah-olah terbungkus oleh aura dewasa yang tak biasa.

Brian tak bisa menahan tatapannya dari Luna. Ia terpesona oleh kecantikannya yang terpancar bahkan dalam keadaan mabuk. Hati Brian bergetar, sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa tertarik kepada Luna, bukan sebagai menantunya tapi sebagai seorang wanita. Brian menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pikiran buruk dari kepalanya.

"Mungkin aku sudah gila," lirihnya.

Tiba-tiba, tubuh Luna menggeliat, mencari posisi yang lebih nyaman. Wajahnya yang memerah semakin terlihat jelas, bibirnya sedikit terbuka dan berdesis pelan. Tatapan mata Luna yang biasanya ceria kini terlihat sedikit liar dan menggoda. Brian terpaku, tercengang oleh perubahan yang terjadi pada Luna.

"Papa..." Luna berbisik pelan, suaranya serak dan lembut. "Papa... aku kedinginan..."

Brian tersadar dari lamunannya. Ia meraih selimut yang ada di kursi belakang dan menutupi tubuh Luna. Ia merasa panas di wajahnya, hatinya berdebar kencang.

"Luna, kau harus tidur," kata Brian, suaranya terdengar sedikit gemetar.

Luna menggeliat lagi, mencari kehangatan di pelukan Brian. "Papa... aku ingin tidur di sini..." bisiknya, suaranya semakin serak.

Brian terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tak terduga. Ia tak ingin melakukan hal yang salah, tapi ia juga tak bisa menolak permintaan Luna yang sedang mabuk.

"Luna..." Brian mencoba berbicara, tapi Luna sudah tertidur pulas di pelukannya. Brian menghela napas panjang, merasa tak berdaya. Ia menatap wajah Luna yang tertidur lelap, merasa terpesona oleh kecantikannya yang terpancar bahkan dalam keadaan mabuk.

Brian merasa terjebak dalam dilema. Ia tak ingin melanggar batas sebagai mertua, tapi ia juga tak bisa menolak perasaan aneh yang tumbuh di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ini adalah kesalahan, tapi ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak terpesona oleh Luna yang sedang mabuk.

***

Hujan bertambah semakin deras, membasahi kaca mobil dan menghalangi pandangan Brian. Ia masih menepikan mobilnya, pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan yang saling bercampur aduk. Kecewa, marah, dan sedikit... terpesona. Ia terus saja teringat tatapan Luna yang menggoda, bibirnya yang sedikit terbuka, dan desahannya yang lembut.

Tiba-tiba, Luna menggeliat di sampingnya. Ia menghela napas panjang dan membenarkan posisi Luna kembali ke kursi duduknya. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Luna membuka matanya dan menatap Brian dengan tatapan sensual. Wajahnya yang memerah, bibirnya yang sedikit terbuka, dan tatapan matanya yang liar membuat Brian terpaku.

"Papa..." bisik Luna, suaranya serak dan lembut.

"Papa... aku ingin... "

Luna terdiam, menatap Brian dengan tatapan yang sulit diartikan. Brian merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba, Luna meraih tangan Brian dan menariknya ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Brian, napasnya hangat dan beraroma alkohol.

"Papa..." bisiknya lagi, suaranya semakin serak.

"Aku ingin... aku ingin... "

Luna terdiam lagi, matanya menatap Brian dengan tatapan yang penuh kerinduan. Brian merasa tubuhnya menegang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin menarik tangannya, tapi ia juga tak ingin menolak Luna.

"Luna..." Brian mencoba berbicara, tapi Luna menutup mulutnya dengan tangannya.

"Sssttt..." bisik Luna, suaranya serak dan lembut.

"Jangan bicara..."

Luna menarik Brian lebih dekat, menempelkan tubuhnya ke tubuh Brian.

"Papa..." bisiknya, suaranya semakin serak. "Aku ingin... aku ingin... "

Brian adalah seorang duda yang sudah menyendiri lama. Ia tidak pernah tertarik kepada perempuan lainnya setelah mendiang istrinya dulu. Walau banyak yang mendekatinya, ia acuh dan belum ingin menjalin hubungan bersama wanita lain selain istrinya.

Brian merasa tubuhnya semakin menegang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin menarik tangannya, tapi ia juga tak ingin menolak Luna.

"Luna..." Brian mencoba berbicara lagi, tiba-tiba Luna menciumnya dengan lembut. Ciumannya lembut, tapi penuh dengan gairah. Brian membelalakkan matanya terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia terpaku, tak mampu bergerak.

Luna mencium Brian dengan penuh gairah, menghisap bibirnya dengan lembut. Brian merasa tubuhnya menegang. Ia tak ingin menolak, tapi ia juga tak ingin menyerah pada godaan ini. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tak terduga.

"Luna..." Brian mencoba berbicara, tapi Luna menutup mulutnya dengan tangannya.

"Sssttt..." bisik Luna, suaranya serak dan lembut.

"Sudah kukatakan untuk jangan bicara..."

Luna kembali mencium Brian dengan penuh gairah. Kali ini, ciumannya lebih agresif. Brian merasa tubuhnya semakin menegang. Ia tak bisa menahan diri lagi. Ia membalas ciuman Luna dengan penuh semangat.

Ciuman mereka semakin panas, membara seperti api yang tak terkendali. Brian merasa terbawa arus, tak mampu berpikir jernih. Ia terpesona oleh Luna yang sedang mabuk, terbuai oleh pesonanya yang tak tertahankan.

Namun, tiba-tiba, Luna melepaskan ciumannya. Ia menatap Brian dengan tatapan kosong, seolah-olah baru saja tersadar dari mimpi buruk.

"Papa..." bisiknya, suaranya terdengar sedih.

"Tubuhku terasa panas, aku kedinginan. Hangatkan aku pa!" Pintanya.

Brian terdiam, merasa tak berdaya. Ia menatap Luna dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

"Luna..." kata Brian, suaranya terdengar lembut.

"Ayo kita pulang. Tidak seharusnya kita disini."

Luna terdiam, menatap Brian dengan tatapan kosong. Ia terlihat bingung, tak tahu apa yang terjadi. Brian menghela napas panjang, merasa tak berdaya. Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan dalam hidupnya, tapi ia juga tahu bahwa malam ini akan membawa konsekuensi yang tak terduga.

Bersambung

Bab 3

Mobil Brian berhenti dengan bunyi decitan ban di depan rumah Luna dan Eric. Lampu teras redup, hanya menerangi sebagian kecil halaman yang dipenuhi dedaunan kering. Brian keluar dari mobilnya, matanya menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda Eric. Tak ada. Hanya kesunyian yang menyapa.

Brian mengetuk pintu. Satu ketukan, dua ketukan, tiga ketukan. Tak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu, namun terkunci. Brian mendesah, kepalanya menggeleng pelan. Luna, yang tertidur pulas di kursi penumpang, tak akan bisa membantu. Ia terlalu mabuk.

"Luna, Luna," Brian membangunkan Luna dengan lembut.

"Apa kau membawa kunci rumahmu?"

Luna mengerang, membuka matanya dengan berat.

"Aku... aku mau tidur," gumamnya, suaranya serak.

"Luna, kau tak bisa tidur di sini. Eric tidak ada, dan pintunya terkunci," kata Brian, mencoba bersabar.

Luna mengucek matanya, pandangannya masih kabur. "Eric... Si tukang selingkuh itu ya?" tanyanya, suaranya semakin serak.

"Apa?" Brian mengerutkan keningnya.

Luna menggeleng, tubuhnya lemas.

"Aku... aku tidak bisa jalan. Aku juga tidak mau bertemu dengan pria itu lagi, papa." katanya.

Brian menghela napas. Ia tak bisa membiarkan Luna tertidur di sini. Ia harus membawanya pulang.

Luna mencekal lengan sang papa mertua. Dan sorot matanya seakan memohon untuk dia tidak ingin pergi ke rumah.

"Bawa saja aku kerumahmu daddy," kata Luna, suaranya semakin pelan.

Brian menghela napas. Ia tak bisa membiarkan Luna terus begini. Ia harus membawanya pulang. Dirinya pun lelah setelah bekerja dikantor. Apalagi hari ini dia lembur hingga larut, malah bertemu sang menantu yang membuatnya frustasi.

"Baiklah, apa boleh buat. Ayo pulang ke apartemenku." Putus Brian.

Luna hanya terdiam, tubuhnya terasa lemas, dan ia melepaskan cengkraman tangannya di lengan Brian.

"Hah, semoga ini keputusan yang baik." Gumam Brian, kemudian kembali menyalakan mobilnya.

***

Hujan masih mengguyur kota dengan deras. Brian mengemudi dengan hati-hati, tangannya menggenggam erat setir, sementara pandangannya tertuju pada jalanan yang licin. Di sampingnya, Luna, menantunya, tertidur lelap dengan kepala bersandar pada jendela mobil. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan napasnya tersengal-sengal. Bau alkohol masih tercium kuat dari tubuhnya.

Brian menghela napas panjang. Ini adalah malam yang panjang dan melelahkan. Luna, yang baru saja bermasalah dengan suaminya, telah menghabiskan malam di bar, menenggak minuman keras untuk melupakan kesedihannya. Brian, yang merasa bertanggung jawab atas keadaan Luna saat ini hanya bisa pasrah.

"Apakah ini keputusan yang tepat?" Brian bertanya pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa Luna membutuhkan bantuan, tetapi ia juga merasa lelah. Tubuhnya terasa berat, matanya terasa panas, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut.

Namun, Brian tidak bisa membiarkan Luna sendirian diluar. Ia harus membawa Luna pulang, meskipun ia tahu bahwa Luna akan marah padanya di pagi hari dan mungkin saja akan ada yang terjadi setelah ini.

Saat mobil memasuki kompleks apartemen, Brian melihat banyak orang tengah bermesraan dosana. Itu adalah pemandangan Brian di setiap malam ketika pulang larut. Ia berencana ingin pulang sebelum pukul sepuluh malam, tetapi sekarang sudah lewat tengah malam.

Brian memarkirkan mobil di garasi dan membantu Luna keluar dari mobil. Luna terhuyung-huyung, hampir jatuh. Brian menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

"Owh, come on baby. Follow me." Gumam Brian sambil membopong Luna masuk ke dalam apartemen.

Luna hanya menggumam tidak jelas. Matanya terpejam, dan tubuhnya terasa berat.

Brian menggendong Luna ke dalam apartemen. Luna meronta-ronta, tetapi Brian tetap menggendongnya dengan kuat.

"Lepaskan aku, Eric! Aku bisa jalan sendiri. Jangan sentuh aku! Tanganmu sudah kotor karena telah banyak menyentuh banyak pelacur diluar sana!" teriak Luna.

"Kau tidak bisa jalan sendiri, Luna. Kau mabuk. Bahkan kau meracau tidak jelas. " jawab Brian.

Sebenarnya ada apa antara putranya dan menantunya ini, kenapa menantunyabterlihat sangat membenci putranya, pikirnya.

Brian meletakkan Luna di sofa. Luna tertidur lelap, dengan napas yang tersengal-sengal.

Brian duduk di kursi, menatap Luna dengan sedih. Ia merasa sangat lelah, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Luna sendirian. Ia harus menjaganya sampai pagi.

"Kenapa kau harus melakukan ini, Luna?" Brian bergumam pelan.

"Mabuk bukan solusi yang tepat." Imbuhnya.

Brian teringat saat kejadian beberapa waktu lalu, Luna menciumnya dengan penuh gairah dan agresif. Tiba-tiba Ia juga teringat saat Luna menikah dengan putranya, Eric. Ia teringat saat Luna menjadi menantu yang penuh kasih sayang dan melayaninya selayaknya seorang menantu dan papa mertua. Mulai dari memasakkan makanan dan lainnya.

Tetapi sekarang, ia memandang sebagai seorang wanita. Bahkan ia melihat Luna membuat hasrat kelaki-lakiannya memuncak. Ia sudah menduda lebih dari 10 tahun. Wajar jika ia terangsang dan ingin menyalurkan hasratnya yang terpendam selama ini kepada seorang wanita. Ia menjaga dirinya untuk tidak tidur dengan wanita sembarangan. Namun, apakah harus dengan menantunya sendiri, pikir ya. Brian menggelengkan kepalanya cepat. Menepis segala pikiran buruknya.

Brian menghela napas panjang. Kepalanya menengadah keatas. Merasakan kepalanya yang semakin pening.

"Ah Shit, kenapa aku jadi terangsang begini." Gumamnya.

Brian mengangkat tubuh Luna ke atas ranjang dan ia berencana ingin membersihkan tubuhnya. Namun, Luna mencekal tangannya dan tidak ingin membiarkan dia pergi.

"Don't go anywhere Daddy, please! Temani aku disini ya!" Pinta Luna dengan wajah yang mengiba. Wajahnya merah dengan tatapan sayu. Brian terpana dan terpaku ditempat. Luna menarik tangan Brian hingga terjerembab. Dan kini posisi Brian berada diatas Luna. Sebenarnya Brian belum sangat tua. Ia baru berusia 48 tahun dan Luna berusia 26 tahun. Brian memiliki tubuh yang kekar dan atletis. Brewok tipis dan sangat manly. Tubuhnya sangat sexy bahkan menjadi rebutan wanita genit, baik di kantornya maupun wanita diluaran sana.

Brian membelalakkan matanya ketika posisi tubuhnya berasa diatas sang menantunyabyang cantik.

"Kenapa kamu mau pergi? Apa kau tega meninggalkan aku disini, Hm?" Tanya Luna mengiba.

"Apa yang kau lakukan Luna? Aku ayah mertuamu, kau tidak pantas untuk me-"

Namun tanpa pikir panjang, Luna kembali mencium bibir tebal sang papa mertua. Luna menciumnya dengan agresif. Dengan reflek Luna mengalungkan kedua tangannya ke dalam leher kokoh Brian. Brian membelalakkan matanya, dan berusaha untuk melepaskan diri, namun cengkraman Luna sangat kuat. Tiba-tiba, pikiran Brian melayang. Luna sudah berani menggunakan lidahnya untuk semakin menambah gairah ciumannya.

"Dingiinn ...." lirih Luna.

"Luna aku ad-"

Tiba-tiba Luna membalikkan posisi Brian. Dan kini Luna sedang berada di atas Brian. Rambutnya yang terurai panjang, menjuntai hingga menyentuh pinggangnya.

"Kau sangat tampan. Siapa kau, ha? Apakah kau lelaki asing yang ingin memuaskan aku malam ini, Hm?" Bisik Luna dengan sensual.

"Luna, aku Brian. Ayah mertuamu!" Seru Brian.

Namun Luna seakan tidak peduli. Luna membuka kancing baju satu persatu milik Brian hingga menampakkan dada bidangnya yang penuh bulu.

"Luna, don't! Kamu tidak boleh melakukan ini. Ini tidak benar. Kamu mabuk, kamu bukan dirimu. Jadi ayolah! Bekerjasamalah denganku." Brian berusaha membaringkan tubuh Luna. Namun hal yang mengejutkan lagi-lagi terjadi. Luna membuka bajunya dan sekarang hanya memakai dalaman saja. Dadanya yang super montok menggoda iman Brian. Bagaimana tidak, bukit kembar Luna benar-benar besar. Mungkin j cup, sangat besar dan padat. Brian tidak mampu berkata-kata lagi. Ia juga masih normal. Ia tidak mungkin juga untuk menolak.

"Daddy, kau sangat seksi. Ayolah, buat aku mendesar dan banjir penuh kenikmatan. Atau, kau menolakku karena kau tidak bisa memuaskan wanita?" Cibir Luna.

"Apa?" Brian merasa terganggu dengan itu. Ia adalah penakluk wanita. Bahkan di ranjang. Bahkan mendiang istrinya dulu sangat kualahan melayaninya. Hingga selalu tertidur pulas setelah bertempur dengannya.

"Jangan macam-macam denganku gadis kecil! Jika aku sudah gelap mata, aku bahkan tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah itu." Ucap Brian dengan tatapan mata dan kilatan yang penuh nafsu.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED