Bab 1

Cahaya strobo berdenyut, memantul dari tubuh-tubuh yang bergoyang di lantai dansa. Bau parfum dan keringat bercampur, menjadi aroma khas malam yang tak terlupakan. Di tengah hiruk pikuk musik elektronik yang menggelegar, para pencari sensasi berdansa liar, tubuh mereka bergesekan dalam irama yang tak terhentikan.

Di sudut ruangan, sekelompok orang duduk di meja VIP, minuman mahal menghiasi meja mereka. Mereka berbisik, tertawa, dan saling pandang dengan tatapan penuh makna. Di antara mereka, seorang pria berjas hitam, wajahnya tersembunyi di balik bayangan, mengamati setiap sudut ruangan dengan penuh kewaspadaan.

Di bar, para bartender cekatan melayani pesanan, tangan mereka bergerak cepat di antara botol-botol minuman beralkohol. Para pelayan berlalu-lalang, membawa minuman dan makanan ringan untuk para tamu. Di balik meja DJ, seorang pria berambut gondrong dengan kacamata hitam, mengendalikan irama musik yang menghipnotis.

Di luar, hujan deras mengguyur kota, namun di dalam club, suasana panas dan bergairah. Musik, cahaya, dan aroma alkohol menciptakan aura magis yang membuat para pengunjung terbuai dalam euforia.

"Lun, kita kesana yuk!" Ajak seorang wanita berambut sebahu bernama Stevie.

"Ah ... kenapa kita harus ke tempat begini sih stev? Kamu kan tahu, aku tidak suka tempat yang begini?" Keluh Luna.

"Sssttt ... Kaluna Evelyn! Kamu jangan berbicara lagi! Kamu selalu saja ditinggal suamimu, dan kamu hanya sendirian terus dirumah. Kamu tidak bosan? Hah ... aku melihat kehidupanmu saja bosan, bagaimana kamu yang menjalaninya." Jelas Stevie.

"Mas Eric begitu, Karena pekerjaannya banyak stev, jadi ya tidak apa-apa." ucap Luna membela sang suami.

"Hei dengar ya! Setiap hari selalu pulang larut bahkan tidak pulang, kalau pulang selalu bau alkohol dan parfum wanita, terus banyak barang-barang wanita yang tertinggal di mobil dia. Kamu sangat tidak waras jika tidak menaruh curiga sedikitpun. Kamu memang terlalu bucin!" Sarkas Stevie.

Luna hanya menghela nafas panjang. Mendengarkan sang sahabat berceloteh ria, seperti tidak ada habisnya.

Kemudian tanpa basa-basi, Stevie langsung menarik tangan Luna dengan erat menuju tempat bartender.

"Hei ...."

Mereka berdua duduk didepan bartender.

"Lun, mau minum apa? Hari ini aku lagi hoki, jadi pesan apapun minuman yang kamu suka! Asal jangan mabuk aja," ucap Stevie.

"Kamu kan tahu aku tidak suka minum-minuman begini." Kilah Luna.

"Aduh Luna, kamu itu sudah menikah loh, masa tidak pernah mencoba minuman begini. Mw cocktail, wine, apa whiskey, Everclear? Tapi jangan! itu kadar alkoholnya tinggi, kamu tidak akan kuat. Bagaimana kalau bir, itu kadar alkoholnya paling rendah. Cocok untuk pemula." Service menyimpulkan dan akan memesan itu.

"Hi Tom, one Beer and one Whisky ya!"ucap Stevie dengan mengacungkan jari telunjuknya.

"Sure baby," Jawab Tom.

"Kamu sering kesini ya? Sepertinya, semua orang akrab kepadamu?" Tanya Luna.

"Ya, hanya beberapa saja, tidak banyak." Jawab Stevie.

Tiba-tiba ada seorang pria yang sangat ia kenal sedang bersama seorang wanita.

"Hei Luna, i-itu bukannya suamimu?" Tanya Stevie.

"Siapa?" Luna menyipitkan matanya untuk melihat lebih tajam.

Terukir senyum tipis di bibirnya. Meskipun hatinya hancur, namun ia mencoba menahannya.

"Lun ...."

"Aku tidak apa-apa Stevie, itu sudah biasa." Gumam Luna.

"Kurang ajar dia. Beraninya dia begitu ke kamu? Apa dia tidak tahu bahwa dia ini adalah seorang suami." Ucap Stevie geram.

"Itu sudah biasa Stev, biarin aja lah!" ucap Luna dengan entengnya. Entah mengapa ia terus meminum alkohol yanga dan ditangannya. Dari satu gelas dan terus bertambah, hingga kini sudah lebih dari lima gelas.

"L-lun ... itu m-minumanku. Kamu salah, itu kadar alkoholnya t-tinggi lho. Kamu bisa ...." Stevie hanya melihat Luna bolak-balik minum gelas demi gelas yang sudah tidak terhitung jumlahnya.

"Lun ...." Lirih Stevie.

"Dia itu ya, tidak pernah menganggapku sebagai istrinya. Kita sudah menikah hampir satu tahun. Tetapi, dia belum pernah menyentuhku sedikitpun. Malah ini, dia sering bergonta-ganti wanita yang selalu duduk di pangkuannya. Apa dia tidak menghargai perasaanku?" Gumam Luna yang sepertinya sudah mabuk.

"Apa? Jadi kalian belum pernah tidur bareng? Maksudku, berhubungan badan?" Tanya Stevie penasaran.

"Bagaimana Mau berhubungan? Melihatku saja dia tidak bernafsu. Stev, apa yang kamu lihat dari aku? Apakah aku terlihat tidak cantik, ha? Apakah aku tidak sexy? Apakah dadaku masih kurang besar, ha? Ayo, katakanlah padaku!" Ucap Luna.

"Luna ...." Lirih Stevie yang prihatin melihat keadaan sang sahabat.

***

Lampu neon bar berkelap-kelip, memantul di permukaan gelas kosong yang tersusun di meja Luna. Matanya berkaca-kaca, pandangannya kabur karena minuman keras yang terus mengalir. Aroma alkohol menyengat hidungnya, bercampur dengan bau parfum wanita yang baru saja berlalu. Eric, suaminya, tengah bermesraan dengan wanita itu, tak menyadari tatapan Luna yang menusuk.

Stevie, sahabat Luna, mengerutkan kening melihat sahabatnya yang terus-menerus meneguk minuman.

"Luna, sudahlah. Kamu sudah mabuk. Ayo pulang."

"Tidak! Aku tidak mau pulang. Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihatnya bermesraan dengan wanita itu," Luna berteriak, suaranya terbata-bata.

Stevie menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarah.

"Luna, kamu sudah mabuk. Kamu tidak bisa berpikir jernih. Ayo pulang."

"Tidak! Aku tidak mau pulang! Aku ingin melihatnya!" Luna mengulang kalimatnya, matanya berkaca-kaca.

Stevie menghela napas. Dia tahu Luna sedang sangat terluka. Dia tahu Luna sangat mencintai Eric, dan melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain adalah pukulan telak baginya. Stevie akhirnya menyerah. Dia tahu dia tidak bisa memaksa Luna.

"Baiklah, tapi aku akan menjagamu. Kita akan pulang bersama," kata Stevie.

Luna mengangguk, matanya masih tertuju pada Eric dan wanita itu. Stevie membantu Luna berdiri, tubuhnya limbung. Mereka meninggalkan bar, Stevie menopang Luna agar tidak jatuh.

Di luar, udara dingin menusuk kulit. Luna menggigil kedinginan, tapi tetap menatap ke arah bar, ke arah Eric dan wanita itu.

"Luna, ayo kita pulang," kata Stevie, menarik tangan Luna.

Luna menggeleng. "Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihatnya sampai dia pergi," katanya.

Stevie menghela napas. Dia tahu Luna sedang dalam kondisi yang sangat emosional. Dia tidak bisa memaksa Luna.

"Baiklah, tapi kita akan duduk di sini sebentar," kata Stevie.

Mereka duduk di bangku taman di seberang bar. Luna terus menatap ke arah Eric dan wanita itu, matanya berkaca-kaca. Stevie hanya bisa diam, menenangkan sahabatnya.

***

Setelah beberapa saat, Eric dan wanita itu keluar dari bar. Eric melihat Luna dan Stevie, matanya melebar. Dia terlihat terkejut, tapi kemudian dia tersenyum, mencoba bersikap biasa saja.

"Luna, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Eric, suaranya terdengar canggung.

Luna tidak menjawab. Dia hanya menatap Eric dengan tatapan kosong.

"Luna, aku bisa jelaskan," kata Eric, berusaha mendekat.

Luna menggeleng.

"Tidak perlu. Aku sudah melihat semuanya," katanya dengan nada khas orang mabuk.

Eric terdiam. Dia tahu dia telah menyakiti Luna. Dia tahu dia telah melakukan kesalahan besar.

"Luna, maafkan aku," kata Eric.

Luna masih tidak menjawab. Dia hanya menatap Eric dengan tatapan kosong.

"Luna, Aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Aku mohon maafkan aku," kata Eric, suaranya semakin bergetar.

Luna masih tidak menjawab. Dia hanya menatap Eric dengan tatapan kosong.

"Luna, aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," kata Eric, suaranya penuh harap.

Luna masih tidak menjawab. Dia hanya menatap Eric dengan tatapan kosong.

"Luna, aku mohon, jangan tinggalkan aku," kata Eric, suaranya penuh keputusasaan.

Luna akhirnya membuka mulutnya.

"Aku tidak tahu, Eric. Bukankah kau sudah sering membawa wanita yang berbeda? Dan malam ini, entah wanita ke berapa yang akan kamu tiduri." kata Luna dengan nada mabuk.

"Kau selalu meminta maaf padaku, setelah kau ketahuan selingkuh. Dan itu, terus berulang sampai aku bosan. Jika memang bukan karena keluarga kita, aku tidak mau terus bertahan begini. Sakit Eric, sakit. Kamu tahu tidak rasanya menjadi aku? Kamu bilang kau minta maaf dan takut kehilanganku. Bulshit!" Seru Luna.

Stevie menarik Luna,

"Luna, ayo kita pulang."

Luna mengangguk, matanya masih tertuju pada Eric. Mereka berlalu, meninggalkan Eric yang masih berdiri di sana.

Memang benar, Eric tidak mencintai Luna. Eric bukan tipe pria yang setia. Entahlah, apa maunya. Yang jelas, hubungan mereka hanya seperti permainan.

Bersambung

Bab 2

Tiba-tiba hujan mengguyur kota dengan deras, membasahi aspal dan memantulkan cahaya lampu jalanan menjadi jutaan titik-titik kecil yang berkelap-kelip. Di tengah badai itu, Stevie berdiri di pinggir jalan, tubuhnya gemetar menahan dingin. Di pelukannya, Luna tertidur pulas, wajahnya memerah karena pengaruh minuman keras.

"Aduh Lun, kenapa kamu harus mabuk sih? Kita basah kuyup karena kehujanan nih!" Gumam Stevie.

Stevie sudah menunggu taksi selama setengah jam, tapi tak satu pun yang lewat. Ia mencoba menghubungi beberapa layanan taksi, namun semuanya penuh. Kecemasan mulai menggerogoti hatinya. Ia harus segera membawa Luna pulang, namun tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba, sebuah mobil Porsche hitam berhenti tepat di depan mereka. Stevie mengerutkan kening, tak percaya dengan keberuntungannya. Seorang pria berjas hitam keluar dari mobil, wajahnya tampak dingin dan tegas. Ia menatap Stevie dengan tajam, kemudian pandangannya beralih ke Luna yang tertidur lelap.

"Luna?" tanya pria itu, suaranya dingin dan berwibawa.

Stevie tertegun. Ia mengenal pria itu, Brian, ayah mertua Luna.

"Pak Brian," ucap Stevie gugup.

"Luna mabuk, saya sedang menunggu taksi."

Brian menatap Stevie dengan tatapan tajam, seakan-akan ingin membaca isi hatinya.

"Kenapa kau membiarkannya mabuk?" tanya Brian, suaranya terdengar dingin.

Stevie terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bersalah, namun tak ingin menyalahkan dirinya sendiri. "Saya... saya tidak tahu," jawabnya terbata-bata.

Brian menghela napas panjang.

"Masuk," perintahnya, lalu membuka pintu mobil.

Stevie ragu-ragu, namun akhirnya masuk ke dalam mobil. Brian meletakkan Luna dengan hati-hati di kursi depan dan memakaikannya sabuk pengaman, lalu ia duduk di kursi kemudi. Stevie berada di belakang karena rumahnya dekat dari tempat itu. Mobil melaju dengan cepat, meninggalkan malam dalam keheningan yang mencekam.

Sepanjang perjalanan, Brian tak berbicara sepatah kata pun. Stevie hanya bisa merasakan tatapan tajamnya yang menusuk ke dalam jiwanya. Ia merasa seperti sedang diadili, dihakimi atas kesalahannya.

Saat mobil berhenti di depan rumah Stevie, Brian menatap Stevie dengan tatapan dingin.

"Jangan pernah membiarkannya mabuk lagi," kata Brian, suaranya tegas.

"Aku tidak akan segan-segan untuk menuntutmu jika kau mengulangi kesalahan yang sama."

Stevie terdiam, merasa tak berdaya. Ia hanya bisa mengangguk patuh. Stevie keluar dari mobil, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan Stevie yang masih berdiri dijalanan.

"Hah, Astaga. Menakutkan sekali, seperti bos mafia. Tampan dan seksi sih, tapi galak banget." Ucap Stevie berkomentar tentang ayah mertua Luna.

***

Hujan semakin deras, membasahi kaca mobil dan menghalangi pandangan Brian. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan yang saling bercampur aduk. Kecewa, marah, dan sedikit... terpesona. Aneh memang, tetapi menantunya benar-benar menunjukkan penampilan yang berbeda di waktu yang berbeda.

Luna tertidur di sampingnya, tubuhnya sedikit basah karena hujan yang mengguyur mereka saat Stevie mengantarnya ke mobil. Rambutnya yang biasanya rapi kini kusut dan menempel di pipinya yang memerah. Bibirnya sedikit terbuka, memperlihatkan gigi putihnya yang teratur. Wajahnya yang biasanya polos dan ceria kini terlihat sedikit sensual, seolah-olah terbungkus oleh aura dewasa yang tak biasa.

Brian tak bisa menahan tatapannya dari Luna. Ia terpesona oleh kecantikannya yang terpancar bahkan dalam keadaan mabuk. Hati Brian bergetar, sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa tertarik kepada Luna, bukan sebagai menantunya tapi sebagai seorang wanita. Brian menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pikiran buruk dari kepalanya.

"Mungkin aku sudah gila," lirihnya.

Tiba-tiba, tubuh Luna menggeliat, mencari posisi yang lebih nyaman. Wajahnya yang memerah semakin terlihat jelas, bibirnya sedikit terbuka dan berdesis pelan. Tatapan mata Luna yang biasanya ceria kini terlihat sedikit liar dan menggoda. Brian terpaku, tercengang oleh perubahan yang terjadi pada Luna.

"Papa..." Luna berbisik pelan, suaranya serak dan lembut. "Papa... aku kedinginan..."

Brian tersadar dari lamunannya. Ia meraih selimut yang ada di kursi belakang dan menutupi tubuh Luna. Ia merasa panas di wajahnya, hatinya berdebar kencang.

"Luna, kau harus tidur," kata Brian, suaranya terdengar sedikit gemetar.

Luna menggeliat lagi, mencari kehangatan di pelukan Brian. "Papa... aku ingin tidur di sini..." bisiknya, suaranya semakin serak.

Brian terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tak terduga. Ia tak ingin melakukan hal yang salah, tapi ia juga tak bisa menolak permintaan Luna yang sedang mabuk.

"Luna..." Brian mencoba berbicara, tapi Luna sudah tertidur pulas di pelukannya. Brian menghela napas panjang, merasa tak berdaya. Ia menatap wajah Luna yang tertidur lelap, merasa terpesona oleh kecantikannya yang terpancar bahkan dalam keadaan mabuk.

Brian merasa terjebak dalam dilema. Ia tak ingin melanggar batas sebagai mertua, tapi ia juga tak bisa menolak perasaan aneh yang tumbuh di dalam hatinya. Ia tahu bahwa ini adalah kesalahan, tapi ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak terpesona oleh Luna yang sedang mabuk.

***

Hujan bertambah semakin deras, membasahi kaca mobil dan menghalangi pandangan Brian. Ia masih menepikan mobilnya, pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam perasaan yang saling bercampur aduk. Kecewa, marah, dan sedikit... terpesona. Ia terus saja teringat tatapan Luna yang menggoda, bibirnya yang sedikit terbuka, dan desahannya yang lembut.

Tiba-tiba, Luna menggeliat di sampingnya. Ia menghela napas panjang dan membenarkan posisi Luna kembali ke kursi duduknya. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Luna membuka matanya dan menatap Brian dengan tatapan sensual. Wajahnya yang memerah, bibirnya yang sedikit terbuka, dan tatapan matanya yang liar membuat Brian terpaku.

"Papa..." bisik Luna, suaranya serak dan lembut.

"Papa... aku ingin... "

Luna terdiam, menatap Brian dengan tatapan yang sulit diartikan. Brian merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba, Luna meraih tangan Brian dan menariknya ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Brian, napasnya hangat dan beraroma alkohol.

"Papa..." bisiknya lagi, suaranya semakin serak.

"Aku ingin... aku ingin... "

Luna terdiam lagi, matanya menatap Brian dengan tatapan yang penuh kerinduan. Brian merasa tubuhnya menegang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin menarik tangannya, tapi ia juga tak ingin menolak Luna.

"Luna..." Brian mencoba berbicara, tapi Luna menutup mulutnya dengan tangannya.

"Sssttt..." bisik Luna, suaranya serak dan lembut.

"Jangan bicara..."

Luna menarik Brian lebih dekat, menempelkan tubuhnya ke tubuh Brian.

"Papa..." bisiknya, suaranya semakin serak. "Aku ingin... aku ingin... "

Brian adalah seorang duda yang sudah menyendiri lama. Ia tidak pernah tertarik kepada perempuan lainnya setelah mendiang istrinya dulu. Walau banyak yang mendekatinya, ia acuh dan belum ingin menjalin hubungan bersama wanita lain selain istrinya.

Brian merasa tubuhnya semakin menegang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin menarik tangannya, tapi ia juga tak ingin menolak Luna.

"Luna..." Brian mencoba berbicara lagi, tiba-tiba Luna menciumnya dengan lembut. Ciumannya lembut, tapi penuh dengan gairah. Brian membelalakkan matanya terkejut. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia terpaku, tak mampu bergerak.

Luna mencium Brian dengan penuh gairah, menghisap bibirnya dengan lembut. Brian merasa tubuhnya menegang. Ia tak ingin menolak, tapi ia juga tak ingin menyerah pada godaan ini. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tak terduga.

"Luna..." Brian mencoba berbicara, tapi Luna menutup mulutnya dengan tangannya.

"Sssttt..." bisik Luna, suaranya serak dan lembut.

"Sudah kukatakan untuk jangan bicara..."

Luna kembali mencium Brian dengan penuh gairah. Kali ini, ciumannya lebih agresif. Brian merasa tubuhnya semakin menegang. Ia tak bisa menahan diri lagi. Ia membalas ciuman Luna dengan penuh semangat.

Ciuman mereka semakin panas, membara seperti api yang tak terkendali. Brian merasa terbawa arus, tak mampu berpikir jernih. Ia terpesona oleh Luna yang sedang mabuk, terbuai oleh pesonanya yang tak tertahankan.

Namun, tiba-tiba, Luna melepaskan ciumannya. Ia menatap Brian dengan tatapan kosong, seolah-olah baru saja tersadar dari mimpi buruk.

"Papa..." bisiknya, suaranya terdengar sedih.

"Tubuhku terasa panas, aku kedinginan. Hangatkan aku pa!" Pintanya.

Brian terdiam, merasa tak berdaya. Ia menatap Luna dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

"Luna..." kata Brian, suaranya terdengar lembut.

"Ayo kita pulang. Tidak seharusnya kita disini."

Luna terdiam, menatap Brian dengan tatapan kosong. Ia terlihat bingung, tak tahu apa yang terjadi. Brian menghela napas panjang, merasa tak berdaya. Ia tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan dalam hidupnya, tapi ia juga tahu bahwa malam ini akan membawa konsekuensi yang tak terduga.

Bersambung

Bab 3

Mobil Brian berhenti dengan bunyi decitan ban di depan rumah Luna dan Eric. Lampu teras redup, hanya menerangi sebagian kecil halaman yang dipenuhi dedaunan kering. Brian keluar dari mobilnya, matanya menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda Eric. Tak ada. Hanya kesunyian yang menyapa.

Brian mengetuk pintu. Satu ketukan, dua ketukan, tiga ketukan. Tak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu, namun terkunci. Brian mendesah, kepalanya menggeleng pelan. Luna, yang tertidur pulas di kursi penumpang, tak akan bisa membantu. Ia terlalu mabuk.

"Luna, Luna," Brian membangunkan Luna dengan lembut.

"Apa kau membawa kunci rumahmu?"

Luna mengerang, membuka matanya dengan berat.

"Aku... aku mau tidur," gumamnya, suaranya serak.

"Luna, kau tak bisa tidur di sini. Eric tidak ada, dan pintunya terkunci," kata Brian, mencoba bersabar.

Luna mengucek matanya, pandangannya masih kabur. "Eric... Si tukang selingkuh itu ya?" tanyanya, suaranya semakin serak.

"Apa?" Brian mengerutkan keningnya.

Luna menggeleng, tubuhnya lemas.

"Aku... aku tidak bisa jalan. Aku juga tidak mau bertemu dengan pria itu lagi, papa." katanya.

Brian menghela napas. Ia tak bisa membiarkan Luna tertidur di sini. Ia harus membawanya pulang.

Luna mencekal lengan sang papa mertua. Dan sorot matanya seakan memohon untuk dia tidak ingin pergi ke rumah.

"Bawa saja aku kerumahmu daddy," kata Luna, suaranya semakin pelan.

Brian menghela napas. Ia tak bisa membiarkan Luna terus begini. Ia harus membawanya pulang. Dirinya pun lelah setelah bekerja dikantor. Apalagi hari ini dia lembur hingga larut, malah bertemu sang menantu yang membuatnya frustasi.

"Baiklah, apa boleh buat. Ayo pulang ke apartemenku." Putus Brian.

Luna hanya terdiam, tubuhnya terasa lemas, dan ia melepaskan cengkraman tangannya di lengan Brian.

"Hah, semoga ini keputusan yang baik." Gumam Brian, kemudian kembali menyalakan mobilnya.

***

Hujan masih mengguyur kota dengan deras. Brian mengemudi dengan hati-hati, tangannya menggenggam erat setir, sementara pandangannya tertuju pada jalanan yang licin. Di sampingnya, Luna, menantunya, tertidur lelap dengan kepala bersandar pada jendela mobil. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan napasnya tersengal-sengal. Bau alkohol masih tercium kuat dari tubuhnya.

Brian menghela napas panjang. Ini adalah malam yang panjang dan melelahkan. Luna, yang baru saja bermasalah dengan suaminya, telah menghabiskan malam di bar, menenggak minuman keras untuk melupakan kesedihannya. Brian, yang merasa bertanggung jawab atas keadaan Luna saat ini hanya bisa pasrah.

"Apakah ini keputusan yang tepat?" Brian bertanya pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa Luna membutuhkan bantuan, tetapi ia juga merasa lelah. Tubuhnya terasa berat, matanya terasa panas, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut.

Namun, Brian tidak bisa membiarkan Luna sendirian diluar. Ia harus membawa Luna pulang, meskipun ia tahu bahwa Luna akan marah padanya di pagi hari dan mungkin saja akan ada yang terjadi setelah ini.

Saat mobil memasuki kompleks apartemen, Brian melihat banyak orang tengah bermesraan dosana. Itu adalah pemandangan Brian di setiap malam ketika pulang larut. Ia berencana ingin pulang sebelum pukul sepuluh malam, tetapi sekarang sudah lewat tengah malam.

Brian memarkirkan mobil di garasi dan membantu Luna keluar dari mobil. Luna terhuyung-huyung, hampir jatuh. Brian menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

"Owh, come on baby. Follow me." Gumam Brian sambil membopong Luna masuk ke dalam apartemen.

Luna hanya menggumam tidak jelas. Matanya terpejam, dan tubuhnya terasa berat.

Brian menggendong Luna ke dalam apartemen. Luna meronta-ronta, tetapi Brian tetap menggendongnya dengan kuat.

"Lepaskan aku, Eric! Aku bisa jalan sendiri. Jangan sentuh aku! Tanganmu sudah kotor karena telah banyak menyentuh banyak pelacur diluar sana!" teriak Luna.

"Kau tidak bisa jalan sendiri, Luna. Kau mabuk. Bahkan kau meracau tidak jelas. " jawab Brian.

Sebenarnya ada apa antara putranya dan menantunya ini, kenapa menantunyabterlihat sangat membenci putranya, pikirnya.

Brian meletakkan Luna di sofa. Luna tertidur lelap, dengan napas yang tersengal-sengal.

Brian duduk di kursi, menatap Luna dengan sedih. Ia merasa sangat lelah, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Luna sendirian. Ia harus menjaganya sampai pagi.

"Kenapa kau harus melakukan ini, Luna?" Brian bergumam pelan.

"Mabuk bukan solusi yang tepat." Imbuhnya.

Brian teringat saat kejadian beberapa waktu lalu, Luna menciumnya dengan penuh gairah dan agresif. Tiba-tiba Ia juga teringat saat Luna menikah dengan putranya, Eric. Ia teringat saat Luna menjadi menantu yang penuh kasih sayang dan melayaninya selayaknya seorang menantu dan papa mertua. Mulai dari memasakkan makanan dan lainnya.

Tetapi sekarang, ia memandang sebagai seorang wanita. Bahkan ia melihat Luna membuat hasrat kelaki-lakiannya memuncak. Ia sudah menduda lebih dari 10 tahun. Wajar jika ia terangsang dan ingin menyalurkan hasratnya yang terpendam selama ini kepada seorang wanita. Ia menjaga dirinya untuk tidak tidur dengan wanita sembarangan. Namun, apakah harus dengan menantunya sendiri, pikir ya. Brian menggelengkan kepalanya cepat. Menepis segala pikiran buruknya.

Brian menghela napas panjang. Kepalanya menengadah keatas. Merasakan kepalanya yang semakin pening.

"Ah Shit, kenapa aku jadi terangsang begini." Gumamnya.

Brian mengangkat tubuh Luna ke atas ranjang dan ia berencana ingin membersihkan tubuhnya. Namun, Luna mencekal tangannya dan tidak ingin membiarkan dia pergi.

"Don't go anywhere Daddy, please! Temani aku disini ya!" Pinta Luna dengan wajah yang mengiba. Wajahnya merah dengan tatapan sayu. Brian terpana dan terpaku ditempat. Luna menarik tangan Brian hingga terjerembab. Dan kini posisi Brian berada diatas Luna. Sebenarnya Brian belum sangat tua. Ia baru berusia 48 tahun dan Luna berusia 26 tahun. Brian memiliki tubuh yang kekar dan atletis. Brewok tipis dan sangat manly. Tubuhnya sangat sexy bahkan menjadi rebutan wanita genit, baik di kantornya maupun wanita diluaran sana.

Brian membelalakkan matanya ketika posisi tubuhnya berasa diatas sang menantunyabyang cantik.

"Kenapa kamu mau pergi? Apa kau tega meninggalkan aku disini, Hm?" Tanya Luna mengiba.

"Apa yang kau lakukan Luna? Aku ayah mertuamu, kau tidak pantas untuk me-"

Namun tanpa pikir panjang, Luna kembali mencium bibir tebal sang papa mertua. Luna menciumnya dengan agresif. Dengan reflek Luna mengalungkan kedua tangannya ke dalam leher kokoh Brian. Brian membelalakkan matanya, dan berusaha untuk melepaskan diri, namun cengkraman Luna sangat kuat. Tiba-tiba, pikiran Brian melayang. Luna sudah berani menggunakan lidahnya untuk semakin menambah gairah ciumannya.

"Dingiinn ...." lirih Luna.

"Luna aku ad-"

Tiba-tiba Luna membalikkan posisi Brian. Dan kini Luna sedang berada di atas Brian. Rambutnya yang terurai panjang, menjuntai hingga menyentuh pinggangnya.

"Kau sangat tampan. Siapa kau, ha? Apakah kau lelaki asing yang ingin memuaskan aku malam ini, Hm?" Bisik Luna dengan sensual.

"Luna, aku Brian. Ayah mertuamu!" Seru Brian.

Namun Luna seakan tidak peduli. Luna membuka kancing baju satu persatu milik Brian hingga menampakkan dada bidangnya yang penuh bulu.

"Luna, don't! Kamu tidak boleh melakukan ini. Ini tidak benar. Kamu mabuk, kamu bukan dirimu. Jadi ayolah! Bekerjasamalah denganku." Brian berusaha membaringkan tubuh Luna. Namun hal yang mengejutkan lagi-lagi terjadi. Luna membuka bajunya dan sekarang hanya memakai dalaman saja. Dadanya yang super montok menggoda iman Brian. Bagaimana tidak, bukit kembar Luna benar-benar besar. Mungkin j cup, sangat besar dan padat. Brian tidak mampu berkata-kata lagi. Ia juga masih normal. Ia tidak mungkin juga untuk menolak.

"Daddy, kau sangat seksi. Ayolah, buat aku mendesar dan banjir penuh kenikmatan. Atau, kau menolakku karena kau tidak bisa memuaskan wanita?" Cibir Luna.

"Apa?" Brian merasa terganggu dengan itu. Ia adalah penakluk wanita. Bahkan di ranjang. Bahkan mendiang istrinya dulu sangat kualahan melayaninya. Hingga selalu tertidur pulas setelah bertempur dengannya.

"Jangan macam-macam denganku gadis kecil! Jika aku sudah gelap mata, aku bahkan tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah itu." Ucap Brian dengan tatapan mata dan kilatan yang penuh nafsu.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED