Bab 1

Di sebuah rumah dengan model kuno, para tetua dari keluarga Lee tengah berkumpul mengadakan pertemuan. Ada Ny Jang Miju di sana yang menocoba menceritakan semua kebaikan Lee Yeon pada para tetua. Ny Jang sepertinya adalah nenek Lee Yeon.

Ny Jang meyakinkan para tetua kalau Lee Yeon pasti akan menikah tahun ini. Pimpinan para tetua berkata " Bukankah 3 tahun lalu Kau juga berkata dengan yakin kalau Lee Yeon akan menikah di usia 30 tahun, tapi nyatanya?"

Salah satu tetua lainnya berkata " Kami sekarang tidak bisa percaya lagi dengan kata-kata Ny Jang, jadi lebih baik Ny Jang tanda tangan kontrak saja. Kontrak kepastian kalau dalam 100 hari Lee Yeon akan menikah."

Pihak dari Ny Jang bertanya " Apa hal seperti kontrak diperlukan?" Pimpinan tetua menjawab " Jelas saja itu perlu, karena ini adalah saat kritis, di mana garis keturunan kita bisa berakhir jika Lee Yeon tidak segera menikah."

Lalu datanglah Lee Yeon menyelamatkan Ny Jang yang sedang terpojok. Dia melangkah dengan gagah dan memberi hormat pada para tetua. Kemudian Lee Yeon berdiri menatap semua tetua lalu berkata “Aku Lee Yeon, cucu generasi ke 21 dan putra tunggal generasi ke 9 keluarga Lee dari Jeonju. Aku memberi salam pada semua tetua.”

Lee Yeon membungkuk hormat. Setelah itu dia melanjutkan kalimatnya “Aku Lee Yeon, bekerja di perusahaan yang di bangun dengan mengorbankan masa muda nenek. Aku menjadikan Jang Chemichal menjadi perusahaan nomor satu untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan perusahaan itu sudah terkenal di dunia. Aku juga membuat saham naik menjadi 5 kali lipat. Tidak hanya sekali, tapi lebih dari lima kali. Berkat itu, semua tetua yang ada disini tidak perlu mengkhawatirkan dana pensiun. Kapal pesiar dan rumah yang baru di beli bukankah sudah dinikmati dengan baik?”

Para tetua merasa tertohok dengan kebenaran kalimat itu. Lee Yeon menganggap itu hal sepadan dengan belum menikahnya dia sampai detik ini. Bukankah dengan dia belum menikah, semua tetua bisa menikmati hasil jerih payahnya dalam mensukseskan Jang Chemical.

Tapi Lee Yeon tahu dia harus tetap menikah, sehingga dia berkata kalau wanita yang dia cintai akan segera kembali ke Korea, dan untuk itu dia pastikan musim gugur ini dia sudah beristri.

Ny Jang kaget dan menatap ke arah Lee Yeon. Dia takut Lee Yeon hanya main-main saja dengan janji itu.

Lee Yeon pun bersiap menulis surat kontrak bahwa dia akan menikah musim gugur ini, tapi sebelum dia menulis dia sempat menoleh kearah neneknya dan bertanya " Apa tadi itu aku keren?

Ny Jang semakin mengaga mulutnya melihat konyolnya tingkah Lee Yeon. Di situasi seperti ini masih bisa-bisanya Lee Yeon bercanda.

Sementara itu di lain tempat, tampak langkah tergesa dari seorang wanita yang membawa makanan dan minuman di kedua tangannya. Dia harus segera sampai, agar kopi yang dibawanya ini tidak menjadi dingin. Wanita itu adalah Seo Inha.

Seo Inha masuk ke gedung di mana di sana ada kantor tempatnya bekerja.

Seo Inha bergegas menuju lift tepat ketika lift akan menutup. Dengan gesit dan menggunakan kakinya Seo Inha menahan pintu lift sehingga akhirnya terbuka kembali. Dia mencoba menjejalkan dirinya ke dalam sambil tak lupa meminta maaf pada semua yang ada di dalam lift. Seorang wanita di dalam lift protes karena kopi panas yang di bawa Seo Inha mengenai kulitnya. Seo Inha hanya bisa meminta maaf.

Di dalam lift ternyata ada rekan kerjanya, bernama Min Byun Ho. Min Byun Ho adalah seorang pengacara. Dia tahu ada Seo Inha dan langsung mendekatinya. Byun Ho melihat Seo Inha kesusahan membenarkan kacamata Seo Inha yang melorot, dan dengan segera Byun Ho membantu Seo Inha membenarkan kacatamanya agar merasa nyaman.

Byun Ho bahkan membantu Seo Inha membawakan kopi panas yang ada ditangan Seo Inha, agar gadis itu tidak kerepotan karena lift lumayan penuh saat ini.

Seo Inha tentu merasa sedikit canggung tapi Bong Hyun tersenyum manis menatap Seo Inha.

Akhirnya mereka pun keluar dari lift dan mulai berjalan menuju kantor mereka. Byun Ho berkata " Aroma kopinya sangat enak." Seo Inha menjawab " Kopi ini baru diseduh makanya masih tercium aromanya. Apa kau mau?"

Byun Ho tentu ga menolak, walau sepertinya dia hanya basa-basi saja ketika bertanya " Apa ga masalah kalau aku mengambil satu?"

Seon Inha menjawab " Ga apa-apa!"

Tiba-tiba Byun Ho bertanya kenapa Seo Inha "Mengapa kamu mau di suruh-suruh sama temen-temen di kantor?" Seo Inha sedikit terkejut dan bingung harus menjawab apa. Dia kemudian berkata dalam hati " Aku sebenarnya juga akan berhenti dari pekerjaannya ini,"

Byun Ho berlalu pergi sambil menyeruput kopi tang yang didapatnya dari Seo Inha. Seo Inha menatap kepergian Byun Ho dengan senyum tersipu.

Seo Inha langsung membagikan kopi dan pesanan rekan kerjanya dengan cekatan, seolah dia memang terbiasa melakukan pekerjaan itu. Seo Inha bahkan hafal apa-apa saja yang tadi dipesan rekan kerjanya. Tapi semua rekan kerjanya cuek saja, dan bahkan ga berterima kasih atas apa yang Seo Inha lakukan. Seolah itu adalah hal biasa.

Dalam hati Seo Inha berkata “Selalu ada orang seperti ini disekitar kita. Padahal bukan pekerjaan paruh waktu tapi harus melakukan semuanya. Sudah sibuk dengan pekerjaan sendiri, tapi tetap tak bisa menolak. Meski mereka tidak berterima kasih, dia tetap mendengarkan permintaan semua orang.”

Rekan kerja Seo Inha seolah tak berhenti menyuruhnya hal-hal remeh seperti fotocopy, bersih-bersih meja, dan buang sampah. Seo Inha setress dengan semua hal tersebut, tapi kemudian dia terseyum dan bergumam " Aku adalah Seo Inha."

Seo Inha lalu mengambil post-it yang ditempelkan di lengannya tadi, dan berkata "Aku seperti post-it ini."

“Meski dibutuhkan semua orang, tapi tak ada yang menganggapnya berharga. Itu karena post-it nyaman untuk di buang” batinnya menatap semua post-it yang tertempel di komputernya.

Hanya satu rekan kerja Seo Inha yang peduli padanya dan jadi sahabatnya di kantor. Dia adalah shin Haeri. Shin Haeri kesal karen Seo Inha selalu mau disuruh-suruh seperti itu. Berkali-kali dia menyuruh agar Seo Inha menolak orang-orang itu dan berhenti melakukan pekerjaan seperti ini.

“Tiap kali kau melakukannya aku merasa sangat marah.” ujar Shin Haeri.

Seo Inha menjawab " Aku ga bisa menolak mereka. Susah sekali untuk berkata tidak." Shin Haeri mengajarkan Seo Inha untuk berkata kalau Seo Inha bukan pembantu ketika teman-teman sekantor meminta tolong padanya

“Apa kau ini Kim Jung Eun dari Lovers In Paris? Sudah kubilang tolak mereka. ” kata Shin Haeri kesal.

" Ga bisa menolak itu penyakit karena terlalu baik hati."

Seo Inha menjawab " Aku bukannya terlalu baik hati, tapi jika aku menolak, pasti mereka yang meminta tolong padanya merasa sangat malu. Aku merasa ga enak jika seperti itu."

Shin Haeri tetap kukuh meminta Seo Inha belajar mengucap kata tidak ketika teman sekantor menyuruh lagi. " Kau pasti bisa jika mau belajar." Bahkan dengan lucunya Shin Haeri mencontohkan agar setiap malam Seo Inha berlatih mengucap kata tidak pada bantalnya. Shin Haeri mencontohkan dengan gerakan tangan dan Seo Inha menirunya sambil tertawa, karena dia merasa itu lucu.

Bab 2

Yeon berjalan santai ketika keluar dari ruang pertemuan para tetua. Ny. Jang bertanya “kenapa kamu mengatakan akan menikah tahun ini dengan begitu lantang di hadapan para tetua. Jika pernikahan itu tidak terjadi, bagaimana kamu akan menanggung akibatnya.”

Yeon berkata “ kali ini Rahel akan datang ke Korea Selatan dan akan menetap untuk selamanya.”

 Ny. Jang antuias, "Jadi untuk selamanya?. Lalu dia akan berhenti bermain biola?". 

"Dia akan berhenti", ucap  Yeon penuh keyakinan. 

Ny. Jang memukul lengan Yeon sembari berkata, "Anak nakal. Kabar baik ini, kenapa kau baru mengatakannya sekarang". 

"Itu karena aku senang", jawab Yeon berlenggak

lenggok seperti anak kecil. 

Direktur Han yang memegang payung bertanya. “Untuk jaga-jaga, apa yang akan dilakukan  jika Nyonya Rahel menolak lamaran Anda?”.

 Senyum Yeon langsung pudar. "Apa maksdumu berjaga-jaga?. Mengapa kau berbicara

negatif saat aku tengah melaksanakan perencanaan masa depanku?", bentak Yeon kesal.

Direktur Han melonjak kaget mendengar bentakan Yeoon dan buru-buru ia menunduk meminta maaf. Ia lalu menganti topik pembicaraan. " Apa Yeon yakin tidak perlu ditemani saat membeli cincin?"

Yeon berkata " Aku akan berhati-hati memilih cincin, kau tetap di sini mempersiapkan segalahnya jangan sampai membuat kesahan,"

"Laksanakan!", seru Yeon memberi perintah

"Laksanakan!", sahut direktur Han siap melaksanakan perintah. 

"Nenek aku pergi, ya". ucap Yeon pamit pada Neneknya

"Baiklah.. Bye...bye", sang nenek melambaikan

tangan, yang di balas dengan lambaian tangan oleh Yeon dan juga tawa khasnya. Sikap Yeon ini persis seperti anak kecil yang pamit ingin pergi bermain. 

Seo Inha pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli barang permintaan putri pengacara Yong. Seo Inha sempat berhenti di toko perhiasan, memandang takjut pada cincin berlian yang tampak berkilauan terpajang di

elatase toko. 

Dari arah dalam, pegawai toko mengambil salah satu kotak cincin. Seo Inha berkata " pasti wanita yang menerima cincin itu akan merasa bahagia." ia pun berlalu dari sana. 

Pegawai yang mengambil cincin tadi menunjukan cincin-cincin itu pada Yeon. Tak hanya satu atau dua model cincin, tapi belasan model cincin berhampar di depan Yeon. Pegawai berkata, " Cincin yang baru saja aku bawa merupakan cincin lamaran terbaik yang kami miliki."

"Kurang bagus. Tidak cocok", jawab Yeon dengan gaya cool.  

Yeon bertanya, " Apa toko ini tidak punya cincin yang lebih elegan dan anggun?".

Pegawai tersenyum, "Semua produk yang kami punya sudah anda lihat semuanya". Yeon melangkah pergi hendak meninggalkan toko.

Pegawai memanggil, " Apakah anda bisa menjelaskan seperti apa kekasih yang akan anda lamar?. Akan lebih mudah bagi kami untuk merekomendasikan cincin mana yang sekiranya

cocok." ujar pegawai perhiasan itu.

Yeon menerawang tersenyum bahagia, "Dia

adalah...syairku". 

Pikiran Yeon melayang membayangkan saat melihat Rahel yang memainkan biola dengan penuh kekaguman, "Bukan syair yang bisa kau baca dan dengar tetapi prajurit infanteri di atas panggung. Dengan seluruh tubuhnya, mengeluarkan sinar kenyamanan, yang membuat dunia ini damai dan indah. Dia juga sangat lugu bagaikan anak yang baru lahir. Dengan kedua lengannya memelukku. Seperti

pelukan ibuku. Dia menulis puisi untukku". Ujar Yeon.

"Dia wanita yang sangat istimewa".  

***

Beralih kesebuah penerbangan menuju Korea. Di kabin kelas satu, Edward menggambar sketsa wajah seseorang. Gambar wajah itu mendapatkan pujian dari penumpang lain, "Manisnya. Siapa dia". 

"Adik ku", jawab Edward "Bagaimana menurutmu. Dia sangat cantik, kan?".

Tak hanya setuju dengan pendapat Edward, wanita itu juga memuji wajah Edward dan adiknya sangat mirip. Edward memasang wajah sendu dan berkata, "Aku juga berharap seperti itu. Aku kehilangan dia sewaktu masih kecil. Aku lupa seperti apa wajahnya. Kupikir wajahnya seperti ini jadi kugambar seperti yang kubayangkan".  

"Ah, terlalu kentara dan terlalu murahan", komentar penumpang lain. 

Penumpang itu adalah Rahel, Sontak Edward menoleh ke sumber suara, melihat Rahel yang memakai headphone dan fokus menatap layar tabletnya.

Oh, rupanya Rahel mengomentari film yang tengah ia tonton.

Edward melanjutkan jurus rayuan gombalnya, "Aku yakin tidak akan mengenali wajahya jika aku bertemu dengannya lagi". 

"Bagaimana ini?. Aku sangat sedih", komen wanita itu turut prihatin. 

Edward bercerita " Saat masih kelas satu, ia berpisah dengan adiknya. Ia dibawa ke panti asuhan dan diadopsi ke Amerika. Meski aku berusaha mencari adikku, setiap kali datang ke Korea, selalu berakhir sia-sia."

"Ah....parah. Siapa yang akan percaya dengan cerita seperti itu. Jika aku, aku tidak akan mempercayainya", celetuk Rahel tanpa mengalihkan pandangannya. 

Edward jadi malu. Wanita tadi yang mendengarkan cerita Edward kembali ke tempat duduknya.  Pasti dalam hatinya menilai perkataan Rahel ada benarnya.

Rahel tersenyum menatap layar tablet, "Benar. Ya, itu memang benar. Mengapa ini sangat menyenangkan?".

Edward yang kesal menatap sesaat lalu berkata, "Permisi". Rahel seolah tak mendengarkan panggilan Edward

"Tikus", seru Edward tiba-tiba menunjuk ke arah bawah kursi.  

Sontak Rahel terkesiap kaget mengira benar-benar ada tikus di bawah kakinya. Tapi itu hanya jebakan, Edward tahu jika Rahel bisa mendengar semua perkataannya. Jika kau memang menyukaiku, jujur saja. Jangan berlagak manis," gumamnya

"Apa kau marah karena aku tidak merayumu?". 

tanya Edward dengan Pedenya

"Bagaimana, ya?. Kau bukan tipeku sama sekali", balas Rahel melepas headphone. 

"Bagaimana tipemu?". Tanya Edward

 Rahel berkata " Dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. tipe idealku berbeda 180 derajat darimu,". Rahel tersenyum dan memasang kembali headphonenya. Edward tersenyum manis, tapi senyum manis itu berubah menjadi tatapan kesal.

Seo Inha menemukan toko yang khusus menjual permen, Kedatangannya di sambut dengan 3 peri permen, "Putri, selamat datang di

istana permen ajaib. Putri, jika kau butuh bantuan, hubungi kami kapan saja".

Seo Inha tersipu malu, "Tapi, aku bukan seorang putri". Selanjutnya, Seo Inha berkeliling mencari pesanan putri pengacara Yong. Toko ini sudah seperti istana permen. Dimana-mana permen. Seo inha tersenyum mendengar pegawai berbincang dengan salah satu pelanggan. 

Pegawai berkata Semua permen cinta disini akan membantu anda menemukan cinta." Pelanggan itu berkata " pacarku memberi permen lolipop saat menyatakan cinta dan itu sangat romantis." Tanpa sadar ia berkata

"ya", padahal saat itu ia tidak menyukai pacarnya.

Seo Inha kemudian membawa sekeranjang permen ke meja kasir. Kasir memberi hadiah, permen lolipop Cherry Pink. Menurut pengakuan kasir, Cherry Pink adalah permen cinta yang terkenal.

Akhirnya, Yeon menemukan cincin yang ia inginkan. Yeon melihat cincin itu dan melatih kata-kata yang akan ia gunakan untuk melamar Rahel. " Kurasa ini cocok untukmu. Kuharap kau menerimanya". Yeon tertawa gembira,

Tak jauh dari sana, Seo Inha keluar dari toko dengan membawa sekeranjang permen yang telah di bungkus dengan sangat cantik. Ia melihat balita yang berjalan seorang diri tanpa orang tua menuju eskalator. Balita yang

manis itu jatuh dan menangis. Lalu berdiri, dan tetap berjalan mendekati eskalator turun.

Seo Inha yang cemas bergegas lari untuk

menyelamatkan balita. Karena terburu-buru dan tidak melihat kanan dan kiri, Seo Inha menabrak 2 anak yang membawa bola-bola. 

Keseimbangan Seo Inha goyah karena menginjak bola-bola yang terhambur di lantai. Bola-bola itu dengan cepat menyebar dan seakan mengantarkan Seo Inha mendekat ke sisi Yeon.

Seo Inha yang tergelincir, berusaha menjaga keseimbangan dengan berpegang pada pundak Yeon. Namun, apa yang di lakukan Seo Inha malah membuat keseimbangan Yeon ikut goyah. Berpijak pada bola-bola yang licin membuat mereka berputar beberapa kali seperti

pasangan yang sedang berdansa.

Bab 3

Cincin yang Yeon pegang keluar dari kotaknya dan permen-permen yang Seo Inha beli terhambur ke udara bersamaan dengan tubuh mereka melambung di atas ketinggian. 

Di iringi musik orkestra, tangan Yeon terulur ke udara seakan ingin meraih benda yang sangat berharga yaitu, "Cincin", 

Begitu pula dengan Seo Inha, tapi kata yang terucap dari bibirnya adalah, "Permen". 

Bruk...hukum gravitasi menghempaskan tubuh mereka jatuh ke tanah. Di iringi suara rintihan keduanya. "Aww,"

Seo Inha melihat ke tempat balita berada. Sang ibu datang membawa pergi anaknya. Cincin Yeon jatuh ke tanah dan tergelincir jauh dari jangkauannya. 

"Cincinku", Yeon bangkit dan mengejar cincinya yang terus mengelinding jauh. Turun melewati eskalator. Seperti di komando, Seo Inha mengikuti kemana Yeon pergi. Cincin terus mengelinding melewati kandang anjing.

Rupanya, cincin itu membawa Yeon ke sebuah ruang tempat perkumpulan anjing berada. Suara salak'an dari anjing-anjing yang ada disana membuat nyali Yeon ciut, "Cincinku ada disana...cincinku ada disana", seru Yeon panik.

Yeon mendorong Seo Inha untuk mengambil cincin miliknya. Ia menujuk ke suatu tempat di mana cincinya berada, "Disana..disana..disana". Seo Inha bingung karena cincin berwarna silver itu itu terus berpindah tempat. Anjing-anjing kecil secara bergantian menendang cincin layaknya bola sepak.

Yeon memarahi anjing yang menyepak cincinya hingga membuat benda itu kembali mengelinding jauh.

Seo inha sibuk mengejar ke mana cincin pergi, hampir saja ia berhasil meraih benda bundar itu, tapi sayang meleset. Cincin masuk ke kandang besar dan berhenti di sebelah anjing ras Rottweiler yang sedang tertidur. 

Sebisa mungkin Yeon menghindari para anjing dan menyusul Seo Inha. Wajahnya pias seketika ketika melihat anjing besar itu. Ia berbisik memerintah " Cepat ambil cincinnya." Seo Inha terkejut menunjuk dirinya, "Aku?".

Yeon bekata " Aku tidak berani menyentuh anjing, Kau ambillah. Aku takut. Cepat!". Seo Inha juga merasa keder, anjingnya tampak menakutkan. 

Yang terjadi kemudian, Yeon memegangi badan Seo Inha melewati pagar. Tangan Seo Inha terulur berusaha meraih benda bundar berharga milik Yeon. 

"Sedikit lagi, hampir sampai." seru Yeon. Sayangnya, bukan cincin yang Seo Inha dapat, tapi tangannya malah menyentuh mangkuk makanan anjing yang terbuat dari stainless dan membuat suara gaduh.

Yeon dan Seo Inha terpaku kaget menunggu reaksi dari anjing berbulu hitam pekat itu. Perlahan kedua mata rottweiler terbuka. Dengan satu gerakan cepat, anjing jenis penjaga ini melompat melewati pagar dan mengejar 2 orang asing yang menganggu tidurnya. 

Mereka berdua lari terbirit-birit, mereka terpisah dan mengambil jalur yang berbeda. Yeon menunjuk Seo Inha, seakan menyuruh anjing untuk mengejar gadis itu saja. Sayangnya, anjing lebih memilih mengejarnya. Mereka kembali bertemu, di persimpanan, terus berlari secepat yang mereka bisa. 

Diantara rasa lelahnya, batin Yeon berkata, "Apakah ini akan berakhir. Mengikuti nenek moyangku di umur 30 tahun-an", batin Yeon diantara rasa lelahnya karena terus berlari, "Apakah ini akhir bagi kita. Ayah, kakek dan kakek buyut, dan kakek - kakek sebelumnya. Aku juga akan berakhir. Aku tidak bisa lari dari takdir".

"Tidak. Jika ini berakhir aku akan mati karena anjing". Yeon menoleh ke Seo Inha yang mampu berlari lebih cepat darinya, "Tapi. Siapa wanita ini?. Begitu cepat. Dia adalah wanita yang cepat".

 Yeon berusaha meraih pundak Seo Inha tapi gagal, "Tidak..mari kita pergi bersama-sama". 

Malangnya, mereka malah terpojok di jalan buntu. Belum selesai mereka mengatur napas, terdengar suara gonggongan anjing yang mendekat ke arah mereka. Seo Inha panik, "Tidak. Apa yang harus ku lakukan?". 

Seo Inha bersembunyi di balik punggung Yeon ketika anjing itu  semakin mendekat. Rottweiler terus menyalak. Yeon mencoba menekan rasa takutnya, "Jangan khawatir, aku akan mengusirnya. Aku bisa melakukanya".

Yeon tertawa menghilangkan rasa gugup dan takut yang bersarang di dada, "Brengsek. Kau harus di beri pelajaran". Yeon melepaskan jas sebagai senjata untuk menghadapai rottweiler yang terus menyalak.

"Kau harus diberi pelajaran. Kemarilah, ayo", tangan Yeon siap mengayunkan jas yang ia pegang. Tapi bagaimana bisa ia melakukannya dengan baik jika tangannya saja gemetaran, "Kemarilah", bentaknya nyaring.

Seo Inha teriak ketakutan saat Rottweiler menerjang ke arah mereka. Oh, apa yang terjadi?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED