Bab 1

PLAK!

Sebuah tamparan nyaring dilayangkan seorang laki-laki pada seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu terperanjat kaget. Matanya terbelalak saat ia menatap balik wajah mengeras lelaki itu. "Kenapa kamu menamparku, Mas?!"

Lelaki itu bergeming. Napasnya terdengar berburu. Namun dari belakang, justru terdengar suara yang ia kenal betul itu siapa. "Kamu memang pantas di tampar, bahkan kalau perlu dibunuh sekalian! Karena kamu itu, tidak lebih dari wanita hina!" maki wanita tua dengan wajah merah padam menahan murka. Tangan kanannya menunjuk pada wanita yang lebih muda itu.

"Apa salahku, Ma?" tanyanya bingung.

"Apa salahmu, kau bilang?!" Wanita tua itu bergegas memangkas jarak mereka, meraih kedua bahunya lalu menariknya agar mengikuti langkah kaki si wanita tua. "lihat di sana! Apa yang kamu lakukan dengan Rian, hah?!" makinya lantang seraya menunjuk ke arah ranjang dimana terlihat seorang laki-laki muda sedang berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.

Mata si wanita muda terbelalak, tidak percaya. "I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku ... aku tidak tahu, kenapa Rian bisa berada di dalam kamarku, Ma! Tolong percaya padaku, Ma ... Mas Adit!" ujarnya memelas. Kedua tangannya menyatu di depan dada, berharap lelaki yang ia panggil Adit percaya. Namun lelaki itu justru melengos. Wajahnya bahkan terlihat murka.

"Sudah tertangkap basah, masih berani mengelak kamu, Sarah! Dasar wanita hina! Pergi kamu dari sini! Bawa sekalian anakmu karena aku tidak yakin jika Satria adalah anak kandung putraku Aditya alias cucu kandungku. Bisa jadi kamu hamil anak laki-laki lain, lalu mengaku hamil anak Aditya agar bisa masuk ke keluarga besar kami!" tuduh wanita itu dengan angkuh. Kedua tangannya bersedekap di dada.

Sarah menggelengkan kepalanya, menolak tuduhan tersebut. Ia bahkan berusaha memasang wajah memelas agar Aditya percaya padanya. Namun lelaki itu justru enggan ia sentuh. Aditya menyentak kuat pegangan tangannya hingga terlepas. "Mas ...," panggilnya lirih saat Aditya justru memilih berbalik badan, meninggalkan dirinya yang kini jatuh terduduk. Bahkan tidak membelanya saat ibunya melemparkan semua pakaian milik Sarah ke atas kepalanya.

***

"Dengan ini saya selaku Ketua Hakim, menyatakan jika kalian berdua telah resmi bercerai," tukas Hakim Ketua sembari mengetukkan palu di atas meja yang ada di depannya.

"Alhamdulillah ...," ucap syukur seorang wanita paruh baya yang terlihat semringah saat mendengar putusan pengadilan agama. Wanita itu segera berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekati sang putra yang nampak lesu setelah putusan pengadilan keluar soal status hubungannya dengan sang mantan istri.

Sementara itu, wanita yang duduk di sebelahnya, nampak bergegas berdiri saat melihat kedatangan wanita paruh baya itu. Kemudian segera mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar.

"Jangan lupa serahkan hak asuh Satria ke tangan Adit!" Wanita paruh baya itu bertitah sembari melengos, enggan menatap lama-lama mantan menantunya itu.

Sarah yang sempat terhenti langkahnya, lantas menyahut, "Maaf, Nyonya Malika yang terhormat. Saya Sarah, ibu dari Satria Maulana. Tidak akan pernah menyerahkan putra saya ke tangan Nyonya apalagi ke tangan ayahnya yang tidak bertanggungjawab seperti itu!" Setelah mengucapkannya, Sarah pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut, tanpa perduli jika kini wajah Malika merah padam menahan murka.

"Dasar mantan menantu kurang ajar kamu, ya?! Pantas saja putraku menceraikan mu!" maki Malika dengan sengit sembari menunjuk ke arah sang mantan menantu yang telah hilang di balik pintu.

"Ma ... sudah, Ma! Malu ... kita lagi di pengadilan ini!" tegur Aditya sembari memegangi kedua bahu ibunya agar tidak berlari mengejar sang mantan istri, lalu mengajaknya berkelahi seperti yang pernah mereka lakukan.

Malika yang mendengar teguran tersebut, lantas membalikkan badannya, hingga keduanya kini berhadapan. Dirinya seketika malu, karena masih tersisa hakim anggota yang melihat aksi memalukan yang ia lakukan.

Wanita itupun lantas tersenyum kikuk, kemudian segera menyeret putranya agar keluar dari dalam sana.

Sementara itu, Sarah bergegas menaiki angkot yang kebetulan singgah di depan kantor pengadilan agama. Sembari menahan tangis dan juga kesal yang menumpuk di dalam dada, wanita dua puluh satu tahun itu mengeraskan wajahnya hingga terlihat seolah-olah dirinya adalah wanita yang angkuh.

"Stop di sini, Mang!" tegur Sarah pada kernet angkot saat dirinya telah sampai di halte yang ada di dekat rumah petak yang ia sewa.

"Siap, Neng!" sahut sang kernet sembari menepuk pelan pundak sopir tunawicara, dimana sang sopir segera melirik lewat kaca spion yang ada di depannya.

Iapun segera menghentikan laju angkot saat melihat kode yang diberikan sang sahabat, tak lupa menyalakan lampu sein ke kiri sebelum memberhentikan laju angkot yang ia kendarai.

Sarah bergegas menyerahkan sejumlah uang ke tangan sang kernet sembari berusaha tersenyum tipis. Iapun segera turun dari dalam angkot, begitu angkot tersebut benar-benar berhenti.

Dengan langkah tergesa-gesa, Sarah melajukan langkahnya menuju rumah yang dia huni bersama sang putra. Dimana kini ia titipkan untuk sementara dengan ibu pemilik kontrakan.

"Assalamualaikum ...!" sapa nya begitu sampai di depan pintu rumah sang pemilik kontrakan.

"Wa'alaikum salam ...!" sahut Marni -pemilik kontrakan yang ia sewa- dari dalam kamar sembari menggendong Satria yang nampak sedang asyik berceloteh senang. Bahkan air liurnya nampak menetes membasahi baju lusuh yang ia kenakan, tepat di bagian dada hingga jatuh ke punggung tangan Marni.

"Satria anteng, Bu?" tanya Sarah dengan sopan sembari berjalan masuk ke dalam, mendekati keduanya, setelah sebelumnya melepaskan sandal jepit yang ia kenakan di depan pintu.

"Anteng kok! Anak Sholeh, kan?!" sahut Marni sembari mengulas senyum manis. Iapun menyerahkan Satria pada ibunya tatkala wanita itu mengulurkan kedua tangannya.

Sarah segera menyambutnya, dimana kini terlihat Satria nampak terlonjak senang, karena bisa bertemu dengan ibunya setelah hampir seharian tidak bertemu, akibat persidangan yang harus ibunya jalani.

"Bagaimana keputusan hakim? Kalian benar-benar bercerai?" tanya Marni sembari mengajak Sarah untuk duduk, karena wanita itu nampak hendak memberikan ASI pada sang putra, yang terlihat membuka mulutnya lebar-lebar.

"Iya, Bu. Kami sudah resmi bercerai," tukas Sarah dengan lirih, karena kini mata Satria mulai terpejam seiring kuatnya isapan yang ia lakukan.

Marni lantas menghela napas panjang, dirinya benar-bnar menyayangkan sikap Aditya yang mudah sekali menjatuhkan talak pada Sarah, meskipun hal yang mendasarinya sangatlah sepele.

"Lalu ... apa rencana mu selanjutnya?" tanya Marni pelan, saat dirinya melihat jika kini Satria telah tertidur pulas dalam buaian ibunya.

Sarah perlahan meletakkan Satria di atas kasur lantai yang ada di pojok ruang tamu, yang biasanya ia pergunakan setiap kali dititipkan pada sang pemilik kontrakan, tatkala ibunya harus bekerja di toko roti yang ada di kawasan jalan Ahmad Yani kilometer satu. Kemudian mengambil kelambu kecil, guna menghalau nyamuk yang mungkin akan menggigit tubuh bayi gembul itu.

Marni masih menunggu Sarah menjawab pertanyaannya. Sementara Sarah yang baru selesai memasang kelambu. Lantas menoleh pada wanita paruh baya nan baik hati itu. "Saya akan mencari pekerjaan tambahan, Bu," tukasnya sembari mengulas senyum tipis.

"Kamu yakin?" tanya Marni dengan mata terbelalak.

Sarah mengangguk singkat dan tegas sembari membalikkan badannya, menghadap ke arah Marni seutuhnya. "Saya yakin, Bu! Demi Satria dan juga, agar semua hutang saya segera lunas," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. "tapi ...," sorotnya seketika menyendu karena yakin setelah ini waktunya bersama sang putra akan semakin berkurang.

Marni gegas menepuk pelan pundak kiri Sarah, membuat wanita itu menoleh padanya. "Kalau kamu mengkhawatirkan soal Satria ... masih ada Ibu yang akan bersedia membantu mengurus anakmu. Lagipula Ibu sudah menganggap kamu seperti putri Ibu sendiri, sementara Satria sudah seperti cucu Ibu. Jadi ... jangan khawatir, ya, Nak?!" tuturnya menenangkan.

Air mata yang sudah berkumpul di kedua sudut mata Sarah, lantas mengucur deras bak air terjun. Ibu muda itu seketika tergugu, yang segera ia bungkam dengan menggigit punggung tangan kanannya, takut suara isakannya membangunkan sang putra.

Marni lantas menarik bahu Sarah agar masuk ke dalam pelukannya. Wanita lima puluh tahun itu berusaha menenangkan. "Menangis lah, jika itu bisa membuatmu lega. Karena ada kalanya kita sebagai wanita berada diposisi rapuh. Namun yakinlah, setelah tangisan itu mereda, bahumu akan sekuat karang kembali," tukasnya sembari menepuk-nepuk punggung Sarah.

"Terimakasih, Bu!" ungkap Sarah setelah tangisannya mulai mereda. Ia lantas mengurai pelukan mereka, kemudian mengusap sisa air mata yang masih mengalir di kedua pipinya.

"Sama-sama," sahut Marni sembari mengulas senyum tipis.

Keduanya lantas sama-sama melemparkan senyum.

"Assalamualaikum!" ucap seseorang dari balik pintu yang terbuka lebar.

"Wa'alaikum salam!" sahut Keduanya serentak sembari menoleh ke arah pintu dimana sesosok laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja kotak-kotak dan celana bahan, sedang berdiri di depan pintu, menatap balik ke arah keduanya dengan seulas senyum tipis.

Sarah yang melihat siapa gerangan yang datang, seketika membelalakkan matanya. "Kamu!" pekiknya kuat.

Bab 2

Sosok yang Sarah hardik hanya tersenyum tipis. Dirinya mengabaikan fakta jika wanita itu akan turut membencinya.

"Mau apa kamu kemari, Raditya?!" tanya Sarah dengan sarkas, wajahnya mengeras.

"Hanya mau memberikan titipan ini ...!" tukas lelaki yang bernama Raditya itu sembari mengayunkan langkahnya menuju Sarah dan Marni, setelah sebelumnya melepaskan sepatu pantofel yang ia kenakan, tepat di samping sandal milik Sarah. "dari Kak Adit. Katanya maaf karena telah menceraikan Kak Sarah. Juga ini buat si ganteng Satria," ungkapnya sembari menyodorkan paper bag kertas yang entah berisi apa.

Sarah bersedekap di dada, wajahnya mengeras dengan mata nampak berkilat tajam setiap kali mendengar nama mantan suaminya terucap, entah dari mulut siapa. Apalagi saat kembaran lelaki itu yang datang dengan dalih ingin memberikan sesuatu pada putra mereka. "Bawa balik!" titahnya tegas sembari menatap lurus pada lelaki berusia dua puluh lima tahun itu.

"Kenapa? Ini buat Satria loh! Bukan buat Kak ...,"

"Aku bukan Kakakmu!" Sarah menukas dengan geram. Memotong ucapan Raditya yang kini hanya mampu mematung dengan mata terbelalak juga mulut sedikit terbuka. "bawa balik semua hadiah itu! Satria tidak butuh itu semua!" dalihnya sembari membuang muka ke samping kiri.

Raditya tersenyum tipis melihat wanita yang masih bertahta di hatinya itu memasang raut wajah mengeras seperti ini. Pertanda sang landak betina mulai menunjukkan perlindungannya pada seseorang yang ingin dia lindungi. "Iya ... maafin aku ya, Sar!" pintanya dengan tulus.

Sarah memejamkan matanya sebentar saat mendengar namanya disebut lelaki itu kembali. Karena mau bagaimanapun, kisah mereka dipaksa usai dua tahun yang lalu, tepat dua bulan sebelum dirinya terpaksa menikah dengan Aditya.

Dadanya kembali terasa berdenyut nyeri saat mendengar panggilan itu kembali terlontar dari mulut Raditya. "Pulanglah!" titahnya tanpa menatap pada lelaki itu.

"Aku akan pulang setelah kamu menerima ini!" tukas Raditya sembari meraih tangan kanan Sarah, kemudian meletakkan paksa paper bag kertas tersebut yang terpaksa wanita itu dekap di depan dada.

"Sudah, bukan! Sekarang pulanglah!" pinta Sarah mengalah, karena enggan berlama-lama berinteraksi dengan lelaki itu.

"Iya, aku pulang dulu, ya ... Assalamualaikum!" ucap Raditya tahu diri.

"Wa'alaikum salam!" balas Sarah lirih. Kepalanya tertunduk dalam, lebih memilih menatap paper bag tertutup itu daripada melihat kepergian Raditya.

"Wa'alaikum salam!" Marni ikut menjawab salam tersebut dengan sedikit keras, yang justru dibalas Raditya dengan mengulas senyum sopan pada wanita itu.

"Saya titip Sarah dan Satria, ya, Bu!" pinta Raditya sembari mengulas senyum manis.

"Tenang saja! Mereka berdua aman bersama saya," tukas Marni sembari tersenyum sopan.

Raditya mengangguk singkat. Iapun menatap sekali lagi sang mantan terindah yang masih enggan menatap balik wajahnya. Lelaki itu lantas mengulas senyum tipis, memaklumi bahwa ada kemungkinan jika Sarah kemungkinan besar turut membencinya, seperti wanita itu membenci Kakak kembarnya. Iapun membalikkan badannya, kemudian berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan ketiganya.

Marni lantas menepuk pelan punggung Sarah, membuat wanita itu terlonjak kaget. "Ya, Bu?" tanyanya heran.

"Mau sampai kapan kamu membencinya? Bukankah kamu sendiri yang bilang, jika Raditya berbeda dengan Aditya," ungkapnya, mempertanyakan sikap defensif yang Sarah tampilkan.

"Aku tidak tahu, Bu," ungkap Sarah dengan mata menerawang jauh ke depan. "yang aku tahu, dirinya juga sama pengecutnya dengan Kakak kembarnya yang hanya bisa bersembunyi dibalik ketiak ibunya!" paparnya dimana sorot benci itu terlihat jelas di matanya.

Raditya yang bersembunyi di balik tembok, hanya mampu menghela napas pendek dengan kedua bahu terkulai lemah, saat mendengar penuturan jujur dari mulut sang mantan Kakak Ipar. Dirinya memang mengakui jika dirinya dan kembarannya adalah orang-orang yang pengecut, dimana hanya bisa bersembunyi dibalik ketiak ibunya, sesuai dengan apa yang Sarah ucapkan. Dengan langkah gontai, iapun berjalan meninggalkan tempat itu, menuju mobilnya yang ia parkir kan di seberang jalan.

"Jangan terlalu membenci, Nak! Karena mau bagaimanapun, di dalam tubuh Satria mengalir darah mereka! Dia garis keturunan mereka dan kamu tidak bisa memutuskan pertalian darah itu, meskipun kamu menggunakan cara ekstrim sekalipun untuk memutuskannya!" Marni menasehati dengan lembut juga senyum penuh keibuan.

Sarah lantas menatap seutuhnya pada wanita baik hati itu dengan matanya yang mulai memburam kembali, dimana air mata itu kembali berkumpul di kedua sudut matanya. "Lalu ... apa yang harus aku lakukan, Bu? Saat dirinya mengucapkan kata talak itu untukku, sejak itu juga aku dan Satria tidak ingin berhubungan dengannya atau dengan seluruh anggota keluarganya lagi?" tanyanya dengan nada lelah. Airmatanya akhirnya lolos seiring satu kali kedipan mata tercipta, tatkala dirinya mengingat peristiwa buruk itu kembali, tepat sehari setelah dirinya melahirkan Satria.

"Ibu mengerti perasaanmu, Nak." Marni menghibur Sarah dengan menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya.

Sarah lantas kembali tergugu, iapun membalas pelukan itu dengan erat, hingga paper bag itu terhimpit di antara tubuh mereka berdua. Namun wanita itu tidak perduli, dirinya hanya ingin meluapkan semua emosinya setiap kali mengingat semua perlakuan yang ia terima, baik dari mantan suaminya, maupun dari keluarga laki-laki itu.

Marni terdiam, ia membiarkan Sarah meluapkan semua emosinya. Hanya usapan lembut di punggung wanita itu yang menjadi gambaran dirinya benar-benar perduli akan keadaan keduanya.

Sarah perlahan melepaskan pelukannya, karena ia merasa sedikit lebih lega setelah menangis. "Maaf, Bu," tukasnya penuh permohonan.

Marni menatapnya dengan heran yang justru terlihat lucu di wajah bulat wanita itu.

"Maaf karena sudah menangis sehingga baju Ibu kotor terkena air mata dan ... itu," ungkapnya dengan lirih pada akhir kalimat sembari menunjuk pada bahu kiri wanita itu.

Marni mengikuti arah tangan Sarah, tawanya seketika pecah tatkala mengetahui apa yang menjadi alasan Sarah berwajah kikuk. Namun segera ia tutup dengan kedua tangannya, tatkala mereka mendengar suara tangisan keras yang berasal dari mulut Satria.

Keduanya lantas berjalan tergesa-gesa mendekati bayi gembul itu, dimana kini mengangkat kedua tangan dan kakinya sembari menangis keras, wajahnya bahkan memerah seiring kerasnya suara tangisan yang keluar dari mulutnya.

Sarah segera menyibakkan kelambu yang menutupi tubuh putranya, iapun segera memeriksa keadaan bocah gembul itu. Senyumnya seketika terbit saat mengetahui penyebab sang putra menangis keras. "Anak mama pup, ya?" tanyanya geli. Namun dengan sigap segera membersihkan kotoran yang putranya keluarkan dengan tisu basah yang tersedia di samping tubuh bocah itu.

Marni ikut terkekeh kecil mendengarnya, namun helaan napas lega terdengar dari mulutnya. Dirinya senang saat melihat senyum Sarah terbit setiap kali bersama Satria.

***

"Aku berangkat kerja dulu, ya, Bu!" tutur Sarah berpamitan. Dirinya nampak telah selesai mandi, begitupula dengan Satria yang kini berada dalam gendongannya.

Bocah tampan yang mewarisi seratus persen wajah ayahnya itu, nampak sedang mengerjapkan matanya yang bening laksana air dengan lucu.

"Iya, hati-hati di jalan!" sahut Marni sembari menyambut Satria ke dalam pelukannya. "Satria main sama Nenek dulu, ya! Mama satria mau kerja dulu, biar bisa beli rumah gede sama mobil besar, terus nyekolahin Satria di sekolah yang terbaik," tukasnya mengajak bocah itu berbicara, yang hanya dibalas satria dengan mengeluarkan air liurnya.

Baik Marni maupun Sarah, hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah lucu bocah itu.

"Assalamualaikum!" Sarah berpamitan seraya meraih tangan kanan Marni untuk ia cium.

"Wa'alaikum salam!" Marni membalas dengan seulas senyum manis.

Tangan Satria ia angkat ke atas, seolah-olah sedang melambaikan tangan yang mengiringi keberangkatan ibunya, tepat di depan pintu.

Sarah pun berangkat bekerja dengan berjalan kaki, tanpa menoleh ke belakang, dimana kini Marni menutup pintu dengan pelan, tak lupa menguncinya dari dalam.

"Bismillahirrahmanirrahim!" Sarah berdoa sebentar dengan mata terpejam selama dua detik bersama tarikan napas dalam guna mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.

Iapun kembali melanjutkan langkahnya menuju luar pekarangan Marni, tak lupa menutup pintu pagar dari luar, lalu mengaitkan kunci yang terbuat dari paku panjang pada kawat di sebelahnya, agar pagar itu tidak terbuka.

Dengan langkah ringan, Sarah mengayunkan langkahnya menuju jalan raya dimana kini malam sudah merangkak naik, tepat setelah shalat Maghrib selesai umat muslim kerjakan. Nampak di ujung jalan sana, ramai anak muda berpakaian rapi, layaknya orang yang baru pulang dari shalat berjamaah, berbondong-bondong berjalan dengan arah yang berlawanan dengannya.

"Dek Sarah mau kerja, ya?" sapa seorang lelaki yang berada dalam rombongan tersebut.

"Iya, permisi!" sahut Sarah cepat, enggan berlama-lama berinteraksi dengan lelaki itu maupun semua teman-temannya, karena dirinya bukanlah anak gadis kemarin sore lagi.

"Yah ... dia kabur!" gerutu lelaki itu sembari menggaruk tengkuknya, yang disambut semua temannya dengan menertawakan tingkah lakunya.

"Kamu sendiri yang lamban, Rul! Waktu Sarah masih perawan, kamu selalu ngomong, tar sok ... tar sok mulu buat ngelamar dia. Eh ... pas, kan, akhirnya keduluan sama orang kota itu. Nah, sekarang pas dia udah jadi janda, kamu masih mau gerak lamban?" desak Budi sembari merangkul pundak Arul yang hanya bisa menatap kepergian Sarah, dimana wanita itu kini menghilang di belokan yang ada di ujung gang sana.

Arul hanya mampu terdiam, karena memang yang dikatakan oleh Budi benar adanya. "Ok deh, aku akan gerak cepat kali ini! Demi Sarah dan Satria!" tekadnya, yang disambut bahagia semua teman-temannya.

Sementara itu, Sarah akhirnya bisa bernapas lega setelah menjauhi kelima lelaki itu. Iapun kembali berjalan cepat agar bisa segera sampai di pinggir jalan raya, dimana biasanya ojek yang selalu ia tumpangi menunggu.

Tepat di depan gang, pinggir jalan raya, setelah Arul dan kawan-kawannya membalikkan badan, tangan Sarah ditarik seseorang dengan cepat dari dalam pintu mobil yang terbuka secara tiba-tiba. Belum sempat dirinya melawan, orang tersebut segera menariknya kuat hingga masuk ke dalam mobil Van hitam, kemudian membawa wanita itu meninggalkan tempat itu.

Bab 3

"Lepaskan aku brengsek!" makinya kesal, saat melihat siapa orang yang telah menariknya paksa.

"Sstt ...! Jangan berontak, Sayang!" pinta sesosok lelaki yang sedang memeluknya erat dari belakang. Menahan kedua tangannya yang hendak membuka paksa pintu mobil.

"Lepasin gue, Setan!" hardik Sarah semakin murka. Kedua kakinya menendang-nendang ke sembarang arah, begitupula dengan tubuhnya yang berontak, berusaha melepaskan pelukan lelaki itu, dimana ia kenali aromanya karena aroma itulah yang setiap malam menemani tidurnya saat mereka masih menjadi sepasang suami istri.

"Sstt ... kok mulutmu makin kasar sekarang, Yang!" tegur Aditya kesal, karena Sarah terus saja berontak. "bukankah sudah aku bilang, kalau aku gak suka kalau kamu sudah ngomong kasar gitu! Karena bikin aku bergairah, tau gak!" omelnya dengan wajah merah padam menahan hasrat untuk menyerang mantan istrinya membabi buta.

"An jing! Se tan! Ib lis! Jangan sentuh gue, Setan! Gue gak sudi!" pekik Sarah dengan suara keras, yang segera dibungkam Aditya dengan tangan besar berbulu miliknya. Sementara tangan yang satunya serta kedua kakinya memeluk erat tubuh Sarah, hingga wanita itu tidak bisa bergerak sedikitpun.

"Mmmm ...!" Sarah berusaha berteriak, namun bekapan di mulutnya menutup akses tersebut. Dirinya benar-benar jijik jika harus disentuh sang mantan suami kembali.

Aditya segera menciumi leher bagian belakang milik Sarah, ingin memancing hasrat sang mantan istri agar mengikuti kemauannya. Sementara Sarah yang mendapatkan perlakuan seperti itu, lantas tergugu sembari kembali berontak, dirinya benar-benar tidak sudi mendapatkan sentuhan menjijikkan dari mantan suaminya.

"Sebaiknya kamu menyerah saja, Sayang. Bukankah kita nantinya akan sama-sama merasakan nikmatnya saling menyatukan diri, seperti yang biasanya kita lakukan sewaktu masih berumah tangga. Jadi jangan berontak terus, ya! Anggap saja ini sebagai salam perpisahan, karena setelah ini Mama akan menyuruhku kuliah ke London. Namun sebelum itu, aku ingin kembali mengulang rasa indah itu denganmu!" Aditya merayu sembari mulai menjalankan tangannya yang sedang memegangi tubuh Sarah, menuju ke arah area-area  yang menjadi kelemahan wanita itu.

Sarah berusaha mati-matian menjaga kewarasannya saat mendapatkan sentuhan memabukkan itu. Dirinya lantas segera berpikir cepat, bagaimana caranya melarikan diri dari kungkungan mantan suami sakit jiwa di belakangnya itu. Meskipun kini intinya ikut basah saat disentuh sedemikian rupa, karena mau bagaimanapun dirinya tahu bagaimana rasanya saat menyatu dengan mantan suaminya.

"Mau, ya?" rayu Aditya kembali saat dirinya melihat sang mantan istri berhenti berontak, juga saat mendengar napas wanita itu mulai terdengar berburu.

Sarah segera menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan lelaki itu.

Aditya tersenyum semringah, iapun segera melepaskan bekapan tangannya pada mulut wanita itu. Dimana kini Sarah berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah akibat lamanya mulutnya berada dalam bekapan tangan lelaki itu.

"Lepaskan belitan kakimu dulu!" Sarah memohon, setelah napasnya kembali teratur.

"Oh, ok! Dimana kita akan melakukannya? Apa di mobil saja?" Aditya kembali merayu, karena dirinya benar-benar merindukan kehangatan sang mantan istri yang selalu sukses membuatnya terbuai.

"Terlalu sempit, Mas Adit," tukas Sarah saat lelaki itu akhirnya menuruti permintaannya. Belitan itupun terlepas, namun Aditya masih duduk di belakang Sarah.

Aditya lantas menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan yang dilontarkan oleh sang mantan terindah. "Benar juga, ya! Kalau begitu, di hotel saja! Kebetulan aku nginap di hotel SBHBB. Besok baru check out. Nanti kamu aku antar pulang besok pagi, sekalian aku check out, Sayang."

Sarah kembali mengangguk, dirinya lantas bernapas lega saat Aditya kini duduk dengan benar di sampingnya. Namun hanya sebentar, tatkala tangan kanan lelaki itu merangkul pinggangnya dengan erat, hingga bahu mereka bertabrakan. 'Dasar Adit gila!' desisnya membatin.

"Jalan, Pak!" titahnya dengan tegas pada sopir di depan dari balik interkom yang ada di di samping tempatnya duduk.

"Baik, Tuan Muda!" sahut sang sopir yang segera menjalankan mobil menuju hotel tempat lelaki itu menginap.

"Aku kangen banget sama kamu, Yang," ungkap Aditya dengan senang, karena bisa memeluk Sarah kembali, hidungnya bahkan ia majukan, hendak mengendus leher sang mantan istri, yang kini mengenakan kemeja putih lengan pendek pas badan dengan bordiran nama ARM Cafe and Karaoke, dengan rok model payung di bawah lutut ---seragam kerjanya sebagai waiters di sebuah tempat karaoke---. Dimana ia tutupi dengan memakai jaket sweater butut berwana hijau kelabu yang memiliki potongan leher rendah, serta celana legging tiga perempat di balik rok model payung yang ia kenakan, sementara rambut sepinggangnya ia ikat kuncir kuda. Dimana kini terlihat sedikit berantakan dengan beberapa helai rambut keluar dari ikatannya.

Sarah memiringkan tubuhnya, hingga hidung lelaki itu gagal mengendus lehernya kembali. "Jangan di sini!" tegurnya, agar lelaki itu menghentikan aksinya yang suka mengendus leher.

"Oh, ok! Kamu pasti malu, ya, kalau keliatan Mang Supri! Tapi, kamu tenang aja, Mang Supri sudah cs kok sama aku, Yang! Jadi apa yang kita lakukan hari ini, gak bakal ketahuan mama!" ungkap Aditya senang.

"Terserah kamu, Mas! Yang jelas aku tidak mau bermesraan di sini! Jadi tunggu di hotel saja, ya!" pinta Sarah sembari tersenyum manis saat ia menolehkan kepalanya pada lelaki itu.

"O-ok! Tentu! Aku setuju denganmu! Jangan di sini, nanti Mang Supri pengen juga, sementara istrinya baru saja lahiran. Gak mungkin, kan, orang baru lahiran dipake? Kan jijik, ya, kalau lihat masih banyak yang merah-merah itu keluar dari sana. Belum lagi baunya yang bikin mual! Pokoknya gak enak banget lah kalau istri itu gak bisa dikunjungi kalau lagi palang merah!" gerutu Aditya dengan bibir mengerucut, yang justru tidak sesuai dengan perawakannya yang macho juga tinggi besar.

"Jadi kamu bersedia menurut, kan?!" ucap Sarah kembali, ingin memastikan kesediaan lelaki itu

"Ok! Aku nurut mau kamu!" pungkas Aditya dengan senyum manis yang semakin membuat wajah tampannya bersinar. Namun justru membuat Sarah mual. "tapi, pegang dikit ya, Sayang!" pintanya, mencoba bernegosiasi agar mendapatkan bonus.

"Mending sekalian saja, ya," tolak Sarah dengan halus. "kan lebih enak kalau langsung daripada icip-icip dikit! Yang ada nanti kamunya yang gak puas!" ungkapnya sembari tersenyum manis, saat menatap balik wajah lelaki itu, yang kini semakin melebarkan senyumnya.

"Ish ... Ayang ternyata pengen juga, ya!" kekeh Aditya dengan geli. "tahu gini, mending kita jangan cerai, ya! Kan enak tuh bisa main tiap malam! Kalau perlu sampai subuh, ya, Sayang, ya?!" desaknya memaksa Sarah menyetujui usulannya.

"Iya, dong ...!" Sarah balas merayu dengan suara mendayu-dayu.

"Ikh ... Ayang makin gemesin kalau gini!" pekik Aditya senang. "Jadi gak sabar pengen main kuda-kudaan sama kamu sampai pagi," ungkapnya dengan nada gembira.

Sarah hanya tersenyum skeptis dengan ucapan lelaki itu, tanpa balas menjawab sepatah katapun. 'Sinting!' makinya di dalam hati.

Mobil yang mereka tumpangi mulai melambatkan lajunya, saat akhirnya tiba di parkiran hotel yang dimaksud. Dimana terlihat jika sang sopir sedang berusaha mencari tempat parkir yang kosong, di tengah padatnya kawasan parkir dengan mobil para tamu yang sedang menghadiri upacara pernikahan seorang artis daerah.

"Sudah sampai, Tuan Muda!" seru sang sopir sembari membuka tirai pembatas antara dirinya dengan kursi penumpang di belakang.

"Ok!" sahut Aditya dengan senang. Lelaki itu lantas membuka pintu mobil di sampingnya. Kemudian segera keluar dari dalam mobil dengan posisi pintu masih terbuka lebar. Ia lantas berlari memutar, ingin membukakan pintu yang ada di samping sang mantan istri.

Sarah yang melihat pintu terbuka lebar, lantas bergegas keluar dari sana dengan cepat, sebelum Aditya berhasil membuka pintu di sampingnya.

Wanita itupun berlari kencang, meninggalkan Aditya yang terbelalak. Lelaki itu benar-benar terkejut akan aksi nekat yang Sarah lakukan.

"Sarah, tunggu!" pekik Aditya dengan kuat sembari mengejar wanita itu dari belakang.

Sarah tidak menggubris teriakan yang mantan suaminya ucapkan. Ia terus saja berlari, hingga hampir sampai di depan gerbang hotel yang dijaga oleh tiga orang petugas keamanan.

Aditya yang sadar tidak akan bisa mengejar langkah kaki Sarah, lantas berteriak dengan kencang. "Pak, tolong tahan wanita itu! Jangan biarkan dia lolos!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED