Sampul Novel OBSESI MANTAN SUAMI

OBSESI MANTAN SUAMI

8.7 / 10.0
Setelah diceraikan akibat fitnah kejam, Sarah harus membesarkan buah hatinya seorang diri. Namun, kedamaian hidupnya terusik saat Aditya kembali. Sang mantan suami yang terobsesi dengannya nekat menculik dan memaksa Sarah agar tidak pergi. Di tengah upaya melarikan diri bersama putranya, Sarah justru mendapati dirinya kembali mengandung anak Aditya. Hambatan besar ini menguji perjuangannya. Apakah Aditya akan membebaskan mereka, atau justru mengurung mereka selamanya?

OBSESI MANTAN SUAMI Bab 1

PLAK!

Sebuah tamparan nyaring dilayangkan seorang laki-laki pada seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu terperanjat kaget. Matanya terbelalak saat ia menatap balik wajah mengeras lelaki itu. "Kenapa kamu menamparku, Mas?!"

Lelaki itu bergeming. Napasnya terdengar berburu. Namun dari belakang, justru terdengar suara yang ia kenal betul itu siapa. "Kamu memang pantas di tampar, bahkan kalau perlu dibunuh sekalian! Karena kamu itu, tidak lebih dari wanita hina!" maki wanita tua dengan wajah merah padam menahan murka. Tangan kanannya menunjuk pada wanita yang lebih muda itu.

"Apa salahku, Ma?" tanyanya bingung.

"Apa salahmu, kau bilang?!" Wanita tua itu bergegas memangkas jarak mereka, meraih kedua bahunya lalu menariknya agar mengikuti langkah kaki si wanita tua. "lihat di sana! Apa yang kamu lakukan dengan Rian, hah?!" makinya lantang seraya menunjuk ke arah ranjang dimana terlihat seorang laki-laki muda sedang berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.

Mata si wanita muda terbelalak, tidak percaya. "I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku ... aku tidak tahu, kenapa Rian bisa berada di dalam kamarku, Ma! Tolong percaya padaku, Ma ... Mas Adit!" ujarnya memelas. Kedua tangannya menyatu di depan dada, berharap lelaki yang ia panggil Adit percaya. Namun lelaki itu justru melengos. Wajahnya bahkan terlihat murka.

"Sudah tertangkap basah, masih berani mengelak kamu, Sarah! Dasar wanita hina! Pergi kamu dari sini! Bawa sekalian anakmu karena aku tidak yakin jika Satria adalah anak kandung putraku Aditya alias cucu kandungku. Bisa jadi kamu hamil anak laki-laki lain, lalu mengaku hamil anak Aditya agar bisa masuk ke keluarga besar kami!" tuduh wanita itu dengan angkuh. Kedua tangannya bersedekap di dada.

Sarah menggelengkan kepalanya, menolak tuduhan tersebut. Ia bahkan berusaha memasang wajah memelas agar Aditya percaya padanya. Namun lelaki itu justru enggan ia sentuh. Aditya menyentak kuat pegangan tangannya hingga terlepas. "Mas ...," panggilnya lirih saat Aditya justru memilih berbalik badan, meninggalkan dirinya yang kini jatuh terduduk. Bahkan tidak membelanya saat ibunya melemparkan semua pakaian milik Sarah ke atas kepalanya.

***

"Dengan ini saya selaku Ketua Hakim, menyatakan jika kalian berdua telah resmi bercerai," tukas Hakim Ketua sembari mengetukkan palu di atas meja yang ada di depannya.

"Alhamdulillah ...," ucap syukur seorang wanita paruh baya yang terlihat semringah saat mendengar putusan pengadilan agama. Wanita itu segera berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekati sang putra yang nampak lesu setelah putusan pengadilan keluar soal status hubungannya dengan sang mantan istri.

Sementara itu, wanita yang duduk di sebelahnya, nampak bergegas berdiri saat melihat kedatangan wanita paruh baya itu. Kemudian segera mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar.

"Jangan lupa serahkan hak asuh Satria ke tangan Adit!" Wanita paruh baya itu bertitah sembari melengos, enggan menatap lama-lama mantan menantunya itu.

Sarah yang sempat terhenti langkahnya, lantas menyahut, "Maaf, Nyonya Malika yang terhormat. Saya Sarah, ibu dari Satria Maulana. Tidak akan pernah menyerahkan putra saya ke tangan Nyonya apalagi ke tangan ayahnya yang tidak bertanggungjawab seperti itu!" Setelah mengucapkannya, Sarah pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut, tanpa perduli jika kini wajah Malika merah padam menahan murka.

"Dasar mantan menantu kurang ajar kamu, ya?! Pantas saja putraku menceraikan mu!" maki Malika dengan sengit sembari menunjuk ke arah sang mantan menantu yang telah hilang di balik pintu.

"Ma ... sudah, Ma! Malu ... kita lagi di pengadilan ini!" tegur Aditya sembari memegangi kedua bahu ibunya agar tidak berlari mengejar sang mantan istri, lalu mengajaknya berkelahi seperti yang pernah mereka lakukan.

Malika yang mendengar teguran tersebut, lantas membalikkan badannya, hingga keduanya kini berhadapan. Dirinya seketika malu, karena masih tersisa hakim anggota yang melihat aksi memalukan yang ia lakukan.

Wanita itupun lantas tersenyum kikuk, kemudian segera menyeret putranya agar keluar dari dalam sana.

Sementara itu, Sarah bergegas menaiki angkot yang kebetulan singgah di depan kantor pengadilan agama. Sembari menahan tangis dan juga kesal yang menumpuk di dalam dada, wanita dua puluh satu tahun itu mengeraskan wajahnya hingga terlihat seolah-olah dirinya adalah wanita yang angkuh.

"Stop di sini, Mang!" tegur Sarah pada kernet angkot saat dirinya telah sampai di halte yang ada di dekat rumah petak yang ia sewa.

"Siap, Neng!" sahut sang kernet sembari menepuk pelan pundak sopir tunawicara, dimana sang sopir segera melirik lewat kaca spion yang ada di depannya.

Iapun segera menghentikan laju angkot saat melihat kode yang diberikan sang sahabat, tak lupa menyalakan lampu sein ke kiri sebelum memberhentikan laju angkot yang ia kendarai.

Sarah bergegas menyerahkan sejumlah uang ke tangan sang kernet sembari berusaha tersenyum tipis. Iapun segera turun dari dalam angkot, begitu angkot tersebut benar-benar berhenti.

Dengan langkah tergesa-gesa, Sarah melajukan langkahnya menuju rumah yang dia huni bersama sang putra. Dimana kini ia titipkan untuk sementara dengan ibu pemilik kontrakan.

"Assalamualaikum ...!" sapa nya begitu sampai di depan pintu rumah sang pemilik kontrakan.

"Wa'alaikum salam ...!" sahut Marni -pemilik kontrakan yang ia sewa- dari dalam kamar sembari menggendong Satria yang nampak sedang asyik berceloteh senang. Bahkan air liurnya nampak menetes membasahi baju lusuh yang ia kenakan, tepat di bagian dada hingga jatuh ke punggung tangan Marni.

"Satria anteng, Bu?" tanya Sarah dengan sopan sembari berjalan masuk ke dalam, mendekati keduanya, setelah sebelumnya melepaskan sandal jepit yang ia kenakan di depan pintu.

"Anteng kok! Anak Sholeh, kan?!" sahut Marni sembari mengulas senyum manis. Iapun menyerahkan Satria pada ibunya tatkala wanita itu mengulurkan kedua tangannya.

Sarah segera menyambutnya, dimana kini terlihat Satria nampak terlonjak senang, karena bisa bertemu dengan ibunya setelah hampir seharian tidak bertemu, akibat persidangan yang harus ibunya jalani.

"Bagaimana keputusan hakim? Kalian benar-benar bercerai?" tanya Marni sembari mengajak Sarah untuk duduk, karena wanita itu nampak hendak memberikan ASI pada sang putra, yang terlihat membuka mulutnya lebar-lebar.

"Iya, Bu. Kami sudah resmi bercerai," tukas Sarah dengan lirih, karena kini mata Satria mulai terpejam seiring kuatnya isapan yang ia lakukan.

Marni lantas menghela napas panjang, dirinya benar-bnar menyayangkan sikap Aditya yang mudah sekali menjatuhkan talak pada Sarah, meskipun hal yang mendasarinya sangatlah sepele.

"Lalu ... apa rencana mu selanjutnya?" tanya Marni pelan, saat dirinya melihat jika kini Satria telah tertidur pulas dalam buaian ibunya.

Sarah perlahan meletakkan Satria di atas kasur lantai yang ada di pojok ruang tamu, yang biasanya ia pergunakan setiap kali dititipkan pada sang pemilik kontrakan, tatkala ibunya harus bekerja di toko roti yang ada di kawasan jalan Ahmad Yani kilometer satu. Kemudian mengambil kelambu kecil, guna menghalau nyamuk yang mungkin akan menggigit tubuh bayi gembul itu.

Marni masih menunggu Sarah menjawab pertanyaannya. Sementara Sarah yang baru selesai memasang kelambu. Lantas menoleh pada wanita paruh baya nan baik hati itu. "Saya akan mencari pekerjaan tambahan, Bu," tukasnya sembari mengulas senyum tipis.

"Kamu yakin?" tanya Marni dengan mata terbelalak.

Sarah mengangguk singkat dan tegas sembari membalikkan badannya, menghadap ke arah Marni seutuhnya. "Saya yakin, Bu! Demi Satria dan juga, agar semua hutang saya segera lunas," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. "tapi ...," sorotnya seketika menyendu karena yakin setelah ini waktunya bersama sang putra akan semakin berkurang.

Marni gegas menepuk pelan pundak kiri Sarah, membuat wanita itu menoleh padanya. "Kalau kamu mengkhawatirkan soal Satria ... masih ada Ibu yang akan bersedia membantu mengurus anakmu. Lagipula Ibu sudah menganggap kamu seperti putri Ibu sendiri, sementara Satria sudah seperti cucu Ibu. Jadi ... jangan khawatir, ya, Nak?!" tuturnya menenangkan.

Air mata yang sudah berkumpul di kedua sudut mata Sarah, lantas mengucur deras bak air terjun. Ibu muda itu seketika tergugu, yang segera ia bungkam dengan menggigit punggung tangan kanannya, takut suara isakannya membangunkan sang putra.

Marni lantas menarik bahu Sarah agar masuk ke dalam pelukannya. Wanita lima puluh tahun itu berusaha menenangkan. "Menangis lah, jika itu bisa membuatmu lega. Karena ada kalanya kita sebagai wanita berada diposisi rapuh. Namun yakinlah, setelah tangisan itu mereda, bahumu akan sekuat karang kembali," tukasnya sembari menepuk-nepuk punggung Sarah.

"Terimakasih, Bu!" ungkap Sarah setelah tangisannya mulai mereda. Ia lantas mengurai pelukan mereka, kemudian mengusap sisa air mata yang masih mengalir di kedua pipinya.

"Sama-sama," sahut Marni sembari mengulas senyum tipis.

Keduanya lantas sama-sama melemparkan senyum.

"Assalamualaikum!" ucap seseorang dari balik pintu yang terbuka lebar.

"Wa'alaikum salam!" sahut Keduanya serentak sembari menoleh ke arah pintu dimana sesosok laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja kotak-kotak dan celana bahan, sedang berdiri di depan pintu, menatap balik ke arah keduanya dengan seulas senyum tipis.

Sarah yang melihat siapa gerangan yang datang, seketika membelalakkan matanya. "Kamu!" pekiknya kuat.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi OBSESI MANTAN SUAMI

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Dalam kisah romansa modern ini, David dan Arina memulai perjalanan emosional yang menuntun mereka pada kebahagiaan sejati. Berlatar keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan jiwa masing-masing. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka tumbuh dengan begitu indah. Momen singkat di musim ini berhasil menyatukan dua hati dalam sebuah ikatan cinta yang tulus, kuat, dan sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Nadia Antika selalu sabar menghadapi cemoohan ibu mertua demi cintanya pada sang suami, Askara Brahma. Namun, biduk rumah tangga mereka yang berjalan dua tahun mulai retak saat Askara mendadak bersikap dingin dan penuh rahasia. Kecurigaan Nadia menuntunnya pada kenyataan pahit yang tak terbayangkan. Bagaimana ia menghadapi fakta bahwa suaminya diam-diam mengkhianatinya dengan menjalin hubungan gelap bersama adik iparnya sendiri di dalam rumah mereka?
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota, pemuda malas berumur dua puluh tahun, lebih memilih menganggur dan bermain gawai meski otaknya sangat licik. Tabiat buruk ini membuat ibunya, Artisa, merasa sangat khawatir. Sebagai pekerja keras yang juga punya sisi licik, Artisa bertekad merombak total kepribadian putranya. Ia pun memilih cara ekstrem dengan mengubah wujud fisik Sota. Akankah rencana drastis sang ibu berhasil mengubah jati diri Sota melalui transformasi tubuh tersebut?
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Kehidupan pernikahan Dewi yang semula tenang seketika runtuh setelah ia mendapati benda asing milik seorang wanita di koper suaminya. Kejadian tak terduga ini menuntunnya mengungkap berbagai kebusukan dan rahasia kelam yang selama ini disembunyikan sang suami dengan rapi. Terluka akibat perselingkuhan tersebut, Dewi kini dihadapkan pada pilihan hidup yang berat. Apakah ia akan pasrah menerima rasa sakit, atau justru memilih bangkit untuk membalas dendam?

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED