Suara burung yang berkicau ramai menandakan pagi ini adalah pagi yang cerah. “Hmmm..segar sekali pagi ini,” ucap gadis cantik yang kini telah menyelesaikan kuliahnya dalam bidang teknik mekatronik. Meski pun seorang perempuan, dia sangat menyukai dunia mekanik dan kelistrikan yang kebanyakan disukai oleh kaum adam.
Gadis berkulit putih langsat ini memang sedikit tomboy, seorang gadis yang dianggap pembawa sial bagi keluarganya dan dibuang begitu saja. Meski begitu dia pantang menyerah, semua hinaan, sakit yang dia terima bahkan keacuhan sang papa juga rasa benci dari anggota keluarga dari garis sang papa tak mengurungkan niatnya untuk terus berkembang.
Arcella Shameera Caluella gadis cantik yang berprestasi dan berotak cukup encer, dia yang tekun dan pantang menyerah membuat gadis itu selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya sejak SD sampai dia lulus kuliah. Dia bahkan mendapatkan gelar cumlaude dari universitas negeri terbaik di Indonesia, karena itulah dia juga meraih beasiswa untuk melanjutkan S2 nya di Jerman.
ETH Zurich, Jerman memiliki jurusan teknik terbaik – salah satu universitas teknik termasyur di dunia menjadi tempatnya menempuh pendidikan selama kurang dari dua tahun dan baru saja dia selesaikan lima bulan yang lalu dengan nilai sangat memuaskan- cumlaude.
Karena kepintaran dan prestasinya, membuat Arcella dipinang oleh salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia yang berpusat di Hamburg dengan cabangnya yang ada di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Hal itulah yang menyebabkan Arcella tak bisa langsung kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan-nya.
Gadis itu harus menjalani training selama enam bulan di kantor pusat, sebelum akhirnya nanti dia mendapatkan surat tugas untuk penempatan dirinya. Kemarin merupakan hari terakhir test dari kantor pusat untuk Arcella dan hasilnya seperti biasanya, gadis itu bisa lulus dan mendapatkan peringkat teratas.
Kebahagiaan Arcella pun semakin memuncak ketika dia mendapatkan tempat tugas di Indonesia. Semalam teman-teman Arcella pun memberikan fare well party sekaligus perayaan untuk mereka memulai kerja di tempat baru, tempat di mana mereka di tugaskan tentunya.
Management pusat memutuskan Cella ke Indonesia karena melihat Cella yang berkebangsaan Indonesi, kebetulan kantor cabang mereka di Indonesia masih banyak melakukan pengembangan dan tentunya banyak masalah di sana karena masih merupakan cabang baru. Antara senang dan sedih, Arcella pun menerima semua keputusan management dengan penuh semangat.
“Akhirnya, satu bulan lagi aku bisa kembali ke Indonesia,” guman Cella yang kini tengah menikmati secangkir kopi latte hangat dan croisant yang baru saja dia hangatkan di microwave.
Dia menatap keluar jendela apartemen-nya yang memberi pemandangan taman yang indah. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Arcella, seolah tengah melepaskan beban berat di hatinya, jika boleh Arcella memilih saat ini dia ingin tinggal di Jerman saja.
“Kamu pasti bisa Arcella! Ingat! Kamu harus terus berjuang demi mama, lebih cepat lebih baik sampai Indonesia! Setidaknya kamu bisa dengan cepat bertemu mama dan menyelamatkan mama dari tempat itu.” batin Arcella memberi semangat pada dirinya sendiri.
Tapi semua tak bisa dia lakukan karena sang mama yang masih menetap di Indonesia dan membutuhkan pertolongannya. Salah satu alasan kenapa Arcella ingin menjadi orang sukses karena sang mama yang saat ini masih terjebak di dalam keluarga sang papa.
“Mama, Cella akan cepat pulang! Mama tunggu Cella! Kita akan bersama lagi dan hidup bahagia,” gumamnya sendu.
Diantara anggota keluarganya hanya sang mama dan kakak lelakinya saja yang menyayangi Arcella dengan setulus hati. Tapi sang kakak Cairo Akhles juga pada akhirnya tak sanggup hidup di dalam rumah keluarganya dan memilih untuk meninggalkan sang mama sendirian di rumah yang menjadi neraka bagi Arcella.
“Mama, Cella harap mama baik-baik saja! Maafkan Cella yang terlalu lama pergi, besok saat Cella kembali, Cella akan membuat mama tersenyum kembali,” janji Arcella dalam hati penuh kesungguhan.
Matanya mulai mengembun, gadis itu akan selalu meneteskan air matanya ketika dia mengingat sang mama. Tapi sang mama selalu mengatakan kalau beliau pasti baik-baik saja selama Arcella dan Cairo juga baik-baik saja, sang mama memang perempuan kuat dan tegar, itulah kenapa juga menjadi perempuan kuat.
Diusapnya air mata yang kini sudah menetes di pipinya, gadis itu tahu tak ada gunanya dia menangis. Dia harus membangun benteng pertahanan dan melawan semua kejahatan keluarganya sendiri, dia harus lebih kuat. Sepuluh tahun sudah Arcella membangun pertahanan, dia sudah menunggu sangat lama hari di mana dia akan mengibarkan bendera perang.
Dia pun bergegas mengambil ponselnya, dengan mata yang masih mengembun Arcella mulai menggerakkan jempolnya berselancar di layar pipih berlambang buah apel yang ujungnya hilang dimakan tupai. Dengan cepat dia pun mulai mencari seseorang yang namanya saat ini sudah bercokol di otaknya.
Dia yang matanya masih tak begitu jelas pun mulai menekan dengan cepat ketika nama orang yang dia maksud terpampang di layar ponselnya. Sebuah panggilan mulai tersambung, dai sabar menunggu, sialnya sampai dengungan terakhir ponsel itu tak dijawab. “Dia ke mana sich? Kenapa gak diangkat juga?” gerutu Arcella kesal.
“Ini jam berapa sich? Masak jam segini udah tidur? Harusnya di sana kan masi sore?” omel Arcella lagi yang akhirnya menoleh pada jam yang terpasang di salah satu dinding apartement itu. ”Baru jam segini, masak udah molor sih?” kesal Arcella yang pada akhirnya menatap layar ponselnya dengan kesal.
Ponsel itu terjatuh ke lantai seketika, beruntung lantai itu dilapisi karpet tebal hingga tak membuat benda pipih itu rusak berserakan di lantai. Membulat sudah mata Arcella kali ini ketika nama yang tertera di sana bukan nama sahabatnya Alvano Pratista melainkan nama lelaki yang selama ini selalu Cella hindari.
Lelaki yang menjadi cinta pertamanya, teman kecilnya tapi juga sangat membenci dirinya karena kesalahanpahaman diantara mereka. Kebencian yang datang karena ulah kakak pertamanya yang bernama Vanesa Zaila Caluella, kakak kandung namun bertingkah seperti musuh bebuyutan.
“Ya Tuhan! Ini kan -,” Cella tak mampu lagi berkata-kata saat ini, pikirannya sudah melayang jauh kemana-mana.
Sungguh dia tak menyangka kalau dia sudah menghubungi lelaki yang paling dia hindari di dunia ini. Lelaki yang membuatnya kebingungan mencari jawaban akan perasaan dia yang sebenarnya, sebuah rasa cinta dan benci yang saling bergumul di dalam hati Arcella.
“Kenapa harus nyasar ke dia sih?” gerutu Arcella dengan perasaan campur aduknya. Apalagi pikiran Cella yang akan selalu ke arah negatif jika sudah berhubungan dengan lelaki yang berprofesi sebagai pelaut itu.
“Cella! Kenapa kamu ceroboh sekali Cel!” pekik Arcella pada dirinya sendiri.
Dia mulai kebingungan harus bagaimana saat ini, dicengkeram erat rambutnya mencoba untuk mengurangi kekesalan di dalam hatinya. “Kenapa juga harus dia sih Tuhan? Kenapa bukan orang lain juga?” kata Arcella lagi.
“Aaaagghrrrr!” teriak Arcella yang sudah mulai frustasi.
“Gila! Apa yang bakalan dia pikirin tentang aku coba? Aku orang pertama yang menghubunginya setelah sekian tahu kami tak pernah bertemu atau berkomunikasi?”
“Cella! Kecerobohanmu kali ini sudah diambang batas! Bagaimana bisa kamu begitu bodoh!” omel Arcella pada dirinya sendiri
Gadis yang saat ini tengah duduk di bibir ranjang tempat tidur pun hanya bisa berguling di tempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal penuh penyesalan. Terlalu kesal Arcella pun berteriak di bawah bantal yang dia tutupkan ke wajah ayunya itu. “Ya Rabb! Tolong! Semoga dia tak menyadari nomor ponselku!” doa Cella penuh harap.
"Cella! Di mana otak kamu sich? Kenapa bisa mata kamu jadi merem gitu? Mana udah jam segini lagi. Tuhan- aku pasti ganggu tidurnya, kenapa sich ceroboh banget! Ya ampyun! Wanita apakah aku ini? Bisa-bisanya telepon lelaki jam segini?” Arcella benar-benar mengumpat dirinya sendiri kali ini.
Belum juga kembali ke Indonesia dia sudah membuat masalah dengan lelaki yang paling tidak ingin dia temui saat ini. Lelaki yang menjadi tunangannya tetapi juga membencinya setengah mati, lelaki yang menjadi cinta pertamanya tapi juga menjadi lelaki yang menghancurkan hidupnya.
Hati Arcella saat ini sangat was-was, dia sungguh tak ingin berhubungan lagi dengan lelaki itu ta[i kenapa juga dia malah menelpon lelaki itu. Arcella terus berdoa agar lelaki itu tak menyadari panggilan yang Arcella lakukan, dia terus merapalkan doa memohon kepada Tuhan agar kali ini dia dilindungi.
“Tuhan yang baik, tolong hamba-Mu yang ceroboh ini kali ini, tolong jangan biarkan dia melihat atau memperhatikan panggilan itu, aku mohon Tuhan aku hanya ingin hidup bahagia dan damai. Tolong bantu aku agar aku tak banyak berurusan dengan lelaki itu,” pinta Arcella dengan khusyuk.
“Tuhan kalau memang kami harus bersama dan menjalani pernikahan itu, berarti dia jodohku kan? Kalau iya tolong beri aku jalan terbaik dan kemudahan melewati hari-hariku bersamanya.” Arcella memohon kembali.
Getir rasanya hati Arcella saat ini, rasanya enggan melangkah tapi hidup terus berjalan, dia tak mungkin berhenti dan menghilang begitu saja. Dadanya yang kini mulai terasa sesak ketika mengingat semua ucapan lelaki itu di hari pertunangan jebakan mereka hanya bisa meremas ujung t-shirt yang dia pakai saat ini.
Bagaimana rasanya harus menikah dengan posisi cinta bertepuk sebelah tangan, bagaimana bisa dia menjalani kehidupan pernikahan yang damai ketika sang suami begitu membencinya, bagaimana dia bisa meluluhkan hati suaminya ketika melihat dirinya saja sang suami enggan.
Ditambah dengan penampilannya yang sangat aneh nantinya, dia yang harus berpenampilan jelek, cupu dan kampungan. Memang cinta yang tulus tak memandang fisik, penampilan atau apapun itu, tetapi wanita tetaplah wanita yang insting utamanya adalah penampilan.
Secuek, setomboy apa pun perempuan itu, tetap saja mereka akan memikirkan penampilan mereka karena itu sudah menjadi kodratnya. Perempuan dan penampilan itu seperti benda dan bayangan, penampilan juga bisa membuat seseorang memiliki rasa percaya diri karena penampilan itu citra diri seseorang.
Lalu bagaimana dengan Arcella yang harus berubah menjadi sosok yang bukan dirinya sendiri, dia yang harus menjadi orang lain. Karena semua hal itulah perasaan Arcella campur aduk, gadis itu hanya bisa memasrahkan semua kepada Tuhan sang pemilik hidup.
“Tuhan, aku tahu Engkau adalah penolongku yang paling utama, jadi aku pasrahkan semua hidupku pada-Mu Tuhan, apa pun itu aku akan ikhlas untuk menerimanya.” Arcella berucap dengan penuh keikhlasan dan penuh harap.
Sehari, dua hari, tiga hari berlalu nyatanya tak ada panggilan dari nomor tak dikenal maupun nomor luar negeri di ponselnya membuat keresahan Arcella perlahan menghilang dan berganti kelegaan. Kecerobohan-nya kemarin itu ternyata dilindungi Tuhan, mungkin memang benar kata orang alau doa orang teraniaya itu banyak di kabulkan.
Salah satunya doa Arcella beberapa hari kemarin yang continue. Meski lega tapi gadis itu juga merasakan kekecewaan, dia lega karena pada akhirnya dia tak perlu berpikir keras untuk mencari alasan untuk menjelaskan kenapa sampai dia menelpon tunangan-nya yang seperti iblis pencabut nyawa bagi Arcella.
Tapi di sisi lain hati Arcella pun dipenuhi kesedihan, dengan lelaki itu tak menghubungi dirinya itu juga berarti kalau Arcella memang tak pernah dianggap oleh lelaki itu. Lelaki itu masih menyimpan kebencian yang memuncak pada Arcella, padahal Arcella sebenarnya tak bersalah apa pun.
“Huh! Emang kamu siapa, Cella?! Di mata lelaki itu kamu itu seperti parasit yang sudah merusak kehidupan sempurnanya bersama rubah betina itu. Dan sekarang apa yang kamu harapkan?” kata Arcella dalam hati sembari menatap langit Jerman malam itu yang dipenuhi bintang.
“Jangan terlalu berharap banyak, Cella! Perlahan lupakan saja dia, Cella!” kata gadis cantik itu lagi pada dirinya sendiri. “Tapi apa iya kamu bisa melupakan dia? Adanya Auriga saja di samping kamu, tetap tak bisa membuat kamu lupa dengan lelaki itu!” lanjut Arcella sembari menghembuskan nafasnya putus asa.
“Aaagggrhrhh,” pekik Cella kesal. “Ya sudahlah jalani saja Cella! Mau dia suka atau gak! Mau dia jahat atau gak! Pokoknya jalani saja! Biarkan tangan Tuhan yang mengatur semuanya!” kata Arcella pada akhirnya pasrah dengan semua keadaannya yang serba tak nyaman.
Jantungnya berdetak cepat ketika ponselnya berdering nyaring, bayangan lelaki yang paling tidak ingin dia temui muncul seketika. “Siapa itu? Tuhan please! Kumohon bukan orang itu” batinnya dalam hati lalu perlahan mendekati ponselnya yang terletak di atas meja ruang tamu dengan perasaan tak karuan.
Dengan sisa harapan Arcella pun perlahan melongok dengan mata sedikit tertutupnya untuk mengintip nama yang tertera di layar ponselnya. Hembusan nafas lega kini keluar dari Cela. Dengan senyuman kecilnya yang dipenuhi kelegaan setelah melihat nama yang tertulis di sana adalah nama sahabatnya Vano ,dengan penuh semangat dia pun mengangkat nya. “Hallo Van,” sapa Arcella penuh senyuman bahagia.
“How are you?” tanya Vano.
“Fine, kamu gimana? Apa Jakarta baik-baik saja?”
“Hmm, semua baik,” kata Vano di seberang sana dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, lelaki itu sedikit merasa tak nyaman karena sebenarnya di hatinya saat ini tengah terganjal sesuatu dan sialnya itu juga berkaitan dengan Arcella.
Tak mau membuat Arcella curgia dan merasakan ketidak nyaman-nya, Vano pun akhirnya mencoba bersikap wajar dan memulai perbincangan ringan diantara keduanya.
Lelaki keturunan Thailan, Cina dan Jerman itu pun akhirnya menceritakan tentang nyonya Gina- ibu Arcella yang sudah menempati rumah Arcella. Sang mama setuju dengan permintaan Arcella untuk menetap di rumahnya setelah dia kembali ke Jakarta.
Tak seorang pun tahu kepulangan Arcella kecuali ibu, kakak, sahabat-sahabatnya dan keluarga Vano. Semua sengaja Arcella lakukan karena banyak hal, terutama dia ingin menghindari keluarga Zale, tunangan terpaksanya. Nyonya Gina yang selama ini bertahan di rumah keluarga Calluella akhirnya menyudahi semua kesabarannya, beliau pun mengikuti jejak kedua anak yang selalu berada di sisinya.
Sesuai kesepakatan mereka bertiga (Cella, Cairo, dan mama nya) beliau pun menuruti semua perjanjian yang mereka buat sebelum kedua anak-nya pergi meninggalkan rumah. “Aku minta bantuan kak Ronald buat ngurusin semua,” ucap Vano.
“Kak Ronald?” pekik Arcella kaget, Ronald adalah kakak Vano yang berprofesi sebagai pengacara, jadi lelaki itu bisa melindungi nyonya Gina secara hukum dari kejahatan keluarga Caluella. “Apa mereka mempersulit mama, Van?” tanya Arcella khawatir.
“Sedikit, seperti biasanya nenek lampir sama siluman rubah bertingkah nyusahin tante Gina.”
“Apa yang mereka lakukan Van?”
“Udah gak usah dipikirin! Yang penting tante Gina udah tenang sekarang dan mereka gak bisa menyentuh tante Gina karena ada bang Ronald.”
“Terima kasih Van! Maaf Van aku jadi merepotkan kamu sekeluarga.”
“Gak Cel, kami juga udah gak tega liat tante diperlakukan seperti itu sama nenek dan papa mu, terus sekarang ditambah kelakuan kakak perempuanmu itu yang merasa dirinya itu ratu sejagat.”
“Dia bukan kakak perempuanku! Dia adiknya mas Cairo!” kilah Cella yang memang sudah muak sekali dnegan kakak pertamanya itu. Sebenarnya Cella tak pernah membenci sang kakak, tapi lebih kearah udah gak respek saja.
Apalagi setelah melihat Vanesa kakaknya itu lebih membela papa dan keluarga besar sang papa yang selama ini selalu menjadi benalu di dalam keluarganya hingga sang mama harus mengalami banyak penderitaan. Cella leboh tersakiti lagi ketika melihat bagaimana Vanesa tega menganggap sang mama seperti pembantu dan dengan terang-terangan mengatakan kalau dia malu punya ibu seperti nyonya Gina.
“Van, apakah selama ini mama sangat menderita? Katakan sejujurnya padaku Van! Aku tahu kamu menutupi semua karena permintaan mama kan? Dan, aku bisa tebak, kalau yang kamu ceritakan padaku selama ini itu pasti hanya bagian kecilnya saja bukan Van.”
“Maaf Cel, tante melarangku, aku gak sanggup berbohong padamu makanya aku- seperti yang kamu bilang, hanya secuil yang kuceritakan”
“Aku tahu! Kau gak salahin kamu, setidaknya kamu memberi aku info meski hanya kode saja.”
“Sorry, aku udah terikat janji sama tante.”
“Oke, sekarang bisa kan ceritakan semuanya dengan detail?” pinta Arcella yang baru saja menyelesaikan kegiatan hari ini berbenah dan mengepak semua barang-barangnya ke kardus untuk dia paketkan ke Indonesia.
Tak lama setelahnya Vano pun menceritakan semua hal yang dia ketahui tentang nyonya Gina kepada Arcella. Kali ini tak satu pun yang ditutupi oleh Vano, semua lelaki itu jelaskan secara gamblang dan terang. Hati Arcella rasanya seperti di remas, gadis itu memang sudah bisa menebak apa saja yang akan nyonya Gina terima selama beliau masih tinggal di rumah keluarga Caluella.
Tak jauh beda seperti yang Arcella lihat ketika masih tinggal di rumah neraka itu. Tapi entah apa yang membuat nyonya Gina memilih terus bertahan daripada pergi keluar dari rumah itu, sebuah rahasia yang belum bisa Arcella dan Cairo pecahkan.
“Sejak kepergian kamu dan kak Cairo perlakuan mereka semakin buruk sama mama kamu, mereka menyalahkan mama kamu karena kak Cairo pergi dari rumah. Karena itu juga mereka semakin membuat mama kamu seperti pembantu di rumah itu, terutama si nenek lampir yang tak henti-henti nya memfitnah mama kamu, dan seperti biasa papa kamu tak pernah membela beliau.” Vano menceritakan keadaan nyonya Gina.
“Yang semakin membuat aku dan keluarga aku muak itu si mak lampir! Tingkahnya malah semakin menjadi! Dia seenak udelnya aja ambil uang di butik tanet Gina buat dia foya-foya! Tante Gina jadi gak enak akhirnya mama kamu memilih keluar dari butik dan menyerahkan butik pada kakak iparku, mama kamu hanya dapat share profit saja.”
Air mata turun deras membasahi pipi Arcella, gadis itu sungguh merasa sangat bersalah pada nyonya Gina karena tak berada di samping beliau ketika beliau mederita. Inilah yang tak di sukai Vano dan tak diinginkan oleh nyonya Gina ketika dia harus menceritakan secara gamblang nasib beliau, air mata Arcella terlalu berharga bagi nyonya Gina.
“Mama, mulai sekarang aku akan buat mama bahagia!” janji Arcella dalam hati penuh keteguhan. “Aku beneran gak tahan Van! Aku mau percepat kepulanganku aja! Pokoknya aku bakalan bawa mama pergi jauh dari tempat itu Van, gak aku ijinin mereka seidkit pun menyentuh mama!” kata Arcella penuh kemarahan.
“Iya Cel! Kan sekarang juga udah kamu bawa pergi, Cel! Jadi please jangan menangis lagi ya? Sudah cukup, mama-mu sudah aman sekarang beliau sudah tinggal di rumah kamu jadi jangan khawatir, aku juga sudah memberikan dua orang pembantu untuk menjaga tante,” kata Vano menenangkan Arcella.
“Makasi Van.”
“Kaya sama siapa aja, Cel! BTW kakak-mu sudah aku kasih kabar setelah pulang dari Jepang dia akan segera kembali ke rumahmu, oh ya Cel, tante minta tolong kak Xavier buat mengurus tentang perceraian.”
Bak disambar petir Arcella mendengar kabar itu, dia sungguh tak pernah menyangka kalau pada akhirnya nyonya Gina mengambil keputusan itu. Sebuah keputusan yang sangat final, meski Arcella tak suka dengan sang papa tapi dia juga tak ingin keluarganya tercerai berai. “Apa?”
“Aku gak tahu Cel, tante kemarin minta kak Xavier untuk mengurus tentang perceraian, makanya aku telepon kamu, apa tante ada bercerita?”
“Gak, mama gak cerita apa pun sama aku soal cerai, mama hanya bilang akan ikut dengan aku dan mas Cairo saat kami sudah sukses.”
“Baiklah Cel, mungkin tante punya pemikiran sendiri, nanti saat kamu udah balik kamu harus tanya sendiri sama beliau.”
“Hmm, meski itu berat tapi aku dan mas Cairo sebenarnya sudah bisa menduga hal ini. Hanya saja kami berdua masih berharap papa bisa kembali seperti dulu! Kata mas Cairo, dulu papa itu lelaki paling penyayang yang pernah mas Cairo lihat.”
“Hmm, aku pernah dengar itu juga dari kaka Xavier dan kak Ronald. Papa kamu itu lelaki idaman para istri, karena papa kamu itu selalu menjadikan mama kamu ratu dan kalian anak-anaknya sebagai putri dan pangeran.”
“Iya kata mas Cairo papa begitu penyayang, tapi setelah nenek pindah tinggal di rumah dan om Hasto masuk ke perusahaan semua perlahan berubah. Rumah itu menjadi seperti neraka buat mama dan papa hanya bisa terdiam tak bisa bertindak tegas untuk melindungi mama.”
“Ya sudah, aku udah kasih tahu kamu, tolong persiapkan diri kamu saat kamu kembali ke Indonesia.”
“Oke, I’ll do it, thank you.”
Panggilan itu pun berakhir, kini Arcella merasa sangat bingung dia tak tahu mengenai perihal perceraian, sesungguhnya di dalam hatinya dia tak ingin memiliki keluarga yang tercerai berai namun dia juga tak ingin melihat penderitaan sang mama.
Arcella memang meminta mama nya meninggalkan rumah itu tapi hanya meninggalkan bukan untuk bercerai. "Apa yang harus aku lakukan?apakah ini baik? Apakah mama bercerai karena aku? Ah... Aku gak mau menjadi penyebab perceraian kedua orang tuaku, dia tetap ayahku juga” guman Arcella.
Kesedihan nampak jelas di wajah ayu-nya tetesan air mata mulai menuruni pipi nya, hatinya sangat sakit saat harus mengingat semua hal di masa lalu, kehidupan yang meninggalkan sakit dan trauma. Dia tahu pasti jika dia akan mengalami hal-hal buruk saat kembali ke Indonesia.
Bayangan pertemuannya dengan keluarganya, juga bayangan bertemu dengan cinta pertamanya yang membencinya- Zale, juga bayangan bertemu dengan lelaki yang sangat mencintainya dan memberinya harapan untuk kembali bangkit tapi menghianatinya - Auriga. Entah lah Arcella hanya bisa menekan dadanya yang terasa nyeri saat mengingat masa lalu.
Tempat itu memberiku banyak kenangan buruk, tapi tempat itu juga tempat di mana aku harus bertahan demi mama ku,” ucapnya lagi dengan penuh kesedihan. “Bagaimana nasibku ke depannya ya Tuhan? Apakah aku harus menjadi istri lelaki itu? Akan kah ada kebahagiaan untukku? Ya Tuhan, hanya engkau yang tahu jalan hidupku, aku ikhlas ya Rabb.” kata Arcella berpasrah.
“Semaksimal mungkin aku harus menyembunyikan kepulangan aku! Aku harus menunda pernikahan itu bagaimana pun juga!” ucap nya lagi.
Perjalanan panjang memakan banyak waktu, cukup membuat badannya tersa pegal. Arcella yang sudah duduk di salah satu kedai coffe yang ada di sana, sambil menikmati camilan chiken pop corn melihat kembali pergelangan tangannya lima belas menit berlalu, namun sang sahabat belum juga terlihat. “Ke mana si sayur ini?” gumam-nya, dia pun mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan. “Hallo,” ucap Arcella.
“Hallo icy, sorry ini udah sampe parkiran, macetos bebeb, pardon me,” ucap perempuan cantik dengan gaya nada centil itu.
“Dasar sayur molor aja terus kamu itu, pasti kamu telat bangun kan?” kata Arcella to the point mengingat kebiasaan sahabatnya itu.
“Kamu emang paling mengerti aku my icy bebeb, udah di parkiran kok.”
“Ya udah, aku ke sana, bisa jamuran di sini!” ucap Arcella, lalu berjalan menuju ke parkiran.
Gadis itu terus berjalan menyusuri lorong yang akan membawanya ke parkiran di mana sahabatnya yang centil dan sedikit jam karet itu berada. Dia berjalan dengan cukup terburu, sedikit bingung karena banyaknya perubahan di bandara Soeta setelah hampir tiga tahun dia tak menjejak-kan kakinya di bandara kebanggaan negara Indonesia itu.
Ditambah troly yang berisi kopernya yang cukup lumayan banyak membuat dia berjalan sedikit tak berkonsentrasi. Matanya yang sibuk menatap petunjuk arah pun membuat dia sembarang menarik trolinya hingga saat matanya menatap tulisan yang menunjukkan arah di mana temannya berada, dia yang cukup tergesa menarik trolinya dengan sembarangan.
‘Bruk’
Sakit hidung Arcella saat ini karena baru saja terbentur benda yang cukup keras, perlahan Cella pun mengelus hidungnya sembari menegakkan wajahnya hendak menatap benda yang ada di depannya. Tak nyaman sudah perasaan Arcella karena ternyata dia menabrak punggung seseorang yang jelas dia bisa tebak kalau itu seorang lelaki yang tinggi dan gagah.
“Maaf, saya tidak sengaja, maaf,” ucapnya dengan rasa bersalah. Lelaki dengan tubuh menjulang tinggi, kekar dan wangi itu sukses membuat kening dan hidung Arcella sedikit terasa berdenyut. “Maaf, saya gak sengaja tuan,” ucapnya lagi sambil berusaha mendongakkan wajahnya melihat siapa lelaki itu.
“Gak papa, saya juga salah karena berhenti mendadak,” jawab lelaki itu datar.
Mata Arcella membelalak setelah mendapati wajah lelaki itu, jantungnya berdegup kencang membuat tangan-nya mulai berkeringat. Namun, secepat kilat gadis itu segera merubah ekspresinya karena tak ingin terlihat aneh di depan lelaki yang ada di depannya itu. Lelaki tampan dengan sejuta pesona mematikan tapi dingin.
“Sekali lagi maaf tuan saya gak sengaja, permisi dan sekali lagi saya mohon maaf,” ucapnya dengan menundukkan kepalanya sejenak setelahnya Arcella pun berlalu tanpa melihat ke arah lelaki itu.
Lelaki tampan itu memandang Arcella dengan ekspresi yang sulit diartikan sampai punggung Arcella menghilang di balik lorong. “Cantik, imut” ucap lelaki itu dalam hati kemudian berlalu.
Jantung Arcella berdetak kencang saat ini, untung saja dia bisa segera pergi dari hadapan lelaki tampan itu yang tadi menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi itu. “Ya Tuhan ini sudah bertahun-tahun tapi kenapa jantungku masih saja berdegup tak karuan begini?” ucapnya dalam hati. “Kenapa di dunia yang begitu luas aku harus bertemu dengannya lagi di sini Tuhan?” tanyanya dalam hati.
Kini Arcella telah sampai di parkiran, gadis itu mengambil ponselnya untuk meminta sang sahabat memberitahukan poisisinya. Setelah mendapat jawaban Cella dengan cepat bisa menemukan posisi temannya Cinta yang begitu cantik dengan kacamata keluaran dari salah satu brand ternama oliver peoples warna hitam.
Gadis itu tersenyum manis saat melihat Arcella, dia melambaikan tangannya pada Arcella. Keduanya berpelukan sejenak, setelahnya Arcella pun mengomel tak karuan pada sang sahabat. “Lama banget! Aku jadi ketiban sial” gerutu Arcella membuat Cinta hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu cantik banget sayangku, cemberut aja cantik apalagi senyum?" ucap Cinta membuat Arcella semakin gemas dengan sahabatnya yang super ceroboh dan cuek itu. "Kalau kamu begini aku yakin orang-orang itu gak bakalan ada yang kenal sama kamu dech," lanjut Cinta dengan mata yang menyoroti Arcella dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Hmm, makasih. Tapi ini Jakarta, Yur! Tahu kan apa artinya? Aku bakal kembali menjadi si cupu yang aneh," jawab Arcella.
"Ah, iya kamu benar Cel, tapi gak papa juga kan kalau kamu sekarang berpenampilan cantik? Mereka kan sudah gak bisa mengusik kamu." Cinta mencoba membuat Arcella kuat.
Bukan hal yang mudah untuk Arcella kembali ke Jakarta, kota dengan sejuta kenangan buruk. Luka yang sudah tertutup itu bahkan bisa dengan mudah terbuka hanya melihat orang-orang lama yang selalu ingin Arcella hindari. Nyatanya baru saja menjejakkan kakinya di bandara, luka hatinya terbuka kembali, bayangan hinaan, cacian dan ancaman kembali mengisi otak cantiknya.
"Gak semudah itu, Cinta!" Arcella berkata sembari menghela nafasnya panjang.
Dia yang sudah mempersiapkan mentalnya beberapa bulan sebelum hari kelulusan-nya nyatanya tetap saja merasakan nerveous dan ketidak nyamanan di hatinya saat pesawat itu mendarat tadi. Menghadapi mimpi buruk memang tak semudah itu, saat jauh mungkin seseorang bisa berkata ‘Aku bisa, aku sudah kuat’ tapi saat mereka dihadapkan dengan mimpi buruk itu lagi rasa gentar yang tadi kuat bisa menurun kadarnya.
Kepercayaan yang tadinya mencuat tinggi pun perlahan menurun, tapi bukan berarti mereka akan lari, melainkan mereka tetap butuh waktu untuk pemulihan sejenak dan mulai menghadapi semua mimpi buruk yang mulai mendekat. Trauma itu selalu ada tapi setiap orang bisa menyelesaikan semuanya karena mau dan kekuatan itu ada dalam diri mereka masing-masing.
Mereka yang bisa memutuskan untuk melawan atau menyerah, dan mereka juga lah yang bisa menghentikan semua ketakutan dari dalam diri mereka masing-masing. Begitu juga dengan Arcella yang menyusun kembali kekuatannya, percaya dirinya dan keyakinannya tadi sebelum dia turun dari atas pesawat.
Sebagai sahabat tentu Cinta sangat tahu apa yang dirasakan Arcella meski tak bisa seratus persen mengerti setidaknya Cinta mengerti apa arti patah hati, dihancurkan dan bangkit yang dilewati oleh Arcella. Karena hal itu juga lah Cinta memilih untuk diam dia tak mau menambah beban sahabatnya, gadis itu pun segera menghibur Arcella dengan semua hal yang dia bisa lakukan.
Kini keduanya sudah beres memasukkan barang bawaan Arcella ke dalam bagasi, setelahnya mereka pun masuk mobil untuk segera pergi dari tempat itu. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan parkiran, keduanya pun mulai saling bercerita melepas rindu. Tempat parkir yang cukup luas membuat mereka bisa bercerita panjang lebar.
“Masi gak berubah ya tukang ngomel! Pantesan aja gak dapet cowok bule di sana! Tapi mending gak dapet sih tar kaya yang lalu juga! Sekalinya dapet diembat dech sama ratu setan!” canda Cinta setelah melihat mood Arcella mulai membaik.
“Hmm, berarti dia bukan jodoh aku, dia gak setia trus kenapa dong harus dipertahanin?” jawab Cella diplomatis.
“Setuju! Tapi jangan kaya kamu juga, udah disakitin tapi tetep aja lope, parahnya lagi dia beneran jadi pemilik hati kamu satu-satunya sampai saat ini.”
“Sial! Ngena banget gitu Ta? Tapi ngaca juga lah kamu!” ledek Arcella membuat Cinta terkekeh.
Namun, tiba-tiba Rachita mengerem mendadak, membuat Arcella sampai hampir terkatuk dasboard. Arcella kebingungan menatap Cinta sembari mengomel, “Bisa nyetir gak si Ta?”
“Sorry... Sorry gak sengaja! Liat gak yang barusan lewat? Di mobil itu?” tanya Cinta sembari menunjuk mobil di sebelah mereka saat hendak membayar karcis parkir, mobil dengan jendela kaca yang terbuka setengah menampakkan wajah penumpangnya.
Dengan cepat Arcella menggeleng. “Emang siapa, Cin? Afgan? Atau artis siapa?” jawab Arcella polos begitu saja.
“Bukan!”
“Siapa?”
“Buka mata kamu, lihat itu mobil sebelah!” titah Cinta sambil menunjuk sosok lelaki ganteng yang mereka kenal baik.“Calon laki kamu” lanjutnya dengan tangannya yang menunjuk ke arah mobil yang ada di samping mobil mereka tengah membayar parkir.
Arcella berdecak mood nya sedikit berantakan kembali setelah menatap wajah lelaki yang hanya terlihat sampingnya itu. Tak perlu melihat keseluruhan wajah lelaki itu Cella sudah tahu siapa dia, lelaki yang membuatnya sakit hati dan terluka.
Meski begitu mata Arcella tak bisa terlepas dari wajah lelaki itu, campur aduk sudah hati Cella, antara bahagia, sedih, lega, kecewa sudah seperti permen nan0-nano. Cella menatap lelaki itu dalam diam dan intens membuat Cinta sahabatnya tersenyum kecil.
“Masih ya tatapan dengan penuh arti?” celetuk Cinta.
“Gimana aku gak natap dia dengan penuh arti kalau di otakku saat ini juga banyak muncul pertanyaan menyesakkan, Ta?” kata Arcella dengan tatap nanar dan menghembuskan nafasnya perlahan seolah ingin membuang beban beratnya. “Apa benar aku akan menghabiskan hidupku sama dia, gak kebayang bagaimana hidupku nanti Ta, bakal suram atau kah bisa bersinar.”
"Aku juga gak tau Cel, tapi kamu udah terima perjodohan itu.”
“Sebenarnya itu bukan perjodohan tapi lebih ke jebakan, bisa gak ya berubah keadaannya.” ucap Arcella sendu.
“Hanya Tuhan yang tahu Cel! Tapi kamu menerima itu juga demi keselamatan mama kamu kan, Cel? Jadi Tuhan pasti akan tunjuk-kan jalan yang terbaik Cel! Kalau memang kalian jodoh akan ada jalan! Tapi kayaknya kalian memang jodoh dech!"
“Jodoh dari mana?”
“Nyatanya kalian selalu dipertemukan kan? Sayangnya laki kamu itu gak tahu penampilan kamu yang sebenarnya, yang dia tahu ya kamu yang cupu itu kan?”
“Tau, Ah! Aku capek kalau harus mikirin dia dan semua tentang keluargaku, Ta!”
“I know it hard! Ratu setan itu selalu buat masalah terus sama kamu, dulu si Zale yang di rebut, sekarang Haden!" kata Cinta penuh kebencian. "Tapi Haden juga bego, dia kan tahu kelakuan ratu setan tapi kenapa dia malah pilih ratu setan itu daripada kamu sih?" lanjut Cinta.
“Sudahlah, semoga aku bisa bertemu dengan soulmate ku dan kebahagiaan benar-benar menghampiriku." Arcella berucap dengan pasrah, Cinta pun mengangguk dan memberi dukungan pada sahabatnya itu.
“Aamiin,” kata Cinta dengan cepat.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Arcella yang sudah dipersiapkan oleh Vano. Cinta tahu seberapa berat kehidupan Arcella selama ini, mulai dari diperlakukan tak adil oleh keluarganya, cinta yang diambil paksa oleh kakak perempuannya, terjebak pertunangan yang mengerikan dan satu hal yang paling menyakitkan yakni dibenci oleh orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Untung saja Arcella masih memiliki sang mama dan Cairo kakak lelakinya, mereka selalu ada di sisi Arcella, mereka menjadi garda depan yang selalu membela juga menyayangi Arcella. Sungguh sial nasib Arcella, hanya karena kepercayaan yang dianut sang nenek dari papanya membuat ayah, nenek dan kakak perempuannya membenci Arcella. Padahal Arcella itu anak yang cantik, pintar dan baik hati.
Selama ini Arcella selalu diam meski diperlakukan berbeda, dia bahkan tak membenci sang papa yang pernah menganggapnya anak. Pahitnya hidup membuat Arcella tumbuh menjadi sosok perempuan kuat dan tomboi, meski pun berpenampilan seadanya bahkan selengekan kecantikannya tetap terpancar.
Vanessa sang kakak perempuan yang jahat dan selalu iri pun merasa tersaingi, Arcella yang lebih sering mendapat pujian dibanding Vanessa membuat kebencian Vanesaa pada Arcella semakin memuncak. Vanessa semakin sering menyakiti Arcella, membuat sang mama pun akhirnya membuat penampilan Arcella menjadi cupu.
“Cel, welcome to the real junggle! Tapi aku yakin kalau lelaki itu memang jodoh kamu!” kata Cinta sesaat sebelum mobil memasuki kawasan tempat tinggal Arcella.
“Hmm, welcome to the war!” jawab Cella dengan senyuman getirnya.
“Apa pun itu, aku yakin kamu bisa melewatinya dengan baik! Dan, satu lagi sepertinya dia memang jodoh kamu Cel! Nyatanya orang pertama yang kamu temui sejak kaki kamu menginjak tanah Indonesia adalah dia!” kata Cinta membuat Arcella dengan cepat melayangkan tangannya dan mendarat mulus di lengan Cinta membuat gadis cantik berkaca mata itu memekik kesal.