Sampul Novel Hello, My Secret Boyfriend

Hello, My Secret Boyfriend

9.2 / 10.0
Dikhianati oleh pacar dan sahabat sendiri membuat hari-hari kuliah Daniar terasa begitu berat. Di masa terpuruk ini, ia menemukan pelipur lara lewat obrolan daring tanpa identitas bersama akun @heroisme34. Keadaan kian pelik ketika Daniar terpaksa bersinggungan dengan Sabda, senior berambisi besar yang mengincar posisi Presiden BEM. Sosok Sabda perlahan menyulut nyali Daniar untuk menentang ketidakadilan. Kini, ia bimbang memilih satu di antara dua pria yang hadir membawa perubahan dalam hidupnya.
Ringkasan Hello, My Secret Boyfriend
Dikhianati oleh pacar dan sahabat sendiri membuat hari-hari kuliah Daniar terasa begitu berat. Di masa terpuruk ini, ia menemukan pelipur lara lewat obrolan daring tanpa identitas bersama akun @heroisme34. Keadaan kian pelik ketika Daniar terpaksa bersinggungan dengan Sabda, senior berambisi besar yang mengincar posisi Presiden BEM. Sosok Sabda perlahan menyulut nyali Daniar untuk menentang ketidakadilan. Kini, ia bimbang memilih satu di antara dua pria yang hadir membawa perubahan dalam hidupnya.
Baca Selengkapnya

Hello, My Secret Boyfriend Bab 1

Mahasiswa, dengan segala keistimewaannya, didamba oleh masyarakat untuk berbuat ‘sesuatu’. Mereka terpilih lewat beberapa seleksi. Mereka telah direkrut untuk beberapa fungsi, salah satunya adalah agent of change yang berarti agen perubahan.

Seorang anak laki-laki yang tengah termenung di pelataran perpustakaan kampus juga sedang memikirkan, apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa sepertinya?

“Udah, nggak usah dipikir!” seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Anak tersebut menoleh ke belakang. “Aku benci rapat sampai dini hari seperti ini.”

“Aku tahu,” jawabnya kemudian mengambil kartu identitasnya yang jatuh.

“Aku ngantuk banget, Am. Sedangkan nanti ada acara kementrian pas daftar ulang.”

Liam mengangguk paham. “Ayo ke kedaiku dulu. Aku bikinin kopi. Barusan dapet dari Flores.” Ia menunjukkan sebuah kantong yang bisa dipastikan berisi biji kopi.

“Itu yang Bajawa atau Manggarai?” tanyanya lagi sambil membolak-balikkan kantung tersebut yang tidak memuat keterangan apapun.

“Bajawa. Ini kan pesenanmu, Sab. Kamu nggak ingat?” tanya Liam kembali.

Sabda yang daritadi hanya melamun karena merasa capek dan kesal karena rapat semalaman menggali ingatan yang belum juga ia temukan. “Aku nggak inget.”

“Pekan lalu kamu protes kenapa latte-mu pakai kopi Java Raung. Nggak inget juga?”

Sabda menyerah. Ia benar-benar lelah. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang membuatnya mengeluarkan tenaga, termasuk mengingat-ingat apa yang pernah ia keluhkan. Padahal, ia sering melakukan protes terhadap banyak hal.

“Udah, ayo kamu tidur di kedaiku aja, daripada di sini. Kamu juga nggak sanggup buat pulang ke kosan kan?”

Sabda setuju. Ia mengikuti Liam dari belakang dengan mata yang berusaha untuk terbuka. Ibarat baterai ponsel, ia sudah berada di sisa lima persen untuk bertahan.

Liam membuka pintu kedainya, mengganti tulisan yang ada di pintu dari ‘Closed’ ke ‘Open’. Kedainya tidak besar, hanya seluas tiga puluh meter pesegi, dan berada di dalam gedung kantin milik kampus yang menjadi tempat studi bagi Sabda. Liam mengamati kedai-kedai di sekitarnya, beberap sudah siap beroperasi. Sebelum menyiapkan peralatan kopi untuk digunakan, Liam mampir ke kedai sebelah untuk membeli dua porsi bubur ayam.

“Bubur ayam dua ya, Ning.”

Ningning, penjual itu, menggangguk dan segera membuatkan pesanan Liam. “Satu buat Bang Sabda ta, Mas Am?” tanya Ningning yang seringkali memanggil Liam dengan Mas Am.

“Iya.”

“Kayaknya tadi malam rame banget di sekre BEM,” Kata Ningning.

“Loh, ngapain ke sana kamu, Ning?”

“Nganter cireng ke sana, Mas. Kayaknya Bang Sabda gontok-gontokan sama orang-orang di sana.”

Liam mengangguk. Seakan-akan telah memahami bagaimana situasi ketika Sabda ‘gontok-gontokan’ dengan orang- orang di sana.

“Ini mas. Udah lunas ya mas,” kata Ningning memberikan dua bungkus bubur ayam kepada Liam.

“Lunas apaan, Ning?”

“Kan kemarin saya pinjem uang ke Mas Am. Nggak inget?”

Liam masih mencari ingatan itu. “Aku lupa, Ning. Tapi makasih, ya.”

Ningning mengangguk dan tersenyum.

Liam kembali dan mendapati Sabda tertidur di balik meja kasir. Bubur ayam yang baru saja dibelinya disimpan di sebuah lemari yang tak jauh dari sana.

“Kamu habis dari mana, Am?” tanya Sabda yang masih dengan mata tertutup.

“Tidur aja kenapa sih? Bukannya nanti jam sembilan pembukaan pendaftaran maba?”

“Aku nggak sanggup. Aku ngantuk banget.”

Liam pun membuka lemarinya dan memberikan sebungkus bubur ayam kepada Sabda. “Makan dulu aja deh. Siapa tahu setelah itu nggak ngantuk.”

“Kenapa kamu buka sepagi ini, Am?”

“Kan ada acara daftar ulang? Lagian, nanti jam delapan aku harus ngirim kopi ke divisi keuangan.”

“Owalah,” kata Sabda kemudian membuka bungkusan dari Liam.

“Kata Ningning kamu debat lagi sama anak-anak?”

Sabda mengangguk.

“Aku mau nanya kenapa, tapi pasti setelah ini kamu bakalan cerita.”

Sabda tersenyum sinis. “Mereka tetap mau adakan ospek malam lagi.”

“Lagi?”

“Bukannya beberapa jurusan udah nggak mau adakan ospek malam lagi?” Liam penasaran, sampai-sampai ia menghentikan pekerjaannya.

“Sini lah, makan sama aku. Aku ceritain kronologinya.”

Liam menurut. Ia pun membuka bungkusan satu lagi dan mengambil di sebelah Sabda.

“Karena pak presbem yang memutuskan, mau gimana lagi?”

“Tapi, presbem nggak dengerin pendapat ormaju yang lain? Bukannya arsitek dan kimia udah nggak mau ngadain lagi?” Liam pun merasa kesal dengan pemimpin BEM yang biasa disebut presbem itu.

“Yap. Kamu tahu kan di belakang presbem ada siapa?”

“Apa sih gunanya ospek malam kayak gitu?” Liam semakin kesal, karena hal ini sudah terjadi berulang kali.

“Nggak penting pakai maksimal. Nggak penting banget. Mereka bilang supaya besok ketika jadi alumni bisa saling membantu, ikatan menjadi kuat, blabla. Seperti itu,” kata Sabda sembari memberikan suapan terakhir bubur ayamnya.

“Tapi kan sudah ada korban,” kata Liam menyesali apa yang telah diputuskan walaupun ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan mahasiswa di sana lagi.

“Tapi ormaju bahkan BEM tutup mata. Mereka cari aman.”

“Haruskah orang rektorat mengetahuinya?”

“Entahlah.” Sabda telah selesai makan dan berjalan menuju meja kasir yang berbaris macam-macam alat untuk menyeduh kopi. “Aku minta kopi.”

“Bayar pakai apa?” tanya Liam menatap garang kepada Sabda. Sedangkan Sabda mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.

Liam tertawa melihat apa yang dilakukan Sabda. “Aku Cuma minta satu shot espresso aja,” kata Sabda sambil memanaskan mesin espresso yang ada di kedai Liam.

“Terserah kamu lah.” Liam menyelesaikan makanannya.

Kedai milik Liam yang diberi nama ‘Kedai Kale’ itu dipenuhi oleh aroma dan suara kopi yang sedang digiling. Bagi Liam dan Sabda, aroma biji kopi yang baru saja dipecah adalah surga. Di sela-sela tangan Sabda yang sibuk membuat espresso untuk dirinya, suara notifikasi ponsel milik Liam tidak berhenti berdering.

“Itu suara apaan sih, Am?” tanya Sabda yang mulai jengkel karena dirasa berisik.

“Ini?” Liam menunjukkan ponselnya yang menyala. “Aku lagi ngedate.”

“Ha?” mulut Sabda menganga cukup lebar. “Kupikir kamu nggak suka cewek.”

“Sialan,” Kata Liam.

“Kamu beneran pacaran, Am?” tanya Sabda masih tidak percaya.

“Ya, nggak lah. Aku Cuma chatting aja sama cewek di grup pecinta kopi ini,” kata Liam menegaskan.

“Kamu nggak mau nyoba? Nyari pacar lewat daring kayak gini mungkin nggak butuh ketemu dan nggak berat di ongkos.”

“Hmm. Aku nggak pingin dulu.”

“Tapi kamu masuk dulu di grup ini. Bahasannya tentang kopi lumayan banyak. Bisa bikin kamu refresh dari kejenuhan politik kampus,” saran Liam yang ternyata menggoyahkan hati Sabda.

“Apa nama grupnya?”

“Love at The First Cup,” kata Liam. “Beberapa orang ada yang jadian di sini. Grup Diskusi berubah jadi grup cari jodoh. Hahaha.”

Sabda mengambil ponselnya dan memeriksa grup yang diceritakan oleh Liam. Setelah masuk, ia membaca postingan-postingan yang ada di sana.

“Espressomu keburu dingin kalau ngga segera diminum,” ujar Liam kemudian menyiapkan pesanan kopi untuk para karyawan di divisi keuangan.

**

Sabda baru saja menyelesaikan gilirannya untuk menjaga stan kementrian di acara pendaftaran mahasiswa baru. Dia segera menuju Kedai Kale untuk menemui Liam, lebih tepatnya mencari acara untuk menghabiskan waktu karena di tempat kosnya dia kesepian.

“Kamu mau kopi juga nggak?” tanya Liam.

“Mau lah. Latte dua shot tanpa gula.”

Belum sempat Liam membuat kopi untuk Sabda, seorang gadis dengan rambut sebahu datang ke Kedai Kale. “Halo, apakah Caramel Latte ada?” tanyanya.

“Ada, kak.”

“Saya pesan satu.”

“Atas nama siapa?”

“Daniar.”

Liam menuliskan nama ‘Sabda’ dan ‘Daniar’ pada dua gelas kopi yang berbeda. Namun, Sabda yang berada di sebelah gadis itu tersenyum sinis. Dasar, cewek-cewek suka kopi dengan gula apa gunanya? pikirnya.

“Baik, ini kak kopinya. Terima kasih.”

Gadis itu keluar dari Kedai Kale dan Sabda menerima kopinya. “Sepertinya aku mau ambil rencana selanjutnya. Tapi, aku benar-benar harus kuat,” kata Sabda.

“Yang-- kamu jadi presbem?” tanya Liam memastikan.

Sabda mengangguk. “Sebelum ada korban lagi di kemudian.”

“Raya gimana?”

“Raya yang nyaranin, bahkan,” kata Sabda sembari meneguk kopi susu hangatnya. Belum sampai tiga detik, Sabda memuntahkan apa yang baru saja ia minum. “Ini manis banget!” Sabda mengeluarkan lidahnya seakan-akan tak sanggup menahan rasa manis yang ia terima.

Liam mengernyitkan dahinya. Ia memeriksa gelas kopi milik Sabda. Namun, yang tertulis di gelas Sabda adalah 'Daniar'.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hello, My Secret Boyfriend

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, seorang gadis rela menjadi pengantin pengganti. Sayangnya, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan kasar. Meski mendapat perlakuan buruk, ia tidak tinggal diam dan terus berjuang keras menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka di Bakisah.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang penjelajah tersesat di Hutan Gondoriyo dan mengalami teror mistis saat kendaraannya hilang secara gaib. Di sebuah gubuk sunyi, pasangan lansia misterius sempat memperingatkannya. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran justru menyeretnya kembali ke sana, namun hutan itu seolah menguap. Misteri pun kian kelam saat ia menemukan kaitan erat antara kecelakaan bus di jurang dan hutan tersebut, hingga ia harus bertaruh nyawa demi kebenaran.
Sampul Novel Penantian Yang Tak Kunjung Kembali
9.3
Enam tahun menjalani pernikahan rahasia dengan seorang direktur miliarder, sang istri harus menelan pil pahit karena suaminya menolak diakui sebagai ayah oleh putra kandung mereka sendiri. Puncaknya, sang suami kembali absen di hari ulang tahun anak mereka demi menemani sekretaris wanitanya. Kecewa mendalam, sang istri mengajukan gugatan cerai lalu pergi membawa putranya selamanya. Sang suami yang biasanya tenang seketika kehilangan kendali dan mencarinya dengan panik, namun penyesalan itu sia-sia karena mereka tidak akan pernah kembali.
Sampul Novel Penguasa Abadi Sepuluh Ribu Binatang
8.3
Puluhan ribu anak berusia di bawah sepuluh tahun berkumpul khidmat di Puncak Lundao, Pulau Sepuluh Ribu Binatang. Sebagai murid baru yang telah menemukan akar spiritual mereka, mereka menyimak kisah dari tetua berjubah hijau. Ia menceritakan sejarah sekte yang dirintis oleh sang pendiri legendaris, Wan Beast Immortal Li. Sebelum meraih keabadian, Li hanyalah seorang kultivator biasa dari Kerajaan Qin di Alam Qianyang.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Kehidupan pernikahan Dewi yang semula tenang seketika runtuh setelah ia mendapati benda asing milik seorang wanita di koper suaminya. Kejadian tak terduga ini menuntunnya mengungkap berbagai kebusukan dan rahasia kelam yang selama ini disembunyikan sang suami dengan rapi. Terluka akibat perselingkuhan tersebut, Dewi kini dihadapkan pada pilihan hidup yang berat. Apakah ia akan pasrah menerima rasa sakit, atau justru memilih bangkit untuk membalas dendam?
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza terjebak dalam pernikahan toksik bersama Karan, pria yang hanya memanfaatkannya demi kepuasan nafsu. Malam pertama mereka yang traumatis bahkan merusak kesehatan mental Eliza. Penderitaannya kian berat saat suaminya itu berselingkuh dengan banyak wanita. Di tengah kehancuran hidupnya, Eliza bertemu Sean, seorang dokter tampan yang juga sahabat dekatnya. Kehadiran Sean perlahan menyembuhkan luka batin Eliza dan menjadi sandaran hati yang baru untuknya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED