Mahasiswa, dengan segala keistimewaannya, didamba oleh masyarakat untuk berbuat ‘sesuatu’. Mereka terpilih lewat beberapa seleksi. Mereka telah direkrut untuk beberapa fungsi, salah satunya adalah agent of change yang berarti agen perubahan.
Seorang anak laki-laki yang tengah termenung di pelataran perpustakaan kampus juga sedang memikirkan, apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa sepertinya?
“Udah, nggak usah dipikir!” seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Anak tersebut menoleh ke belakang. “Aku benci rapat sampai dini hari seperti ini.”
“Aku tahu,” jawabnya kemudian mengambil kartu identitasnya yang jatuh.
“Aku ngantuk banget, Am. Sedangkan nanti ada acara kementrian pas daftar ulang.”
Liam mengangguk paham. “Ayo ke kedaiku dulu. Aku bikinin kopi. Barusan dapet dari Flores.” Ia menunjukkan sebuah kantong yang bisa dipastikan berisi biji kopi.
“Itu yang Bajawa atau Manggarai?” tanyanya lagi sambil membolak-balikkan kantung tersebut yang tidak memuat keterangan apapun.
“Bajawa. Ini kan pesenanmu, Sab. Kamu nggak ingat?” tanya Liam kembali.
Sabda yang daritadi hanya melamun karena merasa capek dan kesal karena rapat semalaman menggali ingatan yang belum juga ia temukan. “Aku nggak inget.”
“Pekan lalu kamu protes kenapa latte-mu pakai kopi Java Raung. Nggak inget juga?”
Sabda menyerah. Ia benar-benar lelah. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang membuatnya mengeluarkan tenaga, termasuk mengingat-ingat apa yang pernah ia keluhkan. Padahal, ia sering melakukan protes terhadap banyak hal.
“Udah, ayo kamu tidur di kedaiku aja, daripada di sini. Kamu juga nggak sanggup buat pulang ke kosan kan?”
Sabda setuju. Ia mengikuti Liam dari belakang dengan mata yang berusaha untuk terbuka. Ibarat baterai ponsel, ia sudah berada di sisa lima persen untuk bertahan.
Liam membuka pintu kedainya, mengganti tulisan yang ada di pintu dari ‘Closed’ ke ‘Open’. Kedainya tidak besar, hanya seluas tiga puluh meter pesegi, dan berada di dalam gedung kantin milik kampus yang menjadi tempat studi bagi Sabda. Liam mengamati kedai-kedai di sekitarnya, beberap sudah siap beroperasi. Sebelum menyiapkan peralatan kopi untuk digunakan, Liam mampir ke kedai sebelah untuk membeli dua porsi bubur ayam.
“Bubur ayam dua ya, Ning.”
Ningning, penjual itu, menggangguk dan segera membuatkan pesanan Liam. “Satu buat Bang Sabda ta, Mas Am?” tanya Ningning yang seringkali memanggil Liam dengan Mas Am.
“Iya.”
“Kayaknya tadi malam rame banget di sekre BEM,” Kata Ningning.
“Loh, ngapain ke sana kamu, Ning?”
“Nganter cireng ke sana, Mas. Kayaknya Bang Sabda gontok-gontokan sama orang-orang di sana.”
Liam mengangguk. Seakan-akan telah memahami bagaimana situasi ketika Sabda ‘gontok-gontokan’ dengan orang- orang di sana.
“Ini mas. Udah lunas ya mas,” kata Ningning memberikan dua bungkus bubur ayam kepada Liam.
“Lunas apaan, Ning?”
“Kan kemarin saya pinjem uang ke Mas Am. Nggak inget?”
Liam masih mencari ingatan itu. “Aku lupa, Ning. Tapi makasih, ya.”
Ningning mengangguk dan tersenyum.
Liam kembali dan mendapati Sabda tertidur di balik meja kasir. Bubur ayam yang baru saja dibelinya disimpan di sebuah lemari yang tak jauh dari sana.
“Kamu habis dari mana, Am?” tanya Sabda yang masih dengan mata tertutup.
“Tidur aja kenapa sih? Bukannya nanti jam sembilan pembukaan pendaftaran maba?”
“Aku nggak sanggup. Aku ngantuk banget.”
Liam pun membuka lemarinya dan memberikan sebungkus bubur ayam kepada Sabda. “Makan dulu aja deh. Siapa tahu setelah itu nggak ngantuk.”
“Kenapa kamu buka sepagi ini, Am?”
“Kan ada acara daftar ulang? Lagian, nanti jam delapan aku harus ngirim kopi ke divisi keuangan.”
“Owalah,” kata Sabda kemudian membuka bungkusan dari Liam.
“Kata Ningning kamu debat lagi sama anak-anak?”
Sabda mengangguk.
“Aku mau nanya kenapa, tapi pasti setelah ini kamu bakalan cerita.”
Sabda tersenyum sinis. “Mereka tetap mau adakan ospek malam lagi.”
“Lagi?”
“Bukannya beberapa jurusan udah nggak mau adakan ospek malam lagi?” Liam penasaran, sampai-sampai ia menghentikan pekerjaannya.
“Sini lah, makan sama aku. Aku ceritain kronologinya.”
Liam menurut. Ia pun membuka bungkusan satu lagi dan mengambil di sebelah Sabda.
“Karena pak presbem yang memutuskan, mau gimana lagi?”
“Tapi, presbem nggak dengerin pendapat ormaju yang lain? Bukannya arsitek dan kimia udah nggak mau ngadain lagi?” Liam pun merasa kesal dengan pemimpin BEM yang biasa disebut presbem itu.
“Yap. Kamu tahu kan di belakang presbem ada siapa?”
“Apa sih gunanya ospek malam kayak gitu?” Liam semakin kesal, karena hal ini sudah terjadi berulang kali.
“Nggak penting pakai maksimal. Nggak penting banget. Mereka bilang supaya besok ketika jadi alumni bisa saling membantu, ikatan menjadi kuat, blabla. Seperti itu,” kata Sabda sembari memberikan suapan terakhir bubur ayamnya.
“Tapi kan sudah ada korban,” kata Liam menyesali apa yang telah diputuskan walaupun ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena bukan mahasiswa di sana lagi.
“Tapi ormaju bahkan BEM tutup mata. Mereka cari aman.”
“Haruskah orang rektorat mengetahuinya?”
“Entahlah.” Sabda telah selesai makan dan berjalan menuju meja kasir yang berbaris macam-macam alat untuk menyeduh kopi. “Aku minta kopi.”
“Bayar pakai apa?” tanya Liam menatap garang kepada Sabda. Sedangkan Sabda mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.
Liam tertawa melihat apa yang dilakukan Sabda. “Aku Cuma minta satu shot espresso aja,” kata Sabda sambil memanaskan mesin espresso yang ada di kedai Liam.
“Terserah kamu lah.” Liam menyelesaikan makanannya.
Kedai milik Liam yang diberi nama ‘Kedai Kale’ itu dipenuhi oleh aroma dan suara kopi yang sedang digiling. Bagi Liam dan Sabda, aroma biji kopi yang baru saja dipecah adalah surga. Di sela-sela tangan Sabda yang sibuk membuat espresso untuk dirinya, suara notifikasi ponsel milik Liam tidak berhenti berdering.
“Itu suara apaan sih, Am?” tanya Sabda yang mulai jengkel karena dirasa berisik.
“Ini?” Liam menunjukkan ponselnya yang menyala. “Aku lagi ngedate.”
“Ha?” mulut Sabda menganga cukup lebar. “Kupikir kamu nggak suka cewek.”
“Sialan,” Kata Liam.
“Kamu beneran pacaran, Am?” tanya Sabda masih tidak percaya.
“Ya, nggak lah. Aku Cuma chatting aja sama cewek di grup pecinta kopi ini,” kata Liam menegaskan.
“Kamu nggak mau nyoba? Nyari pacar lewat daring kayak gini mungkin nggak butuh ketemu dan nggak berat di ongkos.”
“Hmm. Aku nggak pingin dulu.”
“Tapi kamu masuk dulu di grup ini. Bahasannya tentang kopi lumayan banyak. Bisa bikin kamu refresh dari kejenuhan politik kampus,” saran Liam yang ternyata menggoyahkan hati Sabda.
“Apa nama grupnya?”
“Love at The First Cup,” kata Liam. “Beberapa orang ada yang jadian di sini. Grup Diskusi berubah jadi grup cari jodoh. Hahaha.”
Sabda mengambil ponselnya dan memeriksa grup yang diceritakan oleh Liam. Setelah masuk, ia membaca postingan-postingan yang ada di sana.
“Espressomu keburu dingin kalau ngga segera diminum,” ujar Liam kemudian menyiapkan pesanan kopi untuk para karyawan di divisi keuangan.
**
Sabda baru saja menyelesaikan gilirannya untuk menjaga stan kementrian di acara pendaftaran mahasiswa baru. Dia segera menuju Kedai Kale untuk menemui Liam, lebih tepatnya mencari acara untuk menghabiskan waktu karena di tempat kosnya dia kesepian.
“Kamu mau kopi juga nggak?” tanya Liam.
“Mau lah. Latte dua shot tanpa gula.”
Belum sempat Liam membuat kopi untuk Sabda, seorang gadis dengan rambut sebahu datang ke Kedai Kale. “Halo, apakah Caramel Latte ada?” tanyanya.
“Ada, kak.”
“Saya pesan satu.”
“Atas nama siapa?”
“Daniar.”
Liam menuliskan nama ‘Sabda’ dan ‘Daniar’ pada dua gelas kopi yang berbeda. Namun, Sabda yang berada di sebelah gadis itu tersenyum sinis. Dasar, cewek-cewek suka kopi dengan gula apa gunanya? pikirnya.
“Baik, ini kak kopinya. Terima kasih.”
Gadis itu keluar dari Kedai Kale dan Sabda menerima kopinya. “Sepertinya aku mau ambil rencana selanjutnya. Tapi, aku benar-benar harus kuat,” kata Sabda.
“Yang-- kamu jadi presbem?” tanya Liam memastikan.
Sabda mengangguk. “Sebelum ada korban lagi di kemudian.”
“Raya gimana?”
“Raya yang nyaranin, bahkan,” kata Sabda sembari meneguk kopi susu hangatnya. Belum sampai tiga detik, Sabda memuntahkan apa yang baru saja ia minum. “Ini manis banget!” Sabda mengeluarkan lidahnya seakan-akan tak sanggup menahan rasa manis yang ia terima.
Liam mengernyitkan dahinya. Ia memeriksa gelas kopi milik Sabda. Namun, yang tertulis di gelas Sabda adalah 'Daniar'.
“Kita ini pacaran, kan?”
Lelaki yang ada di hadapannya hanya terdiam, lebih tepatnya enggan menjawab. Ia memalingkan pandangan ke luar ruangan tanpa merasa bersalah. Cepat atau lambat, situasi ini akan terjadi.
“Kamu denger aku kan, Vel?” tanya gadis itu sedikit mengintimidasi. Sesungguhnya ia tidak ingin mendengarkan kalimat yang akan muncul selanjutnya.
“Iya, kita pacaran.”
“Tapi, rasanya, Cuma aku yang berusaha di sini.” Ungkap sang gadis dengan mata berair, hatinya mulai mempertanyakan, apa yang salah?
“Memang.”
Gadis itu kebingungan, ia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja didengarnya. Jika memang lelaki itu menganggap hubungan mereka lebih dari pertemanan, apakah mencium kening perempuan lain dapat diakuinya tanpa merasa bersalah?
Gadis dengan sweater hijau itu berusaha menata emosi yang mulai menguasai pikirannya. Begitu banyak kabut yang memenuhi otaknya. Beberapa kali ia menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Namun nyatanya, ketenangan itu masih belum menghampiri. Ingin sekali rasanya menampar pipi mulus sahabat sekaligus pacarnya itu, walaupun kini sedang proses menjadi mantan.
“Dengar, Daniar.” Lelaki bernama Marvel itu memulai pembicaraan dengan raut wajah yang berbeda,”apakah kamu pernah bertanya bagaimana perasaanku padamu?”
Seketika Daniar menegakkan pandangannya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Marvel. Walaupun ia merasa tidak melakukan kesalahan, ia masih bersikeras menanyakan apa yang salah dari dirinya. “Apakah selama ini kamu tidak ada perasaan kepadaku?”
Marvel hanya tersenyum sinis, salah satu ujung bibirnya naik, kemudian menatap mata Daniar lekat-lekat. “Setahun kita pacaran dan kau baru menanyakan ini padaku?” ia diam sejenak kemudian melanjutkan,”dan kau bilang kita pacaran?”
“Maksud kamu apa, Vel? Langsung saja pada intinya. Kamu ingin membenarkan perselingkuhanmu dengan Klara? Sejak kamu masuk kuliah, kamu bersikap aneh. Hanya sedikit pesanku dan teleponku yang kamu balas. Aku masih menerima itu, mungkin kamu sedang sibuk dengan segala macam ospek yang pernah kamu ceritakan. Untuk perselingkuhan, ini bukan masalah main-main. Ini masalah pengkhianatan.”
Marvel menampakkan raut enggan berdebat, “Persetan dengan pengkhianatan. Apapun yang kamu sebutkan itu, aku tidak peduli. Aku hanya mencari kebahagiaan.”
“Maksudmu, kamu tidak bahagia denganku? Kemudian aku harus mewajarkan tentang perselingkuhanmu?”
“Aku tidak selingkuh, dari dulu aku memang mencintai Klara.”
Daniar merasa seperti disambar petir di siang bolong. Ingin sekali rasanya Daniar langsung pingsan kemudian bangun dan merasa semua ini hanya mimpi buruk.
Bukan, Daniar ingin menghilang dari muka bumi.
Bagaimana mungkin ini terjadi? Hubungan yang diawali dengan persahabatan yang manis kemudian beranjak menjadi jalinan kasih ini diharapkan Daniar sampai pelaminan, bahkan sampai mati.
Daniar masih terkejut ia bahkan tak sanggup berkata apa-apa, lidahnya terasa kelu.
“Kau ingat kan, siapa yang mengajukan hubungan ini?” tanya Marvel
Apakah semua ini salahku? hanya karena aku yang mengungkapkan perasanku lebih dulu? Daniar merasa tak sanggup lagi mendengar perkataan Marvel, ia ingin menghilang.
“KAMU!” sambung Marvel.
Daniar menelan ludah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Marvel. Namun bagaimana hubungan ini bisa mendapatkan status ‘pacar’ tanpa persetujuan kedua belah pihak? Daniar tahu Marvel, ia akan selalu mampu berdebat dengan Daniar. Sedangkan Daniar, untuk saat ini, memilih diam karena tak sanggup menerima kenyataan yang sedang ia hadapi.
“Apa kau pernah menyadari sesuatu, Dan? Kamu dan Klara tidak pernah setara. Klara adalah perempuan cantik dan anggun. Lihat dirimu baik-baik! Gaya pakaian bahkan rambutmu saja tidak menarik. Hubunganku dengan Klara lebih menyenangkan daripada denganmu.”
“Cukup, Vel!” Daniar beranjak dari kursinya,”apa kau pikir dengan menghinaku kau bisa terlihat lebih baik? Yang namanya berkhianat ya berkhianat saja. nggak perlu banyak alasan. Aku minta maaf jika selama setahun hubungan ini kamu tidak merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan. Kupikir senyum dan tawamu selama ini adalah tanda bahwa kau juga menikmati hubungan kita.”
“Asal kau tahu ya, Dan. Aku mau berpacaran denganmu bukan karena adanya perasaan. Selama ini aku mengasihanimu karena kau sering bercerita tentang keluargamu yag menyedihkan.” Tukas Marvel.
“Iya. Aku juga mengasihanimu karena.. oh mungkin kau lupa ya bagaimana Klara mencampakkanmu dulu? Oh.. tentu saja kamu lupa bagaimana Klara berkata bahwa kau tidak selevel dengannya sebagaimana apa yang kau katakan padaku sekarang. Tentunya kamu lupa kalau kamu pernah menangis berhari-hari kemudian kau menghubungiku dan aku harus menemanimu main game semalaman untuk membuatmu merasa lebih baik?”
Marvel membelalakkan matanya dan merasa geram. Ia tak percaya bahwa Daniar berani berkata seperti itu. “Jangan menjelek-jelekkan Klara seperti itu!”
“Aku tidak menjelek-jelekkannya. Itu Fakta. Aku hanya bilang ‘Klara mencampakkanmu’ saja. bagaimana Klara menghinamu pun aku mendengar dengan jelas karena aku juga berada di tempat itu. apa kau juga menyadari kalau Klara tidak sebaik itu? Mungkin kau juga terlalu naif merasa bahwa Klara adalah cinta sejatimu. Kau juga menyedihkan, Vel!” Daniar pergi dari hadapan Marvel dengan air mata yang hampir tumpah.
Marvel memandang punggung Daniar yang semakin menjauh. Hubungan ini pasti akan berakhir, cepat atau lambat. Namun, ada yang mengganjal di hatinya. Ia tidak memungkiri bahwa Daniar pernah begitu bercahaya di kala hidupnya sedang gelap. Namun Klara adalah cinta pertamanya.
Aku sudah memutuskan, aku memilih Klara.
**
Bisa-bisanya Marvel menyebut keluargaku menyedihkan, pikir Daniar.
Setelah mengendarai motor dari Kafe ke rumah dalam keadaan menangis, Daniar merasa lelah dan ingin merebahkan diri di atas kasur. Ia merasa sangat kecewa dan marah dengan apa yang telah terjadi. Ia masih berharap jika ini hanya mimpi. Tapi ngilu matanya karena menangis sepanjang jalan seharusnya membuktikan bahwa yang dihadapinya adalah realita.
Daniar hanya ingin membeli kopi setelah melaksanakan tes sehari penuh, namun malah mendapati sang pacar mencium kening mantan pacar yang pernah membuatnya hampir mati karena patah hati. Astaga, ada apa dengan hari ini?
Daniar beranjak dari tempat kemudian memandang fotonya bersama Marvel yang ia letakkan di atas meja sebelah kasur. Semua yang pernah ia bayangkan dengan cepat hancur begitu saja.
“Memangnya aku semenyedihkan itu buat Marvel? Kupikir kita memang benar-benar ditakdirkan..” ujarnya kepada diri sendiri.
Tangis Daniar pecah kembali. Kali ini ia menangis lebih keras. Ia meluapkan semua perasaan sakit sampai dering ponselnya berbunyi pun tidak benar-benar disadari olehnya.
“Halo? Yaudah, kamu ke sini, gih! Ayahku kan emang selalu nggak ada.. Kutunggu.. bye..” Daniar menutup telepon, kemudian ia meneruskan tangisannya.
Sekitar lima belas menit berlalu seseorang masuk ke kamar Daniar tanpa mengetuk. “ASTAGA DAN! OH MY GOD!” kawannya masuk dengan keadaan terkejut melihat mata Daniar yang bengkak, bahkan matanya seperti tenggelam karena bengkak.
“Udah deh! Nggak usah ngeledek! Seneng kan aku udah putus sama Marvel?” Daniar menepis tangan temannya yang hendak menepuk pundaknya.
"Emang kamu sama Marvel pacaran?"
"Ya kan? Kamu ke sini mau ngeledek aku kan, Maya?"
Maya hanya tersenyum simpul, "Ya enggaklah, aku tahu hari ini akan terjadi. Tenang ya, bisa dilalui kok." kemudian ia memeluk Daniar yang masih sesunggukan. "Untung, ya, kamu sama Marvel putus di saat tes masuk PTN sudah selesai."
Tes masuk PTN? Daniar menyadari sesuatu.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa? Aku memilih PTN yang sama dengan Marvel..
"Jangan bilang kamu ambil pilihan untuk ke Kampusnya Marvel?"
Daniar menunduk, gagu. Ia memang telah memilih kampus yang juga dihuni oleh Marvel. Lebih menyedihkan lagi, Daniar memilih jurusan yang sama dengan Marvel di pilihan pertamanya.
“Apakah aku harus berdoa untuk tidak diterima di kampus itu?” tanya Daniar dalam hati.
"Astaga Dan! kamu beneran bucin ternyata! Kupikir kamu jadi ambil kampus yang sama dengan pilihanku. Kenapa berubah pikiran?"
"Aku bukan berubah pikiran. Memang aku ingin ambil jurusan teknik. Di kampus pilihanmu tidak ada jurusan teknik, bukan?" sangkal Daniar. Namun ia juga sedang mencari alasan untuk bisa bertahan dari pertanyaan ‘bagaimana jika aku diterima dan satu jurusan dengan Marvel?’ Daniar menggaruk kepalanya, bingung. What’s going on, my life?
"Bukannya kamu bilang sendiri kalau fisika bukan jalan ninjamu?"
“Ah, kenapa Maya malah ngingetin kalau aku nggak bisa fisika sih? kesel!” gumamnya.
Daniar keluar dari kamarnya untuk mengambil minuman. Kali ini, Ia memilih kopi hitam sebagai penenang. Ia meneguk kopi hitam dingin yang ia racik sendiri. Namun, mengapa perasaannya masih belum tenang?
“Menyebalkan! Tapi, masih ada kesempatan tahun depan, kan? Aku masih bisa berdoa untuk tidak diterima. Perasaan malu hanya sementara.. tenang Mama, papa, aku akan jadi dokter seperti kak Dina tahun depan jika aku tidak keterima tahun ini. Hahahaha!” kata Daniar berbicara sendiri.
Daniar merasa pikiran yang baru saja lewat adalah solusi yang menenangkan. Setidaknya, ada solusi untuk apa yang terjadi. Memang tidak benar-benar solusi, hanya pelarian sementara jika Daniar tidak melakukan ‘denial’.
Ia kemudian masuk kembali ke kamar. Tetapi, sesuatu mulai memasuki alam pertimbangannya.
“Tapi, gimana-gimana, kalau aku nggak keterima tahun ini, mama dan papa pasti malu dong? Konsekuensiku untuk dibanding-bandingkan dengan kak Dina semakin besar? Mereka semakin merasa kalau aku nggak sama kayak Dina. Dan, pasti mama bakalan bilang, “Makanya Niar, belajar tuh kayak kak Dina..” dan sejenisnya?” Daniar menggelengkan kepala seraya mengumpat,”NYEBELIN! MARVEL NYEBELIN!”
"Kamu nggak logis waktu ambil pilihan itu, Dan. Kamu sendiri bilang berminat di sastra. Kenapa beda gini sih?" Ingin sekali Maya mengatakan 'ya kan sudah kubilang..' atau 'bener kan yang aku bilang..' tapi ia menahan untuk menjaga hati Daniar. Maya menghela nafas dalam-dalam, memandang sahabatnya yang terluka cukup dalam. Maya memahami posisi Daniar yang sangat mencintai Marvel, terlebih Marvel adalah cinta pertama untuk Daniar.
Hati Maya pun merasa sakit. “Pasti sulit buatmu, Dan. Tapi semua ini harus dilalui.” tukasnya dalam hati.
Maya memeluk Daniar, sedangkan Daniar melanjutkan tangisannya.
Daniar tak menampik jika alasannya mengambil jurudan dan kampus itu karena Marvel. Ia membayangkan akan belajar hal yang mirip dengan Marvel, melakukan penelitian bersama, saling mendukung, dan lain-lainnya. Ia benar-benar melupakan tokoh bernama Klara yang siap menggempur kehidupan impiannya sewaktu-waktu
**
"Urusan sama Daniar sudah selesai, sayang?"
"Udah. Maaf ya, sudah buat kamu nunggu agak lama." Kata Marvel.
"Nggak apa-apa. Waktu untuk menunggumu menyelesaikan hal itu tidak sebanding dengan pengorbananmu untuk kembali denganku." gadis itu tersenyum kemudian meneruskan, "dan tidak bisa juga membuatku merasa lebih baik jika mengingat apa yang pernah aku lakukan padamu dulu." gadis itu menunduk seperti akan menangis.
"Nggak apa-apa, sayang. Perasaanku tidak berubah, bahkan saat aku bersama Daniar."
"Sungguh?"
"Tentu."
Gadis itu memberikan pelukan hangat pada Marvel. Tanpa mereka sadari, seseorang memerhatikan mereka dari jauh dengan seksama.
"Vel, aku ke toilet dulu, ya." gadis itu beranjak kursinya meninggalkan Marvel yang tersenyum mengangguk. Sepeninggal gadis itu, gadis lain datang.
"Nggak gini caranya Vel. Kamu nggak bisa memperlakukan Daniar kayak gini!" seorang gadis menggebrak meja di depan Marvel.
"Maya? Ya Ampun. Aku udah putus sama Daniar. Tenang saja. Bukankah dari dulu kamu memang tidak setuju dengan kita berdua?
"Tentu saja aku tidak setuju dengan kalian berdua. Kamu nggak pantas untuk orang setulus Daniar.”
"Aku nggak mau berdebat denganmu." kata Marvel memalingkan wajahnya.
"Kamu akan selalu bertemu dengan orang seperti Daniar. Tapi kamu tidak akan bisa mendapatkan orang seperti Daniar lagi. Bahkan Klara? Oh My God! Semua orang tahu dia suka mempermainkan laki-laki dengan kecantikan dan sok keluguannya. Bahkan dia masuk PTN dengan.. semacam bantuan?"
Marvel memegang tangan Maya dengan cukup kencang. "Jangan ngomong apapun tentang Klara!"
"Kamu lupa, aku ikut bela diri?" Seketika tangan Marvel terbalik dan posisi pun berubah.
"Aaaahhhhhh!" keluh Marvel kesakitan.
"Mungkin Daniar memilih kampus yang sama denganmu, Vel. Tapi kamu nggak akan punya kesempatan kedua untuk bareng lagi sama Daniar." Maya menghela nafas sejenak dan meneruskan, "Dasar senior bucin nggak tahu diri! Semoga kalau kalian sekampus, Daniar sudah mendapatkan yang lebih baik." Maya melepas cengkramannya kemudian pergi meninggalkan Marvel.
"Dasar! Kalian berdua sama saja!" imbuh Maya sambil melihat Klara yang berjalan ke arah mereka berdua.
Maya melangkah dengan amarah yang tersisa di benaknya. “Gila tuh cowok! Sudah dikasih hati, malah dibuang. Daniar juga sih, dibilangin kalau Marvel sama Klara nggak ada bedanya. Tetap aja!” Maya mengambil ponsel dan menghubungi Daniar.
"Halo Daniar? Kamu di rumah kan? Aku ke sana ya? Tapi ayahmu lagi nggak di sana kan? Oke sip. Meluncur! Bye!"
**
Seorang laki-laki berambut sedikit panjang memandang langit yang hendak menggelap. Ia meneruskan perjalanannya menyusuri trotoar yang melingkar. Trotoar itu mengelilingi lahan rumput dengan logo sebuah kampus di tengah.
"Sabda!" Suara seorang perempuan membuat laki-laki itu membalikkan badannya.
"Rapatnya jadi di mana?" tanya Sabda lugas tanpa basa-basi, juga tanpa menyapanya terlebih dahulu.
"Kamu nggak bisa kasih aku senyum sedikit saja?" tanya gadis itu dengan muka memelas, "ah, aku memintamu setiap hari dari zaman kita mahasiswa baru juga nggak pernah dapat."
Sabda menyunggingkan bibirnya. Ia tersenyum, hanya sedikit.
"Oh Tuhan! Imut bangeet!" gadis itu senang bahwa laki-laki yang diam-diam disukainya itu memberikan senyuman walaupun hanya ‘seuprit’.
Hari ini kau memberikan senyuman. Di masa depan kau akan memberikan hatimu, ‘kan? Harapan Raya selalu tinggi
"Setampan itukah aku sampai kamu senyum-senyum sendiri dan tidak menjawab pertanyaanku? Aku tidak suka rapat malam-malam. rapat ini harus segera diselesaikan atau aku langsung kembali ke kosan.”
Gadis itu menarik lengan Sabda dan memimpin 'perjalanan' mereka menuju ruang rapat yang baru saja diralat.
"Raya, harus banget lenganku ditarik seperti ini? Lebih mudah dan efektif jika kamu cukup menjawab pertanyaanku."
Raya menghentikan langkahnya kemudian melepaskan tangannya. "Maaf, maksudku biar cepet. Hehe."
"Orang-orang bisa salah sangka sama kita, Ray. Kita kan selama ini berteman baik."
Haruskah kau selalu mengatakan bahwa kita hanya berteman, Sab? Apakah tidak ada tempat di hatimu buatku? Raya hanya tersenyum, menyembunyikan sendunya.
"Iya iya, maaf. Di lantai dua tempat kita akan rapat bareng ormaju Arsitek."
"Oke." Sabda mengambil langkah mendahului Raya yang berjalan di belakangnya. Sesekali Sabda melihat ke belakang memastikan Raya masih di belakangnya. Ia menghela nafas. Sampai kapan ini akan berakhir? Sampai kapan Raya berharap lebih?
Sabda sebenarnya tahu bahwa Raya memiliki perasaan padanya. Ia hanya tak sanggup mengatakan pada Raya bahwa ia belum memiliki niat untuk berhubungan dengan perempuan lebih dari sekadar teman.
Sabda menghentikan langkahnya, dan tanpa disadari Raya tertabrak olehnya. "Aw! Kenapa berhenti Sab?"
"Makasih ya Ray, you are my best friend." Sabda secara terang-terangan menunjukkan kejelasan bahwa ia dan Raya hanya sekadar teman. Tidak lebih. Raya hanya tersenyum. Walaupun kalimat itu berulang kali ia dengar, ia tak pernah berhenti berharap.