Bab 1

Seorang dokter muda berparas cantik bernama Renata yang akrab dipanggil Ren oleh orang-orang sekitarnya kini telah resmi bekerja di rumah sakit Medika Hutama.  Sebuah rumah sakit elit milik keluarga Hutama. Tak pernah terbayangkan oleh Renata bisa diterima bekerja di rumah sakit elit tersebut tanpa perantara ataupun promosi dari orang dalam. Berkat usaha dan kecerdasannya, ia mampu lolos dalam tes dan diterima bekerja di rumah sakit tersebut sebagai dokter anak.

Pagi ini, dengan langkah tergesa-gesa, Renata menyusuri lorong demi lorong karena ada seorang pasien baru yang membutuhkan pertolongannya.

"Semangat, Ren," ucap Renata sembari mempercepat ayunan langkahnya.

Saking semangatnya tanpa sengaja Renata menyenggol lengan seorang wanita paruh baya yang berjalan menunduk seperti sedang mencari sesuatu yang berada di dalam tasnya. Yap, wanita paruh baya tersebut mencari ponselnya. Namun naas, ponsel wanita tersebut terjatuh karena tersenggol oleh lengan Renata.

Brukk takkk

"Ma-maaf Bu, maaf kan saya tidak sengaja," ucap Ren merasa bersalah. Tangan Ren seketika langsung terulur ke bawah mengambil dan memeriksa ponsel si wanita paruh baya  yang terjatuh akibat tersenggol olehnya.

Dengan muka ramah wanita tersebut justru tersenyum dan mengindahkan ucapan Renata karena ia juga merasa salah dalam hal tersebut.

"Tak apa, Dok. Saya yang salah karena terlalu panik mencari ponsel hingga tak melihat ada Dokter yang berjalan dari arah depan saya," ucap wanita tersebut dengan senyum ramahnya.

"Tidak ... Tidak, saya yang salah, Bu. Saya terlalu tergesa-gesa menyebabkan ponsel Ibu jatuh. Untung saja ponselnya tidak apa-apa, Bu. Sekali lagi maafkan saya ya,  Bu," ucap Renata sambil mengelus punggung tangan wanita tersebut.

"Ahh ya ... maaf saya permisi dulu ya, Bu. Ada pasien yang harus segera saya tangani," ucap Renata sopan.

"Baik dokter ... silakan," jawab wanita ramah tersebut.

Renata mengayunkan kaki jenjangnya lebih cepat menjadi setengah berlari.

"Semoga saja aku tidak terlambat," batin Renata.

Sementara wanita yang Renata tabrak tadi masih diam di tempat memandangi punggung Renata berlalu. Wanita yang masih terlihat modis meski usianya tak lagi muda itu ternyata adalah Bu Anna, Ibu dari pemilik rumah sakit tempat Ren bekerja.

Namun meski Renata tak mengetahui siapa yang ia tabrak, Renata tetap ramah dan sopan, membuat Anna kagum pada sifat Renata.

Anna masih tercenung, ia mengingat-ingat wajah Renata, detik selanjutnya ia  penasaran siapa dokter yang baru ia lihat tersebut. Anna mengira jika Ren adalah dokter baru hingga tak mengenali ataupun menyapa dirinya sebagai ibu si pemilik rumah sakit tempat ia  bekerja.

"Cantik, baik, sopan dan idaman. Semoga Dafa mendapatkan jodoh yang seperti itu," gumam Anna sambil mengingat-mengingat senyum Renata.

Renata membuka knop pintu sebuah ruangan VVIP. Ia melihat seorang bocah laki-laki terbaring lemah di atas brangkar. Ia pun bergerak mendekat, diambilnya sebuah stetoskop yang ia simpan di dalam saku snelli-nya.

Renata memeriksa anak laki-laki tersebut, ia lantas mengambil sebuah termometer untuk mengukur suhu tubuh si bocah laki-laki tersebut. Ternyata anak itu mengalami demam tinggi.

"Maaf, Bu sejak kapan putra Ibu demam?" tanya Renata kepada seorang wanita paruh baya bertubuh gendut yang masih mengenakan setelan baju tidur.

"Sejak tadi malam, Dok. Den Kafa muntah-muntah dan panas badannya," adu wanita itu.

Renata mengangguk mengerti. Entah memeliki keberanian darimana, Ia lantas mengusap lembut pucuk kepala anak itu yang membuat sang empunya menggeliat dan membuka mata.

"Bunda," panggil Kafa.

"Den Kafa, apa Den Kafa lapar? Apakah Aden mengingankan sesuatu?" tanya perempuan tersebut.

Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya lemah, ia menangis meronta hendak mencabut selang infus yang tertancap di tangannya.

"Aku mau pulang," rengek anak itu.

Dengan sabar dan telaten Renata membujuk anak tersebut agar mau diperiksa dan dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang lemah. Bukannya menjawab ia justru semakin kencang menangis. Beberapa kali anak laki-laki tersebut menangis dan memanggilnya "Bunda" yang membuat sesuatu di dalam hati Renata iba.

"Bunda ... bunda jangan pergi," rancau Kafa.

"Bunda, Kafa rindu bunda," ucap bocah laki-laki tersebut sambil menangis sesenggukan.

Seorang pengasuh meminta maaf, pengasuh itu mendekati Renata menjelaskan bahwa anak laki-laki tersebut sedang merindukan ibunya, ia ingin bertemu dengan ibunya.  

"Maafkan Den Kafa, Dokter. Aden pasti sangat rindu dengan bundanya saat ini," ucap pengasuh tersebut tak enak hati.

"Memang bundanya kemana bu?" tanya Renata penasaran.

"Nyonya telah lama tiada, Dokter. Bahkan semenjak Aden masih bayi," beber si pengasuh.

"Oh ya ampun ... kasihan sekali anak ini," batin Renata.

Hati Renata merasa sakit mendengar cerita dari sang pengasuh. Ia berniat memberikan  perhatian dan sedikit rasa sayang kepada anak laki-laki tersebut selama dirawat di rumah sakit. Setidaknya mungkin itu bisa sedikit mengobati rasa rindu kasih sayang seorang ibu yang belum pernah dirasakan oleh orang kecil bernama Kafa tersebut.

Dengan sebuah usapan lembut dari Renata Kafa akhirnya berhenti meracau dan tidur dengan pulas. Isak tangisnya pun perlahan melirih dan hilang. Renata pun pamit kepada sang pengasuh dan menitipkan sebuah pesan jika nanti Kafa masih demam dan muntah-muntah untuk segera memanggil dokter jaga, sang pengasuh yang diketahui bernama Ati pun mengucapkan terima kasih pada Renata.

"Jika nanti Kafa masih muntah atau demam tolong segera laporkan ke suster ya, Bu. Agar dokter jaga segera menanganinya," ucap Renata lembut.

"Baik, Dokter. Terima kasih banyak sudah membantu saya membujuk Den Kafa."

"Iya, Bu, sama sama. Baiklah kalau begitu saya pergi dulu, Bu."

Seorang wanita paruh baya dengan panik memasuki ruangan cucunya dan bertanya kepada sang pengasuh bagaimana kondisi sang cucu dengan sopan sang pengasuh menjelaskan keadaan anak majikannya tersebut.

"Kondisi Den Kafa sudah lumayan tenang, Nyonya. Tadi malam hingga pagi ini den Kafa demam tinggi dan tadi pagi menangis sambil mengigau memanggil manggil 'BUNDA' Nyonya. Untung tadi ada Bu Dokter baik yang mau membantu saya menenangkan Den Kafa," ucap Bi Ati.

"Dokter? Dokter yang mana Ati? Apakah Dokter yang sering menangani Kafa?" tanya  Anna penasaran.

"Bukan, Nyah itu ... anu, sepertinya Bu Dokter baru di sini karena saya baru pertama kali melihat dokter anak tersebut Nyah," jelas Ati yang sering mengantar Kafa ke dokter.

Dengan cepat Anna sudah bisa menebak jika dokter baru yang dimaksud dengan Ati adalah dokter yang tidak sengaja ia temui tadi. Dalam hati Anna sempat berpikir ingin mengenalkan Dafa dengan dokter tersebut  jika si dokter belum menikah namun pikirannya hilang begitu saja karena ia mengingat bahwa ia telah membuat janji untuk mengenalkan Dafa dengan anak sahabatnya.

"Ahhh semoga saja Dafa mau dan cepat menikah agar Kafa tidak seperti ini lagi," gumam Anna dalam hati.

"Do'akan ayah mu nak semoga ayahmu segera menikah agar ada seorang yang bisa kamu panggil bunda dan sayang denganmu Sayang," ucap Anna sembari mengelus puncak kepala Kafa.

"Amin semoga do'a Nyonya dikabulkan sama yang diatas. Kasihan Den Kafa, Nyah," kata Ati yang berdiri di samping Anna.

"Ati apa Tuan muda sudah kemari?" tanya Anna memastikan.

"Anu ... nggg belum Nyonya, Tuan Dafa belum kemari namun saya sudah memberitahunya," ucap Ati sambil menunduk takut.

"Anak itu benar-benar keterlaluan! anak sedang sakit tapi tetap saja masih bekerja. Awas saja jika tak segera kemari akan ku marahi dia," omel Anna kesal.

"Hanya karena mengagungkan kesetian cintamu, kamu sampai gila kerja," batin Anna.

"Ati cepat telpon lagi Tuan muda! Suruh dia segera ke rumah sakit!"

"Ba-baik nyonya." Ati yang mengetahui nyonya sedang kesal pun memilih diam dan menuruti semua permintaannya.

"Ahh ya satu lagi tolong suruh sopir menjemput Shafa tepat dan antar langsung ke rumah saya."

"Iya nyonya."

Ati segera melakukan panggilan dan mengirim pesan kepada Tuan mudanya sesuai dengan instruksi yang telah diberikan nyonyanya.

Anna menatap sendu ke arah bocah kecil yang sedang terbaring di brankar. Jika bisa, Anna ingin sekali menggantikan sakitnya karena Anna tak tega melihat keadaan Kafa seperti ini.

Anna sangat menyayangi cucunya tersebut. Ia bahkan rela melakukan apapun hanya untuk membuat kedua cucunya bahagia. Anna mengusap punggung tangan Kafa sambil menghujaninya dengan kecupan kecil. Ia menatap lamat-lamat wajah pucat itu, lalu mengulurkan tangannya membelai lembut pipi Kafa.

"Kafa sayang sembuhlah, oma kangen banget bercanda sama kamu nak." Anna mengusap lembut punggung tangan cucunya.

"Oma mohon Kafa kuat, sabar ya nak  insyaallah oma segera mencarikan ayahmu pendamping agar ada yang memanjakan Kafa dan ada yang Kafa panggil bunda," ucap Anna lirih sambil menitikan air mata.

Sungguh hati Anna sedih sekali melihat Kafa terbaring lemah seperti ini. Bagaimana bisa bocah seriang Kafa ternyata menyimpan rasa sedih mendalam terhadap sosok mendiang Bundanya yang selama ini tak pernah ia katakan kepada siapapun. Kafa tergolong anak yang periang namun siapa sangka di balik keriangannya ia menyimpan kerinduannya akan sosok yang ia sering panggil bunda.

"Arin ... mama mohon bantulah Dafa untuk membuka hati agar Kafa dan Shafa memiliki sosok Bunda sambung yang dapat menyayangi dan memberinya perhatian," monolog Anna diam-diam menghapus jejak air matanya.

Bab 2

Hari ini Renata berangkat lebih awal karena ia tidak ingin terlambat dalam pertemuan dengan pemilik rumah sakit. Selain itu ia penasaran dengan si pemilik Rumah sakit tersebut yang kata para pegawai lain merupakan seorang Pria tampan. Karyawan rumah sakit bahkan sering membicarakan dan mengidolakannya.

"Benarkah? setampan apa sih memangnya?" ucap Renata penasaran.

"Mengapa aku jadi sepenasaran ini ya."  Renata menghela nafas kasar setelah bermonolog dengan dirinya sendiri.

Namun ada satu alasan lagi yang membuat semangat berangkat lebih awal adalah ia ingin segera mengunjungi bocah laki-laki yang kemarin menangis memanggilnya bunda.

"Semoga anak itu sudah membaik," ucap Renata dalam hati. Entah mengapa Renata merasa sayang sekali dengan anak itu meski baru melihatnya kemarin namun ada rasa lain yang membuat sayang dan ingin selalu menemui anak tersebut setelah mendengar cerita dari sang pengasuh kemarin.

"Bagaimana keadaanya hari ini?" gumam Renata lirih.

"Semoga kamu suka ya dek dengan apa yang aku bawain," ucap Renata menenteng rantang kecil berisi bubur ayam buatannya.

"Pagi suster Maria? ini data pasien yang harus saya kunjungi ya?" ucap Renata ramah.

"Pagi, Dok. Iya, Dok. Tumben dokter datang pagi sekali? Apakah dokter Ren juga ingin bertemu dengan orang tampan?" goda suster Maria.

"Ahhh suster Maria bisa aja, saya ingin menjenguk seseorang yang spesial makanya saya datang lebih awal sebelum kunjungan tapi jika nanti bisa bertemu orang tampan itu bonusnya, Sus. Hehehe," jawab Renata sambil terkikik.

"Tapi saya juga penasaran sih," batin Renata.

Renata menyusuri lorong demi lorong menuju ke arah ruangan Kafa. Sesampainya di depan kamar Kafa, Renata mengetuk pintu lalu masuk dan ia melihat seorang anak kecil duduk di ranjang sendiri bermain robot tanpa ada yang menemani.

"Astaga ... Kasihan sekali Kafa," batin Renata.

Sungguh miris hati Renata melihat itu  semua, pikirannya melayang membayangkan dirinya sewaktu kecil yang penuh kasih sayang dan membandingkannya dengan Kafa. Sesekali ia mencoba menempatkan dirinya seandainya ia menjadi Kafa. Setetes air mata itu turun begitu saja melihat ada seorang anak kecil yang sedang sakit dibiarkan sendiri tanpa perhatian apalagi kasih sayang.

Renata mengusap air matanya dengan cepat. Ia lantas mengembangkan senyuman ramah, menyapa Kafa yang dibalas senyuman dan pelukan oleh Kafa. Sungguh hatinya senang ketika melihat bocah kecil tersebut tersenyum dan memanggilnya dengan sebutan Bunda.

Renata bertanya mengapa Kafa sendirian  dengan polosnya bocah kecil tersebut menjawab jika ia bersama sang Kakak namun sang Kakak yang diketahui namanya Shafa sedang membelikan ia susu kotak kesukaannya di mini market rumah sakit.

Renata meletakkan paper bag di atas nakas, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang berisi bubur. Dengan lembut Renata membujuk Kafa agar nau memakan bubur yang dibawakan sebelum meminum susu kotak kesukaannya. Kafa yang penurut mematuhi kata-kata Renata untuk memakan bubur yang dibawakan dan meminum obat dengan syarat Renata harus mau dipanggil Bunda dan mau menemaninya bermain. Tanpa berpikir panjang Renata pun menyetujui permintaan Kafa. Hal itu membuat Kafa bersemangat dan ingin cepat sembuh agar bisa bermain bersama Renata.

Beberapa saat kemudian seorang gadis berumur empat belas tahun datang dengan kantung plastik berisi susu kotak dan makanan ringan. Yap dia adalah Shafa kakak perempuan dari Kafa. Dengan senyum manisnya Shafa mendekat dan menyapa Renata serta mengucapkan terima kasih telah membantu membujuk adiknya makan dan minum obat. Kemudian Kafa memperkenalkan Shafa kepada Renata dengan polosnya ia bercerita kepada Shafa jika ia ingin bunda yang cantik dan baik seperti Renata yang ditanggapi dengan senyuman oleh Shafa. Renata pun hanya mendengarkan keseruan kakak beradik yang bercerita dan memutuskan untuk kembali ke ruangannya karena sepertinya ia harus segera bekerja, dengan tergesa-gesa Renata pergi menuju ruangannya berniat melakukan visit namun usahanya urung, lorong yang ingin ia lewati dipenuhi oleh karyawan yang menyambut kedatangan pemilik Rumah sakit. Renata menepuk  jidatnya dan berkata mengapa ia sampai lupa jika ia harus ikut menyambut pemilik Rumah sakit. Renata pun ikut bergabung dalam kerumunan tersebut berharap bisa melihat wajah sang pemilik Rumah sakit. Namun usahanya sia-sia karena ia hanya bisa menatap punggung si pemilik rumah sakit saja. Dengan kesal Renata pun membalik badan dan berjalan mencari jalan lain menuju ke arah ruangannya.

"Loh dokter Ren tidak ikut melihat Pria tampan?" Goda suster Maria.

"Sudah kok. Tapi saya telat, jadi saya hanya bisa melihat punggungnya saja sus," keluh Renata.

"Hanya melihat punggungnya saja sudah bisa membuat hatiku senang," batin Renata.

"Hahaha Dokter Ren kurang beruntung," ledek Suter Maria.

"Suster Maria sendiri kenapa tidak ikut menyambut?" tanya Renata heran.

"Saya sudah pernah bertemu bahkan bersalaman, Dok. Jadi saya sudah tidak penasaran lagi," ucap suster Maria sembari tersenyum lebar.

"Wah beruntung sekali anda sus. Ya sudah ayo mulai visit sus," ajak Renata.

Renata dan suster Maria pun memulai mengunjungi kamar pasien-pasien yang berada di dalam daftar visit pagi ini.

"Kurang satu pasien lagi, Dok."

"Oh ya? ruangan mana sus?" tanya Renata.

"Ruangan VVIP," sahut Maria.

Renata melangkah semangat menuju deretan ruangan VVIP hingga suster Maria berkata bahwa kamar VVIP yang akan mereka kunjungi ditempati oleh seorang anak laki-laki yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit. Renata kaget karena kamar yang disebutkan oleh suster Maria tersebut adalah kamar Kafa bocah kecil yang menarik perhatiannya.

Dengan sebuah senyuman Renata masuk ke kamar Kafa, namun tak ditemuinya bocah kecil bernama Kafa di ranjang. Hal itu sontak membuat  Renata panik, namun kepanikannya berubah menjadi sebuah senyuman saat ia melihat seorang anak laki-laki berjalan menghampirinya dari dalam kamar mandi.

"Hai, Sayang bagaimana kabarmu hari ini? tante dokter khawatir sekali denganmu," ucap Ren mendekap erat tubuh mungil itu.

Tanpa Renata sadari ada seseorang yang berjalan di belakang Kafa yang sedang membawa tiang penyangga infus. Renata yang saat itu sedang memeluk Kafa dan mencium pipinya dengan gemas pun terkejut. Dengan reflek Ren berangsur mundur dan menghentikan aktifitasnya.

"Ma-maaf pak. S-saya tidak bermaksud lancang, S-ss saya sayang dan gemas kepada putra Bapak," ucap Renata dengan merendahkan tubuhnya lalu melepaskan Kafa dari dekapannya.

Tanpa membalas ucapan Renata, Dafa membawa Kafa dan membaringkannya di ranjang.

"Saya periksa dulu ya, Den?" ucap Renata kepada Kafa.

Renata menempelkan stetoskop di dada Kafa, Renata memeriksa Kafa dengan hati-hati dan teliti lalu melaporkan hasilnya kepada Dafa.

"Tekanan darahnya normal, suhu tubuhnya juga normal. Perutnya sudah tidak kembung lagi. Tinggal pemulihan saja, Pak," ucap Renata yang kemudian pamit karena telah selesai mengerjakan tugasnya.

"Sudah selesai, Saya pergi dulu, Pak. Permisi," ucap Renata sambil melangkah pergi.

Baru selangkah Renata berjalan tiba-tiba Kafa memanggilnya dan memohon untuk ditemani oleh Renata, namun karena rasa sungkan kepada Dafa, Renata membujuk Kafa dan berjanji akan bermain nanti setelah selesai pekerjaan yang diangguki oleh Kafa.

"Bunda ... bunda jangan pergi." Kafa merengek memohon kepada Renata untuk tetap tinggal.

"Temenin Kafa di sini dong bunda," rajuk Kafa.

"Sayang maaf ... Tante gak bisa, tante harus kerja tapi tante janji nanti pulang kerja tante temenin ya," bujuk Renata yang diangguki oleh Kafa.

Renata bernafas lega karena ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan membujuk bocah kecil itu. Kafa bahkan langsung menuruti setiap ucapan Renata.

"Syukurlah dia mau, aku pikir akan sulit membujuknya," batin Renata sembari melangkahkan kaki keluar ruangan.

Akhirnya Renata bisa menghembuskan nafas lega setelah keluar dari ruangan Kafa yang entah mengapa menjadi tidak nyaman karena kehadiran pria yang Kafa sebut ayah.

"Benarkah dia ayah Kafa?" batin Renata.

"Jadi bunda anaknya sih aku mau, tapi kalau jadi istri bapaknya yang super dingin itu aku bisa mati muda," gumam Renata pelan sambil berjalan menuju ruangannya.

Bab 3

Hari ini adalah hari libur, entah mengapa libur kali ini membuat Renata sedih. Ada rasa tak rela di hati Renata karena tak bisa menjenguk dan bermain bersama Kafa.

"Duhh kenapa aku jadi kepikiran anak itu terus sih?" batin Renata.

Renata pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Kafa. Namun usahanya gagal karena sang mama meminta Renata untuk menemaninya menemui teman lama mama. Dengan berat hati Renata pun mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Kafa dan memilih mengantar sang mama.

Di perjalanan sang mama bercerita bahwa temannya berniat mengenalkan Renata kepada anaknya. Namun hal tersebut ditolak Renata secara halus dengan alesan Renata tidak nyaman jika dijodoh jodohkan. Sang mama pun bersikeras membujuk Renata agar mencoba berkenalan terlebih dahulu, dengan alesan ia tak enak hati jika menolak permintaan teman lamanya.

"Ayolah, Sayang. Mama mohon!" bujuk sang Mama.

"Lagi pula usiamu ini udah matang, Ren. Kamu tunggu apa lagi?" desak sang Mama.

Renata terdiam sejenak memikirkan pernintaan sang ibu, ucapan sang mama membuat Renata mau tak mau harus menuruti kemauan mamanya.

"Baiklah, hanya ketemu dan berkenalan saja jangan memaksa Ren lebih, Ma."

"Semua terserah kamu saja, Ren. Mama tidak akan memaksamu."

Setibanya di sebuah restoran Renata langsung masuk mengikuti langkah sang mama menyapa teman teman sang mama dengan sopan dan ramah. Namun ada suatu kebetulan bagi Renata karena merasa pernah bertemu dengan teman lama sang mama.

"Bu... ahh maksud saya tante, kita pernah ketemu di rumah sakit kan? Apakah tante masih ingat?" ucap Renata memulai mengobrol dengan Anna.

"Oh iya iya benar, saya ingat. Jadi kamu Renata anaknya jeng Lin ya?" balas Anna dengan senyum ramahnya.

"Ya tante saya Renata," jawab Renata ramah.

Dan mereka pun asik berbincang hingga sebuah pernyataan yang terlontar mengagetkan Renata.

"Ren... Ini lho temen lama Mama yang mau ngenalin anaknya ke kamu," ucap sang mama.

"Tante mohon Ren mau ya kenalan sama anak tante, dia memang duda Ren tapi umurnya gak jauh beda kok dari kamu mungkin selisih sedikit soalnya dia dulu menikah muda," jelas Anna.

"Dia punya dua anak lucu deh, Ren. Mama suka sama anak-anaknya sopan dan pintar. Kamu pasti suka," imbuh sang mama.

Ren terdiam sejenak, otaknya sibuk mencerna perkataan dari Anna.

"Bagaimana, Ren? mau ya?" bujuk Anna.

"Iya tante Ren mau kenalan kok, atur aja dengan Mama, kabari Ren kapan Ren harus ketemuan," ucap Renata sopan.

"Ma... Ren harus ke rumah sakit, ada kepentingan mendadak. Tante maaf Ren pamit dulu ya? lain kali kita sambung lagi," ucap Renata sopan yang ingin menghindar.

"Hati-hati di jalan, Nak."

***

Sesampainya di rumah sakit, Ren langsung berjalan menuju ruangan Kafa. Dengan penuh semangat Renata membuka Handle pintu dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi ia gunakan untuk menenteng sebuah paper bag berisi buku cerita untuk Kafa. Namun niatnya urung ketika ia melihat sosok Dafa di dalam ruangan  sedang duduk disofa memangku laptop.

"Aduh ... Ada bapaknya, sebaiknya aku pulang saja," batin Renata.

Niat hati Renata hendak menutup pintu pelan agar tak ketahuan. Namun niat itu digagalkan oleh kehadiran Shafa dari belakangnya yang ingin masuk ke dalam.

"Tante... kenapa berdiri di sini? ayo masuk, Kafa pasti seneng kalau tante dateng," ucap Shafa sopan.

"I-iya Shafa," ucap Renata gugup.

Renata mengumpati kebodohannya sendiri di dalam hati yang tidak segera pergi dari sana sehingga bertemu dengan Shafa.

Mau tak mau Renata pun ikut Shafa masuk ke dalam ruangan karena Ren tak tau harus beralasan apa untuk menghindar. Dengan canggung Renata mencoba menyapa Dafa meskipun diabaikan.

"Pa, tante Ren nyapa papa loh," celetuk Shafa yang membuat Dafa berdeham.

"Maafin papa ya tante," bisik Shafa tak enak hati.

Renata tidak terlalu ambil peduli dengan Dafa karena niatnya ke sini untuk menjenguk Kafa bukan bertemu Dafa. Kafa pun senang bukan main melihat kedatangan Renata. Bocah laki-laki tersebut melompat kegirangan dan langsung memeluk tubuh Renata. Sifat hangat Kafa dan Shafa membuat Renata lupa jika di situ ada Dafa. Kafa, Shafa dan Renata pun asik bercerita dan bergurau sesekali Kafa bergelayut manja pada Renata membuat Dafa yang acuh diam-diam memperhatikan kedua anaknya karena tak biasanya kedua anak itu bisa akrab dan sedekat itu dengan seorang perempuan setelah kepergian Bundanya.

"Kafa tante pulang dulu ya? Kafa cepat sembuh ya," pamit Renata.

"Tapi tante janji ya besok ke sini lagi?" ucap Kafa yang dibalas anggukan oleh Renata.

"Ayah ... Bolehkah Kafa meminta sesuatu permintaan pada ayah?" pinta Kafa memelas.

"Tentu, apapun sayang," ucap Dafa sembari mengelus puncak kepala putranya.

"Ayah ... bisakah aku memiliki bunda seperti tante Renata?" ucap Kafa polos. Dafa terkejut mendengar permintaan Kafa, ia ingin sekali mengatakan jika Kafa memiliki bunda yang jauh lebih baik dari Renata agar Kafa tidak meminta Ren untuk menjadi bundanya. Namun ia tak sampai hati untuk mengatakannya.

"Sayang ... ganti permintaannya ya? jangan itu, Papa tidak bisa," ucap Dafa yang membuat air wajah Kafa berubah menjadi masam.

"Tapi aku setuju kok, Yah kalau tante Ren jadi bunda kita," sahut Shafa.

"Kakak ... gak boleh gitu dong, Sayang. Kita bicarain ini lain kali ya," ucap Dafa membujuk.

Kafa yang tak ingin menyerah pun berusaha membujuk Renata. "Tante... tante mau kan jadi bunda kita?" pinta Kafa sembari memasang wajah memelas.

Renata mati gaya mendengar permintaan Kafa dengan wajah memelas tapi ia sendiri juga bingung harus bagaimana dan menjawab apa kepada Kafa.

"Sayang ... tante sayang kok sama Kafa dan kak Shafa tapi tante harus permisi pulang dulu kita bicara ini lain kali aja ya," ucap Renata lembut yang dibalas anggukkan oleh Kafa dan Shafa.

Sungguh Renata ingin menjawab iya dan mengabulkan permintaan kedua anak tersebut tapi apa daya Renata tak mempunyai kuasa untuk menjawabnya jika bukan Dafa yang memintanya. Sebenarnya ada rasa bahagia ketika mendengar permintaan Kafa dan Shafa namun itu semua terpatahkan karena Sifat dingin dari ayah kedua anak tersebut.

Renata memeluk Kafa sebelum ia meninggalkan ruangan anak itu. Ia memutuskan pulang ke rumah karena ia merasa lelah.

"Sayang ... kamu kenapa?" tanya sang mama menghampiri Renata yang baru saja masuk ke dalam rumah.

"Gak apa apa ma. Cuma capek aja," jawab Renata singkat.

"Ren nanti malam kamu diundang makan malam sama tante Anna," ucap Lin memberitahu Renata tentang rencananya dan Anna.

"Kok mendadak banget sih ma? Ren kan gak ada persiapan," ucap Renata panik.

Lin membelalakan mata melihat ekspresi heboh panik Renata. "Apanya yang harus disiapin sih Ren? orang kita cuma makan malam biasa bukan lamaran," ucap sang mama sembari terkekeh.

"Ya sudah aku ngikut mama aja, aku ke kamar dulu ya ma," pamit Renata.

Di dalam kamar Renata melamun, ia sedih karena terngiang ngiang permintaan Kafa dan Shafa. Renata berandai andai jika saja ia bisa mengabulkan keinginan dua anak tersebut, sungguh Renata ingin sekali menfabulkannya.

"Maafkan tante, Nak. Tante tidak bisa mengabulkan keinginan kalian," gumam Renata lirih.

Renata berdo'a semoga Tuhan memberikan sosok ibu yang baik untuk Shafa dan Kafa karena Renata tak tega melihat kesedihan Kafa dan Shafa.

"Tante yakin kalian akan memiliki Bunda yang jauh lebih baik dari tante nanti," lanjut Renata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED