Cinta adalah satu kata namun berjuta makna tersirat, dan tak ada yang tahu pada siapa ia berlabuh atau bahkan hanya sekedar sekedar persinggahan sesaat.
Genre: Gore - Fantasy - Mystery - Psychopath - Darkness - Romance
Novel ini tak jauh dari latar cerita tentang kehidupan para mahkluk gaib, bangsa kegelapan, kekuasaan, penyiksaan, keputus asaan dan CINTA.
Jasmeen Aimee, yang berarti melati tercinta, biasa dipanggil Jaes-Jasmin-Jeje. Berparas cantik - sopan - ramah - berkulit putih - hidung mancung - tinggi 160 cm - rambut panjang - suka bergaul - suka menulis novel gore ( cerita sadis, psychopath dkk), Fantasy romance.
***
"Di ruang pesta"
Seorang gadis sedang terlihat begitu geram saat menyaksikan seorang pria tampan bersama wanitanya sedang berdansa. Kedua pasangan itu terlihat begitu serasi, namun si gadis yang sedang berdiri di sisi kanan dari tempat dansa terlihat tidak senang.
"Beri tepuk tangan yang meriah untuk kedua pasangan dansa terbaik kita malam ini..." ujar seorang pria yang merupakan pembawa acara.
Prok prok prok... riuh tepuk tangan orang-orang saat melihat kedua pasangan serasi tersebut.
Huhhh... "Sepertinya tempat ini tak cocok untukku.." batin sang gadis yang terlihat cemberut sedari tadi, selama acara pesta dansa berlangsung.
Ia berjalan menuju pintu utama, hendak keluar dari ruang pesta.
"Nona, mengapa begitu cepat meninggalkan cesat? tidakkah pestanya masih berlangsung?" tukas seorang pria dengan pakaian serba hitam dengan kacamata hitamnya pula.
"Maaf tuan, aku merasa hawa di dalam sana kurang pas untukku," jawab si gadis sambil berjalan melangkah menuju parkiran.
"Hei... jalan utamanya di sebelah sana nona.." ujar si pria sambil meraih lengan si wanita.
"Ohh maaf... terimakasih," ucap sang gadis sambil menepis tangan si pria yang tadi meraihnya sesaat.
>>
Gadis tersebut memanggil taksi lalu pulang menuju rumah susun kediamannya. Sebuah gedung yang cukup tua, dan dari tampilan gedung tersebut, terlihat bahwa biaya sewa tak terlalu mahal. Sangat terjangkau bagi mahasiswa magang seperti Jasmeen Aimee.
Yah, gadis yang baru pulang dari pesta dansa tadi ialah Jasmeen Aime, atau kita panggil saja Jaes.
***
"Rumah susun kediaman Jasmeen Aimee"
"Sepertinya hubungan kita hanyalah sebatas kakak beradik atau kah aku yang terlalu berharap lebih padamu kak.." lirih Jaes sambil mendekap sebuah boneka beruang mungil miliknya.
Hahh... menghela napas sejenak, lalu membuka layar laptop, membuka aplikasi Microsoft Word dan mulai mengetik.
"Ternyata sang pangeran telah memiliki seorang kekasih yang sangat sepadan dengannya, dan si gadis kampung hanya bisa menerima nasib malangnya sebagai pengagum sang bulan yang tidak mungkin dapat ia raih...--"
Ahkk...
"Aku tidak bisa fokus dengan naskah novelku!!" gumam Jaes sambil mengacak rambutnya sendiri dan mendengus kesal.
Drrttt... suara getar ponsel milik Jaes telah membuyarkan fokusnya.
"Editor Zeros memanggil...."
Jaes: "iya hallo bos...
Zeros: "besok bawa naskahmu tepat pukul 19:00 malam, tidak ada kata telat.."
Bipp... panggilan terputus..
Argh! "Padahal aku belum bicara apa pun.. ohh myy Lord... tugas akhirku pun belum selesai tapi naskah novelku harus segera aku berikan pada bos Zeros." Jaes benar-benar pusing dengan deadline yang diberikan sang editor.
Whusss.... hembusan angin membuat horden jendelanya menari-nari.
"Mengapa ada angin sedingin ini... ahh mungkin cuacara malam ini akan segera hujan," gumam Jaes, lalu segera menutup layar leptopnya dan menarik selimut untuk segera beristirahat.
Hahh... hahhh... Whuss...
"Hei siapa itu... Jaes terlihat mulai kesal dengan suara aneh yang mengganggu istirahatnya dan juga angin yang sedari tadi terasa dingin mencekam.
Hahhhh... Jaes terdiam membeku saat melihat sosok pria dengan wajah bersimbah darah, pria tersebut hanya mengenakan kolor saja. Bahkan tangannya penuh dengan darah segar. Lebih mengejutkan lagi, di tangan kanannya terlihat seorang gadis yang sudah tak bernyawa, bersimbah darah area leher si gadis.
Gadis tersebut telanj*ng tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya.
Hahh hahhh... napas Jaes terasa sesak saat sorot mata yang tajam itu menatap dirinya dari balik kaca jendelanya.
****
Jasmeen Aime/ Jaes, adalah seorang mahasiwa tingkat akhir. Ia harus berusaha mencari penghidupan untuk dapat membayar uang sewa rumah susunnya dan juga biaya kuliah. Ia menjadi seorang penulis novel Gore - Darkness - Fantasy, sejak masih berada di bangsu sekolah menengah pertama.
Saat ingin beristirahat, Jaes harus melihat hal yang sangat mengerikan selama hidupnya, dan ini adalah hal baru.
Whuss.... tiba-tiba saja sosok yang bersimbah darah itu menghilang dari pandangan matanya, dan Jaes segera tertidur.
***
"Café xxx"
Hmmm....
"Lumayan bagus, tapi aku terlalu boring dengan genre yang datar begini!"
Plakk... suara hempasan beberapa lembaran kertas tergeletak di atas meja makan, dan membuat kedua bahu Jaes terangkat karena terkejut.
Ahhhmm... "Maaf bos, aku terlalu sibuk dengan urusan kuliahku, dan aku..-"
"Jasmeen... kau kubayar untuk menulis cerita yang menarik dan menarik pembaca. Jika karya seperti ini, anak sekolah dasar pun bisa!" tukas seorang pria sambil menyipitkan matanya.
"Baik bos," Jaes tertunduk sendu dan sebenarnya ia sangat kesal.
"Jaes, aku sangat berharap kau mendapatkan imajinasi mau pun fantasy yang lebih menegangkan..." tukas Zeros yang merupakan editor naskah novel karya Jasmeen.
"Akan ku usahan bos."
Jaes pun beranjak pergi dari café tempat pertemuannya bersama Zeros, sang editor naskahnya.
Waktu menunjukkan tepat pukul. 22.45...
"Astaga!! ini sudah sangat larut, besok aku harus pergi ke kantor magangku," gumam Jaes sambil berjalan setengah berlari.
Whusss... hembusan angin yang terasa begitu dingin, seakan menusuk tulangnya.
"Mengapa anginya terasa sangat dingin begini lagi..." batin Jaes, entah mengapa aura mencekam itu sama persis seperti yang ia alami pada malam itu.
"Taksi taksi!" Hampir satu jam Jaes menunggu taksi berhenti, namun tak kunjung ada yang berhenti.
"Ini sudah sangat larut." Jaes sudah biasa pulang larut malam, namun malam ini terasa begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Tiba-tiba saja rambut belakang lehernya terasa berdiri, ia mengusap leher belakangnya. Ia bergidik ngeri, sungguh tak mengerti apa ini sebenarnya, pikirnya.
Emhhh... Jaes merasa ada aroma yang sangat kuat menusuk hidungnya. Yah, aroma itu adalah aroma darah. Terasa sangat dekat dan semakin dekat.
Kakinya mulai gemetar, dan tubuhnya pun seakan tarasa sangat ringan.
Berjalan perlahan menuju samping gedung tua, tak jauh dari halte tempatnya menunggu angkutan umum.
Sebuah cahaya meremang terlihat jelas dari arah tempat Jaes berdiri.
Hakkk ahkkhh ahkkk... suara lenguhan yang terdengar jelas, Jaes sangat yakin itu suara manusia dan bukan binatang.
Kringgg.... tak sengaja ponselnya bordering dengan cukup nyaring, di dukung suasana samping gedung itu cukup sepi.
Hahhhh!!! Jaes membelalak, hampir menjatuhkan ponsel miliknya.
Sosok yang sangat mengerikan sedang berdiri menghadap tembok, namun dari area mulut sosok tersebut bersimbah darah segar. Lebih mengejutkan lagi, sosok itu adalah seorang pria yang sedang mencekik seorang wanita.
Dari mulut si wanita itu mengeluarkan darah segar, dan juga bagian lehernya terkoyak ngeri.
Jaes berbalik badan dan ingin berlari sekuat tenaga.
Napasnya terasa memburu, bahkan suaranya hampir tak terdengar. Ia sangat ketakutan setengah mati. Ia berharap ini hanyalah mimpi buruk, tidak!! itu sangat mengerikan dan menjijikan.
Ahkkk... Jaes melenguh saat ia mulai merasakan ada sesuatu yang menjambak rambut panjang miliknya.
Tcasshh tcasshhh... tetesan darah menetes di bahunya.
Jaes memejamkan matanya dengan sanga ngeri, ia bahkan menangis tanpa suara.
Yah, pria tadilah yang menjambak rambutnya, namun Nath tak dapat melihat jelas wajah dari pria itu.
"Lupakan apa yang baru saja kau lihat, atau kau akan tahu akibatnya..." bisik si pria tepat di daun telinganya, bahkan darah dari mulut si pria menempel pada bagian daun telinga hingga rambutnya.
Ahh hahh hahh... napas Jaes terasa begitu sesak dan hampir ia tak mampu menarik napasnya.
"Apa kau mengerti manis..." hahhhh... angin dingin tadi berhembus di batang lehernya.
Si pria itu menjambak rambut panjang Jaes dan berbicara di area lehernya.
"Baahhiiikkkk akkkuhh tak akan menceritakan pada siapa punnn..." hahhhh ujar Jaes dengan tubuh yang sangat gemetar hebat.
"Gadis pintar... lain kali aku akan mencarimu, sepertinya darah perawanmu sanga lezat..." ujar si pria dan tiba-tiba saja menghilang bersama hembusan angin malam.
>>
Jaes akhirnya pulang dengan taksi, itu pun memohon agar supir taksi mau mengantarnya pulang.
"Hmm... gadis manis, kita akan bertemu kembali..." gumam si pria tadi sambil tersenyum miring.
***
"Kediaman Jasmeen"
Hah hahhh... Jaes segera melucuti seluruh pakaiannya. Ia menangis sejadi-jadinya, ia sangat ketakutan dan belum pernah ia merasa tertekan dan terancam seperti sekarang ini.
Kalimat yang dilontarkan si pria misterius dan sadis tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Sracchhhhhh....
Jaes mengguyur seluruh tubuhnya dengan air, bahkan ia terduduk lemas di samping bathtub miliknya.
Setelah selesai membersihkan diri, ia mulai membuka laptop.
Mulai mengetik, rupanya ia menulis naskah yang berisi tentang kejadian yang telah ia alami malam ini. Tangannya mulai gemetar hebat, entah mengapa kecepatan mengetiknya sangat cepat dari sebelumnya. Seakan cerita itu benar-benar hidup.
Keesokan harinya...
"Kampus xxx"
"Jasmeen Aime!!!" teriak seorang dosen berkacamata dan terkenal sangat killer.
"Iya sir!" Jaes spontan berdiri dan tersadar dari lamunannya.
"Aku tahu ini adalah kelas sastra, dan kalian harus menyelesaikan satu karya berbentuk buku sebagai tugas akhir. Tapi kelas ini bukan tempatmu untuk mencari inspirasi Jasmeen." Ucap sang dosen.
Sementara para mahasiswa lainnya hanya memandanginya dengan tatapan aneh, meremehkan, tak peduli, bahkan ada tatapan yang seakan mensyukurinya telah di tegur keras.
"Baik, kelas berakhir, dan terkhusus untuk Jasmeen! inilah waktumu untuk mencari inspirasi."
Hahhaha.. huuuu "dasar tukang khayal...!" ujar beberapa rekan kampusnya, namun Jaes masa bodoh dengan hal itu.
Jaes terlihat hilang semangat, wajahnya memucat dan bibirnya pun sangat kering keronta.
***
"Bravoo.... amazing..."
"Hanya dalam hitungan jam, naskahmu sudah mencapai ratusan bahkan hampir jutaan views.." ujar Zeros sang editor.
"Iya bos, bagus jika seperti itu," jawab Jaes dengan wajahnya yang sendu.
"Hei.. inilah yang kumaksud karya hebat. Dari karya hebatmu ini akan mampu membuat income kita naik.." ucap Zeros penuh semangat.
"Malam ini kau harus tulis kisah yang lebih panas lagi, dan kita akan bakar para pembaca itu.. ahaahah..." Zeros tertawa kesenangan.
"Iya bos, apa aku boleh pergi."
"Yes... aku akan mengantarkanmu.." ujar Zeros sambil merangkul Jaes, namun Jaes menepis tangan Zeros darinya.
Zeros
Mobil Fajero sport berwarna hitam mengkilat terparkir di sisi kanan café tempat Jaes dan Zeros melaksanakan meeting naskah novelnya.
"Jaes... kau sudah memilik pacar?"
"Tidak! aku benci pria!" Jawab Jaes dengan nada cuek.
hahahah...
"Bukankah tanpa pria hidupmu hampa?" ucap Zeros dengan terkekeh geli.
"Sudahlah bos, aku lelah menjadi sosok pengagum senja."
"Kau luar biasa, semua kalimatmu penuh dengan kata-kata dramatis.." ujar Zeros sambil menghentikan mobilnya di depan mini market.
"Aku tunggu dalam mobil saja bos," ujar Jaes sambil bermain ponsel.
"Oke... aku akan membeli beberapa makanan."
Jaes bersandar di kursi mobil milik Zeros, dan ia memandangi area gedung tinggu di sana. Matanya terfokus dengan dua pasangan pria dan wanita yang sedang asyik makan bersama.
"Kak Remost..." gumam Jaes saat melihat pria yang sedang menyuapi wanitanya. Matanya berubah sendu, entah mengapa pemandangan itu terasa menyesakkan.
Namun, ada sosok pria bertubuh tinggi tegap, tampan, mengenakan jaket kulit. Pria itu berdiri di samping mobil fajero milik Zeros. Sorot mata yang sangat tajam, dan Jaes teringat akan sorot mata dari pria yang beberapa malam lalu telah membuatnya kehidupannya mulai dipenuhi rasa takut.
Pria itu menoleh ke arah kaca mobil, dan memberikan tatapan seakan ingin menghabisinya seketika.
Bruakh... suara pintu mobil terbuka.
Hahh...
"Minumlah larutan penyegar untuk menyegarkan kerongkonganmu.." ujar Zeros yang baru tiba dari dalam mini market.
"iya, thank you bos." Jaes menerima sebotol larutan pemberian Zeros, dan saat ia kembali menoleh ke kiri, pria itu sudah menghilang dari pandangan matanya.
Tubuh Jaes kembali gemetar dan melemah seperti saat ia di ancam oleh pria sadis nan misterius waktu itu..
****
Jasmeen yang selalu di sibukkan dengan segala tugas kuliahnya, kini harus mengejar deadline naskahnya dar sang editor tampan namun super bawel dan sedikit temperamental.
"Kampus xxx"
"Heii coba lihat pak Remost dengan tunangannya sangat serasi bukan.."
"Iya benar, cantik dan tampan. Super mapan lagi, dari keluarga terhormat.." riuh para mahasiswa saat melihat seorang dosen mudah nan tampan sedang bersama tunangannya yang juga cantik anggun.
"Iya, kak Remost memang sangat tampan dan juga..—"batin Jaes.
"Ahhhss... apa yang pikirkan dan kuharapkan saat ini..." Jaes Bergegas membereskan barang-barangnya, dan ingin segera pergi menuju sebuah café terdekat.
"Jasmeen!!" seseorang memanggil namanya, saat Jaes menyusuri lorong kampusnya yang sudah menunjukan waktu sore hari.
Jaes berbalik sejenak...
"Bagaimana kabarmu?" ujar seorang pria tampan sambil tersenyum.
"Aku baik-baik saja pak.."
"Sekarang sedang tak ada orang, mengapa kamu memanggilku bapak, tidakkah itu terlalu formal!" Ucap sang dosen tampan, yang ialah Remost Tyga.
Remost Tyga
"Tetapi kita sedang berada di area kampus."
"Iya aku tahu, tetapi malam ini aku ingin mengajakmu makan malam bersama..." ujar Remost penuh harap.
"Maaf, aku harus menyelesaikan deadline pekerjaanku, permisi." Jaes pun bergegas pergi dari hadapan Remost si dosen tampannya.
"Jasmeen! maaf... maafkan aku.." tukas Remost, dan seketika menghentikan langkah Jaes.
"Yah... aku mengerti," jawab Jaes singkat, lalu ia beranjak pergi.
>>>
"Hahhh... sial!! mengapa aku bisa jatuh cinta dengan pria bajingan seperti Remost Tyga!!!" Jaes mengumpat sendiri, dan menendangi kaleng ke sisi kanan trotoar.
"Hei... perhatikan langkahmu." Ucap seseorang dari arah tendangan kaleng tadi.
"Ahh maaf tuan... maafkan aku."Jaes bergegas menuju sumber suara, dan...
Seorang pria tampan, sorot mata yang tajam, tinggi, kekar, dengan bulu-bulu halus pada bagian rahang hingga pipi tegasnya.
"Ini milikmu.." ujar sang pria sambil menyodorkan kaleng yang telah Jaes tendangi tadi, namun dengan wajah yang datar dan terasa tak senang.
"Aku sangat minta maaf tuan, aku tak sengaja.. aku..--"
"Sepertinya kita saling mengenal..." tukas si pria sambil mendekati wajah Jaes.
"Maaf... aku tidak akan mengulangi hal ini lagi, kapan pun dan dimana pun." ucap Jaes sambil mundur perlahan, karena jarak wajah mereka sangat dekat sekali.
"Cullen! hei mengapa kau meninggalkanku!" ujar seorang pria sambil mengejarnya.
"Jadi nama pria ini Cullen..." batin Jaes sambil menoleh ke arah seseorang yang sedang memanggil Cullen.
"Bos!" Jaes terkejut saat melihat sang editor cerewetnya ternyata teman baik si pria misterius itu.
"Ohhh kau Jasmeen., mengapa? kalian sudah saling mengenal" ucap Zeros terkejut.
Hahhaa...
"Cullen kenalkan, ini adalah Jasmeen seorang novelis.." ujar Zeros memperkenalkan.
"Jasmeen." Jaes mengangkat tangan kanannya hendak memberi salam pada Cullen, si pria dingin nan misterius itu.
"Cerita apa yang telah kau tulis.." Ucap Cullen dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Ohh, dia menulis naskah gore." Ucap Zeros memotong pertanyaan Cullen.
"Aku tidak peduli denganmu! aku sedang bertanya pada gadis ini.." tukas Cullen dengan tatapan dinginnya, dan membuat Jaes sedikit bergidik ngeri. Seakan sorot mata itu pernah ia lihat sebelumnya.
"Baik, baik... mari kita pulang."
"Maaf Jasmeen.. aku pulang!"
"Oke bos." Jaes pun berjalan perlahan, tanpa sadar ia sudah tiba di depan area rumah susun kediamannya.
>>
Ahhh...
"Apakah aku sudah mulai gila.. mengapa sorot mata itu tidak asing..." gumam Jaes sambil membuka laptopnya, dan mulai melanjutkan naskah gore-darkness miliknya.
Drrrtttt... satu pesan belum dibaca..
"Jasmeen, kita harus bicara, dan kamu harus mengerti mengapa aku sampai menerima perjodohan itu..—" Remost Tyga.
"Persetan!! aku tak peduli lagi! dasar pendusta!!" Jaes enggan untuk membalas pesan tersebut.
Drtttt... ponselnya kembali bergetar dan berdering.
"Editor Zeros memanggil..."
Jaes: "hallo bos..."
Zeros: "Malam ini berdandanlah dengan cantik, karena kita akan mengadakan pesta di hotel xxx, aku akan menjemputmu..."
Jaes: "Oke bos.."
Jaes mulai memilih dress yang akan ia kenakan di pesta nanti...
"Sudahlah, ini saja.." Jaes akhirnya menentukan pakaian yang pas untuknya.
Ia mengenakan dress mini yang memperlihatkan paha putih miliknya, rambut yang di ikat satu dengan balutan hand bag.
>>
Tit tit tit...bunyi klakson mobil berwarna hitam yang tak lain ialah Zeros, si editor cerewetnya.
"Kita akan pergi ke pesta apa bos?"
"Ikut saja dan nikmati, oke.." tukas Zeros dengan senyuman miringnya.
Tak lama setelahnya, mereka pun tiba si sebuah hotel berbintang nan mewah.
***
Bangunan tinggi menjulang, dengan design yang memang terlihat sangat mewah, mampu membuat Jaes ternganga kagum.
"hei.. ayo masuk..." Zeros pun mengajaknya untuk masuk bersamanya.
Orang-orang terlihat saling berinteraksi satu sama lain, dan terlihat pula mereka adalah orang-orang yang memiliki status sosial tinggi.
"Nikmati saja pestanya, aku akan bergabung dengan yang lain.." ujar Zeros lalu meninggalkan Jaes di area kolam renang.
Duduk termenung dan seakan membosankan, namun sambil menyantap salad buah segar.
Hmm... Jaes teralihkan oleh seorang pria tampan, yang sibuk dengan gadget miliknya.
"Cullen..." gumam Jaes saat melihat pria itu, dia adalah Cullen, si pria dingin nan tampan.
"Tuan muda Cullen... silakan minumannya, dan silakan masuk untuk mengikuti acaranya.." Ucap seorang pria yang berpakaian serba hitam. Lalu pria itu pun pergi, ia berpapasan dengan Jaes yang sedang duduk di sisi samping kolam.
"Bukankah itu pria yang malam itu menarik tanganku..—" batin Jaes, seakan mengingat sosok pria yang berpakaian serba hitam tadi.
"Huhhh... bosan..." keluh Jaes, lalu ia mulai berkeliling menyusuri area hotel mewah itu.
Ahkkk ahhh... hmm... suara lenguhan seorang wanita.
"Siapa itu..." gumam Jaes, namun ia masih masih saja melangkah.
Argh.... hkk... suara lenguhan tadi berubah menjadi sedikit kasar.
Sontak membuat Jaes merasa penasaran, dan mencoba untuk pelahan melangkah menuju asal suara.
Hahhh!! Jaes menutup mulutnya, saat ia melihat seorang pria mengenakan jaket kulit berwarna cokat kehitaman sedang mencumbu seorang wanita bergaun. Eh, bukan mencumbu, pria itu terlihat berdarah, dia sedang menggigit leher si wanita.
Ahh hahh... Jaes berusaha tetap tenang, dengan kaki yang gemetar hebat, Jaes mencoba menjauh, namun pria itu melepaskan si wanita dan sorot matanya mengarah ke arah Jaes saat ini sedang berdiri.
Jaes mundur perlahan, ia sangat takut dan ingin mengambil seribu langkah.
Hahh ahh... Jaes berlari ketakutan, sesekali ia menoleh ke belakang dan saat berpaling kembali.
Bhuk... Ia menubruk dada seseorang.
Jaes mencoba mendongak ke atas, dan ternyata itu adalah Cullen.
Greep... Cullen menarik tangan Jaes menuju samping tembok yang gelap meremang.
"Jasmeen Jasmeen... ayo, kita akan segera pulang.." Zeros sedang memanggil dirinya, namun Jaes tak mampu mengeluarkan suara, karena satu tangan besar sedang mencengkram batang lehernya, dan tangan satunya lagi meremas pinggangnya.
Cullen merogoh ponsel yang berada di dalam hand bag milik Jaes, dan mulai mengetik.
Kring kring..." Ohh, ternyata dia sudah pulang, yasudah.." gumam Zeros, lalu berjalan menjauh.
Cullen menyodorkan layar ponsel milik Jaes, dan di sebuah pesan berisi, "Bos, aku sudah pulang terlebih dahulu."
"Kenapa, kau keberatan. manis.." bisik Cullen tepat di telingan Jaes, perlahan Cullen melepaskan cengkramannya dari leher Jaes.
"Apa maumu tuan..." ucap Jaes, karena bekas cengkraman itu cukup panas di lehernya.
"Seharusnya seorang anak gadis manis tidak boleh berkeliaran dan melihat apa yang orang dewasa lakukan.." ujar Cullen dengan sorot mata yang sangat menakutkan.
Ahkk... Jaes melenguh saat ia merasakan ada sesuatu menyingkap dress mini miliknya.
"Lepaskan aku bajingan!"
Hahahha...
"Tidakkah semua wanita suka dengan permainan lihat seorang pria hmm."
Cullen mencelupkan tangannya ke dalam celana lapisan Jaes. Cullen meremas area paha milik Jaes dan tiba di selangkangan dalam, tangan yang berurat itu bermain di dalam celana lapisan milik Jaes, dan membuat Jaes sangat kelelahan.
"Kau binatang!" Jaes sangat kesal, karena belum pernah ada sebelumnya pria berani melecehkannya seperti ini.
"Mulutmu sangat pedas, tetapi tubuhmu sangat menikmatinya sayang..." bisik Cullen sambil melumat bibir Jaes.
Sial, ini adalah ciuman pertama Jaes.
Emhh... hhhmm... Jaes berusaha meronta, namun Cullen meraih kedua tangannya dan meletakkan di atas kepala Jaes.
Cullen mengecup bibir mungil milik Jaes dengan kecupan yang sangat kasar dan menuntut lebih. Saliva Jaes menangalir ke area lehernya. Cullen juga mengecup bagian leher dan menyingkap dress miliknya hingga menampilkan seluruh tubuh Jaes.
Sialan!! Cullen menjilati seluruh yang ada di sana, ia bahkan menggesek-gesekan pahanya pada selangkangan Jaes, saat ia sedang bermain di dalam dress mini Jaes.
Ia memasukan kepalanya ke dalam dress, sudahlah.. Jaes tak mampu lagi bertahan. Seluruh tubuh Jaes terasa sangat terbakar, dan ia sangat lemas.
"Lepaskan aku..." Jaes menangis, ia sangat sedih, mengapa pengalaman berharganya harus di renggut oleh pria bajiangan ini, pikirnya.
"Kau beruntung, karena aku tidak langsung membunuhmu dan menancapkan taringku di lehermu.." Ucap Cullen dengan sorot matanya yang sangat tajam membunuh, dan Jaes ingat, sorot mata dan suara ini adalah sosok misterius dan sadis pada malam itu.
"Kau pria yang waktu itu..." Jaes membelalak ngeri.
"Kau benar my lady.. tubuhmu sangat menggoda.. mau bermain denganku.." ujar Cullen dengan seringai senyuman iblisnya.
"Jangannn ahkkk..". Cullen tak menghiraukannya, namun terus saja membuat Jaes mendesah manja dan sambil terus menangis pilu.
"Kau sekarang milikku... dan ingat jangan sampai orang-orang tahu siapa kau, jika tidak.."
Greepp.. Cullen mencengkram bagian bokong Jaes, meremas dadanya, tidak tidak.. tepatnya di bagian jantungnya.
"Aku akan mencabik isi perut dan jantungmu.." Ucap Cullen dengan nada mengancam.
Hhhh... Jaes terus terisak, selain ketakutan ia pun sangat marah namun tak berani melakukan perlawana lagi.
"Ayoo aku antar kau pulang lady.." Cullen mengangkat tubuh mungil jaes ala bridal style.
****