"Kamu takkan percaya siapa yang baru saja keluar dari penjara."
Terkejut, Indra Suryajaya mendongak dari laptopnya ketika mamanya masuk ke ruang rapat. Dia melepas kacamata hitamnya, sudut mulutnya melengkung ke bawah, cemberut seperti biasa.
"Aku rasa Mama akan memberi tahuku."
Indra tidak pernah peduli dengan gosip. Itu adalah mata uang mamanya. Pengaruh yang digunakannya untuk melawan musuh-musuh keluarga mereka. Dan keluarga Suryajaya memiliki terlalu banyak musuh yang tidak terhitung jumlahnya.
Mata uang Indra sendiri adalah selalu mengetahui dengan tepat titik-titik kelemahan mana yang harus ditekan sampai musuh berubah menjadi sekutu dan menyerahkan apa pun yang diinginkannya. Sebagai wakil presiden Suryajaya Investment Bank, dia hidup dengan satu jalan: menemukan kelemahan seseorang untuk mengubah keadaan sesuai keinginannya. Dalam hal itu, dia persis seperti mamanya, meskipun dia enggan mengakuinya.
Setiap Suryajaya memiliki sifat kejam. Sebagai pemilik salah satu bank swasta terbesar menjamin sifat itu, meskipun sebagian dari dirinya berharap itu tidak terjadi.
Dia menyambar remote TV dari meja kerja dan menyalakan televisi.
"Kamu belum dengar?"
Dia melipat tangannya dengan jengkel dan melirik TV layar lebar. Rasa terkejut membuat tubuhnya kaku saat kenangan masa lalu menghantamnya seperti berton-ton batu bata.
"Sial, Edwin Kanigoro."
Mamanya mengangguk. "Dia dibebaskan bersyarat empat tahun lebih awal karena berperilaku baik."
Rekaman video Edwin Kanigoro yang berambut kelabu tertatih-tatih keluar dari penjara muncul di layar HDTV.
Indra menggelengkan kepalanya karena tidak percaya. Ketika Edwin dijebloskan ke penjara hampir sepuluh tahun yang lalu, pria itu sedang berada di puncak hidupnya. Dari semua musuh keluarga Suryajaya, Edwin adalah yang paling berbahaya sejauh ini. Selama bertahun-tahun orang tua Indra bekerja untuk keluarga Kanigoro, terus menapaki jalan mereka ke puncak tangga perusahaan, sampai papanya dengan kejam menjatuhkan keluarga Kanigoro dari menara emas mereka. Menjatuhkan mereka, merebut perusahaan mereka, dan mengungkap kejahatan dan korupsi Edwin Kanigoro secara menyeluruh sehingga dia dijebloskan ke penjara.
Sekarang dia bebas. Seorang pria bebas.
"Dia tampak menyedihkan," kata Indra akhirnya.
"Jangan bersikap lembut," mamanya memperingatkan. "Dia memperlakukan papamu dan aku seperti sampah selama bertahun-tahun kami bekerja untuknya. Pria itu akan selalu menjadi ular."
"Aku tidak bersikap lembut. Dia hanya tampak sangat berbeda."
Meskipun ada permusuhan antara kedua keluarga, Indra tidak bisa menahan rasa kasihan pada Edwin. Sebelum berakhir di penjara, kekayaan Edwin telah dirampas, meninggalkan keluarganya di rusunawa. Keluarga Kanigoro adalah salah satu keluarga paling berkuasa sampai orang tua Indra menghancurkan mereka rata dengan tanah.
Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa keluarga Kanigoro telah dihancurkan oleh kekuatan yang telah membuat mereka sukses selama beberapa generasi. Satu-satunya cara untuk mencapai puncak adalah dengan menjatuhkan semua orang di atasmu. Begitulah cara keluarga Kanigoro akhirnya mengumpulkan begitu banyak kekayaan selama hampir satu abad. Setelah hampir seratus tahun berpuas diri, orang tuanya yang baru memulai karier menunjukkan kepada Kanigoro bahwa memperlakukan bawahan dengan buruk akan sangat merugikan mereka. Keluarga Kanigoro sudah siap mencampakkan orang tuanya demi menyelamatkan diri mereka sendiri ketika kejahatan mereka terungkap.
Apa pilihan yang dimiliki orang tuanya?
Mencampakkan keluarga Kanigoro ke jurang berarti keberuntungan bagi keluarganya, dan kini mereka memiliki kekayaan lebih dari yang pernah mereka impikan. Dalam tiga puluh dua tahun hidupnya, dia telah berubah dari tinggal di apartemen satu kamar tidur bersama orang tua dan saudara-saudaranya menjadi memiliki dunia dalam jangkauannya.
"Sekarang setelah dia keluar, kita perlu waspada," katanya, merendahkan suaranya.
Tidak ada orang lain di ruang pertemuan berdinding kaca itu, tetapi paranoia adalah salah satu sifat mamanya. Dia selalu mengira ada yang ingin menangkap mereka. Meskipun, mengingat banyaknya musuh yang mereka miliki, sebagian paranoianya dapat dimengerti.
"Kita punya masalah lain." Indra bersandar di kursinya. "Pertemuan dengan beberapa investor yang marah dalam lima belas menit."
"Lupakan itu." Mamanya merapikan rambut peraknya yang dipotong mengikuti mode Paris dan menatapnya. "Mortgage loan officer kita memutuskan untuk ikut melahirkan bayinya hari ini."
"Bukan salahnya kalau istrinya melahirkan." Indra memaksakan diri untuk menahan kekesalannya. "Jadi, Revano akan menjadi seorang papa. Aku akan meminta sekretarisku untuk mengirimkan kartu dan hadiah."
"Revano tidak ada di sini hari ini, jadi Mama harap kamu yang menangani kliennya."
Indra menyipitkan matanya.
Melakukan tugas yang remeh itu hanya akan membuatnya kesal.
"Minta salah satu manajer untuk melakukannya."
"Kalau kamu mau mengambil alih kendali dari papamu dan menjadi presiden suatu hari nanti, kamu harus bisa membuktikan kemampuanmu sendiri," tegur mamanya.
Mamanya selalu menggantung wortel di atas kepalanya, meskipun tidak pernah ingin membahas ambisinya dengan serius. Karena mamanya tahu bahwa mengambil alih bisnis keluarga adalah satu-satunya yang dia inginkan. Menjalankan SIB adalah kesempatannya untuk membuktikan dirinya layak sebagai pemimpin puncak.
Membuktikan bahwa jalan hidupnya bukanlah keberuntungan. Membuktikan bahwa meskipun dia orang kaya baru, dia juga pantas berada di sini seperti halnya keluarga-keluarga kaya lama. Sama halnya dengan orang-orang yang membenci kenyataan bahwa keluarga Suryajaya telah membuka kejahatan Edwin Kanigoro dan korupsi di jantung sistem keuangan lama Ibu Kota.
Kalau dia menjalankan SIB, dia dapat mengembangkan perusahaan. Menggunakan visinya untuk melampaui papanya. Mengamankan warisan keluarga.
Generasi kedua yang mengambil alih bank akan mengubah mereka dari pemula yang kaya raya menjadi dinasti yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tempat di kelas atas seperti semua oligarki tua yang memandang rendah mereka.
"Bagaimana ini bisa menjadi cara untuk membuktikan diri?" tanyanya akhirnya.
"Menggulung lengan baju dan mengotori tanganmu menunjukkan bahwa kamu masih tangguh," kata mamanya. "Tunjukkan pada Mama bahwa semua kekayaan ini tidak merusakmu."
"Mama berharap kekayaan akan mempengaruhiku?" tuntutnya. "Aku butuh lebih dari sekadar kata-kata, Ma. Apa jaminannya?"
Mamanya mendesah. Bahunya terangkat karena frustrasi. Dia membenci bantahan atau penolakan dalam bentuk apa pun, tetapi Indra tidak akan membiarkan mamanya mengendalikan takdirnya.
Tidak sekarang.
Bebasnya Edwin Kanigoro menjadi pengingat yang jelas tentang seberapa besar kerugian yang akan ditanggung keluarga Suryawijaya kalau mereka membiarkan masa lalu mengendalikan mereka. Sekarang bukan saatnya untuk berdiam diri dan mengabaikan masa lalu. Sudah waktunya untuk bertindak. Untuk membangun masa depan mereka sendiri. Dan dia bermaksud menjadi arsitek masa depan itu, tidak peduli seberapa keras dia harus melawan mamanya sendiri untuk melakukannya.
"Kalau kamu melakukan tugas ini, kita akan bicara," katanya. "Bicaralah dengan serius. Kamu berikan ide-idemu kepada Mama dan Mama akan menyampaikannya kepada papamu."
"Aku akan menagih janji Mama," Indra memperingatkan. "Jangan menunda lagi. Aku ingin saham yang lebih besar di perusahaan."
Bibir mamanya membentuk garis lurus tipis. "Sesuai keinginanmu. Dan sementara kita membuat tuntutan-tuntutan, Mama tetap berpikir kita perlu menganggap serius Edwin Kanigoro. Sekarang setelah dia bebas dari penjara, dia mungkin akan mengejar kita."
"Dengan apa?" Indra berdiri dan meraih laptopnya. "Edwin Kanigoro bangkrut. Tidak ada seorang pun di kota ini yang akan memberinya kesempatan. Hidupnya sudah berakhir. Pada dasarnya."
"Jangan pernah meremehkan kekuatan nafsu balas dendam," kata mamanya. "Sebelum dia masuk penjara, dia bersumpah untuk menghancurkan kita. Mama menganggap sumpah itu sangat serius. Kamu juga harus begitu."
Indra menuju pintu kaca tanpa menjawab. Kalau mamanya ingin menyerah pada paranoianya, itu salahnya sendiri. Saat ini Indra punya tugas yang harus diselesaikan. Dan kemudian, dia akan merebut masa depan yang seharusnya menjadi haknya.
Bicara tentang kredit pinjaman adalah latihan yang menguras tenaga. Sebuah pengingat tempat Indra dan keluarganya memulai: selokan.
Ketika waktu istirahat makan siang akhirnya tiba, dia memutuskan untuk menangani satu klien lagi sebelum keluar dari ruang kerja Revano Ernadi yang sangat kecil.
Indra meraih telepon.
"Tahan semua panggilan," perintahnya kepada sekretaris di ujung sana. Tanpa menunggu jawaban, dia menutup telepon, perhatiannya tertuju pada pintu kantor yang terbuka.
Ketika klien berikutnya melangkah masuk, dia ... membeku. Dia tidak tahu mengapa udara terhempas keluar dari paru-parunya. Tidak tahu mengapa suhu di ruangan itu naik beberapa derajat hingga dia menarik kerah bajunya untuk bisa bernapas.
Dia telah berkencan dengan begitu banyak wanita cantik sehingga butuh lebih dari sekadar penampilan untuk menarik perhatiannya.
Tidak dengan wanita ini.
Segala hal tentangnya menarik perhatian. Dari rambut merah bergelombang yang menjuntai di bahunya hingga kakinya yang jenjang. Dan cara dia berjalan.
Langkahnya anggun bak penari Serimpi, kepalanya terangkat tinggi dan bahunya tertekuk ke belakang.
Ketika mata mereka bertemu, Indra tiba-tiba menyadari bahwa dia mengenali wanita tersebut. Mengenalnya dari suatu tempat, tetapi tidak dapat mengingatnya. Tidak mungkin dia pernah tidur dengannya atau berkencan dengannya. Dia akan ingat meniduri wanita secantik ini. Dan kalau dia pernah melakukan sesuatu yang lebih serius dengannya, dia tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Mata wanita itu membelalak seolah-olah dia juga mengenali Indra. Tapi dia cukup cepat menenangkan diri untuk mengulurkan tangannya.
"Hai. Saya Elaine... Tanjung."
Dia memiringkan kepalanya. "Anda Indra Suryajaya."
Indra bangkit untuk meraih tangan Elaine yang mungil.
Meremasnya. Tidak ingin melepaskannya.
Elaine tidak mengenakan cincin kawin.
Tanpa berpikir, ibu jari Indra menyentuh kulit wanita itu, dan tiba-tiba dia menarik tangannya kembali. Segala bentuk kontak romantis dengan klien tidak dapat dibenarkan, tidak peduli seberapa senangnya dia menyentuh wanita itu.
"Ya. Bagaimana Anda mengenal saya?"
Elaine tersenyum. Bibirnya yang merah muda penuh mengalihkan perhatiannya. Mulutnya yang menggoda membuat jantung Indra berdegup kencang ketika senyum di bibir yang menggoda itu melebar.
"Semua orang di Ibu Kota tahu siapa Anda. Saya hanya tidak menyangka Anda akan menjadi petugas kredit saya."
Wanita itu tertawa. Itu adalah suara napas dan gugup yang ingin didengar Indra lagi dan lagi.
Reaksinya terhadap wanita itu membuat Indra bingung. Tiba-tiba tergila-gila bukanlah gayanya. Seluruh hidupnya berpusat pada pekerjaan dan ambisinya. Dia menjadwalkan pertemuan dengan wanita, dan kalau dia tidak dapat meluangkan waktu, dia memutuskan hubungan sebelum si wanita salah paham. Wanita bukanlah prioritas baginya, namun, saat ini dia akan melakukan apa saja untuk mengajak wanita di hadapannya untuk santap malam.
"Saya menggantikan Revano hari ini. Silakan duduk." Dia menunjuk ke kursi di sisi lain meja sebelum dia sendiri duduk. "Saya kenal Anda dari suatu tempat, bukan?"
Elaine duduk dan menyilangkan kakinya. Dia memiliki keanggunan seorang penari balet, tetapi juga memancarkan daya tarik yang berlebihan untuk menjadi seorang balerina. Sejujurnya, dia lebih mirip bintang film daripada yang lainnya.
"Saya rasa tidak. Kecuali Anda tahu tentang rancangan saya-"
"Apa yang Anda rancang?" tanyanya.
Elaine menundukkan mata hijaunya yang menawan, seolah-olah pertanyaan itu membuatnya malu karena suatu alasan.
"Oh, kebanyakan pakaian." Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari binder yang baru pertama kali dilihat Indra.
"Saya membuat pakaian untuk wanita dan jas untuk pria."
"Membuatnya?" Indra mencondongkan tubuh ke depan, mengamati dengan penuh minat. "Anda juga membuat pakaian?"
"Ya," jawab Elaine mengangguk antusias. "Saya mendesainnya lalu menjahitnya-membuatnya."
"Sendiri? Anda tidak punya staf untuk membantu?"
"Belum." Elaine tersenyum getir. "Itulah sebabnya saya datang untuk mengajukan pinjaman. Saya ingin membeli toko dengan workshop. Dengan begitu, saya akan punya staf untuk membantu menjahit desain saya, membangun brand saya."
Indra memikirkan penjelasan Elaine sejenak, menyadari bahwa menjahit semua kreasinya sendiri pasti butuh ratusan jam.
"Mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri adalah komitmen yang besar."
"Ya, memang." Elaine menarik napas dalam-dalam. "Itulah sebabnya saya ingin punya toko sendiri dengan staf. Saat ini, butuh waktu lama untuk sendirian membuat pakaian, yang berarti saya tidak bisa menghasilkan uang sebanyak yang saya bisa kalau saya punya karyawan."
"Coba saya lihat aplikasi pinjaman Anda," kata Indra, tertarik dengan ide bisnis Elaine.
Elaine menyerahkan berkas aplikasi kepadanya dan dia memeriksa formulirnya. Ketika dia berhenti di pendapatannya, dia benar-benar merasa simpati. Situasinya mengingatkannya pada masa kecilnya ketika orang tuanya bangkrut. Tidak mungkin satu orang bisa bertahan hidup dengan pendapatan segitu.
Tidak kalau Elaine berharap ada atap di atas kepalanya dan makan tiga kali sehari.
Indra melirik sekilas. Gaun Elaine dibuat dengan sangat eapi dan tampak mahal. Dia menduga Elaine mungkin membuatnya sendiri, dan perhiasannya benar-benar tampak asli. Kalau dia tidak tahu lebih baik, dari sikap dan pakaiannya, dia akan menduga bahwa Elaine berasal dari keluarga kaya.
Namun, sepatunya adalah buktinya.
Indra bukan pakar tentang mode wanita, tetapi bahkan dia dapat melihat betapa lusuh dan usang sepatu Elaine. Banyak orang yang datang untuk meminjam uang mengenakan pakaian terbaik mereka agar tampak bertanggung jawab, bukan seperti siapa mereka yang sebenarnya. Putus asa.
Elaine mungkin melakukan hal yang sama. Mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya agar dia dapat datang ke SIB dan mengajukan permohonan kredit.
Dilihat dari seberapa banyak perhatian yang diberikannya untuk mengisi semua formulir pinjaman dengan benar, jelas bahwa Elaine sama bersemangatnya seperti Indra. Indra mengagumi ambisi itu.
Banyak orang kaya di dunianya yang puas hidup dari triliunan rupiah tanpa mencapai prestasi apa pun. Namun, di sinilah Elaine, mencoba mewujudkan mimpinya.
"Di sini tertulis bahwa Anda lahir di Prancis," katanya, masih memeriksa formulirnya.
"Ya. Negara yang indah."
Mata hijaunya berbinar dan dia menggenggam kedua tangannya dengan kegembiraan yang kentara. "Arsitekturnya sungguh menakjubkan. Dan makanannya." Elaine memejamkan mata dan mengeluarkan erangan kecil yang membuat denyut nadi Indra berpacu. "Benar-benar nikmat."
Ada sesuatu yang menular tentang dirinya. Sepertinya antusiasme Elaine yang mungkin menular padanya. Biasanya itu akan membuatnya waspada karena, sejujurnya, kesungguhan bukanlah sesuatu yang dia percayai di dunianya. Namun, Indra tidak dapat menahan diri untuk tidak terpesona olehnya. "Jadi, kamu ingat Prancis?"
"Yah, saya tidak mengingatnya waktu saya lahir," katanya sambil tertawa. "Tapi saya mengikuti program pertukaran pelajar ketika masuk sekolah desain dan itu luar biasa. Apakah kamu pernah ke sana?"
Tidak heran dia tampak seperti berasal dari keluarga kaya. Perjalanannya mungkin telah membuatnya menjadi warga dunia.
"Tidak, belum pernah," jawab Indra.
"Oh, kamu akan menyukainya. Dan para pria di sana sangat tampan. Kamu akan cocok di sana." Pipinya memerah ketika berbicara.
Meski terdengar sombong, Indra tidak terkejut bahwa Elaine sedang menggodanya. Banyak wanita yang melakukannya. Cara Elaine menggoda itulah yang membuatnya terkesan.
Halus dan berkelas. Membuatnya menginginkan lebih.
"Kalau aku punya pemandu wisata secantik kamu, aku mungkin sudah mengunjungi Italia sejak dulu."
Elaine tersipu. "Mungkin suatu hari nanti..."
Kalau Indra tidak mengambil kembali kendali atas percakapan mereka, semuanya akan menjadi tidak profesional dengan sangat cepat.
"Pendidikanmu di Italia telah membantumu dengan baik. Kamu benar-benar mengerjakan pekerjaan rumahmu. Rencana bisnis lima tahunmu menyeluruh dan dipikirkan dengan matang. Sayangnya, skor kreditmu menjadi masalah."
Untuk pertama kalinya wajah Elaine menjadi muram. Dia merosot di kursinya.
"Mantan pacarku mengambil kartu kreditku, mengambil apa pun yang bisa dia dapatkan sampai batas limit, lalu pada dasarnya menghabiskan semuanya. Aku mencoba menyelesaikannya, tetapi itu hampir mustahil. Dan aku menolak untuk melunasi utang yang tidak kubuat."
Utang itu adalah masalah besar. Kalau Elaine memiliki skor kredit yang baik, perusahaannya memiliki peluang bagus untuk sukses. Tapi skor kredit seperti yang sekarang bukanlah sesuatu yang mungkin dapat diambil oleh SIB.
"Bairpun aku mengagumimu yang berpegang teguh pada prinsipmu, utang adalah sesuatu yang sulit dijual."
"Beberapa tahun ini memang sulit," kata Elaine lemah. Bayangan kesedihan menyelimuti matanya dan dia menunduk, menghindari tatapan Indra.
Membiarkan orang asing seperti dia memeriksa catatan keuangannya pasti sangat menyakitkan bagi Elaine.
Saat itulah Indra menyadari betapa rapuhnya Elaine setelah dia bergeser di tempat duduknya.
"Sudah hampir waktunya makan siang. Apakah kamu sudah makan siang?"
"Aku sudah makan," gumamnya. "Aku pergi ke warung dan membeli sup."
"Sup apa?" tanya Indra. "Makanan Italia?"
"Oh, tidak ada yang mewah." Elaine mendesah berat. "Hanya mi instan sup ayam dengan saus tomat. Aku menambahkan daun bayang untuk membumbuinya."
"Apa?"
Elaine tersentak, tetapi mengangkat wajahnya untuk menatap Indra.
"Maaf. Aku seharusnya tidak mengatakan-"
"Aku seharusnya tidak mencoba untuk mengorek," kata Indra buru-buru.
Keheningan yang terjadi setelahnya bagaikan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Sebuah kutukan atas keberuntungannya.
Terkadang, mudah untuk melupakan awal mula kehidupannya yang sederhana. Pada tingkat kesuksesan ini, masalah menjadi tampak sangat besar.
Menjadi penanggung jawab dana triliunan adalah jenis tekanan yang unik. Namun, harus menyiapkan makanan seakan-akan terdengar seperti sesuatu yang berasal dari novel era Victoria. Salah satu buku tentang anak yatim dan anak jalanan.
Elaine datang ke sini dengan penuh percaya diri. Begitu bersemangat tentang mimpinya. Sekarang, kekurangannya yang tiba-tiba membuatnya tampak lemah. Seolah-olah dia akan hancur kapan saja. Kalau dia akan menolak permintaan kredit Elaine, paling tidak yang bisa dia lakukan adalah menawarinya makan.
"Elaine," Indra memulai.
Dia menelan ludah, mendadak gugup.
"Bagaimana kalau kamu makan siang denganku?"
"Makan siang?" Elaine ternganga menatapnya. "Denganmu?"
Dengan siapa lagi kamu akan makan siang?
Elaine berusaha sekuat tenaga untuk tidak merasa ngeri, membuatnya sulit untuk berpikir jernih.
Makanan kedengarannya sangat nikmat saat ini. Dan makan bersamanya terdengar lebih nikmat lagi.
Karena sekitar sejuta alasan.
Elaine mengangguk.
"Tentu saja aku yang bayar. Dan kita bisa bicara lebih lanjut tentang pengajuan pinjamanmu," lanjut Indra.
Harga diri Elaine yang keras kepala, tidak suka bergantung pada siapa pun untuk mendapatkan uang. Tetapi ini adalah kesempatannya untuk mendekati Indra. Bertemu Indra Suryajaya adalah keberuntungan.
"Oke. Aku sangat menginginkannya. Terima kasih."
"Bagus."
Indra tersenyum padanya yang membuat jantung Elaine berdebar kencang. Reaksi tubuhnya terhadap Indra adalah hal terakhir yang dia butuhkan dalam misinya.
Indra bangkit, mengembalikan berkas aplikasinya, dan menuntunnya keluar dari ruang kredit.
Indra meletakkan tangannya yang berat di punggung bawah Elaine, membimbingnya keluar bank. Sentuhannya membakar kain gaun Elaine, bobot tangan Indra mengingatkannya bahwa sudah lama sekali dia tak melakukan kontak fisik dengan seorang pria.
Ya Tuhan, dia sudah overthinking tentang pertemuan ini. Seperti yang selalu dia lakukan.
Masa-masa mudanya yang penuh percaya diri sudah lama berlalu.
Ketika mereka sampai di bawah sinar matahari di luar, Indra menuntunnya ke sebuah Mercedes hitam yang ramping di tempat parkir eksekutif. Ketika Indra membantunya masuk ke jok kulit mewah di bagian dalam, Elaine mengamatinya dengan saksama. Tinggi, gelap, dan tampan bahkan tidak cukup untuk menggambarkannya. Elaine tidak bercanda ketika mengatakan bahwa Indra akan cocok jika dia mengunjungi Italia.
Dengan rambutnya yang hitam legam, kulit kecokelatan dan mata hijau yang tajam, dia tampak seperti model rumah mode di Milan.
Indra masuk ke kursi pengemudi di sampingnya dan menyalakan mesin. Napas Elaine tercekat di tenggorokannya ketika mereka meluncur dari area parkir keluar ke jalan.
Sudah lama sejak dia berada di dalam mobil semewah ini. Bahkan lebih lama lagi sejak dia menggoda pria setampan ini. Atau sekaya ini.
"Kita akan makan siang di restoran Italia," kata Indra, sambil mengemudikan mobil dengan santai di tengah kemacetan saat makan siang.
Indra tidak mengatakannya seolah-olah itu adalah saran. Dia mengatakannya seakan-akan dia benar-benar menguasai situasi. Dan, tentu saja, dia benar.
Dia seorang Suryajaya.
Dan Suryajaya selalu memegang kendali, pikir Elaine getir.
Yang membuatnya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan Indra darinya? Tidak mungkin Indra punya kebiasaan mengundang klien rendahan yang terlilit utang seperti dia untuk makan siang. Ini bukan isyarat dari kebaikan hatinya.
Indra adalah seorang Suryajaya. Semua orang tahu bahwa keluarga Suryajaya tidak punya hati.
Dia pasti punya semacam motif tersembunyi.
Kalau Indra tahu motif tersembunyi Elaine, dia tidak akan ragu untuk menghancurkannya. Sama seperti keluarga Suryajaya telah menghancurkan keluarganya bertahun-tahun yang lalu. Sebelumnya di bank, Indra mengira dia mengenalinya dari suatu tempat. Itu hampir membuat Elaine kebingungan. Untungnya, Indra tidak tahu bahwa Elaine adalah seorang Kanigoro.
Dia hanya berharap tidak ada seorang pun di restoran itu yang mengenalinya.
***
"Aku tak berharap ini rasanya persis seperti yang asli." Indra membukakan pintu restoran untuknya. "L'italiano adalah restoran yang hebat, tetapi kamu mungkin dimanjakan dengan yang original sewaktu di Italia."
Elaine menyelinap masuk, sambil tersenyum penuh terima kasih. "Pasti melebih ekspektasiku?"
"Tidak mungkin." Indra mencondongkan tubuhnya cukup dekat sehingga Elaine bisa mencium aroma parfum maskulinnya. "Meskipun kamu mungkin dimanjakan oleh makanan di sana, aku ragu para lelaki itu tahu bagaimana cara mengimbangimu." Nada suara baritonnya yang dalam dan implikasi dari kata-katanya membuat Elaine menggigil.
Matanya terbelalak saat menyadari bahwa Indra benar-benar menggodanya.
Mungkin itulah satu-satunya motif Indra untuk mengundangnya makan siang.
"Butuh lelaki yang istimewa untuk mengimbangiku, Indra."
"Aku yakin."
L'italiano sangat mewah. Jenis restoran yang akan dikunjungi orang tuanya untuk beberapa acara kecilkecilan ketika Elaine masih sangat muda. Lampu gantung kristal di atas kepala dan mereka berjalan di lantai marmer putih yang berkilau. Semua dekorasinya berwarna putih bersih, dari kursi kayu yang dicat hingga tiang-tiang yang memberi tempat itu nuansa Italia kuno.