Sampul Novel Jangan Cintai Bosmu!

Jangan Cintai Bosmu!

9.5 / 10.0
Insiden tumpahan es kopi pada jas Arga Narendra Wijaya mengubah hidup Naura, staf pemasaran di Jakarta. Pria angkuh itu rupanya CEO baru di kantornya. Demi menegaskan kekuasaan, Arga terus mengintimidasi dan memaksa Naura mencuci jas tersebut. Namun, Naura memilih melawan. Di tengah benturan ego mereka, tersimpan masa lalu kelam sang bos. Kini, Naura harus memilih: menjaga harga dirinya atau membongkar rahasia terdalam Arga.

Jangan Cintai Bosmu! Bab 1

Pagi itu, mentari mulai menyapa Jakarta dengan sinarnya yang hangat, namun Naura tak merasakan kehangatan apa pun selain kegelisahan yang menggerogoti. Jam sudah menunjukkan pukul 07.45 WIB, dan kemacetan ibu kota menjadi penghalang terbesarnya untuk sampai tepat waktu di kantor. Naura, dengan napas terengah-engah, memacu motor matic-nya menembus padatnya lalu lintas. Kemeja putih yang ia kenakan sudah sedikit lepek oleh peluh, dan rambutnya yang tergerai indah mulai terlihat sedikit berantakan. Ia tahu betul konsekuensi keterlambatan di perusahaan tempatnya bekerja, PT Adhi Jaya Gemilang. Bukan hanya potongan gaji, tetapi juga tatapan sinis dari manajernya, Bu Sinta, yang selalu menuntut kesempurnaan.

Sesampainya di gedung pencakar langit PT Adhi Jaya Gemilang, Naura segera memarkirkan motornya di basement. Ia buru-buru meraih tas selempangnya dan sebotol iced latte yang sempat ia beli di minimarket dekat kantor. Cairan dingin itu adalah satu-satunya harapan untuk menyegarkan pikirannya yang sudah kacau balau sejak pagi. Langkahnya tergesa-gesa menyusuri koridor lantai dasar. Ia hanya punya waktu kurang dari lima menit sebelum jam kerja dimulai. Pikiran Naura hanya tertuju pada satu hal: mencapai lift dan sampai di lantai dua belas sesegera mungkin.

"Aduh, aduh, aduh!" gumam Naura pada dirinya sendiri. "Naura, kamu harus cepat! Kalau sampai telat lagi, habislah riwayatmu!"

Saking terburu-burunya, Naura sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya. Matanya terpaku pada layar ponsel yang menampilkan jam digital. Ia mempercepat langkahnya, bahkan nyaris berlari di tikungan koridor menuju deretan lift. Tanpa ia sadari, dari arah berlawanan, seorang pria tinggi tegap dengan setelan jas mahal berwarna navy juga berjalan tergesa-gesa sambil menatap ponselnya.

BRUK!

Tabrakan tak terhindarkan. Botol iced latte yang ada di tangan Naura terpental, dan isinya tumpah ruah membasahi jas pria itu. Aroma kopi yang manis bercampur susu langsung menyebar di udara. Naura terhuyung ke belakang, untungnya tidak sampai terjatuh. Ia mendongak, matanya memicing menatap noda basah di jas pria di hadapannya.

"Aduh! Bapak ini bagaimana, sih?! Jalan kok tidak lihat-lihat!" sembur Naura, emosinya sudah memuncak. Rasa panik karena takut terlambat, ditambah lagi insiden tak terduga ini, membuat Naura lupa menahan diri.

Pria itu mendongak, matanya yang tajam menatap Naura dengan pandangan tak percaya. Wajahnya yang semula datar kini diliputi amarah. Rambutnya hitam legam tersisir rapi, hidungnya mancung, dan garis rahangnya tegas, memancarkan aura dominasi. Ia terlihat sangat marah.

"Apa?! Anda yang menabrak saya! Anda yang jalan terburu-buru seperti dikejar setan! Lihat ini!" tunjuk pria itu pada noda kopi di jasnya. "Jas saya basah semua gara-gara Anda! Bagaimana ini?"

Naura mendengus. "Salah saya? Hei, Bapak itu juga jalan sambil main ponsel, kan? Sama saja cerobohnya!" Ia melirik jam di ponselnya lagi. Waktu terus berjalan, dan ia semakin panik. "Sudahlah, saya buru-buru!"

Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Naura langsung membalikkan badan dan mempercepat langkahnya menuju lift yang kebetulan baru saja terbuka. Ia masuk ke dalam lift tanpa menoleh sedikit pun.

"Hei! Wanita tidak sopan! Anda mau lari begitu saja?!" teriak pria itu, suaranya menggema di koridor. "Minta tanggung jawab Anda! Hei!"

Namun, Naura seolah tak mendengarnya. Pintu lift tertutup, meninggalkan pria itu sendirian dengan jasnya yang basah dan amarah yang meluap-luap.

Di lantai dua belas, suasana kantor PT Adhi Jaya Gemilang sudah ramai. Beberapa karyawan terlihat berbisik-bisik di meja mereka, sesekali melirik ke arah pintu ruang CEO. Naura, yang berhasil lolos dari cengkeraman waktu, segera melangkah menuju mejanya di departemen pemasaran. Ia meletakkan tasnya dan langsung menyalakan komputer.

"Pagi, Naura! Tumben banget kamu datangnya ngepas?" sapa Sekar, rekan kerjanya yang duduk di meja sebelah. Sekar adalah satu-satunya teman dekat Naura di kantor, dengan sifatnya yang periang dan suka bergosip.

"Pagi, Kar. Iya nih, macet banget di jalan. Hampir saja telat," jawab Naura sambil menghela napas lega. Ia melirik Sekar yang terlihat sangat antusias. "Ada apa sih? Kok pada bisik-bisik begitu? Gosipin apa lagi nih?"

Sekar mendekatkan kursinya ke meja Naura, matanya berbinar-binar. "Naura, kamu tahu tidak? Hari ini kita kedatangan bos baru! Anak dari CEO kita, Pak Wijaya!"

"Oh ya? Siapa namanya?" tanya Naura, tidak terlalu tertarik. Perubahan manajemen bukan hal baru baginya.

"Namanya... Arga Narendra Wijaya!" bisik Sekar, suaranya sedikit tertahan. "Dengar-dengar, dia tampan sekali, Naura! Masih single pula! Katanya, dia yang akan menggantikan Pak Wijaya untuk mengurus perusahaan ini. Semua orang sudah tidak sabar ingin melihatnya."

Naura hanya mengangguk-angguk kecil, masih sibuk membuka email. "Memang kenapa kalau tampan dan single? Bukan urusan kita juga kan?"

"Ih, kamu ini! Mana tahu ada kesempatan. Jarang-jarang loh ada CEO muda dan tampan!" Sekar menyenggol lengan Naura. "Dengar-dengar juga, dia ini lulusan luar negeri dan sangat cerdas. Pasti perusahaan kita akan semakin maju di tangannya."

Tiba-tiba, suara pengeras suara di kantor berbunyi, memecah keheningan. "Perhatian kepada seluruh karyawan, mohon untuk berkumpul di aula utama sekarang juga. Bapak Wijaya akan menyampaikan pengumuman penting."

Semua karyawan langsung bergegas menuju aula. Naura dan Sekar ikut berjalan di antara kerumunan. Di aula, panggung sudah disiapkan dengan sebuah podium di tengahnya. Tak lama kemudian, Pak Wijaya, CEO perusahaan yang sudah beruban namun masih terlihat gagah, naik ke atas panggung. Di sampingnya, berdiri seorang pria muda dengan setelan jas navy yang terlihat agak... basah di bagian dadanya.

Mata Naura terbelalak. Jantungnya berdebar kencang, nyaris melompat keluar dari dadanya. Ia tidak salah lihat. Pria di samping Pak Wijaya adalah pria yang baru saja ia tabrak di koridor tadi pagi. Pria yang jasnya ia basahi dengan iced latte. Pria yang berteriak meminta tanggung jawab darinya.

"Gawat!" bisik Naura, bibirnya pucat pasi. Sekar menoleh padanya dengan bingung.

"Ada apa, Naura? Kok mukamu jadi pucat begitu?" tanya Sekar.

Naura tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap Arga dengan ngeri. Otaknya berputar cepat. Ini mimpi buruk. Ia akan dipecat, ia yakin sekali. Ia sudah menghina dan membasahi jas anak CEO! Habislah karirnya di sini. Naura tanpa sadar memejamkan matanya, berharap ini semua hanyalah mimpi.

Pak Wijaya mulai berbicara. "Selamat pagi, rekan-rekan sekalian. Saya tahu Anda semua sudah menunggu-nunggu momen ini. Hari ini, saya akan memperkenalkan putra saya, Arga Narendra Wijaya, yang akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan ini. Saya percaya, dengan pengalaman dan visi yang dimilikinya, Arga akan membawa PT Adhi Jaya Gemilang menuju kesuksesan yang lebih besar."

Tepuk tangan bergemuruh di seluruh aula. Namun, suara itu terdengar samar di telinga Naura. Ia masih memejamkan mata erat-erat, seolah dengan begitu ia bisa menghilang.

Tiba-tiba, ia merasakan langkah kaki mendekat. Aroma kopi dan susu yang samar tercium lagi. Naura menahan napas. Ia membuka matanya perlahan, dan pandangannya langsung bertabrakan dengan sepasang mata tajam yang kini menatapnya dengan intens.

Arga berdiri tepat di hadapannya, seringai tipis terukir di bibirnya. "Ternyata kamu kerja di sini?" suaranya rendah, namun jelas terdengar oleh Naura. "Kenapa kamu pergi begitu saja saat saya minta tanggung jawab kamu, hah?"

Seluruh karyawan yang berada di dekat mereka langsung terdiam. Bisik-bisik mulai terdengar. "Tanggung jawab apa?" "Ada hubungan apa mereka?" "Jangan-jangan..."

Wajah Naura langsung memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena kesal dan marah. "Itu juga salah Bapak!" balas Naura, tanpa sadar ia menggunakan nada yang sama seperti tadi pagi. Ia merasa dipermalukan di depan umum.

Mendengar jawaban Naura, rahang Arga mengeras. Matanya menyiratkan kemarahan yang membara. Ia mengangkat tangan, seolah hendak melayangkan protes.

"Arga!"

Suara Pak Wijaya tiba-tiba menginterupsi. Sang CEO sudah turun dari panggung dan mendekati mereka. "Ada apa ini? Kenapa kamu memarahi karyawan begitu?"

Arga menoleh pada ayahnya, menunjuk Naura dengan dagunya. "Papah lihat sendiri, kan? Gara-gara wanita ini, jas aku jadi kotor, Pah! Bau kopi dan susu! Ini jas mahal!"

Pak Wijaya melihat noda di jas putranya. Ia menghela napas. "Ya ampun, Arga. Kamu ini. Kan bisa minta Bibi Rina untuk mencucinya nanti. Hal sepele saja dibesar-besarkan."

"Tapi, Pah!" Arga berseru, tidak terima.

Pak Wijaya menepuk bahu Arga. "Sudah, jangan ribut di depan karyawan lain. Tidak enak dilihat. Kamu kan sekarang sudah jadi CEO."

Arga mendengus kesal. Ia melirik Naura lagi dengan tatapan tajam. Tanpa diduga, ia membuka jasnya, melepaskan dari tubuhnya, dan melemparkannya tepat ke arah Naura. Jas mahal itu mendarat di tangan Naura dengan agak keras.

"Nih! Cuci jas mahal saya ini sampai bersih! Awas kalau sampai tidak bersih!" perintah Arga, nadanya penuh dominasi. Ia kemudian berbalik dan kembali naik ke panggung mendampingi ayahnya.

Naura terdiam, mematung di tempatnya. Di tangannya, jas Arga terasa berat. Ia menatap jas itu, lalu beralih menatap punggung Arga yang kini berdiri tegak di samping Pak Wijaya. Berbagai emosi bercampur aduk di dadanya: kesal, marah, malu, dan sedikit... takut. Ini baru hari pertama Arga menjabat, dan Naura sudah menjadi musuh utamanya. Ini akan menjadi hari-hari yang panjang di PT Adhi Jaya Gemilang.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Jangan Cintai Bosmu!

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil tanpa sengaja menemukan patung beruang di jalan dan membawanya pulang untuk dirawat dengan tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa benda mati tersebut sebenarnya adalah inkarnasi dari sosok dewa muda yang sangat kuat. Wujud beruang itu terus bertahan menemani Melinda hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik. Namun, sebuah konflik menegangkan mendadak muncul dan menguji ikatan unik mereka. Akankah kisah cinta antara manusia dan dewa ini berujung pada kebahagiaan?
Sampul Novel En-PD153
8.9
Kekasih lama yang kusangka sudah mati tiba-tiba kembali dengan membawa wanita hamil yang katanya telah menolongnya. Dengan lancang, dia menyuruhku tinggal bersama mereka dan menawarkan janji pernikahan palsu demi menikahi perempuan itu. Sebagai putri bangsawan sekaligus menantu dari dinasti konglomerat, aku menolak menjadi simpanan. Jika dia memilih melepaskan kemewahan ini, aku akan memastikan dia jatuh miskin tanpa sisa.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung petaka. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke pusaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi makian dan adegan dewasa, gadis lugu ini terperangkap dalam cinta segitiga yang rumit bersama dua pria. Simak perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED