Bab 2

Siang itu, matahari bersinar terik, seolah ikut memanaskan suasana di dalam gedung PT Adhi Jaya Gemilang. Setelah insiden di aula, Naura kembali ke mejanya dengan perasaan campur aduk. Ia masih memegang jas Arga, yang kini menjadi simbol pembalasan dendam bos barunya. Karyawan lain sesekali meliriknya dengan tatapan ingin tahu, beberapa bahkan berbisik-bisik, membuat Naura semakin merasa tidak nyaman. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, namun pikirannya terus melayang pada Arga dan jas kotornya.

Sementara itu, di lantai eksekutif, Arga Narendra Wijaya duduk di balik meja kerjanya yang luas, menghadap jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Jemarinya sibuk mengetik di layar laptop, menyelesaikan beberapa urusan penting yang tertunda. Namun, konsentrasinya terpecah saat pintu ruangannya terbuka perlahan.

Seorang wanita berambut panjang dengan gaun ketat berwarna merah menyala melangkah masuk. Luna namanya, sekretaris pribadi Arga yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris Pak Wijaya. Pakaiannya yang minim dan potongan rendah di bagian dada sengaja ia kenakan untuk menonjolkan lekuk tubuhnya. Rok mininya yang ketat memperlihatkan kaki jenjangnya, dan setiap langkahnya terasa seperti sebuah tarian menggoda. Di tangannya, segepok dokumen terjepit erat.

"Permisi, Pak Arga," sapa Luna dengan suara yang dibuat-buat manja. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Arga, pinggulnya bergoyang sensual. "Saya membawa beberapa dokumen penting yang perlu Bapak tanda tangani."

Arga meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada layar laptopnya. "Letakkan saja di sana, Luna."

Luna tersenyum tipis. Ia menata dokumen di atas meja Arga, namun tangannya sengaja menyentuh punggung tangan Arga saat meletakkan pena. "Ini dokumen-dokumen penting, Pak. Bapak harus membacanya dengan teliti."

Arga menarik tangannya dengan cepat, merasa risih. Ia mendongak, menatap Luna dengan tatapan datar. "Saya tahu, Luna. Saya akan membacanya. Ada lagi?"

Luna tidak menyerah. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping kursi Arga, begitu dekat hingga Arga bisa merasakan aroma parfumnya yang menyengat. Jarak sedekat itu membuat payudaranya yang menyembul dari balik gaun merahnya semakin terlihat jelas. Dengan berani, Luna mengusap lengan Arga pelan, seolah sedang membersihkan sesuatu.

"Bagaimana kalau kita makan siang bersama, Pak? Di kantin karyawan sudah ada makanan favorit Bapak, lho," goda Luna, suaranya kini terdengar seperti bisikan di telinga Arga. "Saya bisa menemani Bapak, sekalian kita bisa membicarakan beberapa hal penting tentang jadwal Bapak sore ini."

Arga menghela napas panjang. Matanya menatap Luna dengan pandangan jijik yang tak bisa ia sembunyikan. Ia tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif, apalagi yang mencoba memanfaatkan posisi untuk menggodanya seperti ini. Ia merasa tidak nyaman dan risih dengan sentuhan Luna.

"Saya tidak lapar, Luna," kata Arga dingin. "Dan saya tidak butuh ditemani. Silakan Anda keluar dari ruangan saya sekarang juga. Saya banyak pekerjaan."

Wajah Luna langsung berubah masam. Senyum manisnya menghilang digantikan cemberut. Ia menarik tangannya dari lengan Arga, merasa harga dirinya tercoreng. Ia sudah berusaha keras untuk mendapatkan perhatian Arga, bahkan sejak Arga masih sering berkunjung ke kantor ayahnya. Namun, Arga selalu menolaknya mentah-mentah.

"Baik, Pak," jawab Luna sinis. Ia membalikkan badan dengan hentakan kaki yang cukup keras, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah yang penuh kekesalan. Pintu ruangan Arga ia tutup dengan sedikit membanting.

Arga mengusap wajahnya. Ia tidak mengerti mengapa Pak Wijaya membiarkan Luna menjadi sekretaris pribadinya selama ini. Ia merasa tidak nyaman bekerja dengan seseorang yang perilakunya seperti Luna. Arga meraih telepon interkomnya dan menekan salah satu tombol.

"Tolong sambungkan saya dengan bagian HRD," perintah Arga tanpa basa-basi.

Tak lama kemudian, sebuah suara menjawab dari seberang. "Baik, Pak Arga. Ada yang bisa kami bantu?"

"Katakan pada kepala HRD untuk datang ke ruangan saya sekarang juga," ujar Arga.

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Arga diketuk pelan. Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, Pak Anwar, kepala HRD perusahaan, masuk ke dalam ruangan. Ia terlihat sedikit gugup, mengingat ini adalah kali pertama ia dipanggil langsung oleh CEO baru.

"Ada apa, Pak Arga? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Anwar sopan.

Arga menunjuk kursi di hadapannya. "Duduklah, Pak Anwar. Saya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

Pak Anwar duduk, menunggu instruksi dari Arga.

"Begini, Pak Anwar," Arga memulai, suaranya tenang namun tegas. "Saya ingin Anda segera mengganti posisi sekretaris saya."

Pak Anwar sedikit terkejut. "Maaf, Pak Arga? Maksud Bapak... Luna?"

"Betul. Saya tidak suka dengan cara kerjanya," jawab Arga singkat. Ia tidak ingin menjelaskan detail tentang perilaku Luna yang menggodanya. "Saya ingin Anda mencari pengganti yang lebih profesional. Dan saya sudah punya kandidatnya."

Pak Anwar mengerutkan keningnya. "Oh ya? Siapa, Pak Arga?"

Arga terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. Ia sebenarnya tidak terlalu mengingat nama lengkap wanita yang ia tabrak tadi pagi. Namun, ia tahu ia tidak ingin Luna berada di dekatnya. Dan wanita yang berani melawannya tadi pagi... setidaknya ia punya nyali.

"Dia... wanita yang tadi pagi ada di aula, yang memakai kemeja putih," kata Arga, berusaha mengingat detail. "Sepertinya dia dari tim keuangan. Dia... kepala tim keuangan, kalau tidak salah."

Pak Anwar mencoba mengingat-ingat. "Maksud Bapak... Naura? Naura Fitriani, kepala tim keuangan?"

Arga menjentikkan jarinya. "Nah, itu dia! Ya, mungkin Naura. Saya ingin dia menjadi sekretaris saya mulai sekarang."

Pak Anwar terdiam, kaget dengan permintaan Arga. Naura adalah salah satu karyawan berprestasi di tim keuangan, dan memindahkannya ke posisi sekretaris... itu adalah perubahan yang cukup signifikan.

"Tapi, Pak Arga... bukankah Naura adalah kepala tim keuangan? Dia sangat berdedikasi di posisinya sekarang," Pak Anwar mencoba memberikan pertimbangan. "Lagipula, jika Pak Wijaya tahu tentang ini, bagaimana?"

Arga menyilangkan tangannya di dada. Matanya menatap Pak Anwar tajam. "Itu menjadi urusan saya, Pak Anwar. Saya akan bicara dengan Papah nanti. Saya tidak peduli. Saya ingin wanita itu, Naura, menjadi sekretaris saya. Sekarang juga."

Nada suara Arga tidak mengizinkan bantahan. Pak Anwar mengerti bahwa Arga tidak akan mengubah keputusannya. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baik, Pak Arga. Saya akan segera mengurusnya."

"Bagus. Pastikan dia mulai bekerja sebagai sekretaris saya secepatnya," tegas Arga.

Setelah keluar dari ruangan Arga, Pak Anwar segera kembali ke departemen HRD dengan langkah berat. Ia tahu Naura adalah karyawan yang berdedikasi, dan memindahkannya dari posisi kepala tim keuangan ke sekretaris adalah sebuah penurunan yang mungkin tidak akan diterimanya dengan mudah. Tapi perintah Arga mutlak.

Pak Anwar memanggil Naura ke ruangannya. Naura, yang masih kesal dengan insiden jas Arga, datang dengan ekspresi datar. Ia sudah menduga akan dipanggil karena masalah jas kotor itu.

"Ada apa, Pak Anwar?" tanya Naura tanpa basa-basi.

Pak Anwar menghela napas. "Duduklah dulu, Naura. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."

Naura duduk, menunggu dengan tidak sabar.

"Begini, Naura... Bapak Arga baru saja membuat keputusan. Beliau ingin Anda dipindahkan posisinya."

Naura mengerutkan kening. "Dipindahkan? Ke mana, Pak? Apakah ada proyek baru di tim keuangan?"

"Bukan, Naura," kata Pak Anwar hati-hati. "Bapak Arga ingin Anda menempati posisi sekretaris pribadinya. Menggantikan Luna."

Mendengar itu, mata Naura langsung membelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sekretaris pribadi Arga? Setelah semua yang terjadi tadi pagi? Ini pasti pembalasan dendam!

"Apa?! Sekretaris?!" Naura berseru, suaranya meninggi. "Pak Anwar, saya ini kepala tim keuangan! Saya punya posisi yang jelas dan saya menyukai pekerjaan saya! Saya tidak mau jadi sekretaris! Apa ini karena masalah jas itu, Pak? Apakah dia sengaja membalas dendam kepada saya?!"

Pak Anwar terlihat tidak enak. "Bapak Arga tidak menjelaskan alasannya secara detail, Naura. Tapi beliau bersikeras ingin Anda yang menjadi sekretarisnya. Saya sudah mencoba berbicara, tapi beliau sudah memutuskan."

"Ini tidak adil, Pak!" Naura berdiri dari kursinya. "Hanya karena saya menumpahkan kopi ke jasnya, dia langsung memindahkan posisi saya? Ini namanya penyalahgunaan kekuasaan!"

"Naura, tenanglah," Pak Anwar mencoba menenangkan. "Saya tahu ini berat untukmu. Tapi ini adalah perintah langsung dari CEO baru. Mungkin lebih baik jika kamu bicarakan langsung dengan Bapak Arga. Jelaskan padanya keberatanmu."

Naura mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu. Marah, kesal, dan merasa tidak dihargai. Ia tidak akan tinggal diam. Ia harus melawan keputusan sepihak ini.

"Baik, Pak Anwar!" Naura berkata dengan nada tajam. "Saya akan bicara dengannya! Saya tidak akan membiarkan dia memperlakukan saya seperti ini!"

Tanpa menunggu balasan dari Pak Anwar, Naura langsung berbalik dan berjalan cepat menuju lift. Jantungnya berdebar kencang, amarah membakar dadanya. Ia tidak peduli Arga itu CEO atau bukan, ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja.

Sesampainya di lantai eksekutif, Naura melangkah cepat menuju ruangan Arga. Ia tidak mengetuk, langsung saja membuka pintu dengan sedikit keras, membuat suara gedebuk yang cukup nyaring.

Arga yang sedang fokus mengetik di laptopnya, sedikit terkejut. Ia mengangkat kepalanya, matanya menatap Naura dengan datar.

Naura masuk ke dalam ruangan, berdiri di hadapan meja Arga. Wajahnya merah padam karena amarah. Tanpa ragu, ia menggebrak meja Arga dengan telapak tangannya.

"Bapak!" teriak Naura, suaranya bergetar. "Kenapa Bapak memindahkan posisi saya menjadi sekretaris?! Apa salah saya?! Jangan hanya karena masalah jas yang ketumpahan kopi, lalu Bapak seenaknya saja membalas dendam seperti ini!"

Arga menatap Naura dengan pandangan tenang, seolah tidak terpengaruh oleh ledakan emosi Naura. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.

"Saya tidak suka dengan sekretaris yang suka menggoda bosnya seperti Luna," jawab Arga datar, suaranya tenang, namun penuh otoritas. "Dan saya butuh seseorang yang bisa bekerja secara profesional, tidak mengandalkan penampilan atau rayuan murahan."

Naura semakin kesal. "Kenapa Bapak tidak suka?! Bukankah kebanyakan lelaki suka dengan wanita seksi dan menggoda?! Bapak ini aneh!"

Arga menyeringai tipis, pandangan matanya tetap tajam. "Saya bukan seperti lelaki lain. Saya mencari kompetensi, bukan daya tarik fisik. Dan saya sudah memutuskan. Anda akan menjadi sekretaris saya."

"Saya tidak peduli Bapak suka atau tidak suka dengan wanita seksi! Saya tidak mau dipindahkan!" Naura bersikeras. "Saya sudah nyaman di posisi saya! Saya sudah lama bekerja keras di tim keuangan!"

Arga bangkit dari kursinya. Langkahnya tenang, namun setiap langkahnya terasa seperti ancaman bagi Naura. Ia berjalan mendekat ke arah Naura, memaksa Naura untuk mundur perlahan. Naura terus melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tembok dingin di belakangnya. Ia terpojok.

Arga berhenti tepat di hadapan Naura, jarak mereka kini sangat dekat. Naura bisa merasakan napas Arga yang hangat menyentuh wajahnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata Naura, memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.

"Dengar baik-baik, Naura," Arga berbisik, suaranya rendah dan mengancam. "Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga."

Naura terdiam, membeku di tempatnya. Ancaman itu menghantamnya telak. Keluar dari perusahaan? Itu berarti ia akan kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, dan semua yang sudah ia bangun selama ini. Ia menatap Arga, matanya dipenuhi kemarahan, namun juga ketakutan. Arga tidak main-main. Ia benar-benar serius. Dan Naura tahu, ia tidak punya pilihan.

Bab 3

Naura menatap Arga, matanya bergetar antara amarah dan keputusasaan. Ancaman Arga menggema di telinganya: "Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga." Pilihan yang Arga berikan sungguh kejam. Dipecat atau menjadi sekretarisnya, menjadi boneka yang akan ia permainkan sesuka hati. Naura tahu ia tidak punya pilihan. Pekerjaan ini adalah segalanya baginya. Ia menelan ludah, berusaha mengendalikan emosinya yang siap meledak.

"Baik!" Naura akhirnya menyerah, suaranya terdengar tercekat. "Saya akan jadi sekretaris Bapak! Tapi jangan pikir Bapak bisa memperlakukan saya seenaknya!"

Arga tersenyum tipis, senyuman yang Naura tafsirkan sebagai kemenangan. "Bagus. Saya tahu kamu akan membuat keputusan yang tepat. Sekarang, ada satu hal lagi." Arga melangkah mundur, mengambil jarak dari Naura, lalu menunjuk jasnya yang masih dipegang Naura. "Itu tanggung jawab kamu. Pastikan jas itu bersih sebelum besok pagi."

Naura mendengus kesal. Ia membuang muka, tak ingin menatap wajah Arga lebih lama. "Saya tahu!"

"Bagus kalau begitu," kata Arga. Ia kembali ke mejanya, membuka laptop, dan kembali mengetik seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu bisa mulai besok. Hari ini, saya akan meminta Luna untuk melatih kamu."

Naura menatap Arga tak percaya. Dilatih oleh Luna? Wanita yang tadi pagi jelas-jelas mencoba menggoda Arga? Ini pasti bagian dari rencana Arga untuk menyiksanya. Naura ingin protes, tapi ia tahu itu tidak ada gunanya. Ia sudah terperangkap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Naura membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan Arga, jas mahal itu ia peluk erat seolah itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Naura kembali ke mejanya di lantai dua belas dengan langkah gontai. Sekar langsung menyambutnya dengan tatapan cemas.

"Bagaimana, Naura? Kamu baik-baik saja?" tanya Sekar, melihat wajah Naura yang masih terlihat tegang. "Kamu ngapain saja di ruangan Pak Arga? Kok lama sekali?"

Naura meletakkan jas Arga di kursinya, lalu menjatuhkan diri ke kursi kerjanya. Ia menceritakan semua yang terjadi, mulai dari ancaman Arga hingga perintah untuk dilatih oleh Luna. Sekar mendengarkan dengan mulut ternganga.

"Ya ampun, Naura! Gila itu Pak Arga! Masa kamu disuruh jadi sekretarisnya? Padahal kamu kepala tim keuangan, kan?" Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Dan dilatih sama Luna? Pasti dia sengaja ingin membuat kamu menderita. Luna itu kan naksir berat sama Pak Arga, Naura!"

"Makanya! Aku tahu ini pasti pembalasan dendam!" keluh Naura, menyandarkan kepalanya di meja. "Aku benci dia, Kar! Aku benci sekali!"

"Sabar, Naura, sabar," Sekar menepuk bahu Naura. "Tapi... kalau kamu dipindahkan, berarti kita tidak satu departemen lagi dong?" Sekar terlihat sedikit sedih.

Naura menghela napas. "Begitulah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan ini, Kar."

Tiba-tiba, telepon meja Naura berdering. Ia mengangkatnya. "Halo?"

"Naura Fitriani?" sebuah suara bernada tinggi bertanya dari seberang. "Ini Luna. Bapak Arga ingin kamu segera datang ke ruangan saya sekarang. Saya akan melatih kamu."

Naura mendengus. "Baik, saya segera ke sana." Ia meletakkan gagang telepon. "Tuh kan, baru juga dibilang. Sudah dipanggil lagi," gerutu Naura pada Sekar. "Doakan aku kuat menghadapi iblis itu ya, Kar."

Sekar tersenyum miris. "Semangat, Naura! Kamu pasti bisa!"

Dengan langkah berat, Naura berjalan menuju ruangan Luna yang berada di lantai eksekutif, tidak jauh dari ruangan Arga. Begitu sampai, ia mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan. Luna duduk di mejanya, dengan kaki menyilang dan senyuman sinis di bibirnya.

"Duduk," perintah Luna tanpa menatap Naura. Ia sibuk memainkan pulpen di tangannya.

Naura duduk di kursi di hadapan meja Luna.

"Jadi, kamu yang akan menggantikan posisiku?" Luna mendongak, menatap Naura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya merendahkan. "Heh, kamu tahu tidak, siapa saya?"

Naura mengerutkan kening. "Saya tahu, Anda sekretaris Pak Arga."

"Bukan hanya itu!" Luna tertawa sinis. "Saya ini sudah lama mengabdi pada keluarga Wijaya. Dan saya yang paling mengerti apa yang Pak Arga inginkan. Kenapa tiba-tiba dia memilih kamu yang tidak punya pengalaman sebagai sekretaris?"

Naura diam saja. Ia tahu Luna sedang mencoba memprovokasinya.

"Pasti karena kamu sudah menggodanya, kan?" tuduh Luna, matanya menyipit. "Dasar murahan!"

Amarah Naura kembali memuncak. "Jaga ucapan Anda, Luna! Saya tidak pernah menggoda siapapun! Saya dipindahkan karena Bapak Arga yang menginginkannya!"

"Halah, alasan saja! Saya tahu kamu pasti merayu Pak Arga, iya kan?!" Luna membanting pulpennya ke meja. "Dengar ya, gadis kampung. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan hati Pak Arga? Jangan mimpi! Dia itu incaran saya! Dan saya tidak akan membiarkan wanita sepertimu merebutnya!"

Naura tersenyum kecut. "Silakan saja. Saya tidak tertarik dengan atasan yang sombong dan menyebalkan seperti Pak Arga."

Luna terkejut mendengar ucapan Naura. "Berani sekali kamu bicara begitu tentang Pak Arga! Dia itu pewaris perusahaan ini!"

"Lalu kenapa?" tantang Naura. "Saya tidak peduli. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang."

"Cih, omong kosong!" Luna bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Naura. "Dengar ya, selama kamu jadi sekretaris Pak Arga, kamu harus patuh pada semua perintahku! Kalau tidak, saya akan pastikan kamu tidak betah di sini!"

Luna mulai menjelaskan tugas-tugas seorang sekretaris, namun dengan nada yang merendahkan dan penuh ancaman. Ia sengaja menjelaskan hal-hal yang rumit dan tidak relevan, seolah ingin membuat Naura merasa bodoh. Naura berusaha mencatat semua yang Luna katakan, meskipun ia tahu Luna sengaja menyulitkannya. Ia harus kuat. Ini baru permulaan.

Malam harinya, Naura tiba di rumahnya yang sederhana. Setelah makan malam, ia langsung menuju kamar, mengambil jas Arga yang ia letakkan di kursi. Jas itu memang mahal, Naura bisa merasakannya dari bahan kainnya yang lembut. Noda kopi dan susu masih terlihat jelas.

"Sialan Arga! Merepotkan saja!" gerutu Naura sambil membolak-balik jas itu. Ia tidak tahu bagaimana cara mencuci jas semahal ini. Ia takut merusaknya. Naura akhirnya memutuskan untuk membawa jas itu ke laundry khusus besok pagi sebelum berangkat kerja. Ia tidak mau ambil risiko.

Naura mencoba untuk tidur, namun matanya tidak mau terpejam. Pikirannya terus berputar pada kejadian hari ini. Dari pertengkarannya dengan Arga di koridor, di aula, hingga perdebatan sengit di ruangan Arga. Ia juga memikirkan Luna yang jelas-jelas membencinya. Naura merasa sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi juga mental. Ia khawatir dengan hari-hari ke depan. Bisakah ia bertahan di bawah tekanan Arga dan Luna?

Pagi harinya, Naura bangun lebih awal dari biasanya. Ia segera membawa jas Arga ke laundry khusus yang ia cari di internet semalam. Untungnya, tempat itu buka pagi-pagi sekali. Naura menjelaskan kronologi noda pada jas itu, dan petugas laundry berjanji akan mengerjakannya secepat mungkin. Naura harus menunggu sekitar dua jam hingga jas itu benar-benar bersih dan rapi. Ia terpaksa menelepon Sekar untuk meminta bantuan fingerprint agar ia tidak dianggap terlambat.

Setelah mengambil jas, Naura buru-buru menuju kantor. Ia sampai tepat waktu, meskipun dengan napas terengah-engah. Jas Arga yang sudah bersih dan rapi ia bawa dengan hati-hati.

Ketika ia tiba di lantai eksekutif, Luna sudah menunggunya di depan pintu ruangan Arga. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak sabar.

"Lambat sekali!" ketus Luna. "Cepat masuk! Pak Arga sudah menunggu!"

Naura tidak menjawab. Ia langsung masuk ke ruangan Arga. Arga sedang duduk di kursinya, membaca beberapa dokumen. Ia mendongak saat Naura masuk.

"Pagi, Pak," sapa Naura datar. Ia meletakkan jas Arga yang sudah bersih di atas mejanya. "Jas Bapak sudah saya cuci."

Arga melirik jas itu, lalu mengangguk. "Bagus. Mulai sekarang, kamu bisa mulai bekerja."

Naura menghela napas. "Baik, Pak. Apa yang harus saya lakukan?"

"Duduk di sana," Arga menunjuk meja sekretaris yang berhadapan langsung dengan mejanya. Meja itu dulunya milik Luna. "Luna akan memberikan daftar pekerjaan kamu."

Luna masuk, membawa setumpuk map dan beberapa instruksi. Ia menatap Naura dengan tatapan meremehkan.

"Ini semua pekerjaan yang harus kamu lakukan," Luna berkata dengan nada arogan. "Jangan harap kamu bisa bersantai. Pak Arga sangat disiplin dan tidak suka ditunda-tunda."

Naura membaca daftar itu. Tugas-tugasnya sangat banyak, mulai dari mengatur jadwal Arga, membalas email, mengatur pertemuan, hingga menyiapkan presentasi. Belum lagi urusan personal Arga yang Luna selipkan di antara tumpukan dokumen. Naura merasa kepalanya pusing. Ia biasa bekerja dengan angka dan laporan keuangan, bukan mengatur jadwal orang.

"Ini... ini terlalu banyak!" protes Naura. "Saya tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri!"

Luna tertawa sinis. "Itu urusan kamu! Kalau tidak bisa, ya jangan jadi sekretaris Pak Arga!" Ia melirik Arga yang hanya diam saja, seolah menikmati penderitaan Naura. "Saya akan pergi ke divisi lain. Kalau ada apa-apa, jangan panggil saya lagi! Urus saja pekerjaanmu sendiri!"

Luna pun pergi, meninggalkan Naura sendirian di ruangan Arga dengan setumpuk pekerjaan. Naura merasa sangat kesal. Ia tahu ini adalah bagian dari rencana Luna untuk menyulitkannya.

Arga yang melihat Naura masih terpaku, berdeham. "Ada masalah, Naura?"

Naura mendongak, menatap Arga dengan tatapan marah. "Ini terlalu banyak pekerjaan, Pak! Saya tidak mungkin bisa mengerjakannya sendirian!"

"Itu sudah menjadi tanggung jawab seorang sekretaris," Arga menjawab tenang. "Kalau kamu tidak sanggup, kamu tahu apa konsekuensinya."

Ancaman itu lagi. Naura mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia harus bertahan. Ia harus membuktikan pada Arga bahwa ia tidak selemah itu.

"Baik, Pak!" Naura berkata, suaranya mengandung tekad. "Saya akan mengerjakannya!"

Sepanjang hari itu, Naura berusaha keras mengerjakan semua tugas yang diberikan. Ia mencoba memahami sistem kerja seorang sekretaris, meskipun ia sama sekali tidak punya pengalaman. Ia harus menelepon banyak pihak, mengatur jadwal Arga yang sangat padat, dan mempelajari semua dokumen penting perusahaan. Berkali-kali ia melakukan kesalahan, dan setiap kali itu terjadi, Arga akan mengomentarinya dengan nada datar, namun menusuk.

"Naura, kamu seharusnya sudah tahu ini," Arga akan berkata jika Naura bertanya tentang sesuatu yang menurutnya dasar. "Seorang sekretaris harus proaktif, bukan menunggu instruksi."

Atau, "Naura, ini salah. Jadwal ini tidak bisa begini. Ubah lagi."

Naura hanya bisa menahan diri. Ia ingin sekali membantah, tapi ia tahu itu akan memperburuk keadaan. Ia harus menunjukkan bahwa ia mampu. Ia harus membuktikan bahwa Arga salah menilainya.

Di jam makan siang, Naura tidak sempat turun ke kantin. Ia makan bekalnya di meja, sambil terus memeriksa email dan jadwal Arga. Ia bahkan tidak punya waktu untuk mengobrol dengan Sekar yang beberapa kali meneleponnya.

Ketika sore tiba, kepala Naura sudah berdenyut. Ia merasa sangat lelah. Pekerjaan ini jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Laptop di hadapannya masih menunjukkan beberapa task yang belum selesai.

Arga mendongak dari laptopnya. "Sudah selesai?"

Naura menggeleng. "Belum, Pak. Masih ada beberapa yang harus saya selesaikan."

"Baik. Kalau begitu, kamu bisa lembur," kata Arga santai. "Saya akan pulang dulu. Jangan lupa kunci ruangan saya setelah kamu selesai."

Arga berdiri, mengambil tas kerjanya, dan berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban Naura. Naura menatap punggung Arga yang menghilang di balik pintu. Ia merasa seperti robot.

"Lembur?!" gumam Naura kesal. "Ini benar-benar penyiksaan!"

Naura terpaksa melanjutkan pekerjaannya. Ruangan Arga kini terasa begitu sepi, hanya ditemani suara ketikan keyboard dan sesekali suara Naura yang mendesah frustasi. Ia merasa sangat kesepian dan tertekan. Apakah ia bisa bertahan? Apakah ia akan kuat menjalani hari-hari seperti ini?

Tiba-tiba, ia teringat perkataan Arga: "Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga." Pilihan itu kembali menghantuinya. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus kuat.

Naura menarik napas dalam-dalam, lalu kembali fokus pada layar laptopnya. Ia harus menyelesaikan semua ini. Ia tidak boleh kalah.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Naura akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Rasa lapar mulai melanda, perutnya keroncongan. Ia belum makan malam.

Naura membereskan mejanya, memastikan semuanya rapi. Ia melirik meja Arga, yang juga sudah rapi. Ia kemudian mematikan lampu dan mengunci ruangan Arga.

Saat ia berjalan menuju lift, koridor lantai eksekutif sudah sepi. Hanya beberapa lampu yang menyala redup. Naura merasa merinding. Ia mempercepat langkahnya.

Ketika sampai di basement, motornya adalah satu-satunya yang tersisa di deretan parkir. Langit sudah gelap gulita. Naura menyalakan motornya, lalu memacunya pulang dengan pikiran kalut. Hari pertamanya sebagai sekretaris Arga Narendra Wijaya adalah mimpi buruk. Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi hari esok, dan hari-hari selanjutnya. Namun, satu hal yang pasti, ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia tidak akan membiarkan Arga menang. Pertarungan mereka baru saja dimulai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED