"Mas, kita perlu bicara!"pintanya kepada sang suami.
Tak langsung berkata, Bram justru melihat ke sisi kirinya ada Luna yang sedang bergelayut manja di lengannya. Kemudian,... "Luna, saya bicara dulu sama, Khanza."ujarnya.
"Tapi, mas,- ?"
"Sebentar saja. Setelah ini nanti selesai, saya janji akan balik lagi ke kamu."ujarnya memotong ucapan Luna.
"Jangan marah," sambungnya mengulas senyum terpaksa sambil mengelus pipi kanan Luna.
Hal itu, sontak saja membuat Khanza memalingkan muka dari keduanya. Hatinya hancur seperti diremas dan dihujani batu kerikil tajam di dalam sana.
Dia benar-benar kecewa dan tak menyangka jika suami yang dicintai dan yang sudah diberinya kepercayaan penuh mampu menduakan cintanya.
Melepaskan tangannya dari lengan Bram, Luna mau tak mau harus mengikhlaskan Bram bersama istri pertamanya dulu untuk sementara waktu.
"Ke kamar sendiri, ya. Nanti saya nyusul."titah Bram pada Luna.
"Baik mas," jawabnya mengangguk sambil sedikit memaksakan diri untuk tersenyum.
Melihat Luna sudah masuk ke dalam kamar, kini gilirannya memberi waktu untuk Khanza bicara empat mata.
Tak berkata apa-apa, Khanza langsung berlalu pergi begitu saja dari hadapan Bram dan masuk ke dalam kamar pribadi mereka.
Mengunci rapat-rapat pintunya, agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh siapapun. Terutama Luna.
*
"Mas, sekarang ceritakan padaku! Kenapa kamu bisa menduakan aku dengan perempuan lain?" Tanya Khanza marah.
"Sementara selama ini, kamu tidak pernah mengatakan hal apapun padaku!"
"Termasuk tentang wanita." Sambungnya.
"Sedikitpun, kamu tidak pernah berbicara tentang wanita manapun di depanku. Tapi sekarang,...?"
"Sekarang kamu tiba-tiba saja datang bersama perempuan lain dan sekaligus, mengakuinya sebagai istri."
"Apa maksudmu, mas?! Hah?!"
"Di mana hati nurani kamu saat mengatakannya dengan lancar di depanku dan wanita itu?!"
"Apa sedikitpun, kamu tidak memikirkan perasaanku, mas?"
"Tega kamu, mas. Jahat sekali sama aku."
"Bahkan selama ini, seingat aku, kamu juga tidak pernah sekalipun meminta izin dariku untuk menikah lagi. Tapi kenapa,...?"
"Kenapa sekarang gak ada angin gak ada hujan kamu datang membawa kabar mengejutkan untukku?"
"Apa salahku, mas? Apa?!" Teriak Khanza bertanya.
"Aku benar-benar gak nyangka mas, kamu bisa sejahat ini sama aku! Kamu benar-benar keterlaluan, mas." Ucap Khanza dengan linangan air mata.
Diam sejenak, dia berkata lagi,.....
"Selama ini ... Aku tidak pernah berpikir jika kamu akan mendua, mas."
"Tapi nyatanya, sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan dan aku bayangkan itu, justru terjadi padaku sekarang."
"Mengakui perempuan lain menjadi istri di hadapanku, sementara kamu tahu sendiri mas ... Jika aku lah istri sah kamu di mata agama dan hukum. Lantas kenapa...?"
"Kenapa bisa kamu menyakiti perasaanku seperti ini, mas? Kenapa?! Apa salahku?" Tanya Khanza hampir tak terdengar.
"Apa kurangnya aku selama ini di hadapan kamu, mas?"
"Apa?! Hingga kamu mampu menduakan aku dan mengkhianati pernikahan kita?" Tanya Khanza pelan dalam tangisnya.
Khanza tidak bisa menerima kenyataan ini. Dia sampai mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sangking syok dan terkejutnya dengan kelakuan dan pengakuan sang suami kali ini.
Hatinya hancur, kecewa setelah mengetahui Bram berani mengkhianati dan berpaling darinya pada perempuan lain.
"Khanza sayang, tenang ya. Dengar penjelasan mas Bram dulu!" Ucapnya lembut melihatnya.
"Penjelasan apa lagi, mas? Sementara kenyataannya sudah jelas, jika kamu seorang pengkhianat."
"Jujur, aku benar-benar kecewa sama kamu mas. Aku benci perbuatan kamu kali ini!" Marahnya menjawab ucapan Bram.
"Aku gak nyangka, kamu bisa setega ini sama aku," sambungnya tersenyum miring melihat Bram. Senyum penuh kekecewaan yang mendalam.
"Khanza?"
"Jahat kamu, mas."
"Khanza, please sayang? Denger penjelasan mas Bram dulu!" Mohonnya.
"Sekarang tenang, ya. Mas akan cerita semuanya sama kamu." Ujarnya.
Mendengar penuturan Bram, Khanza langsung melihat Bram yang sekarang tengah berjongkok di depannya.
"Baik. Sekarang jelaskan pada Khanza apa yang sebenarnya terjadi!" Perintahnya menghentikan tangisnya.
"Sebelumnya mas minta maaf karena sudah mengkhianati kepercayaan kamu, sayang," ucapnya sambil menggenggam tangan Khanza"
"Dan jujur, mas juga tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu. Semua ada alasannya, sayang." Lanjutnya.
"Tapi ini sangat menyakitkan, mas." Bantah Khanza.
"Mas paham, sayang. Mas sudah sangat menyakiti hati kamu sekarang. Tapi jujur, mas tidak bermaksud melakukan itu semua."
"Semua terjadi begitu cepat pada saat itu." pelan-pelan, Bram mulai mengungkapkan.
"Makanya mas, pikirkan dulu sebelum melakukan sesuatu!" Omel Khanza.
"Benar, sayang. Mas salah dan mas khilaf." Jawabnya mengalah.
"Mas minta maaf, ya."ucapnya.
"Berapa usia kehamilan wanita itu?"tanya Khanza ketus tanpa mau menyebut nama Luna.
"Empat bulan, sayang. Dan kami sudah menikah lima bulan lalu." Ungkap Bram menjawabnya.
"Astaghfirullah." Khanza menutup mulutnya rapat-rapat karena terkejut.
Matanya kembali berkaca-kaca dengan tubuh sedikit bergetar. Lima bulan pernikahan, itu sangat lama bagi Khanza. Tapi kenapa, dia bisa kecolongan sejauh ini. Pikirnya.
Menghitung perjalanan pernikahan sang suami dengan madunya selama lima bulan penuh, membuat Khanza tak sanggup membayangkan hubungan badan antara suami tercinta dengan perempuan lain.
Sungguh menyakitkan, menyayat hatinya.
Walaupun Khanza tahu, wanita itu juga istri Bram suaminya sendiri. Tetap saja, dadanya sesak dan hatinya sakit mendengar sekaligus membayangkan semua itu terjadi.
Dia benar-benar tak terima dengan semua ini.
HIKS!!
Khanza menangis terisak. Dunianya hancur setelah mendengar pengakuan Bram barusan. Jujur, dia belum siap dipoligami. Atau lebih tepatnya, memang tidak ingin di madu.
Tapi sekarang, keadaan mengharuskannya menerima istri muda suaminya, Luna. Yang mana sekarang, sedang mengandung benih suaminya sendiri.
"Kenapa kamu tega melakukan ini sama aku, mas?"lirihnya bertanya.
"Apa salahku?"
"Bahkan jika benar dia istrimu, kenapa kamu harus membawanya kemari dan memperkenalkannya padaku?"
"Padahal kamu bisa memberitahuku terlebih dahulu sebelum membawanya kemari?Bukan malah mengejutkanku dengan pernikahan ini?"tanyanya beruntun.
"Apalagi sekarang, dengan sengaja kalian berniat tinggal bersamaku? Gimana hancurnya perasaanku, mas?"
"Apa tidak ada sedikit belas kasih untukku di hatimu, mas?"tanya Khanza tiada henti dalam tangisnya.
"Kenapa tidak sedikitpun kamu menghargai perasaanku, mas?"
"Kenapa?"tanyanya masih dalam tangis tersedu-sedu.
"Maaf Khanza, mas tidak sempat mengatakannya pada kamu. Karena sebelumnya, mas tidak ada niatan sedikitpun membawanya kemari."ucap Bram.
"Tapi buktinya apa sekarang, mas? Kamu membawanya kemari memperkenalkannya padaku?"balas Khanza.
Menghela nafas lalu mengangguk, Bram berkata, "Mas membawanya kemari karena permintaan Luna, sayang."
"Dia mengandung anakku dan dia kesepian di rumah. Ke sini dan tinggal bersama, agar dia punya teman."sambung Bram mengungkapkan.
"Dengan menuruti permintaan Luna, tanpa sadar kamu telah menyakiti perasaanku, mas."sahut Khanza.
"Maafkan mas, Khanza?"mohonnya.
"Selama kehamilannya, dia sering mual kadang muntah. Dan mas pikir dengan membawanya kemari, dia punya teman untuk di ajaknya bicara."
"Lebih-lebih bisa membantu merawatnya selama masa kehamilannya ini. Dan itu, kamu."sambung Bram panjang.
"Astaghfirullah."sebut Khanza tak habis pikir.
"Dimana perasaan kamu, mas? Bisa-bisanya kamu menyuruhku merawat istri dan calon anak kalian?"
"Apa gak keterlaluan perbuatan kalian ini, mas? Hah!?"
"Apa kalian tidak punya hati nurani?"sambungnya marah.
Hatinya hancur penuh luka, kekecewaan, amarah, kesal karena sudah dikhianati. Dan sekarang, masih ditambahi dengan pernyataan dan pengakuan suaminya yang sangat menyakitkan.
Sungguh, Khanza tak habis pikir dengan jalan pikiran Bram kali ini.
Bahkan sekarang, dia tak tahu lagi harus bagaimana? Pernikahan impian yang selama ini dijalaninya selalu harmonis kini hancur dengan datangnya orang ketiga di dalamnya.
"Sekali lagi maafkan mas, Khanza. Mas harap kamu bisa menerima dia sebagai madumu."ucapnya menegaskan.
"Baik, aku akan mencoba menerimanya. Tapi tidak dengan merawat istri keduamu apalagi merawat anak kalian."
"Aku tidak sudi!"sambung Khanza menegaskan.
"Khanza? Please, sayang? Jangan seperti ini?"pinta Bram.
"Tidak. Keputusan Khanza sudah bulat!"
"Cukup khanza mengizinkan kalian tinggal bersamaku! Tapi tidak dengan merawatnya!"tegaskan Khanza.
"Jika mas Bram tidak setuju, mas Bram bisa membawanya pergi dari rumah ini!"sambung Khanza mengusulkan.
"Dia yatim piatu tak memiliki keluarga, Khanza. Hanya mas yang jadi tumpuannya sekarang."
"Khanza tidak peduli! Jika mas kasihan karena dia tak memiliki orang tua, aku pun sama. Yatim piatu sama sepertinya."jawab Khanza.
"Khanza, mas tidak meminta lebih. Cukup kamu baik-baik saja sama, dia!"
"Tidak bisa!"
"Luka yang kalian torehkan terlalu dalam, tidak bisa dalam kurun waktu sebentar untuk memaafkannya."
"Oh ya satu lagi! Alasan apa yang membuat mas Bram menikahinya?"sambung Khanza bertanya serius.
"Waktu itu spontan saja mas melakukannya, sayang."jawab Bram dengan tarikan napasnya yang berat.
"Spontan? Apa maksudnya, mas? Apa semua itu karena jebakan?"tanya Khanza menelisik wajah Bram.
"Bukan!"
"Lalu?"
"Saat itu, Luna tidak memiliki uang untuk pengobatan ibunya yang sakit keras."
"Setelah ketemu mas, dia menawarkan diri menjadi selingkuhan asal mas mau membiayai ibunya yang sakit."
"Karena zina dilarang, mas tawarkan pernikahan. Dan dia mau."sambung Bram.
"Mas juga mengatakan jika dia nanti akan jadi istri kedua."lanjut Bram.
"Jika mas tahu di rumah ada seorang istri, kenapa harus mas tawarkan pernikahan? Apa mas lupa?"tanya Khanza menyelanya.
"Maaf Khanza, mas memang memikirkan hal itu. Tapi yang lebih utamanya bukanlah itu."jawabnya.
"Bukan itu? Apa maksudnya, mas?"
"Mas hanya berpikir, siapa tahu dengan menikahinya, mas akan memiliki seorang anak."jawabnya menunduk.
Kata-kata yang tak seharusnya ia ucapkan di hadapan Khanza istri kesayangannya kini harus terucap juga. Selamanya, Bram tidak akan berpaling darinya. Dia akan tetap setia dan mencintai Khanza sampai kapanpun.
Biarlah kali ini dirinya terlihat salah dan jahat di mata Khanza. Walaupun, semua itu harus bertentangan sama hatinya. Bram tidak peduli. Semua demi kelancaran rencananya untuk masa depannya.
"Jadi, semua ini karena A-NAK?"tanya Khanza terkejut.
"Ya. Sekali lagi maafkan mas Bram, Khanza!"balas Bram.
Khanza menutup mulutnya sambil menggelengkan pelan kepalanya melihat Bram. Dan, "Maaf, mas. Aku belum bisa memaafkan."
***
Bersambung,.....
Tak terasa, malam telah menyapa. Khanza yang sudah mengetahui kebenaran tentang poligami yang dilakukan Bram dibelakangnya kini hanya bisa termenung pasrah, sedih saat mengingat semuanya.
Setelah berbicara empat mata tadi siang dengan Bram, kini Khanza memilih berdiam diri di kamar untuk sementara waktu. Yang biasanya di saat malam hari tiba dia selalu menyiapkan makan malam untuk Bram, kali ini sengaja tidak ia lakukan.
Hatinya masih sakit dan teramat kecewa dengan pernyataan yang tadi siang Bram ucapkan. Dia akui memang belun bisa memberikan keturunan untuk Bram. Tapi, dia juga tidak mandul.
Begitupun sebaliknya. Hanya saja, kehidupan dalam rumah tangga mereka memang belum dikaruniai seorang anak saja. Namun apalah daya, Bram tidak sabar akan hal itu.
Dan Khanza, tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Semua sudah terjadi, tak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Hanya bisa pasrah menerima takdir yang Bram lakukan saat ini.
Jika dia mampu bertahan, maka dia akan bertahan. Jika tidak bisa, jalan terakhir adalah PERPISAHAN.
***
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu terdengar. Khanza yang saat ini baru saja menyelesaikan ibadah shalat Isya' seketika diam sejenak di tempat. Sebab, dari dirinya tak ada keinginan untuk membuka pintu.
Namun setelah mendengar suara siapa dibalik pintu kamarnya, barulah Khanza bangkit dan bergegas ingin segera membukanya.
"Bibik?"sapanya setelah pintu terbuka.
"Ada apa, bibik?"sambungnya bertanya.
"Non, Khanza?"ucapnya pelan, langsung memeluk Khanza.
"Ada apa, bik? Bibik kenapa?"tanya Khanza sedikit bingung. Namun, dia tetap membalas pelukan bik Marni.
"Nona yang sabar, ya. Bibik sudah tahu semuanya. Bibik ikut prihatin, non."ucapnya.
"Maksudnya gimana, Bik?"tanya Khanza bingung.
"Bapak non, bapak. Bapak itu tidak bisa bersyukur memiliki wanita shalihah, cantik, masih muda seperti nona. Speak istri idaman, masih aja di duakan."ujarnya.
"Bapak memang kurang bersyukur, non."sambung bik Marni kesal sendiri.
Mengusap punggung wanita paruh baya itu, Khanza menjawab, "Khanza tidak apa-apa, bik. Khanza ikhlas menerimanya."jawabnya.
"Toh semua sudah terjadi, 'kan?"tanya Khanza, membuat bik Marni angguk kepala.
"Sekarang Khanza sadar, kalau mas Bram itu bukan sepenuhnya milik, Khanza."
"Tapi milik kedua orang tuanya dan pastinya milik, Allah SWT."sambung Khanza.
"Mungkin untuk sekarang ini, ujian yang kami terima adalah kesetiaan. Khanza minta do'anya, semoga Khanza tetap sehat serta diberi umur panjang."ucapnya.
"Pasti, non. Bibik selalu mendo'akan yang terbaik buat, nona."jawabnya.
"Tanpa non Khanza minta, bibik terus mendo'akan."sambungnya.
"Terimakasih bibik,"jawab Khanza tersenyum. Senyum yang hampir tak terlihat.
Melepas pelukannya, bik Marni berkata, "Dari tadi siang, nona tidak keluar kamar untuk makan. Sekarang, biar bibik ambilkan makan malam untuk nona, ya."ucapnya.
Tersenyum, Khanza berkata, "Kebetulan, Khanza sedang tidak pengen makan apa-apa, bik."jawabnya.
"Jangan menyiksa diri seperti ini, non. Nanti bisa sakit. Makan sedikit tidak apa-apa asal perut ke isi."ucap bik Marni menasehati.
"Sekarang non Khanza masuk, biar bibik bawa makanannya kemari!"sambungnya berkata.
"Eee,... Jangan!"cegah Khanza.
"Tidak apa-apa, non."
"Lagian, bapak juga sedang pergi sama selingkuhannya. Non Khanza tenang saja, rumah ini sepi gak ada orang."ungkapnya memberitahu.
"Pergi?"ulang Khanza bertanya.
"Iya. Katanya tadi si pelakor minta dibeliin roti apa gitu non, bibik lupa namanya."jawab bik Marni.
"Dia bukan pelakor, bik."ucap Khanza mengingatkan.
"Ah, orang macam itu jangan dibela, non. Nanti ngelunjak."
"Jelas-jelas dia itu pelakor. Perebut suami orang."
"Mana ada perempuan baik yang mau dijadiin istri kedua, gak ada, non. Maka dari itu, pantaslah dia disebut si pelakor."kekeh bik Marni menjelaskan.
"Katanya mas Bram, bukan dia yang merayu. Tapi mas Bram sendiri yang justru menawarkan pernikahan pada dia."ungkap Khanza.
"Astaghfirullah. Bibik gak salah dengar ini, non?"kaget bik Marni membelalakkan matanya.
"Tidak. Mas Bram sendiri yang bicara semuanya pada Khanza tadi."jawabnya.
"Bagaimana bisa ini terjadi, non? Apa sedikitpun bapak tidak memikirkan perasaan non, Khanza?"tanyanya tak habis pikir.
Tersenyum, Khanza berkata, "Semua ada ditangan mas Bram dan takdir, bik."jawabnya.
"Aneh betul bapak kali ini, non. Bisa-bisanya menawarkan pernikahan jika di rumah saja, dia sudah memiliki istri?"
"Benar-benar aneh."geram bik Marni.
"Terlepas benar atau tidaknya, beliau mengatakan sendiri kalau semua ini terjadi karena beliau ingin segera memiliki momongan, Bik."
"Alhamdulillahnya, lewat istri kedua ini, do'a mas Bram diijabah. Wanita itu sedang mengandung empat bulan anak mas, Bram."ungkap Khanza.
"Bibik gak bisa berkata, non. Tega sekali pak Bram, ini. Padahal sudah jelas, jika non Khanza maupun bapak tidak mandul."
"Tapi kenapa, kenapa, ...... Ah sudahlah, non. Gak usah diteruskan! Bikin sakit tambah hati."ujarnya.
"Tapi bibik yakin, suatu saat bapak pasti menyesal dengan perbuatannya ini."
Tersenyum tipis, Khanza berkata, "Menyesal atau tidak, semua tergantung diri masing-masing, bik. Dan itu, ada di diri mas, Bram."ucapnya.
"Kasihan sekali kamu, nona."lirihnya.
"Padahal, kalian ini pasangan sempurna. Cantik dan tampan. Cuma sayangnya, memang belum dikasih momongan saja. Dan pak Bram, lelaki yang tidak sabaran."sambungnya pelan.
"Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Semoga Khanza ikhlas menerimanya."balasnya.
"Menurut bibik, emang bapak yang sangat keterlaluan kok, non. Tidak tahu bersyukur."ucapnya masih menyalahkan Bram.
"Tapi apapun yang terjadi, bibik akan terus dukung non, Khanza."
"Terimakasih ya, bik. Terimakasih untuk semua kebaikan bibik selama ini."ucap Khanza.
"Sama-sama, non."jawabnya.
Dengan tangan terbuka, Khanza dengan senang hati menganggap bik Marni seperti orang tua sendiri.
Karena sejak kecil, dia hanya hidup sebatang kara. Tinggal hanya dengan neneknya dan kini neneknya sudah meninggal setelah dua tahun pernikahannya dengan Bram.
Begitupun dengan orang tuanya, yang sudah lebih dulu pergi setelah kecelakaan saat dia masih kelas 1 SD.
"Nona yang sabar, ya. Bibik ambilkan makan untuk, nona."pamitnya.
"Kebetulan, bibik masak makanan kesukaan nona. Cumi balado."ungkapnya.
"Tidak usah repot antar kemari, bik. Biar Khanza sendiri yang ke meja makan."balasnya.
"Kebetulan, Khanza mau ke dapur buat ambil minum."
"Oh gitu? Syukurlah. Ayo, non!"jawabnya mengajak.
Sebenarnya Khanza tidak ingin makan malam. Perutnya belum terasa lapar sama sekali. Bawaannya juga malas tak berselera.
Tapi mendengar penuturan bik Marni yang sudah bersusah payah membuat lauk kesukaannya, membuatnya tak enak hati.
***
Di dalam mobil perjalanan pulang.
Luna bergelayut manja dibahu Bram yang sedang mengemudi. Dia sangat senang karena hari-harinya merasa selalu di manja oleh Bram. Walaupun, Bram sedikit kaku padanya.
Kadang baik kadang acuh dan tak jarang juga permintaannya selalu ada yang ditolak. Tapi tak membuat Luna putus asa. Dia terus mendekati Bram sampai Bram mau menerimanya dengan senang hati.
Padahal tanpa sepengetahuan Luna, Bram baik dan mengalah semua ada tujuannya. Bukan semata dia ingin dibodohi.
"Mas Bram, apa mbak Khanza masih belum nerima Luna jadi madunya?"tanyanya sok manja.
"Dia wanita baik. Saya yakin, dia bisa nerima kamu dengan senang hati."jawabnya berbohong.
"Syukurlah. Luna senang mendengarnya,"jawabnya tersenyum palsu.
"Luna sempat takut mbak Khanza tidak bisa nerima tapi justru menyerang, Luna."sambungnya.
"Itu tidak akan terjadi!"tegaskan Bram.
"Semoga aja begitu ya, mas."balasnya.
"Ya."
Kenyataannya, Luna sangat membenci istri sah Bram, Khanza. Bahkan dia emang berniat menyingkirkan Khanza dari pernikahannya.
Luna ingin jadi istri sah satu-satunya milik Bram. Dan,.... Pewaris tunggal semua harta kekayaan yang dimiliki Bram tersebut.
***
Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang untuk bertamu di rumah mereka. Bik Marni dan Khanza saling berpandangan.
Kemudian, "Biar bibik lihat dulu ya, non."pamitnya pergi.
Setelah dibuka, nampaklah wajah-wajah orang yang membuatnya kesal hari ini. Dialah Bram dan Luna. Namun karena tuntutan pekerjaan, membuat bik Marni harus profesional.
"Silahkan masuk pak Bram, nona."ucapnya beramah-tamah.
"Terimakasih, bibik?"balas Luna sok ramah.
"Khanza, ada?"sahut Bram bertanya.
"Ada, pak. Nona sedang makan."jawabnya.
Tidak berkata apapun, Bram langsung melangkah masuk menuju dapur. Bahkan, Luna hampir saja ia abaikan.
*
"Khanza?"panggil Bram lembut.
Tak menjawab, Khanza hanya menoleh sedikit untuk melihatnya. Tapi setelah dia merasakan kedatangan Luna, Khanza langsung menghadap lurus ke depan.
"Aku bawakan martabak telur untukmu,"ucap Bram meletakkan kantong kresek putih yang dibawanya di depan piring makan Khanza.
"Aku beli di Abang langganan kita."ucapnya memberitahu.
"Terimakasih."ucap Khanza datar.
"Aku tinggal ke kamar dulu, ya. Nanti agak malaman, aku pergi menemui mu."pungkasnya.
"Ya."
Setelah mendengar jawaban Khanza, Bram langsung mengajak Luna pergi ke kamar mereka.
Membuat Khanza semakin sakit hati dibuatnya. Apalagi, melihat Luna yang terus menempel di lengan Bram, membuatnya muak.
Kepergian keduanya, Khanza berkata, "Bibik, bawa pergi makanan ini!"perintahnya.
"Non Khanza tidak ingin memakannya?"
"Tidak!"
"Baik, non."jawab bik Marni patuh.
Meletakkan garpu dan sendoknya, Khanza, "Aku tidak sudi memakan makanan yang kau beli dengan wanita itu, mas. Aku tidak sudi!"gumamnya marah.
***
Bersambung,....
"Aku tidak sudi memakan makanan pemberianmu dengan wanita itu, mas."
"Aku benci!"ujarnya penuh amarah saat mengatakannya.
Dia benci, dan dia belum bisa menerima poligami ini. Dia teramat kecewa dengan suaminya yang berkhianat.
Dan sesaat setelah Bik Marni pergi membuang makanan pemberian Bram, kini Khanza memilih pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia langsung menutup rapat pintunya dan menguncinya dari dalam.
Tidak ingin diganggu. Dia ingin sendiri menenangkan perasaannya.
***
Malam semakin larut....
Sesuai janjinya tadi, Bram pergi ke kamar Khanza setelah melihat Luna tertidur pulas di kasurnya.
Tak ingin membangunkan siapapun, Bram langsung mendorong pintu kamar Khanza. Namun yang terjadi, pintu kamar tersebut justru dalam keadaan terkunci dari dalam.
Mengetuknya pelan, berharap Khanza mendengar dan belum tidur. Satu kali ketukan, tak ada reaksi apapun dari dalam. Bahkan sampai ke empat kalinya, semua masih sama tak ada sahutan apapun.
Capek berdiri di sana dan merasa Khanza tak akan membukakan pintu untuknya, Bram berinisiatif untuk membobol pintu kamar tersebut.
Mencongkelnya dengan obeng, alat seadanya yang ia dapatkan di laci dekat kamar Khanza.
Seperempat jam mengotak-atik pintu kamar tersebut, akhirnya Bram berhasil juga. Perasaan lega ia rasakan sekarang.
Mengembalikan kembali obeng pada tempatnya, Bram dibuat terkejut saat akan mendorong pintunya. Ternyata, sama sekali belum bisa dibuka.
Sepertinya, Khanza emang sengaja menautkan paku atas pintu dan bawah. Hingga pintu susah untuk dibuka. Dan Bram yakin itu.
Marah dan kesal yang Bram rasakan sekarang. Wajahnya bahkan memerah karena menahan kesal.
Tak ingin berlarut dalam amarah, Bram memutuskan untuk pergi. Tak juga ke kamar Luna, Bram justru pergi ke kamar kosong yang tak dipakai. Tapi masih bersih dan layak. Tidur di sana, dengan perasaan menahan kesal.
***
Pagi telah menyapa.....
Bram kaget saat menuruni anak tangga terakhir tak melihat Khanza ada di meja makan. Hanya Luna yang sudah stanby di sana.
Bram kira, Khanza sudah ada di dapur menyiapkan sarapan untuknya. Ternyata tidak. Karena sebelum ia ke sana, Bram menyempatkan diri melihat kamar Khanza yang kosong dan sudah tertata rapi.
Melihat ke sana kemari, dia tak melihat Khanza maupun bik Marni di sana. Tak ingin bertanya pada Luna, Bram memilih diam. Walau rasa penasarannya, sudah sampai di ubun-ubun.
"Hai, mas?"sapa manja Luna dengan manja.
"Hai? Gimana semalam? Tidak ada masalah 'kan?"tanya Bram basa-basi berjalan mendekat.
"Sama sekali tidak ada, mas. Semua aman,"jawab Luna tersenyum lebar.
"Syukurlah."lega Bram.
Duduk di kursi samping Luna, Bram melihat sajian makanan di depannya. Kembali di amati satu persatu, ternyata tidak ada masakan Khanza satupun di sana.
Fix! Khanza benar-benar marah padanya. Menghela napasnya berat, Bram berusaha tetap tenang. Walaupun dalam pikirannya sudah dipenuhi dengan nama Khanza serta keberadaannya yang entah dimana.
Melihat Bram, Luna berkata, "Mas Bram, kenapa?"tanyanya saat melihat kegelisahan suaminya.
"Tidak."
"Saya hanya khawatir dengan masakan ini. Takut kamu tidak menerimanya."jawabnya berbohong.
"Makanan di meja ini enak semua, mas. Luna pasti akan menyukainya,"balas Luna tersenyum tipis.
"Kamu serius?"tanya Bram pura-pura terkejut.
"Iya,"jawab Luna mengangguk.
"Ayo kita makan!"ajak Bram.
"Em... Mas?"
"Iya?"tanya Bram.
"Mbak Khanza pergi lhoh, sama Bik Marni barusan."ungkapnya.
"Pergi?"
"Iya. Tapi Luna tidak tahu perginya kemana."ucapnya cari perhatian.
Bram terdiam sedikit berpikir. 'Pergi pagi-pagi. Apa dia pergi ke makam?' ucap Bram bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa, mas? Mbak Khanza tidak izin sama mas, Bram?"tanya Luna ingin jadi kompor.
"Dia izin semalam. Saya yang lupa. Katanya pergi ke pasar cari bubur ayam kesukaannya."jawab Bram berbohong.
"Oh."
"Udah ayo makan! Keburu saya terlambat."titah Bram mengalihkan pembicaraan.
Luna mengangguk mengikuti maunya Bram. Walaupun terkadang, keinginan Bram bertolak belakang dengan keinginan dan sifat kepribadiannya.
Tapi semua itu dia lakukan hanya ingin terlihat baik di depan Bram. Demi kelancaran rencana dan tercapainya tujuan utama mereka.
Sementara Bram, tidak bisa makan enak dan tenang pagi ini. Dia terus kepikiran Khanza. Apalagi sejak semalam, dia tak bertemu Khanza sama sekali. Membuatnya kangen dengan istri pertamanya.
Walaupun dia sekarang berstatus memiliki dua istri, tetap Khanza yang ia cintai. Bukan siapapun termasuk Luna. Hanya Khanza yang setiap saat ingin dilihatnya, bukan yang lain.
"Apakah dia salah mengambil keputusan ini? Tapi kalau tidak, .... Ah semua gara-gara tua bangka itu!" geram Bram berkata di dalam hati.
*
"Mas tidak sedang marahan sama mbak Khanza, 'kan?"tanya Luna disela-sela makanannya.
"Tidak."
"Luna pikir, kalian sedang marahan. Mbak Khanza pergi, mas Bram tidak tahu."ucapnya.
"Kami baik-baik saja. Bahkan semalam, kami tidur bersama."jawab Bram terpaksa berbohong.
"Oh gitu? Syukurlah, jika semuanya baik-baik saja,"balas Luna terpaksa tersenyum.
"Ya."
"Oh ya? Siang nanti, saya tidak bisa pulang begitupun dengan malam."ujar Bram.
"Kenapa emangnya, mas?"tanyanya.
"Hari ini banyak pertemuan dengan para klien. Begitupun dengan malam nanti."jawab Bram.
"Jangan menungguku! Makanlah saat jam makan tiba."ucap Bram berpesan.
"Baik, mas."jawab Luna dengan perasaan kecewa.
"Tidak apa-apa, 'kan?"tanya Bram pura-pura perhatian.
"Tidak apa-apa, mas. Semoga kerjanya hari ini lancar."jawab Luna.
"Amin. Terimakasih."balas Bram.
Meletakkan sendok makannya, Bram berkata, "Saya berangkat dulu, ya. Hati-hati di rumah."
"Jika ada apa-apa, hubungi saja."sambung Bram berpesan.
"Dan, jaga calon anak kita baik-baik."lanjutnya memaksakan tersenyum.
"Pasti, mas. Hati-hati di jalan, ya."
"Siap."jawabnya Bram bangkit dari duduknya.
Mencium kening Luna sebentar, agar sandiwaranya tidak ketahuan. Pura-pura baik, agar Luna tidak curiga padanya.
Pergi dari rumah, Bram mengendarai kencang mobilnya ke tempat tujuan. Berharap, semoga aja Khanza masih ada di sana.
***
Di pemakaman. Ketegangan terjadi,......
"Apa karena ini kamu menghindar dan bahkan tidak memasak untukku?"
Suara serak nan dalam seorang pria yang sangat dikenali Khanza terdengar dibelakangnya. Masih diam, Khanza ingin mendengar kata-kata apalagi yang akan diucapkan.
"Apa kamu masih marah?"
"Apa penjelasanku kemarin tidak kamu dengar dengan baik?"tanya Bram bertubi.
"Jawab, dan jelaskan padaku?!"perintah Bram tegas sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Pandangan lurus ke depan dengan rahang yang sedikit mengeras, membuat Khanza takut setelah tadi sempat melirik Bram sekilas.
"Khanza?"panggil Bram.
"Mas?"balas Khanza menoleh.
"Bicaralah padaku!"perintah Bram sedikit dingin.
"Jujur, Khanza masih kecewa."
"Khanza gak terima dengan perbuatan poligami ini, mas."jawabnya sedikit bergetar.
"Khanza,- ?"
"Tolong jangan paksa Khanza untuk bisa langsung menerima kenyataan ini, mas. Khanza gak bisa!"ucap Khanza memotong ucapan Bram.
Mata elang Bram seketika mengarah pada Khanza yang masih bersimpuh di depan makam ibunya.
"Khanza!"
***
Bersambung,....