Bab 1

-------

”Di sebuah bar/ tempat hiburan malam”

”Yahhh.. hhh hhh... tuann hhhhh luar biasa...” racau seorang wanita yang sedang berada di dalam ruangan/ kamar VIP.

Splassshhh splassshhhh... suara cambukan demi cambukan menggema memenuhi ruangan/ kamar VIP tersebut.

Seorang wanita yang bertubuh seksi sedang terkapar tanpa busana. Dengan tubuhnya dipenuhi luka-luka memar, bahkan ada yang mengeluarkan darah. Dilehernya terpasang tali yang menyambung panjang, seperti kalung anjing.

Si wanita kemudian merangkak ke sisi kasur, seperti seekor binatang kelaparan.

"Apa yang kau inginkan!" ujar si pria dengan sorot mata yang sangat membunuh.

”Aku ingin ini tuan..” ujar si wanita sambil menepuk-nepuk benda keramat milik kebanggaan si pria.

"Jalang!!" bentak si pria, lalu...

Bughh... si pria meninju wajah cantik si wanita, hingga mengeluarkan sedikit darah segar dari pinggir bibir si wanita.

Ahkk... lenguh si wanita, sambil ia menyentuh bekas tinjuan si pria.

"Tubuh jalangmu itu tidak pantas untuk bersetubuh denganku! kau bahkan lebih pantas berhubungan dengan binatang saja!" bentak si pria, yang kemudian beranjak dari atas kasur tempat ia sedang duduk.

"Kalian! bereskan jalang ini!" titah si pria pada beberapa pria bertubuh tinggi tegap.

”Baik tuan muda...” jawab para pria tersebut, kemudian menyeret kasar tubuh si wanita malang tersebut.

Arghhkk lepaskan!! lepaskan aku!! kau sungguh pria biadab!! ahhkk... jerit si wanita histeris. Namun si pria hanya berdiri menghadap jendela, dengan gaya super angkuhnya.

Hahh...

"dasar wanita jalang murahan! aku bahkan tak berselera bermain seks dengan jalang seperti itu!" ujar si pria angkuh tersebut.

Setelah beberapa saat kemudian...

”Tuan Hogue, kami telah membuang wanita itu ke jurang”. Tukas para pria yang ialah pengawal pribadinya.

"Tolol!! mengapa kalian buang ke jurang!! cepat bakar dia! ambil tubuhnya!! benar-benar tolol!" bentak si pria yang bernama Hogue tersebut.

Plakkk plakkk plakk... ia menampar ketiga pengawalnya dengan sekeras mungkin.

”Ampun tuan.. kkkaami akan laksanakan.” Para pengawalnya pun bergegas pergi menuju jurang tempat mereka membuat tubuh si wanita tadi.

Pria yang bernama Hogue itu pun langsung bergegas keluar dari dalam kamar VIP.

Berjalan dengan angkuh, juga dingin. Ia tak pernah peduli dengan orang lain, ia hanya peduli dengan kepuasannya sendiri.

Hogoue Matthe, berusia tiga puluh tahun. Bertubuh tinggi tegap/ proporsional - memiliki kekuasaan (kaya raya) - tampan.

Tak hanya bergelimang harta, ia juga sangat tampan. Dengan kekayaannya, didukung pula dengan wajah nan tampan, juga bentuk tubuh yang sangat mampu menggoda para wanita. Sangat mudah baginya untuk bercinta dengan wanita mana pun yang ia inginkan.

Tak hanya itu, ia juga merupakan pria yang sangat cerdas dalam akademis, juga dalam hal bisnis. Ia menjalankan bisnis keluarga dengan cukup sukses. Di antaranya ialah, dalam perhotelan, hiburan malam, dan masih banyak lagi bisnis keluarga yang ia miliki.

Namun hingga usia di tiga puluh tahun kini, Hogue Matthe belum menikah. Ia bahkan cukup sulit menemukan pasangan yang ideal dengannya. Sudah berbagai cara dilakukan kedua orang tuanya, namun Hogue enggan untuk menerimanya.

Sesuatu hal yang cukup rahasia dalam keluarganya ialah, setiap wanita yang dijodohkan denganya selalu berakhir tragis. Menjadi depresi, gila bahkan ada wanita yang bunuh diri karenanya.

Hogue juga memiliki temperamen yang buruk. Ia tak segan-segan akan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Tak hanya membunuh, ia juga akan menyiksa hingga si lawannya memohon untuk segera mati padanya.

***

"Kediaman Matthe Family"

"Kau hanya memikirkan urusanmu sendiri, tapi kau lupa bahwa tidak selamanya kau mampu hidup sendiri! cepat cari istri sana!" bentak seorang wanita yang merupakan ibu dari tuan muda Hogue.

"Diamlah. Atau aku akan menguliti wanita-wanita yang bunda bawa kemari." Tukas Hogue sambil berjalan melewati sang bundanya.

”Kaaauuu... Hoguee...” ucap sang bunda dengan nada terbata-bata.

"Sudahlah bunda.. biarkan dia, kita tidak akan berhasil jika memaksanya seperti itu.." tukas sang ayah Hogue, sambil memijat-mijat kepalanya.

”Ayah! mengapa ayah terlalu memanjakan anak itu! lihatlah dia bahkan tidak lagi menghormati kita sebagai orang tuanya!” tukas sang bunda dengan penuh emosional.

"Selama ini kita selalu menuntutnya untuk hidup sukses. Sekarang dia sangat sukses, bahkan mampu membeli wanita mana pun, namun belum memiliki istri.." tukas sang ayahnya dengan wajah yang cukup setres menghadapi kelakuan Hogue.

”Ayah, sudah berapa banyak wanita yang kita jodohkan dengannya, namun tak satu pun yang berhasil.. kelak, akan sulit menemukan pewaris keluarga Matthe.”

"Iya bunda, beri dia waktu.."

Kedua orang tuanya selalu berupaya untuk menjodohkan Hogue dengan begitu banyak pilihan. Namun tak satu pun yang menarik baginya.

Terakhir ialah wanita yang ia cmbuk di sebuah kamar VIP, tepatnya di dalam sebuah bar/ hiburan malam.

Wanita tersebut ialah hasil perjodohan dari kedua orang tuanya, namun justru berakhir tragis dan mengenaskan.

Haarrgg ahhkkk.... Hogue mengerang sambil melakukan onani di dalam kamar mandi pribadinya.

Hahh hahhh hhh... napasnya tersengal setelah melakukan kegiatan onaninya.

Meraih ponsel, dan melakukan panggilan.

"Besok malam bawa wanita perawan ke kamar apartemenku di ****." Ujar Hogue saat melakukan panggilan, kemudian mengakhiri panggilannya.

****

Bab 2

Hogue yang begitu dingin dan tidak pernah peduli dengan orang sekitarnya, termasuk itu kedua orang tuanya sendiri. Ia sangat tertutup dan tak suka berbagi pengalaman hidup dengan siapa pun itu.

"Bar/ hiburan malam"

Di sebuah bar, sama seperti biasanya Hogue selalu mencari kepuasannya di sana. Namun bukan kepuasaan akan hubungan seks, melainkan...

Tepatnya di dalam sebuah kamar VIP.

Ahkk.. hakkhh... hhh... lenguh seorang gadis muda.

Gadis itu tak berbusana, dan sedang mengangkang menghadap Hogur yang sedang duduk di atas kasur king size.

"Tuan Hogue... kapan tuan akan menusukku dengan batang milik tuan.. aku tidak sanggup menggunakan alat ini.." lirih si wanita yang sedang horni berat.

Yah, Hogue memerintahkan gadis belia itu untuk menggunakan alat bantu seks.

"Siapa yang memintamu untuk berhenti hah!" bentaknya, membuat si gadis belia meringuk ketakutan.

Ahkk akkhh... ringis si gadis belia, saat Hogue mulai mencambuk-cambuk tubuhnya dengan ikat pinggang miliknya.

"Cepat!! lakukan itu jalang!!" bentak Hogue, samba ia terus menyodorkan vibrator ke dalam liang milik si gadis.

"Ahkk.. tuannn hhh... tapi aku tidak bisa terus-terusan menggunakan alat ini.." lirih si gadis dengah berderaian air mata, juga salivanya yang kian menetes membasahani tubuhnya.

"Gunakan ini!!" Hogue melemparkan sebuah benda yang terbuat dari bahan karet, dan berbentuk seperti batang milik pria.

"Mengangkang!! lebih lebar lagi.." titah mutlak Hogue membuat si gadis bergidik ngeri.

Argkk mmmhhmm... si gadis melenguh, ia sedang berusaha memasukkan benda tadi ke dalam liang miliknya.

"Kau terlalu lamban!!" ujar Hogue.

Hogue pun merampas benda berbentuk penis itu dari genggaman si gadis.

Hakkk hhh hhh... si gadis terlihat sangat menderita dan kesakitan.

Hogue menghujam benda tersebut (alat bantu seks) ke dalam liang milik si gadis. Si gadis terus melenguh kesakitan. Karena hal itu sangat sakit baginya.

Hingga akhirnya, keperawanannya pun tembus menggunakan alat bantu seks tersebut. Tetesan darah perawannya mengalir dari dalam liang miliknya.

"Sekarang lakukan sendiri.." titah Hogue agar si gadis memaju mundurkan alat tersebut sendiri, tanpa bantuannya lagi. Karena ia hanya membantu untuk menembus keperawanannya saja.

Kegiatan melelahkan itu sudah berlangsung cukup lama, kurang lebih hampir tiga jam full. Si gadis tak di ijinkan untuk mengentikan kegiatannya.

Sementara Hogue tersenyum miring melihat keadaan si gadis malang.

Hahhh hhh ahkk hh..

Suara desahan rasa sakit nan nikmat, kini memenuhi ruangan VIP tersebut.

Sepertinya Hogue cukup puas dengan apa yang sedang ia saksikan. Namun ia enggan untuk menggunakan benda kebanggaannya, melainkan menggunakan alat bantu seks.

Peluh si gadis sudah kian bercucuran membasahi lantai ruangan VIP.

Yah, si gadis hanya terlentang di atas lantai tak beralas.

Akhirnya si gadis sudah benar-benar kelelahan, dan berbaring sejenak, hanya untuk mengambil napasnya. Namun...

Bugh.. sebuah tendangan keras mengenai area perutnya, hingga membuat si gadis melenguh parau. Air matanya kian menetes merasakan sakit yang teramat sangat.

"siapa yang memerintahkanmu untuk berhenti! lakukan itu!!" bentak Hogue dengan sorot mata yang sangat tajam.

"Tuan aku lelah..." lirih si gadis.

"Tolol!!" umpat Hogue, dan kemudian...

Bughh bughh.... tendangan lebih keras mengenai pungung, paha si gadis malang tersebut.

Arghkk hakk hhh... si gadis bahkan tak mampu bersuara, ini sangat sakit dan sakit..

"Kau sudah kubayar dengan harga yang mahal! jadi jangan membantah!!" sorot mata Hogue sangat menakutkan, tak ada belas kasihan di sana, dan yang ada hanyalah aura kekejamannya.

"Kalian bereskan jalang ini!" titah mutlak Hogue pada para pengawalnya. Para pengawalnya sedari tadi turut menyaksikan adegan panas nan sadis yang telah Hogue lakukan pada gadis malang tersebut. Mereka hanya dapat menuruti apa yang diperintahkan sang tuan.

Apa yang harus kami lakukan tuan? ujar salah seorang pengawalnya.

"Terserah kalian saja, yang pasti aku sudah tak membutuhkannya.." Hogue pun meninggalkannya.

"Tuan.. tuan..." lirih si gadis sambil berusaha hendak mengejar langkah Hogue. Namun sekitar empat bahkan lima pengawal pribadi Hogue menahan si gadis.

"Lepaskan! lepaskan!" lenguh si gadis.

Plakk plakk... tamparan keras menghantam wajah cantik si gadis.

"Mari kita nikmati tubuhnya.." ujar para pengawal tersebut, sambil mengeluarkan batang mereka yang berukuran cukup besar dan mengoyakan milik si gadis.

"Tidak tidakkk...." jerit si gadis.

Hakkh ahhh hhh... desahan dan lenguhan kini memenuhi ruangan VIP tersebut.

Si gadis digilir secara bergantian. Ia sangat tersiksa, dan liang miliknya benar-benar di obok habis-habisan oleh para pengawal kekar, tinggi tersebut.

Kedua tangannya diikatkan di sisi ranjang, sementara kakinya bebas. Namun para pengawal tersebut menggilirnya dengan sangat kejam.

Dari liang miliknya, mulut, bahkan anusnya pun penuh dengan batang berukuran big size milik para pengawal.

Tubuhnya sudah sangat kelelahan, bahkan berkali-kali ia sudah mencapai batas klimaksnya. Namun tetap saja ia digempur habis-habisan.

"Kita bereskan..." tukas salah seorang pengawal.

"Jangan, bawa saja dia ke markas, dan untuk beberapa hari ke depan dia akan memuaskan kita.." tukas pengawal lainnya lagi, dengan senyuman mesum mereka.

"Tidakkk tidakkk ahhhhh...." si gadis bahkan sudah tak mampu lagi bersuara, ia sangat kelelahan dan dehidrasi.

***

"Apartemen kediaman Hogue"

Berdiri dengan gaya angkuhnya, dan menatap pemandangan malam, dari lantai 30 tiga puluh apartemen mewah miliknya. Sembari menyeruput kopi hitam, sebagai teman sepinya.

Tatapan Hogue dipenuhi dengan rasa kesepian, ia terkadang bosan dengan kehidupannya. Tak ada hal yang membuatnya tertarik hingga begitu lebihnya.

Drrttttt...ponsel milik Hogue sedari tadi terus bergetar dan berdering.

"Hallo.."

"Hogue, besok bisakah kau menjemput Leeri dari sekolahnya?" ujar suara yang berasal dari lawan bicaranya.

"baiklah.. aku akan membawanya ke kediaman ayah dan bunda.."

"baiklah.. terimakasih atas kesedianmu.." dan panggilan pun berakhir.

Keesokan harinya...

***

"Sekolah Taman Kanak-kanak xx"

Hogue berjalan menyusuri perumahan tempat letaknya sekolah taman kanak-kanak. Ia datang dengan tujuan, ingin menjemput anak dari saudara laki-lakinya (keponakan)

Ia mengenakan pakaian yang santai, dan bahkan tidak membawa mobil sport mewah miliknya. Karena ia tak ingin menjadi pusat perhatian, terlebih lagi ia sedang menjemput seorang anak kecil.

Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arahnya, dengan senyuman tulus.

"Paman... paman.." ujar seorang anak kecil tampan, berlari kecil ke arahnya.

Hogue tersenyum, dan kali ini ia terlihat berbeda. Namun...

Seorang wanita muda langsung mendekap anak kecil yang sedang berlari ke arahnya. Wanita itu mendekap si anak kecil tadi, dan menatap tajam pada Hogue.

"Maaf tuan, aku tidak bisa mengijinkan sembarangan orang memasuki halaman sekolah ini" tukas si wanita tadi, dan si anak kecil itu pun berbalik mendekap leher si wanita. Si wanita berjongkok sambil terus mendekap erat di anak kecil tampan.

Hogue terlihat tak senang dengan tindakan si wanita tadi. Ia menatap si wanita dan berjongkok pula.

"Apakah sungguh urusanmu jika aku datang kemari untuk menjemput keponakanku.." tukas Hogue tanpa ekspresi dan sangat datar pula.

"Paman dathang untuk menjemputku.." ujar si anak kecil dengan gaya bahasanya yang ckup mudah dipahami.

Si wanita terkejut, karena si pria yang ia curigai tadi adalah paman dari si anak kecil yang sedang ia peluk.

"ibu guru, aku pulang.. bye bye.." ujar si anak kecil menggemaskan tadi.

Leeri Matthe

"Ohh.. yah.. sampai jumpa besok.." si wanita tadi tersenyum malu, namun ia tetap mempertahankan harga dirinya, ia tetap bersikap tenang.

Tsk... Hogue berdecik dengan tatapan dari atas hingga bawah, ia menatap si wanita.

>>

"Bagaimana mungkin aku mengatakan hal yang tidak sopan pada paman Leeri.." batin si wanita. ia berjalan kembali ke dalam ruangan kantor guru.

Ellena Casey - bertubuh mungil dengan tinggi hanya 160 seratus enam puluh. Berkulit putih - bermata sipit - beralis tebal - rambut hitam panjang - cantik/anggun - ramah/sopan.

Ellena Casey, biasa dipanggil Ellena/ Ell, berusia 21 dua puluh satu tahun.

Ia ialah seorang guru taman kanak-kanak yang cukup disenangi oleh para murid-muridnya. Tak hanya itu, ia juga bekerja paruh waktu sebagai seorang penjual bunga. Dari pagi menjadi guru, siang menjelang sore bahkan larut malam, ia menjadi penjual bunga.

Semua kerja keras ia lakukan demi menghidupi dirinya, juga ayahnya yang kerap kali meminta uang darinya.

Ibunya sudah meninggal beberapa tahun lalu, disebabkan karena kecelakaan mobil. Sejak saat itu, sang ayahnya pun menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak terbilang tua/muda (sedang).

Sang ayahnya adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Sementara ibu tirinya suka menghambur-hamburkan uang, sehingga untuk saat ini bisnis sang ayahnya sedang mengalami goncangan berat. Saat menikah dengan ayahnya, wanita yang kini menjadi ibunya tidak dikaruniakan anak.

Namun, sebelum emnikah dengan ayahnya, wanita itu juga pernah menikah dan memiliki satu orang anak laki-laki yang cukup tampan.

Ellena kini tidak tinggal bersama ayahnya, namun ia tinggal bersama neneknya yang sudah renta. Toko bunga itu ialah milik sang nenek, dan Ellenalah yang harus mengelolanya dengan baik.

"Toko bunga xx"

Baru saja tiba dari sekolah, ia harus langsung membuka toko bunganya, dan ia pun bekerja sendiri.

Sangat lelah, hal itu sudah tergambar dari raut wajah Ell. Namun ia harus melakukan pekerjaan itu demi keluarganya.

Ia telah menyelesaikan pendidikan strata satunya denganw waktu yang tidak terbilang lama. Ell adalah wanita yang cukup tangguh, ia cerdas dan cepat beradaptasi dengan lingkungannya.

Hingga suatu saat...

****

Bab 3

Ellena melakukan segala kesibukannya seperti biasa. Ia pagi-pagi pergi mengajar di taman kanak-kanak, lalu sejak siang ia membuka toko bunga miliknya.

--------

"Toko bunga xx"

"Permisi nona.. apakah nona pemilik toko ini?" ujar seorang pria bertubuh tinggi tegap nan tampan.

"Ahh iya, betul tuan. Apa ada yang bisa dibantu?" jawab Ell dengan senyuman manisnya.

"Aku ingin mencari jenis bunga yang cocok untuk ibuku.." ujar si pria tampan tadi.

Ell mulai menyusuri segala jenis bunga, dan ia pun meraih setangkai bunga.

"Ini bagus untuk wanita.." Ell menyodorkannya pada si pria.

Hmm... "cukup bagus.. baik, aku ingin ini di tata rapi.." si pria tampan itu menyodorkan beberapa tangkai bunga lainnya pada Ell.

Setelah membeli seikat bunga, si pria pun bergegas pergi dengan mengendarai motor sport miliknya.

>>

"Kediaman Ellena"

Kediamannya bersama sang nenek tak jauh dari toko bunga yang ia kelola.

"Bagaimana pekerjaanmu?" ujar sang neneknya pada Ell yang baru selesai mengeringkan rambutnya.

"Hari ini cukup lancar, dan aku bertemu pembeli yang tampan.." ujar Ell dengan tersenyum.

"Apakah kau sudah menemukan kekasih?" ujar neneknya menggoda.

"Tidak nek, aku belum menemukannya.. lagi pula, apa istimewanya memiliki hubungan.." ujar Ell dengan terkekeh.

Hmm... "nenek yakin kamu akan mendapatkan pria yang baik.." sang neneknya membelai lembut rambut Ell.

"Terimakasih nek, aku akan bekerja keras untuk keluarga ini dan memiliki suami kaya.." Ell mendekap sang neneknya dengan penuh kasih.

***

"Taman kanak-kanak"

Seperti biasanya, Ell disibukan dengan dunia anak-anak. Ia harus selalu tersenyum ramah, sopan, berlaku lembut pada setiap anak didiknya. Sehingga Elle menjadi ibu guru idola para murid, juga tak jarang papa-papa muda pun tertarik pada Ell.

Beruntung, Ell bukanlah wanita yang gila harta dan menghalalkan segala cara demi uang. Ia lebih baik berupaya keras, asalkan semua hasil keringatnya sendiri.

"Ibu gurhuu..." ujar seorang anak laki-laki tampan berlari kecil ke arah Ell.

"Ohh hai Leeri..." ujar Ell menyapa si anak tampan tadi, yang ialah Leeri, anak saudara laki-laki Hogue.

"ibu gurrhuu sangat cantik haryii ini.." ujar Leeri kecil yang masih sedikit terbata dalam tata bahasanya.

"Terimakasih Leeri.. kau juga anak yang tampan.." Ell mengusap lembut kepala Leeri.

"Permisi bu guru.." tukas seseorang disela percakapan kecil antara Ell dan Leeri kecil.

"Iya tuan.." Ell mendongak, dan pria itu adalah ayah Leeri.

"Aku ingin meminta bantuanmu agar bersedia mengantarkan Leeri pulang ke rumah orang tuaku siang ini.." ujar si pria/ ayah Leeri kecil.

"Ohh baiklah tuan Ghand.."

Tuan Ghand Matthe, ayah dari Leeri Matthe.

"Pantas saja anaknya tampan, sedangkan ayahnya pun tampan begini.." batin Ell.

>>

Ell merapikan barang-barangnya, dan bergegas menjemput Leeri dari taman bermain. Namun Leeri terlihat sedang duduk manis menantinya di depan ruang kantor guru.

"Leeri.." Ell langsung menggenggam tangan Leeri dan menuntunnya untuk pergi bersama.

Mereka pun pergi menuju alamat yang telah tuan Gand berikan padanya, dengan menggunakan transportsi umum/ taksi.

***

"Kediaman Matthe family"

Rumah yang sangat megah, mewah, tepatnya ini adalah mansion.

"Ibu gurrhu, ini adalah rumah oma dan opaku.." ujar Leeri kecil.

"Oke, kita masuk.." Ell menggenggam terus tangan kecil Leeri, hingga tiba di depan pintu utama.

"Selamat datang tuan muda Leeri.." sapa beberapa pelayan sambil menunduk memberikan hormat.

"Apakah rumah orang kaya memang seperti ini.." batin Ell. Ia masih terkagum dengan design mewah mansion kediaman keluarga Matthe.

"Nona silakan ke halaman samping, di sana ada tuan Hogur yang akan menemani tuan muda Leeri.." ujar salah seorang pelayan rumah.

Ell pun bergegas menuju halaman samping bersama Leeri kecil.

"Paman.. aku datang..." ujar Leeri kecil, ia berlari dan mendekap sang paman dengan manjanya.

"Kau sudah pulang jagoan kecil.." ujar Hogue sambil mendekap Leeri dengan penuh kasih sayang.

Sementara itu Ell pu n berbalik badan, hendak pergi.

"Siapa yang memintamu pergi!" tukas Hogue, menghentikan niat Ell untuk bergegas keluar.

Ia berbalik, masih dengan raut wajah cueknya.

Ell menarik napas perlahan, karena ia mulai mengerti bagaimana angkuhnya pria yang saat ini berdiri dihadapannya.

"Maaf tuan aku pamit, karena tanggung jawabku hanya untuk memastikan Leeri pulang dengan aman.."

"Apakah kau seorang guru?" ujar Hogue sinis.

Ell berpikir sejenak dan berkata "ya tuan, aku adalah guru Leeri.." ujarnya dengan mantap dan merasa bangga akan profesinya.

"Kau tidak cukup baik saat kesan pertama. Jika aku jadi kau, maka aku akan mencari pekerjaan yang tepat dan tidak sepantasnya seorang pendidik yang tidak pandai menilai seseorang.." tukas Hogue.

Meski Ell masih bingung dengan pernyataan Hogue, namun ia merasa bahwa Hogue sedang menyinggungnya.

"apakah tuan sudah cukup merendahkanku, jika sudah maka bolehkah aku pergi!" tukas Ell dengan wajah yang sudah terlihat kesal pada semua pernyataan pedas dari mulut Hogue.

Hogue hanya menatap Ell dengan sorot mata yang begitu tajam. Lalu berbalik seolah tidak mempedulikan apa yang Ell katakan.

"Apa yang terjadi di sin?" tukas tuan Ghand, ayah dari Leeri.

"papi..." ujar Leeri langsung berlari ke arah sang ayah tampannya.

Tuan Ghand... ujar Ell sambil tersenyum.

"Terimakasih bu guru Ellena, apakah perlu diantar?"

Tidak, terimakasih tuan...

Hogue hanya berdiri dengan gaya angkuhnya, sementara Ell langsung pergi dari kediaman Mathhe family.

>>

"Sepertinya kau menyukai guru itu.." ujar Hogue sambil bersandar di tembok.

"Apa yang kau bicarakan.." Ghand hanya menggelengkan kepalanya.

Bagiaman bisa Hogue memberikan pernyataan demikian padanya, pikirnya.

"Mengapa kau berkata-kata hal yang kurang sopan pada guru keponakanmu sendiri?"

Tsk.. tersenyum miring. "aku hanya mengatakan yang sebenarnya, itulah kenyataannya. Aku bukan tipe yang suka bermulut manis munafik!" Hogue pun pergi dari hadapan Ghand.

Hmm.. Ghand mendengus pelan, seakan mengatakan untuk sabar pada dirinya sendiri, atas perlakuan kurang sopan sang adik.

Ghand Matthe

***

Berjalan menyusuri area taman bermain umum. Ell terlihat sedang suntuk, dan ingin sedikit menghibur dirinya sendiri.

"hei hei.." ujar seseorang dari arah tempat latihan basket umum.

Seketika Ell melihat seekor anak anj*ng sedang berjalan mengendus-endu jalanan. Sepertinya anak anj*ng tersebut biasa berada di dalam rumah, pikirnya.

Namun tiba-tiba saja sebuah truk melintas dan sisa beberapa meter saja, maka anak anj*ng lucu tadi akan

tertabrak.

Dengan sigap Ell langsung menangkap anak anji*g tadi, namun karena terburu-buru. Ell pun terperosok ke dalam parit kering, menyebabkan luka pada bagian lutut, juga sikunya.

Ahkk.. lenguh Ell, sambil menahan rasa sakit.

"Nona... nona tidak apa-apa?" seorang pria langsung meraih tangan Ell, membantu Ell untuk beranjak dari dalam parit kering tersebut.

"terimakasih telah menyelamatkan anak anj*ngku.." ujar si pria, rupanya seorang pria tampan dengan kaos dalam, yang cukup memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya.

Ell tersenyum, tanda ia baik-baik saja. "Iya tuan.." ujar Ell. Keduanya saling tatap sejenak, dan saling mengingat.

"Kau... kau..-" ucap keduanya secara bersamaan.

"Kau nona yang menjual bunga saat itu!" ujar si pria.

"Iya tuan.." Ell tersenyum lembut.

>>>

Si pria pun membawa Ell pergi menuju sebuah café terdekat, dan saling berbincang-bincang di sana.

"Bolehkah aku mengajakmu makan bersama, sebagai tanda maafku atas luka-luka itu.." ujar si pria.

"Tidak perlu tuan," ujar Ell tersipu, karena pria yang kini dihadapannya cukup tampan.

Si pria tersenyum sambil memangku anak anj*ng kesayangannya. "Ini sudah hampir menjelang malam, jadi makanlah bersamaku.." ujarnya.

Ell tersenyum lembut, "baik tuan, terimakasih"

"Nona, perkenalkan.. aku Christo, siapa nama nona.." si pria yang bersama Christo menyodorkan tangannya, hendak mengajak Ell bersalaman.

Ell pun menyambut tangannya, "namaku Ellena Casey, panggil saja Ellena atau Ell".

"Ohh baiklah nona Ellena..." keduanya pun menyeruput segelas soft drink, juga mulai menyantap makanan mereka.

Christo Farker/ Chris

***

"Kediaman Ellena"

Membersihkan diri, dan duduk sambil mengeringkan rambut basahnya dengan menggunakan handuk.

Tersenyum, tersipu, tatkala mengingat sosok Christo.

Cih.. "Ada apa denganku, bagaimana mungkin aku berpikir lebih hanya karena ia mengingatku dan mengajakku makan.." tsk.. gumam Ell, ia tersipu-sipu sedari pulang kembali. Bahkan pulang pun ia di antar dengan motor sport milik kepunyaan Christo.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED