Bab 1

Legenda pesugihan dari laut selatan pulau Jawa yang selama ini dianggap dongeng sebelum tidur oleh sebagian orang. Nyi ratu “Blorong“, sosok siluman ratu ular sebagai simbol kekayaan, sejauh ini sang ratu hanya dianggap mitos yang sangat kental dengan dunia mistis.

Faktanya ia ada dengan jati dirinya yang tak kasat mata dan tetap setia sampai detik ini dengan para sekutunya. Inilah kenyataan yang ada dan tak disadari sepenuhnya oleh manusia di kehidupan masyarakat milenial.

Sebenarnya para pengikut sang ratu sebagian kecil masih tetap ada di sekeliling lingkungan kita tanpa ada yang tahu. Inilah salah satu kisahnya dari banyak cerita Nyi Ratu Blorong, kisah ini berasal dari teman saya sendiri yang pernah mengalaminya.

Peristiwa ini terjadi di era akhir tahun1997 – 1999, saat krisis moneter melanda di negeri ini. Nilai rupiah terpuruk, diperberat dengan kejatuhan ekonomi di negeri kita tercinta.

Keadaan ini memaksa sebagian pengusaha terpaksa menutup usahanya sebelum menanggung kerugian yang lebih dahsyat lagi. Akibat tutupnya sebagian besar industri dan pabrik menyebabkan PHK masal mulai meraja lela.

Otomatis pengangguran meningkat dengan cepat begitu juga index kemiskinan serta kemelaratan ikut melesat tak terkendali. Hanya sebagian kecil pemegang dolar yang aman dan untung serta nyaman di kursi bisnisnya, tapi tidak untuk masyarakat pemegang rupiah.

Lokasi kejadian kali ini berada di Provinsi Jawa Timur, tepatnya dari kabupaten ****. Disaat kebanyakan pabrik tutup, para buruh banyak dirumahkan alias PHK.

Nasib pemutusan hubungan kerja sepihak itu juga dialami Udin dan Sarji, karena mereka berdua juga buruh pabrik yang terkena imbas dari krisis ekonomi moneter.

Gelar pengangguran baru yang tersemat dalam diri mereka ini juga memaksa mereka jatuh kedalam jurang kemiskinan akut dalam waktu singkat. Mereka harus memeras otak untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarganya.

Ditempat asalnya, Udin hanya mempunyai sepetak tanah dengan rumah sederhana di atasnya, sedangkan semua anggota keluarga menggantungkan hidup kepadanya. Udin mempunyai satu istri dan tiga orang anak yang masih kecil-kecil, sedang mertua dan kedua orang tuanya sudah tiada lagi.

Tiap hari Udin sibuk mencari pekerjaan, pekerjaan apa saja siap dia lakukan, tapi keadaan waktu itu sungguh tidak memungkinkan. Kesana-kemari tanpa hasil yang jelas, hingga akhirnya ia disibukkan untuk mencari pinjaman sebagai penutup kebutuhan sehari – hari.

Mulai bank harian, mingguan dan bulanan pun lengkap ia koleksi. Dari lintah darat sampai lintah laut ia pun selami untuk berutang, nasib baik memang tak lagi berpihak kepada udin. Tapi ia masih mempunyai keyakinan untuk berusaha untuk bekerja secara wajar.

Udin ini kebetulan bertetangga dengan Sarji, tepatnya rumah udin saling membelakangi satu sama lain. Kebun berukuran lebar enam meter yang memanjang sebagai batas rumah mereka, dibelakang rumah ini mereka juga sering bertemu dan berkumpul.

Mereka berdua dulunya memang berteman sejak kecil hingga sampai sekarang berkeluarga. Di belakang rumah, ada sebuah pohon keres yang lumayan besar dengan daun yang sangat rindang, dibawahnya terdapat tempat duduk dari kayu seadanya.

Kursi kayu di bawah pohon ini mereka gunakan sebagai ajang kumpul-kumpul sesama mantan buruh pabrik. Mereka berkumpul untuk membahas pekerjaan dan peluang usaha yang mungkin masih bisa diraih, tapi tidak dengan Sarji.

Kehidupan Sarji sebenarnya tak berbeda jauh dengan kondisi ekonomi dengan udin. Mentalitas sarji setelah terkena PHK besar-besaran malah turun drastis, mulai bermalas-malasan, suka foya-foya dan mengandalkan harta dari orang tua.

Sarji seakan lupa dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Dia terus melakukan kebiasan buruk itu tanpa memikirkan masa depannya. Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, seketika harta kedua orang tuanya mulai menipis semua berubah.

Uang pensiunan kedua orang tuanya lama kelamaan juga tak mampu menyokong gaya hidup Sarji, sampai akhirnya hartanya habis juga. Kedua orang tua Sarji masih menyisakan sebidang tanah dan rumah yang ia tempati, sedangkan untuk uang sudah tak lagi.

Sarji setiap harinya hanya berhutang dan utang, semakin lama utang sarji semakin menumpuk melebihi utang Udin.

Setiap hari, kegiatan Sarji hanya main ke warung, makan, rokok, kopi dan mencatatkan utang-utang baru di buku Bon.

Sedang istrinya di rumah belum dikaruniai buah hati juga berpangku tangan. Selain ke warung Sarji juga hobby berjudi togel, dari kebiasaan inilah pundi-pundi kemelaratan mulai bertambah parah kepada keluarga Sarji.

Kehidupan Sarji semakin hari semakin melarat, hidup tidak tenang karena terus dikejar utang dan utang. Dia sudah tidak bisa berfikir lagi, apa yang harus dilakukan untuk keluar dari kubangan utang. Semakin hari, utang semakin menumpuk karena bunga-bunganya.

Desember 1997, di siang hari yang sangat terik, Udin dan Sarji sedang duduk-duduk di warung langganannya sekedar mencari hiburan. Saat mereka sedang asyik ngobrol tak karuan, sebuah mobil kinclong datang dan parkir di depan warung.

Udin terus memperhatikan mobil tersebut, tak lama kemudian keluar seorang pria yang wajahnya tidak asing di mata Udin dan Sarji. Pria itu berjalan menuju warung dan langsung menghampiri mereka,

Sekian detik ia mengamati wajah sosok yang baru datang ternyata adalah temannya satu pabrik dulu. Sebut saja namanya Ronald, kawan akrab di pabrik yang berasal dari kota sebelah. Saat itu, warung lagi sepi pengunjung dan hanya ada mereka bertiga.

Maklum jam segitu waktunya orang kerja bukan malah bermalas-malasan. Udin mempersilahkan Ronald untuk duduk bergabung, berkumpulah tiga teman akrab yang sekian lama tidak ketemu.

“Whoi...dari mana kamu Nald, tak kira siapa?” tanya Udin penasaran.

“Dari hotel mau cari kopi disini din?” jawab Ronald dengan senyuman tipis.

“Gaya kamu kayak orang paling tajir sekarang Nald?” celetuk sarji

q“Loooh belum tahu? Biasa Ji, horang kaya,” jawab Ronald sambil menggoda Sarji

Obrolan santai dan akrab terus berlanjut, semakin lama semakin seru. Satu persatu saling cerita tentang kehidupan masing-masing lengkap dengan masalah yang dihadapi.

Bumbu hidup satu dengan yang lain memang beda, tapi permasalahan Udin dan Sarji hampir sama. Mereka berdua berkeluh kesah akan keadaannya sekarang kepada Ronald, tapi Ronald belum merespons keluh kesahnya karena masih asyik ngobrol tentang nostalgia mereka selama ini.

Selain itu, Ronald yang sekarang sudah berubah drastis, banyak pikiran yang harus dicurahkan untuk urusan bisnisnya. Sekian lama mereka bicara ngelantur kesana kemari dan berkhayal tidak jelas, akhirnya Ronald mulai iba kepada mereka berdua dan memulai pembicaraan serius…

“Eh... kalian mau utang kalian lunas dan bisa kaya kayak aku gak?” Tawar Ronald dengan tatapan matanya yang tajam kepada Sarji dan Udin.

“Jangan ngelindur Nald, kau ini kaya kan karena harta dari orang tua kamu kan?” Bantah Sarji dengan sedikit mengejek.

“Enggak gobl*k, aku bisa seperti ini karena kerja keras dan banting tulang. Tapi.... ada juga yang bantu. Dukun andalanku!!!” Tegas Ronald

“Kok bisa Nald, lha dukunnya juga kaya ta…?” Ejek Udin yang tak mempercayai perkataan Ronald dengan senyumnya yang sinis.

“Matamu Din, beneran aku ini,” bentak Ronald, tapi kemudian ia langsung tersenyum.

“Ayok Nald, aku juga pengen kayak kamu. Gak usah dihiraukan orang satu itu,” sahut Sarji serius yang mulai tertarik dengan ajakan Ronald.

“Ya udah, besok jam 10 pagi kita kumpul disini. Aku yang jemput, gimana?” ajak Ronald dengan nada serius.

“Kamu ikut gak, Din?” Tawar Sarji serta kepalanya menoleh dengan wajah serius kepada Udin.

Seketika itu juga tatapan mata semua tertuju pada Udin, karena dari awal ia ogah-ogahan dan meremehkan Ronald. Udin hanya terdiam dan terpaku mendengar Ronald dan Sarji.

Sedang Ronald dengan rasa iba dan rasa solidaritas pertemanan ingin membuktikan serta membantu kepada kedua kawannya ini.

“Ikut sana Din, biar kamu bisa bayar utang!” Sahut ibu pemilik warung dari belakang meja

“Ogah buk, aku nguli saja,” jawab Udin tenang sambil menikmati rokok.

“Meski aku melarat banyak utang, mending kerja seadanya buk,” tegas Udin yang menyeruput kopinya.

“Eh... Orang sudah kere banyak gaya,” ejek Ronald serta tangannya meraih kaca mata hitam di belahan bajunya.

“Iya tuh mas, di mana otakmu, Din. Diajak bisnis sama temennya yang sudah sukses malah ngejek,” timpal ibu pemilik warung dengan sedikit sewot.

“Sudahlah Din, ayok kita ubah nasib kita. Kalau tidak kita yang rubah siapa lagi?” Paksa Sarji serius

“Ya mau saja Ji, tapi kalau ke dukun lebih baik aku gak ikut. Paling Ronald juga bohong Ji,” jawab udin tetap kekeuh pada pendiriannya.

“Ya wes, kalau begitu kamu temani aku saja, Din. Nanti kalau aku berhasil, kamu tak kasih bagian,” bujuk Sarji kepada Udin.

“Besok mampir ke rumahku dulu Din kalau gak percaya! Susah memang ngomong sama kamu,” ujar Ronald.

“Oke... Oke... Oke, tapi aku ikut hanya menemani Sarji saja. Maksa amat kalian,” jawab Udin yang sudah tak tahan karena paksaan dan tekanan di warung.

“Lha gitu dong Din, kamu kan teman sejatiku… Hehehehe,” sahut Sarji mulai bahagia serta tangannya menepuk pundak Udin beberapa kali.

Obrolan tiga teman lama masih terus berlanjut hingga sore hari. Mereka makan siang bersama di warung itu.

Semua makanan, minuman, rokok, kopi, kue, gorengan dan apa pun yang mereka nikmati di warung itu di bayar oleh Ronald. Udin dan Sarji dengan senang hati tidak menambahkan catatan utang di buku bon mereka.

Setelah mendapat perintah dari Ronald, Sarji lebih dahulu pergi kekamar mandi, melihat Udin yang masih santai Ronald menatap kepada Udin.

“Din mandi sekalian sana. Rumah besar ini ada tiga kamar mandi di tengah,” perintah Ronald

“Oooohhh, kirain cuma satu Nald,” jawab Udin yang lugu.

“Ehhh rumah orang kaya ini Din, cepetan mandi sana,” kata Ronald lagi.

“Nald rumahmu di dalam kok bau amis banget. Habis masak apaan?” tanya Udin

“Halah gak usah dicium Din, cepetan mandi dulu. Bawel amat kamu Din jadi orang,” Kata Ronald

Udin akhirnya menuruti perintah Ronald, dengan cepat berjalan menuju ruang tengah untuk mandi.

Ronald menunggu sambil menikmati minuman di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, mereka berdua tampak sudah selesai mandi dan kembali lagi ke ruang tamu Ronald.

“Gimana sudah siap semua,” tanya Ronald.

“Sudah nald, ayo cepetan,” jawab Sarji.

Ronald berjalan menuju garasi mobilnya yang besar, kedua temannya ikut masuk ke garasi. Ada lima mobil mewah yang berada dalam garasi Ronald, kedua teman ini hanya mengamati dan diam tertegun.

Beberapa kali Ronald mondar-mandir mengelilingi mobil-mobilnya sampai akhirnya ia memilih mobil SUV mewahnya. Ia tahu karena medan yang akan ia lalui cukup berat. Dia harus menyesuaikan mobil yang akan dipakai dengan medan yang akan di lalui.

Sore itu mereka bertiga langsung pergi dengan mobil Ronald, mobil SUV offroad mewah yang nyaman. Selama perjalanan, rumah mewah ronald masih terus terngiang dalam pikiran Sarji. Ia Sangat berambisi ingin cepat sukses seperti Ronald.

Sedang sahabat karibnya, Udin, hanya diam membisu. Dianggapnya Udin malu karena perbuatannya yang meremehkan Ronald dari kemarin.

Perjalanan panjang tanpa tahu tujuan mereka kemana. Intinya mereka sudah pasrah ikut dengan Ronald.

Arah mobil yang ditumpangi mereka bertiga menuju ke selatan Pulau Jawa. Saat di tengah perjalanan Sarji yang masih penasaran langsung bertanya kepada Ronald.

“Nald, sebenarnya ini kemana, kok lama gak sampai-sampai?” tanya sarji yang duduk di samping kemudi Ronald.

Mereka bertiga memulai perjalanan menuju lokasi yang dimaksud Ronald, Dok: pixabay

“Sudah diam saja kamu, nanti tau sendiri,” jawab Ronald yang masih serius memegang kemudi mobil.

“Kok jauh amat Nald, paling kamu bohong,” sahut Udin dari bangku tengah mobil seakan ia tahu pikiran Ronald.

“Ngawur kamu Din, aku ini beneran ingin bantu Sarji. Sudah tidur saja kamu, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan,” jawab ketus Ronald.

Mobil terus berjalan, sampai menembus kegelapan malam. Dari jalan nasional hingga jalan tak beraspal.

Beberapa jam mobil itu melewati jalan sepi di tengah hutan, dan akhirnya mobil Ronald terhenti di sebuah lereng gunung. Tepatnya gunung itu persis bersebelahan dengan laut selatan.

Setelah Ronald membuka handphone ia melihat waktu sudah menunjukkan jam satu malam.

Saat di dalam mobil yang sudah terparkir miring, Ronald membangunkan kedua temannya satu persatu.

“Whoi bangun…bangun. Sudah sampai,” kata Ronald. Dan ia segera turun terlebih dahulu dari kendaraannya.

Sambil menunggu temannya keluar, Ronald yang dari tadi jadi sopir, berjalan mondar mandir di atas kerikil lereng gunung tanpa alas kaki. Kebiasaannya sehabis mengemudi jarak jauh ialah melemaskan otot yang tegang, dan menghilangkan rasa nyeri di kaki.

Beberapa menit kemudian satu persatu temannya keluar dari mobilnya.

Ayo turun dulu, kita mandi dan makan dulu” Ajak Ronald.

“Ok Nald.” Jawab Sarji

Udin masih duduk terdiam berdecak kagum melihat rumah Ronald yang besar dan mewah dari dalam mobil. Sarji yang mengetahui hal ini langsung mengajaknya keluar.

“Ayok Din, jangan melamun saja” Kata Sarji

“Iyaa iyaaa Ji.” Jawab singkat terbata-batanya Udin

Setelah semua berdiri diteras, sejenak mereka bertiga memandangi rumah mewah itu sambil menggerakkan kepala serta bagian tubuh yang kaku.

“Gimana Din, sudah percaya?” Kata Ronald.

“Iya Nald” Jawab Udin kesal dan malu karena meragukan perkataan Ronald dari kemarin.

Mereka mulai berjalan memasuki rumah bergaya modern bercat putih dua lantai dengan garasi mobil yang cukup besar di sebelah kanan.

[Cerita ini diadaptasi dari Twitter.com/bayuuubiruuu]

Pandangan Udin dan sarji tak henti-hentinya melihat dengan seksama tiap sudut rumah mewah Ronald dan sekelilingnya. Mereka sangat takjub dengan pencapaian temannya dalam waktu singkat, hingga mereka hanya bisa berdiri dan terdiam menikmati kemewahan rumah Ronald.

Ronald tetap masuk kedalam rumahnya dan meninggalkan kedua temannya yang tetap berdiri. Beberapa saat kemudian Ronald kembali tapi ia mendapati kedua temannya masih diluar. Dengan perasan agak gusar ia mendekati Sarji dan Udin.

“Ayo masuk dulu Ji, Din. Kayak orang kampung saja kamu ini, baru lihat rumah mewah wajah pada kelihatan begonya.” Kata Ronald dan langsung menarik kedua tangan temannya masuk ke rumahnya.

Sarji dan Udin dipersilahkan duduk langsung di ruang tamu ronald yang mewah, beberapa saat kemudian pembantu Ronald datang menghampiri. Pembantu Ronald membawakan minuman dingin serta makanan ringan.

Sarji terlihat sangat semangat untuk mengikuti jejak Ronald setelah melihat keberhasilan Ronald, tapi Udin hanya rasa malu akan keluh kesahnya tadi pagi. Saat mulai memakan hidangan..

“Gimana Din, percaya gak sama aku?” Tanya ronald

“Iya nald, aku percaya.” Jawabnya udin yang datar

“Hebat kamu Nald sudah bisa sekaya ini, ngomong-ngomong istri kamu kemana” tanya Sarji

“Lagi keluar, biasa Ji. Sosialita jaman sekarang…hehehe” Jawab bahagia Ronald

“Sekarang kalian mandi dulu, habis itu kita langsung pergi” Pinta Ronald

“Iya nald” Jawab sarji dan udin bergantian

Setelah mendapat perintah dari Ronald, Sarji lebih dahulu pergi kekamar mandi, melihat udin yang masih santai ronald menatap kepada udin.

Bersambung...

Bab 2

Saat matahari mulai menyinsing, mereka beranjak pulang dan menyisihkan janji esok hari. Ronald langsung pulang kembali ke hotel tempat ia menginap, sementara kedua temannya pulang ke rumah masing-masing, Sarji pulang dengan membawa harapan besar untuk esok hari.

Tapi Udin sebagai sahabat setia hanya perasaan dongkol terbawa sampai ke rumah, karena ia harus ikut berangkat menemani kawan sejatinya.

Esok hari yang sangat ditunggu Sarji telah tiba. Jam sepuluh tepat, setelah mendapatkan izin dari keluarga masing-masing tadi malam mereka berangkat dengan membawa bekal seadanya. Langkah sarji dengan semangat pergi ke warung sesuai janji Ronald kemarin, sedang udin langkahnya gontai saat menemani Sarji di sisinya.

Beberapa saat Sarji dan Udin sudah menunggu di warung, tapi Ronald belum kelihatan. Hari beranjak siang, panas mulai teresa. Kegelisahan terpancar jelas di wajah mereka berdua.

Sarji dan Udin sudah lama menunggu (Ilustrasi), dok: pexels

Sarji terus melihat ke arah jalan di luar warung, hingga hauspun tak terbendung.

“Bu es teh dua," pesan Sarji.

“Hutang lagi mas,” sahut ibu pemilik warung.

“Tenang...! Kali ini saya bayar bu, Kan teman saya bos bu…hehehe," jawab Sarji.

“Halah…mas yang bos itu temen mas, bukan mas Sarji,” jawabnya sinis.

“Iya bu, bentar lagi Sarji jadi bos di daerah sini,” terang Sarji berusaha membanggakan diri.

Sejenak mereka minikmati es teh manis dalam gelas kaca besar, sambil menunggu Ronald tiba. Segar dan nikmat rasanya, panas terik disuguhi dengan es tesh manis. Udin yang dari awal kurang setuju masih terus menggerutu, meragukan perkataan Ronald kemarin.

Tapi tidak dengan Sarji yang sudah 100 persen percaya dengan janji Ronald. “Sudahlah din kamu ikut saja, jangan menggerutu terus”. Dua gelas besar kosong mereka taruh di atas meja, minuman sudah habis.

Nampak di kejauhan mobil MPV hitam dari arah jalan besar masuk ke parkiran warung sederhana. Sarji nampak senang karena ia tahu mobil itu kepunyaan Ronald. Putaran roda ban mobil Ronald berhenti tepat di samping warung, ronald dengan semangat turun dari kendaraannya.

“Ayo ji, kita langsung berangkat saja sekarang,” kata Ronald yang tetap berdiri di samping mobilnya.

“Ayo nald,” sahut Sarji dengan langkah kakinya mendekati Ronald, disertai telapak tangannya memegang erat pergelangan tangan Udin dan menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil.

Beggg…Beggg...beggg (suara pintu mulai tertutup dan ditarik dari dalam)

Mereka bertiga masuk ke mobil, dan Ronaldpun langsung bergegas menjalankan mobilnya ke jalan raya kembali. Sarji duduk di samping Ronald di depan, sedang Udin duduk di kursi tengah sendirian.

Saat mulai perjalanan Ronald membuka perbincangan di dalam mobilnya...

“Ji, kita jadi mampir ke rumahku dulu ya,” pinta Ronald.

“Terus kapan kita ke dukunnya Nald,” jawab Sarji.

“Nanti habis dari rumah, kita ke mbah dukun. Aku mau jenguk istri dulu Ji, soalnya sudah lama aku gak pulang. Sekalian udin sama kamu biar tahu kalau aku di rumah sudah kaya..hahahaha,” jelas Ronald.

“Ya sudah terserah kamu saja Nald,” sahut Udin yang duduk di belakang Sarji.

“Iya Nald gak papa,” jawab Sarji.

Mobil tetap dikemudikan Sarji menuju rumahnya ke arah barat provinsi. Perjalanan ditempuh sekitar 5 jam dari warung tadi. Merekapun harus sesekali berhenti untuk sekadar ngopi.

Setelah beberapa lama penantian di perjalanan, tibalah rombongan bertiga di rumah Ronald yang besar dan mewah.

Karena kesepakatan itu tidak hanya akan mengikat Sarji seorang, tapi juga semua anggota keluarganya sampai akhir hayat. Bukan persoalan main-main, sehingga harus dipikirkan dengan matang dan sudah dipertimbangkan dengan baik

“Njih mbah, dalem pun siap. Kinten-kinten dimulainipun ritual kapan nggih?” (iya mbah, saya sudah siap. Kira-kira dimulainya ritual kapan ya) Jawab dan tanya Sarji yang tak sabar dan sudah ingin cepat kaya.

“Sak iki ora popo le, sesajene ben di siapno kancamu Ronald. Pie nald?” (sekarang tidak apa-apa nak, sesajennya biar disiapkan temanmu ronald) Kata mbah Dirjo setelah memberi lampu hijau kepada Sarji, dan ia menoleh kearah Ronald untuk meminta persetujuanya untuk membantu Sarji.

“Injih Mbah, kulo siapaken” (iya mbah saya siapkan) Jawab Ronald.

Selesai kesepakatan, sekitar jam dua dini hari Ronald dan Udin kembali ke bawah untuk belanja kebutuhan ritualnya Sarji.

Waktu mau turun ke bawah mbah Dirjo berpesan “Nald, Ritual kancamu Sarji bakale mangan wektu kiro-kiro sodok sui. Dadi gawakno bekale mesisan”. (Nald ritual temanmu sarji akan mekan waktu lama, jadi bawakan bekalnya sekalian).

Ronald hanya mengangguk sebagai jawaban sepakat kepada mbah Dirjo. Kemudian mbah Dirjo langsung kembali pulang. Sedangkan Ronald dan Udin pergi untuk membeli perlengkapan yang disyaratkan.

Malam itu juga, Sarji menetap di pendopo dan mulai melakukan ritual bersemedi menghadap ke selatan. Mulai saat itu perjanjian Sarji untuk mencari kekayaan dunia sudah dimulai. Dan tidak ada kata mundur lagi bagi dia karena tekadnya sudah bulat.

Esok harinya, Ronald dan Udin kembali datang ke pendopo kecil dengan membawa sesajen lengkap. Susah payah dua orang teman Sarji ini membawa sesajen yang disyaratkan melalui jalan naik yang tidak mudah dan juga menguras tenaga.

Saat mereka berdua sampai di depan pendopo, ternyata Mbah Dirjo sudah menunggu dan tidak ada yang tahu dari jam berapa ia disana. Ronald menemui Mbah Dirjo dan langsung memberikan sesajen lengkap untuk memenuhi syarat ritual Sarji.

Setelah itu, mbah Dirjo dengan cekatan menata rapi sesajen didepan sarji yang sudah bersemedi sejak malam hari. Sejenak mereka bertiga melihat sarji yang sedang serius melakukan laku ritualnya.

Sarji tetap duduk bersila menghadap ke laut selatan tanpa menghiraukan kehadiran mereka bertiga. Terlihat Sarji sangat khusyuk menjalani ritual itu dan pancaran wajahnya menujukkan keseriusan niat untuk cepat kaya raya.

Akhirnya Ronald, Udin dan mbah Dirjo memutuskan untuk meninggalkan Sarji sendirian di pendopo. Mereka pergi kerumah mbah Dirjo di bawah lereng bukit. Rumah mbah Dirjo terbuat dari kayu biasa yang sederhana berukuran kecil dan nampak seperti rumah kuno, jauh dari kesan mewah.

Sampai didepan rumah, mereka langsung menuju ke teras rumah dan duduk di kursi kayu kusam yang tertata melingkat. Udin dan Ronald rehat sejenak sambil bercengkrama dengan Mbah Dirjo. Obrolan santai terus mengalir diantara mereka, sungguh akrab.

Pagi hari yang sangat sejuk dan menyenangkan. Selanjutnya Ronald dan Udin pamitan untuk pergi mencari sarapan. Kemudian dua orang ini beranjak pergi dari rumah Mbah Dirjo menuju ke Pasar di bawah. Memang selama Sarji masih melaksanakan ritualnya.

Ronald mengajak Udin untuk menemaninya. Hanya kata “iya” yang bisa diucapkan Udin untuk temannya.

Waktu terus berjalan, hari berganti hari dan siang berganti malam, semua harus dilalui Sarji. Sarji sudah tidak lagi menghiraukan kondisi apa pun yang ada di sekitarnya, hanya fokus untuk bisa bertemu dan bersekutu dengan sang ratu. Sang ratu pujaan yang akan membawa perubahan hidupnya.

Sedang kedua temannya harus naik turun untuk melihat serta mengawasi Sarji, baik pagi dan sore hari. Akhirnya, ritual Sarji sudah memasuki hari ke tujuh.

Pagi hari Sesuai perhitungan mbah Dirjo, malam itu ialah malam bulan purnama penuh. Mbah Dirjo memerintahkan Sarji untuk pergi ke pantai dan melanjutkan ritualnya disana. Sarji harus bersemedi di atas batu karang yang telah ditentukan oleh Mbah Dirjo, Sebuah batu karang yang langsung menghadap ke laut selatan.

Ketika malam telah tiba, Sarji bersiap-siap untuk turung bukit menuju ke tempat semedi baru. Dia harus turun bukit sendiri sambil membawa beberapa sesajen yang telah ditentukan oleh Mbah Dirjo.

Sekitar jam 8 malam, Sesajen di tata dengan rapi sekitar tempat semedi. Sarji mulai menaiki batu karang dengan penuh harap dan hati yang telah mantap. Dia lalu bersila dan melakukan ritual langsung menghadap pantai selatan diatas batu karang.

Malam semakin larut, Sarji tetap dalam semedinya. Sekitar jam dua belas malam, suasana disekitar tempat semedi mulai berbeda.

Sampai pada suatu keadaan dimana Sarji tidak bisa menyadari dia sedang berada di alam mana, nyata tau gaib.

Tubuh serta pikiran Sarji antara sadar dan tidak sadar mulai merasakan suatu cahaya yang terang dihadapannya. Secercah cahaya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Perlahan dan sangat hati-hati Ia mulai memberanikan diri untuk membuka kelopak mata.

Semakin lebar kelapa mata dibuka, semakin besar cahaya yang memancar didepan mata. Pancaran kilauan cahaya seperti kilauan emas yang tersebar dimana-mana, sungguh menakjubkan. Istana megah berhiaskan emas berkilau menerangi area semedi Sarji.

Dia yang masih duduk bersemedi merasakan dekatnya jarak antara dirinya dengan istana yang megah itu, sekitar tiga puluh meteran.

Ia mulai bangkit untuk berdiri, tubuhnya seakan ada yang memanggil untuk masuk kedalam istana.

Sarji berjalan pelan masuk kearah istana dengan mengamati keindahannya, sampai di istana matanya tetap melirik pemandangan kanan kiri. Setiap gerbang yang ada penjaganya dengan sigap langsung membuka pintu istana seperti kedatangannya sudah ditunggu.

Ia disambut suasana keraton yang tenang dengan bau harum tapi sedikit amis. Mata Sarji tak henti-hentinya melihat bangunan tinggi menjulang yang begitu megah dengan tiang-tiang besar berwarna keemasan.

Ukiran-ukiran yang melekat di semua istana Nyi Ratu begitu indah menghiasi setiap jengkal semua bangunan Nyi Ratu. Ketika langkahnya sampai di pintu istana ia melihat sosok Nyi Ratu yang berwibawa duduk diatas singgasana.

Disamping kanan kirinya terdapat masing-masing satu orang perempuan yang berpakaian serba hijau, berselendang hijau pula. Mereka berdua memegang kipas besar warna hijau yang diayunkan dari samping kepada sang ratu secara perlahan.

Sosok Nyi Ratu yang memakai kemben warna hijau, bawahan kain batik warna merah gelap sampai menutup kakinya. Sedang bentuk tubuh ular kuning keemasan melilit dibawah singgasananya. Dikanan kiri bahunya berbalut selendang hijau yang menjuntai ke bawah, sedang untaian kembang kantil yang menjulur tiga helai sampai ke perut.

Mata sang Ratu menatap tajam Sarji dari singgasananya, Sarji tetap berjalan dan mengamati bentuk singgasana yang berwarna kuning keemasan dengan pegangan tangan kanan kirinya berbentuk kepala ular.Masih dalam diam tertegun dan tercengang, Sarji berdiri tepat di hadapan Nyi Ratu.

Belum pernah Sarji jumpai di dunia istana sebesar dan semegah ini didunia nyata. Sampai akhirnya ia sadar sedang berada didalam istana Nyi Ratu, seketika itu juga sarji langsung duduk bersimpuh memelas dengan wajah penuh harap.

Sarji duduk membungkuk penuh harap kepada Nyi Ratu, dok: pixabay

Dari jarak yang dekat inilah ia benar-benar bisa melihat dengan jelas sosok sang Ratu, yang selama ini ia cari sesuai petunjuk Mbah Dirjo. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat seorang Nyi Ratu dengan paras wajahnya sangat cantik jelita, menawan, menggairahkan dan berkulit cerah seperti gadis yang masih baru berumur sembilan belas tahunan. Sang Ratu ini berambut hitam tergerai kebelakang sampai pinggang sedang diatas kepalanya dihiasi sebuah mahkota berwarna keemasan, dengan hiasan beberapa kepala ular diatas mahkotanya.

“Nyi….” Ucap sarji membuka pembicaraan dengan kepala setengah menunduk.

“Yo, aku wes ngerti karepmu (Ya saya sudah tahu maumu)” Jawab Tegas Nyi Ratu dengan suara lantang

“Mbalik’o muleh, siapno kamar siji seng khusus gawe aku. Sakben padang mbulan, awakmu kudu mujo aku neng kamar iku” (kembalilah pulang, siapno kamar satu yang khusus buat saya. Setiap bulan purnama, kamu harus memuja saya di kamar itu) Jelas Singkat Nyi Ratu Blorong

“Injih nyi” (Iya Nyi) Jawab Sarji dalam kondisi kepalanya tertunduk total kebawah.

Sarji yang merasa sudah berhasil ia berjalan mundur pelan dengan tubuh setengah membungkuk sampai ke tempat duduknya semula.

Ketika ia sudah duduk kembali dengan memejamkan matanya kembali, tiba-tiba keadaan berubah.

“Byuuuurrrrr” (hempasan ombak pantai yang mengenai tubuhnya)

Perasaan kaget dan bingung, Sarji langsung berdiri dan melihat sekeliling. Ia mengamati dengan seksama, ternyata ia sudah berada di pantai tepat dibawah karang. Setelah sadar ia sangat senang sudah kembali ke dunia nyata, dan ia juga merasa sudah berhasil bertemu dengan Nyi Ratu.

Perasaan bahagia atas keberhasilan ritualnya membuat dirinya langsung kembali dengan cepat ke pendopo,

Sampai di pendopo ia tak menemukan siapa pun, karena waktu sudah menjelang subuh. Sarji putuskan untuk langsung membersihkan diri di samping pendopo dan melanjutkan untuk istirahat sambil menunggu teman-temannya dan mbah Dirjo.

Pagi menjelang, sekitar jam tujuh pagi Sarji masih terlelap. Kedua temannya datang tanpa sepengetahuan Sarji, sedang Ronald dan Udin hanya menunggui sarji yang tidur disampingnya. Tak lama kemudian mbah Dirjo pun datang dan ikut duduk dengan mereka…

“Piye le hasile?(Gimana hasilnya)” Tanya mbah Dirjo

“Kirangan mbah, dalem dereng ngertos. Sarji nggih niki, tasek sare” (tidak tahu mbah, saya belum mengerti. Sarji ini, masih tidur) Jawab Ronald sambil menunjuk sarji yang masih tidur lelap disampingnya.

“Oh..ya wes, babahno cek turu sek” (Oh ya sudah biarkan biar tidur dulu) Jawab mbah Dirjo Tenang

Sambil menunggu bangunnya sarji mbah Dirjo mulai perbincangan bersama ronald dan udin. Beberapa jam kemudian Sarji terbangun dengan sendirinya, ia langsung duduk sambil menguap dan mengucek mata merahnya.

“Jam piro iki Nald” (jam berapa ini Nald) Tanya sarji

“Jam rolas ji, wes ndang raup disek kono”(Jam duabelas Ji, sudah cepet cuci muka dulu sana).Jawab Ronald

Dirjo kembali melanjutkan ceritanya, beberapa saat sarji kembali dan ikut duduk bersama didalam pendopo.

“Piye le, wes kasil?”(gimana nak sudah berhasil). Tanya Mbah Dirjo

“Sampun mbah, wau dalu kulo sampun ketemu nyi ratu. (sudah mbah, tadi malam saya sudah bertemu Nyi Ratu).

Selanjutnya Sarji menceritakan secara detail kepada mereka dari awal sampai akhir tentang kejadian bertemu dengan nyi ratu’.

“Wes maringene dang balik muleh, siapno opo sing dijaluk karo nyi ratu” (sudah habis ini cepat balik pulang, siapkan apa yang diminta sama Nyi Ratu). Perintah Mbah Dirjo

“Injih mbah, matur nuwun sanget” (Iya mbah, terima kasih banyak). Kata Sarji

“yo le, podo-podo” (ya sama-sama nak). Jawab mbah Dirjo

“Menawi ngonten, dalem nyuwun pamit wangsul sepindah njih mbah” (kalau begitu, saya minta ijin pulang sekalian mbah). Pinta Sarji

“yo wes, ngati-ngati neng dalan le”(Ya sudah, hati-hati di jalan nak). Jawab Mbah Dirjo

“Njih mbah” (Iya mbah). Jawab Sarji

Hari masih siang, tapi hawa dingin di gunung masih tetap sejuk menusuk tulang. Sarji dan kedua temannya langsung berkemas untuk segera pulang, setelah bersalaman dan memberi amplop kepada mbah Dirjo mereka langsung turun ke bawah menuju mobil.

Sampai di parkiran bawah, mobil Ronald tetap diisi tiga orang, Perjalanan dimulai dari jalan berbatu yang menggoyangkan isi didalamnya, sampai goyangan mereda di jalan beraspal.Ketiga orang yang berada dalam mobil masih terdiam,belum ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.

Sarji duduk terdiam di jok depan, tatapannya kosong kedepan. Dalam lamunannya harapan kaya raya dan bahagia sarji mulai tertanam di otaknya. Tapi kenyataannya waktu itu, sarji masih miskin.

Lambat laun dari tempat duduknya yang berada di samping kemudi ia mulai tersadar akan kondisinya yang terkini, tatapan matanya mulai berisi…

(Tinnnn…tinnnn...tinnn,,,Ciiiittttt) suara klakson dan rem mobil Ronald mendadak membuyarkan lamunan Sarji dan Udin, mobil seketika dihentikan dengan spontan. Bersamaan dengan itu semua badan dan kepala yang berada didalam mobil terayun kedepan.

“Enek opo nald (ada apa nald)” Tanya sarji denga

n tatapan kaget terhenyak kepada Ronald,

sedangkan Udin hanya setengah berdiri berjongkok kedepan ikut melihat tanpa berkata apapun.

“Onok…, iku mau koyok ulo gede liwat (ada….itu tadi kayak ular bersar lewat)” Jawab Ronald tetap memandangi jalan beraspal yang sepi, tanpa ada mahluk apa pun

“Lha endi sak iki ulone (Lha mana sekarang ularnya)” Tanya Sarji mulai memperhatikan jalan di depannya

“Embuh, mau liwat neng ngarep kunu. Mlakune cepet, tapi kok wis gak enek ya (Gak tahu, tadi lewat didepan itu.

Jalannya cepat, tapi kok sudah tidak ada ya)” Jawab Ronald yang mematung dan tertegun

Selesai kejadian secara tiba-tiba itu, Ronald mulai melajukan kembali mobilnya dengan pelan-pelan di jalan beraspal, sedangkan sarji dan udin kembali duduk dengan tenang.

Mereka berdua memikirkan cara untuk membawa uang saat sampai di rumah. Sebab waktu itu mereka berdua benar-benar tak ada uang sama sekali di kantongnya.

"Nald, saya boleh pinjam uang?" tanya Sarji.

“Buat apa Ji?," jawab Ronald.

“Buat makan Nald, minggu kemaren tepatnya mau berangkat saya pamit ke istriku mau kerja di tempatmu," jelas Sarji dengan memelas.

“Terus,” ucap Ronald yang masih tegang karena habis melihat sosok ular yang tiba-tiba menghilang.

“Ya masa aku pamitnya kerja di tempatmu, selama satu minggu pulang tidak bawa uang Nald," jelas Sarji.

Ronald masih diam dan tetap mengemudikan mobilnya, ia tidak langsung memutuskan untuk memberi pinjaman. Dalam diamnya masih berpikir antara memberi pinjaman atau tidak, setelah beberapa menit ia menoleh ke arah Sarji di sampingnya sambil mengemudi.

“Butuh berapa kamu Ji?" tanya Ronald.

“Ya kalau bisa yang banyak Nald, masalahnya mau buat makan, bayar utang terus yang paling penting untuk mempersiapkan kamar sama perlengkapannya kanjeng Ratu," tegas Sarji lirih.

Udin di belakang hanya tiduran tak menanggapi serius pembicaraan mereka berdua. Hanya deru mobil yang terdengar jelas di telinganya, sedang matanya hanya memandangi dedaunan pohon-pohon menghijau dari dalam mobil.

“Dua puluh juta cukup Ji?" ucap Ronald tanpa banyak curiga kepada Sarji.

“Cukup Nald,” jawab Sarji dengan senyum melebar.

“Aku ya mau rek, kalau dipinjami uang. Aku kemarin pamitnya ke ibunya anak-anak kerja di tempatmu juga Nald," sahut Udin dari kursi belakang Ronald.

“Kamu ini Din ikut saja, apalagi kalau pembahasan utang-piutang mau langsung cair langsung ikut, kalau diajak berguru gak mau," jawab Ronald dengan ketus.

“Ya tidak boleh Din, ini Sarji sudah jelas pembayarannya. Lha kalau kamu gimana? masalahnya kamu tidak ikut berguru kepada Mbah Dirjo," Terang Ronald dengan jelas.

“Ya jelas nald, Pasti aku bayar Nald besok lusa kalau sudah punya uang,” jawab Udin dengan keyakinannya.

“Tidak bisa din, masalahnya Sarji ini pinjam uang karena sudah satu perguruan sama saya. Salah kamu sendiri tidak ikut berguru," tegas Ronald lagi dari kursi depannya.

“Anj*ng beneran kamu Nald, asli pelit kamu Nald. Lha, terus nasibku gimana ini?," keluh Udin yang sudah jengkel.

“Ya gak tahu din!!!" jawab Ronald cuek.

“Sudah gini saja Nald, tambahi saja pinjamannya. aku yang pinjam, yang bayar nanti aku saja. Udin nanti urusanku," jawab Sarji untuk menengahi perdebatan diantara mereka berdua.

“Begitu ya?" sahut Ronald.

“Ya...ya sudah, Nanti kalau sudah sampai rumahmu saja uangnya tak kasihkan kamu. Aku percaya sama kamu ji...hehehe," jawab Ronald.

Udin dan Ronald sempat memanas, dok: pixabay

Sekian jam perjalanan dan sekian kali berhenti untuk melepas lelah, beberapa jam kemudian mereka sampai dirumah Sarji pada malam hari. Ronald turun dari mobilnya dan berjalan kebelakang mobil, tangannya dengan cepat langsung mengambil tas ransel yang berisi penuh gepokan uang tunai.

Setelah mengambil beberapa gepok ia berjalan menemui Sarji yang masih di samping mobil dan memberikan uangnya kepada Sarji. Selesai itu Ronald langsung pamit ke kota, rencananya ia menginap di hotel karena pagi hari Ronald harus belanja dalam jumlah besar untuk menyuplai toko bangunannya, dan beberapa toko bangunan di daerahnya.

Sarji dan Udin masih berdiri di halaman rumahnya, Sarji sendiri yang habis mendapat pinjaman dari Ronald menepati janjinya kepada Udin. Saat mereka berjalan menuju rumah masing-masing, Sarji langsung memberikan uang pinjaman kepada Udin.

Tapi dengan perjanjian udin yang berhutang kepada sarji, Setelah itu mereka pulang kerumah masing-masing. Pagi yang cerah mewarnai rumah Sarji, karena ia telah mendapatkan uang banyak meski pinjaman.

Sarji memberikan sebagian uang kepada istrinya dan meminta persetujuan gudangnya dijadikan kamar khusus untuk ritualnya, dengan berbagai alasan serta bujuk rayunya akhirnya ia mendapat persetujuan sang istri juga.

Selanjutnya ia beralih menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk-duduk dibelakang rumah, dengan basa-basi sebentar sambil Sarji memberikan uang kepada ayah dan ibunya.

Berbagai alasan ia utarakan, Sarji meminta gudangnya digunakan untuk ibadah khususnya karena diperintah sang guru, sejenak dalam diam kedua orang tua Sarji berpikir. Tapi akhirnya dengan berat hati orang tuanya menuruti keinginan anak semata wayangnya.

Setelah mendapat persetujuan dari semua penghuni rumah ia pergi ke rumah udin lewat pintu dapurnya.

[Sarji mengetuk pintu tanpa salam]

"Diin," panggil Sarji.

“Eh Mas Sarji mari masuk," tawar istri Udin.

“Mas udin di mana mbak, saya ada perlu sebentar," tanya Sarji

“Ini mas udin masih tidur di depan," jawab istri Udin sambil membersihkan kedua tangannya.

“Sebentar mas, saya bangunkan dulu," jawabnya istri Udin dengan berjalan kedepan.

“Ya, saya tunggu di belakang saja mbak," sahut Sarji

Beberapa menit kemudian Udin bangun, ia berjalan kebelakang rumah dengan bekas air yang masih menempel di wajahnya dan menemui Sarji di bawah pohon keres.

“Ada apa Ji? Pagi-pagi sudah cari aku," tanya Udin yang mulai duduk disamping Sarji.

“Din, awakmu kan iso nukang! Sak iki garapen gudangku seng ndek ngguri iku dadi kamar,” pinta Sarji.

“Lha, mau buat apa Ji," tanya Udin yang tak tahu tujuan Sarji.

“Buat tempat khusus ngaji buat aku din, aku disuruh mbah Dirjo waktu di gunung kemarin," terang sarji

“Oh begitu ceritanya. Ya sudah, hitung-hitung kemarin habis kamu beri pinjaman ayo dikerjakan sekarang, mumpung masih pagi," jawab Udin dengan bersemangat.

Saat itu juga mereka berjalan menuju gudang yang mau dijadikan kamar khusus. Dengan cekatan udin langsung membersihkan dahulu gudang berukuran 4x4, dengan satu jendela kecil sebagai sumber penerangan di siang hari dan sebagai sirkulasi udara.

Bersambung...

Bab 3

Saat udin masih bersih-bersih, Sarji pergi ke toko bangunan untuk belanja semua kebutuhan. Sesaat kemudian Sarji datang dengan membawa bahan bangunan, ia juga ikut membantu udin mulai membenahi plafon, pintu dan mengecat ulang tembok yang lusuh.

Hari demi hari Udin mengerjakan kamar itu tapi dirinya tetap tidak tahu maksud dan tujuan Sarji sebenarnya, sampai akhirnya tempat benar-benar terlihat bersih dan terlihat seperti kamar yang cukup mewah.

Sarji tetap masih jadi pengangguran sedang Udin kerja serabutan. Terkadang Udin sehari kerja, tiga hari ia menganggur, hal ini yang sering dijalani Udin. Siang itu Sarji duduk di teras rumahnya sambil menghitung hari, pada hitungannya hari itu nanti malam terjadi bulan purnama,

Karena petunjuk ini adalah wawasan dan pengalaman dari Ronald. Diwaktu sore hari ia kebelakang rumah berusaha menemui Udin yang tengah duduk sendirian dibawah pohon keres, sambil mengawasi kedua anaknya yang masih kecil-kecil bermain.

“Din nanti habis magrib antarkan aku cari jamu," pinta Sarji.

“Halah cari sendiri sana Ji, aku capek barusan istirahat ini Ji," tutur Udin.

“Sudahlah nanti aku belikan jamu sekalian," rayu Sarji.

“Bener ta ini, tumben kamu Ji," jawab Udin.

“Iya, kemarin Ronald mampir terus dia kasih aku uang lagi din," jelas Sarji.

“Oh jadi habis dapat rezeki lagi kamu Ji," kata Udin.

“Hehehe iya din,” jawab senyum Sarji.

Sehabis magrib sesuai janji Sarji, mereka berdua langsung pergi ke toko jamu tradisional yang berada di desa sebelah. Waktu di toko jamu, Sarji langsung pesan dengan lima telur ayam kampung untuk dicampur kedalam minumannya dengan maksud menyambut tamu di malam hari. Udin sedikit penasaran karena baru kali ini temannya begitu banyak minum jamu pakai telur ayam kampung

“Mau pelampiasan terus nambah ta Ji nanti malam," tanya udin sedikit menggoda.

“Jelas din,” Jawab Sarji dengan memulai minum jamunya.

"Jangan terlalu sama istrimu sendiri Ji, kasihan," celetuk Udin.

Hanya senyum Sarji yang terlempar pada wajah Udin sebagai jawaban. Setelah itu mereka langsung pulang. Sarji sendiri sekitar jam delapan malam langsung berdiam diri di atas ranjang kamar khususnya.

Tak lupa ia mengunci rapat-rapat pintu dari dalam kamar, sebelumnya ia sendiri berpesan kepada seluruh anggota keluarganya, kalau dia di dalam kamar tidak boleh diganggu apapun yang terjadi.

Di dalam kamar, penerangannya memakai lampu neon kuning remang-remang, dipan kayu yang mewah dengan kasur empuk telah ditaburi bunga-bunga di atasnya sudah disiapkan. Tak lupa kelambu putih bergelayut menghiasi kamarnya.

Kamar itu hanya diberi penerangan lampu redup, dok: pixabay

Kondisi kamar Sarji mirip seperti kamar pengantin baru. Sedang tiga sudut kamar masing-masing diberi sesajen lengkap satu nampan, sampai diseluruh penjuru ruangan kamar Sarji dipenuhi bau harum bunga dan dupa khusus.

Sarji memulai ritual seperti yang ia lakukan di tempat Mbah Dirjo sampai sekitar jam dua belas malam, tiba-tiba ada suara dari atap kamarnya.

“Ketoplak…ketoplak…Krimpying…Krimpying…Krimpying…” (suara kaki kuda serta lonceng kereta kencana yang berjalan dan berhenti tepat di atap kamar Sarji).

Sarji yang mendengar suara itu hanya diam dan terus konsentrasi membaca mantranya. Perasaan Sarji pertama kali ialah sangat takut bercampur bahagia mendengar pertanda itu, dengan sedikit keringat yang mulai muncul di kulitnya karena gugup. Sedangkan jantungnya mulai berdebar-debar terpacu dengan cepat.

Sesekali matanya terbuka untuk melihat isi ranjangnya yang masih kosong. Saat matanya sedang tertutup Tiba-tiba bau harum bercampur amis mengusik semedinya, timbul rasa penasaran pada dirinya.

Akhirnya ia membuka mata lagi dan tiba-tiba Sarji melihat sosok sang Nyi Ratu yang cantik jelita sudah berada di depannya dengan duduk bersimpuh. Nyi Ratu kali ini hanya memakai kemben hijau, tanpa perhiasan sama sekali saat di kamar Sarji, tapi kecantikannya sungguh sangat luar biasa menggodanya.

Dalam kondisi tercengang, mata Sarji tak berkedip sama sekali, ia hanya mematung menatap Nyi Ratu yang memesona. Beberapa saat kemudian semedi Sarji dihentikan oleh Nyi ratu,

Tanpa ada kata terucap sama sekali, Nyi Ratu langsung memulai dan mengajak hubungan suami istri dengan Sarji. Beberapa kali dalam kondisi yang penuh nafsu, antara sadar dan tidak sadar, tangan Sarji merasa beberapa bagian tubuh Nyi ratu licin dan membulat kecil seperti sisik ular.

Tapi dalam otaknya Sarji sudah kepalang tanggung, ia terus bergulat hebat malam itu sampai ia benar-benar terkulai lemas. Entah berapa lama ia melakukan dengan Nyi Ratu, sampai akhirnya ia tak sadar dan langsung tertidur di kamar khususnya.

Beberapa jam kemudian saat kesadarannya kembali ia merasa hanya sendirian di kamar. Sarji sendiri tak tahu kapan persisnya Nyi Ratu pergi meninggalkannya. Menjelang pagi ia sudah mulai benar-benar pulih dan sadar, Sarji mulai bangun dari posisinya yang masih telentang.

Sarji mulai bangun dan duduk, matanya langsung melihat uang dan lempengan emas seperti ujung sendok (oval) berserakan di atas spreinya bercampur keringat dan bunga. Setelah melihat dengan seksama kenyataan di dalam kamar, Sarji mulai senyum-senyum sendiri.

“Aku berhasil kaya, kaya, kaya!," teriaknya dengan menaburkan ke atas beberapa kepingan emas dan uang dari ranjangnya. Usai euforia didalam kamar sendirian, dengan cepat Sarji mengumpulkan uang dan emas di kantong kain yang sudah disiapkan sebelumnya dan memasukkan kedalam tas ransel. Kemudian ia keluar kamar dengan wajah bahagia tapi badan masih lemas.

Sarji langsung menemui istrinya di dapur dan menciumnya, ia merasa bahagia pagi itu dengan cepat ia memberi sejumlah uang kepada istri tercintanya. Setelah itu ia mandi dan berganti baju, ia bersiap untuk menjual emas-emas yang ia dapat dengan cepat. Karena khawatir emas – emas itu akan hilang dengan sendirinya. Belakang rumah, tepat di bawah pohon keres, Udin di pagi hari yang cerah sudah duduk-duduk santai karena tidak ada kerjaan, sementara temannya Sarji datang menghampirinya.

“Din ayo ikut aku," Ajak Sarji

“Kemana Ji, pagi-pagi begini," Jawab Udin

“Sudahlah, pokoknya ikut aku," paksa Sarji

“Males Ji, kalau tidak jelas," Jawab Udin lagi

“Ini Din, ayo jual emas," Kata Sarji dengan menunjukkan isi tasnya

“Loh, beneran ini Ji," Jawab Udin dengan mata terbelalak karena kaget

“Makanya ayo cepetan," Kata Sarji

“Ya..ayo tapi jangan lupa Ji bagianku,"

“Iyaaa ya din tenang saja,"Kata Sarji

Pagi itu mereka bergegas berangkat ke juragan toko emas yang berada di kota, mereka membawa sepeda onthel penuh karat. Karena Sepeda itu kendaraan satu-satunya yang dimiliki Udin, dan Sarji dibonceng di belakangnya. Jarak ditempuh memang jauh, sampai nafas udin tersengal-sengal meski jalan sebagian sudah beraspal. Sampai ditempat sang juragan, pembeli emas itu tidak mempertanyakan dan curiga dari mana asal emas tersebut. Juragan emas denga cepat juga langsung menghitung dan membayar kepada Sarji dengan uang cash.

Sarji yang senang bukan kepalang langsung memasukkan uangnya di tas ranselnya. Dirasa transaksi sudah selesai ia mengajak udin cepat kembali pulang, ditengah perjalanan ia melihat show room sepeda motor. Merasa sudah punya uang akhirnya ia mampir dan membelikan motor dari hasil penjualan emasnya. Sarji pulang dengan membawa motor perdananya,sedang udin tetap mengayuh sepedanya sampai rumah.Udin yang merasa dapat bagian,setelah menaruh sepedanya dirumah ia langsung kerumah sarji.

Sarji kaya mendadak, dok: pixabay

Udin dengan cepat langsung duduk di ruang tamu Sarji, sambil menunggu temannya keluar dari kamar. Waktu pintu kamar terbuka terlihat wajah sarji dan senyumnya bahagia mengembang,

“Ji bagianku mana?," Tanya Udin yang sudah tidak sabar.

“Oh ya sebentar Din, tunggu dulu," Jawab Sarji

Sarji kembali masuk kedalam kamar mengambil uang dan keluar memberikan uang kepada udin. Tapi bagiannya setelah dipotong utang kemarin. Dengan wajah sumringah Udin berjalan cepat kembali pulang. Ditengah perjalanan ia melihat ayah Sarji, sebut saja pak de Karto. Ia sedang meringis kesakitan memegangi kakinya dibawah pohon keres. Udin pun menghampirinya,

“Kenapa Pakde?," Tanya Udin

“Kakiku digigit ular Din," Jawab pakde Karto yang meringis menahan sakit

“Loh kok bisa Pakde, digigit di mana?," Tanya udin sambil melihat kaki pak de Karto

“Waktu jalan lewat belakang rumahku tadi Din, di rumput-rumput sebelah itu," jawab pak de Karto dengan menunjukkan tempat di mana ia digigit ular pertama kali

Pak de Karto meringis digigit ular, dok: pixabay

“Oh mana pak yang digigit," tanya Udin sambil melihat kaki pak de Karto, Udin mengamati pelan-pelan dan seksama. Tapi anehnya tidak ada bekas apa pun di kaki kanannya.

“Kok tidak ada bekas gigitannya ular pak?," Jawab Udin yang masih memegangi kaki kanannya pak Karto

“Ya tidak tahu Din, aku tadi langsung berjingkat kaget waktu digigit. Terus aku sekilas melihat ularnya lari cepat ke selatan, tapi belum sempat mengejar ularnya sudah hilang," Jawab pak Karto

Menantu pakde Karto dari belakang rumah Sarji muncul, matanya memandang mertuanya kesakitan dengan cepat dia mendatangi udin dan pak dhe karto. Saat istri sarji sampai ditempat pak de Karto kesakitan, Udin langsung menceritakan kejadiannya. Sore itu istri Sarji langsung menuntun mertuanya masuk ke dalam rumah, dan selang beberapa saat Sarji yang mengetahui hal ini, ia langsung mengantarkan ayahnya berobat ke dokter.

Udin pun langsung pulang kerumah dengan membawa uang banyak, ia langsung memberikan uang itu kepada istrinya. Hari bahagia buat udin malam itu, sedikit utang bisa tertutup. Dan ketiga anaknya bisa makan enak pagi harinya.

Pagi kenyataan yang tidak sesuai harapan Udin, teriakan dan tangis histeris terdengar kencang dari belakang rumahnya tepatnya dari rumah Sarji. Udin yang sudah bangun langsung berlari bersama istri dan anak-anaknya menuju rumah sarji. Kenyataan pahit yang ia lihat, pakde Karto sudah terbaring membujur kaku di kamarnya. Ibu dan istri Sarji menangis disampingnya, sedang Sarji hanya tertunduk lesu di pintu kamar.

Suara tangis dan jeritan terdengar dari rumah Sarji, dok: pixabay

“Mulai kapan tidak adanya bapak kamu ji?," tanya Udin

“Tidak tahu aku Din, tadi malam orangnya langsung tidur sehabis minum obat dari dokter. Tapi ibu habis subuh sudah langsung berteriak serta menangis memanggil-manggil bapak dari dalam kamar," Jelas Sarji dengan mata berkaca-kaca,

“Yang sabar Ji," Kata udin dengan menepuk-nepuk pundak sarji

“Iya din” Jawab sarji

“Din tolong panggilkan kakakmu yang pemuka agama, biar cepat dirawat bapakku ini," Pinta Sarji

Udin hanya menggangguk pelan, ia langsung bergegas menuju pemuka agama dikampungnya (moden) yang berada diujung pertigaan desa. Setelah sampai dan memberitahukan kepada moden, udin mengumumkan berita duka kematian ayahnya Sarji di masjid. Jam delapan pagi semua warga dan sanak saudara pakde Karto berdatangan kerumah Sarji, warga mulai memenuhi sekitar rumah Sarji karena ayahnya yang meninggal tiba-tiba. Tapi kematian pakde Karto waktu itu masih dirasa wajar oleh masyarakat, hal itu masih umum di sekitar lingkungan kampung Sarji.

Jam sembilan pagi jenazah pak de Karto dimandikan, selanjutnya dirawat dan siap untuk disholati. Saat jenazah masih dirumah Sarji banyak warga ikut mensholatinya, sebab Pakde karto sendiri di desa terkenal orangnya baik dan rajin beribadah, jadi wajar banyak yang ikut mensholatinya.

Setengah jam kemudian para pria dan sebagian keluarga Sarji mengantarkan jenazah pak dhe karto ke pemakaman untuk menguburkannya.

Beberapa saat acara pemakaman selesai, Udin dan kakaknya moden berjalan keluar pemakan.

“Kak, aku tak ikut berguru di tempatnya sarji ya?," pinta Udin

“Di mana din?," Tanya Moden

“Di gunung selatan," Jawab udin

“Tidak usah aneh-aneh din, kamu adikku satu-satunya. Kamu kan ya sudah ikut berguru di kiai sofyan, apa belum cukup," Jelas Moden

“Gimana ka ya, aku ya ingin kaya terus menutup cepat hutang-hutangku," Jelas Udin memelas

“Sabar din, pelan-pelan saja. Kerja yang bener, Awas!!! Jangan macam-macam kamu," Ancam Moden

“Ya sudahlah ka kalau begitu, tapi seumpama aku ikut kerja di tempat Sarji tidak apa-apa kan kak," Tawar Udin

“Ya gak papa din, yang penting kerja beneran dan halal," Kata Moden

“Ya sudah kak, kalau begitu terima kasih," Jawab udin pasrah karena harus patuh kepada sang kakaknya.

Hari itu ditutup dengan kesedihan mendalam bagi keluarga Sarji, Udin dan Moden pulang kerumah masing-masing. Seperti pada umumnya setelah ada orang meninggal, dikampung sehabis magrib acara keagamaan diadakan dirumah duka.

Malam itu Udin membantu keluarga Sarji dengan mulai menyiapkan perlengkapan acara sampai beres-beres selepas acara keagamaan. Serta duduk sejenak ikut menemani dan menemui tamu-tamu sarji yang datang dimalam hari.

Sekitar jam dua belas malam ia pulang untuk tidur, dikarenakan ketiga anaknya tidur satu ranjang bersama istrinya Udin memutuskan untuk tidur sendirian. Udin merebahkan tubuhnya dikursi bambu panjang yang berada diruang tamu.

Malam itu, Udin yang baru beberapa jam memejamkan mata bermimpi bertemu pakde Karto. Udin melihat pakde karto sendirian ditanah lapang yang luas dan sepi, ia yang masih terbungkus kain kafan sedang dililit ular hitam dan besar.

Udin melihat Pakde Karto kesakitan, dok: pixabay

Suara rintihan dan jerit kesakitan seakan memenuhi padang yang luas itu.

“Diiinn tolongin pak dhe le," Pinta dan tangis pakde Karto yang menyedihkan,

dan suara tulang-tulangnya seperti remuk dililit dengan kencang oleh ular hitam besar itu. Udin hanya terdiam, dia tak bisa melakukan apapun. Seluruh tubuhnya terasa tak bisa bergerak sedikitpun.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED