Bab 1

Seorang wanita bernama Rania tengah bersiap untuk pergi, ia akan menjemput suaminya di bandara, satu minggu yang lalu suaminya melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Ia membaca kembali pesan singkat yang dikirimkan oleh suaminya.

"Aku akan pulang hari ini. Apa kau mau menjemputku?" Begitulah isi pesan singkat yang di kirimkan suaminya, Adipati Zainuri.

Rania tersenyum mendapati pesan itu dari suaminya lantas langsung membalas, "Iya, aku akan menjemputmu. Aku juga punya sesuatu untukmu. Kembali lah dengan selamat," balas Rania. Tapi Adi tak lagi membalas karena terlanjur mematikan ponselnya karena harus segera masuk ke dalam pesawat dan lepas landas.

Dua jam sudah ia menunggu, wanita yang berprofesi sebagai seorang guru sekolah menengah atas itu pun berulang kali mencoba menghubungi nomor yang tertera di layar ponselnya yang ia beri nama 'suamiku', tapi tak dapat di hubungi. Ia pun berpikir jika suaminya masih belum menyalakan ponselnya, karena mungkin baru saja sampai di bandara.

Terlepas dari pekerjaannya sebagai seorang guru, ia juga tak jarang membantu suaminya mengurus perusahaan. Meski tak banyak yang bisa ia lakukan, tapi ia harus bisa ikut andil dalam kemajuan perusahaan yang telah dirintis oleh ayah mertuanya.

Wanita berusia 27 tahun itu berdandan secantik mungkin untuk menjemput suaminya, tak lupa ia membawa seikat bunga lily putih kesukaan suaminya dan alat pendeteksi kehamilan untuk memberikan Adi sebuah kejutan bahwa ia tengah mengandung anak pertama mereka.

Namun sebelum ia pergi, tiba-tiba sebuah bingkai foto pernikahannya terjatuh dan membuatnya pecah. Ibu mertuanya terkejut saat mendengar suara benda pecah dari dalam kamar Rania, ia pun segera berlari dan masuk ke kamar anaknya khawatir jika terjadi sesuatu pada menantunya.

"Rania, apa kau baik-baik saja?" tanya Sarah, ibu mertuanya dan memastikan jika Rania tak terluka.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja benda itu jatuh." Rania dan Sarah segera membersihkan pecahan kaca dari bingkai tersebut. Rania merasa tak enak hati, tapi ia berusaha menepis rasa itu.

"Apa Adi pulang hari ini?" tanya Sarah.

"Iya. Aku akan menjemputnya sekarang," jawab Rania yang terlihat tak sabar ingin bertemu dengan pria yang telah menikahinya 10 bulan yang lalu dan memberitahukan kehamilannya.

"Kau harus hati-hati. Kau sedang hamil. Apa perlu ibu menemanimu?"

"Tidak apa. Aku akan pergi sendiri. Kalau begitu aku pergi dulu." Rania berpamit pergi menuju bandara dengan memakai dress bermotif bunga berwarna merah muda yang semakin menambah kecantikannya.

Sarah lalu membantu Rania berdiri dan mengantarnya ke depan rumah. Sarah sangat menyayangi Rania, ia adalah menantu satu-satunya di keluarga Zainuri, karena Adipati Zainuri atau Adi terlahir sebagai anak tunggal.

***

Sepanjang perjalanan menuju bandara hari itu, sangat macet. Rania tampak sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya, ia berpikir bahwa ia sudah sangat terlambat.

Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya Rania sampai, Rania pun sedikit berlari saat memasuki bandara, ia sudah tak sabar untuk memberikan kejutan tentang kehamilannya pada Adi, sang suami. Tapi sesampainya di sana, Rania kebingungan mendapati semua orang yang sedang menunggu penumpang pesawat dari Singapura yang sampai di bandara hari itu tengah menangis histeris dan beberapa dari mereka ada yang sampai tak sadarkan diri.

Rania hanya mematung melihat kehisterisan orang-orang yang berada di sana. Rania melihat siaran televisi di bandara yang menyiarkan berita tentang kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut pun, hanya bisa terdiam. Rania pun menghampiri salah seorang pekerja bandara yang ada di sana.

"Maaf, ada apa ini?" tanya Rania yang terlihat kebingungan dengan situasi yang ia lihat sekarang.

"Pesawat dari Singapura mengalami kecelakaan."

"Singapura?" tanya Rania lirih. Rania berharap jika pesawat yang jatuh itu bukan pesawat yang membawa Adi dari Singapura.

"Benar. Pesawat yang jatuh hari ini adalah pesawat dari Singapura. Apa ada keluarga anda yang juga berangkat dari Singapura?" tanya petugas itu. Rania menjatuhkan bucket bunga yang ia bawa untuk Adi dan juga alat pendeteksi kehamilan yang akan ia tunjukkan pada suaminya itu.

"Ya...suamiku. Dia pasti selamat, kan?" Rania tak kuasa menahan tangisnya saat mendengar pesawat yang di tumpangi suaminya itu mengalami kecelakaan.

"Siapa nama suami anda? Kami akan beritahukan pada anda jika ada perkembangan yang lebih lanjut."

"Dia, Adipati Zainuri. Aku mohon pastikan dia selamat!" Rania berlutut di hadapan petugas bandara tersebut.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin mengembalikan para korban. Sebaiknya anda menghubungi keluarga yang lain. Saya permisi." Petugas itu bergegas pergi.

Rania terus menatap televisi yang menayangkan berita tentang para tim SAR yang tengah melakukan pencarian korban pesawat itu. Ia masih tak percaya jika suaminya mengalami kecelakaan. Padahal beberapa jam yang lalu Adi masih sempat mengiriminya pesan singkat.

Kini ia tak lagi berlutut, tapi terduduk lemas tak berdaya di lantai karena tak kuat untuk berdiri.

***

Sementara itu di kediaman Zainuri, Sarah mendapat telepon dari seseorang.

"Halo? Iya, Benar ini kediaman Adipati Zainuri," ujar Sarah saat mendengar seseorang berbicara dari balik sambungan teleponnya. "Apa?" Sarah tiba-tiba saja lemas, lalu menjatuhkan telepon yang berada di genggaman tangannya. Bersamaan dengan itu, ia melihat saluran televisi yang menayangkan siaran berita tentang kecelakaan pesawat GT300 yang ditumpangi oleh putera semata wayangnya itu, dengan segera Sarah pergi ke bandara.

Sarah yang juga mendatangi bandara saat mendengar berita kecelakaan Adi pun segera berlari menghampiri Rania yang sedang terduduk di lantai sambil menangis.

Sarah segera memeluk menantu kesayangan nya itu. Ia juga ikut menangis karena kenyataannya Adi adalah anak satu-satunya di keluarga Zainuri menjadi korban kecelakaan dan harus meninggalkannya secepat ini. Ia sangat sedih karena harus kehilangan suaminya 15 tahun yang lalu dan sekarang harus kehilangan putera tercintanya.

Rania hanya bisa menangis dalam pelukan mertuanya itu.

"Bu, Mas Adi akan kembali, kan?" tanyanya dengan nada lirih. Tangisnya kini telah membasahi pundak Sarah.

"Iya. Dia pasti kembali, Rania. Percayalah!" ucapan Sarah sama seperti dia sedang menenangkan dirinya sendiri. Dia sendiripun tak percaya jika anaknya itu akan kembali, tapi ia harus tetap menguatkan menantunya yang tengah mengandung buah cintanya bersama Adi.

***

Hari terus berganti,  seminggu sudah kepergian suaminya, namun Rania masih melakukan hal yang sama. Usai mengajar, ia pasti harus pergi ke bandara untuk menjemput Adi. Ia yakin, jika suaminya itu akan pulang.

Sovia, teman sekaligus rekan kerjanya yang sama-sama seorang guru pun menghampiri wanita dengan rambut panjang kecokelatan itu yang hendak pergi ke bandara usai memesan bunga Lily kesukaan suaminya.

"Kau pergi ke bandara lagi?"

"Ya, suamiku akan kembali. Aku pergi dulu."

Rania segera pergi, ia seolah terus menghindar dari orang-orang di sekitarnya. Ia tak ingin mendengar pertanyaan dan pernyataan mereka yang selalu mengatakan jika Adi masih belum di temukan.

Rania terlihat menyedihkan, tapi ia berusaha tegar dan tetap menunggu Adi kembali, ia yakin Adi pasti kembali padanya dan berkumpul bersama keluarga kecilnya yang telah menunggunya.

Bab 2

***

Sarah Wijaya, wanita berusia 58 tahun yang kembali harus berduka setelah kehilangan orang tercintanya 15 tahun lalu, dan kini ia kembali harus kehilangan putera semata wayangnya yang meninggalkan seorang isteri dalam keadaan mengandung cucunya.

Setiap hari, ia harus mengingatkan Rania untuk tak lagi pergi ke bandara dan menjemput Adi yang masih belum ditemukan.

Setiap hari Sarah selalu menemani Rania tidur, karena pernah suatu hari, Rania tiba-tiba bangun tengah malam dan teringat Adi dan berniat untuk pergi ke bandara.

Lima tahun yang lalu, Sarah mempercayakan perusahaannya pada Adi. Setelah 10 tahun usai kepergian suaminya, ia yang melanjutkan perusahaan. Setelah dirasa Adi cukup mampu menggantikannya, ia pun menyerahkan semuanya pada anak tunggalnya itu.

Saat ini, Sarah terbaring berdua bersama menantunya. Ia mengusap rambut Rania yang terurai berantakan di atas bantal. Wanita berlesung pipi itu tengah tertidur pulas di sampingnya.

"Apapun yang terjadi, tetaplah bahagia, Rania." Sarah berbisik pelan dan tanpa terasa air matanya menetes. Dengan segera ia menyekanya, lalu memutuskan untuk tidur, karena besok ia harus kembali memeriksa perusahaan.

***

Pagi hari Rania sudah bersiap mengajar seperti biasanya, ia pun membereskan buku-buku yang akan ia bawa ke sekolah.

Saat itu, Sarah masuk dan membawa secangkir susu hangat dan juga beberapa potong roti di atas nampan untuk Rania sarapan.

"Rania, sebelum ke sekolah kau harus sarapan dulu," ujar Sarah lalu menaruh nampan itu di atas meja kerja Rania.

Rania tersenyum ke arah Sarah dan berkata, "Mengapa repot membawa ke kamar, Bu? Kita bisa sarapan bersama di meja makan, kan?" tanya Rania.

"Hari ini, ibu akan pergi ke kantor. Ibu harus melihat perkembangan perusahaan semenjak Adi tiada," jawab Sarah.

Rania menundukkan kepalanya, lalu tak lama ia kemudian mendongakkan wajahnya dan menatap wajah mertuanya itu. "Aku ikut, ya?" tanya Rania.

"Nanti saja kau menyusul usai kau mengajar."

"Baiklah."

"Kalau begitu, ibu pergi dulu. Kau hati-hati di jalan," ucap Sarah.

Sebelum pergi, Sarah mengelus perut Rania dan mensejajarkan wajahnya dengan perut Rania. "Nenek pergi dulu, ya? Baik-baik di perut ibu."

Hati Rania terasa hancur, saat melihat perlakuan mertuanya. Seharusnya, Adi juga turut melakukan hal itu. Mengelus perutnya dan mengajak buah hati mereka berbincang, tapi sayangnya, Rania hanya bisa berharap saja.

***

Rania sampai di sekolah tempatnya mengajar. Saat ia keluar dari mobil, ia dikejutkan oleh seorang siswa yang tiba-tiba muncul di depannya dengan setangkai bunga Lily di tangannya.

"Selamat pagi, Bu guru cantik!" sapa siswa bernama Nicholas atau biasa di panggil Nico.

"Selamat pagi!" ucap Rania lalu mengambil setangkai bunga kesukaan dia dan suaminya dari genggaman Nico.

"Kau pulang ke rumah, kan?" tanya Rania sambil berjalan beriringan dengan siswa yang ukuran tubuhnya lebih tinggi darinya itu.

"Mmm.. kakakku tidak menteror Bu guru, kan?" tanya Nico seraya menoleh ke arah wanita yang berjalan dengannya itu.

"Tidak. Kau belum menjawab pertanyaan ku!" Rania lalu menghentikan langkahnya dan balas menatap tajam Nico.

"Aku pulang, bu. Kau tanyakan saja pada kakakku!" ujar Nico berusaha meyakinkan Rania bahwa ia pulang ke apartemennya semalam.

"Syukurlah! Kembali ke kelas, aku harus pergi ke ruang guru." Rania pun berlalu begitu saja, meninggalkan Nico yang masih berdiri di tempatnya.

Rania memasuki ruang guru, ia adalah wali kelas di kelas 3a. Hampir semua siswa sangat menyukainya, karena pribadinya yang hangat. Ia sering kali dijadikan tempat berbagi cerita oleh para siswanya.

Terutama Nico, yang merasa hidupnya selalu sendiri. Ibunya telah meninggal usai melahirkannya, ayahnya pula meninggal karena kecelakaan saat Nico berusia lima tahun dan meninggalkannya bersama seorang kakak yang bersikap kurang baik padanya.

Saat bertemu Rania, Nico merasa menemukan sosok pengganti ibu baginya. Tak ada tempat untuk ia membagi keluh kesahnya, selain Rania.

Nico tumbuh menjadi anak yang penyendiri, ia bahkan hampir tak pernah bicara dengan kakaknya, jika bukan hal yang mendesak. Kakaknya selalu menganggap bahwa dirinya adalah seorang pembawa sial yang telah menyebabkan kedua orangtua mereka meninggal.

Karena itulah, Nico tak pernah pulang ke rumah dengan teratur, kadang ia tak pulang. Akibatnya, Rania yang selaku wali kelas Nico selalu menjadi sasaran amarah kakaknya karena Nico tak pernah menjadi anak yang baik.

Tapi Rania selalu menghadapi kakak Nico dengan tenang, dan selalu mengatakan jika tak hanya pendidik yang harus mendidik anak, tapi juga peran keluarga.

Nico mendatangi kelas dan menghampiri salah satu temannya yang bernama Daniel yang tengah membaca sebuah buku.

"Daniel, apa kau punya informasi tentang pekerjaan paruh waktu untukku?" tanya Nico sambil melihat sekeliling, takut jika Rania datang tiba-tiba ke kelas dan mendengar percakapan antara dia dan Daniel.

"Kerja paruh waktu? Kita sudah kelas tiga, harus fokus untuk ujian akhir," jawab Daniel sambil menutup buku yang sedari tadi ia baca.

"Aku tahu, tapi aku butuh uang."

"Butuh uang? Kakakmu kan seorang dokter, kau tak pernah diberi uang olehnya?" tanya Daniel.

"Jika kau tak mau memberi ku pekerjaan, jangan membahas tentang kakakku!" ujar Nico lalu pergi menuju tempat duduknya. Ia pun mencari-cari lowongan pekerjaan paruh waktu melalui internet.

Nico pun tersenyum saat melihat sebuah lowongan pekerjaan dan berniat untuk pergi ke sana usai pulang sekolah.

***

Jam sekolah telah usai, Rania keluar dari ruang guru dan bersiap untuk pulang. Ia pun berjalan beriringan dengan Sovia menuju tempat parkir sekolah.

"Kau ada waktu? Aku dan suamiku ingin mengajakmu makan malam bersama ibu mertuamu," ajak Sovia ia berencana untuk mencoba menghibur Rania yang pasti masih merasa terluka karena suaminya yang tak kunjung ditemukan.

"Aku tidak bisa, aku harus menjemput Adi di band...." ucapannya terhenti. Ia ingat jika ia belum menerima kabar terbaru dari Tim SAR tentang suaminya. "Maksudku, aku harus ke kantor. Ibu mertuaku sedang mengontrol perusahaan," jelasnya.

"Oh, begitu. Baiklah, lain kali kita jadwalkan makan malam bersama," ujar Sovia yang sedikit merasa kecewa, tapi ia harus paham posisi Rania saat ini.

"Tentu. Kalau begitu, aku pergi duluan."

"Ya, hati-hati. Salam pada ibu mertuamu."

Rania bergegas menuju mobilnya, saat ia membuka pintu mobil, ia melihat Nico terlihat buru-buru dan berlari saat keluar dari gerbang sekolah.

"Semoga anak itu tak membuat masalah lagi," gumamnya lalu masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi menuju kantor.

Saat di perjalanan, ia melihat jam menunjukkan pukul 14.00, ia pun berniat untuk membeli beberapa makanan dan juga minuman untuk ia bawa ke kantor, khawatir jika ibunya belum makan sesuatu.

Ia pun mampir di sebuah toko kue yang juga menjual kopi.

"Selamat datang!" Suara yang tak asing bagi Rania terdengar dari balik etalase.

Dengan cepat Rania menoleh dan melihat seseorang yang ia kenal tengah sibuk menata kue hangat di etalase toko.

"Nico, sedang apa kau di sini?" tanya Rania saat melihat Nico tengah memakai celemek hitam. Nico hanya membulatkan matanya dan membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat sosok Rania yang datang untuk membeli kue di sana.

"Aku..." Nico menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Aku.. bekerja di sini," jawabnya terbata.

Rania menghela nafasnya dengan  halus, ia mendapat firasat jika sebentar lagi, akan ada yang menelponnya.

Kring! Kring!

Terdengar bunyi ponsel Rania dan terpampang nama 'Wali Nico'. Rania menunjukkan layar ponselnya pada Nico.

"Kau dalam masalah!" ucap Rania dengan ketus.

Bab 3

Nico meringis, ia tahu kakaknya pasti akan memarahi Rania. Rania pun mengangkat panggilan darurat dari kakak Nico.

"Selamat sore!" sapa Rania dengan nada tegas.

"Mengapa Nico tidak mengangkat teleponku, apa dia belum pulang?" tanya seseorang dibalik telpon Rania dengan ketus.

"Saya rasa anda menghubungi saya di waktu yang kurang tepat, karena jam sekolah sudah selesai dan di luar jam sekolah sudah bukan lagi tanggung jawab saya," jelas Rania lalu menutup panggilannya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia tak ingin terlalu panjang berdebat dengan kakak Nico yang bernama Nino.

"Aku sudah terlambat, berikan aku beberapa potong kue dan juga dua cappucino," pinta Rania.

Dengan segera Nico memberikan pesanan untuk Rania. Usai membayar dan mengambil pesanannya, Rania kembali menatap Nico dan berbisik, "Kita bahas masalah ini, besok!"

Nico tampak ketakutan, sementara Rania berjalan terburu-buru keluar lalu menuju perusahaan Zayn Group.

Sesampainya di sana, Rania langsung menuju ruangan yang dulu di tempati oleh Adi. Terlihat ibu mertuanya tengah melihat-lihat beberapa berkas.

Ruangan itu terlihat sedikit berantakan, Sarah lalu menutup berkas itu saat menyadari Rania masuk ke dalam ruangannya.

"Ada apa, bu?" tanya Rania yang melihat ibu mertuanya seperti sedang kebingungan.

"Keuangan perusahaan kita sedang menurun, beberapa investor mengundurkan diri semenjak Adi tiada," ujar Sarah lalu menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

Rania menghampiri Sarah lalu memeluk wanita paruh baya itu. "Bu, aku akan membantu perusahaan ini kembali naik."

Sarah bangkit, "Kita sebaiknya menjual perusahaan ini saja, Rania," ucap Sarah pasrah sambil menatap lekat menantunya itu.

"Tidak, Bu. Kita harus mempertahankan perusahaan ini. Kita tidak bisa menyerah begitu saja," ujar Rania.

"Lalu bagaimana?" tanya Sarah. Rania diam, ia sendiri pun tak tahu bagaimana cara mempertahankan perusahaan itu.

"Mas Adi akan kembali, Bu. Aku akan menjemputnya," ujar Rania tiba-tiba lalu meraih tas nya hendak keluar dari ruangan itu. Sarah segera menahan Rania.

"Rania, bisakah kau berhenti pergi ke sana? Kita hanya perlu menunggu saja," ujar mertuanya berusaha membujuk Rania agar tak lagi pergi ke bandara.

"Bu, dia memintaku untuk menjemputnya. Jadi aku harus pergi. Dia akan pulang," jawab Rania seraya meninggalkan mertuanya itu.

Mertuanya tak bisa menahan lagi Rania yang sudah beberapa hari ini tetap memaksakan diri pergi ke bandara.

"Kau seharusnya menunggu saja, Rania," gumam wanita paruh baya itu seraya meneteskan air matanya saat melihat foto anak lelakinya yang bernama Adipati Zainuri yang terpajang di tembok ruangan itu.

Sarah merasa sedih setiap kali melihat menantunya itu pergi ke bandara hanya untuk memastikan kepulangan suaminya yang tak kunjung kembali. Rania selalu pulang dengan air mata, karena Adi tak juga menepati janjinya untuk pulang.

"Aku harus membawanya ke seorang psikiater. Dengan begitu, sedikit demi sedikit ia bisa belajar merelakan Adi," pungkasnya.

***

Sepekan sudah Adi tak ada kabar, tapi Rania masih berharap Adi pulang.

Rania berdiri di tempat tunggu seraya membawa seikat bunga dan juga banner bertuliskan "welcome back my husband, i miss you!". Itu yang dia lakukan setiap hari, selama sepekan ini.

Di kursi tunggu lain, seorang pria sedang duduk dan tengah asik dengan ponselnya. Pria itu baru saja datang dari Singapura, mendatangi sebuah seminar kedokteran.

"Kemana anak itu pergi?" tanya Nino pelan sambil melihat ponselnya dan beberapa kali menghubungi seseorang.

Terlihat seperti nya pria itu sedang menunggu seseorang, dan benar saja beberapa saat kemudian seseorang datang menghampiri pria itu dengan dua gelas kopi di tangannya.

"Dokter Nino, maaf membuatmu menunggu lama," ucap seorang pria yang terlihat lebih muda dari pria yang tengah menunggunya itu.

"Tak apa," jawab pria bermata sipit itu singkat, sambil berdiri dari tempat duduknya. Saat ia melangkahkan kakinya menuju keluar bandara, tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia melihat sesosok wanita sedang berdiri sambil membawa seikat bunga sambil celingukan mencari seseorang.

"Ada apa, dokter?" tanya pria bernama Rangga yang berprofesi sebagai seorang dokter saraf itu. Tapi Nino, si dokter spesialis psikiater itu tak menjawabnya. Ia terus menatap Rania yang sedang berdiri tanpa mengerjapkan matanya.

"Wanita itu.. sepertinya ia sedang dalam keadaan yang tidak baik," ujar dokter bernama Nino yang belum melepaskan pandangannya pada Rania.

"Oh, aku dengar tentang wanita itu dari beberapa orang di sekitar sini saat aku membeli kopi untukmu, mereka mengatakan jika wanita itu telah menunggu suaminya pulang dari Singapura yang seharusnya telah kembali seminggu yang lalu. Kau tahu, suaminya adalah salah satu korban kecelakaan pesawat," jelas Rangga menceritakan semua yang ia dengar dari orang-orang.

"Apa? Bukankah semua korban telah di temukan meninggal?" tanya Nino yang masih tak beranjak dari tempatnya dan pandangannya masih menatap Rania.

"Satu korban masih dinyatakan menghilang, dan mereka mengatakan jika suami wanita itu lah yang diduga hilang," lanjut Rangga berbicara seolah tahu semua tentang Rania dan kejadian yang telah menimpa Adi.

"Oh begitu. Kalau begitu, ayo kita pergi!" Nino dan Rangga pun berjalan keluar dari bandara itu.

Saat ia hendak melangkah, ia mendengar seorang petugas bandara yang mencoba mengusir Rania.

"Maaf, nona, tapi semua penumpang dari Singapura sudah keluar semua," ujar petugas itu.

"Pasti suamiku masih di dalam." Rania memaksa untuk masuk, tapi petugas itu terus mencegahnya.

"Maaf, nona, kau harus keluar! Silahkan!" pinta petugas itu.

"Mas Adi!" teriaknya memanggil Adi, semua orang yang berada di sana pun menatap Rania.

"Pak, aku mohon, suamiku pasti masih di dalam."

"Maaf, nona. Silahkan keluar!"

Rania pun keluar sambil menangis, sementara itu, Nino hanya menatap Rania yang tengah dipaksa keluar dari bandara.

Tiba-tiba saja perut Rania terasa sakit dan kram. Ia pun meringis kesakitan. Nino yang melihatnya pun segera berlari dan memberikan kopinya pada Rangga.

"Hey, kau mau kemana?" tanya Rangga lalu menyusul Nino.

Nino segera menangkap tubuh Rania yang hampir terjatuh. "Kita ke rumah sakit," ujar Nino tiba-tiba membuat Rania terkejut sekaligus kebingungan mendapati orang asing mendekatinya.

"Tidak perlu, aku baik-baik saja!" Rania mencoba berdiri, tapi sakit di perutnya semakin menjadi. "Aaah!" teriaknya.

"Rangga, cepat bantu aku! Bawa dia ke rumah sakit!" teriak Nino yang meminta agar Rangga membantu mengangkat Rania. Tapi, Rangga kebingungan karena kedua tangannya tengah menggenggam kopi.

"Cepat!" teriak Nino, lalu Rangga menaruh kopi itu di sembarang tempat dan membantu mengangkat tubuh Rania.

Rania pun akhirnya hanya bisa pasrah saat Rangga dan Nino membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Nino dan Rangga segera membawa Rania ke unit gawat darurat dan memanggil dokter lain untuk memeriksa keadaan Rania.

Setelah selesai memeriksa Rania, dokter itu pun keluar dan menemui Nino dan juga Rangga yang masih menemani Nino.

"Dia sedang hamil, dan dia mengalami kram perut karena mungkin terlalu banyak pikiran," ujar dokter bernama Nirwan.

"Apa? Hamil?"

"Siapa diantara kalian yang bertanggung jawab?" tanya dokter Nirwan itu dengan tatapan seolah tengah menyelidiki kedua dokter muda di depannya itu.

"Kami menemukannya di bandara tadi," jawab Nino dingin. Melihat ekspresi Nino yang datar pun membuat Nirwan terkekeh.

"Iya, aku tahu kalian masih lajang, temui dia! Aku harus pergi!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED