Sampul Novel Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu

Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu

9.8 / 10.0
Tujuh tahun mendampingi Damian Crestfall, pewaris takhta Crestfall Group, Alira Evangeline Moore justru harus menelan pil pahit saat lamarannya ditolak. Dalam kondisi mengandung, ia dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi cinta atau menyelamatkan sang buah hati. Merasa dikhianati oleh janji manis kekasihnya, Alira pun memilih pergi selamanya. Ia bertekad melindungi janin di rahimnya dan membangun hidup baru yang mandiri tanpa bayang-bayang Damian.

Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu Bab 1

Alira menatap pantulan dirinya di cermin kamar apartemen yang sunyi. Mata cokelatnya yang biasanya bersinar dengan penuh semangat kini tampak redup, dikelilingi lingkaran gelap akibat tidur yang terganggu dan air mata yang tak henti mengalir sepanjang malam. Ia meraba perutnya yang kini mulai membulat sedikit. Sentuhan itu terasa hangat sekaligus menusuk hati. Bayi kecil itu-anaknya-adalah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.

Di balik jendela besar, lampu kota menembus tirai tipis. Gedung-gedung pencakar langit berkilauan, seolah dunia luar tak peduli pada badai yang sedang ia rasakan. Alira menelan ludah, mencoba menenangkan diri, tapi rasa sakit di dadanya tetap tak tertahankan. Ia membayangkan wajah Damian-pria yang telah menjadi segalanya bagi hidupnya selama tujuh tahun terakhir-dan perkataan dinginnya yang menusuk lebih dalam dari pisau.

"Alira... aku tidak akan menikahimu," kata Damian, masih terngiang di telinganya. Kata-kata itu begitu sederhana, namun meninggalkan kehampaan yang tak tergambarkan.

Ia menutup mata sejenak, membayangkan saat pertama kali bertemu Damian. Waktu itu, ia adalah wanita muda yang penuh impian, bekerja sebagai asisten kreatif di sebuah perusahaan kecil. Damian adalah pewaris mahkota hiburan, seseorang yang tampak jauh dari jangkauannya. Tapi senyum dan perhatian Damian membuatnya percaya bahwa dunia bisa saja indah, bahwa cinta mereka bukan sekadar fantasi.

Dan mereka jatuh cinta. Lambat, tetapi pasti. Tujuh tahun yang lalu, Damian menjemputnya di bandara dengan seikat mawar putih, dan sejak saat itu, hidup Alira seolah memasuki dimensi baru yang penuh cahaya.

Namun sekarang... semuanya hancur.

Alira berbalik, menatap ruang tamunya yang teratur rapi, hampir terlalu rapi untuk menjadi rumah seorang wanita yang baru saja menghadapi pengkhianatan sebesar ini. Ia meraih tasnya, menumpuk beberapa pakaian dan barang-barang penting. Tidak ada yang harus ditinggalkan. Tidak ada yang benar-benar bisa kembali. Ia akan pergi, dan itu sudah pasti.

Di lorong apartemennya, Alira berjalan pelan. Setiap langkah terasa berat, seakan dunia menolak membiarkannya melangkah pergi. Ia membuka pintu depan, menyadari bahwa malam sudah larut. Hujan tipis mulai turun, membasahi jalanan kota. Setiap tetes yang mengenai wajahnya terasa seperti pengingat bahwa ia harus melanjutkan hidup-untuk dirinya, dan untuk anaknya.

Dalam perjalanan ke mobilnya, pikirannya kembali pada Damian. Mengapa ia begitu dingin? Mengapa setelah semua yang mereka lalui, semua cinta dan pengorbanan yang telah mereka bagi, ia bisa berkata seperti itu?

Alira menekan tombol kunci mobil dan masuk ke dalamnya. Setiap gerakan terasa mekanis, seolah tubuhnya bergerak tanpa perintah hati. Ia menyalakan mesin dan meninggalkan gedung itu. Lampu jalan yang berkelap-kelip, suara ban yang menempel di aspal basah, semua terasa seperti irama yang menghantarkan kesedihannya lebih dalam.

Ia menuju ke sebuah hotel kecil di pinggiran kota. Bukan untuk liburan, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk memberi dirinya ruang. Ruang untuk berpikir, menangis, dan merencanakan langkah selanjutnya. Alira tahu, meninggalkan Damian bukan akhir dari segalanya. Tetapi ia harus memastikan bahwa anaknya aman dari dunia Damian, yang penuh dengan intrik dan tekanan.

Begitu tiba di hotel, ia memasuki kamar dan menutup pintu dengan lembut. Hanya suara hujan yang menemani. Alira duduk di tepi ranjang, menundukkan kepala, dan membiarkan tangisnya keluar. Ia menangis bukan hanya untuk cintanya yang hilang, tetapi juga untuk masa depan yang harus ia bangun sendiri.

Seiring malam beranjak larut, Alira mencoba menenangkan diri. Ia menatap perutnya, merasakan tendangan kecil bayi yang baru mulai aktif bergerak. Senyuman kecil muncul di wajahnya, meski hati masih penuh luka. "Aku akan menjaga kamu," bisiknya lirih. "Aku akan melindungimu, tidak peduli apa pun yang terjadi."

Keesokan paginya, Alira bangun dengan tekad yang lebih kuat. Ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Serena, satu-satunya orang yang tahu tentang kehamilannya dan selalu menjadi tempatnya bersandar. Telepon pun ia genggam, jari-jari gemetar saat menekan nomor.

"Halo, Serena... aku butuh tempat untuk tinggal sementara. Aku... aku harus pergi dari rumah sekarang," ucap Alira dengan suara serak.

"Alira... tenang dulu. Aku di sini. Aku akan menjemputmu. Jangan lakukan apa pun sebelum aku datang," jawab Serena dengan suara yang menenangkan namun penuh kepanikan.

Setengah jam kemudian, Serena muncul di depan hotel. Mobil yang ia kendarai berhenti dengan halus, dan tanpa banyak bicara, Alira masuk ke dalamnya. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Pandangan mereka bertemu, dan Serena memahami sepenuhnya kesedihan yang dialami sahabatnya itu.

Dalam perjalanan menuju rumah Serena, Alira menatap hujan yang terus turun. Ia tahu, langkah ini bukan sekadar lari dari Damian. Ini adalah awal dari hidup baru. Hidup yang harus ia jalani demi dirinya dan anak yang sedang tumbuh di rahimnya.

Setibanya di rumah Serena, Alira langsung disambut hangat. Ruangan itu sederhana, penuh tanaman, dan memiliki aroma kopi yang menenangkan. "Di sini, kamu aman. Tidak ada yang bisa menyakitimu di sini," kata Serena sambil memeluk Alira.

Alira menutup mata, merasakan kehangatan pelukan itu. Untuk pertama kalinya sejak malam kemarin, ia merasa sedikit lega. Meskipun luka di hatinya belum sembuh, setidaknya ada seseorang yang menemaninya.

Hari-hari berikutnya diisi dengan rutinitas sederhana: berjalan-jalan pagi untuk kesehatan bayi, memasak makanan bergizi, dan tidur lebih awal untuk mengumpulkan tenaga. Namun di balik itu, pikiran Alira selalu kembali pada Damian. Ia mencoba menepis rasa sakit itu, tetapi setiap kenangan yang muncul membuatnya tersentak.

Suatu pagi, ketika Alira sedang menyiapkan sarapan, Serena datang dengan ekspresi serius. "Alira... aku tahu ini berat, tapi kau harus mulai memikirkan masa depan. Apakah kau ingin Damian tahu tentang bayi ini? Apakah kau ingin berurusan dengan keluarga Crestfall yang bisa jadi... rumit?"

Alira menatap secangkir kopi yang dipegangnya, diam sesaat sebelum menjawab, "Tidak... tidak untuk sekarang. Aku hanya ingin memastikan aku dan anakku selamat terlebih dahulu. Setelah itu... baru aku akan memikirkan segalanya."

Serena mengangguk. "Baik. Tapi kau harus siap, Alira. Dunia Damian bukan dunia yang sederhana. Bahkan meski ia tak mau menikahimu, ia mungkin tetap ingin mengontrolmu, atau setidaknya... bayimu."

Kata-kata itu menusuk, tapi Alira tahu sahabatnya benar. Ia harus lebih waspada. Ia bukan lagi gadis muda yang bisa terlena oleh pesona seorang pria kaya dan tampan. Ia adalah seorang ibu, dan keselamatan anaknya adalah segalanya.

Hari demi hari berlalu, dan Alira mulai menata hidupnya kembali. Ia menelusuri pekerjaan baru yang memungkinkan ia bekerja dari rumah, menabung untuk kebutuhan bayi, dan perlahan-lahan membangun ketahanan emosional. Meski hatinya masih sering diliputi rasa sakit ketika mengingat Damian, ia belajar bahwa hidup harus terus berjalan.

Suatu sore, ketika hujan turun lagi di luar, Alira duduk di tepi jendela sambil menatap tetesan air yang mengalir. Ia membayangkan masa depan yang mungkin ia miliki: rumah kecil, anak yang bahagia, dan hidup yang tenang tanpa bayang-bayang Crestfall. Di hatinya, ia berbisik, "Aku akan membuktikan bahwa aku bisa bertahan. Aku dan anakku... kita akan baik-baik saja."

Dan di sanalah, di kamar sederhana itu, Alira mulai menulis bab baru dalam hidupnya. Bab yang penuh keberanian, keteguhan, dan cinta tanpa pamrih. Bab yang akan mengajarkannya bahwa bahkan ketika dunia runtuh, seorang ibu selalu menemukan cara untuk bangkit-untuk dirinya, dan untuk anak yang menjadi alasan hidupnya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta matiku pada sang tunangan, Bima Wijoyo, berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang api di studio seni demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terbangun di masa lalu tepat sebelum rapat keluarga besar dimulai, aku membawa memori pahit tentang kobaran api itu. Kali ini, aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami di hadapan semua orang. Aku bersumpah tidak akan mati konyol untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Kehidupan Ratih Apsari hancur setelah memergoki suaminya berselingkuh. Usai bercerai, sebuah ketidaksengajaan membuatnya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka melewati malam bersama. Tak disangka, pria itu adalah CEO baru di tempatnya bekerja. Sempat curiga telah dijebak, Ratih justru mulai jatuh cinta seiring kebersamaan mereka. Kini ia bimbang karena status sosial dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Haruskah ia menerima cinta baru ini atau kembali pada mantan suaminya?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung petaka. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke pusaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi makian dan adegan dewasa, gadis lugu ini terperangkap dalam cinta segitiga yang rumit bersama dua pria. Simak perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Kasih sayang mendalam sebagai ibu memaksa Neva Zetrix mengesampingkan harga dirinya demi melindungi sang anak yang tak berdosa. Setiap hari, ia harus tunduk dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson yang sangat dominan. Demi keselamatan buah hatinya, Neva rela bertahan melewati penderitaan batin dan tekanan konstan. Kisah perjuangan penuh pengorbanan ini memperlihatkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi peliknya dinamika hubungan yang menjerat hidupnya.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
Demi ambisinya, William yang merupakan putra bos mafia kejam rela melakukan segalanya. Namun, ayahnya yang bernama Ferdinand tewas secara tragis akibat sebuah pengkhianatan fatal. Kematian ini membuat sang istri, Rosemary, mulai menyadari sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Kini, William bertekad membalas dendam sekaligus membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah. Meski jalannya dihalangi seorang polisi wanita, William takkan mundur hingga peluru terakhirnya habis.
Sampul Novel PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
8.7
Elena mengira hidupnya sempurna bersama Samuel Adinata, CEO Royal Adinata yang menjadi suami sekaligus ayah idaman bagi Eliott. Namun, topeng kepedulian Samuel perlahan terkikis, menyingkap rahasia gelap yang selama ini tersembunyi rapat. Elena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah rencana licik. Menyadari dirinya hanya diperalat demi ambisi terselubung sang suami, amarah Elena pun meledak.

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED