Lilian menghela napasnya dan kembali mendesah. Gadis berkacamata berambut hitam bergelombang itu tampak sangat gelisah di depan meja kerjanya.
Kemarin saat dirinya menghadiri pesta pernikahan Myan dan Devon yang merupakan putra dari bos tempatnya bekerja, Lilian sudah merasakan firasat yang begitu buruk.
"Ini untukmu, mungkin tidak seberapa, aku harap kau dapat menemukan kebahagiaanmu dan segera menyusulku Lilian."
Ucapan Myan kemarin masih terngiang-ngiang jelas di pikirannya. Lilian ingat ekspresi lembut dan tulus dari Myan saat ia berkata pada dirinya.
Setelahnya, ia merasa tidak tenang karena Myan, istri Devon memberikan sepasang gelang kulit berbandul kristal kepadanya tempo hari. Mengembalikan lebih tepatnya, karena memang gelang tersebut sebelumnya adalah miliknya.
"Kau wanita yang baik, berkat dirimu aku dapat bersatu dengan orang yang aku cintai. Aku berharap kau pun dapat mengalaminya Lilian." Myan tersenyum padanya.
"Ini juga, aku kembalikan. Kami sudah cukup mendapat kebahagiaan yang kami inginkan." Lalu Myan saat itu meletakkan begitu saja sepasang gelang kulit yang ia maksudkan sebelumnya.
Gelang kulit yang konon dapat menyatukan pasangan yang berjodoh itu akan bersinar apabila seseorang bertemu dengan pasangan sejatinya. Dan saat Myan meletakkan di atas telapak tangannya sendiri saat itu, Lilian bersumpah melihat gelang itu bersinar!
Lilian seketika shock dan begitu ketakutan saat dirinya dapat dengan jelas melihat seberkas sinar putih yang bercahaya dari bandul batu kristal tersebut.
Ia sangat ketakutan lalu refleks melempar begitu saja gelang pasangan yang membuatnya bergidik itu di tengah-tengah hamparan taman bunga tempat acara pesta berlangsung. Setelah itu Lilian melarikan diri secepatnya dan pergi begitu saja dari sana tanpa menoleh lagi sedetik pun.
Selama 30 tahun dalam hidupnya, baru kali ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa gelang tersebut benar-benar bersinar di hadapannya!
"Apa gelang itu benar-benar akan membuatku bersatu dengan pasangan jiwaku?" Lilian bertanya-tanya dalam hati.
Seperti yang telah gelang itu lakukan pada Myan dan Devon, gelang pasangan itu menyatukan mereka dengan cara yang unik dan misterius.
"Tidak, semua pasti hanya kebetulan. Tidak mungkin semudah itu aku akan bertemu dengan jodohku kan?" gumamnya lagi sambil menerawang.
Lilian kemudian memandang buket bunga yang masih tergeletak tepat di atas mejanya.
Kemarin tanpa sadar ia membawa buket tersebut ke dalam kantor saat dirinya melarikan diri dari tempat pesta. Lilian yang terburu-buru hanya sempat mengambil berkas penting miliknya, dan tak sengaja meninggalkan buket itu.
Lilian tersenyum sinis dan menggeleng. Dalam hatinya terasa pilu dan pedih saat seseorang memberinya sedikit kehangatan atau menunjukkan perhatian kepadanya.
Lilian tak ingin, Lilian merasa tidak pantas untuk mendapatkan kehangatan atau pun kasih sayang dari seseorang. Siapapun itu.
"Hh! Myan, kau tak tahu apa-apa tentang diriku. Aku bukanlah siapa-siapa." Lilian kembali mendesah dan menyandarkan dirinya pada kursi kerjanya.
Jika orang lain tahu siapa dirinya sebenarnya, ia ragu mereka akan tetap mau bertahan di sisinya tanpa syarat apa pun.
Sampai saat ini ia hanya membuka rahasia kelamnya pada satu orang. Orang itu adalah Tuan Greg. Bos pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Ayah Devon.
Lilian berhasil bekerja di perusahaannya karena ia pernah menyelamatkan Greg dari kematian. Jika bukan karena itu, ia sendiri ragu perusahaan lain akan menerimanya untuk bekerja. Dan hanya Greg yang membantunya bertahan sejak ia remaja hingga saat ini.
Ketukan halus pintu ruangan miliknya, seketika membuyarkannya dari lamunan.
Ya, Lilian memiliki ruangan sendiri dalam perusahaan. Karena kebaikan Greg dan rasa pengertian pria itu padanya, ia dapat leluasa bekerja tanpa perlu banyak berinteraksi dengan orang lain.
"Selamat pagi Lilian! Aku ingin kau memeriksa hasil kerjaku sebelum aku menyerahkannya pada Tuan Greg." Silvia gadis berambut pirang dan bermata biru itu tersenyum cerah padanya.
Silvia adalah sekretaris Tuan Greg. Jika ia ditempatkan di ruangan depan di mana semua orang dapat melihatnya, lain halnya dengan Lilian. Lilian menempati ruangan di belakang Silvia, tepat sebelum tikungan yang menghubungkannya ke lorong kecil dan mengarahkannya ke pintu masuk ruangan Greg.
"Baiklah, letakkan saja Silvia, aku akan memeriksanya untukmu."
"Oke." Seolah mengerti jika Lilian tak suka disentuh, Silvia meletakkan begitu saja tumpukan berkas-berkas di atas mejanya.
"Ah! Satu lagi, apa mungkin kau ingin bergabung dengan kami untuk makan siang nanti? Karena seperti rumor yang aku dengar, hari ini kita akan kedatangan klien penting yang sangat tampan yang akan bekerjasama dengan perusahaan periklanan kita. Apa kau tahu siapa orangnya Lilian?" Silvia tersenyum penuh semangat.
"Dia adalah Jaden! Oh My God! Kau tahu betapa tampan dan menariknya ia sebagai seorang selebriti chef terkenal yang banyak dikagumi oleh para penggemarnya?"
"Aww! Aku tak sabar ingin melihat wajah aslinya dari dekat!" Silvia bercerita dengan menggebu-gebu dan tanpa sadar pula sedikit berjingkrak karena terlalu bersemangat.
Lilian tak memberikan reaksi apa pun selain tatapan datar yang biasa ia berikan pada siapa pun.
"Aku akan memberikan laporanmu tepat saat makan siang. Itu akan ada di mejamu dengan hal-hal yang perlu kau perbaiki nantinya."
Hanya itu saja balasan yang Lilian berikan padanya. Jelas ia tak tertarik sedikit pun dengan cerita Silvia.
"Oke. Dan Lilian, bisakah kau sedikit lebih menyenangkan dan.... ah, sudahlah lupakan saja."
Silvia berhenti berbicara saat Lilian menatapnya dengan tatapan tajam. Ia berlalu dan keluar begitu saja dari ruangan Lilian tanpa menyelesaikan ucapannya.
Lilian menghembuskan napasnya. Sedikit lega karena ia telah terbebas dari celotehan Silvia pagi ini.
Tak berselang lama, telepon di atas mejanya berdering. Lilian segera menerima telepon tersebut karena menandakan sambungan penerimaan telepon dari meja Silvia sedang sibuk.
"Halo selamat pagi, Starry Advertising. Dengan Lilian, ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat pagi. Aku Seth sekretaris Tuan Jaden, ingin mengkonfirmasi lagi jadwal pertemuannya dengan Tuan Greg."
"Baik silakan, saya akan mencatat pesan Anda".
"Tuan Jaden kemungkinan akan sedikit terlambat untuk jadwal pertemuan dengan Tuan Greg karena ia masih harus menyelesaikan pemotretan yang telah terjadwal. Bisakah Anda mengatur ulang kembali jadwal pertemuannya dengan Tuan Greg, Nona?"
"Boleh saya tahu, Tuan Jaden ingin menyesuaikan pertemuan pada jam berapa?"
"Sekitar jam dua setelah makan siang. Semoga jalanan tidak padat. Jika ada pemberitahuan perubahan lagi, aku akan mengkonfirmasi kembali."
"Baik Tuan Seth, sudah saya catat. Anda nanti dapat menemui Silvia, sekretaris Tuan Greg. Ia akan mengantarkan Anda dan Tuan Jaden ke tempat ruang pertemuan."
"Baik, terima kasih"
Setelah panggilan terputus, Lilian segera menghubungi Greg untuk memberitahu perubahan jadwalnya hari ini.
Beberapa bulan ini Greg sering memilih untuk bekerja dari rumah. Setelah putra satu-satunya Devon mengalami kecelakaan dan harus menjalani pemulihan, ia sementara waktu memilih untuk menemani putranya dan melakukan pekerjaan-pekerjaannya dari rumah saja.
Dan setelah putranya menikah kemarin, ada kemungkinan Greg akan mulai bekerja lagi di kantor. Terbukti, sudah beberapa hari ini ia memerintahkan Lilian untuk menetap di kantor tanpa perlu kembali lagi ke kediamannya.
Lilian bisa dibilang sekretaris merangkap asisten Greg yang cekatan. Ia tak akan menyia-nyiakan atau menghabiskan waktu kerjanya untuk hal yang menurutnya tak berguna. Selama ini, semua pekerjaan dan kepentingan Greg dapat Lilian atasi dengan cermat dan tepat waktu.
Lilian senang menghabiskan waktu kerjanya untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor yang memang menuntut tanggungjawab yang tinggi. Untuk itu, Greg selalu mempercayakan semua urusan kantor pada Lilian. Karena Greg sendiri telah mengakui kemampuan dan kecerdasan Lilian dalam menyelesaikan pekerjaannya.
****
Tak terasa waktu telah menunjukkan jam makan siang. Laporan milik Silvia yang ia koreksi dan janji ia berikan saat jam makan siang pun telah selesai Lilian periksa.
"Oke, berkas kontrak dan laporan sudah beres." gumamnya puas dengan hasil pekerjaannya sendiri.
Lilian bangkit dari kursinya. Menenteng berkas milik Silvia, dan di tangan yang lainnya ia menggenggam sebuah mug kopi miliknya untuk ia isi ulang lagi.
Pada saat jam makan siang kantor biasanya sepi. Dan ini kesempatan bagi Lilian untuk leluasa keluar masuk pantri kantor tanpa berpapasan dengan banyak orang.
Ia sudah biasa melewatkan jam makan siangnya sendirian. Ia terbiasa makan sedikit biskuit atau buah dan minum kopi atau jus sekadar untuk mengganjal perutnya.
Lilian menuju meja kerja Silvia setelah ia menutup pintu penyekat ruangannya sendiri. Saat ia hendak meletakkan berkas milik Silvia, seseorang tiba-tiba masuk dan menyapanya.
"Halo, selamat siang!"
Seorang pria berwajah menarik dan berbadan ideal dan lebih tinggi darinya melangkah masuk ke dalam ruangan para karyawan.
"Apa kau Silvia? Aku kemari untuk bertemu dengan Tuan Greg," wajah cerah pria itu tersenyum padanya.
Lilian yang terkejut dengan kehadiran pria tak dikenal itu sedikit bersikap waspada. "Maaf, apa Anda sudah membuat janji?" tanyanya kemudian.
"Ya, aku sudah membuat janji. Sebenarnya, aku mungkin datang terlalu cepat dari jadwal yang seharusnya sudah dijanjikan. Aku kemari untuk..."
Mungkin karena pembawaan sikapnya yang terlalu ramah, pria itu secara natural maju untuk lebih dekat dengan Lilian.
Tapi Lilian yang begitu panik karena kedekatan yang tiba-tiba, sontak mundur beberapa langkah untuk menghindari kedekatan pria itu, hingga tanpa sadar heelsnya membelit kabel yang menjulur di antara meja Silvia dan sukses membuatnya terhuyung.
Sialnya kejadian itu membuatnya menumpahkan sisa kopi pada bajunya sendiri!
Beruntung! Karena refleksnya, Lilian berhasil menopang tubuhnya dengan salah satu lengannya sehingga ia tidak sampai terjatuh yang mungkin dapat membuat situasinya lebih memalukan lagi baginya.
"Wow! Kau tak apa-apa? Biarkan aku membantumu untuk ..."
"Jangan!"
Lilian bangkit dari keterkejutannya sendiri saat pria itu semakin mendekat dan berusaha untuk membantunya. Pria itu sendiri tampak sedikit terkejut dengan sikap keras Lilian.
Lilian meraih beberapa helai tisu yang ada di atas salah satu meja rekannya yang lain.
"Maaf. Maksudku terima kasih, tapi saya bisa sendiri." Ia segera membersihkan noda kopi yang terpercik pada kemejanya.
Tak beberapa lama kemudian suara cekikik dan riuh terdengar dari arah pintu masuk.
"Tuan Jadennn?! Oh, ya Tuhan!"
Suara Silvia yang mendominasi, terdengar paling keras di antara karyawan lainnya yang bersamanya. Ia begitu terkejut sekaligus bersemangat mendapati sosok pria yang ada di dalam kantor mereka.
Ia dan dua orang rekan kerjanya yang lain segera berhambur mendekati pria itu dengan wajah berseri-seri.
"Apakah Anda sudah lama datang, Tuan Jaden?" Silvia bertanya dengan nada semanis mungkin.
"Tidak juga, aku datang terlalu awal dari jadwal yang telah dijanjikan."
"Oh benarkah? Perkenalkan, aku Silvia," Silvia mengulurkan tangannya di hadapan Jaden.
"Bagaimana jika kita menunggu di ruang tunggu sebelum kedatangan Tuan Greg? Oh, bagaimana dengan makan siang? Apakah Anda sudah makan siang? Mari bergabung dengan kami agar kami dapat berfoto dan meminta tandatangan Anda. Jika Anda berkenan tentunya, karena kami adalah penggemar Anda!"
Silvia dan dua rekannya yang lain kembali terkikik dan berbinar. Ia memberondong pria itu dengan banyak pertanyaan sembari mengelilinginya dengan genit.
"Tentu!" Jaden tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putih dan rapinya. Ia menerima uluran tangan Silvia.
"Lilian, masih ada waktu sebelum Tuan Greg kembali ke kantor bukan?" Tanya Silvia pada Lilian dengan tatapan penuh pengharapan.
"Satu jam lagi Tuan Greg akan ada di tempatnya." Lilian mengamati jam tangannya sebelum akhirnya menjawab dengan formal.
"Oke, baiklah! Kalau begitu aku akan mengantar Tuan Jaden ke ruang pertemuan sebelum Tuan Greg datang." Silvia mengedip pada Lilian memberinya isyarat ceria.
"Mari Tuan, kami akan tunjukkan ruangan untuk Anda. Bolehkah kami meminta foto dan tandatangan Anda Tuan Jaden?" lagi-lagi Silvia merajuk dengan manja.
"Dengan senang hati. Dan please, panggil Jaden saja nona-nona cantik."
Kali ini Jaden mengerling pada Silvia dan yang lainnya, hingga lagi-lagi mereka berjingkrak sambil menahan pekik histerisnya.
Lilian berjalan dengan tenang melewati mereka menuju pantri tanpa berkomentar apa pun lagi. Dari balik kaca pantri, sangat jelas terlihat Jaden yang begitu bersinar berjalan dengan bangga dibuntuti oleh beberapa karyawan wanita yang histeris melihatnya. Bahkan, beberapa karyawan wanita lainnya juga ikut bergabung ke dalam rombongan 'arak-arakan' Jaden ketika Silvia membawa Jaden keluar dari ruangan utama.
Para pekerja yang dominan wanita di lantai ini seolah begitu terlena dengan euforia kedatangan selebriti tampan ke kantor mereka. Dalam sekejap kantor terasa riuh, sebelum akhirnya hening kembali seiring dengan kepergian Jaden.
Lilian mengaduk kopinya dengan tenang. Ia merasa dapat bernapas lega. Tanpa ia sadari, sendok yang ia gunakan untuk mengaduk cairan pekat miliknya itu bergetar. Tidak! Bukan sendoknya, tapi tangannya lah yang gemetar!
"Hufht!" Lilian membuang napasnya dengan keras.
Lilian bersandar pada meja pantri, meremas kedua tangannya, berharap ia dapat meredakan getarannya. Ia kemudian kembali mengatur napasnya dan menghembuskannya lagi perlahan-lahan. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ya. Ia sedang takut. Sangat takut.
Ia memiliki sedikit ketakutan saat bertemu dengan orang asing yang mendekatinya, terutama pria. Dan Jaden tadi begitu mengejutkannya saat tiba-tiba ia mendekat padanya.
_____*****_____
Lilian duduk di samping Greg selama meeting berlangsung. Setelah ia menyiapkan ruangan dan materi yang sekiranya sesuai dengan profil Jaden, ia berfokus pada laptopnya dan bersiap untuk mencatat poin-poin penting.
"Selamat siang, maaf saya sedikit terlambat."
Seth, sekretaris Jaden sendiri ikut bergabung beberapa menit sebelum meeting dimulai.
Para peserta meeting lainnya juga telah bersiap di tempatnya masing-masing untuk pertemuan kali ini. Selain dirinya, perwakilan dari divisi Media Planner, Creative Director, serta seorang Account Executive senior kepercayaan Greg juga turut serta di dalam meeting.
"Tak apa, silakan bergabung, Tuan." Greg tersenyum santai dan ramah.
Klien yang agensi dapatkan kali ini adalah seorang selebriti chef terkenal yang sedang naik daun. Greg tentu saja akan memberikan pelayanan maksimal untuk memenuhi kebutuhan klien penting tersebut.
Jaden yang memiliki begitu banyak penggemar sudah pasti akan menjadi magnet yang bagus untuk perusahaan agensi periklanan milik Greg. Ia pasti akan membawa keuntungan yang baik bagi perusahaannya.
"Baik, terima kasih untuk kepercayaan Anda pada agensi kami, Tuan Jaden. Akan kami pastikan, semua yang Anda inginkan akan kami sediakan dan siapkan semaksimal mungkin." Greg menutup meeting dengan wajah ceria.
Ia optimis dengan kepercayaan dan pilihan Jaden yang bekerjasama pada perusahaannya, nantinya akan menarik lebih banyak lagi selebriti lain untuk mengikuti jejaknya.
"Kami akan segera mulai bekerja secepat dan sebaik mungkin. Jika ada sesuatu yang mungkin Anda inginkan untuk proyek iklan komersial atau apa pun itu, Account Executive kami, William, akan dengan senang hati membantu Anda."
"Ia nanti akan menerusakan keinginan Anda pada perusahaan melalui Lilian. Dan Lilian yang kemudian akan mengurus segala kebutuhan dan semua permintaan Anda." Greg menjelaskan lebih lanjut.
"Terima kasih Tuan Greg. Aku tidak sabar ingin segera memulai proyek dengan kalian." Balas Jaden formal.
"Dengan kecakapan para karyawan Starry, aku rasa aku pasti puas dengan hasilnya nanti. Ditambah, Anda memiliki begitu banyak karyawan muda yang energik dan cantik-cantik." Jaden tersenyum lebar dan mengedipkan matanya dengan gaya kasual.
Greg tergelak menanggapi lelucon Jaden. "Benar! Bukan hanya kecantikan, tetapi juga kemampuan mereka semua layak untuk diperhitungkan. Aku dengar Anda begitu kewalahan menghadapi mereka?" Giliran Greg mengedipkan matanya untuk membalas lelucon Jaden.
"Woah! Anda benar, bukan hanya bahu, jari tangan, bahkan tubuhku tak sanggup untuk melayani mereka semua, Tuan!" Jaden memutar-mutar bahunya seolah ia telah melakukan pekerjaan yang berat.
"Haha! ... jangan biarkan orang lain salah paham dengan maksud Anda! Terima kasih sudah melayani karyawan kami yang merupakan penggemar Anda. Terima kasih juga untuk acara sesi foto dan tanda tangan yang tak terduga. Berkat Anda, karyawan kami kembali bersemangat. Haha! ..." Greg kembali tergelak.
"Anda salah satu klien kami yang berharga. Kami pastikan akan memuaskan keinginan Anda, Tuan." Greg menjabat tangan Jaden untuk menutup kesepakatan kerjasama mereka.
"Please, Jaden saja. Jangan terlalu formal padaku." Jaden menerima uluran tangan Greg dengan senyum lebar.
"Baiklah, kalau begitu, kau juga dapat melakukan hal yang sama padaku, Jaden."
"Tentu, Greg! Terima kasih."
Rombongan meeting mulai bergerak keluar untuk mengikuti Greg dari belakang. Jaden dan sekretarisnya Seth pun ikut keluar.
"Baiklah, kalian bisa mulai mengerjakan proyek untuk Tuan Jaden. Ingat untuk menyerahkan segala hasil pekerjaan kalian pada Lilian, agar ia dapat memeriksanya." Greg memerintahkan para karyawan dibidangnya untuk mulai bekerja. Setelah mengangguk, mereka undur diri untuk kembali ke tempatnya masing-masing.
"Baiklah Jaden, masih ada jadwal yang harus aku penuhi. Silakan kau bicarakan dan utarakan hal-hal yang mungkin belum tersampaikan pada meeting kita tadi pada Lilian." Greg merujuk pada Lilian yang kemudian mengangguk padanya.
"Tak masalah, terima kasih Greg," balas Jaden lagi.
Greg berbalik ke arah Lilian," Lilian, aku serahkan padamu." Greg menepuk ringan bahu Lilian, dan ia mengangguk tanda mengerti.
"Baik Tuan, Silvia yang selanjutnya akan menemani Anda. Semua jadwal Anda hari ini sudah saya sampaikan padanya."
Greg mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan Lilian dengan kedua pria itu.
"Tuan-Tuan mari silakan mengikuti saya. Saya akan menyiapkan kontrak dan menjelaskan isinya agar dapat segera Anda tanda tangani" Lilian memberi isyarat pada Seth dan Jaden agar segera mengikutinya.
"Baik Nona Lilian, terima kasih." Seth menjawab Lilian dengan formal. Lilian hanya mengangguk dan berjalan di depan untuk mengarahkan Jaden dan Seth.
Jaden mengamati Lilian dari belakang. Gadis yang berjalan di depannya itu tampak begitu ramping dan terlihat sangat profesional. Kekurangannya adalah tak ada sedikit pun senyum darinya. Semua gerak-gerik dan ekspresinya yang terlalu formal dan kaku itu tampak begitu mengganggunya.
Lilian membawa Jaden dan Seth ke dalam ruangannya. Sepanjang perjalanan mereka, banyak mata yang begitu berbinar dan terpesona oleh ketampanan Jaden saat ia melewati banyak meja kerja para karyawan perusahaan tersebut. Bahkan tak sedikit karyawan wanita yang refleks terpekik kecil dan berjingkrak penuh antusias saat idolanya melewati meja mereka.
"Oh My God! Lihatlah, itu Jaden! Aakh! ..."
Kikikan dan pekikan kecil yang tertahan terdengar samar-samar di sana-sini saat mereka menyusuri selasar yang penuh dengan meja para karyawan, terutama para pekerja wanita.
Jaden yang tersenyum dan melambai secara natural tampak begitu menikmati momen-momen itu. Ia telah terbiasa menerima tatapan kagum dan histeris dari para penggemar wanitanya.
Tatapan memuja dan penuh harap dari mereka membuat Jaden berbangga hati. Sudah jelas kemana pun ia pergi, para wanita pasti akan selalu mengerumuninya. Bahkan ia yakin seluruh wanita di kantor ini tak mungkin akan bisa menolak pesonanya.
Yah, kecuali mungkin hanya satu orang itu. Satu orang wanita yang tampak tak terpengaruh dengan kehadirannya sejak ia datang tadi. Wanita yang sedang berjalan di depannya itu membuatnya begitu penasaran.
"Apa ini kantor Tuan Greg?"
Seth membuka pembicaraan saat Lilian mempersilakan mereka masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak, ini ruangan kerja saya. Saya akan mengantar kalian ke ruang tunggu jika kurang nyaman."
"Tidak, di sini saja. Aku rasa ruangan ini cukup nyaman." Jaden mulai berkeliling dan melihat-lihat isi ruangan Lilian.
"Baik, silakan duduk agar lebih nyaman Tuan-Tuan. Saya akan mempersiapkan kontrak kalian." Lilian mempersilakan para tamunya agar duduk di sofa nyaman untuk menunggunya.
Lilian bergerak menuju meja kerjanya dan bergegas memeriksa tumpukan berkas yang ada di atasnya.
"Ruanganmu sangat nyaman, Lilian." Jaden berkomentar santai.
Bukannya duduk, ia malah berjalan ringan sembari mendekati meja Lilian. Dengan natural ia mulai melihat-lihat apa saja yang menarik perhatiannya di sana.
Seth mulai menggigit bibir bawahnya. Ia hapal dengan sikap dan gerak-gerik Jaden. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan yang mungkin akan terjadi, Seth segera bangkit dari duduknya untuk mengikuti Jaden.
"Terima kasih, Tuan." Lilian menatap Jaden sejenak dan hanya menjawab dengan formal.
Ia sebenarnya sedikit canggung dengan situasinya saat ini. Lilian masih sibuk mencari berkas yang ia butuhkan saat Jaden akhirnya membuka suara lagi.
"Apa kau akan menikah dalam waktu dekat ini? Aku melihat ada buket pernikahan di sini. Aku penasaran seperti apa calonmu nanti." Jaden mulai usil dengan mengambil buket bunga milik Lilian yang tergeletak di sudut meja.
Lilian sejenak mengerjap. Ia merasa sedikit menyesal karena belum sempat membuang buket itu.
"Jaden, bagaimana jika kita duduk saja dan menunggu Nona Lilian untuk mempersiapkan kontrak kita?" Seth mulai waspada dan memberikan tatapan serius pada Jaden.
"Kenapa? Aku hanya mencoba bersikap ramah." Jaden tersenyum lebar sembari meletakkan buket milik Lilian ke tempat asalnya.
"Mari, silakan Tuan-Tuan." Lilian mengarahkan kembali Jaden dan Seth untuk duduk setelah ia mendapatkan berkas yang diperlukannya.
"Ini kontrak yang akan kalian tanda tangani, saya akan membacakan isinya untuk kalian." Lilian membuka berkas-berkas tersebut di atas meja agar dapat dibaca dengan mudah.
"Tidak perlu! Seth bisa memeriksa itu nanti," potong Jaden.
"Baiklah jika begitu. Silakan, Anda bisa menandatanganinya sekarang," Lilian menyodorkan berkas kontrak dan pena untuk Jaden tanda tangani.
"Bagaimana dengan kemejamu yang terciprat noda kopi tadi?" tanya Jaden tiba-tiba. Ia mengungkit lagi kejadian yang Lilian alami tadi.
"Aku lihat kau sudah mengganti kemejamu Lilian?" Jaden tersenyum sembari memperhatikan kemeja Lilian yang telah bersih.
Lilian sedikit terkejut dan sejenak mengalihkan tatapannya karena teringat kejadian yang kurang mengenakkan tadi. "Benar, saya telah menggantinya, Tuan."
Jaden menghembuskan napasnya sejenak, ia kemudian bersedekap. Melipat kedua tangannya di dadanya. "Lilian, bisakah kau tak terlalu formal dan kaku padaku? Kau lihat sendiri tadi, bahkan Greg pun dapat bersikap santai padaku."
"Jaden ..." Seth mulai memperingatkan. "Haha! Maaf, Nona, Jaden memang suka bercanda, mungkin maksudnya adalah ia tak terlalu suka dengan keadaan yang terlalu kaku dan formal, agar suasana lebih menyenangkan."
"Seth, taukah kau? Ia bahkan tak pernah tersenyum atau menatapku semenjak aku datang ke kantor ini," keluh Jaden tiba-tiba. Seth yang terkejut dengan ucapan Jaden, mulai memperingati lagi dengan tatapan matanya.
Lilian bergeming, "Maaf, Tuan, saya hanya berusaha bersikap profesional," ia menjawab Jaden dengan tenang dan sesopan mungkin.
"Ck! Aku rasa hanya kau yang bersikap terlalu profesional di sini. Bukankah karyawan periklanan seharusnya tampak cerah, ceria dan menyenangkan?"
"Jaden!" Seth membelalak gemas dengan kelakuan Jaden.
"Aku akan menandatangani kontrak jika kau tak berbicara formal padaku." Jaden menatap Lilian seolah menantangnya.
Disampingnya, Seth sibuk memijit keningnya. Ia seperti pasrah dengan kelakuan Jaden yang tampak jelas sedang mencari gara-gara dengan Lilian. Ia tak tahu mengapa Jaden bersikap seperti itu.
Lilian sejenak menghembuskan napasnya perlahan sebelum berkata, "Baiklah Jaden, silakan menandatangani kontraknya, aku akan mempersiapkan minuman untuk kalian." Kali ini ia tersenyum simpul dan singkat, sebelum kemudian bangkit untuk keluar dari ruangannya.
Jaden dan Seth membeku di tempatnya. Entah mengapa senyum Lilian yang seharusnya tampak ramah tadi terkesan begitu menyeramkan di mata mereka. Mereka hanya menatap kepergian Lilian dengan tatapan seolah tak percaya. Mereka benar-benar tak menyangka dengan reaksi yang Lilian berikan.
"Waah! Ia wanita yang mengerikan!" Gumam Jaden sambil bergidik tak percaya.
____****____
"Jaden! Ya Tuhan, apa kau sudah tak waras? Entah mengapa kau mulai berlaku tak sopan padanya. Mengapa sepertinya kau hendak mencari gara-gara?!" Seth menyemburkan kegeramannya.
"Kita di sini untuk bekerjasama dengan perusahaan ini, jadi aku harap kau tak melakukan sesuatu yang aneh lagi, apa pun itu, oke?!" Seth berani berteriak pada Jaden setelah Lilian keluar dari ruangannya.
"Seth, taukah kau? Hanya ia wanita di sini yang tak menatapku sejak kedatanganku siang tadi. Bahkan saat pertama kali ia melihatku, wanita itu tampak begitu menghindariku. Aneh!" gumam Jaden sambil seolah sedang menerka-nerka jalan pikiran Lilian.
"Bukan wanita itu. Jangan menyebutnya begitu! Namanya Lilian," ralat Seth. "Dan baguslah jika ia tak mempedulikanmu, berarti ia memiliki selera yang tinggi."
Seth mengangkat kedua bahunya. "Dan, serius kawan, jangan mencari masalah, oke?"
Jaden menggeleng, "Tidak ... tidak. Coba kau pikir, apa kau sebelumnya pernah melihat ada seorang asisten atau sekretaris yang mendapatkan ruangan sebesar ini selain di sini? Tak ada bukan?"
Jaden mengatupkan kedua tangannya, seolah berpikir. "Ah! Aku tahu sekarang, aku rasa Lilian bukan hanya sekadar asisten Tuan Greg. Wanita itu pasti memiliki hubungan yang spesial dengannya," komentar Jaden penuh selidik.
"Oh My God! Jaden! Apa kau sekarang sedang bergosip?" Seth menatap sahabatnya itu dengan ngeri.
"Tidak! Coba kau perhatikan wanita itu. Ia begitu gelap dan tak bersahabat, bagaimana bisa ia menjadi asisten dan kepercayaan pemimpin di sini?!"
"Dia profesional Jaden, di mataku ia tampak seperti wanita giat penggila kerja. Aku yakin ia hanya mementingkan pekerjaan dan tak akan tergoda dengan tipe-tipe pria semacam dirimu." balas Seth bijak.
"Atau ... ia mungkin tidak begitu peduli padamu karena kau mungkin bukan tipenya, itu sebabnya ia tak terpengaruh padamu sedikit pun. Aku rasa karena kelebihannya itulah ia akhirnya bisa mendapatkan kepercayaan lebih dari Tuan Greg, tidak ada yang aneh menurutku."
Seth menepuk pundak Jaden dengan miris, "Oh, Man. Satu-satunya yang aneh di sini adalah kau! Apa kau tahu itu? Kau terlalu memandang tinggi dirimu. Kenapa? Apa egomu terluka saat akhirnya bertemu dengan seorang wanita yang tak begitu tertarik untuk memperhatikanmu? Ck! Cepat tanda tanganilah kontrak itu"
Jaden bergidik lagi, ia menggeleng tak percaya. "Kau lihat perubahan sikapnya yang menakutkan tadi? Bagaimana pun aku memikirkannya, ia memang mengerikan!"
"Aku tak akan terpengaruh dengan wanita seperti itu. Bahkan jika hanya tinggal dirinya satu-satunya wanita yang ada di dunia ini, aku tak akan pernah mau dengannya. Aku tak akan pernah mengejar wanita seperti itu! Never!" Jaden berucap dengan yakin.
"Kau lihatlah dirinya! Ia kurus kering seperti mayat hidup, aku bahkan tak akan berpikir dua kali untuk sekadar membuang-buang waktuku dengannya!" lanjutnya dengan menggebu-gebu.
Seth menggeleng-geleng tak percaya menanggapi tingkah Jaden. Ia tak habis pikir apa yang sebenarnya sedang Jaden pikirkan tentang wanita itu.
Seth memijit keningnya dengan frustasi, "Oh, ya ampun. Sekarang kau bahkan mulai menilai penampilannya. Aku tak tahu apa yang merasukimu kawan, kau tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Dan serius, tak ada yang menanyakan pendapatmu tentang Lilian, jadi hentikan apa pun yang ada di dalam pikiranmu sekarang, oke?" gumamnya heran.
"Tidak sobat, dengarkan aku dulu! Wanita itu tidak ceria, ia tidak seksi, bahkan ia tidak tahu caranya untuk tersenyum. Jika aku jadi Tuan Greg, aku tak akan pernah mempekerjakan karyawan seperti dirinya!"
"Serius, Man, ia wanita yang tidak menarik. Sama sekali! Bahkan untuk menjadi kriteria wanita simpanan sekali pun, ia jauh dari kata menarik. NOL BESAR."
"Oh My God!! JADEN!!" Seth kembali berteriak dan melotot padanya.
"Kejam sekali kau! B ... bagaimana bisa kau berkomentar seperti itu pada orang yang tak kau kenal?!" Seth tampak begitu geram dengan Jaden. "Mulutmu itu ya, seharusnya aku jahit agar ..."
Suara pintu yang tiba-tiba terbuka menghentikan ucapan Seth seketika.
Lilian yang tampak dari ambang pintu kemudian masuk dengan tenang dan membawa nampan berisi dua cangkir teh. Ia meletakkan cangkir-cangkir tersebut di hadapan Seth dan Jaden.
Seth berdehem, entah mengapa ia merasa sangat canggung. Ia takut kalau-kalau Lilian mungkin sempat mendengar percakapan mereka tadi.
"Silakan Tuan-Tuan," dengan tenang Lilian mempersilakan para tamunya untuk menikmati minuman yang sudah ia sediakan.
"Baiklah, terima kasih. Cepat sekali kau membawa minuman untuk kami. Wow! Tampaknya teh ini begitu nikmat. Haha..!" Seth yang tak dapat lagi mengontrol kegugupannya, mulai meracau dengan kikuk.
"Kami memiliki mesin minuman khusus agar minuman hangat dan segar selalu tersedia, Tuan." Lilian menjelaskan dengan tenang.
"Apa Anda sudah menandatanganinya, Tuan?" tanyanya kemudian pada Jaden.
"Sudah, ambillah."
Jaden mengumpulkan semua berkas-berkas yang sudah ia tanda tangani dan memegangnya dalam satu tumpukan rapi.
Lilian sudah hendak meraih berkas-berkas dari tangan Jaden sesaat ketika jemarinya mulai menyentuh ujung berkas tersebut, tapi Jaden tiba-tiba melepaskan semua berkas-berkas yang semula dipegangnya hingga jatuh berserakan di atas lantai begitu saja! Lebih tepatnya ia sengaja melakukan itu.
"Upps! Maaf tanganku licin." Ucapnya dengan senyuman sinis dan terlihat tanpa penyesalan sedikit pun dari raut wajahnya.
Selanjutnya, Jaden menatap tajam pada Lilian. Tatapannya seolah menantangnya dan berkata, "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Seth membelalak! Mulutnya menganga begitu lebar menyaksikan kelakuan Jaden, atasan sekaligus sahabatnya itu. Ia tak menyangka Jaden akan melakukan hal sampai sejauh itu.
Lilian sejenak membeku di tempatnya, tetapi ia tak goyah. Ia hanya sedikit mengerutkan alisnya. Tak mempedulikan Seth maupun Jaden, tanpa pikir panjang ia kemudian mulai membungkuk untuk mengambil berkas-berkas yang berserakan itu.
Jaden menatap Lilian dengan tatapan yang sulit ditebak. Rahangnya ia katupkan dengan kencang. Ia mematung, hanya berdiam diri dan menyaksikan Lilian memunguti berkas-berkas yang berserakan di bawah kakinya.
Jaden memicingkan matanya sejenak saat melihat punggung wanita itu yang membungkuk di hadapannya tanpa sedikit pun terlihat lemah atau goyah.
Jelas sekarang ia sedang mempermalukannya, tetapi tampaknya wanita itu tak mudah terpengaruh dan terpancing emosinya.
Lilian dalam sekejap berhasil mengumpulkan semua berkas-berkas yang bercecer tadi menjadi satu tumpukan.
"Baiklah, sudah saya terima berkasnya. Terima kasih sekali lagi untuk Tuan-Tuan yang telah mempercayakan kerjasama dengan perusahaan kami." Lilian tersenyum simpul dan kembali ke mejanya sendiri untuk memasukkan berkas-berkas tersebut ke dalam sebuah map.
"Tuan-Tuan, silakan pergunakan waktu Anda selama yang kalian inginkan di sini. Tak perlu merasa sungkan atau terburu-buru. Jika tak ada lagi yang bisa saya bantu, saya undur diri dulu karena masih ada banyak pekerjaan yang menanti yang harus saya lakukan. Terima kasih." Lilian sedikit mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Seth yang masih membeku di tempatnya seperti tak sanggup berkata-kata lagi. Ia merasa seolah nyawanya telah menghilang! Ia bahkan sampai tak tahu apa yang harus dikatakan.
Perlakuan Jaden pada Lilian membuat dirinya sendiri begitu shock. Dan semua kejadian di depan matanya tadi seolah berlalu begitu cepat.
"Ja ... Jaden ..." ucap Seth tergagap.
Lilian memeluk map berisi berkas kontrak dengan mantap. Ia berjalan tegak menuju lorong kecil yang sangat terang dengan sorotan matahari yang menembus melalui jendela kaca besar itu dengan penuh percaya diri.
Ia yakin Jaden maupun Seth masih bisa melihatnya menelusuri jalan yang menghubungkannya dengan ruangan Greg itu dengan jelas.
Beruntung, hari ini Lilian mengenakan setelan baju kerja bercelana panjangnya, sehingga ia dapat melangkahkan kakinya lebar-lebar agar dapat segera pergi dari ruangannya sendiri.
Jika memungkinkan, Lilian sebenarnya merasa seolah ingin berlari cepat-cepat dan menghilang dari pandangan pria menyeramkan yang pasti sedang mengawasinya dari sana.
"Laki-laki berengsek!" umpat Lilian saat dirinya akhirnya berhasil masuk dan berada sendirian dalam ruangan Greg.
Hanya Lilian yang memiliki akses kunci untuk keluar masuk ke dalam ruangan Greg. Ia seketika memberosot di balik pintu, duduk dan menelungkupkan kedua lengannya di atas lututnya.
Air mata yang terasa hangat mulai turun membasahi pipinya. Lilian menangis tanpa bersuara. Ia mengingat lagi bagaimana cara Jaden menilai dan menyebut tentang dirinya tadi. Dan bagaimana ia dengan sengaja menjatuhkan semua berkas kontrak hingga berserakan untuk melihat reaksinya itu, sungguh membuatnya merasa begitu terhina dan malu.
Lilian merasa dirinya begitu menyedihkan. Entah mengapa ia yang biasanya tegar, kini merasa begitu lemah dan kecil hingga sampai meneteskan air mata hanya karena celotehan lelaki berengsek itu!
Andai bisa, ia rasanya ingin sekali menampar mulut lancang pria itu. Tetapi, keadaan jelas tak memungkinkannya untuk melakukan hal semacam itu.
"Oh! Ini sungguh menyebalkan!" rutuknya kesal.
Lilian seharusnya sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Bukan kali ini saja ia sering mendapati orang-orang yang menganggapnya lemah dan memandangnya dengan sebelah mata. Bahkan, tak segan untuk berlaku atau berkata kasar padanya.
Lilian sendiri mengakui, itu karena ia memiliki beberapa keterbatasan yang menyebabkannya tak dapat bertingkah seperti wanita normal lainnya.
Tapi, bukan berarti ia juga pantas untuk diperlakukan tak adil hanya karena itu. Andai mereka bisa memahami dan tahu isi hatinya itu.
Lilian sebenarnya sudah terlatih untuk menerima itu semua. Sudah sejak lama Lilian berlatih untuk menutup diri dan membentengi dirinya sendiri dari segala hal yang mungkin akan menyakitinya dengan mudah.
"Jaden, kau sungguh pria berengsek! Jika bukan karena pekerjaan, aku tak akan pernah mau berurusan denganmu." batinnya kesal.
Ia sebenarnya merasa lebih tenang jika orang lain hanya memandangnya dengan raut aneh lalu kemudian menghindarinya. Itu akan jauh lebih baik untuknya, daripada orang tersebut menghujaninya dengan kata-kata dan perbuatan kasar yang membuatnya tampak begitu menyedihkan.
Seperti sekarang ini, seperti yang Jaden lakukan padanya. Lilian merasa kecil dan mudah ditindas. Ia masih tak habis pikir mengapa pria itu melakukan hal itu padanya?
Lilian harus menelan harga dirinya saat ia memunguti semua berkas itu tadi. Sekali lagi ia tak dapat mengerti mengapa ia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari orang asing? Bahkan ia harus mendengar semua hinaan dan penilaian yang begitu buruk tentangnya di belakangnya.
"Stop Lilian! Bangkit dan berdirilah, jangan terpuruk karena hal kecil seperti ini!" batinnya lagi-lagi menguatkan dirinya sendiri.
Lilian memejamkan matanya. Ia mengusap sisa air mata yang tumpah. Ia tak ingin terpuruk karena sedikit kejadian yang tak menyenangkan yang ia terima dari klien perusahaannya.
Ia kemudian dengan mantap meletakkan map terakhir yang perlu Greg periksa di atas mejanya. Lalu ia menata dan memastikan kembali ruangan Greg agar tetap rapi sebelum ia mengakhiri pekerjaannya hari ini.
*******
"Da***!!!! Man! Apa yang sebenarnya kau lakukan!?" Seth memukul kemudi mobilnya begitu ia dan Jaden masuk ke dalam mobil.
"Apa kau tak waras?! Sekarang kau menjadi seorang perundung? Kau sekarang selebriti Jaden. Apa pun tindakanmu akan selalu ada konsekuensinya!" Seth benar-benar kesal dengan sikap Jaden tadi.
"Kita baru saja tanda tangan kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja, tetapi kau malah memperlakukan Lilian dengan buruk! Sekarang jelaskan padaku, mengapa kau memperlakukan Lilian seperti itu? Apa hanya karena ia tak memperhatikanmu? Itu membuatmu kesal?!"
"Kau bahkan yang menunjuk perusahaan itu sendiri untuk bekerjasama! Ada apa, Man?!" Seth berteriak tak percaya.
"Sudah kubilang aku tak kesal hanya karena ia tak memperhatikanku! Aku hanya kesal melihat wajahnya saja!" balas Jaden tak kalah sengit.
"Apa?! Hah?! Oh, yang benar saja! Memang ada apa dengan wajahnya?!"
"Jika kau memang tak menyukai wanita seperti dia, lalu apa pantas kau memperlakukannya dan menghinanya dengan buruk seperti itu? Itu bukan perbuatan seorang pria sejati, Man!"
"Seth! Apa kau tak lihat?! Wanita itu begitu kaku. Matanya terkadang tampak seperti orang yang sekarat, tapi gerak-geriknya mengatakan seolah ia kuat, baik-baik saja dan dapat berdiri dengan tegar."
"Itu membuatku muak! Di balik itu, kau mungkin tak akan pernah tahu wanita seperti apa ia sebenarnya. Ia wanita yang pandai mengenakan topeng!" geram Jaden.
Jaden menatap tajam keluar jendela. Pandangannya mulai menerawang, dan ia mengatupkan rahangnya. Pikirannya mulai berkecamuk. Ia paling benci dengan wanita lemah tak berdaya tetapi berlagak tegar dan baik-baik saja. terlebih jika wanita itu licik seperti ular!
Saat menatap Lilian tadi entah mengapa ia sangat tergelitik. Ia tak suka dengan ekspresi yang Lilian pasang pada wajahnya. Pikiran gilanya tiba-tiba menyuruhnya untuk melakukan sesuatu agar dapat mengubah tatapan mata dan ekspresi wanita itu.
Ia ingin Lilian memohon, menangis, terluka atau entah apa pun itu! Ia ingin mata wanita itu setidaknya menunjukkan ekspresi itu.
"Oh! Aku sudah tak mengerti jalan pikiranmu lagi, Man." Seth menghembuskan napasnya pasrah.
Di dalam hatinya, Jaden sendiri masih yakin Lilian adalah wanita yang pandai mengenakan topeng. Terlebih lagi, ia semakin merasa kesal karena wanita itu tetap bersikap tegar dan tak tampak terluka sedikit pun walaupun tadi ia mengerjai dan membuatnya malu. Tatapan dan wajah datar wanita itulah yang sangat mengganggunya.
Ia sangat benci wanita seperti itu! Tatapan mata wanita itu sekilas mengingatkannya akan ibunya. Dan karena itu juga ia merasa sangat muak!
"Kita pulang sekarang!" Jaden menggeram menekan amarahnya.
____****____