Bab 1

"Jadi saya beneran hamil ini, Dok?" Kanaya Prameswari nyaris tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Kedua tangannya bergetar saat membaca hasil urine dari laboratorium RSIA. Lima tahun penantiannya berakhir sudah. Selama lima tahun pernikahannya ini, Ghifari Albani, suaminya, sangat mengharapkan kehadiran seorang buah hati. Wajar saja, suaminya adalah seorang anak tunggal. Kehadiran generasi penerus pasti sudah pasti sangat dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga besarnya. Dalam dua tahun terakhir ini suaminya sangat stress karena tekanan dari berbagai pihak. Baik itu dari keluarga besar Albani atau pun dari kedua orang tuanya. Mereka semua kerap menyindir-nyindir kehidupan rumah tangga mereka yang dianggap belum sempurna karena ketiadaan buah hati. Dengan kehamilannya ini pasti akan membuat suaminya bahagia luar biasa. Memikirkan hal itu rasa syukur tidak henti-henti diucapkan Kanaya pada yang Maha Kuasa.

"Benar, Bu. Saat ini kandungan Ibu telah berusia dua minggu. Selamat ya, Bu?" Dokter Rasyid Rasyidi ikut berbahagia melihat senyum yang terus terkembang di wajah pasien mudanya. Ia adalah dokter kandungan keluarga besar Albani. Jadi ia sangat memahami posisi Kanaya di dalam keluarga besar terpandang itu. Kedua mertua Kanaya juga kerap mengeluhkan soal menantu mereka yang tidak kunjung hamil. Padahal usia pernikahan anak menantunya telah memasuki tahun ke lima.

"Tapi harap diingat. Kandungan Ibu ini masih sangat muda. Rahim Ibu masih rentan terhadap segala bentuk guncangan. Selain itu, kondisi fisik dan psikis Ibu juga harus selalu terjaga. Ibu tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran ya, Bu?" Nasehat dokter Rasyid lagi. Kanaya mengangguk takzim.

"Tentu saja, dokter. Saya akan menjaga kandungan saya ini sebaik mungkin. Saya juga akan selalu mengingat pesan-pesan, dokter. Saya permisi dulu ya, dok? Terima kasih atas semuanya." Kanaya menyalami dokter Rasyid sebelum keluar dari ruangan praktek.

Kanaya melangkahkan kaki menuju parkiran dengan senyum yang terus terkembang. Di dekapnya surat hasil dari laboratorium rumah sakit di dada. Ia masih seperti tidak percaya kalau ia sekarang sedang mengandung anak Ghifari. Pak Rustam, sang supir pribadi, buru-buru membuka pintu mobil saat melihat kehadiran nyonya mudanya. Melihat senyum yang terus tersungging di bibir sang nyonya muda, maka tau lah ia akan hasil laboratorium yang sedari dua hari lalu dinanti-nantikan oleh nyonya mudanya. Pak Rustam tersenyum. Ia ikut berbahagia untuk kebahagiaan seluruh keluarga besar Albani.

"Kita ke kantor Mas Fari dulu ya, Pak? Ada yang ingin saya sampaikan padanya," ujar Kanaya.

"Baik, Bu." Pak Rustam dengan sigap menjalankan kendaraan. Selama berkendara, Pak Rustam bersikap sangat hati-hati. Ia menghindari jalan yang rusak dan berkendara dengan kecepatan sedang. Sebisa mungkin ia menghindari guncangan. Ia tidak ingin kandungan nyonya mudanya terganggu.

Pak Rustam melirik kaca spion depan. Nyonya mudanya kembali membaca selembar surat dengan ekspresi gembira. Kebahagian terus terpancar di wajah lembutnya. Syukurlah, penantian panjang keluarga besar majikannya, berakhir bahagia. Dengan begitu segala pertikaian terkait masalah keturunan di masa lalu, tidak akan terulang lagi. Sebagai seorang pekerja, ia ikut lega.

Selama dalam perjalanan, Kanaya terus membayangkan bagaimana ekspresi suaminya saat membaca surat dari laboratorium rumah sakit ini. Pasti suami tercintanya itu tidak kuasa menahan rasa haru dan bahagia. Penantian siang malam selama lima tahun pernikahan mereka akhirnya berbuah bahagia. Membayangkan hal itu Kanaya semakin tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini pada suaminya.

Empat puluh lima menit kemudian, mereka telah tiba di sebuah gedung perkantoran elit. Suaminya memang berkantor di sini. Dengan tidak sabar Kanaya keluar dari mobil dengan surat hasil dari laboratorium di tangan. Kalau menuruti kata hati, Kanaya ingin berlari secepat mungkin ke ruangan suaminya. Ia ingin suaminya membaca sendiri surat dari laboratorium rumah sakit ini.

Setiba di lobby kantor, Kanaya bergegas masuk ke dalam lift dan menekan angka 4. Ghifari memang berkantor di lantai empat. Saat pintu lift terbuka, Kanaya keluar dari lift dengan senyum yang kian lebar. Langkah kaki ia percepat karena ingin segera menemui suaminya. Saat tiba di depan pintu ruang kerja suaminya, langkahnya dihadang oleh Sanny, sekretaris suaminya.

"Bapak ada di dalam 'kan, San?" Tanya Kanaya pada sekretaris suaminya.

"A--ada, Bu." Sahut Sanny gugup. "Sebentar, saya akan memberitahu Bapak kalau Ibu ada di sini." Ujar Sanny kian gugup. Kanaya mengerutkan kening. Tumben Sanny gelisah seperti ini. Biasanya Sanny gembira-gembira saja saat ia mengunjungi suaminya.

"Tidak perlu, San. Saya ingin memberi kejutan pada, Bapak." Tukas Kanaya seraya memutar handle pintu.

"Ja--jangan dulu, Bu!" Seru Sanny ketakutan.

Begitu pintu ruang kerja suaminya terbuka, Kanayalah yang mendapat kejutan alih-alih suaminya. Di sana, di kursi direktur suaminya, Dina, sahabat baiknya sedang beradu mulut panas dengan suaminya. Akibat panasnya ciuman mereka berdua, mereka bahkan tidak sadar kalau pintu sudah terbuka, dan ada orang lain yang tengah menonton aksi mereka berdua.

"Astaghfirulahaladzim!" Kanaya berulang kali mengucapkan beristighfar. Ia nyaris tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Dua orang yang paling ia sayangi dan ia percayai, sampai hati menghianati seperti ini. Langit seperti runtuh tepat di depan matanya. Jeritan pedihnya membuat dua kepala yang sebelumnya saling bertukar saliva itu menjauh dengan tiba-tiba. Wajah keduanya pucat pasi saat melihat kehadirannya. Namun ada sesuatu yang sempat Kanaya tangkap sebelum tautan bibir keduanya terlepas. Rasa puas di mata Dina! Kanaya berteman cukup lama dengan Dina. Ia sangat mengenali air muka sahabatnya ini.

"Astaga, Naya. Ini... ini... tidak seperti yang kamu pikirkan, sayang. Mas bisa menjelaskan soal semua ini ini. Mas... Mas..."

Melihat suaminya kebingungan tidak tau harus mengatakan apa, Kanaya sudah tau apa yang sesungguhnya telah terjadi. Suami dan sahabatnya telah berselingkuh di belakangnya. Dina yang mengaku sebagai sahabatnya, baru sebulan bercerai dari Reyhan. Menurut Dina, Reyhan menceraikannya karena ia mandul. Selama kurang lebih sebulan ini, ia sibuk membesarkan hati Dina. Menghiburnya pagi, siang, malam agar sahabatnya ini tidak depresi. Ia bahkan menandai media sosial Dina dengan hashtag woman supporting woman. Kala itu mereka saling berpegangan tangan. Tertawa dan menangis bersama karena merasa sama-sama tidak bisa mempunyai keturunan. Namun siapa nyana kalau balasan yang Dina berikan malah woman hurting woman. Betapa kejamnya!

"Mas tidak perlu menjelaskan apapun. Naya bukan anak kecil, Mas. Jangan berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Bersikap jantanlah, Mas." Desis Kanaya dengan suara di hidung.

"Aku... aku juga minta maaf, Na. Aku juga tidak tau sejak kapan rasa ini tumbuh. Hanya saja, aku tidak kuasa untuk melawan perasaan ini. Sekali lagi, aku minta maaf, Na." Akhirnya Dina bersuara juga.

"Oh, jadi permintaan maafmu ini hanya untuk mengakui ketidakberdayaanmu melawan perasaan terlarang terhadap suamiku?" Desis Kanaya geram. "Itu namanya bukan permintaan maaf, Din. Tapi pengakuan maaf. Kamu pasti lega sekali karena akhirnya perselingkuhan kalian kupergoki 'kan? Karena kamu sangat tau bahwa aku sangat intoleran terhadap perselingkuhan."

Kanaya tersenyum pahit. Kediaman Dina mengartikan satu hal. Bahwasannya semua dugaannya benar. Dina ingin menggantikan tempatnya. Menjadi pemilik hati suaminya satu-satunya. Karena Dina sudah memprediksi kalau ia pasti akan pergi. Dina memang benar soal ia pasti akan pergi. Hanya saja yang lainnya salah. Dina bodoh. Ia tidak belajar dari kesalahan-kesalahannya. Dia sendiri diceraikan Reyhan karena divonis mandul. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menjadi pusat hidup Ghifari kalau ia tidak bisa memberikan keturunan? Toh permasalahan rumah tangga mereka sama. Sama-sama diharapkan bisa memberikan keturunan. Dina terjatuh di lubang yang sama dua kali.

"Naya pamit, Mas. Lanjutkan saja kemesraan kalian yang sempat terputus tadi. Santai saja. Toh tidak ada yang perlu kalian khawatirkan lagi," guman Kanaya seraya menjejalkan surat dari rumah sakit ke dalam tas tangannya. Mulai hari ini, kehadiran bayi di dalam rahimnya adalah miliknya sendiri. Ia tidak perlu membagi kabar bahagia ini kepada ayah bejat seperti suaminya.

"Tunggu dulu, Naya. Jangan pergi begitu saja. Mari, kita bertiga duduk bersama menyelesaikan kesalahpahaman ini," Ghifari menghela pergelangan tangannya. Wajah kalut penuh penyesalannya terlihat begitu nyata. Seperti ini tampang seorang penyelingkuh. Pias oleh seribu penyesalan apabila tertangkap basah. Type orang-orang yang tidak berpikir panjang.

"Bertiga? Maaf Mas, Naya tidak ada hubungannya dengan masalah kalian berdua. Sewaktu kalian menjalin affairs kan Naya tidak diajak berembuk. Mengapa setelah ketahuan Naya dibawa-bawa?" Sahut Kanaya ketus. Tanpa banyak bicara lagi, Kanaya berjalan ke arah pintu. Urusannya di sini usai sudah.

"Jangan mengejar Naya, Mas. Naya tidak sudi menjadi tontonan ala sinetron azab Indosia*." Ancam Kanaya.

"Tunggu dulu, Na. Kamu tadi ke sini ada urusan apa? Biasanya kalau kamu ke kantor pasti ada hal penting yang ingin kamu sampaikan langsung pada, Mas." Ghifari masih berupaya menahan kepergiannya.

Diingatkan pada tujuan utamanya ke sini, air mata Kanaya mengalir bagai air bah. Sedari tadi, walau sakit hati, tidak setetes pun air matanya jatuh. Rasa marah dan kecewa lebih mendominasi dari pada sakit hati. Tapi saat diingatkan pada bayi yang saat ini menghuni rahimnya, perasaannya lah yang berbicara. Bukan hatinya saja yang sakit. Tapi seluruh jiwa raganya serasa luluh lantak! Kanaya teringat pada kegembiraan luar biasanya saat di rumah sakit dan di sepanjang perjalanan menuju kantor. Ternyata semua kebahagiannya hancur dalam hitungan detik saja. Alangkah ironisnya!

Astaghfirullahaladzim..

Astaghfirullahaladzim... 

Astaghfirullahaladzim...

Kanaya tidak henti-hentinya mengucapkan istighfar dalam hati. Memohon kesabaran dari Yang Maha Kuasa agar lebih dikuatkan dalam menghadapi badai terbesar dalam rumah tangganya ini. Selama ini ia kuat dalam diam karena ada Ghifari yang menjadi tempat bersandarnya. Tidak masalah jika semua orang mengejeknya, menyindirkan bahkan mengolok-olok kemandulannya. Ia telan semuanya selama Ghifari tidak berada di kubu mereka. Namun kini, setelah ia tau bahwa Dina menusuknya dari belakang dan Ghifari menaburi garam di sepanjang lukanya, ia tidak kuat lagi. Kesabaran dan kekuatannya telah tiba di titik nadir. Raungan kesedihannya menggema di seluruh penjuru ruangan.

"Astaga, Naya. Maafkan Mas, Naya. Maaf... maaf... maaf, Naya. Mas tidak bermaksud menyakiti kamu sampai seperti ini," guman Ghifari kalut. Ia ingin mendekati Kanaya, tapi ia takut kalau tindakannya malah membuat istrinya semakin histeris. Saat ini, Kanaya bukan seperti dirinya yang biasanya. Selama tiga tahun berpacaran dan lima tahun menikah, Ghifari tidak pernah melihat Kanaya kehilangan kendali seperti ini. Kanaya ini lembut namun kuat. Kanaya tidak pernah mengadu atau pun berkeluh kesah walau diserang kanan kiri oleh keluarga besarnya. Kanaya selalu mengatakan kalau semua orang berhak menyuarakan pendapatnya. Selama ia tidak terluka dan berdarah-darah, ia ikhlas menerima semuanya. Kebesaran hati Kanaya menghangatkan dirinya. Kini, melihat Kanaya hancur seperti ini, penyesalannya tidak terucapkan. Ghifari tau, tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan maaf dari Kanaya. Ia sangat mengenal sifat istrinya.

Ia hanya tidak menyangka kalau keisengannya menyambut undangan terang-terangan Dina akan berakibat sefatal ini. Ia laki-laki. Diberi makanan gratis tanpa embel-embel tanggung jawab membuatnya lupa diri. Pikirnya toh Dina memang mandul. Janda lagi. Jadi tidak akan ada drama-drama kehamilan dan minta dinikahi. Hubungan mereka adalah senang sama senang. Ia dan Dina sepakat untuk tidak membawa-bawa masalah hati dalam affairs mereka ini. Hubungan mereka murni soal nafsu birahi. Titik.

Kalau terhadap Kanaya, ia memang cinta. Makanya ia tetap mempertahankan rumah tangganya meskipun kedua orang tuanya menginginkan agar ia bercerai dari dari Kanaya. Mereka menganggap kalau istrinya ini mandul. Namun ia bertekad akan terus mempertahankan Kanaya mau Kanaya itu mandul atau pun tidak. Misalkan Kanaya benar-benar mandul pun, ia tidak akan pernah menceraikannya. Mungkin ia akan menikah lagi untuk memperoleh keturunan. Tapi ia akan tetap mempertahankan Kanaya.

Setelah berulang kali beristighfar, Kanaya berusaha menenangkan dirinya. Cukup sudah ia membuang-buang air mata untuk seseorang yang mulai hari ini bukan lagi siapa-siapanya. Kanaya membuka tas tangan. Mengeluarkan sapu tangan dan membersit hidung. Berusaha menghilangkan sisa-sisa kesedihannya. Kesadaran dirinya telah kembali.

"Masalah itu sudah tidak penting lagi sekarang. Apa yang tadi ingin Naya sampaikan, tidak akan pernah lagi Naya katakan. Naya pulang dulu, Mas. Dan kalau Mas memang punya hati, tolong biarkan Naya sendiri dulu. Nana butuh waktu untuk memikirkan semua ini." Guman Kanaya lirih. Tanpa menunggu jawaban Ghifari, Kanaya menegakkan kepala. Melangkah keluar ruangan dengan anggun. Ia tidak ingin seorang pun tau tentang badai yang memporakporandakan hatinya. Setibanya di parkiran Kanaya menengadahkan kepala. Cuaca di sore hari ini sungguh cerah. Sinar matahari sore terang benderang tanpa tertutup sepotong pun awan. Namun di hatinya, seperti sedang terjadi hujan badai yang meruntuhkan langit dan akan menimpa bumi. Masalahnya, Kanaya merasa hanya kepalanya saja yang tertimpa.

Bab 2

Pak Rustam berulang kali melirik nyonya mudanya. Ia bingung melihat betapa berbedanya air muka sang nyonya muda saat kembali ke mobil. Terlebih lagi kepergian nyonya mudanya tidak lebih dari sepuluh menit. Tetapi ia hanya bisa menyimpan rasa penasarannya dalam hati saja. Ia toh hanya seorang supir. 

"Kita mau ke mana, Bu?" Tanya Pak Rustam sopan. Namun kalimatnya sama sekali tidak direspon oleh sang nyonya muda. Nyonya mudanya hanya memandang lurus ke depan dengan tatapan nyalang.

"Bagaimana, Bu?" Tanya Pak Rustam untuk ke dua kalinya.

"Hah? Bapak menanyakan apa tadi?" Guman Kanaya linglung. Bukan hal mudah menyembunyikan perasaan hati yang gundah gulana dengan tampilan seolah baik-baik saja.

"Saya tadi bertanya, kita mau ke mana, Bu? Mau langsung pulang ke rumah atau mengunjungi orang tua Bu Naya dulu barangkali?" Ujar Pak Rustam hati-hati. Mata tuanya menangkap kesedihan di kedua bola mata nyonya mudanya. Ia sengaja mengusulkan mengunjungi kedua orang tua sang nyonya muda, dengan harapan mungkin sang nyonya muda akan sedikit terhibur di sana. Seorang anak pasti membutuhkan kedua orang tuanya bisa sedang bermasalah.

"Tidak usah, Pak. Kita langsung pulang saja," jawab Kanaya singkat. 

"Baik, Bu." Pak Rustam tidak jadi memutar arah. Karena ternyata nyonya mudanya memilih untuk pulang saja. Dari kaca spion, Pak Rustam memindai kalau mobil tuan mudanya tengah membuntuti. Dugaan Pak Rustam tentang kedua majikan mudanya sedang berselisih paham makin menguat. Tetapi Pak Rustam memilih untuk diam saja. Sebagai orang luar ia tidak ingin memperkeruh suasana. 

"Cincin baruku ini bagus nggak, Nay?"

"Bagus banget, Din. Seleraku banget. Tumben kamu beli perhiasan dengan motif sederhana begini? Biasanya kan harus bling bling semeriwing."

"Hehehe. Dibeliin orang, Nay. Tapi kayaknya mulai dari sekarang aku akan belajar untuk menyukai apa yang kamu sukai deh. Hehehe. Oh ya Nay, ngomong-ngomong Mas Fari lebih suka kamu memakai lingerine seksi atau malah naked sekalian kalau kalian mau ehm ehm."

Sekarang Kanaya baru mengerti arti dari pertanyaan-pertanyaan Dina beberapa waktu lalu. Dina ternyata sudah cukup lama menjalin hubungan terlarang dengan suaminya. Bahkan sebelum ia resmi bercerai. Alasan bahwa Reyhan menceraikannya karena mandul sepertinya hanyalah isapan jempol belaka. Dirinya saja yang tidak peka akan gerak-gerik dan pertanyaan-pertanyaan menjebak Dina.

Setiba di gerbang rumah, Kanaya menarik napas panjang. Masalah baru telah menunggu di depan mata. Di garasi rumah, terparkir angkuh sebuah mobil mewah yang biasa ditumpangi oleh ibu mertuanya. Dan itu artinya saat ini ibu mertuanya berada di dalam rumah. Kanaya yakin sebentar lagi ia akan dinyinyiri tak henti-henti dari semenjak ia pulang hingga ibu mertuanya itu pulang. Bukan rahasia lagi kalau ibu mertuanya tidak menyukainya. Ibu mertuanya ini lebih menyukai Nabila, mantan pacar Ghifari. Bagi ibu mertuanya, di dirinya tidak ada satu hal pun yang bisa menyamai kesempurnaan Nabila. Nabila itu cantik, sopan, pintar dan yang terutama kaya. Kalimat itu selalu dijejalkan ibu mertuanya setiap kali mereka bertemu. Kanaya sampai hapal luar kepala apa saja kelebihan Nabila dibandingkan dirinya. 

"Kamu ini jadi istri kok ya tidak bisa menahan diri? Suami bekerja keras di kantor, kamu malah keluyuran tidak jelas. Istri macam apa kamu ini?" 

Benar 'kan tebakannya?

Mariam Albani, ibu mertuanya langsung berdiri dari sofa saat melihat kehadirannya. Di samping ibu mertuanya, Nabila Fatih tengah duduk dengan anggun. Nabila memang masih memiliki hubungan keluarga dengan mertuanya. Jadi tidak heran kalau Nabila akrab dengan ibu mertuanya.

"Kamu dari mana saja, Nay? Tidak baik kalau suami bekerja keras di kantor, istri malah keluyuran." Cecar ibu mertuanya lagi. 

Diingatkan pada suami penghinatnya, darah Kanaya kembali mendidih. Kerja keras apa suaminya itu di kantor? Bayangan suaminya yang sedang bertukar saliva dengan Dina membuat Kanaya kian jengah. Ia muak terus dituduh ini itu padahal yang brengsek adalah suaminya. Selama ini ia sudah cukup mengalah dan menahan diri demi keberlangsungan rumah tangganya. Tapi kali ini ia sudah tidak mau diam. Sudah waktunya ia membalas. Toh ia memang sudah tidak berniat lagi untuk mempertahankan rumah tangga penuh amis perselingkuhan ini lagi. 

"Apa Ibu yakin kalau Mas Fari sedang bekerja keras di kantor?" Celetuk Kanaya datar. Belum sempat ibu mertuanya menjawab, terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Sejurus kemudian pintu pengemudi terbuka. Ghifari keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Suami pembohongnya ini mengikutinya ternyata.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Sudah tentu suamimu bekerja keras di kantor. Kok malah meragukan suamimu sendiri sih, Nay? Istri macam apa kamu?"

Istri yang telah diselingkuhi suaminya, Bu.

"Itu suamimu pulang. Tanyakan langsung padanya, apakah ia bekerja keras di kantor?" Ibu mertuanya memalingkan wajah ke arah pintu. Air muka ibu mertuanya tampak puas. Pasti ibu mertuanya mengira bahwa ia tertangkap basah karena keluyuran saat suaminya bekerja keras.

"Sudahlah, Bu. Jangan ribut-ribut. Ada apa Ibu tiba-tiba berkunjung ke sini?" Kanaya melirik suaminya ini telah masuk ke dalam rumah. Pandangan suaminya gelisah. Pasti ia takut kalau boroknya di kantor tadi ia bongkar di sini.

"Ibu kangen sama kamu, Fari. Habis akhir-akhir ini kamu jarang sekali sih menjenguk, Ibu. Makanya saat Nabila datang, sekalian saja Ibu ajak ke sini." Adu Bu Mariam pada putra semata wayangnya.

"Tapi yaitu, rupanya selama kamu bekerja, istrimu ini malah keluyuran entah ke mana."

Sesuai dengan dugaannya.

"Ya sudah. Sekarang kan kita sudah bertemu. Sudah hilang 'kan rindunya Ibu?" Bujuk Ghifari. 

"Ya belum dong, Ri. Kan baru juga sebentar ke temunya. Eh tapi kamu kok sudah pulang siang-siang begini?" Bu Mariam baru tersadar kalau putranya pulang tidak pada jam biasanya.

"Eh itu, Fari tadi kepingin makan siang di rumah, Bu. Terus Fari malah ketemu sama Naya di jalan. Naya tadi habis mengunjungi kedua orang tuanya, Bu. Bukan keluyuran. Tadi perginya juga sudah pamit kok pada Fari. Makanya kami bisa pulang barengan." Ujar Ghifari gugup. Ia serba salah salah saat ditatap tajam oleh Kanaya. Kebohongan ini terpaksa ia lakoni demi menutupi kebohongan sebelumnya.

"Oh begitu. Lho Nay, suamimu pulang karena mau makan siang di rumah. Kok kamunya masih leyeh-leyeh begini. Siapkan makanan untuk suamimu dong. Apa perlu Ibu dan Nabila yang menyiapkan?"

Pucuk dicinta ulam pun tiba.

"Kalau Ibu dan Nabila tidak keberatan silahkan saja, Bu. Kalau begitu Naya permisi ke kamar dulu." Sahut Nabila datar seraya beringsut dari sofa. Bu Mariam dan Nabila terdiam. Mereka sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan jawaban sesantai itu dari Kanaya. Biasanya Kanaya ini lemah lembut dan pengalah. Tidak sekalipun ia menyahuti kata-kata mereka, walau sepedas apapun mereka menyindirnya. Namun kali ini sikap Kanaya begitu berbeda. Ia seperti menyambut tantangan mereka. Apa yang membuat sikap Kanaya jadi berubah seperti ini?

"Kamu nantangin, Ibu, Nay? Kalau nanti Fari benar-benar meninggalkan kamu dan memilih kembali dengan Nabila, baru tau rasa kamu." Ancam Bu Mariam lagi.

"Kalau pun itu sampai terjadi, berarti jodoh Naya dan Mas Fari sudah habis, Bu." Sahut Kanaya datar. 

"Begitu juga sebaliknya. Jika Nanya yang meninggalkan Mas Fari, artinya jodoh kami memang hanya sampai di sini. Permisi." Kanaya melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu. Ia sedang tidak mood bersilat lidah.

"Nanti kalau benar-benar kejadian, jangan nangis-nangis ya kamu, Nay? Sudah tidak bisa memberi keturunan, eh nantang-nantang lagi. Sudah mulai berani ya kamu sekarang, Nay?" Teriak ibu mertuanya kencang.

Kanaya menulikan telinga. Ia mempercepat langkah menuju kamar. Kali ini ia ingin bersikap egois. Ia capek terus menjadi keset. Dianggap tidak punya hati karena hanya diam saat disindir ataupun dikata-katai. Dulu ia selalu menahan diri karena mengingat Ghifari yang sangat mencintainya. Ia tidak ingin menciptakan konflik antara Ghifari dan ibunya, makanya ia terus mengalah sampai semengalah-mengalahnya. 

Setiap ia sedih, ia akan berlari pada Ghifari. Memeluk erat suaminya walau perasaannya bagai tersayat-sayat. Di mata mertua dan keluarga besarnya, ia tidak dianggap manusia. Latar belakang keluarganya yang sederhana selalu menjadi bahan olok-olok di keluarga ningrat mereka. Seperti inilah jika cinta beda strata.

Kanaya ingat sekali, seminggu setelah pernikahannya dengan Ghifari, ia diajak mengunjungi selamatan pernikahan perak salah seorang tantenya. Seluruh keluarga besar mereka berkumpul di sana. Pada kesempatan itu, salah seorang tante Ghifari bereksprimen membuat kue-kue kering. Setelah jadi, seluruh anggota keluarga diberi kesempatan untuk mencicipi kue keringnya kecuali dirinya. Saat salah seorang sepupu Ghifari menanyakan mengapa ia tidak diberi kesempatan untuk mencicipi, jawaban tantenya begitu menusuk dan melukai harga dirinya. Tantenya mengatakan kalau ia adalah orang susah yang tidak pernah makan enak. Takutnya saat mencicipi ia bukan hanya akan mengambil satu atau dua potong kue. Tapi setoples penuh. Seluruh keluarga besar suaminya tertawa termasuk ibu mertuanya dan Nabila. Kala itu ia merasa direndahkan sampai serendah-rendahnya manusia. Sepanjang acara ia hanya diam dan tidak berani mencicipi apapun yang terhidang di meja. Ia takut dikata-katai orang susah yang rakus. Alhasil sepanjang hari ia terus menahan lapar. 

Kejadian itu tidak pernah ia ceritakan hingga saat ini pada Ghifari. Ia tidak ingin Ghifari sampai bentrok dengan keluarga besarnya. Sudah lima tahun penuh, ia bersedia berdarah-darah menahan luka asal suaminya terus mencintainya. Terus berada di sisinya. Walau ia sengsara, tidak lah mengapa. Cinta tanpa pengorban mana ada. 

Dan kini saat dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya telah menghianatinya, tidak ada lagi asa yang tersisa. Ternyata suaminya tidak bisa memegang teguh janjinya untuk selalu mencintai dan saling setia. Jadi untuk apa lagi rumah tangga ini ia pertahankan bukan?

Kali ini, di usia kelima pernikahannya, Kanaya menyerah. Semuanya akan ia akhiri cukup sampai di sini saja.

Derit pintu kamar yang terbuka membuyarkan lamunan Kanaya. Ghifari masuk ke dalam kamar dengan raut wajah bersalah. Suaminya itu ikut duduk bersisian dengannya di atas ranjang.

"Naya, sekali lagi Mas minta maaf, ya? Tolong beri Mas kesempatan sekali lagi. Mas akan membuktikan kalau Mas tidak akan berselingkuh dengan Dina atau dengan perempuan manapun lagi. Kamu percaya pada Mas 'kan Nay?" Bujuk Ghifari lagi. Ia takut, sangat takut saat melihat sikap Kanaya di ruang tamu tadi. Kanaya seperti memberi aba-aba akan adanya perpisahan dengan menyinggung-nyinggung soal jodoh yang telah habis. Ia takut kalau Kanaya akan benar-benar mengeksekusi ancamannya. Ia sangat mengenal kepribadian istrinya. Jika ia telah memutuskan sesuatu, akan sangat sulit untuk merubah keputusannya. 

"Mas,"

"Iya, Nay."

"Mari kita bercerai."

"Apa? Cerai? Kamu ini bodoh sekali, Nay. Hanya karena seorang Dina, kamu keok dan memberikan lima tahun singgasanamu ini secara cuma-cuma padanya? Cara berpikir kamu ini kok pendek sekali!" Amukan Ghifari hanya dihadiahi cibiran tipis oleh Kanaya.

"Lantas perselingkuhan Mas dengan Dina itu, termasuk berpikir panjang atau pendek, Mas?" Melihat suaminya terdiam, Kanaya kembali melanjutkan kalimatnya.

"Tidak bisa menjawab 'kan, Mas? Mas... Mas... Mas pikir Dina akan diam begitu saja saat Mas tinggalkan? Kamu salah, Mas. Naya sangat mengenal kepribadian Dina. Kalau Mas pikir dengan tertangkap basahnya kalian berdua Dina akan mundur, Mas salah besar. Justru setelah Naya tahu, Dina akan semakin memperkuat cengkramannya pada Mas. Mas tunggu saja saatnya. Satu hal yang harus Mas ketahui, seorang pelakor itu, pertama-tama mungkin ia hanya akan meminta pengakuan. Dan setelah itu ia akan menuntut persamaan. Mas tunggu saja tanggal mainnya,"

"Akan Mas pastikan dia tidak akan menuntut macam-macam." Janji Ghifari. "Bagi Mas, kamu itu segalanya. Dina itu bukan apa-apa."

"Kalau bukan apa-apa, tidak mungkin Mas memberikan berlian semahal itu padanya?" 

"Kamu... Kamu tau dari mana soal berlian itu?" Wajah Ghifari yang sebentar memerah dan sebentar memucat itu membuat tekad Kanaya kian bulat untuk meminta cerai.

"Dari mulut Dina sendiri. Waktu itu Dina bilang bahwa cincin berlian bermodel solitaire sederhana itu adalah pemberian seseorang. Dan sekarang Naya tau, siapa seseorang yang ia maksud," Naya tersenyum miris. Lihatlah tebakan asal-asalannya ternyata benar. Itu baru satu clue. Clue-clue lainnya kalau ia kembangkan, pasti akan ketahuan semua. Hanya saja ia tidak ingin lagi menyelidikinya. Untuk apa juga bukan? Toh ia sudah tau jawabannya. Semakin ia menggali, yang ada hanyalah ia akan makin sakit hati.

"Dina juga bilang bahwa ia akan belajar untuk menyukai apa yang Naya sukai. Waktu itu Naya sempat bingung. Apa maksud ucapan Dina. Namun kini semuanya terang benderang seperti lampu mercusuar. Dina ingin menggantikan posisi Naya rupanya. Dan, atas persetujuan Mas juga," sambung Naya. Bodoh! Betapa bodohnya ia selama ini. Dikelabuhi sampai sedemikian rupa oleh dua orang yang paling ia percayai. 

"Jangan mempercayai apa pun yang dikatakan oleh Dina. Kamu tau sendiri 'kan kalau ia sanggup menghianati kamu?"

"Jadi Naya harus mempercayai siapa? Mempercayai Mas? Tapi Mas 'kan juga menghianati Naya? Oh mungkin maksud Mas, Naya tidak boleh mempercayai kalian berdua ya?" Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Berpura-pura setuju dengan kalimat bersayapnya.

"Bukan begitu. Maksud Mas--"

"Mas Fari... Mas Fari..."

Ghifari menghentikan kalimatnya saat mendengar suara seorang wanita yang terus memanggil-manggil namanya. Mula-mula ia mengira itu adalah suara Nabila. Namun setelah ia mendengar dengan seksama, ternyata itu adalah suara Dina!

"Tuh, pelakornya sudah nyariin. Benar 'kan tebakan Naya? Dina tidak akan melepaskan Mas begitu saja. Sekarang sana temui selingkuhan Mas. Kenapa pucat, Mas? Sensasinya hilang karena sudah ketahuan ya?" Suaminya tidak menjawab. Namun air mukanya tampak geram. Pasti ia tidak menyangka kalau Dina ternyata senekad ini.

"Kamu tunggu di sini sebentar. Mas akan melihat apa maunya Dina," ucap Ghifari seraya bergegas keluar kamar. Kanaya yang merasa bahwa mungkin ini adalah amunisinya untuk meminta cerai, ikut keluar juga. Apa yang terjadi, terjadilah.

Bab 3

"Mas Fari, Naya." Melihat kehadiran mereka berdua Dina langsung berdiri dari sofa. Wajahnya terlihat kusut dengan air muka yang disedih-sedihkan. Ada satu hal ganjil yang Kanaya perhatikan. Dina sama sekali tidak berani memandang wajahnya. Ia sangat mengenal Dina. Kalau Dina bersikap seperti ini, itu artinya ia sedang merasa bersalah padanya. Dina pasti tengah merencanakan sesuatu yang akan menyakiti hatinya.

"Ada apa, Din? Mengapa kamu mencari saya sampai ke sini? Kamu ingat 'kan perjanjian kita?" Tukas Ghifari ketus. Kanaya tahu bahwa Ghifari mulai tidak nyaman melihat sikap Dina yang terlalu nekad.

"Maaf, Mas. Aku kemari karena ini," Dina membuka tas tangan dan menyerahkan sebuah amplop putih berlogo Rumah Sakit Ibu dan Anak ke tangan Suaminya.

Sekarang Kanaya mengerti apa maksud kedatangan Dina ke rumahnya. Sama persis sama seperti yang ingin ia lakukan di kantor Ghifari sekitar satu jam yang lalu.

"Apa ini, Din?" Ghifari mengerutkan kening. Bingung disodori amplop dari rumah sakit begitu saja.

Adegan inilah yang seharusnya ia perankan di kantor suaminya tadi. Lagi-lagi Dina selangkah lebih maju darinya. Dina telah memperhitungkan semuanya.

"Baca saja, Mas." Pinta Dina. Dalam diam Ghifari membaca kata demi kata dalam selembar kertas dari rumah sakit. Makin lama ekspresi wajahnya semakin tegang. Sedangkan Kanaya, ia hanya tersenyum kecil. Ia sudah menduga kalau Dina pasti akan membuat suatu gebrakan. Dan harus ia akui gebrakannya kali ini luar biasa berani.

"Tidak mungkin! Mana mungkin kamu hamil. Kamu 'kan mandul, Din? Kamu pasti bohong?" Sergah Ghifari.

"Aku tidak bohong, Mas. Aku memang hamil anak, Mas. Sebenarnya hasil lab ini sudah ada padaku dari dua hari yang lalu. Hanya saja aku bingung harus mengatakan apa pada Mas. Soalnya ini 'kan menyangkut soal Naya juga. Tapi setelah aku pikir-pikir, anak ini juga berhak tau soal siapa ayahnya. Anak ini kan tidak salah apa-apa, Mas?" Tangisan pilu Dina hanya dipandang datar saja oleh Kanaya. Terlepas Dina hamil atau tidak. Ayah bayinya itu Ghifari atau tidak, ia sudah kehilangan respek pada mereka berdua. Dilukai dengan begitu keji telah membuat jiwanya mati rasa. Ia tidak bisa lagi membedakan kebenaran dan kebohongan dari mulut mereka berdua.

"Ada apa ini sebenarnya, Fari? Bukannya dia ini temannya si Naya yang baru diceraikan suaminya karena mandul? Bagaimana mungkin sekarang dia bisa hamil anakmu?" Bu Mariam yang sedari tadi memperhatikan kekacauan ini mencoba menyimpulkan sesuatu. Benang merah mulai saling terkait satu persatu. Sikap Kanaya yang tiba-tiba dingin dan membangkang. Ghifari yang terus gelisah dan serba salah, sepertinya bermuara dari wanita yang setaunya adalah sahabat menantunya ini.

"Iya, Bu. Saya Dina ehm temannya Naya. Saya dan Mas Fari telah... telah cukup lama bersama. Dan kini saya telah mengandung anak Mas Fari, calon cucu, Ibu." Ujar Dina dengan suara terbata-bata. Bu Mariam terkesima. Ia tidak tau kalau putranya berani bermain api dengan sahabat istrinya sendiri. Sampai hamil lagi! Jujur keturunan Ghifari adalah hal yang paling ia inginkan saat ini. Tentu saja ia akan menerima dengan senang hati darah dagingnya sendiri. Cucu yang sangat ia idam-idamkan, kalau memang anak itu darah daging Ghifari. Tetapi ibunya? Tidak mungkin! Sampai mati pun ia tidak sudi bermenantukan wanita berhati iblis ini. Memelihara seorang penghianat itu tidak mudah. Ibarat kata ia memberi makan seekor ular berbisa di rumahnya.

"Jangan percaya begitu saja, Bu. Bisa saja anak dalam kandunganya bukan anak Mas Fari. Dia ini 'kan baru diceraikan suaminya karena mandul. Masa tiba-tiba ia bisa hamil? Jangan mau dibodohi seorang pelakor, Bu?" Kali ini Nabila lah yang bersuara. Ia tidak tahan hanya diam saja melihat drama murahan di depan matanya. Ia sudah bertahun-tahun mengincar Ghifari. Masa ia dikalahkan sebegitu mudahnya oleh seorang janda kegatela* ini? Ia bukan Kanaya yang akan nggeh-nggeh saja setiap kali ditindas orang. Lihatlah si lemah itu. Jelas-jelas dihianati sahabat sendiri, tetapi ia hanya diam saja. Coba kalau ia yang menjadi Kanaya. Sudah habis perempuan itu digundulinya.

"Saya pelakor? Terus kamu apa? Bertahun-tahun terus mengintili suami orang? Kamu dan saya itu tidak ada bedanya!" Pembelaan diri Dina membuat Kanaya tersenyum miris. Lihatlah dua orang pelakor saling menuding. Muak dengan segala drama-drama murahan yang berlangsung di depan matanya, Kanaya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Ia sedang tidak ingin menyaksikan pemandangan buruk. Terlebih lagi saat ini ia tengah mengandung. Dari pada membuang-buang tenaga, kebih baik ia mematangkan rencananya.

Ragu-ragu, Kanaya meraih ponsel. Mencari-cari nama Safa di nomor kontaknya. Setelah menghela napas panjang dua kali, ia pun menekan kontak nama Safa.

"Hallo, Fa. Gue bisa minta tolong, nggak?" Kanaya langsung saja mengatakan keinginannya begitu Safa menjawab panggilannya.

"Lo kenapa, Nay? Nggak biasa-biasanya lo ngomong kagak pake intro. Mana suara lo tegang amat lagi. Lo kenapa sih?"

Beginilah kalau berbicara dengan Safa. Sedikit saja ada perubahan dalam intonasi suaranya, ia akan langsung curiga. Safa terlalu mengenal dirinya.

"Nggak apa-apa, Fa. Eh by the way, lo lagi di mana?"

"Sesuai dengan postingan gue yang baru sejam lalu lo love, gue ada di kebun kopi, Nay. Eh lo tadi mau minta tolong apa? Penisirin gue."

"Ehm, Gini. Kalo gue numpang tinggal di perkebunan kopi keluarga lo sampai gue lahiran, bisa nggak Fa? Gue nggak punya temen lain yang gue percaya lagi soalnya."

"Wait... wait... wait. Coba lo jelasin apa maksud kata-kata lo tadi secara garis besar aja, biar gue ngerti. Gue suka nggak ngotak kalo cuma dikode-kode."

"Oke. Gue hamil, sementara Mas Fari malah diduga menghamili Dina. Gue mau divorce tetapi gue nggak mau kalau Mas Fari tau gue sedang hamil anaknya. So, gue mau semedi di kebun kopi sana. Laporan selesai." Jeda sejenak. Sepertinya teman kecilnya itu kaget mendengar ceritanya.

"Satu pertanyaan lagi. Si Dina itu siapa?"

"Lo inget nggak, saat beberapa tahun lalu gue cerita kalo gue berteman akrab dengan seorang pasien yang di duga mandul? Yang sering ketemu sama gue setiap gue check up di rumah sakit? Nah, Dina ya si pasien brengsek itu."

"Ok. Noted. Lo bisa ke sini secepatnya. Ntar setiba lo di sini, baru kita atur segala sesuatunya. Inget kabarin dulu kedua orang tua lo."

Satu masalah selesai. Tinggal satu masalah lagi, Haikal Baihaqi.

"Tapi Mas Haikal bagaimana? Dia nggak ngebolehin gue nginjek perkebunan lagi sejak... sejak... peristiwa itu?"

Teringat pada tingkah kelewatannya di masa lalu, membuat Kanaya resah. Haikal memang sangat membencinya sejak kejadian sepuluh tahun yang lalu itu.

"Gue masih punya saham 25% di perkebunan ini sebagai bagian dari keluarga Baihaqi. Udah, lo nggak usah khawatir. Secepetnya aja lo ke mari. Emang lo mau anak lo diambil mereka?"

"Ya nggak lah. Oke, Fa. Setelah gue nyelesaian permasalahan gue di sini, gue akan ke sana secepatnya. Doain gue kuat ngejalanin semua ini ya, Fa?" Setelah mendengar jawaban aaminn dari Safa, Kanaya memutus menutup panggilan telepon. Suara-suara orang yang berbicara dalam waktu yang bersamaan kian kencang di ruang tamu. Kanaya menajamkan pendengarannya. Ada satu suara lagi yang ikut berbicara. Yusuf Albani, bapak mertuanya. Seperti masalah ini semakin serius karena ayah mertuanya sampai turun tangan.

Tidak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk perlahan. Bik Sumi, Asisten Rumah Tangganya berpesan bahwa ia ditunggu di ruang keluarga. Sidang akan segera dimulai rupanya.

Sebelum menuju ke ruang keluarga, Kanaya berpikir sejenak. Bagaimana pun ini adalah keputusan besar. Ia harus berpikir ulang sebelum mengambil sikap. Ia tidak mau kalau suatu hari nanti, keputusannya ini akan ia sesali. Hanya saja hati dan kepalanya saat ini sedang tidak bisa diajak bekerjasama. Emosinya kerap memuncak setiap kali mengingat adegan silat lidah Dina dan suaminya di kantor tadi. Pikiran-pikiran liarnya terus berseliweran karena kemarahan yang belum terlampiaskan. Makanya ia berniat untuk mendinginkan hati dan kepalanya terlebih dahulu. Bertanya jujur pada dirinya sendiri, apa sebenarnya yang ia inginkan dalam situasi ini? Apa yang sekiranya bisa membuatnya bahagia lagi setelah penghianatan menyakitkan ini? Apa yang masih bisa ia selamatkan dari situasi terburuk ini. Setelah memikirkan baik buruk keputusannya sekali lagi, Kanaya berdiri. Ia telah siap dengan satu keputusan final. Ia akan bercerai dengan Ghifari. Dengan langkah yang terasa lebih ringan Kanya keluar dari kamar menuju ke ruang keluarga.

Situasi di ruang keluarga terasa tegang oleh keheningan. Masing-masing orang yang duduk di sana, seperti sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Kanaya melirik Dina sekilas. Mantan sahabatnya itu terlihat lesu dan bingung. Dari sekilas pandang ini saja, Kanaya sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Bahwasannya rencana besar Dina itu tidak menemukan muaranya. Kanaya tersenyum tipis. Dina tidak tau sedang berhadapan dengan siapa. Mana mungkin kedua mertuanya bisa ia kelabuhi dengan sebegitu mudahnya. Dina ini terlalu banyak menonton sinetron.

Di ruang keluarga saat ini duduk kedua mertuanya, suaminya dan Dina. Keberadaan Nabila sudah tidak tampak lagi. Sepertinya bapak mertuanya tidak ingin ada telinga lain yang mendengar sidang ini. Bagaimana pun ini adalah aib keluarga.

"Duduk, Nay." Ujar ayah mertuanya. Kanaya mengangguk sopan dan mendekati sofa. Ia memilih duduk di samping ibu mertuanya. Ia tidak sudi lagi duduk bersebelahan dengan Ghifari.

"Bapak, ibu, Ghifari dan Dina telah membuat satu keputusan. Dan Bapak harap kamu juga menyetujui keputusan kami ini," Kanaya hanya mengangguk kecil. Apapun keputusan keluarga besar ini toh tidak akan ada hubungannya dengan dirinya lagi. Ia akan segera keluar dari dari sangkar emas penuh tekanan keluarga Albani ini.

"Seperti yang kamu ketahui, Dina mengaku telah hamil anak Fari. Ayah tau, mereka berdua memang salah. Tapi anak dalam kandungan Dina tidak salah 'kan? Lagi pula jujur Ayah juga mengharapkan generasi penerus Albani." Yusuf menghentikan kata-katanya sejenak. Ia ingin melihat reaksi menantunya. Apakah menantunya ini marah, kecewa atau sedih. Namun sampai sejauh ini air muka menantunya ini biasa-biasa saja. Tidak ada kemarahan atau kesedihan yang terpancar di kedua bola mata menantunya. Tatapan menantunya dingin dan datar. Hal ini di luar ekspektasinya. Ia sempat mengira kalau menantunya ini akan histeris. Ternyata semua kekhawatirannya itu tidak perlu.

"Kami telah membuat keputusan bahwa setelah anak itu lahir, maka kamu dan Fari lah yang akan merawatnya. Di mata hukum dan masyarakat anak itu akan menjadi anak kandung kalian berdua. Artinya, anak itu akan kami terima dengan tangan terbuka, tapi ibunya tidak. Keluarga Albani tidak akan mungkin menerima seorang janda dengan riwayat cerai. Terlebih lagi akhlaknya tiada baik. Berselingkuh dengan suami orang, apalagi suami teman baiknya sendiri adalah seburuk-buruknya perempuan," wajah Dina kian busuk saja saat mendengar celaan bapak mertuanya.

Jadi ini yang membuat wajah Dina lesu seperti prajurit yang kalah perang? Heh, Dina akhirnya menyadari kalau ia telah salah strategi.

"Fari pun buruk sebagai seorang laki-laki dan suami. Tetapi bagaimana pun ia adalah seorang Albani. Dia anak kandung Ayah."

Makanya salah pun tetap dibela 'kan, Yah? Coba kalau Naya yang salah. Jangan harap ada kata maaf.

"Tetapi semua ini tergantung pada hasil test DNA setelah anak itu dilahirkan. Kalau anak itu terbukti memang darah daging Fari, maka apa yang ayah putuskan tadi akan segera kita realisasikan. Akan tetapi jika anak itu bukan anak Fari, maka Ayah akan menuntut Dina atas dasar pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan." Di akhir kalimat ayah mertuanya dengan sengaja menatap Dina. Dan kali ini Kanaya benar-benar melihat wajah Dina kian pias. Hanya ada dua hal yang terlintas dibenaknya. Entah Dina memang pura-pura hamil, atau ia memang hamil tapi bukan dari benih Ghifari. Makanya ia jadi ketakutan setengah mati.

"Setelah mendengar semua ini, apa pendapatmu, Naya? Apakah kamu juga setuju dengan keputusan kami?" Pertanyaan ayah mertuanya membuat Ghifari, Dina dan ibu mertuanya serentak memandangnya penasaran. Mereka semua pasti menunggu-nunggu jawabannya.

"Naya tidak ingin mencampuri hal yang bukan urusan Naya, Yah." Jawabnya singkat.

"Bukan urusan kamu? Maksudnya?" Ayah mertuanya mengerutkan kening.

"Bukan urusan Naya karena Naya ingin bercerai dengan Mas Fari, Yah. Jadi apapun keputusan Ayah dan keluarga, tidak ada sangkut pautnya dengan Naya lagi." Lanjut Kanaya tegas.

"Tidak bisa! Bukankah tadi sudah Mas katakan kalau Mas tidak mau bercerai. Kamu tuli, Nay?" Teriak Ghifari putus asa. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Kanaya. Seharusnya ia bahagia karena tidak diceraikan dan malah mendapat anugerah seorang anak. Ia memang salah. Tetapi toh ia sudah mencoba menyelesaikan permasalahan dengan sebaik-baiknya. Lagi pula semua pihak telah setuju dengan keputusannya ayahnya. Dan anehnya malah Kanaya yang menolak. Jalan pikiran istrinya ini memang susah ditebak.

"Keputusan Naya sudah bulat, Mas. Dengar baik-baik, Mas. Naya meminta cerai bukan karena kehamilan Dina. Tetapi karena perselingkuhan Mas. Masalah hamil atau tidak hamilnya Dina, itu masalah lain. Apakah Mas pikir setelah kejadian ini, perasaan Naya pada Mas akan tetap sama?" Kanaya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak, Mas. Di pikiran Naya saat ini, bukan hanya soal Dina, Mas. Tapi pada Dina-Dina lain yang ada di luar sana. Naya sudah tidak bisa lagi mempercayai Mas. Dan pernikahan tanpa kepercayaan itu omong kosong, Mas. Seperti rumah tanpa fondasi. Rapuh!"

"Kamu sudah tidak mencintai Mas lagi, Nay?" Mata suaminya berkaca-kaca. Penyesalan tergambar jelas di raut wajahnya.

"Jujur Naya tidak tau, Mas. Saat ini Naya sedang muak membicarakan soal cinta. Mas ingat tidak, tujuh tahun lalu Mas pernah berikrar bahwa Mas akan selalu mencintai dan setia pada Naya lebih lama dari selama-lamanya. Tapi sekarang apa yang terjadi, Mas? Mas malah menjadi orang yang paling menyakiti Naya lebih sakit dari sesakit-sakitnya. Sudahlah, Mas. Kita akhiri saja semua ini. Jangan bilang kalau Mas masih mencintai Naya, kalau Mas nyatanya sanggup menghianati Naya. Basi, Mas."

"Kenapa Nay, kenapa kamu keras kepala seperti ini? Tidak bisakah kamu memaafkan Mas kali ini? Kali ini saja, Nay?" pinta Ghifari mengiba-iba. Ia sama sekali tidak menduga kalau keisengannya akan berakibat sefatal ini.

"Sudahlah, Fari. Kalau si Naya sudah tidak mau, tidak usah dipaksa. Seperti kamu nggak laku saja. Jangan takut, masih banyak perempuan baik-baik yang antri mau menjadi istrimu di luar sana. Kamu tidak perlu terus memohon-mohon seperti ini." Dengus Mariam sewot. Ia kesal karena anak laki-lakinya sampai mengemis-ngemis begitu pada istri mandul tidak tau dirinya.

"Ibu benar, Mas. Banyak sekali wanita yang antri ingin menjadi istri Mas di luar sana. Jangan 'kan yang di luar. Yang di dalam saja banyak kok, Mas. Dina dan Nabila misalnya. Benar 'kan, Bu?" sindir Kanaya kalem. Walau ibu mertuanya tidak membalas kata-katanya, tapi delikan matanya sudah mewakilkan. Ibu mertuanya senang karena punya peluang untuk mendapatkan menantu seperti yang ia inginkan. Keputusannya untuk bercerai dengan Ghifari memang sudah tepat bukan?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED