Sampul Novel Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta

Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta

8.6 / 10.0
Demi memenangkan hadiah besar, sepuluh lajang harus bertahan di pulau terpencil tanpa gawai dalam acara realitas Sexy Singles. Selama dua minggu penuh, kamera mengawasi gerak-gerik mereka dalam menemukan cinta. Namun, kehadiran kontestan baru dan pengkhianatan tak terduga mulai menguji kesetiaan yang ada. Saat ambisi meraih ketenaran mengalahkan ketulusan hati, mampukah ikatan mereka bertahan, atau justru kepalsuan yang akan menghancurkan segalanya?

Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta Bab 1

Kilatan cahaya dari tadi terus terlihat. Seorang perempuan berdiri dengan begitu anggun. Berpose berubah-ubah dengan sebuah kamera dan seorang fotografer didepannya. Ia tidak peduli dengan kebisingan akan arahan atau orang-orang yang memujinya luar biasa. Karena ia profesional, maka ia akan tunjukkan apa yang akan mereka dapat dengan memakainya sebagai model mereka. Tentu tidak akan kecewa.

Dengan bibir penuh yang merah merekah, bulu mata lentik, hidung mancung, wajah oval dan didukung dengan tubuh tinggi semampai yang berisi membuatnya mengantongi seluruh kata yang menggambarkan sebuah kecantikan.

"Oke, stop!"

Perempuan itu kemudian berhenti berpose. Ia merapikan rambutnya.

"Kerja bagus, Elea! Pemotretan kali ini berhenti sampai disini."

Elea, model cantik itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum melangkah ke arah asistennya yang sudah menunggunya dengan senyum lebar di wajahnya.

"Elea. Kau selalu menakjubkan! Aku bangga padamu!"

Elea tersenyum tipis, hampir tertawa karena ucapan asistennya itu. "Seperti biasa. Kau selalu berlebihan, Emma. Aku biasa saja," ujarnya merendah. Lebih baik begitu, bukan? Merendah walau sadar jika ia luar biasa.

"Baiklah." Emma, sang asisten hanya mengangkat bahunya tidak acuh. "Kalau begitu, kau harus ganti baju lebih dulu sebelum kita pulang."

Elea mengangguk semangat dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Emma. Kata 'pulang' memang selalu membuatnya semangat.

"Oke! Nanti buatkan aku mi juga, ya?"

"Baik, tuan puteri." Emma tampak pasrah dan itu membuat Elea tak mampu menahan tawanya lebih lama lagi.

Mereka berdua baru saja masuk ke ruang khusus para model ketika ponsel Elea yang berada di saku cardigan Emma berdering.

"Elea. Ada pesan dari Jamie." Emma mengangkat ponsel Elea, menunjukkannya pada sang empu. "Hubungan kalian baik-baik saja?"

Elea menghampiri Emma dan mengambil ponselnya. "Tidak. Hubungan kami sangat buruk. Mungkin sebentar lagi akan putus."

"Kau serius?" Emma tampak khawatir. Pasalnya ia tahu seberapa dalam perasaan Elea ke Jamie dulu. Dan sekarang, hubungan mereka sudah di ujung tanduk. Seperti terlalu mudah untuk berpisah, padahal dulu mereka berjuang untuk bisa bersama.

"Kalau tidak cocok, mau bagaimana lagi, kan?" Elea memberi senyum kecil. "Aku keluar dulu. Jamie menungguku. Ada sesuatu yang ingin dia katakan."

Bibir Emma menipis dan ia mengangguk dua kali. Matanya terus mengikuti langkah Elea dan berharap dalam hati supaya hubungan mereka tetap baik-baik saja.

***

Elea melangkah dengan langkah pasti. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapanya dan ia menyapa balik. Senyumnya yang merekah itu surut tiba-tiba ketika ia berhadapan dengan Jamie.

"Hai."

Elea menghentikan langkahnya, kedua matanya berkedip dan tangannya terlipat didepan tubuhnya. Ia menunggu Jamie mengungkapkan apa yang ingin dikatakan. Permasalahan terakhir dalam hubungan mereka membuat mereka berdua saling tidak peduli satu sama lain.

"Dengar." Jamie membasahi bibirnya. "Aku mencintaimu, El. Hanya saja--"

"Langsung intinya saja," potong Elea cepat. Ia terlihat tidak sabar menanti inti dari ucapan Jamie.

"Okay." Jamie menggosok kedua telapak tangannya dan mendesah pelan. "Ayo kita akhiri hubungan ini."

Mendengarnya membuat senyum kecil terukir di wajah Elea. Seperti yang ia duga. "Baik." Elea mendongak padanya. "Sampai sini saja. Terima kasih atas semua kesenangan yang kau beri padaku." Dan senyumnya semakin lebar.

"Hm. Hubungan ini tidak berhasil. Selalu ada kesalahpahaman."

Elea mengangguk paham. "Aku tahu. Ini memang yang terbaik." Kedua tangannya terurai dan menjuntai di sisi tubuhnya. "Kalau begitu ... sampai jumpa," ucapnya sebelum berbalik pergi dari sana, meninggalkan Jamie yang mengernyit dalam, dilema apakah keputusannya sudah tepat.

Tapi, Elea tidak peduli. Ia memang menunggu momen ini datang. Sudah berkali-kali sebenarnya ia mengakhiri hubungan ini secara sepihak, tapi Jamie menolak. Jadi, Elea menunggu Jamie bosan dengan tingkahnya lalu memutuskan untuk putus. Di momen seperti itu, Elea tentu tidak akan protes, ia malah dengan senang hati setuju karena setelahnya ia terbebas dari Jamie yang begitu overprotektif.

"Hei. Sudah selesai?" Emma bertanya begitu Elea masuk kembali ke ruang khusus para model.

Elea mengangguk dan duduk di salah satu skruvsta berwarna putih gading yang langsung berhadapan dengan sebuah cermin besar. Elea menyandarkan punggungnya dan memijat dahinya perlahan.

"Aku ingin sekali liburan. Tapi selalu tidak ada waktu," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Emma. "Lalu, aku dan Jamie sudah putus."

"Apa?" Emma menganga tidak percaya. "Kau berbohong?"

"Tidak."

"Astaga." Emma tidak percaya dengan telinganya sendiri. "Oh ... Em ... Okey. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja, El."

Elea memutar kursinya menghadap ke arah Emma yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuknya. "Apa tidak ada jadwal kosong untukku, Emma?"

"Tidak ada sebenarnya. Tapi, jika kau mau maka bisa saja. Aku akan mengurusnya." Emma mengedipkan sebelah matanya. "Omong-omong, berarti kau sekarang sedang melajang. Benar, kan?"

Bibir Elea melengkung ke bawah dan mengedikkan kedua bahunya. "Ya begitulah. Aku rasa lebih baik begini. Mengurus lelaki hanya membuatku tambah lelah saja."

Emma meringis mendengarnya. Ia juga merasakan hal yang sama, sejujurnya. Itu kenapa ia tidak pernah niat mencari pasangan. Hanya menyusahkan saja baginya.

"Baiklah. Kita akan bicarakan hal itu nanti lagi. Sekarang, kau harus berganti baju dahulu." Emma memberikan setelan dress tanpa lengan dan blazer pada Elea yang sudah bangkit berdiri. "Kalau kau kesulitan, panggil aku saja."

Elea menganggut dan membawa gantungan pakaian itu ke dalam ruang ganti. Sementara Elea masih berada didalam sana, Emma duduk di satu single sofa di sudut ruangan dengan ponsel yang menyala di tangannya.

Tak lama kemudian, mata Emma tampak membesar, ia bahkan lebih mendekatkan ponselnya ke wajahnya. Sepertinya ada sesuatu yang menarik di sana hingga sekarang ia terlihat begitu antusias.

"Elea!" Emma berseru begitu Elea keluar dari ruang ganti. "Elea, kau harus lihat ini!" Emma berjalan ke arah Elea dan menunjukkan pada Elea apa yang ia maksudkan.

"Apa ini?" Elea menyipitkan matanya membaca tulisan yang agak kecil di ponsel Emma. "Program mencari pasangan?" tanyanya dengan nada nyaring.

"Ya!" Emma menjawab antusias. "Kau tidak mau ikut? Ini sangat cocok sekali denganmu! Siapa tahu kau bertemu dengan pria yang sesuai dengan tipe idealmu lalu kalian berpacaran dan akhirnya menikah!"

Elea menghela napas lelah. Mendengar Emma yang berceloteh semangat tentang program mencari pasangan itu membuatnya merasa letih.

"Emma. Aku tidak akan mendaftarkan diriku ke acara itu. Aku tidak suka dan juga tidak mau," ujar Elea menolak terang-terangan. "Acara seperti itu hanya omong kosong. Tidak ada pasangan yang benar-benar pasangan kalau sudah keluar dari acara, mereka pasti putus."

"Tapi ini keren, Elea. Stasius TV KRA menjadi yang terbaik di negeri ini. Dengan kau ikut, dan kau berpartisipasi di sana, namamu akan lebih terkenal. Kau akan dikenal lebih banyak orang! Dengan begitu, akan lebih mudah untukmu mendapatkan uang. Percayalah. Terkenal membuat uangmu lebih banyak."

Elea terdiam di tempat. Sebagai gadis yang tumbuh dari keluarga dibawah garis rata-rata dalam aspek ekonomi membuat Elea agak sensitif masalah uang. Ia begitu berambisi mendapatkan uang yang banyak dan menjadi super kaya raya.

"Tapi aku tidak suka drama. Aku juga tidak bisa akting." Ela mengerutkan hidungnya. "Aku juga payah menghapal skript. Jadi ... tidak, terimakasih."

Emma berkacak pinggang. "Elea. Aku penasaran apakah kau pernah menonton reality show?"

"Well ... memangnya semua itu tidak terencana?"

Emma memasang ekspresi seolah ia ingin meninju Elea saat itu juga. "Elea. Sayang. Reality show tidak pakai skript. Semuanya mengalir begitu saja. Berdasarkan emosi dan perasaan. Jadi ayolah. Kau luar biasa, kau akan bertemu beberapa pria yang menawan, yang mungkin bisa mengambil hatimu, ya kan? Kau juga pasti akan terkenal. Apalagi yang kau butuhkan?"

Elea menggeleng. Membuat Emma mendesah pelan. "Tidak, Em. Aku suka diriku yang sekarang. Tidak pusing memikirkan banyak hal. Uangku sudah cukup. Aku sudah cukup senang. Jadi ... jawabanku tetap tidak."

Elea berbalik menatap cermin, menambahkan lipstik di bibirnya. Sedangkan Emma merasa agak kecewa. Emma hanya merasa jika Elea bisa menjadi tokoh utama dalam acara ini. Karena jangankan para pria, Emma yang wanita saja benar-benar mengagumi aura Elea. Jika ia tertarik dengan wanita, mungkin ia sudah memacari Elea.

Tiba-tiba sebuah pemikiran jahil masuk ke dalam pikiran Emma. Ia tersenyum hampir tertawa memikirkannya. Dan lagipula untuk acara yang tentunya booming nanti, tentu ada banyak pendaftar, peluang Elea bisa lulus cukup kecil, bukan?

"Emma. Jangan tatap ponselmu terus. Kemas semua barang dan kita pulang sekarang."

Emma menjentikkan jarinya. "Okay, babe!"

***

Di sebuah ruangan terang benderang dengan begitu banyaknya alat olahraga, seorang pria dengan tone kulit limestone dan dada bidang, biseps serta triseps sempurna serta perut yang begitu sixpack sedang melakukan pemanasan ketika seorang gadis yang memakai sport bra dan legging berwarna hitam tiba-tiba muncul dan menginterupsi sesi pemanasannya.

"Ethan! Hei kau baru mau work out?" tanyanya dengan riang dan mengecup pipi Ethan. "Kemarilah, ada yang ingin aku katakan padamu." Dia berjalan ke arah kursi dan duduk di sana, melambaikan tangannya menyuruh Ethan mendekat.

"Ada apa, Phi?" Ethan, pria yang memakai celana pendek yang sebenarnya cukup ketat di tubuhnya itu melangkah ke Delphi, satu-satunya teman perempuan yang pernah terjebak friendzone dengannya.

"Kau single, kan?"

Mata Ethan yang beriris cokelat pekat itu mengerut. "Kau berniat mengejek?"

"Aku cuma tanya." Delphi berseru dan tertawa. "Aku bawa berita baik untuk pria yang sudah melajang dua tahun ini," ujarnya semangat.

Ethan mengambil botol minum dari tasnya sebelum duduk disebelah Delphi. "Apa?" tanyanya lalu mereguk air didalam botol.

"KRA sedang membuka pendaftaran untuk orang-orang single seperti kita. Ada program kencan ... em ya seperti mencari pasangan selama empat belas hari. Kau tidak mau ikut?" Mata Delphi membesar menatap Ethan, menandakan betapa antusiasnya ia. "Aku yakin ini akan benar-benar wuah! Kau tau sendiri kan bagaimana setiap program TV ini selalu viral. KRA pasti tidak main-main merangkai semuanya. Pasti akan epic!"

Ethan tidak bereaksi. Ia bahkan tidak menatap balik Delphi. Tangannya hanya memutar tutup botol dan ia malah menguap kecil kemudian.

"Ethan!"

"Kenapa?" Ethan menyahut malas. "Aku tidak tertarik. Daftarkan saja dirimu."

"Kau yakin? Akan ada beberapa perempuan luar biasa di sana. Kau benar-benar menyesal kalau tidak ikut. Kau juga bisa menambah teman, relasi dan bisa saja terkenal, Ethan!"

Ethan menggeleng. "Tidak," sahutnya. "Kau optimis sekali. Memangnya bisa lulus?"

Delphi membuka mulutnya hendak menyangkal kalimat pesimis Ethan, tapi ia kemudian menutupnya lagi. "Apa salahnya mencoba, kan?"

"Aku tidak ada waktu."

"Omong kosong. Perusahan furniture itu milikmu. Kau bisa libur kapanpun kau mau." Delphi tidak menyerah. Ia ingin dirinya dan Ethan ikut program ini.

"Tidak ...." Ethan bangkit berdiri dan berjalan ke arah treadmill. "Kau saja."

Bibir Delphi mengerucut, tanda jika ia sedang kesal. "Aku tetap akan mendaftarkanmu!!" serunya menatap punggung Ethan, tidak peduli kalau beberapa orang di sana menoleh ke arahnya.

Dan Ethan, sekali lagi dengan sikap tak acuhnya, ia berkata sembari mengangkat kedua tangannya. "Terserah ...."

***

Emma dan Elea sedang berada didalam apartemen Elea, apartemen yang kata Elea adalah milik mereka berdua, bukan Elea saja.

"Elea, boleh aku pinjam laptopmu?"

Emma menoleh pada Elea yang sedang berbaring diatas tempat tidur dengan eye mask di kelopak mata bawahnya.

"Hm."

Emma terkekeh dan bangkit berdiri, ia berjalan ke arah meja lalu mengambil laptop pink milik Elea.

"Aku harus mengirim beberapa email dan laptopku sedang rusak, tidak tahu kenapa." Emma memberitahu Elea tanpa ditanya. "Dan setelah ini, aku akan mendaftarkanmu ke program kencan itu."

"Emma!" Elea bangkit duduk dan Emma tertawa kencan karenanya. "Jangan coba-coba. Aku tidak mau. Kalau kau tetap kukuh, ya sudah terserah, aku tetap tidak akan ikut."

Tawa Emma mereda. Ia mengedikkan kedua bahunya. Ya lihat saja nanti, pikirnya.

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul dibawah layar laptop Elea. Emma meliriknya dan terkejut ketika melihat sebuah DM yang berasal dari KRA official.

Emma menutup mulutnya rapat-rapat agar tak berseru. Ia tahu kalau pesan itu untuk Elea, tapi ia tidak berbohong kalau ia amat sangat antusias sekarang.

Emma mengintip dari balik laptop, melihat apa yang dilakukan Elea. Karena Elea kembali berbaring dan memejamkan mata. Ia meminta maaf didalam hati dan membuka pesan itu.

Mata Emma membesar selama membaca pesan yang cukup panjang itu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya ingin keluar dari tenggorokannya. Ia mulai menutup mulutnya dan tertawa ketika hampir selesai membaca semua teks itu.

"ELEA!!" Ia berseru. Berdiri dan melompat-lompat karena rasa senang. "Elea! Bangun! Kau mendapat pesan dari KRA!"

Elea membuka sebelah matanya. "Emma. Please. Aku mau tidur."

"Hey baca dulu pesan ini." Emma membawa laptop Elea ke tempat tidur dan menaruhnya ke pangkuan gadis itu. "Gila! Ini gila! Kau bahkan tidak perlu mendaftar, Elea. Mereka menawari langsung padamu."

Elea membaca teks itu dengan malas. Ketika selesai, ia mengembalikan laptopnya ke Emma dan kembali berbaring seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi.

"Elea?" Emma mengerutkan dahinya, sungguh heran dengan sifat modelnya ini. "Setidaknya tunjukkan rasa senang sedikit saja."

Elea menggeleng. "Aku tetap tidak akan ikut, Emma. Aku lelah. Sudah ya," ujarnya berbalik badan dan memeluk gulingnya.

Emma menghela napas. Sepertinya memang Elea tidak mau ikut. Emma kemudian mengambil laptop itu dan membaca kembali pesan yang tertera di sana. Penawaran ini berlaku sampai lima hari ke depan. Karena di hari keenam, peserta ditentukan dan hari ketujuh, semuanya dimulai.

***

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjebak Program Cinta Buatan Televisi Swasta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel En-PD158
8.7
Demi menyembuhkan putra kandungnya dengan Lin Yanran yang terkena leukemia, Zhou Yu'an meminta cerai setelah tiga tahun pernikahan. Ia memohon kepada sang istri agar diizinkan memiliki anak lagi dengan mantan kekasihnya itu sebagai pendonor sel penyelamat. Di balik janji setianya untuk kembali setelah proses medis selesai, sang istri justru menemukan pesan provokatif dari Yanran yang telah menanti kedatangan Yu'an untuk menghamilinya malam itu juga.
Sampul Novel Istri Pengganti
9.7
Rayhan hancur setelah dikhianati calon istrinya. Demi meluapkan kekecewaan, ia nekat memaksa Zahra menikah dengannya. Zahra tentu saja terkejut dan langsung menolak rencana gila itu. Tak tinggal diam, Rayhan menawarkan sebuah butik sebagai imbalan jika Zahra bersedia menggantikan posisi pengantin wanita yang kabur. Akankah Zahra menerima tawaran tersebut dan sanggup hidup sebagai istri pengganti bagi pria sedingin Rayhan?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh Andini Wijaya, pemilik sekolah yang mandiri. Namun, hubungan mereka diuji saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi mendapat pengakuan dari ayah mereka, Sigit Wijaya. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ambisi keluarga Wijaya, akankah cinta Randika dan Andini tetap bertahan?
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Alena Adriani Quensyah harus menghadapi kenyataan pahit setelah orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada gembong mafia yang sangat kejam. Kini, hidupnya bagai di balik jeruji besi, ditambah dengan bayang-bayang trauma masa lalu yang terus menyiksa batinnya. Di tengah situasi pelik ini, Alena bertekad mencari tahu alasan keluarganya tega menelantarkannya. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan kembali orang tuanya?

Drama Pendek Terpopuler

Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED