Kilatan cahaya dari tadi terus terlihat. Seorang perempuan berdiri dengan begitu anggun. Berpose berubah-ubah dengan sebuah kamera dan seorang fotografer didepannya. Ia tidak peduli dengan kebisingan akan arahan atau orang-orang yang memujinya luar biasa. Karena ia profesional, maka ia akan tunjukkan apa yang akan mereka dapat dengan memakainya sebagai model mereka. Tentu tidak akan kecewa.
Dengan bibir penuh yang merah merekah, bulu mata lentik, hidung mancung, wajah oval dan didukung dengan tubuh tinggi semampai yang berisi membuatnya mengantongi seluruh kata yang menggambarkan sebuah kecantikan.
"Oke, stop!"
Perempuan itu kemudian berhenti berpose. Ia merapikan rambutnya.
"Kerja bagus, Elea! Pemotretan kali ini berhenti sampai disini."
Elea, model cantik itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum melangkah ke arah asistennya yang sudah menunggunya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Elea. Kau selalu menakjubkan! Aku bangga padamu!"
Elea tersenyum tipis, hampir tertawa karena ucapan asistennya itu. "Seperti biasa. Kau selalu berlebihan, Emma. Aku biasa saja," ujarnya merendah. Lebih baik begitu, bukan? Merendah walau sadar jika ia luar biasa.
"Baiklah." Emma, sang asisten hanya mengangkat bahunya tidak acuh. "Kalau begitu, kau harus ganti baju lebih dulu sebelum kita pulang."
Elea mengangguk semangat dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Emma. Kata 'pulang' memang selalu membuatnya semangat.
"Oke! Nanti buatkan aku mi juga, ya?"
"Baik, tuan puteri." Emma tampak pasrah dan itu membuat Elea tak mampu menahan tawanya lebih lama lagi.
Mereka berdua baru saja masuk ke ruang khusus para model ketika ponsel Elea yang berada di saku cardigan Emma berdering.
"Elea. Ada pesan dari Jamie." Emma mengangkat ponsel Elea, menunjukkannya pada sang empu. "Hubungan kalian baik-baik saja?"
Elea menghampiri Emma dan mengambil ponselnya. "Tidak. Hubungan kami sangat buruk. Mungkin sebentar lagi akan putus."
"Kau serius?" Emma tampak khawatir. Pasalnya ia tahu seberapa dalam perasaan Elea ke Jamie dulu. Dan sekarang, hubungan mereka sudah di ujung tanduk. Seperti terlalu mudah untuk berpisah, padahal dulu mereka berjuang untuk bisa bersama.
"Kalau tidak cocok, mau bagaimana lagi, kan?" Elea memberi senyum kecil. "Aku keluar dulu. Jamie menungguku. Ada sesuatu yang ingin dia katakan."
Bibir Emma menipis dan ia mengangguk dua kali. Matanya terus mengikuti langkah Elea dan berharap dalam hati supaya hubungan mereka tetap baik-baik saja.
***
Elea melangkah dengan langkah pasti. Beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapanya dan ia menyapa balik. Senyumnya yang merekah itu surut tiba-tiba ketika ia berhadapan dengan Jamie.
"Hai."
Elea menghentikan langkahnya, kedua matanya berkedip dan tangannya terlipat didepan tubuhnya. Ia menunggu Jamie mengungkapkan apa yang ingin dikatakan. Permasalahan terakhir dalam hubungan mereka membuat mereka berdua saling tidak peduli satu sama lain.
"Dengar." Jamie membasahi bibirnya. "Aku mencintaimu, El. Hanya saja--"
"Langsung intinya saja," potong Elea cepat. Ia terlihat tidak sabar menanti inti dari ucapan Jamie.
"Okay." Jamie menggosok kedua telapak tangannya dan mendesah pelan. "Ayo kita akhiri hubungan ini."
Mendengarnya membuat senyum kecil terukir di wajah Elea. Seperti yang ia duga. "Baik." Elea mendongak padanya. "Sampai sini saja. Terima kasih atas semua kesenangan yang kau beri padaku." Dan senyumnya semakin lebar.
"Hm. Hubungan ini tidak berhasil. Selalu ada kesalahpahaman."
Elea mengangguk paham. "Aku tahu. Ini memang yang terbaik." Kedua tangannya terurai dan menjuntai di sisi tubuhnya. "Kalau begitu ... sampai jumpa," ucapnya sebelum berbalik pergi dari sana, meninggalkan Jamie yang mengernyit dalam, dilema apakah keputusannya sudah tepat.
Tapi, Elea tidak peduli. Ia memang menunggu momen ini datang. Sudah berkali-kali sebenarnya ia mengakhiri hubungan ini secara sepihak, tapi Jamie menolak. Jadi, Elea menunggu Jamie bosan dengan tingkahnya lalu memutuskan untuk putus. Di momen seperti itu, Elea tentu tidak akan protes, ia malah dengan senang hati setuju karena setelahnya ia terbebas dari Jamie yang begitu overprotektif.
"Hei. Sudah selesai?" Emma bertanya begitu Elea masuk kembali ke ruang khusus para model.
Elea mengangguk dan duduk di salah satu skruvsta berwarna putih gading yang langsung berhadapan dengan sebuah cermin besar. Elea menyandarkan punggungnya dan memijat dahinya perlahan.
"Aku ingin sekali liburan. Tapi selalu tidak ada waktu," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Emma. "Lalu, aku dan Jamie sudah putus."
"Apa?" Emma menganga tidak percaya. "Kau berbohong?"
"Tidak."
"Astaga." Emma tidak percaya dengan telinganya sendiri. "Oh ... Em ... Okey. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja, El."
Elea memutar kursinya menghadap ke arah Emma yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuknya. "Apa tidak ada jadwal kosong untukku, Emma?"
"Tidak ada sebenarnya. Tapi, jika kau mau maka bisa saja. Aku akan mengurusnya." Emma mengedipkan sebelah matanya. "Omong-omong, berarti kau sekarang sedang melajang. Benar, kan?"
Bibir Elea melengkung ke bawah dan mengedikkan kedua bahunya. "Ya begitulah. Aku rasa lebih baik begini. Mengurus lelaki hanya membuatku tambah lelah saja."
Emma meringis mendengarnya. Ia juga merasakan hal yang sama, sejujurnya. Itu kenapa ia tidak pernah niat mencari pasangan. Hanya menyusahkan saja baginya.
"Baiklah. Kita akan bicarakan hal itu nanti lagi. Sekarang, kau harus berganti baju dahulu." Emma memberikan setelan dress tanpa lengan dan blazer pada Elea yang sudah bangkit berdiri. "Kalau kau kesulitan, panggil aku saja."
Elea menganggut dan membawa gantungan pakaian itu ke dalam ruang ganti. Sementara Elea masih berada didalam sana, Emma duduk di satu single sofa di sudut ruangan dengan ponsel yang menyala di tangannya.
Tak lama kemudian, mata Emma tampak membesar, ia bahkan lebih mendekatkan ponselnya ke wajahnya. Sepertinya ada sesuatu yang menarik di sana hingga sekarang ia terlihat begitu antusias.
"Elea!" Emma berseru begitu Elea keluar dari ruang ganti. "Elea, kau harus lihat ini!" Emma berjalan ke arah Elea dan menunjukkan pada Elea apa yang ia maksudkan.
"Apa ini?" Elea menyipitkan matanya membaca tulisan yang agak kecil di ponsel Emma. "Program mencari pasangan?" tanyanya dengan nada nyaring.
"Ya!" Emma menjawab antusias. "Kau tidak mau ikut? Ini sangat cocok sekali denganmu! Siapa tahu kau bertemu dengan pria yang sesuai dengan tipe idealmu lalu kalian berpacaran dan akhirnya menikah!"
Elea menghela napas lelah. Mendengar Emma yang berceloteh semangat tentang program mencari pasangan itu membuatnya merasa letih.
"Emma. Aku tidak akan mendaftarkan diriku ke acara itu. Aku tidak suka dan juga tidak mau," ujar Elea menolak terang-terangan. "Acara seperti itu hanya omong kosong. Tidak ada pasangan yang benar-benar pasangan kalau sudah keluar dari acara, mereka pasti putus."
"Tapi ini keren, Elea. Stasius TV KRA menjadi yang terbaik di negeri ini. Dengan kau ikut, dan kau berpartisipasi di sana, namamu akan lebih terkenal. Kau akan dikenal lebih banyak orang! Dengan begitu, akan lebih mudah untukmu mendapatkan uang. Percayalah. Terkenal membuat uangmu lebih banyak."
Elea terdiam di tempat. Sebagai gadis yang tumbuh dari keluarga dibawah garis rata-rata dalam aspek ekonomi membuat Elea agak sensitif masalah uang. Ia begitu berambisi mendapatkan uang yang banyak dan menjadi super kaya raya.
"Tapi aku tidak suka drama. Aku juga tidak bisa akting." Ela mengerutkan hidungnya. "Aku juga payah menghapal skript. Jadi ... tidak, terimakasih."
Emma berkacak pinggang. "Elea. Aku penasaran apakah kau pernah menonton reality show?"
"Well ... memangnya semua itu tidak terencana?"
Emma memasang ekspresi seolah ia ingin meninju Elea saat itu juga. "Elea. Sayang. Reality show tidak pakai skript. Semuanya mengalir begitu saja. Berdasarkan emosi dan perasaan. Jadi ayolah. Kau luar biasa, kau akan bertemu beberapa pria yang menawan, yang mungkin bisa mengambil hatimu, ya kan? Kau juga pasti akan terkenal. Apalagi yang kau butuhkan?"
Elea menggeleng. Membuat Emma mendesah pelan. "Tidak, Em. Aku suka diriku yang sekarang. Tidak pusing memikirkan banyak hal. Uangku sudah cukup. Aku sudah cukup senang. Jadi ... jawabanku tetap tidak."
Elea berbalik menatap cermin, menambahkan lipstik di bibirnya. Sedangkan Emma merasa agak kecewa. Emma hanya merasa jika Elea bisa menjadi tokoh utama dalam acara ini. Karena jangankan para pria, Emma yang wanita saja benar-benar mengagumi aura Elea. Jika ia tertarik dengan wanita, mungkin ia sudah memacari Elea.
Tiba-tiba sebuah pemikiran jahil masuk ke dalam pikiran Emma. Ia tersenyum hampir tertawa memikirkannya. Dan lagipula untuk acara yang tentunya booming nanti, tentu ada banyak pendaftar, peluang Elea bisa lulus cukup kecil, bukan?
"Emma. Jangan tatap ponselmu terus. Kemas semua barang dan kita pulang sekarang."
Emma menjentikkan jarinya. "Okay, babe!"
***
Di sebuah ruangan terang benderang dengan begitu banyaknya alat olahraga, seorang pria dengan tone kulit limestone dan dada bidang, biseps serta triseps sempurna serta perut yang begitu sixpack sedang melakukan pemanasan ketika seorang gadis yang memakai sport bra dan legging berwarna hitam tiba-tiba muncul dan menginterupsi sesi pemanasannya.
"Ethan! Hei kau baru mau work out?" tanyanya dengan riang dan mengecup pipi Ethan. "Kemarilah, ada yang ingin aku katakan padamu." Dia berjalan ke arah kursi dan duduk di sana, melambaikan tangannya menyuruh Ethan mendekat.
"Ada apa, Phi?" Ethan, pria yang memakai celana pendek yang sebenarnya cukup ketat di tubuhnya itu melangkah ke Delphi, satu-satunya teman perempuan yang pernah terjebak friendzone dengannya.
"Kau single, kan?"
Mata Ethan yang beriris cokelat pekat itu mengerut. "Kau berniat mengejek?"
"Aku cuma tanya." Delphi berseru dan tertawa. "Aku bawa berita baik untuk pria yang sudah melajang dua tahun ini," ujarnya semangat.
Ethan mengambil botol minum dari tasnya sebelum duduk disebelah Delphi. "Apa?" tanyanya lalu mereguk air didalam botol.
"KRA sedang membuka pendaftaran untuk orang-orang single seperti kita. Ada program kencan ... em ya seperti mencari pasangan selama empat belas hari. Kau tidak mau ikut?" Mata Delphi membesar menatap Ethan, menandakan betapa antusiasnya ia. "Aku yakin ini akan benar-benar wuah! Kau tau sendiri kan bagaimana setiap program TV ini selalu viral. KRA pasti tidak main-main merangkai semuanya. Pasti akan epic!"
Ethan tidak bereaksi. Ia bahkan tidak menatap balik Delphi. Tangannya hanya memutar tutup botol dan ia malah menguap kecil kemudian.
"Ethan!"
"Kenapa?" Ethan menyahut malas. "Aku tidak tertarik. Daftarkan saja dirimu."
"Kau yakin? Akan ada beberapa perempuan luar biasa di sana. Kau benar-benar menyesal kalau tidak ikut. Kau juga bisa menambah teman, relasi dan bisa saja terkenal, Ethan!"
Ethan menggeleng. "Tidak," sahutnya. "Kau optimis sekali. Memangnya bisa lulus?"
Delphi membuka mulutnya hendak menyangkal kalimat pesimis Ethan, tapi ia kemudian menutupnya lagi. "Apa salahnya mencoba, kan?"
"Aku tidak ada waktu."
"Omong kosong. Perusahan furniture itu milikmu. Kau bisa libur kapanpun kau mau." Delphi tidak menyerah. Ia ingin dirinya dan Ethan ikut program ini.
"Tidak ...." Ethan bangkit berdiri dan berjalan ke arah treadmill. "Kau saja."
Bibir Delphi mengerucut, tanda jika ia sedang kesal. "Aku tetap akan mendaftarkanmu!!" serunya menatap punggung Ethan, tidak peduli kalau beberapa orang di sana menoleh ke arahnya.
Dan Ethan, sekali lagi dengan sikap tak acuhnya, ia berkata sembari mengangkat kedua tangannya. "Terserah ...."
***
Emma dan Elea sedang berada didalam apartemen Elea, apartemen yang kata Elea adalah milik mereka berdua, bukan Elea saja.
"Elea, boleh aku pinjam laptopmu?"
Emma menoleh pada Elea yang sedang berbaring diatas tempat tidur dengan eye mask di kelopak mata bawahnya.
"Hm."
Emma terkekeh dan bangkit berdiri, ia berjalan ke arah meja lalu mengambil laptop pink milik Elea.
"Aku harus mengirim beberapa email dan laptopku sedang rusak, tidak tahu kenapa." Emma memberitahu Elea tanpa ditanya. "Dan setelah ini, aku akan mendaftarkanmu ke program kencan itu."
"Emma!" Elea bangkit duduk dan Emma tertawa kencan karenanya. "Jangan coba-coba. Aku tidak mau. Kalau kau tetap kukuh, ya sudah terserah, aku tetap tidak akan ikut."
Tawa Emma mereda. Ia mengedikkan kedua bahunya. Ya lihat saja nanti, pikirnya.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul dibawah layar laptop Elea. Emma meliriknya dan terkejut ketika melihat sebuah DM yang berasal dari KRA official.
Emma menutup mulutnya rapat-rapat agar tak berseru. Ia tahu kalau pesan itu untuk Elea, tapi ia tidak berbohong kalau ia amat sangat antusias sekarang.
Emma mengintip dari balik laptop, melihat apa yang dilakukan Elea. Karena Elea kembali berbaring dan memejamkan mata. Ia meminta maaf didalam hati dan membuka pesan itu.
Mata Emma membesar selama membaca pesan yang cukup panjang itu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya ingin keluar dari tenggorokannya. Ia mulai menutup mulutnya dan tertawa ketika hampir selesai membaca semua teks itu.
"ELEA!!" Ia berseru. Berdiri dan melompat-lompat karena rasa senang. "Elea! Bangun! Kau mendapat pesan dari KRA!"
Elea membuka sebelah matanya. "Emma. Please. Aku mau tidur."
"Hey baca dulu pesan ini." Emma membawa laptop Elea ke tempat tidur dan menaruhnya ke pangkuan gadis itu. "Gila! Ini gila! Kau bahkan tidak perlu mendaftar, Elea. Mereka menawari langsung padamu."
Elea membaca teks itu dengan malas. Ketika selesai, ia mengembalikan laptopnya ke Emma dan kembali berbaring seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi.
"Elea?" Emma mengerutkan dahinya, sungguh heran dengan sifat modelnya ini. "Setidaknya tunjukkan rasa senang sedikit saja."
Elea menggeleng. "Aku tetap tidak akan ikut, Emma. Aku lelah. Sudah ya," ujarnya berbalik badan dan memeluk gulingnya.
Emma menghela napas. Sepertinya memang Elea tidak mau ikut. Emma kemudian mengambil laptop itu dan membaca kembali pesan yang tertera di sana. Penawaran ini berlaku sampai lima hari ke depan. Karena di hari keenam, peserta ditentukan dan hari ketujuh, semuanya dimulai.
***
Sudah hari kelima semenjak pesan official itu terkirim dari KRA. Tampaknya, Elea masih kukuh dengan penolakannya dan Emma sudah dari beberapa hari yang lalu menyerah. Alasannya karena Elea tampak baik-baik saja berpisah dengan Jamie. Dan hal itu membuatnya lega, ia tidak perlu memikirkan pelampiasan lain agar Elea bisa move on.
"Kau mau kemana hari ini? Cuaca sedang terik."
Emma menggigit apel merah di tangannya, lalu mengunyahnya dengan lahap. Ia duduk di kursi meja makan, menatap Elea yang sedang mengambil air mineral dingin dari dalam kulkas.
"Kau tahu aku ingin pergi?" Elea bertanya balik. Kepalanya menoleh pada Emma.
"Ya. Jelas. Jika kau memakai riasan, maka kau mau pergi," jawabnya enteng. "Mau kemana? Kau tidak mengajakku?"
"Hm. Aku ingin sendiri." Elea meraih tas selempang yang tadi ia letakkan di atas meja dapur lalu memakainya di bahunya.
"Di luar terik. Kau yakin? Nanti kulitmu terbakar."
"Sudah pakai sunscreen."
"Kau tidak ingin aku ikut?"
"Tidak."
Bahu Emma lemas. Wajahnya tiba-tiba lesu. Mengigit apel pun ia tidak semangat. "Okey, hati-hati. Aku tidak mau mendengar berita 'seorang gadis kira-kira berusia dua puluh lima tahun menjadi korban perampok' di tv. Jadi, jaga diri."
Elea mendengus pelan. "Aku juga punya beberapa teknik beladiri kalau kau lupa."
Emma mengangguk-angguk dengan mulut terus mengunyah. "Iya iya terserah kau saja." Ia kemudian mendongak menatap Elea. "Tapi ngomong-ngomong. Tempat mana yang mau kau kunjungi?"
"Tidak tahu. Mana tempat yang terlihat nyaman, aku ke sana." Elea merapikan rambut hitam bergelombang sepunggungnya di cermin dapur dan tersenyum menatap tampilan dirinya yang begitu rupawan di sana. "Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa!"
Elea tidak memedulikan Emma yang bersungut kesal. Ia hanya ingin menikmati waktunya sendiri sesekali. Cuaca di luar memang cukup terik, tapi anginnya juga banyak. Jadi, tetap sejuk walau matahari bersinar terang.
Berjalan di trotoar yang cukup sepi pejalan kaki membuat Elea merasa tenang. Beberapa pohon yang sengaja ditanam di sepanjang pinggir jalan juga begitu segar dipandang mata, apalagi bunganya sedang merekah.
Elea merogoh isi tasnya, mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu didalam memori ponselnya. Ia kemudian melihat seberapa bagus kualitas gambarnya dan mendesah lesu ketika sadar potret yang ia ambil ternyata membayang. Sama sekali tidak HD.
Elea mencoba lagi, tapi ia gagal terus. Alasannya membayang atau kepala orang yang ikut masuk ke dalam gambar.
Sudah enam kali ia memotret, tapi hanya satu yang kualitasnya bagus dan sayangnya ada kepala orang di sana. Pasti akan bagus jika hanya pemandangan saja, pikirnya. Mau dipotong juga tidak mungkin. Kepala pria ini secara kebetulan sejajar dengan ranting pohon yang terpendek. Jadi kalau dipotong, gambarnya akan lucu. Karenanya, Elea memutuskan untuk mengabaikannya dan tetap menyimpannya didalam galerinya.
Gadis dengan dress sepaha itu kemudian melanjutkan langkahnya. Angin lembut menerpanya, menerbangkan anak rambut yang terurai di sisi wajahnya. Elea benar-benar merasakan ketenangan yang luar biasa didalam hatinya. Sudah terbentuk rencana didalam kepalanya kalau nanti malam ia akan kembali ke jalan ini. Ia juga akan memakai headphone, mendengarkan lagu favoritnya. Astaga, sesederhana seperti ini saja sudah mampu membuat perut Elea merasa tergelitik.
Namun, satu pemandangan yang tertangkap matanya membuat langkahnya melambat sebelum benar-benar berhenti di satu tempat. Elea belum begitu rabun untuk tidak bisa melihat Jamie yang berdiri di sana dengan seorang gadis didalam rangkulannya.
Elea terpaku di tempat begitu sadar jika gadis itu adalah Millie, kenalannya dalam dunia modeling. Bibirnya yang tadi tertarik membentuk senyuman, sekarang surut dan terkatup rapat. Matanya mengedip, berharap dalam sekali kedipan, pemandangan didepannya menghilang. Namun, fakta menohoknya. Apa yang ia lihat bukanlah ilusi.
Satu hal yang paling melukai Elea, yaitu rasa sakit yang menjalari hatinya. Rasa sakit itu tidak asing lagi dan ia tahu apa artinya. Tapi, sulit dipercayanya jika masih ada rasa untuk Jamie. Ia padahal sudah amat yakin jika tak ada rasa tersisa, makanya ia berani untuk memutuskan hubungan mereka. Tapi, sekarang apa? Ia masih merasakan sakitnya.
Puncaknya ketika Jamie mengecup bibir Millie langsung dihadapannya. Sesuatu didalam dadanya yang tadinya retak, sekarang meledak dan hancur berkeping-keping. Sudah tidak diragukan lagi, dari tatapan Jamie ke Millie saja sudah bisa ditebak hubungan apa yang sekarang mereka jalani.
Rasa bahagia dan damai yang tadi Elea rasakan sudah menguap, tidak tersisa setitikpun. Hingga akhirnya ia memutuskan berbalik dan melangkah menjauh dari dua insan yang mungkin sedang mabuk asmara sekarang.
Semakin jauh ia melangkah, semakin terasa sakitnya. Elea sadar hubungan mereka sudah berakhir, seharusnya ia tidak merasa terkhianati. Seharusnya memang begitu. Tapi faktanya tidak seperti yang diharapkan.
Berada didalam apartemen pribadi menuju apartemennya, Elea benar-benar tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dan berakhir dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua tangan Elea terangkat menutup wajahnya. Ia berpikir ulang apakah keputusannya menyudahi hubungan ini adalah langkah yang salah? Tapi, semua sudah terlanjur, tidak ada kata waktu yang diulang. Begini hasilnya maka Elea harus siap menerima.
Elea tidak menyembunyikan mata merahnya pada Emma ketika ia masuk ke dalam apartemen. Ia sengaja, memang ingin menunjukkan perasaannya karena ia merasa ia tidak bisa menyimpan rasa ini sendirian.
"Elea. Kau kenapa? Kau menangis?" Emma menatapnya heran. "Ayo duduk. Kau harus memberitahuku tentang apa yang terjadi." Emma memapah Elea ke arah sofa dan mendudukkannya di sana.
Elea melirik Emma yang tampak khawatir dan pemandangan itu memicu perasaan tersensitifnya hingga akhirnya ia menangis lagi. Kali ini lebih parah karena air mata Elea bercucuran keluar dari sudut matanya.
"Elea. Apa yang salah, girl? Ada yang menjahatimu di luar sana?" Emma mencercanya dengan banyak pertanyaan. "Kan aku sudah bilang harusnya kau mengajakku, aku pasti menjagamu."
Elea menggeleng dengan mata yang benar-benar merah serta dipenuhi air mata.
"Jadi apa? Beritahu aku sekarang. Aku memaksa."
Jari telunjuk Elea terangkat menyeka air matanya yang masih belum mau berhenti. "Sepertinya aku masih mencintai Jamie," ujarnya memulai. "Tadi aku melihat dia dengan Millie, mereka berciuman, dan aku ... aku merasa sakit hati." Dan air mata itu jatuh kembali.
Emma mendesah pelan dan menegakkan punggungnya. "Jadi, kau ingin kembali padanya?" Emma bertanya langsung ke inti. Menghibur Elea juga tidak ada untungnya saat ini, karena faktanya hubungan mereka berdua memang sudah berakhir, yang artinya sudah bebas berpasangan dengan orang lain.
Elea menekuk lututnya diatas sofa dan melipat tangannya diatas lututnya. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Aku tidak ingin kembali, tapi aku juga sakit hati melihatnya bersama gadis lain."
"Kalau begitu kau hanya perlu waktu untuk benar-benar melupakannya." Emma mengusap lembut bahu Elea. "Waktu akan menyembuhkan lukamu. Tidak apa, El. Kau baik-baik saja."
Mata basah Elea bergulir menatap Emma. "Kalau begitu aku ingin melakukan sesuatu agar aku cepat melupakannya," ucapnya dengan mata penuh tekad. "Akan benar-benar melegakan kalau aku bisa move on darinya hanya dalam empat belas hari."
Emma perlu waktu beberapa detik memproses kalimat Elea, sampai akhirnya ia paham dan matanya melebar karena terkejut. "Maksudmu kau ikut ke dalam program itu?!" Ia berseru tidak percaya. Antara kaget dan juga senang.
"Iya. Aku ikut. Masih ada waktu untuk menerima tawarin itu, kan?"
Emma mengangguk kencang, Elea sampai khawatir kepalanya akan lepas. "Tentu! Tentu masih! Kau serius, kan?! Biar aku terima sekarang!" Emma bangkit berdiri, menunggu persetujuan Elea.
"Hm. Aku serius."
Dan dengan secepat kilat, Emma berlari ke arah kamarnya dan menyambar laptopnya. Ia juga mengambil ponselnya dan menghubungi nomor yang tertera disana. Emma begitu bersemangat, sangat berbanding terbalik dengan Elea yang sekarang masih dirundung pilu.
***
Pagi hari di sebuah apartemen yang bernuansa warna cerah, di sebuah kamar, dua orang sedang tidur memejamkan mata dengan posisi masing-masing berada di sisi kiri dan sisi kanan ranjang. Keduanya sama-sama menyelimuti diri sampai leher, menutupi tubuh tanpa sehelai benang dibaliknya.
Sedetik kemudian, suara alarm dari jam beker terdengar nyaring hingga keduanya terbangun. Perempuan di sisi kiri, alias Delphi terbangun lebih dulu dari Ethan yang masih memejamkan mata di sisi kanan tempat tidur. Selain mereka sahabatan, pernah terjebak friendzone, mereka berdua juga sebenarnya adalah partner dalam hal s*ks.
“Ethan, sudah jam tujuh. Bangun. Kau bilang hari ini kau ada rapat, kan?” Delphi bersuara serak, memberitahu Ethan setelah jam beker di sebelahnya berhenti berdering.
Ethan perlahan membuka matanya yang terasa berat. Ia melihat ke arah jam raksasa di dinding didepannya dan mengeluh pelan ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh.
“Kau mengharapkan apa hm? Jam bekerku rusak lagi?” Delphi tertawa sembari membalik tubuhnya menjadi terlungkup. “Tidak ada kerusakan lagi. Sekarang benar-benar jam tujuh, bukan jam enam.”
“Oke oke.” Ethan bangkit duduk. Ia mengumpulkan nyawanya satu menit sebelum turun dari tempat tidur dan melangkah santai ke arah kamar mandi, tidak peduli dengan ketelanjangannya.
Delphi meliriknya dan terkekeh pelan. Tubuh Ethan memang seksi. Tidak heran karena pria itu begitu ketat dalam menjaga tubuhnya. Makan makanan dengan pola yang sesuai dan tidak lupa untuk work out beberapa kali dalam satu minggu. Namun meskipun begitu, Delphi rasanya tidak bisa meningkatkan status hubungan mereka ke arah yang lebih serius. Cukup jadi sahabat dan partner dalam segala hal sudah cukup baginya. Berbanding terbalik dengan Ethan yang memang ingin punya hubungan serius dengan seseorang.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba Delphi teringat sesuatu dan ia segera melompat dari tempat tidurnya. Ia bahkan tidak sempat melilitkan selimut di tubuhnya. Ia fokus mencari-cari laptopnya yang entah kemana keberadaannya.
“Astaga dimana barang itu?!” Delphi menggaruk kepalanya tidak sabar. Ia menurunkan pandangannya kemudian, ke arah pakaian yang berserakan di bawah ranjang.
“Apa di sana?” gumamnya sembari berlutut mencari laptopnya. Seingatnya, tadi malam ia sedang bermain laptop ketika Ethan tiba-tiba datang dan menyerangnya. Jadi, pasti laptopnya ada di sekitaran ranjang.
Delphi masih mencari-cari beberapa menit sampai akhirnya ia menemukan laptopnya tertutup terjepit diantara Kasur dan meja samping tempat tidur.
“Akhirnya!” seru Delphi girang dan naik ke atas tempat tidur. Ia duduk bersila dan menaruh laptopnya di pangkuannya. Ia dengan cepat mengaktifkan laptopnya dan ada satu email masuk yang berasal dari KRA Official.
Detak jantung Delphi tidak karuan. Jika hanya satu email, berarti antara ia atau Ethan yang terpilih menjadi peserta dalam program mencari pasangan itu.
Ia berdoa didalam hati, memejamkan matanya sebelum menarik napas dan membuka email itu. Ia membacanya dengan cermat dan akhirnya sampailah ia pada halaman dimana ada nama yang tertera di tengah-tengah.
Ethaniel Alex-Alejandro.
Cukup sampai sana. Delphi tahu jika dirinya tidak terpilih. Sedih memang karena ia yang paling berharap masuk. Tapi, tidak buruk juga karena setidaknya dari mereka berdua, salah satunya akan berada didalam program kencan yang dibentuk oleh stasiun televisi paling terkenal.
“Aku rasa kau harus menutup tubuh bagian atasmu jika tidak ingin aku terlambat.”
Ucapan Ethan itu mengejutkan Delphi. Tapi ia tidak fokus hingga tidak menutup tubuh atasnya seperti ucapan Ethan tadi.
“Kau kenapa?” tanya Ethan ketika ia menyadari ada sesuatu yang janggal dari Delphi. “Kau hamil?”
“Enak saja!” Delphi langsung menyanggah, ia bahkan melempar bantal Ke arah Ethan. “Aku baru saja mengecek email tentang program kencan itu, karena kan hari ini pengumumannya dan ternyata aku sudah dapat emailnya.”
“Kau lulus?”
Delphi menggeleng dengan senyum kecil di bibirnya. “Tidak. Tapi kau.”
“Maksudnya?”
“Aku mendaftarkanmu juga waktu itu. Dan ya, kau terpilih,” ujarnya pelan. Namun, ketika melihat ekspresi Ethan yang sepertinya hendak menolak, suaranya menguat seketika. “TIDAK ADA PENOLAKAN! Kau harus ikut, Ethan. Aku tahu pekerjaanmu sedang lengang sekarang. Kalaupun ada, kau bisa mengandalkanku. Aku pasti membantumu.”
“Tidak, terima kasih.”
“Kau menolak? Padahal aku sudah susah payah mendaftarkanmu.” Delphi memasang wajah paling sedihnya. “Aku benar-benar berharap salah satu diantara kita berdua masuk ke sana jika tidak bisa dua-duanya. Dan sekarang kau terpilih, jadi kau harus ke sana.”
Ethan menatap Delphi dengan lekat. “Aku tidak mau.”
“Bukankah kau ingin menjalin hubungan serius dengan seseorang? Kau bisa mendapatkan seseorang yang sama di sana, Ethan. Kau tidak tahu jika tidak mencoba. Percayalah. Hanya empat belas hari, aku yakin kau bisa menemukan seseorang yang tepat. Apalagi perempuan yang hadir di sana tidak sedikit, ada lima orang!” Delphi berujar panjang lebar. “Jadi kau harus ikut!”
Rahang Ethan mengeras. Apa yang dikatakan Delphi memang benar adanya. Ada kemungkinan ia menemukan seseorang yang tepat di sana, tetapi bisa juga tidak. Namun, Ethan tidak akan tahu jika ia tidak mencoba, bukan?
“Baiklah. Atur saja bagaimana kau mau.”
Delphi tersenyum lebar mendengarnya. Ia benar-benar senang. “Oke! Jadi, selamat datang di Sexy Singles, Ethan!”
***
Pagi itu. Elea dibantu oleh Emma, mempersiapkan segala kebutuhannya dalam satu koper besar. Elea sedang bad mood karena barusan ia melihat foto Jamie dan pacar barunya sedang berbaring saling berpelukan diatas tempat tidur. Sudah bisa ditebak apa yang sudah mereka lakukan dan itu membuat Elea semakin kesal.
“Sudah. Tidak perlu memikirkannya lagi. Setidaknya kau tahu kan kalau dia sebenarnya brengsek,” ujar Emma menaruh pakaian Elea ke dalam koper yang terbuka. “Yakinlah, kau di sana pasti akan bertemu pria-pria tampan. Ajak kencan saja salah satunya dan lupakan Jamie.”
“Aku tidak tahu. Saat ini, satu-satunya alasan terkuat aku ikut hanya karena agar aku terkenal. Masuk ke dalam reality show yang berpeluang besar akan ternar, membuatku juga akan tenar, kan?”
Emma tertawa. “Ternyata begitu pikiranmu,” ujarnya. “Ya tidak buruk juga. Yang penting kau harus menikmati acaramu. Dan nikmati para bujangan seksi di sana.”
“Hm pasti.”
“Nama acaranya saja sudah SEXY SINGLES, pasti akan dipenuh pria dan wanita seksi!” seru Emma tertarik. “Jadi karena itu, aku memilihkan pakaian-pakaian terseksi yang kau punya. Tidak apa, kan?”
“Terserah kau saja.”
“Kuharap kau tidak menyesal.” Emma terkekeh. Mungkin nanti Elea akan kesal padanya setelah melihat bagaimana pakaian yang dibawakan Emma. Tapi karena Elea tampak cuek, maka Emma tetap melanjutkan apa yang ia inginkan.
Pukul delapan pagi. Elea turun dari apartemennya ditemani Emma. Seseorang berpakaian rapi dengan jas ditubuhnya berdiri disamping mobil mewah berwarna hitam kilat. Begitu melihat Elea, pria itu langsung sigap membukakan pintu dan tersenyum mengisyaratkan agar Elea segera masuk.
Emma terkikik pelan, tapi Elea tidak kesal karena ia tahu, Emma selalu begitu ketika ia sedih. Ia menutupi kesedihannya dengan pura-pura bahagia. Namun sayangnya, cara Emma itu sudah kadaluarsa untuk Elea.
"Empat belas hari lagi aku akan pulang," ujar Elea. "Lagipula, kan kau sendiri yang mendaftarkan aku ke sini, kan?"
Emma mengangguk. Kesedihannya kini muncul. "Iya. Kau bersenang-senang di sana. Jangan pikirkan Jamie terus sementara ia tidak memikirkanmu. Ia sama sekali tidak pantas. Jadi, carilah yang pantas bersamamu di sana."
"Hm." Elea mengangguk. "Kalau ada."
"Ya, kalau ada." Emma menyetujui dan kemudian memeluk Elea singkat. "Pergilah. Semua urusanmu yang belum terurus akan aku tangani. Jadi, kau tidak perlu memikirkan apapun."
Elea tersenyum manis. "Aku mengandalkanmu," ujarnya terakhir kali sebelum Elea benar-benar masuk ke dalam mobil dan melesat pergi dari sana, meninggalkan Emma yang berdiri sendirian dengan tangan melambai.
Emma menipiskan bibirnya. Ia sedikit memiringkan kepalanya saat ia berbalik masuk ke dalam gedung. Ia penasaran bagaimana rupa-rupa orang-orang yang keterima dalam program ini. Tapi, sepenasaran apapun ia, Emma yakin jika orang-orang itu pasti rupawan. Pasti standarnya seperti Elea, sedangkan Elea sendiri adalah gadis paling cantik yang pernah dilihat Emma sejauh ini.
***
Elea sama sekali tidak tahu bagaimana program ini berproses. Ia juga tidak tahu apa peraturannya, sama sekali tidak tahu apapun selain peserta yang akan ditempatkan di sebuah pulau, bahkan pulaunya saja ia tidak tahu dimana.
Ketika mobil yang ditumpangi Elea berhenti. Ia diarahkan masuk ke dalam bangunan dua lantai yang cukup ramai orang. Di lobi, seorang perempuan dengan pakaian begitu rapi serta name tag yang terkalung di lehernya mendekati Elea dan mengarahkan Elea lebih lanjut untuk masuk ke dalam ruang bernomor sembilan.
"Kopermu letakkan di sini saja. Tim akan segera membawanya dan meletakkannya lebih dulu di vila sebelum kalian semua tiba."
"Vila?" Elea tercengang, karena ia berpikir kalau mereka mungkin akan tinggal di rumah gubuk.
"Ya. Jadi, letakkan saja di sini," ujar perempuan itu, tangannya menunjuk ke tempat tepat disamping pintu ruangan bernomor sembilan dan Elea menurutinya.
Setelah Elea meninggalkan kopernya dan masuk ke dalam ruangan, perempuan tadi ikut masuk dan memperkenalkan dirinya.
"Sebelumnya, aku Mia, salah satu staf di sini. Kau Elea, kan?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Elea. "Oke, aku akan membimbingmu sedikit. Sekarang, aku bisa minta ponselmu?"Mia menengadahkan tangannya.
"Untuk apa?" Elea menatap Mia heran, dahinya mengerut dalam.
"Apa kau belum membaca syarat awal dari program ini?" Mia bertanya balik. "Baik jika kau belum membaca. Aku akan memberitahumu sekarang. Jadi, tidak diperbolehkan membawa ponsel atau benda elektronik apapun di vila. Kalian benar-benar dijauhkan dari teknologi selama empat belas hari ke depan."
Elea menganga tidak percaya. Ia tiba-tiba kehilangan kata-kata. Sehari saja ia tidak memegang ponselnya, ia bisa gila. Bagaimana bisa ia bertahan selama empat belas hari?!
"Kau tidak bisa mundur, Elea. Semuanya sudah dimulai. Bahkan sebentar lagi giliranmu untuk berangkat," ujar Mia turut prihatin. "Kalau begitu, sekarang bisa aku meminta ponselmu? Tenang saja, kami menghargai privasi semua peserta. Ponselmu pasti akan aman dan utuh sampai kau mengambilnya kembali nanti."
Elea benar-benar tidak bisa menolak. Situasinya sekarang benar-benar terjepit, tidak bisa maju ataupun mundur. Karenanya, mau tidak mau ia harus merogoh saku dressnya dan meletakkan ponselnya diatas telapak tangan Mia.
"Baik. Terima kasih, Elea." Mia tersenyum manis. "Dan satu hal lagi. Bersenang-senanglah di sana. Coba pikirkan, selama ini kau selalu bekerja keras, jarang sekali kau punya waktu untuk bahagia. Iya, kan? Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Bahagiankanlah dirimu sendiri. Yaa selain mencari pasangan yang cocok denganmu tentunya."
Elea terhipnotis dengan kalimat itu. Amat sangat menggambarkan bagaimana dirinya selama ini.
"Kau pasti akan suka setibanya di sana." Mia berujar meyakinkannya. Ia sempat melirik ponselnya sendiri sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan sekarang ... waktumu untuk berangkat. Ayo!" Mia melambaikan tangannya, menyuruh Elea untuk mengikutinya.
Elea tidak berkata lagi, ia hanya mengikuti kemana Mia melangkah sampai akhirnya mereka berada di rooftop gedung ini. Elea terperangah ketika dirinya melihat sebuah helikopter tengah terparkir diatas helipad.
Apa ia akan menaiki kendaraan satu ini untuk pergi ke pulau? Berapa banyak budget yang dihabiskan KRA untuk program ini? Pertanyaan-pertanyaan itu seketika muncul didalam kepalanya.
"Elea. Ayo. Naiklah." Mia berbalik dan mempersilahkan Elea, ia juga memberi senyum terbaiknya.
Elea membasahi bibirnya dan mengangguk. "Terima kasih, Mia," ujarnya sembari berjalan melewati Mia.
"Sama-sama, Elea." Senyum itu tidak luntur, bahkan Mia juga melambai pada Elea ketika gadis itu sudah masuk ke dalam helikopter.
Elea tidak sangka kalau Mia seramah itu. Ia pikir Mia begitu kaku tadi, karena tampangnya agak cuek ketika menyambutnya. Tapi, sekarang anggapan itu sudah berubah total.
Elea merasa berdebar. Ini baru pertama kalinya ia naik helikopter. Jadi, agak mendebarkan. Namun, meskipun begitu, Elea dengan cekatan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya dan juga headphone di kepalanya.
Ketika baling-baling diatas mulai berputar dan menciptakan angin kencang, Elea tersenyum lebar, ia mulai suka hal ini. Apalagi ketika helikopter yang ia tumpangi berada di udara dan ia bisa melihat betapa indahnya daratan di bawah sana, jantung Elea rasanya mau keluar dari dadanya.
Saat hendak mendekati pulau. Elea mengernyit heran. Ia tidak tahu persis peta negaranya, jadi ia merasa asing dengan pulau yang akan ia tinggali selama empat belas hari ini. Jangan bilang pulau ini dibuat oleh perusahaan KRA. Tidak, tidak, sangat tidak mungkin.
Dari atas, Elea bisa lihat jika pulau ini punya dua sisi yang amat sangat berbeda. Di sisi kirinya, sama sekali tidak tampak ada perumahan, tidak tampak ada kehidupan. Namun, Elea bisa lihat jika vila itu ada di sana. Sedangkan di sisi kanan, penuh dengan bangunan, kemungkinan besar ada kehidupan di sana, dan tentunya banyak orang juga. Tapi sayangnya, sisi kanan dan sisi kiri dipisahkan oleh hutan yang begitu lebat, jadi tidak mungkin rasanya mereka bisa berkunjung ke area kanan.
Helikopter mendarat tepat diatas helipad kemudian. Elea melepaskan sabuk pengaman dan juga headphonenya. Ia turun dan menundukkan kepalanya.
Posisinya sekarang berada di bibir pantai dan sepanjang Elea memandang, ia tidak melihat apapun. Bahkan vila yang tadi ia lihat dari atas, tidak tampak sama sekali sekarang.
Pilot dari helikopter ikut turun dan mendekati Elea. "Kau lihat jalan setapak yang ada di sana?" Pria itu menunjuk ke salah satu spot dan Elea mengangguk. "Ikuti saja jalannya dan kau akan menemukan vilanya, beserta peserta lain yang sudah tiba lebih dulu."
Elea paham. Ia memberi senyum kecil. "Terima kasih."
"Sama-sama," ujarnya singkat dan kembali ke helikopternya, segera pergi dari sana.
Lagi-lagi, jantung Elea berdegup kencang, memikirkan ia akan bertemu dengan orang-orang baru membuatnya semangat sekaligus cemas.
Ketika Elea melangkah cukup jauh dari helipad. Tiba-tiba ia mendengar suara helikopter yang mendekat. Elea memicingkan matanya mendongak memastikan ada helikopter yang hendak mendarat atau tidak. Dan matanya membesar begitu sadar jika helikopter itu benar-benar akan mendarat. Itu artinya ada satu peserta lagi, bukan?!
Elea diam di tempat, ia menunggu orang itu turun. Kalau begini ceritanya, ia bisa berjalan ke vila bersamaan dengan orang ini, tidak perlu seorang diri lagi.
Rambut brunette Elea yang bergelombang meliuk-liuk tertiup angin kencang. Ia menghalau silau matahari serta kencangnya angin dengan telapak tangannya yang berada didepan wajahnya. Elea juga berusaha melihat orang yang sedang turun itu.
Dan ternyata orang itu adalah seorang gadis, sama sepertinya. Yang membuat Elea terpukau adalah gadis itu begitu cantik! Dia juga sangat seksi dengan dress hitam yang sangat jauh dari lututnya, dress itu juga memiliki potongan dada yang rendah. Walau hanya first impression, Elea bisa yakin kalau gadis ini akan menjadi yang terpopuler diantara mereka nantinya.
"Hai!!"
Dia berseru pada Elea. Melambaikan tangan dan buru-buru berjalan mendekat.
"Kau juga peserta?" tanyanya semangat. "Sangat kebetulan kalau begitu! Kita bisa ke vila bersama."
Dan gadis ini cukup berisik ternyata. Dengan orang yang masih asing saja ia begini, apalagi kalau sudah akrab. Elea tidak bisa membayangkannya.
"Aku Arabella, panggil saja Bella. Kau?"
Elea tersenyum. "Eleanore. Teman-temanku biasa memanggilku hanya dengan Elea."
"Come on, Girl! Kau cantik sekali, Elea." Arabella memujinya dengan wajah menggoda. "Kakimu jenjang sekali, aku jadi iri."
Elea menunduk melihat kakinya dan kaki Arabella sebelum terkekeh pelan. "Aku rasa kakiku dan kakimu sama saja." Elea juga baru sadar kalau antara ia dan Arabella memakai pakaian yang benar-benar betolak belakang. Ia serba putih dan Arabella serba hitam.
"Baiklah baiklah. Sekarang kita harus bergerak. Aku sudah tidak sabar bertemu yang lainnya!"
Elea mengangguk. Ia juga sama tidak sabarnya.
"Tapi ngomong-ngomong setiap pergerakan kita akan diawasi kamera. Iya, kan?" Arabella bertanya ketika mereka mulai berjalan diatas jalan setapak yang mengkolaborasikan antara kayu persegi panjang dengan kerikil.
Elea berjalan dengan hati-hati karena heelsnya agak tinggi, ia juga melangkah di setiap kayu yang berjarak tiga puluh centimeter antara satu kayu dengan kayu lainnya. Selain itu, otaknya berputar memikirkan ucapan Arabella barusan. Ia sama sekali tidak tahu ada kamera. Tapi, mengingat program ini dirancang oleh KRA yang tidak lain adalah stasiun televisi, jelas saja segala tindakan mereka akan direkam dan nantinya diedit lalu ditayangkan.
"Hm. Aku rasa gitu."
"Baiklah."
Arabella dan Elea berjalan bersisian, tidak ada obrolan lagi diantara mereka karena mereka sama-sama fokus pada jalan. Angin lembut yang menerpa, membuat dress dan rambut mereka berdua melambai-lambai. Cara jalan mereka yang anggun menuruni anak tangga juga begitu elegan. Mungkin editor harus membuat slow motion untuk adegan ini nanti.
Lama kelamaan, vila mulai terlihat. Kumpulan orang yang tengah berdiri mengelilingi dua meja bundar di halaman vila juga sudah tampak di mata Arabella dan Elea.
"Oh gosh, mereka rupawan sekali!" gumam Arabella pada Elea.
"Astaga, kalian cantik sekali!!!"
Seorang perempuan yang tak kalah seksinya dengan Arabelle berjalan ke arah mereka berdua. Ia memeluk Arabella dan Elea bergantian.
"Ayo ayo ke sini. Kalian pasti haus."
Tapi sebelum itu. Arabella dan Elea tentu harus menyapa yang lainnya terlebih dahulu. Mereka mulai memeluk satu persatu orang yang ada di sana, mulai dari yang perempuan hingga para pria.
Elea juga tidak akan berbohong jika para pria di sana amat sangat tampan, bahkan Jamie yang begitu ia kagumi pasti akan kalah jauh.
Bukan hanya sekedar memeluk, Elea juga menghitung berapa orang yang sudah tiba di sana dan ia baru sadar jika jumlah mereka sudah sepuluh. Kalau begitu, ia dan Arabella adalah yang terakhir.
"Siapa namamu?" tanya pria kedua yang hendak Elea peluk.
"Elea."
"Senang bertemu denganmu, Elea," ujarnya dan memeluk Elea erat. "Aku Max," lanjutnya dan melepaskan pelukan yang cukup mengejutkan Elea itu.
Elea tersenyum membalasnya. Ia kemudian memeluk pria ketiga dan keempat. Sekarang yang terakhir, pria yang memakai kemeja putih dengan tiga kancing teratas yang terbuka. Elea bahkan bisa melihat otot dadanya sekarang. Pria ini memang yang paling memikat diantara mereka semua.
Tapi Elea tentu tidak akan agresif. Ia hanya akan memberi pelukan singkat sebagai sapaannya. Namun, Elea dibuat terkejut ketika pria ini mengecup pipinya sebelum Elea melepaskan pelukan. Mungkin akan maklum jika ciuman itu biasa saja, tapi Elea bisa menilai mana ciuman biasa dan yang tidak biasa, dan ciuman tadi terasa berbeda.
Ketika Elea mendongak menatapnya, pria itu juga menatap Elea dengan intens, membuat Elea mengalihkan pandangannya secepat mungkin.
Apa-apaan ini?! Baru sebentar ia di sini dan ia sudah menemukan seseorang seperti pria-yang-ia-tidak-tahu-namanya tadi?
***