“Four ...!”
“Three ...!”
“Two ...!”
Semua bersorak. Teriak serentak. Menghitung mundur dengan penuh penantian kala si pengantin wanita berdiri membelakangi stage, bersiap melempar buket bunga pengantinnya. Terutama bridesmaids sudah mulai saling sikut, tak sabar untuk saling rebut.
Namun tidak dengan Mei. Meski bibir wanita itu tersenyum, tetapi senyum itu tak mencapai matanya yang menyorot suasana itu dengan sendu. Meski begitu dia tetap bergabung dalam barisan besties yang berseragam kebaya merah terang.
“Gooo!”
Semua tanganpun melambai-lambai ke atas, siap menangkap disertai pekikan heboh. Tetapi. Semua kemudian terdiam. Semuanya bengong. Si pengantin wanita justru berbalik badan, mengulurkan buket bunga pengantin yang ditunggu-tunggu banyak orang itu kepada seorang lelaki yang berlari-lari kecil menghampiri untuk mengambilnya. Menciptakan berbagai tanya yang menggantung dalam pikiran semua orang yang melihatnya.
Dan ... tiba-tiba saja, lelaki itu dengan gentle membungkuk di depan Mei seraya berkata, “Meilani, will you marry me?” sambil mengulurkan buket bunga itu padanya.
Mei terperangah. Tak mengira Juna bakal bertindak sampai seperti ini.
Lelaki bernama Juna itupun menyeringai kecil dengan salah satu alis terangkat. Masih membungkuk dan menyodorkan bunga. Menantinya.
Seketika ballroom hotel diriuhkan teriakan orang-orang dalam satu ketukan irama komando.
“Yes!”
“Yes!”
“Yes!”
“Yes!”
Tepukan meriah dan siulan orang-orangpun saling bersahutan ramai kala tangan Mei akhirnya terulur jua, menerima buket bunga itu. Juna pun berdiri. Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meraih tangan kiri Mei. Lalu memasang cincin belah rotan bermata berlian yang berkilau cantik di jari manis wanita itu.
Mei berkedip-kedip, tatapannya beralih dari cincin itu ke wajah Juna yang tiba-tiba saja bergerak mendekat secepat kilat. Dan mendelik saat bibirnya terasa hangat di bawah kecupan Juna yang sedang mencuri ciumannya.
“Fans service,” bisik Juna di tengah jeritan ramai orang-orang yang menyoraki mereka.
Mei menelan ludah dan memalingkan wajah. Tatapannya pun membentur si pengantin pria yang berdiri di atas pelaminan sana, yang tak lain adalah Kevin. Pria itu tengah menatapnya setajam elang. Mengoyak perasaan Mei dengan ketidaknyamanan. Secepat kilat Mei pun mengalihkan tatapannya kepada Juna.
Juna justru menertawakan wajah Mei yang semerah tomat. “Jangan bilang kalau ... ini first kiss elu?” bisik cowok itu terdengar begitu meledek.
“Shut up,” desis Mei seraya berjinjit dan merangkul leher Juna. Membuat pria itu mematung kala sekonyong-konyong Mei melumat bibirnya yang menganga kaget.
Sekilas Juna melirik ke arah pelaminan, menangkap ekspresi sang pengantin wanita, yang tak lain mantan kekasihnya. Di sana, Raya terbelalak tak percaya sambil mencengkeram lengan Kevin yang juga terlihat jengah memalingkan wajah. Membuat Juna bersorak menang dalam hatinya, kemudian dia berbisik disela-sela ciumannya, “Good job, Mei.”
***
Dua jam sebelumnya,
Mei berbaur dalam suasana pesta yang sudah selayaknya dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun tidak dengan perasaannya kini. Entah sudah yang keberapa kali Mei mencuri tatap ke pelaminan dengan sorot sendu. Memandangi Kevin. Pria itu tampak begitu menawan dan gagah dalam balutan jas mahalnya. Bersisian dengan Raya yang begitu cantik, secantik gaun pengantinnya saat ini.
“Mereka cocok banget ya? Serasi,” celetuk Sarah yang diamini teman-temannya. Lalu keempat bridesmaid berseragam kebaya merah terang itu mulai membicarakan tekad mereka untuk saling rebut buket bunga pengantin dari Raya nanti, biar yang mendapatkan bisa lekas menyusul kawin. ‘Siapa tahu mitos itu jadi kenyataan?’ Begitu harapan mereka.
Mei ikut tertawa palsu bersama teman-temannya yang lain meski perasaannya berantakan. Kevin adalah cinta satu-satunya, yang sampai kini bertahta di hatinya. Namun, bukan salah pria itu yang pilih melabuhkan hatinya kepada Raya, sebab tiada komitmen apa-apa antara Kevin dengan Mei. Bahkan mungkin Kevin tak peduli bagaimana jantung Mei berdebar dalam setiap momen kebersamaan mereka.
Mei masih ingat rasanya. Saat Raya melempar bom itu padanya di sebuah acara reuni 2 minggu yang lalu. “Mei, ini undangan buat elu. Gue sama Kevin mo merit, elu wajib datang. Elu mau kan jadi bridesmaid gue?” ucap Raya dengan ceria, berbanding terbalik dengan Mei yang seketika memucat.
Tak ada angin, tak ada hujan. Lalu. Dari manakah badai ini datang?
“M-memangnya ...,” Mei menelan ludah pahit, “sejak kapan elu sama Kevin jadian?”
Raya tersenyum simpul. “Actually, kami tunangan setahun lalu di Amrik. Kami mulai dekat sejak kuliah bareng di kampus yang sama di sana.”
Pengakuan Raya terasa mencekik Mei hingga sulit berkata-kata. Komunikasinya dengan Raya memang tersendat sejak Raya melanjutkan study pasca sarjananya di Amerika. Dan kesibukan membuat keduanya menjadi sulit bertemu sekembalinya Raya ke Jakarta beberapa bulan lalu.
Mei terlalu terkejut sampai lupa memberi selamat. Tatapannya menelusuri undangan cantik nan wangi di tangannya. Jantungnya dipecut nyeri mendapati foto prewed Raya dan Kevin yang begitu mesra. Mei mengabaikan sosok Raya dalam foto itu, perhatiannya tertuju lurus-lurus pada wajah Kevin yang sedang tersenyum dengan teramat manis. Rahang tegas dan belahan dagunya yang khas, menyihir Mei dengan kekaguman seperti biasa. Mei pun membaca baris demi baris kalimat dalam undangan itu. Dan tatapannya terhenti, tertancap pada nama Kevin Febrian yang terukir indah dalam tinta emas. Seindah ukiran perasaan Mei terhadap pria itu selama ini.
Tiba-tiba mata Mei terasa memanas. Sebelum air mata benar-benar menetes dan mempermalukan dirinya di depan Raya dan teman-teman, Mei lekas menyingkir menuju restroom. Lalu membasuh wajahnya dengan air kran. Mei mati-matian menahan. Tapi, air mata sialan itu meluncur juga. Bersama setiap nyeri yang menggigiti hati. Dan hari ini ..., rasa nyeri itu kian terasa menjadi.
“I know, Mei. Lu pernah ada something kan sama Kevin? So, kita senasib sekarang. Right?” tembak Juna yang tiba-tiba berdiri di sampingnya, membuat Mei terbatuk-batuk kaget.
“Sorry ...? What do you talking about?” Mei mencoba mengelak dari ucapan Juna, si cowok berisik yang kerap membuntuti dan menyogoknya dengan aneka coklat semasa SMA, demi sekulik info tentang Raya. Ya. Juna adalah penggemar berat Raya sejak dulu. Harusnya Mei iba mengingat betapa bucinnya Juna kepada Raya, tetapi pria itu tetap membesarkan hatinya untuk hadir di sini. Tetapi Mei jadi kesal karena Juna mengungkit-ungkit tentang dirinya dan Kevin.
“Mata itu jendela hati, Mei. You show it too clear. So I know, everybody know. Pernikahan ini menghancuranmu.”
Kata-kata Juna bagai panah yang menancap telak ke jantung Mei. Seketika kakinya gemetar. Sejelas itukah?
Seakan bisa mendengar isi pikiran Mei, Juna bergerak mendekatinya dan berkata. “I feel you, Mei. Posisi kita sama. Kita sama-sama dicampakkan. Kevin tahu banget elu masih suka sama dia. Raya juga tahu gue masih suka sama dia. Di mata mereka, kita ini pecundang. So, gimana kalau kita bersekutu? Come on, kita tunjukin ke mereka kalau kita udah move on and happy together. Bukankah tampak bahagia itu pembalasan dendam terbaik?”
“Ckckck. Teori dari Hongkong!” ketus Mei sambil beranjak pergi.
Juna mencekal lengan Mei. “I will pay you,” ucapnya membuat wanita itu terpaku di tempat. Lalu pria itu merundukkan kepala dan membisikkan sesuatu ke telinga Mei.
***
Setelah lamaran gila itu, teman-teman menyerbu Mei dan memberinya selamat.
“Wah! Waah, haredaang! Sumpah. Gue masih nggak percaya dengan apa yang gue lihat barusan, which is kita semua nggak ada yang tahu kapan elu jadian sama Juna?”
“Gilaaa! Napa jadinya lu yang tau-tau dilamar sih? Gue yang udah jalan 5 tahun aja masih digantungin sama cowok gue. But. Jujurly, lu sukses bikin kita semua syok, Mei!”
“Ternyata selama ini lu jomblo palsu, sialan lu!”
“Tapi, elu sama ... Juna? OMG. Really?”
Mei terdiam seribu bahasa. Dia sendiri masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dia yang beberapa menit lalu masih jomblo, tiba-tiba saja sekarang punya calon suami? Dan ciuman tadi? Astaga!
“Jun, kita perlu bicara,” desis Mei sambil menarik Juna keluar dari ruangan setelah berhasil menghindari rentetan pertanyaan teman-teman yang bisa membuatnya diare akut.
“Take it easy ..., kita bakal banyak bicara setelah ini, Mei. Kita sekarang kan couple.”
“Fake couple!” ketus Mei sewot. Ah. Andai saja Juna bisa melihat kepalanya yang terasa mengebul ini.
“Tapi mulai sekarang, orang-orang menganggapnya gitu. We’re couple. Don’t forget about that,” bisik Juna sambil merangkul pundak Mei dan tersenyum menang setiap kali berpapasan dengan teman-teman yang menyapa dan mengucapkan selamat.
“Jun,” panggil Mei setelah duduk berdua saja di dalam mobil Juna dan jauh dari pantauan orang-orang. Tapi Mei tak jua melanjutkan kata-katanya. Dia malah menggigiti bibir.
“Hmm?” Juna menoleh. Melihat Mei menggigiti bibirnya seperti itu, serta merta membuat jantungnya berdenyut dengan cara tak biasa. Ah. Bagaimanapun, mereka pernah berciuman tadi. Ciuman yang cukup panas dan mengejutkan. Sisi lain dari seorang Meilani yang selama ini dipikirnya dingin.
“Kok diam? Mau ngomong apa, Mei? Ngomong aja nggak usah sungkan-sungkan.”
“Menurut lu ..., apa Kevin dan Raya bakal percaya tentang hubungan palsu kita?”
Juna terbahak mendengarnya.
“Malah ketawa!” Mei mendengkus sebal.
“Emangnya lu nggak liat muka mereka pas kita kissing secara live tadi? Wadaww! A-ampun, sumpah ... a-ampun.” Juna meringis karena Mei mencubitinya.
“Awas kalau lu bahas-bahas lagi soal ciuman itu!”
Juna tergelak. “Lu belum lihat group chat angkatan kita ya? Pada ngeshare video kita kissing tuh!”
“What?” Mei terbelalak ngeri. “Aaaaah! Ini semua gara-gara lu!” omelnya sambil meninju lengan Juna.
Juna malah nyengir. “Loh. Bagus, kan? Misi kita berarti sukses!”
“Cih!” Mei melengos, tapi dalam hatinya diam-diam merasa lega. Sebelum acara lempar bunga tadi, Mei pergi ke restroom. Saat berada dalam bilik toilet, dia tak sengaja menguping obrolan Sarah dan Tania yang baru memasuki restroom sambil membicarakan dirinya.
“Eh, Tan. Kasihan ya si Mei, kayaknya dia masih belum bisa move on juga dari Kevin. Lu lihat nggak sih? Sejak acara akad nikah sampai resepsi, tatapannya ke Kevin dalem banget. Bisa-bisa dia nangis darah ntar malam.” Suara Sarah terdengar membuka obrolan.
“Ya gimana nggak nangis, Sar? Gila lu, bayangin aja, udah sejak kapan tau dia diam-diam suka sama Kevin. Eh, si Kevin malah nikahnya sama Raya, bestie sendiri. Pasti nyeseklah gila.” Tania terdengar antusias menanggapinya.
“Poor Meilani. Tapi better kita tetap pura-pura nggak tahu ajalah, kalau sebenarnya selama ini dia tuh secret admirernya Kevin,” ujar Sarah di antara suara air kran yang mengucur.
“Eh, inget nggak lu, Sar? Pas Raya kasih undangannya ke si Mei? Si Mei kan no said congrats sama sekali gila.”
“Yes. I remember. Awkward banget kan itu.”
“Heran. Betah banget si Mei ngejomblo cuma buat mengagumi Kevin doang.”
“Mending kalau Kevinnya peduli. Better cari yang lain aja ‘kan? Keburu karatan, ya nggak?”
“Ya iyalah! Ponakan gue yang SMP aja dah punya cowok serenteng. Masa dia yang udah 28 nggak bisa move on pindah gebetan? Emangnya cowok di bumi ini cuma Kevin doang?” seloroh Tania.
Lalu keduanya tertawa. Menertawakan Mei.
Seketika Mei memegangi dadanya yang meledak-ledak kaget. Kalau yang dianggapnya teman dekat saja seperti itu, bagaimana dengan yang lain? Mei menahan sesak yang kian menghimpit dadanya dengan rasa perih.
Mungkin, karena itulah yang membuat Mei tak pikir panjang menerima saja sebuket bunga yang diulurkan Juna di depan orang-orang tadi. Demi melindungi harga dirinya di depan teman-temannya sendiri. Juga melindungi gengsinya di depan Kevin yang selama ini kerap menggantungkan perasaannya.
***
“Btw. Ciuman gue tadi nggak gratis. Lu janji, kalau gue bisa bikin Raya dan Kevin tercengang, lu bakal bayar 3 kali lipat,” ucap Mei sambil mengetikkan info rekening dan mengirimkannya kepada Juna. Bagaimanapun, Mei membutuhkan uang itu.
Juna terpingkal-pingkal hingga matanya berair. “Jadi, cerita itu benar rupanya. Tentang elu yang sangat menyukai uang.”
Mei tertawa sinis. “Semua orang menyukai uang. Gue realistis, bukan matrealistis,” ketusnya.
“It’s not a big deal,” sahut Juna sambil mengetik sesuatu di layar ponsel canggihnya. “Done. Limapuluh juta,” kata Juna begitu santai, seakan yang sedang dibicarakannya itu hanyalah uang limapuluh ribu saja.
Mei tersentak. Matanya melotot sebesar jengkol saat Juna menunjukkan bukti transfernya. Hanya untuk sebuah ciuman?
“W-what? Li-limapuluh juta? Are you kidding me?”
“Napa? Kurang?” tanya Juna dengan nada menantang.
“Lu gila, Jun??”
“Why? Bukannya lu suka uang? Selama ini elu overworking demi money kan? So, I gave you.”
Mei menelan ludah dan berkedip-kedip memandangi Juna. “Tak ada makan siang gratis, apalagi uang sebanyak ini. Say what do you want?” desahnya sambil bersedekap.
“Marry me. Menikahlah denganku, Mei.”
Mei bisa merasakan keseriusan dalam nada suara Juna. “Why me?” desaknya tak mengerti.
“Because you are Meilani.” Juna tersenyum dengan sorot mata melembut kala mengucapkannya.
Untuk sejenak sanggup menghentikan detak jantung Mei karena dilamar dan dipandangi sedemikian rupa oleh pria setampan Juna. Tetapi dengan cepat Mei menguasai keadaan. “So what?” ujarnya seraya mengedikkan dagu.
Juna geleng-geleng dan berdecih. “Yaelah ... masih nanya. Kan kita dalam misi yang sama, Maemunah!” sahutnya sambil menjitak pelan kening Mei.
Mei seketika menabok lengan Juna yang seenaknya mengganti namanya jadi Maemunah. Tapi cowok sableng itu malah terkikik.
“Kebetulan kita berdualah yang lagi sama-sama patah hati, Mei. Lu patah karena Kevin, dan gue karena Raya. Kebetulan juga kita sama-sama jomblo. Dan semua orang sama-sama memandang kita seperti pecundang yang kalah perang. Tapi pertunjukan kita tadi sukses bikin mereka syok berat. See? Cara pandang mereka ke kita mulai berubah. Harga diri kita akhirnya terselamatkan, Mei!”
“Jadi, elu mau melanjutkan sandiwara tadi sampai jenjang pernikahan betulan?”
“Why not?”
“Tapi, Jun. Kita kan nggak saling cinta.”
“Mei, apa itu penting sekarang?”
Mei menghela napas panjang. Betul juga, yang terpenting sekarang menyelamatkan dulu gengsi dan harga diri mereka di mata orang-orang. Tapi, tetap saja ... bukankah pernikahan itu sesuatu yang sakral? Sanggupkah Mei mempermainkannya demi kemarahan dan balas dendam?
Juna seakan bisa merasakan kegalauan wanita itu. Maka direngkuhnya kedua tangan Mei dan digenggamnya erat-erat. “Nggak perlu overthinking, Mei. Kita jalani saja rencana ini pelan-pelan, yang penting elu nyaman. Oke?”
***
Meilani. Cuma itu saja namanya. Singkat dan padat. Sesingkat dan sepadat jawabannya setiap kali Juna menanyakan sesuatu padanya semasa SMA dulu, “Mei ..., lihat Raya nggak?”
Gadis itu cuma menjawab, ‘ke kantin’ atau ‘nggak tahu’. Kadang malah menunjuk langsung arah keberadaan Raya tanpa menoleh sama sekali pada Juna, sedangkan tatapannya tetap terpaku pada buku yang dibacanya.
“Woi, gue ini lagi tanya ya, ... bukannya lagi mau minta sumbangan. Pelit amat sih lu kalau ngomong!” Juna mendengkus sambil berlalu pergi. Tapi Juna tak pernah kapok menanyai Mei tentang Raya, lagi dan lagi, sambil menyodorinya sebatang coklat, baru Mei menoleh dan tersenyum kepadanya.
Setidaknya Mei bakal menjawab dengan jujur dan apa adanya meski irit kata, tak seperti teman-teman Raya lainnya, yang kerap menatapnya dengan sorot mata menghakimi dan mencemooh upaya pendekatannya. Padahal Raya yang Juna kejar-kejar, bukan mereka.
Brug!
“Makanya ..., lihat-lihat dong kalau jalan,” goda Juna suatu kali, sengaja mengerjai Mei yang sedang asyik membaca sambil berjalan menuju kantin. Juna sengaja menghadang jalannya secara tiba-tiba, dan Mei betulan menabraknya. Lalu gadis itu tergagap sambil buru-buru membungkuk, mengambil novelnya yang terjatuh.
“Eh. Sorry ...,” ucap gadis itu sambil melaluinya. Bikin Juna garuk-garuk kepala, heran menerima respons datar Meilani.
Ah. Mengusili Mei ternyata nggak seru!
Lalu Juna menemukan sepucuk kertas yang terlipat di lantai koridor. Dia yakin itu punya Mei, sepertinya tadi terjatuh dari bukunya. Juna pun iseng membaca puisi yang tertulis di sana.
‘Dear, K .... Kutulis namamu di atas pasir, tapi ombak menghapusnya. Lalu kutulis namamu di atas awan, namun angin meniupnya pergi. Maka ... kutulis namamu dalam hatiku saja, dan di sanalah namamu terpatri selamanya.’
"Ciee ..., dalem banget. Fall in love lu, Mei?" Juna nyengir sambil menoleh ke arah Mei yang sudah berjalan menjauh.
Juna berniat mengembalikan kertas itu, berlari-lari kecil di belakang Mei. Rupanya Mei menuju lapangan basket, bukan ke kantin. Mei bergabung dengan Raya and the geng yang asyik menonton Kevin lagi main. Tangan Juna mengepal cemburu mendapati Raya terus-terusan memberi sorakan dukungan buat Kevin, hingga kertas di tangannya ikut teremas.
“Kev!” panggilnya seraya berlari-lari ke tengah lapangan dan memungut bola yang sedang menggelinding ke arahnya. “Lawan gue!” katanya demi merebut perhatian Raya sang gebetan.
Tentu saja Juna yang akhirnya memenangi pertandingan, sebab permainan basket sudah jadi makanannya sejak kecil. Beda dengan Kevin yang baru kenal bola basket kemarin sore. Cowok rumahan itu kan masih baru belajar gaul. Cuma ahli pegang stik PS, bukan ahlinya pegang bola basket.
Juna puas berhasil mengalahkan Kevin dengan telak, lalu nyengir pada Raya yang tersenyum cantik seraya bertepuk tangan untuknya. Saat itulah tanpa sengaja Juna menangkap ekspresi Mei yang sendu sambil menancapkan tatapannya dalam-dalam pada Kevin. Tapi saat Kevin balas menatapnya, gadis itu buru-buru membuang pandangannya ke arah lain. Dan hal itu terjadi berulang kali, membuat Juna tertawa geli.
Aha! Dari sanalah Juna menebak, jika inisial K dalam puisi tadi itu tadi adalah nama Kevin. Oh. Rupanya, Mei naksir Kevin.
***
Raya tertawa lirih. “Ck. Norak banget sih mereka berdua. Please, deh,” gumamnya, kemudian meletakkan ponselnya ke atas nakas dan merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang hotel yang empuk.
Kevin ikut merebahkan diri di sebelah Raya. “Kenapa, sih?”
“Kamu buka aja group chat angkatan kita. Lagi pada heboh, bahas soal Juna sama Mei tadi. Ada yang share video pas mereka kissing tadi.”
Kevin menatap dan membelai-belai pipi Raya. “Memang sejak kapan mereka jadian? Selama ini Mei dan Juna nggak kelihatan kayak orang yang lagi punya hubungan?”
“Entahlah.” Raya mendesah. Ada gelenyar tak enak yang merambati perasaannya. Dia merasa dikhianati. Bukankah selama ini Juna cuma bucin padanya? Juna selalu mengemis cintanya. Bahkan pria itu masih gigih memintanya kembali saat Raya sudah bertunangan dengan Kevin.
"Ray, I love you so much ...,” ratap Juna malam itu, membuat bibir Raya terkatup rapat. Sebenarnya Juna pria yang baik. Kesalahan Juna hanyalah terlalu lengket padanya. Kelewat bucin. Sampai Raya risih. Tapi bucin pada Raya seperti sudah menjadi panggilan jiwanya. Sulit dicegah. Tak bisa diperbaiki karena itu bukan suatu kerusakan. Sayangnya, cowok bucin dan imut bukan tipe Raya. Dia suka cowok yang tampak dingin di luar, tapi sebenarnya hangat di dalam. Seperti Kevin.
Lalu. Sejak kapan tiba-tiba Mei memasuki hidup Juna? Dan kenapa harus Mei? Lagi-lagi Mei. Kenapa Mei selalu terlibat dengan lelaki yang menyukai Raya sih? Raya pikir cuma Kevin, tapi ternyata diam-diam temannya itu juga menyukai Juna? Wah, ... luar biasa!
“Loh. Gimana sih, tadi kan kamu ngasih buket bungamu itu ke Juna? Kupikir kamu memang sudah tahu tentang mereka.”Kevin terpancing penasaran.
Raya mendesah pelan. “Pas Juna foto bareng kita tadi, suddenly dia bilang mau melamar seseorang. And than, dia minta agar buket bungaku itu buat dia aja pada saat acara lempar bunga. Aku oke-oke ajalah. But, I didn’t know who that girl is. Ternyata ..., Mei.”
“Berarti selama ini mereka sengaja backstreet.” Kevin menyimpulkan.
Raya membuang napas. “But ..., why?” desahnya tak habis pikir Meilani sanggup menyembunyikan rahasia sepenting itu. ‘Tapi. Aku juga telah menyembunyikan hubunganku dengan Kevin darinya selama ini,’ pikir Raya sedikit merasa bersalah dan tak enak hati kepada teman dekatnya sendiri. Dia merasa seperti tukang tikung pacar orang saja.
“They have a reason,” sahut Kevin dengan seulas senyum, menutupi kecut dalam hatinya. Bukankah selama ini tatapan Meilani hanya untuknya? Perhatian yang diam-diam wanita itu sematkan, bisa Kevin rasakan dengan jelas. Rasanya tak mungkin jika semua perhatian Meilani padanya itu cuma halusinasi Kevin semata.
Tidak. Kevin bisa melihat jelas sorot kagum dan pantulan cinta yang memenuhi tatapan Meilani setiap kali mata mereka bertemu. Tatapan seperti itu tak pernah Mei tunjukkan pada pria lain selain dirinya. Kevin yakin itu. Tapi sejak ciuman Mei dengan Juna tadi, serta merta membuat Kevin kehilangan keyakinannya selama ini.
Kevin tertawa lirih, menertawakan masa lalu yang tertinggal di belakangnya. Sudahlah. Sekarang dia sudah punya Raya, wanita yang sah menjadi istrinya. Sedangkan Meilani bukan siapa-siapa lagi baginya. Meskipun dalam hati Kevin yang terdalam mengakui, masih ada jejak kisahnya bersama Meilani yang belum sanggup dia hapus sampai detik ini.
Raya memalingkan wajah saat Kevin mulai mencium dan menyurukkan hidung ke ceruk lehernya, sambil menelusupkan tangan ke dalam branya yang berenda. Ah. Raya bukannya tak ingin, hanya saja sangat letih dan mengantuk. Dia kurang tidur karena sibuk dan juga cemas menjelang pernikahannya.
“Aku ngantuk, Kev.”
“Are you sure?” Kevin ganti berbisik tanpa menghentikan belaiannya ke sekujur tubuh Raya. Ini adalah malam pertama pernikahan mereka. Kevin tak akan menyerah hanya karena Raya bilang tidak. Kevin yakin, Raya pasti akan memberikannya.
“Kev ...,” desahan Raya beberapa menit kemudian membuat Kevin tersenyum puas. Reaksi Raya tepat seperti yang dia pikirkan. Lalu Kevin merunduk, mencium, dan melumat bibir Raya. Dan tiba-tiba kilasan ciuman pertamanya melintas begitu saja.
Ciumannya dengan ... Meilani.
***