“Aku menunggu dudamu, Mas,” ucap Marta sambil memeluk lelaki di sampingku saat kami masih berdiri di pelaminan hari ini..
Gadis cantik dan bohay itu menatapku nanar, tangannya mengenggam erat Mas Rio. Lelaki yang beberapa jam lalu sah menjadi suamiku itu, pun membalasnya tak kalah mesra. Air mata tak sengaja ikut luruh menyelami kesedihan mereka.
Cemburu? Tentu saja tidak. Aku tahu mereka memang telah berpacaran, bahkan biasa ikut menemani makan di kala mereka bertemu. Toh, kami memang berteman.
Aku dan Mas Rio dijodohkan. Ayah kami bersahabat sejak kecil. Dan anehnya, perjodohan itu berlangsung sejak masih orok katanya. Hingga di sinilah kami terjebak dalam situasi rumit.
Semua tatap mata teman-teman dan orang yang tahu tentang soal pertemanan ini ikut mengadili, seakan memvonis akulah sahabat tak punya nurani.
“Dasar pagar makan tanaman!”
“Perempuan nggak punya malu.”
“Nggak punya hati.”
“Kecentilan.”
“Buang aja kelaut teman kayak gitu.”
“Mending berteman sama monyet daripa teman seperti ini.”
Berbagai hujatan dari teman dunia nyata dan dunia maya menghiasi gawaiku, meski tak sedikit juga yang membela. Saat mengaktifkan benda canggih itu usai acara pernikahan mewah hari ini.
Ternyata, ribuan komentar nyinyir muncul saat fotoku yang tadi siang diunggah di facebook dengan caption ‘Sahabatku mengambil calon suamiku’. Entah siapa yang mengunggahnya? Sungguh bagus judul itu difilmkan di TV ikan teri.
“Kamu puas sekarang?” Mas Rio tiba-tiba muncul dengan wajah penuh amarah, tetapi tak mengurangi ketampanannya sama sekali.
“Untuk?” tanyaku cuek sambil menarik guling memberi dia ruang untuk berbaring di tempat tidur kosong sampingku, yang masih dipenuhi bunga. Ada setitik harap dia berubah pikiran, meski tahu sangat mustahil.
“Kupastikan pernikahan bodoh ini nggak akan lama. Dan aku akan kembali ke Marta!” tegasnya lagi penuh penekanan lalu mengambil selimut dan bantal, kemudian menggelarnya di lantai depan TV.
Ngapain juga dia bersikap lebay gitu? Bukannya kita sama-sama tak mampu menolak keputusan ini?
Halo, apa dia pikir aku nggak punya cita-cita apa? Apa dia kira aku nggak punya pria idaman? Apa? Ah, sudahlah ... toh, nyatanya aku telah jadi istri dari pria yang kupastikan tak mengharap diri ini.
“Belum bisa tidur?” tanyaku saat dia bolak-balik bak roti gulung dan mengganti chanel TV berulang-ulang.
Entah siaran apa yang dicarinya. Sekamar sekarang pun dipastikan sebagai formal, pelengkap rangkaian pernikahan utuh di depan orang tua dan keluarga. Sungguh, pembohongan yang masif dan teratur.
“Hmm ...,” jawabnya tanpa membalikkan badan.
Semenjak mengetahui perjodohanku dengannya, tak pernah membayangkan malam pertama seperti pengantin pada umumnya. Dia bereaksi seperti itu saja walau sangat datar, sudah suatu kesyukuran. Setidak, aku merasa tak bersama dengan patung di malam pengantin.
“Makan, yuk!” ajakku setelah dari dapur. Dua porsi nasi lengkap, kuletakkan tak jauh darinya. Ada rasa iba melihat dia menzalimi cacing dalam perutnya. Apa dia mau bunuh diri dengan pernikahan ini? Sungguh lemah!
“Hidup itu dibawa santai aja. Kalau dibikin susah, yah, pasti ribetlah,” ujarku lagi sambil melahap daging rendang yang kupanaskan sisa tadi siang. Kemudian menyeruput es jeruk yang sontak mendinginkan suasana kamar yang sedari tadi terasa pengap. Entah kenapa suhu AC tak ada rasanya sama sekali, padahal sudah distel paling dingin.
Pelan dia bangkit, tanpa komentar meraih piring dan jus di dekatnya. Aku hanya senyum dalam hati melihat dia makan dengan lahap. Pasti tak sanggup menahan demo cacing dari perutnya yang sedari tadi bunyi kriuk kriuk.
Benarlah kata orang, perut kosong bisa membuat otak udang, ditambah dengan dompet yang besar doang, tapi hampa melompong. Ditambah pasangan dilarikan orang, dipecat sama atasan. Penderitaan apalagi yang kamu dustakan? Hanya orang beriman yang sanggup sabar di situasi seperti itu.
“Aku lihat kamu tak punya beban.” Ucapannya tak seketus tadi. Mungkin dia sudah berpikir jernih setelah perutnya terisi.
“Memang aku bisa apaan?”
“Protes kek, ngamuk kek. Lari, atau ... apalah.”
“Kamu sendiri?" Kalimatku pasti menohok hatinya, sekaligus jawaban dari pertayaan tadi.
Kami berada di situasi sama-sama tak mampu menolak dengan rasa bakti kepada orang tua.
***
Sebulan di rumah hasil keringat Mas Rio sejak membujang. Mungkin ini istana kecil perencanaannya dan Marta, untuk merenda hari setelah menikah. Itu terlihat dari penataan ruang khas sentuhan wanita. Artistik, rapi, menarik, mewah, dan elegan.
Kami seatap, tapi berbeda kamar. Itu jugalah salah satu penyebab dia berkeras memboyongku keesokan hari setelah akad dengan alasan bulan madu.
Tak apalah, ini lebih baik daripada di tempat orang tua namun harus terus berlagak mesra. Sungguh menyiksa menjadi pesinetron, berakting bahagia walau sebenarnya hati menangis.
“Pakaian Mas, udah aku siapin di tempat biasa,” ujarku sambil menyendokkan nasi di piringnya.
Meski kami tak layak disebut suami istri, tetapi aku selalu mengurus makan, pakaian, dan semua isi rumahnya. Hanya Allah yang tahu di mana akhir rutinitas ini berlangsung.
Mas Rio mengangguk dan kembali ke layar ponselnya. Siapa lagi yang diajak chatingan kalau bukan Marta?
Hampir sepulang kerja, bahkan berangkat lagi ke kantor mereka saling berkomunikasi. Aku tidak tahu kapan dia tertidur, yang pasti dan jelas, telinga ini mendengar percakapan haha hihi mereka yang hanya bersekat dinding dengan kamarku. Sampai aku terlelap, bahkan suara itu kadang membangunkan di kala subuh.
“Besok kamu nggak perlu mengurusku lagi,” ujarnya di sela sarapan.
“Nggak perlu ambil pembantu, Mas! Aku bisa mengatur rumah dengan kerjaan kok,” sanggahku percaya diri. Bukankah mengambil orang lain akan membuka aib rumah tangga ini? Dan berita itu bisa saja sampai ke telinga orang tua kami.
“Marta akan tinggal di sini,” ucapnya tanpa beban.
Melihat sikap Mas Rio, sama sekali tak kaget dengan kalimat pria yang bergelar suamiku saat ini. Hanya saja belum siap ketahuan orang tua.
“Mama, papa?”
“Mereka nggak akan tahu, kalo kamu nggak cerita.” Mas Rio menatapku tajam.
“Kami akan menikah siri nanti. Jadi, nggak ada yang kumpul kebo,” ujarnya lagi memasukkan nasi goreng terakhir di mulutnya.
Dia tahu pikiranku, mungkin karena selalu melihatku pakai jilbab kemana-mana bahkan di depannya.
“Bersikap baiklah pada Marta,” ujarnya lagi sebelum melangkah ke luar.
Akhirnya, sesuatu yang dikhawatirkan itu terjadi. Walau dari awal telah mewanti-wantinya. Kenapa ada gores perih di hati? Apa karena aku memikirkan perasaan orang tua kami? Atau memang murni dari diri yang lemah ini?
Ya, Rabbi, Engkau tak akan menguji seseorang di luar dari kemampuannya. Mudahkanlah hamba melalui ujian ini. Amin.
“Silakan masuk, Mar,” ujarku pada Marta saat ia turun dari mobil.
Sejak pernikahanku dengan Mas Rio, kami tak pernah lagi saling menghubungi. Mungkin ini saat memperbaiki persahabatan itu kembali, apalagi dia telah jadi maduku.
Wanita seksi itu tak menjawab, langsung masuk kamar diikuti Mas Rio di belakangnnya yang menarik dua koper besar.
Sebagai anak yang dididik adab sopan santun, aku tetap menyiapkan makanan di atas meja. Meski tidak yakin mereka akan mencicipinya.
Hampir sejam menunggu di meja makan, kuputuskan ke kamar setelah tak ada tanda-tanda mereka akan keluar. Hati ini terasa tercubit, entah bagaimana caraku menghadapi dua manusia beku seperti es nantinya.
Sesampai di kamar, entah bagaimana lagi menggambarkan suasana hatiku mendengarkan tawa cekikikan di ruang sebelah. Antara marah, sedih, merinding, dan camburu bercampur menjadi satu. Namun, tidak mampu berbuat apa-apa.
***
Setelah azan Magrib, aku terbangun. Kepala terasa berat karena tidak biasa tidur jam segini.
Saat ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu, tak sengaja melihat tampilan diri di cermin. Mata tampak bengkak, ternyata sekuat apa menyabarkan diri, air mata tetap tak mau diajak damai. Sungguh lemah diri ini!
Setelah melaksanakan pengaduan panjang kepada Rabb-ku. Rasa lapar menuntun kaki ke dapur.
Aktivitas bercanda di sela makan Mas Rio dan Marta terhenti setelah menyadari kehadiranku. Suasana yang tadi ramai dari hasil pantulan suara mereka tiba-tiba lenyap, tergantikan dengan suara pergerakanku yang mencuci tangan di wastafel, mengambil piring, dan menarik kursi duduk bergabung di meja makan.
“Ini yang terakhir aku memakan masakanmu, selanjutnya Marta akan mengurus semuanya,” ucap Mas Rio menatap mesra wanita seksi di depannya. Tangan mereka saling meremas. Sungguh aku hanya dianggap setan menjadi yang ketiga.
“Pokoknya, biar aku semua yang mengatur. Termasuk letak kursi dan barang-barang lainnya.” Kembali aku tak bersuara, suara Marta setajam tatap matanya ke arahku, sinis dan meremehkan. Lagian buat apa protes? Paling hanya dianggap seperti suara kentut. Kini aku sadari persahabatan ini tak bisa lagi diperbaiki.
Gegas menyelesaikan makan, lalu mencuci tangan, serta piring yang kupakai tadi. Tak ingin rasanya berlama-lama menyaksikan dua manusia berakting lebay bermesraan.
Aku tahu hanya memanasiku. Tanpa mereka pikir, meski tak dipanasi pun, aku telah terbakar. Hati ini seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
Di kota kelahiran Sang Bapak Teknologi, BJ Habibie inilah, aku dan Marta melewati masa remaja dan indahnya sebuah persahabatan.
Hampir setiap malam menikmati debur ombak di pantai Senggol sambal mencicipi kuliner khas daerah Bugis. Sebelum pulang, tak pernah alpa ke lapangan Andi Makkasau.
Di sudut pusat tempat acara-acara daerah itulah, patung Bapak Teknologi beserta sang istri tercinta Ibu Ainun, kokoh berdiri di tengah kolam, dikelilingi air mancur dengan senyum penuh wibawa, dipercantik berjenis lampu-lampu hias berkilauan.
Sungguh cinta beliau pada pasangan sangat pantas ditiru.
Rasanya ada yang kurang mengakhiri jalan-jalan tanpa menginjak icon kotaku itu.
Sayang sekali, buku kisah cintaku ini tak akan pernah menyamai Beliau meski hanya sampulnya saja. Hiks.
Di tingkat perkuliahan, aku dan Marta memilih jurusan sama walau berbeda universitas. Aku melanjutkan kuliah di kampus berbasic agama yang terletak di Lembah Harapan, sedang Marta di kampus tengah kota. Hubungan kami tetap harmonis. Sering mengunjungi perpustakaan Bapak Teknolog untuk mencari literatur.
Mungkinkah aku yang menghancurkan masa-masa itu? Bukankah jodoh tidak ditentukan dari adanya istilah pacaran? Bukankah setiap yang bernyawa sudah ditentukan takdirnya masing-masing?
Akhir-akhir ini begitu enggan pulang ke rumah. Masa salat Magrib dan Isya aku laksanakan di masjid Agung depan tugu makam pahlawan 40 ribu nyawa. Di tempat inilah paling sering menghitung jam-jam berlalu, apalagi saat gundah seperti sekarang.
Entah kenapa aku merasa asing dan tersesat di kota yang membesarkanku ini. Apa karena diri ini orangnya introvert? Atau karena tak berdaya dengan pernikahan bodoh yang dikatakan Mas Rio? Ah, kenapa otak ini seakan buntu untuk berfikir.
"Kenapa HP kamu nonaktifin?" Sosok Mas Rio muncul saat tangan ini memasukkan anak kunci ke kamarku, jam sudah menunjuk angka sembilan malam. Kali ini ada amarah di balik nada suaranya.
Terus melanjutkan pergerakan tangan. Toh, sepuluh harian sejak kehadiran Marta, aku tak pernah dianggap ada. Buat apa meladeninya, paling hanya diajak ribut saja.
"Punya telinga nggak?"
Sama, tak menjawab, membiarkan lelaki itu berbicara dengan makhluk astral seperti yang dia lakukan padaku adalah pilihan terbaik. Hitung-hitung memberi pelajaran gimana sakitnya tak dianggap sekaligus melampiaskan bentuk kekesalan yang mendesak di dada.
Sebenarnya aku bukan wanita pembangkang. Ibu yang melahirkanku dulunya seorang guru menggaji anak-anak TPA dekat rumah, selalu mengajarkan akan perbuatan baik meski orang lain menyakiti. Sungguh, amalan itu sangat berat dilakukan saat amarah memenuhi otak.
Sebelum pintu kamar kututup sempurna, jantung ini kaget saat tangan kekar lelaki beku itu menahannya.
"Bikinin aku makanan, sekarang!" titahnya dengan wajah kacau.
What? Apa dia lupa dengan kata-katanya? Apa saja yang dilakukan istri tercintanya? Pertanyaan ini kusimpan dalam hati sambil menilik gesturnya dan menelusuri seluruh ruangan dengan bola mata mencari wujud wanita idamannya.
"Masakan setan tak dapat dimakan manusia. Beli aja di luar, biasanya juga gitu," jawabku ketus membuang asal pandangan sekaligus mengingatkan perlakuannya padaku.
"Itulah kenapa akhir-akhir ini maagku kambuh. Aku tak biasa makan makanan luar." Nadanya mulai melemah, malah terdengar curhatan. Apa dia kira aku Mama Dedeh?
"Marta mana?" tanyaku masih protes.
"Bukannya kamu tlah diberi tahu tentang kelemahanku yang nggak bisa makan di luaran sama mama?" sanggahnya tak menjawab penasaranku kemana perginya Marta.
Sungguh aneh pria di depanku ini. Wejangan yang menyangkut tentang kebaikan dan kesehatannya diingat. Tapi, lupa wejangan gimana menjaga dan membahagiakan istri. Egois level tiga puluh memang.
Meski dongkol tetap jua kuikuti keinginannya. Andai dia tidak menyebut mamanya, yang kini mertuaku. Hati ini rido dia kelaparan. Memang aku tak pernah sanggup menolak keinginan wanita bijak dan dermawan itu, apalagi papa mertuaku. Kebaikannya yang tulus menghipnotis setiap orang. Sungguh berbanding terbalik dengan putranya.
Makanan Mas Rio sebenarnya tidak ribet. Kol, wortel, daun sop, dan bawang goreng ditumis dengan sedikit air sebagai sayur. Sedang pauknya cukup menggoreng ikan jenis apa saja yang disiram jeruk nipis dan kamangi. Maka dia akan melahapnya tanpa sisa.
Setelah menata di atas meja, aku menuju ke kamar. Masih sempat meliriknya duduk depan laptop di ruang keluarga.
Sebulan lebih seatap dengannya, kuakui dia tipe pria pekerja ulet. Ditambah posisi starategisnya menjadi incaran semua karyawan di sebuah NV show room mobil yang pemiliknya salah satu keluarga yang pernah menjabat sebagai wakil presiden negeri tercinta ini. Menuntutnya lebih kreatif, inovatif, dan cerdas.
Lalu ke mana Marta? Bukankah mereka seperti lemari satu badan dua pintu. Kemana-mana selalu bergandengan? Ditambah pekerjaan Marta sebagai sekertaris sebuah pembiayaan, hampir mirip kerjaannya. Kian tersisihlah aku yang hanya seorang penerus toko bangunan milik keluarga.
Ah, sudahlah! Kenapa mesti repot memikirkan mereka. Toh, hasilnya hanya kesia-siaan yang hakiki.
***
"Nggak usah makan kalau nggak bisa ngeberesin peralatan masak. Memang aku pembantu?"
Suara Marta menghentikan pergerakan tanganku yang hendak membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan buat sarapan. Apa maksud kalimatnya?
"Beli aja, kek. Jadi, nggak ngotorin kayak semalam. Atau nggak punya duit?" Oh, jadi itu yang dipersoalkan? Hanya gara-gara kelupaan setelah menjawab telepon semalam dan akhirnya ketiduran, menyebabkan pagi ini mendapat kata mutiara?
"Tanyain aja ke suami tersayanngmu itu!" jawabku meninggalkan dapur. Masih sempat kutangkap dengan ekor mata mereka menikmati nasi kuning warung depan rumah. Lalu Mas Rio? Sepertinya hanya berani padaku saja. Sungguh cinta telah membutakan matanya. Bahkan menjelaskan kebenaran dia pun tidak sanggup.
Jam menunjuk di angka enam lewat lima menit, saat aku memacu motor keluar rumah. Gumpalan sesak dan amarah membatalkan niat tadi meracik sarapan sesuai selera sekaligus terpaksa berangkat ke toko sedini begini. Serasa ada perih melewati setiap pori yang berpusat di balik benda lunak bernama hati di balik dada.
Apakah dengan menangis menandakan seseorang itu lemah? Apakah menjaga kebahagian orang tua meski seorang anak menderita dikatakan juga lemah?
Oke! Silahkan kalian melabeliku apa. Biarkanlah genangan di pipi ini mengalir. Biarkanlah isakan ini terdengar. Mudah-mudahan setelahnya, aku bisa memutuskan sesuatu.
***
"Kamu nggak malu dengan jilbabmu, setiap malam keluyuran?" Kali ini Mas Rio menghadangku di pintu utama saat pulang lambat seperti malam-malam kemarin. Marta berdiri di belakangnya dengan tatap intimidasi.
Lagi, aku tak indahkan dua orang sok suci itu. Selain tak ingin mengganggu tetangga kompleks akibat pertengkaran kami, juga takut pertahananku lemah akibat air mata tak dapat ditahan apabila membela diri dalam keadaan emosi. Entah kenapa sumber air itu nggak bisa diajak damai ketika baper. Anehnya, kalimat-kalimat yang bertengger di otak baru lancar keluar apabila dikawal air mata. Kekurangan yang sangat fatal.
"Bulan ... !" Setengah berteriak Mas Rio memanggil namaku. Sepertinya ini kali pertama pria bertubuh tinggi itu menyebut nama istri pertamanya setelah akad nikah.
"Kenapa semua yang kulakukan salah di mata kalian?" sengitku dengan bibir bergetar. "Apa kalian merasa bersih dari dosa dan salah di dunia ini?"
Akhirnya yang kutakutkan terjadi, butiran bening itu membasahi pipi.
Mas Rio dan Marta terlihat kaget mendengar perkataanku yang selalu lembut dan banyak diam kini keras menantang.
"Nggak usah khawatir. Besok aku akan tinggalkan rumah ini," ujarku lagi sambil mengusap pipi dengan punggung tangan secara kasar.
"Jangan macam-macam. Besok mama papa nyuruh kita ke kampung," jawab Mas Rio dengan nada masih sama.
"Trus, apa peduliku sekarang?" tanyaku tak kalah tinggi, lalu tanpa menunggu jawabnya, menutup pintu kamar setengah membanting. Tak kuhiraukan kepanikan di wajah kedua orang di luar, pun ketika menggedor pintu untuk kubuka. Biarlah dia galau dengan ulah mereka sendiri.
Bukankah wanita lemah dan bodoh ini tak ada artinya sama sekali? Bukankah setiap orang punya hak untuk menentukan sikap sendiri?
Setelah salat Subuh, berkutat di dapur. Sebenarnya seleraku tak jauh beda dengan Mas Rio, sama-sama suka makanan rumahan.
Entah kenapa terasa tidak kenyang kalau beli di luar, padahal aku tidak hobi masak apalagi pintar meracik makanan enak.
Kalau ini bukan termasuk salah satu kelemahan kan? Baiklah, katakan saja ini kelebihan. Artinya tidak perlu boros-boros beli makanan jadi. Karena kenyataanya memang aku tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan.
Nasi goreng instan ala kadar bahan yang tersisa di kulkas telah siap. Sebelum menyantap, terlebih dahulu membersihkan bekas memasak tadi. Bukan takut diberi kata mutiara dari Marta, memicu percekcokan hanya semakin menambah hati kian keras. Mencegah menurutku lebih baik. Bukankah mengalah tak berarti kalah? Menurut bukan berarti pecundang?
“Siapin barangmu! Sebelum jam tujuh, kita berangkat.” Lelaki itu muncul dengan ponsel di tangan dan langsung duduk saat baru tiga sendok nasi masuk ke mulut. Sepintas matanya melirik piring di depanku.
Aku terus melakukan aktivitas makan tanpa perduli, malah sengaja membuat piring dan sendok sering beradu. Rasain kamu, Mas! Kini aku rida melihatmu kelaparan.
Sepertinya, memang diri ini harus belajar tega dan mesti selalu mempraktikkan jiwa tanpa belas kasih itu. Kalau tidak, pasti kebodohan hakiki yang sekarang kusandang, akan terus melabeli diriku. Apalagi di mata Mas Rio dan Marta.
Setelah merasa kenyang, aku memindahkan nasi goreng dengan wangi yang membuat cacing merontah membayangkannya. Kebetulan tersisa banyak, lebih tepat sengaja menyisakan banyak di rantang kecil. Rasa ibaku menguap untuk sekadar menawari hasil kerjaku.
Bukankah tangan ini dan semua perangkat tubuh yang lain, tak perlu mengurus semua tentangnya? Apa gunanya aturan yang dibuat mereka, kalau hanya aku saja yang menjalankannya? Betul-betul pembodohan yang masif dan teratur.
“Kamu jangan coba-coba salah ucap di depan mama atau papa nantinya, apalagi sampai mengadu!” ujar Mas Rio sengit.
Mungkin karena dicuekin dan tak ditawari nasi goreng tadi, dia tiba-tiba marah tak jelas. Halo, apa dan ke mana saja istri yang kau puja itu?
“Aku nggak mau ikut!” jawabku berusaha tenang dengan ekpresi dibuat santai.
“Apa maumu sebenarnya?” Tatapnya mulai nanar.
“Kita cerai!” jawabku berdiri mencuci tangan, sendok, dan piring.
“Apa kamu mau lihat mamaku kena serangan jantung, karena ulahmu?” Dia mendesis.
“Dan aku mati berdiri di sini karena keegoisanmu?” jawabku tak kalah sengit.
“Jadi, aku harus bagaimana?” Mas Rio tiba-tiba mendekat saat sejenak terdiam. Matanya nyalang bak menelanjangi tubuhku. Ada rasa ngeri melihat ekspresinya yang tak jauh beda dengan penjahat di film-film.
“Pikirkan sendiri! Kamu, kan, manusia bijak,” sindirku sambil gegas meninggalkan pria egois itu dengan wajah memerah. Tak lupa membawa nasi goreng enak tadi yang telah kumasukkan ke rantang.
Sebenarnya hati kecil protes, yang kulakukan ini salah. Apalagi memang aku telah terbiasa dengan sikap mengalah dan menerima apa adanya di antara ke empat adik-adikku.
Mungkin itulah alasan bapak dan ibu memberi nama Bulan. Agar menjadi doa, supaya si penyandang nama bersikap lembut, selembut sinar bulan yang menyinari tanpa membuat kulit terbakar. Lalu? Apa yang kulakukan sekarang?
Andai Mas Rio dan Marta mau bersikap lembut, atau minimal dibicarakan baik-baik, dalam mencari solusi rumit ini.
Maka dengan statusku yang sekarang telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar Mas Rio secara sah, tentu memudahkan mencari cara mempersatukan mereka. Setelahnya, aku pergi dari kehidupan barunya secara baik-baik pula. Yang jelas, saat masa perjodohan itu sangat mustahil dilakukan.
“Cepatan!” Terdengar teriakan Mas Rio dari luar.
Dua tas besar telah terkemas, rencana sepulang nanti langsung cari rumah sewa. Satu tas ukuran sedang, kuisi lima pasang baju sebagai bawaan, tak lupa pernak-pernik khas wanita.
Kali ini aku memutuskan ke rumah orang tua Mas Rio. Selain ibu dan mama mertua baru saja menelepon untuk hadir, juga berencana terus ke rumah orang tuaku. Jarak dua tempat itu hanya dipisah satu desa.
Sarung tangan, jaket, kacamata, dan helm telah lengkap terpasang saat keluar kamar. Aku memilih mengendarai motor sendiri. Perjalanan dua jam setengah, sudah biasa kulalui sejak kuliah dulu.
Lalu, kenapa tatap lelaki itu tampak aneh melihatku? Ada yang salah kah?
“Kita naik mobil!” titahnya percaya diri.
“Setan nggak bisa sejalan dengan malaikat,” ujarku terus menyindir, sambil tetap melangkah ke halaman.
“Kenapa sih kamu selalu ngajak gelud urat leher, Ha?!” Mas Rio melangkah lebar mengikutiku.
“Jangan khawatir! Tujuan kita sama. Hanya cara sampai yang berbeda.” Wah, ternyata dalam keadaan baper pun kalimatku bisa puitis. Semoga pria pencipta kekacauan itu tak gagal paham.
“Kenapa juga kamu selalu mempersulit hidup Mas Rio? Ngeyel banget.” Marta tiba-tiba muncul dengan nada meremehkan saat aku duduk di atas jok yang memanaskan mesin motor.
Rambutnya masih dijepit dalam keadaan acak-acakan dan suaranya terdengar parau. Ternyata dia baru bangun tidur. Jadi, begini kerjaan istri yang dicintai saat waktu libur?
“Kirain hidupmu saja yang bermasalah, tenyata telingamu lebih parah,” ujar Marta lagi saat aku pura-pura tak dengar.
'Astagfirullah hal adzim.' Aku menekan dada agar bersabar, sambil terus mengucap istigfar dalam hati.
“Tanyain ke istri tersayangmu itu, jangan suka campuri urusan orang. Apalagi orang tersebut tak pernah mengusiknya.” Kutatap sejoli itu bergantian. Sengaja kalimat yang keluar dari bibir ini kubumbuhi cabai pedas.
Bukankah mereka yang mengawali menaikkan bendera perang? Kalau kata pepatah, kamu jual, aku beli. Meski sepenuhnya belum yakin mampu melakukan perlawanan. Tak apalah mencoba, walau akhirnya tumbang tak dikenang.
“Bulan!” Lagi, pria yang katanya pandai berdiplomat itu hanya memanggil namaku saat terdesak. Saat tak mampu berbicara dengan baik. Saat hanya mampu menyalahkanku saja.
“Kita selesaikan di rumah mama, papa,” kataku melajukan motor. Meninggalkan mereka dengan mimik entah. Lagian buat apa menunggunya? Menunggu mereka mempertontonkan perpisahan yang sok dramatis? Saling susah berpisah, kata rindu, peluk, cium, dan ... ah, lebay!
***
Sepanjang perjalanan, mobil Mas Rio terus membuntuti. Karena jalanan sepi dan waktu masih panjang sampai ke tujuan, aku santai saja mengendarai, bahkan sengaja beberapa kali singgah memberi camilan di kios pinggir jalan, dan berlama-lama memakannya di situ. Berharap pria aneh itu melewati.
Sungguh tak nyaman dikawal, bak putri dari pohon pisang saja.
Sepertinya Mas Rio memang berbakat jadi penguntit, hampir tak ada kendaraan yang berada antara motorku dan mobilnya. Aku jadi penasaran, seperti apa sih dia di tengah keluarga besar? Sampai segitunya.
Benarlah perkataan sebagian orang. Biasanya orang yang terlalu menjaga image, ada bangkai yang berusaha ditutupi.
Untung setiap orang tidak sama semua. Jadi, masih ada yang benar-benar menjaga akhlaknya karena takwa kepada sang Pencipta.
Saat berbelok ke lorong masuk kampung, tiba-tiba badan pria egois itu menghadang di depan. Entah kapan dia melewatiku. Untung otak dan iman masih sejalan. Kalau tidak, entah apa yang terjadi. Mungkin badannya sudah kujadikan aspal, sekalian membalaskan sakit hatiku.
Tinggal aku berkilah bila ditanya, dia bunuh diri. Aku hanya dijadikan korban. Astagfirullah, apa yang kupikirkan, Ya, Allah?
“Hei, apa yang kau lakukan?” Aku melotot sambil meraih kunci yang dia sambar, seketika mesin motor pun ikut mati.
“Ikut di mobil, atau …,” ancamnya dengan tatap tajam.
“Atau apa?” Aku menekan suara agar tak mengundang perhatian orang-orang.
“Aku buang ini?” Tangannya menggoyang kunci motor di atas kepalanya. Dia ancang-ancang melempar ke tengah sawah.
“Oke,” jawabku cepat saat tangan itu siap melempar.
Ya, Rabbi ..., mengapa hambamu yang hina ini hanya diciptakan untuk menuruti keadaan. Mungkinkah aku tak punya hak atas hidup ini meski hanya sesaat?