Bab 1

"Ma-maksud Bapak apa ya? Saya tidak mengerti apa yang Bapak bicarakan," katanya tergagap. "Da-dari mana Bapak tahu ... jika ayah saya memiliki utang?" tanya Jasmine lagi dengan semua kebingungan yang ada pada dirinya.

"Menikah denganku, dan kamu tidak perlu memikirkan utang orang tuamu lagi. Perlu kamu ketahui, aku tidak akan mengatakannya lagi. Jadi, buat keputusanmu sekarang juga!" 

Meski sedang duduk berhadapan dan terhalang sebuah meja, Jasmine bisa membayangkan postur tegap dan atletis lelaki tampan di hadapannya itu. Sepasang mata elang, hidung mancung, dan bibir tanpa senyum itu menguarkan aura yang sulit diabaikan.

Tapi, bukan ini yang dibayangkan Jasmine ketika menerima tawaran interview kerja. Baru beberapa menit duduk di hadapan calon bosnya ini, bukannya mendapat pertanyaan seputar pengalaman kerja, dia malah dilamar! Apakah dia sudah gila?

Kevin Prakarsa-pemimpin perusahaan retail Diamond Group yang sudah berdiri sejak dua puluh tahun lamanya-melipat tangan dengan angkuh. 

'Kamu belum berubah juga,' ucapnya dalam hati. Kemudian menghela napas kasar menatap wajah Jasmine.

"Kamu tidak perlu tahu saya tahu dari mana. Katakan saja! Berapa utang yang ayah kamu miliki?" Pria itu berucap dingin dan tidak sabaran, menciptakan atmosfer menegangkan di ruangan itu.

Gadis cantik berambut panjang itu tidak langsung menjawab. Sepasang mata teduhnya mengedip-edip bingung.

Jasmine terlalu terkejut dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Ditambah tatapan tajam Kevin yang terus tertuju padanya, membuat Jasmine merasa terintimidasi.

Kevin Prakarsa bukan tanpa alasan ingin menikahi Jasmine. Setelah dua tahun lamanya menjadi duda lantaran malas mencari pasangan dan juga trauma akan pernikahan yang sempat gagal itu, ia akhirnya memutuskan untuk mencari calon istri lagi.

Pria itu ingin terhindar dari gangguan Desi, mantan istri yang terus mengganggunya, berharap Kevin mau kembali padanya.

"Maaf, Pak, jika saya lancang. Tapi kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya...," ucap Jasmine setelah beberapa saat terdiam. Dia menatap pria tampan di hadapannya dengan tatapan penuh selidik. "Bapak kenal saya?"

Jasmine sungguh tidak mengerti mengapa Kevin tiba-tiba melamarnya dan bagaimana dia tahu tentang situasinya. Tapi yang jelas, ini benar-benar tidak masuk akal.

"Tidak. Saya memang tidak mengenal kamu, tapi saya tahu segala sesuatu tentang kamu," jawabnya, menatap Jasmine tepat di manik matanya.

Jawaban lugas dari Kevin justru membuat Jasmine semakin bingung dan rasa curiga perlahan tumbuh dalam benaknya.

Dia tahu pasti pria di hadapannya ini adalah salah satu petinggi perusahaan, dilihat dari penampilan dan juga sikapnya yang bossy. Terlebih lagi, ruangan yang seharusnya menjadi tempat wawancaranya berada di ruangan eksekutif. Sudah barang pasti, Kevin Prakarsa adalah orang penting di perusahaan ini.

Tapi tetap saja, tidak ada hubungannya dengan menikah!

Kevin yang sadar betapa curiganya Jasmine padanya, tersenyum miring. "Saya bukan penipu," katanya singkat, membuyarkan lamunan Jasmine seketika.

"Jadi? Berapa utang ayah kamu?" Kevin kembali bertanya, setelah Jasmine tidak berhenti memberikan tatapan menilai.

"Ha-hampir satu milyar, Pak," ucap Jasmine dengan pelan. Rasanya malu, karena sudah menyebutkan nominal utang yang dimiliki ayahnya itu di hadapan pria yang baru saja dia kenal. Apalagi pria itu bermaksud menikahinya dan bahkan melunasi semua utang yang entah kapan bisa ia lunasi sendiri.

Kevin manggut-manggut. "Sebanding dengan semua yang akan saya lakukan pada kamu," ucapnya.

Jasmine benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Apakah pria ini benar-benar sudah gila? Utang ayahnya hampir satu miliar dan Kevin bersedia melunasinya hanya dengan menikah?

"Tapi, Pak..."

Kevin menganggukkan kepalanya sekilas, memotong ucapan Jasmine. "Saya paham. Sebenarnya saya juga tidak ingin membuat kamu kena serangan jantung tiba-tiba."

Jasmine semakin tak mengerti dengan ucapan yang membuat kepalanya pusing. 'Maksudnya apa coba. Ini orang kenapa sih? Otaknya geser kali ya?' Jasmine berucap dalam hati.

"Jasmine?"

"I-iya, Pak?" ucapnya terkejut.

"Kamu ... ingin utang ayah kamu lunas, kan?" tanya Kevin kembali.

Jasmine mengangguk pelan. Tentu saja dia ingin utang ayahnya lunas. Sebab itulah dia ke sana-sini untuk mencari pekerjaan.

"Tentu saja, Pak. Saya mencari kerja karena ingin melunasi utang ayah saya. Tapi tentu bukan dengan cara menjual diri," ucap Jasmine sambil menekankan ujung kalimatnya.

Kevin agak terkejut mendengar ucapan Jasmine. Memang benar, secara tidak langsung dia membeli gadis ini, tapi toh tidak ada yang dirugikan dari penawaran ini bukan?

"Dengar, Jasmine. Saya tahu situasi kamu sedang sulit. Penawaran saya justru akan sangat membantu kamu, bukankah begitu?"

Jasmine tidak menjawab.

"Saya paham kalau kamu terkejut, dan mungkin juga sedang dilema. Tapi kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Kamu hanya perlu menikah dengan saya, dan semua utang ayah kamu akan saya lunasi. Adil, kan?"

Penuturan Kevin mau tidak mau membuat Jasmine kembali berpikir.

"Tapi... kenapa harus saya?"

Kevin menghela napas lagi. Kesabarannya benar-benar mulai menipis dan gadis di hadapannya ini masih saja bertele-tele.

"Tidak harus kamu. Hanya saja, saya mulai lelah mencari calon istri!" ujar Kevin dengan ketus. "Jadi bagaimana? Anggap saja saya menolong kamu, dan kamu menolong saya."

Dari sekian banyak kandidat calon istri yang dicari oleh asistennya, Kevin merasa Jasmine adalah kandidat yang paling memungkinkan untuk menerima tawarannya.

Setelah ia selidiki, Jasmine punya latar belakang yang cukup baik. Dia tidak pernah bermasalah. Ya, minus utang ayahnya. Utang itu juga sebenarnya karena ayahnya jadi korban penipuan.

Dan yang paling penting, Jasmine tidak terlibat hubungan dengan siapa-siapa saat ini.

Kevin kemudian menjelaskan bagaimana dia mengetahui semua tentang Jasmine. Dia mengaku telah menyeledikinya sebelum mereka bertemu hari ini.

Hal itu tentu saja membuat Jasmine merasa tidak nyaman dan kalau bisa ia ingin menuntut Kevin karena sudah melanggar privasinya. Tapi di mana lagi dia bisa mendapatkan satu miliar dengan mudah?

"Saya ... boleh pikir-pikir dulu nggak, Pak?" tanya Jasmine setelah terdiam cukup lama. Tawaran Kevin memang terdengar menggiurkan, tapi Jasmine tidak mau gegabah. Bisa saja lelaki itu punya maksud jahat.

Kevin berdecak kesal. "Saya tidak suka menunggu. Kalau kamu setuju, kita ke rumah kamu sekarang juga. Kalau tidak, silakan keluar dari ruangan ini!"

Jasmine menelan saliva. Dia tahu ini sangat konyol. Tapi satu miliar adalah angka yang jauh di luar jangkauannya. Menikah dengan pria tampan nan dingin ini tentu tidak akan sesulit mencari uang satu miliar, kan?

"Ta-tapi bagaimana saya tahu kalau bapak tidak menipu saya? Bagaimanapun juga kita tidak saling mengenal," kata gadis itu takut-takut. Dia bahkan tidak berani menatap Kevin.

Kevin menghela napas kasar, kesabarannya tinggal seujung kuku. Dia mengambil cek di laci mejanya, lalu menulis nominal yang dibutuhkan Jasmine. Ia menyerahkan cek yang sudah ia tanda tangani pada gadis itu.

"Cek satu miliar ini jadi milik kamu. Anggap saja saya membeli kamu untuk menjadi istri saya. Selamanya. Seumur hidup!" ucapnya penuh penekanan.

Jasmine semakin tegang mendengar ucapan Kevin. Bukan hanya menikah sementara, tapi seumur hidup? Dia pasti sedang bercanda!

Bab 2

"Baiklah kalau begitu. Saya terima tawaran itu," ucapnya sembari mengambil cek di depannya.

Kevin mengangguk pelan. "Sore ini juga, kita ke rumah orang tua kamu. Tunggu saya di loby. Kita berangkat sama-sama."

Jasmine menganggukkan kepalanya. "Baik, Pak."

Kevin menatap dengan lekat wajah ayu perempuan itu kemudian menghela napasnya dengan pelan.

"Jika keberatan, tidak perlu diterima. Silakan keluar dari ruangan saya, dan jangan kembali ke sini lagi!"

Jasmine segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak kok, Pak. Saya tidak keberatan. Malahan saya ingin mengucapkan terima kasih sama Bapak.

"Laki-laki tampan dan kaya seperti Bapak, siapa yang mau menolaknya. Hanya orang gila yang menolaknya," ucapnya kemudian meringis pelan sambil menggaruk rambut yang tak gatal itu.

Ucapan Jasmine nyatanya berbanding terbalik dengan perasaannya kini. Tapi, ia sudah menyetujui permintaan Kevin, juga tidak ingin keluar dari kantor tersebut.

Mengingat betapa susahnya mencari pekerjaan di Jakarta, membuat Jasmine harus menerima lamaran dadakan itu.

"Semoga saya bisa menjadi istri yang baik untuk Bapak," ucap Jasmine tulus.

Kevin hanya mengangguk. Tak ada lagi yang dia ucapkan karena memang dia adalah laki-laki yang minim bicara. Semua keceriaan dalam dirinya hilang setelah istri yang dulu ia cintai mengkhianatinya.

**

Di rumah sederhana milik orang tua Jasmine. Kevin dan Andrian duduk di ruang tengah bersama kedua orang tua Jasmine yang sudah diberi tahu oleh Jasmine jika dirinya akan menikah dengan Kevin.

"Apa benar Pak Kevin mau melamar anak saya, Jasmine?" tanya Dedi-ayah Jasmine

Kevin mengangguk. "Sebelumnya saya minta maaf, karena mengajak Jasmine menikah secara mendadak. Karena orang tua saya terus mendesak saya agar segera menikahi Jasmine. Kebetulan, kami memang sudah menjalin hubungan hampir enam bulan lamanya."

Kevin berbohong agar orang tua Jasmine tidak curiga padanya. Juga, ia tak ingin orang tua Jasmine tahu tentang utang yang akan dilunasi olehnya. Karena akan memperlambat proses pernikahan mereka.

Sementara Jasmine hanya memainkan jarinya. Tidak mau berkomentar karena rencana Kevin itu sama sekali tidak pernah ia tahu. Hanya dirinya yang tahu dan Jasmine cukup mengikuti apa mau calon suaminya itu.

Dedi manggut-manggut. "Kalau begitu, kapan rencananya? Mungkin, sebaiknya orang tua Pak Kevin bisa dibawa ke sini. Agar kita bisa merundingkan pernikahan ini."

"Saya akan membawa orang tua saya, setelah Bapak dan Ibu menerima lamaran saya. Karena Bapak dan Ibu sudah menerimanya, besok pagi saya akan kembali ke sini melamar Jasmine bersama orang tua saya.

"Perlu Bapak dan Ibu ketahui. Saya seorang duda beranak satu. Usia saya sudah kepala tiga dan terpaut cukup jauh dengan Jasmine. Dia sudah tahu status saya. Saya hanya memberi tahu Ibu dan Bapak saja."

Dedi mengulas senyum. "Status tidak penting bagi saya, Pak Kevin. Yang terpenting adalah kebahagiaan anak saya."

Kevin terdiam sejenak. Kebahagiaan seperti apa yang akan Kevin berikan pada Jasmine. Sementara pria itu hanya menginginkan status dari perempuan itu-status jika dirinya bukan lagi seorang duda.

Lalu, pria itu mengembuskan napas kasar. "Tentu saja. Hanya akan kebahagiaan yang saya berikan untuk Jasmine karena memang fungsi dari pernikahan adalah kebahagiaan dari kedua pasangan," ucapnya dengan asal. Padahal, dia belum tahu bisa atau tidak, memberikan kebahagiaan untuk Jasmine.

"Baiklah kalau begitu. Kami menerima lamaran Pak Kevin. Karena usia Jasmine juga sudah matang. Sudah waktunya membina rumah tangga." Dedi menerima lamaran Kevin.

Andrian yang mendengarnya ikut bahagia. Karena akhirnya bos dinginnya itu memiliki istri walau harus dengan cara terpaksa menikah dengan perempuan yang sedang butuh banyak uang itu.

"Terima kasih. Kalau begitu, saya pamit pulang. Besok, jam sepuluh saya ke sini lagi. Membawa kedua orang tua saya." Kevin beranjak dari duduknya. Keluar dari rumah tersebut. Diikuti oleh Andrian di belakang.

"Andrian?" panggil Kevin setelah mereka masuk ke dalam mobil.

"Ya. Kenapa, Pak?"

"Saya akan menikahi gadis itu dua minggu yang akan datang. Siapkan acara yang paling meriah. Undang semua staff kantor, para pengusaha dan yang lainnya. Biarkan semua orang tahu, jika saya sudah menikah. Bila perlu, Desi juga tahu."

Andrian mengangguk mantap. Karena itu yang dia inginkan. "Baik, Pak. Saya akan menyiapkan semuanya dengan matang. Hotel mana yang akan Anda pakai untuk resepsi nanti?"

"Terserah!"

"Baik, Pak." Andrian mengulas senyum lebar. Yang akan menikah Kevin dan dia yang sangat bahagia. Walaupun sebenarnya Kevin tidak pernah berniat untuk menikah.

Tiba di rumah. Andrian memarkirkan mobilnya dengan sempurna di garasi mobil. Kemudian kedua orang itu keluar dari mobil tersebut. Mengayunkan langkahnya menuju rumah.

Tiba-tiba, langkahnya berhenti kala melihat Desi dan anaknya tengah berdiri di ambang pintu masuk. Kemudian menghela napasnya dengan pelan. Kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Arshi-sang anak.

"Papa!" seru Arshi menghampiri sang papa. Lalu memeluknya dengan sangat erat. "Arshi kangen Papa."

Kevin mengusapi punggung anaknya itu. "Papa juga kangen sama Arshi. Baru pulang les ya, Sayang?"

Arshi melepaskan pelukan itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Papa. Mama ajak ke sini. Pengen ketemu sama Papa," jawabnya jujur.

Di belakang sana, Andrian memutar bola matanya dengan malas. 'Paling mau minta duit lagi. Emangnya enak ... punya suami pengangguran!' ucapnya dalam hati. Karena suami baru Desi tidak sekaya Kevin.

Perempuan itu hanya kesepian lantaran Kevin yang lebih banyak di luar karena banyaknya pertemuan dengan klien-klien. Kemudian setan masuk, merusak pikiran Desi. Akhirnya, perempuan itu mencari kesenangan dengan selingkuh di belakang Kevin.

"Ada apa?" tanya Kevin datar.

"Kamu belum transfer keperluan Arshi, Mas. Lupa?"

Kevin lantas menoleh ke arah Andrian. "Baru berapa hari ditransfer?" tanya Kevin kepada asissten pribadinya itu.

"Satu minggu yang lalu. Lima puluh juta," kata Andrian memberi tahu.

"Dan sudah habis lagi? Harus berapa banyak, uang yang aku berikan untuk Arshi? Harta yang aku kasih ke kamu, sudah habis juga?" Kevin tampak kesal pada mantan istrinya itu. Tidak bisa mengatur keuangan, alias boros.

"Itu untuk tabungan Arshi kelak, Mas. Aku simpan dan tidak pernah aku pakai," ucapnya bohong. Padahal, memang sudah habis untuk memenuhi kebutuhannya.

Kevin tersenyum miris mendengarnya. "Masa depan Arshi sudah aku siapkan. Kamu jangan takut. Setelah aku tua nanti, Arshi yang akan mengelola perusahaanku. Kamu tidak perlu nabung apa pun untuk anakku. Cukup rawat dia dengan benar."

Desi terhenyak. Tak bisa berkata apa-apa lagi. "Ya sudah kalau begitu. Aku akan memakainya."

Kevin mengangguk pelan. "Silakan pulang. Arshi menginap di rumahku malam ini. Aku mau membawanya besok, bertemu dengan calon mama barunya."

Desi membolakan matanya karena terkejut mendengar ucapan Kevin. "Mama baru? Ka-kamu mau menikah, Mas?" tanyanya seakan tak percaya. 

Kevin mengangguk kembali. "Ya. Dua minggu lagi aku akan menikah. Jangan lupa datang ke acara pernikahanku."

Bab 3

Hingga tiba waktunya di mana Jasmine dan Kevin menikah. Di hotel mewah dengan dekorasi pernikahan yang luar biasa megahnya. Mengundang ribuan tamu baik dari kalangan menengah sampai kalangan atas.

Semua diundang tanpa terkecuali. Jangan lupakan Desi dan suami barunya. Karena memang ia ingin memberi tahu jika dirinya akan menikah dengan seorang gadis yang sudah dia beli dengan melunasi utang orang tuanya.

Tak ada satu pun yang tahu tentang kebenaran itu. Sebisa mungkin, Kevin akan menyembunyikannya. Sebab semua orang tahu jika dia dan Jasmine memang memiliki status hubungan sampai akhirnya menikah.

Kini, waktu sudah menunjuk angka sembilan pagi. Waktu akad nikah akan segera dimulai. Calon kedua mempelai juga sudah ada di tempat dan siap melaksanakan ijab kabu di jam yang sudah ditentukan.

"Saya terima nikah dan kawinnya, Jasmine Mariana binti Dedi Kurnia. Dengan seperangkat sholat dan mas kawin dibayar tunai!"

"Bagaimana saksi, sah?"

"Sah!" ucap kedua saksi tersebut.

Jasmine sudah resmi menjadi istri Kevin. Begitu acara selesai, Kevin memasangkan cincin kawin itu di jari manis Jasmine. Pun dengan Jasmine. Memasangkan cincin kawin pada jari manis Kevin.

Lalu, perempuan itu mencium tangan Kevin yang dibalas kecupan di kening Jasmine. Sempat terdiam bagai patung, saat bibir itu menyentuh keningnya. Sama sekali tak pernah ada dalam daftar yang ditulis oleh Kevin.

"Hanya formalitas," kata Kevin pelan.

Jasmine mengangguk. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Menjadi istri sungguhan Kevin membuat Jasmine harus bersikap profesional. Mematuhi perintah sang suami walaupun tak ada cinta di antara mereka.

Menjelang malam hari. Acara resepsi yang diselenggarakan sampai malam itu masih ramai tamu undangan yang hadir. Pun dengan Desi dan Gemma-suami baru Desi, baru tiba di sana.

Hatinya meletup-letup dari pertama dapat kabar Kevin akan menikah hingga kini. Membuat hatinya terbakar api cemburu. Sebab Jasmine yang masih gadis, cantik dan sudah pasti penurut.

'Aku akan membuat kamu tidak betah jadi istrinya Mas Kevin. Sampai kapan pun dia tidak boleh menikah lagi!' ucapnya dalam hati. Dia yang berulah, dia pula yang tak terima semuanya.

Memiliki rencana yang jahat untuk rumah tangga Kevin, mantan suaminya itu. Lalu, kakinya melangkah dengan malas menuju panggung pelamin bersama suami barunya.

"Mama!" teriak Arshi ketika sang mama. Anak polos itu menghampiri Desi kemudian memeluk kaki mamanya itu. "Ma. Kata Papa, itu mama baru Arshi," ucapnya polos.

Desi tersenyum miring mendengarnya. 'Nggak akan aku biarkan kamu memiliki mama baru, Arshi. Mama kamu hanya satu. Hanya Mama seorang!' Perempuan itu terlalu egois. Tidak terima Arshi memiliki dua mama.

"Iya, Sayang. Mama ke Papa dulu, yaa." Desi menggenggam tangan Arshi, melanjutkan langkahnya menuju Kevin dan Jasmine yang sudah berdiri menyambutnya.

Mata yang menampakkan iri dan dengki itu sangat tampak jelas. Sehingga membuat Jasmine menelan salivanya kala melihat Desi yang menurutnya tak suka dengannya.

'Kayaknya galak banget ini, istrinya Pak Kevin,' Baru melihat untuk pertama kali saja, sudah membuat Jasmine cemas dibuatnya. Tapi, ia harus terlihat bahagia di depan mantan istri suaminya itu.

Jasmine memberikan sebuah senyum yang tulus kepada Desi. Namun, senyum itu dibalas dengan tatapan tajam yang siap membombardir dirinya. Membuat Jasmine semakin mengeratkan pegangan tangannya di lengan Kevin.

Terasa oleh pria itu. Merasa jika istrinya tengah merasa ketakutan akan kehadiran Desi. Tapi, karena Kevin yang ingin terlihat mesra dengan istri barunya itu, lantas merangkul pinggang Jasmine.

Perempuan itu terhenyak sesaat lalu menoleh dengan pelan ke arah Kevin.

"Jangan menampakkan ketakutan seperti itu. Dia tidak akan memakanmu. Bersikaplah seolah kita sedang bahagia," bisik Kevin tepat di telinga Jasmine.

Perempuan itu menurut. "Ba-baik, Pak!"

Lalu, tangan Desi terulur memberi selamat kepada Kevin dan Jasmine. "Selamat ... atas pernikahannya, Mas. Semoga bahagia selalu," ucapnya pelan. Seolah malas memberi selamat untuk pernikahan itu.

Kevin mengulum senyum dan menganggukkan kepalanya. "Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang," ucapnya tanpa melepaskan tangannya di pinggang Jasmine.

Desi tersenyum pasi. Kemudian, menjulurkan tangannya pada Jasmine. Sambil berbisik di telinga perempuan itu.

"Jangan pernah memberikan keturunan pada Mas Kevin. Anak dia cukup Arshi saja. Seandainya kamu berani memberikan dia keturunan, jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang!" ancamnya kemudian.

Jasmine terhenyak. Tubuhnya seketika menjadi kaku. Ingin rasanya bertanya kenapa dia melarang memberikan keturunan untuk Kevin. Tapi, niat itu ia urungkan.

"Ngomong apa dia?" tanya Kevin datar. Bertanya setelah Desi dan Gemma turun dan langsung pergi dari pesta itu.

Jasmine menggeleng cepat. 'Karena itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin aku bisa hamil. Pak Kevin hanya ingin aku jadi istrinya. Bukan untuk melayaninya.' Jasmine sangat yakin, jika Kevin tidak akan meminta haknya.

Sebab, pernikahan itu hanya sebagai kepura-puraan bahwa Kevin sudah melupakan Desi. Sudah membuka hatinya untuk menyambut perempuan lain dan mengisi hatinya. Setelah dua tahun lamanya menutup diri dengan sikapnya yang dingin itu.

"Jangan pernah menyembunyikan apa pun dari saya. Sekarang kamu sudah menjadi istri saya," kata Kevin mengingatkan Jasmine mengenai statusnya kini.

Jasmine mengangguk. "Iya, Pak. Saya tidak akan menyembunyikan apa pun dari Bapak. Apa pun akan saya tanyakan atau beri tahu Pak Kevin."

Pria itu tak menjawab. Jasmine sangat menurut sehingga sangat mudah baginya untuk mengurus istri barunya itu. Tidak akan membangkang apalagi selingkuh. Seperti yang pernah Desi lakukan padanya.

Setelah acara selesai. Mereka memutuskan untuk langsung pulang. Karena waktu sudah menunjuk sepuluh malam. Arshi sudah terlelap dalam tidurnya di pangkuan Jasmine yang kini tengah duduk di belakang bersama Kevin.

Sementara yang mengendarai mobil itu adalah Andrian. Pria itu terheran-heran sebab bosnya itu tidak menginap saja di hotel. Malah memilih untuk pulang ke rumah. Begitu pula dengan Arshi. Malam pertama mereka harus ditemani oleh sang anak.

'Aah ... aku lupa. Pak Kevin menikahi Jasmine hanya karena desakan orang tuanya dan mantan istrinya yang terus mengganggunya. Mana mungkin akan melakukan malam pertama,' ucapnya dalam hati.

Tiba di rumah. Kevin lebih dulu keluar dari mobilnya. Kemudian menggendong Arshi yang sudah sangat lelap di gendongan Jasmine.

"Terima kasih, Pak Andrian," ucap Jasmine kemudian turun dari mobil tersebut.

"Selamat bermalam pertama, Jasmine," kata Andrian. Seolah menggoda perempuan itu. "Pak Kevin sudah menduda selama dua tahun lamanya. Tidak pernah jajan di luar. Bisa saja beliau akan menggila di malam pertama ini."

Entah apa yang dilakukan Andrian. Sedang menakut-nakuti Jasmine, atau memang memberi tahu jika Kevin sudah menantikan momen ini.

Jasmine bergeming. Turun dari mobil dengan kaki gemetar, membayangkan Kevin yang akan menggagahinya malam ini juga. Senyumnya terbit dengan tipis karena ketakutan tengah merajangnya.

'Gimana ini. Aku mau pura-pura tidur aja, deh. Gak sanggup bayanginnya,' ucapnya dalam hati sembari melangkahkan kakinya dengan gemetar.

Setibanya di dalam rumah. Jasmine bingung sendiri di mana ia harus tidur. Kamar di dalam rumah itu sangat banyak. Sehingga ia tak tahu, di mana ia akan tidur.

"Di mana Pak Kevin. Aku tidur di mana?" gumamnya kemudian duduk di sofa ruang tengah.

Suara langkah kaki menyusuri anak tangga membuat Jasmine kembali bangun dari duduknya. Kemudian menghampiri sang suami yang sedang berdiri di anak tangga.

"Kenapa masih di luar?" tanya Kevin datar.

"Eeuuh ... anu, Pak. Kamar saya di mana, yaa?" tanyanya dengan hati-hati.

"Kamar saya? Kamu mau tidur sendiri?"

Kening Jasmine mengkerut kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak. Saya mau tidur. Kamar saya di mana, yaa?"

Kevin menghela napas kasar. Kemudian menarik tangan Jasmine, membawanya ke dalam kamar yang ada di lantai bawah. "Ini kamar kita."

Jasmine menganga. Kemudian menoleh ke arah Kevin. "Kita?"

Kevin mengangguk. "Ya. Kita akan tidur bersama. Dalam satu kamar, satu selimut dan satu tempat tidur! Siapkan diri kamu. Saya mandi dulu."

Glek!

'Pak Kevin mau ngapain?' ucapnya dalam hati.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED