“Ingat, ya! Kau jangan kabur di pernikahanmu besok!” David memperingati Nico ketika Nico mencoba mengenakan baju pengantinnya untuk besok.
“Iya Iya…” sahut Nico yang sudah malas berdebat, ia sudah cukup mengerti untuk mengalah. Ayahnya, David, adalah komisaris utama di perusahan keluarga mereka tentunya mudah baginya melenyapkan Nico, yang notabene putranya sendiri, untuk melepaskan jabatan CEO. “Lalu, di mana calon pengantinku?” tanyanya kemudian.
“Siapa suruh kau telat!” kata David sinis, “tadi pagi dia datang bersama kakaknya mengambil gaunnya.”
“Kak Nico… Kak Raihan benar-benar cantik!” seru Hasya tiba-tiba.
“Benarkah?” raut wajah Nico semakin penasaran. “Tadi pagi dia datang? Seperti apa dia?” tanya Nico tak sabaran ingin mendengar lebih banyak mengenai calon istrinya.
“Dia cantik, ayu, cute…”
“Sudah, sudah!” potong David, “besok juga kamu ketemu dengannya.”
“Iya, tapi setidaknya aku tahu seperti apa calon istriku!” balas Nico tak kalah sengitnya, ekspresi wajahnya yang terlihat galak namun tampan jadi terlihat semakin galak.
“Um… tapi tadi Kak Raihan terlihat buru-buru sekali, ya…” kata Raisya, “dia cuma sebentar saja, mencoba gaun trus dia pergi…”
Nico menoleh ke arah Raisya. “Oh, ya?”
“Hm… mungkin masih banyak yang harus dia urus tapi jangan khawatir, besok pernikahan kalian sudah pasti dilaksanakan!” lagi-lagi David kembali memperingatkan, sepertinya ia tak ada bosannya untuk mengingatkan Nico akan pernikahannya.
Nico memandang dirinya melalui pantulan cermin. Merapikan kerah jasnya. Ia terlihat tampan dengan jas pernikahannya yang berwarna putih namun ekspresinya terlihat tak ramah. Nico memang memiliki wajah galak yang tak ramah namun ia tampan dengan bentuk rahang yang tegas dengan sedikit roman kebarat-baratan. Dari ekspresinya kini ia terlihat jelas bahwa ia berat menjalani pernikahannya besok tapi sebenarnya ia juga penasaran akan wujud adik Barack Adhinta, Raihan.
Setidaknya dia memiliki wajah yang cantik, menurut adiknya. Ya semoga saja, pikir Nico. Setidaknya ia masih memiliki gairah akan wujud gadis cantik walaupun belum ada rasa cinta.
***
Dengan tangan terlipat, Raihan menatap penuh kebencian terhadap lelaki berparas tampan nan lembut yang kini duduk di hadapannya, lelaki yang dahulu mengenalkan indahnya cinta. Lelaki yang selalu menguatkannya ketika ia harus kehilangan saudari satu-satunya dan memilih untuk pisah dari keluarga angkatnya. Masih jelas di ingatannya bagaimana mereka menjalani kehidupan yang keras bersama, kehidupan yang penuh suka duka namun amat manis bagi Raihan. Tapi, semua itu hanyalah kemunafikan semata.
“Ku pikir kau tidak akan lagi ke sini…” kata pria itu, menatap lembut ke arah Raihan. Wajah tampannya terlihat lebih pucat dari terakhir kali Raihan melihatnya sebelumnya. Entah karena ia banyak pikiran karena tiba-tiba saja Raihan marah dan menuduhnya telah bermain dengan sahabat mereka, sahabat yang begitu dekat dengan Raihan.
“Ya, tentu saja aku tidak akan ke sini lagi,” sahut Raihan dingin, “maaf kuralat… maksudku, aku tidak akan ke sini lagi setelah menyerahkan… ini.”
Raihan melempar undangan pernikahannya di meja, tepat di hadapan pria itu.
“Apa ini?” tanya pria itu sembari meraih undangan pernikahan Raihan.
Raihan menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika mendapati tatapan kebingungan lelaki di hadapannya begitu mengetahui undangan itu adalah milik Raihan.
“Seperti yang kau lihat, Bily, itu adalah undangan pernikahanku dan besok aku akan menikah,” jawab Raihan enteng. Ia seakan puas melihat ekspresi keterkejutan pria bernama Bily, seakan pria itu tak percaya dengan kenyataan bahwa Raihan akan segera menikah.
Pria bernama Bily menatap sendu undangan itu. “Kenapa?”
“Kenapa apanya? Apa salah kalau aku menikah dengan seseorang?”
“Dengan siapa kau akan menikah besok?” tanya Bily sembari meletakkan kembali undangan itu di meja.
“Kau bisa lihat di undangan itu, aku akan menikah dengan putra dari keluarga Kuiper,” jawab Raihan, jujur ia tak tahu nama asli pria yang akan dinikahinya besok.
Kenapa…? Batin Raihan yang memandang wajah sendu Bily yang masih tak bisa percaya akan pernikahan Raihan. Sejujurnya, hati Raihan pun serasa dicengkram oleh tatapan sendu pria itu, pria yang masih ia cintai. Ia tak bisa menafikan bahwa ia pun tak sanggup melihat pria itu sedih karena perasaan sayangnya masih mendominasi. Namun, mengapa ia harus tampak sesedih itu setelah ia melukai hatinya?
“Kau tidak mencintainya…”
Raihan tertawa muak. “Jangan sok tahu!” Raihan berdiri, “terserah kau mau datang atau tidak besok,” lanjutnya sebelum ia membalikkan tubuhnya, membelakangi Bily. “Yang jelas, besok aku sudah menjadi istri orang lain.”
Diam-diam air mata Raihan menetes, ia merasa sakit mengetahui besok ia akan menjadi milik pria lain dan bukan pria yang ia cintai. Ia lalu berlari meninggalkan Bily yang kaku memandang undangan pernikahan Raihan, perasaan pria itu masih sulit mempercayai besok ia benar-benar akan kehilangan Raihan.
***
Akhirnya saat itu tiba juga. Nico dan sekeluarga telah tiba di hotel tempat ia melangsungkan pernikahan, hotel megah berbintang lima. Sebuah karangan bunga besar telah terpasang di depan pintu utama loby hotel itu, dekorasi pernikahan dengan mawar yang serba putih menghiasi hotel itu. Beberapa body guard berjas hitam suruhan Barack Adhinata mengantarkan mereka ke ruang pernikahan yang akan berlangsung. Tradisi pernikahan pun mengikuti tradisi keluarga Adhinata, mempelai pria dan wanita terpisah begitu pun tamu pria dan wanita.
Tidak lama kemudian rombongan keluarga Adhinata memasuki ruang pernikahan, pandangan Nico tertuju pada gadis bergaun pengantin, tidak begitu jelas terlihat wajah gadis itu karena wajahnya tertutup oleh veil yang sedikit menerawan.
"Bentuk tubuhnya sih bagus..." gumam Nico memperhatikan calon istrinya dari kejauhan.
Raihan kini duduk di kursi mempelai wanita. Sesekali Nico menengok ke arah Raihan karena tirai pembatasnya tidak begitu tinggi, ia masih bisa memandang gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Akhirnya, acara ijab kabul selesai dan lagi-lagi Nico harus kecewa karena Raihan diantar kembali ke kamar pengantin. Setidaknya, ia harus melihat istrinya setelah mengucapkan ijab Kabul. Nico tak mengerti tradisi macam apa yang dianut oleh keluarga Adhinata.
***
Yey, Kak Nico!” seru Raisya saat mendatangi Nico ketika acara resepsi dimulai, “Selamat ya Kak Nico, semoga Kakak bahagia selalu dan pernikahannya langgeng.”
“Terima kasih, Raisya,” ucapnya Nico.
“Akhirnya kau sudah menikah…” David memeluk Nico dengan penuh haru.
“Terima kasih, Ayah…” ucap Nico terpaksa. Ia sebenarnya masih kesal karena pernikahannya berdasarkan keputusan ayahnya secara sepihak tapi bagaimana pun ia mencoba menghormati dan berusaha menerima pernikahannya.
“Nicolas Kuiper…”
Nico dan sekeluarga menoleh ke arah seorang pria berjas silver memiliki sorot mata yang dingin, siapa lagi kalau bukan Barack Adhinata, sang kepala keluarga bangsawan Adhinata. Pria itu memberi isyarat agar para bodyguard-nya menjauh dari mereka. Para bodyguard itu membungkuk sekali kemudian mereka beranjak menjauh dari tuannya.
“Terima kasih karena kau sudah membuat acara pernikahan putraku sebagus ini,” kata David pada Barack, “ini benar-benar luar biasa.”
Barack hanya menunduk sekali. “Sama-sama… aku berusaha agar kamu tidak kecewa sama sekali.” Tatapan dinginnya kini beralih ke Nico, “aku menyerahkan adikku kepadamu, tolong jaga dia baik-baik!”
“Tentu saja!” jawab Nico mantap, “tanpa kau bilang pun pasti aku menjaganya.”
David yang mendengar jawaban putranya merasa sangat terharu, ia tidak menyangka anaknya akan se-gentleman itu. Nico sendiri pun tak menyangka mengapa kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri. Sedangkan Barack, sejenak ia hanya menatap dingin Nico, seakan ragu akan jawaban Nico namun ia bisa lega setidaknya Nico bisa menerima adiknya sebagai istri dan mau menjaganya.
“Baiklah, aku pegang perkataanmu…” kata Barack bernada intimidasi pada Nico.
Resepsi pernikahan berjalan selayaknya pernikahan yang megah, hanya saja tanpa pengantin wanita. Beberapa teman-teman Nico datang mengucapkan selamat bahkan tak sedikit yang mempertanyakan pernikahan Nico yang sangat tiba-tiba.
“Hai, Nico!” panggil Jeremy, “akhirnya kau menikah juga, selamat ya!”
“Terima kasih,” ucap Nico.
“Mengejutkan sekali… kenapa pernikahannya mendadak begini? Apakah ada accident?”
“Enak saja!” dengus Nico tak terima, “aku dijodohkan tiba-tiba sama tua bangka itu!”
“Siapa? Ayahmu?” Jeremy ketawa, “pantas saja tiba-tiba sekali… aku kaget kemarin dengar kabar kamu menikah hari ini, aku pikir kamu pasti menghamili anak gadis orang. Oh ya, apa kau mengundang Olive?”
“Tidak,” jawab Nico, “aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya lagi?”
“Oh… begitu…” gumam Jeremy. “Ya, sudah… pokoknya aku mendoakan semoga pernikahanmu dengan Raihan langgeng terus, ya.”
“Terima kasih…”
Akhirnya, acara resepsi pernikahan selesai. Para tamu sudah banyak yang meninggalkan hotel. Dan kini waktunya Nico menuju ke kamar pengantinnya.
“Sudah waktunya…” kata Barack, ia menyerahkan cardlock ke Nico, "nomor kamar kalian 205."
Nico menerima cardlock itu dengan jantung berdebar-debar, dengan pelan ia melangkahkan kakinya menuju lift. Sebenarnya, ini bukan pertama kali ia melewatkan malam bersama wanita namun karena kini ia harus melewatkan malam bersama wanita yang belum ia kenal sebelumnya, rasanya pasti sangat aneh. Nico bingung, bagaimana memulainya nanti? Terdengar David dan beberapa teman Nico yang masih berada di tempat, berteriak menyemangati Nico ketika Nico memasuki lift.
***
Kini Nico berada di depan kamar nomor 205. Nico yang tadinya hendak membuka kamar dengan cardlock, kembali mengurungkan niatnya. Ia bingung, khawatir dan takut! Bagaimana ia memulainya dengan gadis yang tak ia kenali? Bahkan berbicara sekali pun belum pernah. Apa yang harus dia lakukan?
Nico menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ya, itulah cara untuk mengurangi kecemasannya saat ini. Bagaimana pun ia adalah seorang suami sekarang, ia tak boleh takut menghadapi istrinya walau ia tak mengenalinya. Sel-sel otaknya mulai bekerja membaik, tentu saja ia harus mengenal istrinya dulu dengan mengajaknya bercerita. Ya, itu ide yang bagus, pikir Nico.
Dengan jantung berdebar-debar, ia membuka kunci kamar itu lalu memegang kenop pintu dan membukanya. Beberapa lampu kamar menyala saat Nico menaruh cardlock di kotaknya.
“Nico… kau kah itu?”
Itu suara Raihan! Batin Nico menyeru. “Ya!” jawab Nico mantap.
Nico berjalan ke ruang tamu dan ia terkejut mendapati seorang gadis yang mengenakan gaun lingerie ungu tua yang kini duduk di sofa, menatapnya dengan mata bulat yang tajam.
“Kau… Raihan?” tanya Nico, dengan takjub ia memandang istrinya sendiri.
Raihan berdiri, lekukan tubuhnya yang terbalut lingerie terlihat sangat jelas. Kulit mulus bak porselennya terpancar di bawah cahaya lampu remang. “Iya, aku Raihan.”
.
TBC
Sedari tadi Nico hanya bisa terdiam memandang gadis yang kini duduk di hadapannya dengan lingerie yang sangat menggoda. Tidak bisa ia pungkiri, ia begitu terpesona akan wujud gadis yang kini telah menjadi istrinya. Ia memandang lagi dari ujung kepala hingga ke ujung kuku kaki gadis itu, benar benar cantik, itulah yang ada di benak Nico. Ia tak menyangka adik Barack Adhinata secantik itu. Ya, memang Nico pernah bertemu dengannya saat mereka masih kecil dan adik Barack memang sangatlah cantik tapi ini benar-benar di luar ekspektasi Nico.
Kini pandangan Nico fokus ke wajah Raihan, di telusurinya wajah jelita tanpa cacat sedikit pun. Mata, jidat, alis, hidung, terutama bibir seksinya yang merona, Nico bisa membayangkan bagaimana nikmatnya menyantap bibir bawah sintal milik gadis yang duduk di hadapannya saat ini.
Raihan menaikan sebelah alisnya. “Kenapa kau diam saja?” tanyanya, memecah keheningan di ruangan itu dan menyadarkan Nico dari kekagumannya.
“Aku… “ Nico mulai bersuara namun terdengar ragu, “aku hanya tidak menyangka saja istriku seperti ini…”
Kening Raihan mengerut, “seperti ini? Memangnya aku seperti apa?”
“Aku... hanya tidak menyangka kau secantik ini.”
“Cantik? Maksudmu aku cantik?” Raihan tampak kebingungan, baru kali ini ada pria memujinya secara terang-terangan.
“Iya, kau sangat cantik,” ucap Nico jujur.
Setelah mengatakan itu, Nico bisa merasakan wajahnya memerah karena malu. Ia juga tak mengerti mengapa ia bisa sejujur itu tapi Nico harus akui betapa memesonanya Raihan. Gadis itu memang begitu cantik.
“Um… terima kasih…” Raihan yang tak kalah tersipunya memalingkan pandangannya ke arah lain dan itu membuatnya semakin terlihat manis.
Suasana kembali diam beberapa menit. Setelah memuji Raihan, Nico merasakan atmosfer di ruangan itu benar-benar canggung. Ia bingung bagaimana memulai malam pertamanya dengan Raihan. Sebenarnya, ini bukanlah pengalaman pertamanya menghabiskan malam bersama dengan wanita tapi Nico tidak tahu bagaimana harus bersikap karena ia bukanlah tipe pria yang agresif pada wanita.
“Maaf… aku… hanya tidak tau saja bagaimana memulai.”
Raihan yang mendengar pernyataan Nico barusan tertegun lalu beberapa detik kemudian ia malah tertawa geli. “Kenapa kau harus bingung?” tanyanya, “sekarang aku adalah istrimu, kau bisa bebas melakukan apa saja pada diriku,” lanjutnya dengan tatapan tajamnya yang menantang.
“Kau bilang… aku bisa bebas melakukan apa saja pada dirimu? Apa kau mengijinkannya?”
“Ya, tentu saja,” jawab Raihan, “kita sekarang adalah suami istri, kenapa aku tidak boleh mengijinkanmu?”
Nico yang seakan mendapat lampu hijau dari Raihan tiba-tiba saja maju dan memeluk Raihan seperti hewan liar yang menyergap mangsanya. Raihan yang terkejut seperti tidak bisa berbuat apa-apa, tubuh langsingnya terasa ringkih di pelukan tubuh Nico yang cukup atletis.
“Tu-tunggu…!” Raihan menahan dada Nico, mencoba menghentikan Nico yang tampak tak sabaran.
“Kenapa?” tanya Nico menatap bingung ke mata Raihan, “bukannya aku bebas melakukan apa saja?”
“Iya, tapi…” sahut Raihan, ekspresi wajahnya sedikit ketakutan “bisakah kita melakukannya pelan-pelan?”
“Seperti apa?”
“Mungkin… kita bisa memulainya… dengan ciuman…”
Nico menatap dalam mata tajam indah milik Raihan. Seakan membaca maksud istrinya, ia mulai sedikit melonggarkan pelukannya dan pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke bibir Raihan hingga kedua bibir itu menempel satu sama lain. Di awali oleh ciuman lembut lalu berubah menjadi lumatan dan isapan. Kedua tangan Raihan melingkar ke leher Nico saat ciuman mereka semakin dalam. Ciuman Nico kini turun ke dagu lalu ke leher.
“…Nic… hhhh…”
Raihan melenguh seakan terbuai oleh ciuman Nico. Wajahnya mendongak saat Nico begitu menikmati leher milik Raihan. Cium, jilat, isap, Raihan hanya bisa mendesah dan membiarkan Nico bermain di leher sensitifnya. Raihan pun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, rasanya darahnya semakin berdesir saat bibir Nico mengabsen tiap inci kulitnya, belum tangan Nico yang mulai bergerilya meraba pahanya. Sejujurnya, ini pertama kalinya Raihan merasakan sentuhan intim dari seorang pria dan juga ia tak bisa menafikan bahwa ia menikmatinya walau ia sebenarnya cukup malu mengakuinya.
Tok tok tok
Tok tok tok
“Nico!” Raihan meminta Nico menghentikan aksinya.
“Ya? Kenapa?”
“Kau tidak mendengar suara ketukan pintu?”
Mereka berdua terdiam saling berpandangan lalu terdengar suara ketukan pintu lagi. Nico melepaskan Raihan dan beranjak untuk melihat siapa gerangan yang mengganggunya saat ia baru saja memulai malam pertamanya melalui lubang intip pintu.
“Siapa?” tanya Raihan.
“Kakakmu…”
Nico segera membuka pintu dan sosok pria berwajah dingin itu berdiri persis di depan pintu bersama ajudannya yang terus setia berdiri di belakang pria itu..
“Kak Barack…”
Barack memberikan isyarat pada Raihan. Raihan yang langsung mengerti lalu masuk ke dalam kamar.
“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Barack.
Nico mengambil cardlock sebelum menutup pintu kamarnya. “Apa?” tanyanya, jujur ia merasa sangat terganggu oleh kedatangan Barack. Padahal dengan susah payah dia berhasil memulai untuk lebih intim dengan istrinya bahkan ia kini memulai untuk melakukan malam pertamanya.
“Maaf kalau aku mengganggu,” kata Barack tanpa merasa salah sama sekali, “aku hanya mau memberitahumu, bisakan kau membiarkan Raihan istirahat malam ini?”
Nico mengernyit tak paham. “Maksudmu?”
“Sebelum pernikahan kalian berlangsung, Raihan baru saja pulang dari perjalanan jauh… dia pasti lelah,” terang Barack, “untuk malam ini saja…”
Nico mengerti maksud Barrack. “Baiklah,” ucap Nico terpaksa, “Ada lagi?”
“Tidak ada,” jawab Barack, “Baiklah, hanya itu yang mau aku sampaikan…”
Barack berbalik dan akhirnya pergi meninggalkan Nico.
***
Kini Nico duduk di bar. Menikmati alunan musik jazz yang lembut dan segelas minuman. Jas putih yang ia kenakan di pernikahannya masih melekat di tubuhnya. Jam menunjukkan hampir pukul dua subuh. Ya, di malam pengantinnya ia menghabiskan waktu di bar itu. Bukan maksudnya ia meninggalkan Raihan sendiri di kamar hotel namun ia tak akan bisa menahan hasratnya untuk bercinta bila ia kembali ke kamar mereka. Raihan begitu menggoda hasrat kelaki-lakiannya, belum lagi lingerie yang dikenakannya mampu membuat milik Nico terasa sesak dibalik celananya.
“Nico, apa yang kau lakukan di sini?” tiba-tiba terdengar suara Jeremy. Jeremy yang juga menginap di hotel yang sama dengan Nico langsung menghampiri Nico. Ia heran melihat kehadiran sahabatnya di bar itu, bukannya malah menghabiskan malam pengantin bersama istrinya.
“Seperti yang kau lihat… minum dan menikmati musik…”
“Bukan itu maksudku,” sanggah Jeremy yang masih menatap bingung ke arah sahabatnya, “maksudku, ini adalah malam pertamamu bersama istrimu. Kenapa kau malah meninggalkannya dan minum di sini?”
“Yeah, karena aku tidak akan bisa menahan untuk tidak bercinta dengannya.”
“What?” Jeremy terperangah sambil tertawa mendengar jawaban Nico yang mulai kacau, entah karena mulai mabuk atau mengantuk karena waktu sudah mendekati subuh. “Bagaimana istrimu, apa dia cantik?”
“Ya, dia sangat cantik.”
“Benarkah?”
“Ya, dia gadis terindah yang pernah kutemui.”
“Wow, sepertinya kau sudah melupakan Olive rupanya.”
“Ck…” Nico mendecak jengkel.
Tiba-tiba Nico teringat Olive tapi sebenarnya ia cukup heran, begitu terpesonanya ia akan kecantikan Raihan hingga ia melupakan Olive. Sejenak ia berpikir, apakah dengan menikahi Raihan adalah jalan ia untuk bisa melupakan Olive dan itu pertanda ia memang tak akan berjodoh dengan Olive? Tapi, Nico tak bisa membohongi perasaannya, hatinya masih milik Olive saat ini.
Aish, Nico menggerutu dalam hati. Andaikan saja Jeremy tidak menyebut nama Olive, ia tak akan mengingat gadis itu. Sahabatnya itu benar-benar tidak bisa memahami dirinya. Mengapa Jeremy sering membahas Olive apalagi malam ini adalah malam pengantin untuk Nico.
Nico meneguk minumannya, musik jazz yang slow semakin mengoyak perasaannya. Tatapannya semakin sendu tiap kali mengingat kebersamaannya dengan kekasih hatinya. Ia merenung, apakah memang sampai di sini jodoh dia dan Olive? Nico menggeleng, ia menyadari bahwa ia sudah kehilangan Olive ketika gadis itu memutuskan untuk memilih pria lain untuk bertunangan dengannya.
“Aku sudah melupakan Olive,” kata Nico berusaha membohongi Jeremy, “sudah lama aku tidak memikirkannya.”
Jeremy memicingkan mata memandang Nico, seakan tak percaya akan ucapan Nico namun akhirnya ia mencoba untuk menghargai Nico. “Yah, baguslah kalau begitu,” kata Jeremy, “akhirnya kalian menemukan jodoh kalian dan itu bagus untuk kalian. Oh iya, jangan lupa nanti kenalkan aku dengan istrimu, aku penasaran ingin bertemu dengannya.”
“Ya, tentu saja…” kata Nico. Ia meneguk minumannya dengan sekali tegukan hingga habis lalu ia turun dari kursi dan berjalan meninggalkan Bar.
“Kau mau kemana?”
“Kembali ke kamar…” jawab Nico tanpa menoleh ke arah Jeremy, “aku sudah mau tidur…”
“Jiah… belum juga aku pesan minuman, sudah cabut aja dia…” gerutu Jeremy, lalu ia mengangkat tangannya ke arah pelayan dan memesan segelas minuman.
***
Ceklek…
Lampu ruang tamu langsung menyala begitu Nico menaruh cardlock di tempatnya. Ruangan itu sepi, tidak ada suara Raihan sama sekali. Nico melepas dasi dan jasnya lalu melemparnya ke sofa, ia juga melepas beberapa kancing kemejanya lalu ikat pinggangnya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Nico lalu masuk ke kamar, di sana hanya lampu tidur yang menyala dan Raihan rupanya sudah tertidur di ranjang dengan ujung lingerienya tersingkap ke atas hingga sebagian lekuk tubuh indahnya terlihat jelas di mata Nico. Pelan-pelan Nico mendekati dan memandang istri yang belum sempat ia jamah.
Melalui cahaya remang, Nico memandang wajah cantik Raihan yang kini tertidur lelap, istrinya. Begitu cantik, mulus dan seksi, ia merasa sangat beruntung menikah dengan gadis secantik Raihan. Walau mungkin cinta belum sepenuhnya tumbuh namun Nico yakin bahwa tak sulit untuk mencintai istrinya.
Lama menatap Raihan membuat darahnya mulai berdesir. Tadinya ia ingin membangunkan istrinya dan memintanya untuk melayaninya walaupun sekedar dengan handjob mungkin. Namun, Nico mengenyahkan pikiran kotornya itu jauh-jauh. Nico memperbaiki posisi lingerie Raihan yang tersingkap ke atas, menarik selimut untuk menutupi tubuh Raihan lalu ia berbaring di samping Raihan dan membelakanginya sebagai bentuk usaha ia menahan hasrat bercintanya tiap memandang istri cantiknya.
.
TBC