Lima tahun sudah berlalu ketika Raihan meninggalkan rumah mewah milik keluarga Adhinata dan kini kakinya menginjak kembali rumah yang penuh kenangan itu. Masih teringat sangat jelas pertama kali ia menginjakkan kaki di sana, bersama kakaknya, Maria, ketika Maria mengajak tinggal bersamanya yang telah menikah dengan seorang pria bangsawan, Barack Adhinata. Katanya, mereka akan bebas dari kehidupan yang penuh kesedihan setelah menjadi anggota keluarga bangsawan Adhinata. Namun, lima tahun yang lalu, Maria meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya sejak kecil.
Barack Adhinata, pria berkharisma tinggi yang kini duduk di hadapan Raihan, dia adalah ipar sekaligus kakak yang mengangkatnya sebagai adik ketika menikahi Maria. Namun, semuanya telah usai setelah Maria meninggalkan mereka berdua. Raihan merasa bukan lagi bagian dari keluarga itu. Tanpa Maria, Raihan merasa bukanlah seorang Adhinata.
“Akhirnya kau mau kembali ke rumah ini, Raihan…” ujar Barack memecah keheningan di antara mereka.
Raihan menunduk, terdiam sejenak sambil memikirkan apa yang akan ia katakan. Lututnya mulai gemetar, sejujurnya Raihan sangat menyegani kakak angkatnya itu dan… takut.
“Kau tidak mau mengatakan sesuatu?” tanya Barack.
“Aku…” Raihan menggeleng pelan, “maafkan aku Kak, aku sudah meninggalkan rumah tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun,” jawabnya takut-takut dan penuh penyesalan, “aku… aku bingung aku harus bagaimana… setelah Kak Maria-“
“Aku mengerti,” potong Barack, “kau tidak perlu setakut itu, kau tetap kuanggap adikku dan di sinilah tempat kau kembali.”
Raihan mendongak, menatap mata Barack yang sedang menikmati teh hangatnya. Tidak ada kemarahan di raut wajah pria tampan itu, bahkan tampak seperti tidak terjadi apa-apa.
“Terima kasih, Kak Barack…”
“Aku sudah tahu apa yang sudah menimpamu, aku tahu semuanya. Bahkan kekecewaanmu dengan pria yang ternyata menduakanmu itu, untuk itulah aku mencarimu. Raihan… percayalah aku paling tahu apa yang terbaik untukmu. Untuk itu aku mencarimu dan mengajakmu pulang kembali di sini. Aku sudah mengatur pernikahanmu dan dua hari kemudian kamu akan menjadi mempelai wanita dari keluarga Kuiper.”
Mata Raihan membulat, seakan tidak percaya. “Keluarga Kuiper?” tanyanya keheranan. “Bukannya perjodohan itu untuk Shiena?”
“Ya, kau benar” jawab Barack sambil meletakkan cangkir tehnya di meja. “Tapi kau tau sendiri, Shiena sedang kuliah di Jerman dan mungkin akan melanjutkan magisternya juga di sana, sangat tidak mungkin untuk membawanya pulang dan menyuruhnya menikah.”
“Tapi… aku…”
“Aku tahu apa yang terbaik untukmu, Raihan… dan aku mengenal anak laki-laki keluarga Kuiper yang akan menjadi suamimu nanti, yang jelas dia tidak seburuk laki-laki yang sudah mempermainkanmu.”
Raihan hanya bisa terdiam, menerima semua perintah Barack. Rasanya ia ingin menolak namun ke mana lagi ia akan menggantungkan hidupnya selain kepada keluarga Adhinata? Dia sudah dikecewakan oleh kekasihnya yang telah banyak memberinya janji surga namun yang ia dapat hanyalah kekecewaan dan pengkhianatan. Dan sekarang, hanya Barack yang mau menerimanya kembali.
“Baiklah, Kak Barack…” jawab Raihan akhirnya setelah mempertimbangkannya, sambil tersenyum tipis namun getir, “aku akan menikah dengan laki-laki dari keluarga Kuiper.
Barack menghela napas lega, ternyata tak sulit membujuk adik angkatnya itu untuk menggantikan Shiena. “Percayalah, Raihan… semua ini untuk kebaikanmu juga…”
“Tapi… bolehkah aku… menemuinya untuk yang terakhir kalinya?”
Sejenak Barack mengernyit seperti hendak akan marah. Tak habis pikir bahwa setelah dikecewakan, adiknya masih ingin menemui pria itu. Namun, beberapa detik kemudian ia menghela napas, berusaha mengalah, mungkin ini adalah permintaan terakhir adiknya sebelum ia akan menikah. “Baiklah, Raihan… tapi kau jangan lagi luluh dengannya! Ingatlah bahwa kau akan menikah dengan putra keluarga Kuiper, kau harus menghormati perjodohan ini!”
“Terima kasih… Kak Barack…”
***
Seorang pria blasteran bertubuh tinggi atletis duduk sandar di sofa, mata coklatnya memandang langit-langit kantornya. Lima bulan sudah setelah pertunangan mantan kekasihnya, hatinya masih saja memikirkannya. Kemarin, dia sudah yakin bahwa ia sudah melupakannya namun begitu melihatnya di acara pernikahan sahabatnya kemarin, Jeremy, hatinya kembali terluka dan terus mengingat kenangan mereka. Lalu, apa yang harus ia lakukan agar benar-benar melupakannya?
“Kau selalu saja begini… tidak mau berubah…”
“Kita tidak bisa bersama… kau lebih mementingkan pekerjaanmu… aku tidak bisa begini terus…”
“Aku sudah memutuskan untuk bertunangan dengan pria pilihanku… hubungan kita sudah berakhir…”
“Sudahlah, Nico… kita putus saja…”
“Aaaarrgh!”
Pria bernama Nico itu tampak frustasi, entah sudah keberapa kali ia mengacak-ngacak rambutnya. Semua kalimat kekecewaan Olive, mantan kekasihnya, terus terngiang-ngiang di telinganya. Andaikan saja dia lebih cepat melamar Olive, mungkin sekarang mereka sudah bersanding sebagai suami istri. Ia tahu kesalahan terbesarnya yang lebih mementingkan pekerjaan daripada hubungan asmaranya. Namun, semuanya tinggal penyesalan karena Olive sudah memilih pria lain.
Yang Nico tak habis pikir, bisa-bisanya kekasihnya itu begitu cepat memutuskan dengan pria siapa ia akan bertunangan. Setidaknya mereka harusnya melewati proses pendekatan terlebih dahulu atau berpacaran sebelum bertunangan, bukan begitu memutuskan Nico dengan tiba-tiba memberinya kabar bahwa ia akan bertunangan dengan pria lain.
“Kau masih saja di situ, Nico?”
Pandangan Nico teralihkan dari langit-langit atap ke Jeremy yang tengah berdiri di dekat pintu. “Ho… pengantin baru jam segini kenapa belum pulang?” Nico malah balik bertanya menimpali.
“Sudahlah, aku mengerti apa yang kau pikirkan!” Jeremy berjalan menghampiri Nico lalu duduk di sofa depannya, “aku juga tidak menyangka kalau Olive bakal datang di acaraku kemarin. Sorry, ya…”
“No problem, aku sudah move on, kok.”
Jeremy tertawa. “Kau yakin?”
“Tentu saja. Oh iya, kapan Olive akan menikah?”
“Entahlah… aku tidak pernah mendengar kabar kapan pernikahan dia dengan tunangannya itu.”
Nico lalu mengintip jam tangan yang bertengger di lengannya, sudah hampir malam dan berbicara dengan Jeremy saat ini sebenarnya malah membuat mood-nya semakin buruk, karena yang ia bahas malah mantan kekasih Nico. “Aku duluan ya, Jeremy! Tadi ayahku memanggilku untuk pulang, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan,” kata Nico sambil beranjak lalu meninggalkan Jeremy begitu saja.
***
“Whoaaaa Nicooooo!!”
Begitu sampai di rumah tiba-tiba, Nico dihebohkan oleh aksi ayah dan kedua adik kembarnya yang langsung menghampirinya begitu Nico membuka pintu rumah. Mereka sudah menunggu Nico di ruang tamu dan sekarang mereka menyeret Nico duduk di tengah-tengah mereka.
“Nico, hari ini rasa kecewa ayah terobati,” seru pria yang ternyata adalah ayah Nico, bernama David Kuiper.
“Maksudnya?” tanya Nico yang tak paham akan tingkah keluarganya.
“Kak Nico bakal menikah!” seru Raisya, adek kedua Nico, dengan tidak sabar, “kita akan membuat pesta pernikahan!”
“Apa?” Nico terperangah, “omong kosong macam apa ini?”
“Nico, tidak apa-apa kau gagal menikah dengan pacarmu itu, asal kau jadi menikah sama yang ini.”
“Yang ini? Yang ini siapa maksud Ayah?” Nico semakin tak mengerti.
“Adiknya Barack Adhinata, namanya Raihan!” jawab Hasya tiba-tiba, adik dari Nico yang berperawakan tomboy.
“Adiknya Barack…?” Nico teringat masa-masa kecil ketika pertama dan terakhir kalinya bertemu dengan adik perempuan Barack di suatu acara, tiba-tiba dia tersipu malu mengingat masa itu karena saat itu ia mengenal cinta pada pandangan pertama.
Ya, Nico dulu pernah menyukai adik Barack bahkan dulu ingin menikahinya. Namun itu hanyalah angan-angan semasa kecil, hanya sekedar cerita cinta di masa kecil yang tak ada kelanjutannya.
Nico menggeleng. “Apa-apaan sih kalian semuanya? Aku tidak mau dijodohkan seperti ini!” bentaknya menolak.
Sejenak mereka semua terdiam, tak menyangka bahwa Nico menolak perjodohannya padahal semua sudah antusias dengan pernikahan Nico nanti. Lalu, David membuka mulut. “Kamu setuju atau tidak, dua hari kemudian kamu tetap akan menikah dengan adik Barack Adhinata, ini bukan keinginan ayah tapi ini adalah keinginan almarhum kakekmu dan orang tua Barack, Barack sudah menyiapkan semuanya acara pernikahan kalian.”
Nico terhenyak tak percaya. Pernikahannya dua hari lagi? Yang benar saja! Buru-buru Nico menolaknya, “Tapi Ayah… Ayah tahu sendiri kita sudah lama tidak dekat dengan keluarga Adhinata, bahkan tidak ada kerja sama bisnis di antara keluarga kita…”
“Sudah kubilang ini perjanjian antara kakekmu dan keluarga mereka!” terang David mengingatkan kembali dengan tegas.
Nico mendelik heran. Baru kali ini Nico melihat ayahnya setegas ini dan cenderung memaksa. Tapi, yang benar saya! Nico bukanlah anak kecil lagi yang harus diatur apalagi ini persoalan pernikahan.
“Ingat Nico, kalau kau tidak bersedia, aku akan mengeluarkan kau dari keluarga Kuiper. Jangan harap kau bisa bekerja di perusahaan lagi kalau kau menolak!”
“Ayah!” Nico menatap ayahnya seakan tak percaya dengan pernyataan David.
David mendengus lalu meninggalkan Nico tanpa penjelasan lagi, disusul oleh kedua anak gadisnya. Keputusan David menikahkan Nico dan gadis dari keluarga Adhinata sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Nico yang merasa sial, sudah gagal melamar Olive, mantan kekasihnya, ia malah harus menikah dengan keluarga Adhinata. Nico bukannya menolak karena tidak menyukai adik Barack, hanya saja Nico tahu bagaimana watak Barack yang terkenal terlalu dingin apalagi harus menjadi iparnya. Lalu adiknya Barack? Bisa saja adik dari Barack Adhinata sama dinginnya dengan kakaknya itu.
Akhirnya, Nico memilih kembali ke kamarnya setelah ditinggalkan ayah dan kedua adiknya. Sesampainya di kamar dia meraih foto berbingkai yang masih setia menghiasi meja nakas yang berada tepat di samping ranjangnya. Di tatapnya foto itu lekat-lekat sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. Andaikan saja waktu bisa diputar kembali pasti Nico akan mati-matian menggagalkan pertunangan Olive dengan pria lain dan memilih untuk lebih memprioritaskan gadis itu.
“Olive…” lirihnya sendu memandang wajah kekasih hatinya yang amat jelita.
Nico lalu menaruh foto itu di atas dadanya sambil memejamkan mata coklatnya. Nico mengingat kembali pernyataan ayahnya bahwa dua hari lagi ia akan menikah. Nico merasa hidupnya sangat konyol, ia bahkan tak tahu bagaimana wujud calon istrinya saat ini.
Nico mengingat-ingat kembali kejadian di masa kecil saat ia bertemu dengan Barack dan adiknya. Ia tidak mengetahui siapa nama adik Barack namun ia sangat menyukai adik Barack saat itu, anak perempuan itu adalah anak yang paling cantik yang pernah ia temui. Bahkan, ia pernah berangan-angan akan menikahi adik Barack Adhinata.
Namun, itu hanyalah cinta monyet seorang bocah yang akhirnya ia berpaling ke gadis lainnya walaupun akhirnya ia ternyata akan menikahi cinta monyetnya. Perasaan Nico yang sekarang tentu sudah berbeda dengan perasaan saat ia masih bocah dulu.
Nico jadi penasaran kira-kira seperti apa penampakan adik Barack Adhinata? Apakah gadis kecil itu makin cantik atau sebaliknya. Semoga saja wajah adik Barack Adhinata cantik, pikir Nico. Setidaknya, jika istrinya kelak memiliki rupa yang cantik, tidak susah untuk menyukainya. Lalu, tidak lama kemudian ia terlelap dalam mimpi pernikahannya.
“Ingat, ya! Kau jangan kabur di pernikahanmu besok!” David memperingati Nico ketika Nico mencoba mengenakan baju pengantinnya untuk besok.
“Iya Iya…” sahut Nico yang sudah malas berdebat, ia sudah cukup mengerti untuk mengalah. Ayahnya, David, adalah komisaris utama di perusahan keluarga mereka tentunya mudah baginya melenyapkan Nico, yang notabene putranya sendiri, untuk melepaskan jabatan CEO. “Lalu, di mana calon pengantinku?” tanyanya kemudian.
“Siapa suruh kau telat!” kata David sinis, “tadi pagi dia datang bersama kakaknya mengambil gaunnya.”
“Kak Nico… Kak Raihan benar-benar cantik!” seru Hasya tiba-tiba.
“Benarkah?” raut wajah Nico semakin penasaran. “Tadi pagi dia datang? Seperti apa dia?” tanya Nico tak sabaran ingin mendengar lebih banyak mengenai calon istrinya.
“Dia cantik, ayu, cute…”
“Sudah, sudah!” potong David, “besok juga kamu ketemu dengannya.”
“Iya, tapi setidaknya aku tahu seperti apa calon istriku!” balas Nico tak kalah sengitnya, ekspresi wajahnya yang terlihat galak namun tampan jadi terlihat semakin galak.
“Um… tapi tadi Kak Raihan terlihat buru-buru sekali, ya…” kata Raisya, “dia cuma sebentar saja, mencoba gaun trus dia pergi…”
Nico menoleh ke arah Raisya. “Oh, ya?”
“Hm… mungkin masih banyak yang harus dia urus tapi jangan khawatir, besok pernikahan kalian sudah pasti dilaksanakan!” lagi-lagi David kembali memperingatkan, sepertinya ia tak ada bosannya untuk mengingatkan Nico akan pernikahannya.
Nico memandang dirinya melalui pantulan cermin. Merapikan kerah jasnya. Ia terlihat tampan dengan jas pernikahannya yang berwarna putih namun ekspresinya terlihat tak ramah. Nico memang memiliki wajah galak yang tak ramah namun ia tampan dengan bentuk rahang yang tegas dengan sedikit roman kebarat-baratan. Dari ekspresinya kini ia terlihat jelas bahwa ia berat menjalani pernikahannya besok tapi sebenarnya ia juga penasaran akan wujud adik Barack Adhinta, Raihan.
Setidaknya dia memiliki wajah yang cantik, menurut adiknya. Ya semoga saja, pikir Nico. Setidaknya ia masih memiliki gairah akan wujud gadis cantik walaupun belum ada rasa cinta.
***
Dengan tangan terlipat, Raihan menatap penuh kebencian terhadap lelaki berparas tampan nan lembut yang kini duduk di hadapannya, lelaki yang dahulu mengenalkan indahnya cinta. Lelaki yang selalu menguatkannya ketika ia harus kehilangan saudari satu-satunya dan memilih untuk pisah dari keluarga angkatnya. Masih jelas di ingatannya bagaimana mereka menjalani kehidupan yang keras bersama, kehidupan yang penuh suka duka namun amat manis bagi Raihan. Tapi, semua itu hanyalah kemunafikan semata.
“Ku pikir kau tidak akan lagi ke sini…” kata pria itu, menatap lembut ke arah Raihan. Wajah tampannya terlihat lebih pucat dari terakhir kali Raihan melihatnya sebelumnya. Entah karena ia banyak pikiran karena tiba-tiba saja Raihan marah dan menuduhnya telah bermain dengan sahabat mereka, sahabat yang begitu dekat dengan Raihan.
“Ya, tentu saja aku tidak akan ke sini lagi,” sahut Raihan dingin, “maaf kuralat… maksudku, aku tidak akan ke sini lagi setelah menyerahkan… ini.”
Raihan melempar undangan pernikahannya di meja, tepat di hadapan pria itu.
“Apa ini?” tanya pria itu sembari meraih undangan pernikahan Raihan.
Raihan menyunggingkan senyum penuh kemenangan ketika mendapati tatapan kebingungan lelaki di hadapannya begitu mengetahui undangan itu adalah milik Raihan.
“Seperti yang kau lihat, Bily, itu adalah undangan pernikahanku dan besok aku akan menikah,” jawab Raihan enteng. Ia seakan puas melihat ekspresi keterkejutan pria bernama Bily, seakan pria itu tak percaya dengan kenyataan bahwa Raihan akan segera menikah.
Pria bernama Bily menatap sendu undangan itu. “Kenapa?”
“Kenapa apanya? Apa salah kalau aku menikah dengan seseorang?”
“Dengan siapa kau akan menikah besok?” tanya Bily sembari meletakkan kembali undangan itu di meja.
“Kau bisa lihat di undangan itu, aku akan menikah dengan putra dari keluarga Kuiper,” jawab Raihan, jujur ia tak tahu nama asli pria yang akan dinikahinya besok.
Kenapa…? Batin Raihan yang memandang wajah sendu Bily yang masih tak bisa percaya akan pernikahan Raihan. Sejujurnya, hati Raihan pun serasa dicengkram oleh tatapan sendu pria itu, pria yang masih ia cintai. Ia tak bisa menafikan bahwa ia pun tak sanggup melihat pria itu sedih karena perasaan sayangnya masih mendominasi. Namun, mengapa ia harus tampak sesedih itu setelah ia melukai hatinya?
“Kau tidak mencintainya…”
Raihan tertawa muak. “Jangan sok tahu!” Raihan berdiri, “terserah kau mau datang atau tidak besok,” lanjutnya sebelum ia membalikkan tubuhnya, membelakangi Bily. “Yang jelas, besok aku sudah menjadi istri orang lain.”
Diam-diam air mata Raihan menetes, ia merasa sakit mengetahui besok ia akan menjadi milik pria lain dan bukan pria yang ia cintai. Ia lalu berlari meninggalkan Bily yang kaku memandang undangan pernikahan Raihan, perasaan pria itu masih sulit mempercayai besok ia benar-benar akan kehilangan Raihan.
***
Akhirnya saat itu tiba juga. Nico dan sekeluarga telah tiba di hotel tempat ia melangsungkan pernikahan, hotel megah berbintang lima. Sebuah karangan bunga besar telah terpasang di depan pintu utama loby hotel itu, dekorasi pernikahan dengan mawar yang serba putih menghiasi hotel itu. Beberapa body guard berjas hitam suruhan Barack Adhinata mengantarkan mereka ke ruang pernikahan yang akan berlangsung. Tradisi pernikahan pun mengikuti tradisi keluarga Adhinata, mempelai pria dan wanita terpisah begitu pun tamu pria dan wanita.
Tidak lama kemudian rombongan keluarga Adhinata memasuki ruang pernikahan, pandangan Nico tertuju pada gadis bergaun pengantin, tidak begitu jelas terlihat wajah gadis itu karena wajahnya tertutup oleh veil yang sedikit menerawan.
"Bentuk tubuhnya sih bagus..." gumam Nico memperhatikan calon istrinya dari kejauhan.
Raihan kini duduk di kursi mempelai wanita. Sesekali Nico menengok ke arah Raihan karena tirai pembatasnya tidak begitu tinggi, ia masih bisa memandang gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Akhirnya, acara ijab kabul selesai dan lagi-lagi Nico harus kecewa karena Raihan diantar kembali ke kamar pengantin. Setidaknya, ia harus melihat istrinya setelah mengucapkan ijab Kabul. Nico tak mengerti tradisi macam apa yang dianut oleh keluarga Adhinata.
***
Yey, Kak Nico!” seru Raisya saat mendatangi Nico ketika acara resepsi dimulai, “Selamat ya Kak Nico, semoga Kakak bahagia selalu dan pernikahannya langgeng.”
“Terima kasih, Raisya,” ucapnya Nico.
“Akhirnya kau sudah menikah…” David memeluk Nico dengan penuh haru.
“Terima kasih, Ayah…” ucap Nico terpaksa. Ia sebenarnya masih kesal karena pernikahannya berdasarkan keputusan ayahnya secara sepihak tapi bagaimana pun ia mencoba menghormati dan berusaha menerima pernikahannya.
“Nicolas Kuiper…”
Nico dan sekeluarga menoleh ke arah seorang pria berjas silver memiliki sorot mata yang dingin, siapa lagi kalau bukan Barack Adhinata, sang kepala keluarga bangsawan Adhinata. Pria itu memberi isyarat agar para bodyguard-nya menjauh dari mereka. Para bodyguard itu membungkuk sekali kemudian mereka beranjak menjauh dari tuannya.
“Terima kasih karena kau sudah membuat acara pernikahan putraku sebagus ini,” kata David pada Barack, “ini benar-benar luar biasa.”
Barack hanya menunduk sekali. “Sama-sama… aku berusaha agar kamu tidak kecewa sama sekali.” Tatapan dinginnya kini beralih ke Nico, “aku menyerahkan adikku kepadamu, tolong jaga dia baik-baik!”
“Tentu saja!” jawab Nico mantap, “tanpa kau bilang pun pasti aku menjaganya.”
David yang mendengar jawaban putranya merasa sangat terharu, ia tidak menyangka anaknya akan se-gentleman itu. Nico sendiri pun tak menyangka mengapa kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri. Sedangkan Barack, sejenak ia hanya menatap dingin Nico, seakan ragu akan jawaban Nico namun ia bisa lega setidaknya Nico bisa menerima adiknya sebagai istri dan mau menjaganya.
“Baiklah, aku pegang perkataanmu…” kata Barack bernada intimidasi pada Nico.
Resepsi pernikahan berjalan selayaknya pernikahan yang megah, hanya saja tanpa pengantin wanita. Beberapa teman-teman Nico datang mengucapkan selamat bahkan tak sedikit yang mempertanyakan pernikahan Nico yang sangat tiba-tiba.
“Hai, Nico!” panggil Jeremy, “akhirnya kau menikah juga, selamat ya!”
“Terima kasih,” ucap Nico.
“Mengejutkan sekali… kenapa pernikahannya mendadak begini? Apakah ada accident?”
“Enak saja!” dengus Nico tak terima, “aku dijodohkan tiba-tiba sama tua bangka itu!”
“Siapa? Ayahmu?” Jeremy ketawa, “pantas saja tiba-tiba sekali… aku kaget kemarin dengar kabar kamu menikah hari ini, aku pikir kamu pasti menghamili anak gadis orang. Oh ya, apa kau mengundang Olive?”
“Tidak,” jawab Nico, “aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya lagi?”
“Oh… begitu…” gumam Jeremy. “Ya, sudah… pokoknya aku mendoakan semoga pernikahanmu dengan Raihan langgeng terus, ya.”
“Terima kasih…”
Akhirnya, acara resepsi pernikahan selesai. Para tamu sudah banyak yang meninggalkan hotel. Dan kini waktunya Nico menuju ke kamar pengantinnya.
“Sudah waktunya…” kata Barack, ia menyerahkan cardlock ke Nico, "nomor kamar kalian 205."
Nico menerima cardlock itu dengan jantung berdebar-debar, dengan pelan ia melangkahkan kakinya menuju lift. Sebenarnya, ini bukan pertama kali ia melewatkan malam bersama wanita namun karena kini ia harus melewatkan malam bersama wanita yang belum ia kenal sebelumnya, rasanya pasti sangat aneh. Nico bingung, bagaimana memulainya nanti? Terdengar David dan beberapa teman Nico yang masih berada di tempat, berteriak menyemangati Nico ketika Nico memasuki lift.
***
Kini Nico berada di depan kamar nomor 205. Nico yang tadinya hendak membuka kamar dengan cardlock, kembali mengurungkan niatnya. Ia bingung, khawatir dan takut! Bagaimana ia memulainya dengan gadis yang tak ia kenali? Bahkan berbicara sekali pun belum pernah. Apa yang harus dia lakukan?
Nico menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ya, itulah cara untuk mengurangi kecemasannya saat ini. Bagaimana pun ia adalah seorang suami sekarang, ia tak boleh takut menghadapi istrinya walau ia tak mengenalinya. Sel-sel otaknya mulai bekerja membaik, tentu saja ia harus mengenal istrinya dulu dengan mengajaknya bercerita. Ya, itu ide yang bagus, pikir Nico.
Dengan jantung berdebar-debar, ia membuka kunci kamar itu lalu memegang kenop pintu dan membukanya. Beberapa lampu kamar menyala saat Nico menaruh cardlock di kotaknya.
“Nico… kau kah itu?”
Itu suara Raihan! Batin Nico menyeru. “Ya!” jawab Nico mantap.
Nico berjalan ke ruang tamu dan ia terkejut mendapati seorang gadis yang mengenakan gaun lingerie ungu tua yang kini duduk di sofa, menatapnya dengan mata bulat yang tajam.
“Kau… Raihan?” tanya Nico, dengan takjub ia memandang istrinya sendiri.
Raihan berdiri, lekukan tubuhnya yang terbalut lingerie terlihat sangat jelas. Kulit mulus bak porselennya terpancar di bawah cahaya lampu remang. “Iya, aku Raihan.”
.
TBC
Sedari tadi Nico hanya bisa terdiam memandang gadis yang kini duduk di hadapannya dengan lingerie yang sangat menggoda. Tidak bisa ia pungkiri, ia begitu terpesona akan wujud gadis yang kini telah menjadi istrinya. Ia memandang lagi dari ujung kepala hingga ke ujung kuku kaki gadis itu, benar benar cantik, itulah yang ada di benak Nico. Ia tak menyangka adik Barack Adhinata secantik itu. Ya, memang Nico pernah bertemu dengannya saat mereka masih kecil dan adik Barack memang sangatlah cantik tapi ini benar-benar di luar ekspektasi Nico.
Kini pandangan Nico fokus ke wajah Raihan, di telusurinya wajah jelita tanpa cacat sedikit pun. Mata, jidat, alis, hidung, terutama bibir seksinya yang merona, Nico bisa membayangkan bagaimana nikmatnya menyantap bibir bawah sintal milik gadis yang duduk di hadapannya saat ini.
Raihan menaikan sebelah alisnya. “Kenapa kau diam saja?” tanyanya, memecah keheningan di ruangan itu dan menyadarkan Nico dari kekagumannya.
“Aku… “ Nico mulai bersuara namun terdengar ragu, “aku hanya tidak menyangka saja istriku seperti ini…”
Kening Raihan mengerut, “seperti ini? Memangnya aku seperti apa?”
“Aku... hanya tidak menyangka kau secantik ini.”
“Cantik? Maksudmu aku cantik?” Raihan tampak kebingungan, baru kali ini ada pria memujinya secara terang-terangan.
“Iya, kau sangat cantik,” ucap Nico jujur.
Setelah mengatakan itu, Nico bisa merasakan wajahnya memerah karena malu. Ia juga tak mengerti mengapa ia bisa sejujur itu tapi Nico harus akui betapa memesonanya Raihan. Gadis itu memang begitu cantik.
“Um… terima kasih…” Raihan yang tak kalah tersipunya memalingkan pandangannya ke arah lain dan itu membuatnya semakin terlihat manis.
Suasana kembali diam beberapa menit. Setelah memuji Raihan, Nico merasakan atmosfer di ruangan itu benar-benar canggung. Ia bingung bagaimana memulai malam pertamanya dengan Raihan. Sebenarnya, ini bukanlah pengalaman pertamanya menghabiskan malam bersama dengan wanita tapi Nico tidak tahu bagaimana harus bersikap karena ia bukanlah tipe pria yang agresif pada wanita.
“Maaf… aku… hanya tidak tau saja bagaimana memulai.”
Raihan yang mendengar pernyataan Nico barusan tertegun lalu beberapa detik kemudian ia malah tertawa geli. “Kenapa kau harus bingung?” tanyanya, “sekarang aku adalah istrimu, kau bisa bebas melakukan apa saja pada diriku,” lanjutnya dengan tatapan tajamnya yang menantang.
“Kau bilang… aku bisa bebas melakukan apa saja pada dirimu? Apa kau mengijinkannya?”
“Ya, tentu saja,” jawab Raihan, “kita sekarang adalah suami istri, kenapa aku tidak boleh mengijinkanmu?”
Nico yang seakan mendapat lampu hijau dari Raihan tiba-tiba saja maju dan memeluk Raihan seperti hewan liar yang menyergap mangsanya. Raihan yang terkejut seperti tidak bisa berbuat apa-apa, tubuh langsingnya terasa ringkih di pelukan tubuh Nico yang cukup atletis.
“Tu-tunggu…!” Raihan menahan dada Nico, mencoba menghentikan Nico yang tampak tak sabaran.
“Kenapa?” tanya Nico menatap bingung ke mata Raihan, “bukannya aku bebas melakukan apa saja?”
“Iya, tapi…” sahut Raihan, ekspresi wajahnya sedikit ketakutan “bisakah kita melakukannya pelan-pelan?”
“Seperti apa?”
“Mungkin… kita bisa memulainya… dengan ciuman…”
Nico menatap dalam mata tajam indah milik Raihan. Seakan membaca maksud istrinya, ia mulai sedikit melonggarkan pelukannya dan pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke bibir Raihan hingga kedua bibir itu menempel satu sama lain. Di awali oleh ciuman lembut lalu berubah menjadi lumatan dan isapan. Kedua tangan Raihan melingkar ke leher Nico saat ciuman mereka semakin dalam. Ciuman Nico kini turun ke dagu lalu ke leher.
“…Nic… hhhh…”
Raihan melenguh seakan terbuai oleh ciuman Nico. Wajahnya mendongak saat Nico begitu menikmati leher milik Raihan. Cium, jilat, isap, Raihan hanya bisa mendesah dan membiarkan Nico bermain di leher sensitifnya. Raihan pun tak mengerti dengan apa yang ia rasakan, rasanya darahnya semakin berdesir saat bibir Nico mengabsen tiap inci kulitnya, belum tangan Nico yang mulai bergerilya meraba pahanya. Sejujurnya, ini pertama kalinya Raihan merasakan sentuhan intim dari seorang pria dan juga ia tak bisa menafikan bahwa ia menikmatinya walau ia sebenarnya cukup malu mengakuinya.
Tok tok tok
Tok tok tok
“Nico!” Raihan meminta Nico menghentikan aksinya.
“Ya? Kenapa?”
“Kau tidak mendengar suara ketukan pintu?”
Mereka berdua terdiam saling berpandangan lalu terdengar suara ketukan pintu lagi. Nico melepaskan Raihan dan beranjak untuk melihat siapa gerangan yang mengganggunya saat ia baru saja memulai malam pertamanya melalui lubang intip pintu.
“Siapa?” tanya Raihan.
“Kakakmu…”
Nico segera membuka pintu dan sosok pria berwajah dingin itu berdiri persis di depan pintu bersama ajudannya yang terus setia berdiri di belakang pria itu..
“Kak Barack…”
Barack memberikan isyarat pada Raihan. Raihan yang langsung mengerti lalu masuk ke dalam kamar.
“Bisakah kita bicara sebentar?” tanya Barack.
Nico mengambil cardlock sebelum menutup pintu kamarnya. “Apa?” tanyanya, jujur ia merasa sangat terganggu oleh kedatangan Barack. Padahal dengan susah payah dia berhasil memulai untuk lebih intim dengan istrinya bahkan ia kini memulai untuk melakukan malam pertamanya.
“Maaf kalau aku mengganggu,” kata Barack tanpa merasa salah sama sekali, “aku hanya mau memberitahumu, bisakan kau membiarkan Raihan istirahat malam ini?”
Nico mengernyit tak paham. “Maksudmu?”
“Sebelum pernikahan kalian berlangsung, Raihan baru saja pulang dari perjalanan jauh… dia pasti lelah,” terang Barack, “untuk malam ini saja…”
Nico mengerti maksud Barrack. “Baiklah,” ucap Nico terpaksa, “Ada lagi?”
“Tidak ada,” jawab Barack, “Baiklah, hanya itu yang mau aku sampaikan…”
Barack berbalik dan akhirnya pergi meninggalkan Nico.
***
Kini Nico duduk di bar. Menikmati alunan musik jazz yang lembut dan segelas minuman. Jas putih yang ia kenakan di pernikahannya masih melekat di tubuhnya. Jam menunjukkan hampir pukul dua subuh. Ya, di malam pengantinnya ia menghabiskan waktu di bar itu. Bukan maksudnya ia meninggalkan Raihan sendiri di kamar hotel namun ia tak akan bisa menahan hasratnya untuk bercinta bila ia kembali ke kamar mereka. Raihan begitu menggoda hasrat kelaki-lakiannya, belum lagi lingerie yang dikenakannya mampu membuat milik Nico terasa sesak dibalik celananya.
“Nico, apa yang kau lakukan di sini?” tiba-tiba terdengar suara Jeremy. Jeremy yang juga menginap di hotel yang sama dengan Nico langsung menghampiri Nico. Ia heran melihat kehadiran sahabatnya di bar itu, bukannya malah menghabiskan malam pengantin bersama istrinya.
“Seperti yang kau lihat… minum dan menikmati musik…”
“Bukan itu maksudku,” sanggah Jeremy yang masih menatap bingung ke arah sahabatnya, “maksudku, ini adalah malam pertamamu bersama istrimu. Kenapa kau malah meninggalkannya dan minum di sini?”
“Yeah, karena aku tidak akan bisa menahan untuk tidak bercinta dengannya.”
“What?” Jeremy terperangah sambil tertawa mendengar jawaban Nico yang mulai kacau, entah karena mulai mabuk atau mengantuk karena waktu sudah mendekati subuh. “Bagaimana istrimu, apa dia cantik?”
“Ya, dia sangat cantik.”
“Benarkah?”
“Ya, dia gadis terindah yang pernah kutemui.”
“Wow, sepertinya kau sudah melupakan Olive rupanya.”
“Ck…” Nico mendecak jengkel.
Tiba-tiba Nico teringat Olive tapi sebenarnya ia cukup heran, begitu terpesonanya ia akan kecantikan Raihan hingga ia melupakan Olive. Sejenak ia berpikir, apakah dengan menikahi Raihan adalah jalan ia untuk bisa melupakan Olive dan itu pertanda ia memang tak akan berjodoh dengan Olive? Tapi, Nico tak bisa membohongi perasaannya, hatinya masih milik Olive saat ini.
Aish, Nico menggerutu dalam hati. Andaikan saja Jeremy tidak menyebut nama Olive, ia tak akan mengingat gadis itu. Sahabatnya itu benar-benar tidak bisa memahami dirinya. Mengapa Jeremy sering membahas Olive apalagi malam ini adalah malam pengantin untuk Nico.
Nico meneguk minumannya, musik jazz yang slow semakin mengoyak perasaannya. Tatapannya semakin sendu tiap kali mengingat kebersamaannya dengan kekasih hatinya. Ia merenung, apakah memang sampai di sini jodoh dia dan Olive? Nico menggeleng, ia menyadari bahwa ia sudah kehilangan Olive ketika gadis itu memutuskan untuk memilih pria lain untuk bertunangan dengannya.
“Aku sudah melupakan Olive,” kata Nico berusaha membohongi Jeremy, “sudah lama aku tidak memikirkannya.”
Jeremy memicingkan mata memandang Nico, seakan tak percaya akan ucapan Nico namun akhirnya ia mencoba untuk menghargai Nico. “Yah, baguslah kalau begitu,” kata Jeremy, “akhirnya kalian menemukan jodoh kalian dan itu bagus untuk kalian. Oh iya, jangan lupa nanti kenalkan aku dengan istrimu, aku penasaran ingin bertemu dengannya.”
“Ya, tentu saja…” kata Nico. Ia meneguk minumannya dengan sekali tegukan hingga habis lalu ia turun dari kursi dan berjalan meninggalkan Bar.
“Kau mau kemana?”
“Kembali ke kamar…” jawab Nico tanpa menoleh ke arah Jeremy, “aku sudah mau tidur…”
“Jiah… belum juga aku pesan minuman, sudah cabut aja dia…” gerutu Jeremy, lalu ia mengangkat tangannya ke arah pelayan dan memesan segelas minuman.
***
Ceklek…
Lampu ruang tamu langsung menyala begitu Nico menaruh cardlock di tempatnya. Ruangan itu sepi, tidak ada suara Raihan sama sekali. Nico melepas dasi dan jasnya lalu melemparnya ke sofa, ia juga melepas beberapa kancing kemejanya lalu ikat pinggangnya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Nico lalu masuk ke kamar, di sana hanya lampu tidur yang menyala dan Raihan rupanya sudah tertidur di ranjang dengan ujung lingerienya tersingkap ke atas hingga sebagian lekuk tubuh indahnya terlihat jelas di mata Nico. Pelan-pelan Nico mendekati dan memandang istri yang belum sempat ia jamah.
Melalui cahaya remang, Nico memandang wajah cantik Raihan yang kini tertidur lelap, istrinya. Begitu cantik, mulus dan seksi, ia merasa sangat beruntung menikah dengan gadis secantik Raihan. Walau mungkin cinta belum sepenuhnya tumbuh namun Nico yakin bahwa tak sulit untuk mencintai istrinya.
Lama menatap Raihan membuat darahnya mulai berdesir. Tadinya ia ingin membangunkan istrinya dan memintanya untuk melayaninya walaupun sekedar dengan handjob mungkin. Namun, Nico mengenyahkan pikiran kotornya itu jauh-jauh. Nico memperbaiki posisi lingerie Raihan yang tersingkap ke atas, menarik selimut untuk menutupi tubuh Raihan lalu ia berbaring di samping Raihan dan membelakanginya sebagai bentuk usaha ia menahan hasrat bercintanya tiap memandang istri cantiknya.
.
TBC