Dentuman musik di klub malam salah satu kota terbesar di sebelah utara Swiss, Zürich, terdengar menggema ke seluruh ruangan. Sepasang mata elang sedang menatap nanar foto yang ditampilkan layar ponsel. Tampak seorang perempuan berkerudung tersenyum ramah sedang memeluk remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun. Remaja itu adalah dirinya.
Ada hal yang mengganggu pikiran pemuda itu hampir satu bulan belakangan ini. Lebih tepatnya sejak kejadian yang tidak terduga membuat ia sadar dengan perasaan sendiri. Perasaan yang tidak boleh ada.
“Beneran nggak minum, Zan?” tanya seorang mahasiswa yang berasal dari Indonesia.
Pria berkulit kuning langsat itu menggelengkan kepala. “No thanks!” sahutnya mengangkat tangan sekilas.
“Farzan mana mau minum-minum. Bisa diomelin kakak iparnya,” ledek yang lainnya.
Lelaki bernama Farzan itu melirik sekilas dengan tatapan malas. Dia sedang tidak ingin berdebat sekarang.
“Lo kenapa sih? Sejak balik dari Indo banyakan diam.”
Farzan mengangkat bahu singkat, tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Dia mengunci layar ponsel, sehingga wallpaper bergambar dirinya dan seorang perempuan menghilang begitu saja. Tangannya terulur ke atas meja, mengambil jus melon yang tinggal setengah.
Sebuah senyum samar tergambar di bibir sedikit tipis di bagian atas dan penuh di bagian bawah milik Farzan, ketika melihat gelas yang ada dalam genggamannya. Jus melon adalah minuman kesukaan Arini, istri kakak tiri lelaki itu. Dia menarik napas berat ketika luapan perasaan seakan tak bisa lagi ditahan.
“Masih mikirin kejadian waktu itu?” Seorang pria berambut ikal mengajukan pertanyaan kepada Farzan, setelah dua orang lainnya keluar dari room yang mereka sewa.
Kepala yang dihiasi rambut model layered itu bergerak ke atas dan bawah. “Gue merasa jahat, Bram.”
Bramasta, sahabat Farzan, menepuk pundaknya. “Itu bukan salah lo, Zan. Kalau gue berada di posisi yang sama, mungkin nih ya, mungkin nggak bisa nolak juga.”
Pemuda berkacamata itu menarik napas singkat. “Apalagi kakak ipar lo cantiknya kebangetan. Bayangin, umur empat puluh tahunan masih awet kayak umur dua puluhan. Keturunan vampir kali ya.” Bram berdecak kagum.
“Beruntung banget abang lo nikah sama dia,” sambungnya geleng-geleng kepala.
Farzan tersenyum kecut membenarkan perkataan Bramasta. Arini Maheswari, kakak ipar yang kini bersemayam di hatinya memang memiliki kecantikan yang tidak pudar dimakan waktu. Wanita yang telah memiliki dua orang anak itu ibarat bidadari, seperti namanya.
“Kak Arini nggak hanya cantik, Bram.” Farzan mengangkat pandangan melihat plafon dengan seulas senyum lebar. “Dia baik banget, penyayang, perhatian dan ….”
“Dan?”
“Dan semua ekspektasi gue akan perempuan, ada dalam diri Kak Arini.” Farzan menoleh lagi kepada Bramasta.
“Makanya gue merasa jahat sama mas sendiri. Nggak kebayang kalau Mas Brandon tahu.” Tubuh Farzan bersandar lesu ke belakang.
“Cinta memang nggak ada logika, Zan. Nggak bisa ditebak.” Bram menumpu kedua tangan di atas kedua paha. “Jangan sampai mas lo tahu, bahaya!”
Farzan mengangguk singkat. Dia paham apa yang akan terjadi jika Brandon tahu kalau dirinya mencintai Arini. Apalagi ia juga terlahir dari sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah ada di dalam keluarga Harun.
Baru saja ingin merespons perkataan sahabatnya, ponsel yang ada di saku celana jeans milik Farzan bergetar. Sebuah panggilan dari wanita yang dirindukan, membuat senyum mengembang di paras tampannya.
“Gue ke luar dulu.” Farzan menggoyangkan gadget yang memperlihatkan tampilan panggilan masuk. “Bisa tamat riwayat gue kalau Kak Arini tahu lagi ada di klub malam.”
Farzan bergegas keluar dari room yang tidak dibatasi dinding. Kakinya melangkah besar menuju sisi lain klub, agar suara musik tidak terdengar.
“Assalamu’alaikum, Kakak Cantik,” sapa Farzan setelah menerima panggilan.
“Wa’alaikumsalam. Gimana kabar di sana? Ujian lancar?” balas Arini terdengar khawatir.
Sorot mata elang Farzan tampak sendu mendengar pertanyaan kakak iparnya. Dia kembali ingat dengan penyakit yang diderita Arini. Karena penyakit inilah kesalahan manis terjadi saat ia pulang ke Jakarta.
“Aku udah ujian dua bulan lalu, Kak. Kondisi kakak gimana? Udah minum obat teratur, ‘kan?”
“Udah. Baru aja minum obat.” Terdengar tarikan napas panjang. “Kamu kapan pulang? Kakak kangen sama adik kesayangan.”
“Insya Allah enam bulan lagi pulang. Sekarang lagi sibuk bikin skripsi. Doakan aja semua lancar, trus bisa ketemu lagi sama Kakak cantik,” sahut Farzan semringah.
Meski tahu Arini hanya menganggapnya sebatas adik kecil yang dibesarkan dengan kasih sayang, tapi sudah cukup membuatnya senang.
“Yah. Sedih nih jadinya. Video call aja deh, biar bisa lihat kamu,” pinta Arini membuat Farzan kelimpungan.
Dia garuk-garuk bagian atas kepala, karena tidak mungkin melakukan video call sekarang. Bisa tamat riwayatnya jika Arini tahu di mana Farzan sekarang.
“Jangan, Kak! Nanti aja ya. Aku sekarang lagi di luar soalnya,” elak Farzan.
“Tumben. Biasanya kalau lagi di luar juga mau video call. Mencurigakan.” Arini diam beberapa detik. “Kamu lagi ngedate ya, Zan?! Ayo ngaku. Kenalin dong sama Kakak.”
Farzan tergelak mendengar tuduhan Arini. Ada rasa lega di hati ketika kakak iparnya normal seperti ini. Ya, wanita yang dicintainya divonis terkena Alzheimer dini oleh dokter. Kondisi di mana ia akan mudah lupa dengan kejadian yang dialami.
“Nggak kok. Aku lagi keluar sama teman-teman aja. Mau puasin senang-senang sebelum pusing mikirin skripsi,” jelas Farzan tidak ingin Arini salah paham.
“Yah kirain.” Nada suara Arini terdengar lesu. “Kamu nggak pernah loh kenalin pacar ke kakak sama mas.”
Pria itu kembali tergelak sambil mengedarkan pandangan ke sisi lain gedung klub malam. Tilikan mata elangnya berhenti ketika melihat seorang wanita berjalan terhuyung dari arah bar. Tak lama dua orang pria berjalan pelan di belakang, seperti mengintainya.
“Nanti aku telepon lagi ya, Kak. Kita video call kalau aku udah sampai di apartemen aja.”
“Oke. Jaga diri baik-baik ya. Jangan keluyuran,” nasihat Arini.
“Iya. Miss you, Kak.”
“Miss you too, Dek,” pungkas Arini sebelum panggilan berakhir.
Farzan kembali melihat perempuan muda berambut panjang dan hitam itu setelah mengantongi ponsel. Dari penampilannya tampak seperti orang asia. Dia mengamati gerak-gerik dua orang laki-laki bule yang sejak tadi mengikutinya.
Tiba di luar klub, kedua laki-laki itu langsung memegang tangan kanan dan kiri wanita muda tersebut. Sontak membuatnya meronta, berusaha melepaskan diri. Naluri lelaki Farzan terpanggil melihat kejadian itu.
“Hei. What are you doing?!!” sergah Farzan mengeraskan suara.
Kedua pria itu terkejut karena aksi mereka diketahui oleh orang lain.
“Lepaskan dia atau aku telepon polisi!” gertak Farzan mengeluarkan ponsel bersiap menghubungi pihak berwajib.
Dua pria bule itu segera mendorong perempuan tadi, sehingga terjatuh. Setelahnya mereka lari tunggang langgang, takut dengan ancaman Farzan.
“Dasar pengecut kalian! Gitu aja sok mau gangguin anak orang,” geramnya dengan wajah mengerucut.
Dia melangkah mendekati perempuan yang masih terduduk di jalan tak jauh dari lahan parkir klub. “Are you okay, Madam?” tanya Farzan menurunkan tubuh ke posisi jongkok.
Wanita mabuk itu mengangkat wajahnya dengan senyum lebar.
Dasar cewek aneh. Masih bisa senyum setelah hampir saja diperkosa orang-orang tadi, batin Farzan.
“Makasih udah bantuin gue,” ucap wanita itu mengangkat sebelah tangan ke atas.
“Orang Indonesia juga?” Mata elang Farzan melebar tak percaya.
Wanita berparas ayu itu mengangguk sekali membenarkan tebakan Farzan. Dia berusaha berdiri di tengah tubuh yang terasa ringan seperti kapas. Alkohol membuatnya ingin terbang ke atas awan, bertemu bintang-bintang.
Farzan segera menyambut tubuh yang oleng ke kanan, lantas membantu agar tegak ke posisi berdiri. “Saya panggilkan taksi ya, Mbak,” tawarnya mencari keberadaan taksi.
“Mau diantar ke mana?”
“Di mana ya? Kok gue lupa.” Wanita itu tertawa seperti orang gila dengan tubuh kembali terhuyung ke kiri. “Ke mana aja deh, asal nggak pulang ke rumah.”
Kening Farzan auto mengerut. “Mbak tinggal di sini?”
Wanita berambut panjang itu menggeleng. “Gue cuma liburan ke sini.”
“Ya udah, kalau gitu kasih tahu Mbak nginap di hotel mana? Biar saya carikan taksi sekarang.”
Suara tawa kembali meluncur di bibir terisi penuh milik perempuan yang berada di samping Farzan. Tubuhnya terhuyung lagi ke sisi kanan.
“Hati-hati, Mbak.” Farzan mengeratkan pegangan di lengan kurus itu. “Lain kali kalau ke sini bawa teman. Bahaya.”
“Diam lo bawel. Sama aja kayak emak gue,” sungut perempuan tersebut.
“Ya udah, kalau gitu kasih tahu Mbak tinggal di mana!” ulang Farzan mulai jengkel.
Belum sempat menjawab pertanyaannya, wanita itu pingsan tak sadarkan diri.
“Mbak,” panggil Farzan ketika tubuh itu bersandar ke badannya.
“Mbak.” Farzan mengguncang bahu, lantas menepuk pelan pipi tirus itu.
“Malah pingsan,” gumam Farzan panik.
Pandangannya kembali beredar ke sisi jalan yang dilewati kendaraan sesekali. Malam menjelang, ia harus kembali ke apartemen. Tapi, bagaimana dengan wanita asing ini? Tidak mungkin juga meninggalkannya sendirian di jalanan.
Farzan mendesah pelan sebelum melambaikan tangan untuk menghentikan taksi. Tidak ada pilihan lain, selain membawa wanita ini ke apartemennya.
“Baurstrasse 29,” ujar Farzan setelah berada di dalam taksi. Dia menyandarkan kepala perempuan tadi di kaca, agar tidak lagi menempel dengannya.
Tubuh tegap itu bersandar lesu di jok belakang taksi. Perlahan tilikan mata berpindah ke sisi kiri jalan. Tampak kerlap kerlip lampu yang berpendar dari gedung-gedung tinggi di kota Zürich. Enam bulan lagi, ia tidak berada di sini karena pendidikannya di ETH Zürich selesai. Pemuda itu bisa berkumpul kembali dengan keluarganya di Indonesia.
Tangannya kembali mengambil ponsel dari saku celana, lantas mengirimkan pesan kepada teman-teman yang masih berada di klub malam.
Me: Gue balik ke apartemen dulu. Kakak ipar mau VC.
Setelah mengirimkan pesan singkat tersebut, ibu jari Farzan bergerak membuka galeri foto. Dia tersenyum melihat seorang wanita berkerudung tersenyum memamerkan dua lesung pipi yang menambah kecantikannya. Dengan hati terasa nyeri, ia membelai wajah yang ada di layar tersebut.
“I miss you, Kak,” lirihnya pelan sekali.
Taksi terus melaju cepat menuju apartemen tempat tinggal Farzan sejak berada di Zürich. Hampir empat tahun ia tinggal di sana seorang diri, jauh dari keluarga. Sejak kecil, ia sudah memiliki minat terhadap bidang otomotif, sehingga akhirnya mengambil fakultas Mechanical Engineering.
Kendaraan beroda empat tersebut, berhenti tepat di area drop-off Cosmopolitan Apartment. Gedung hunian yang masih tergolong baru di kota Zürich. Sebelum turun dari mobil, Farzan menarik napas panjang ketika melihat perempuan yang masih belum sadarkan diri. Lebih tepatnya tertidur, setelah mengkonsumsi banyak alkohol.
Pemuda itu menarik lengan kecil tersebut, kemudian menggendongnya di balik punggung. Sebuah tawa singkat meluncur dari bibir dengan lengkung sempurna tersebut, saat merasakan sesuatu.
“Kurus banget sih,” ledeknya.
Akhirnya setelah mengerahkan semua tenaga yang tersisa, mereka tiba di dalam flat tipe studio yang cukup besar. Farzan merebahkan perempuan asing yang tidak lagi tahu apa-apa itu di atas kasur. Napas terpacu keluar dari hidung dan mulut bersamaan, karena tenaga yang terkuras menggendongnya dari lobi hingga bagian dalam flat.
Ketika ingin berdiri, tiba-tiba tangannya ditarik kuat oleh perempuan berambut panjang itu. Sontak tubuhnya terjatuh nyaris mengimpit sosok yang sedang terbaring di atas ranjang. Mata hitam tajamnya bertemu dengan netra hitam lebar milik wanita yang sedang mengerjap.
Farzan menelan ludah ketika melihat paras yang tidak terlalu cantik dan tidak juga terlalu jelek itu berada tepat di depannya. Situasi seperti ini baru pertama kali dialami, kecuali ketika ia melakukan kesalahan termanis dengan Arini. Anehnya, kali ini tidak ada reaksi berarti dalam dirinya. Berbeda ketika bersama sang Kakak ipar.
“Lo mau nggak nikah sama gue?” desis wanita itu berusaha membuka mata yang terasa berat.
Bersambung....
Samar-samar terdengar ponsel berdering. Tangan kokoh itu berusaha menyelusup ke bawah bantal sofa mencari keberadaan gadget tersebut. Kelopak matanya mulai mengerjap agar bisa melihat dari siapa panggilan tersebut.
Netra hitam itu langsung terbuka lebar ketika menyadari sekarang sudah pukul 07.00, artinya sudah lewat dari waktu subuh. Tilikan beralih kepada nama yang tertera di layar ponsel. Kakak Cantik.
“Assalamualaikum, Kak,” sapa Farzan setelah menggeser tombol hijau.
Dia beralih ke posisi duduk sambil mengurut pelipis. Pemuda itu tidak bisa tidur nyenyak, setelah insiden yang tidak terduga tadi malam. Pandangannya beralih melihat gadis yang masih terbaring di atas kasur.
“Waalaikum salam. Katanya tadi malam mau video call,” balas Arini di seberang sana.
“Maaf banget, Kak. Aku sampai apartemen udah kemaleman banget, kakak pasti tidur nyenyak,” ujarnya beralasan.
Terdengar tarikan napas berat. “Di sini sekarang udah siang. Mana nih? Kakak mau lihat wajah kamu.”
Farzan tersenyum lebar. Dengan hal kecil seperti ini sudah cukup berarti baginya. Dia juga mendapatkan kasih sayang dan perhatian Arini, meski tidak bisa memilikinya.
Sekali lagi, ia cukup tahu diri dengan posisi sebagai anak dari perempuan yang telah merenggut kebahagiaan wanita lain.
“Bentar, Kak. Aku cuci muka dulu.”
Arini berdecak berkali-kali. “Salatnya jangan lewat dong, Dek. Dosa loh ditinggalin. Apalagi salat Subuh.”
Farzan hanya nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala. “Ketiduran, Kak. Biasanya nggak begini. Cuma tadi malam nggak bisa tidur aja.”
“Lain kali kalau ketiduran, langsung salat jangan ngapa-ngapain dulu. Ngerti?”
“Ngerti, Kakak Sayang. Ya udah, sekarang aku cuci muka dulu. Habis itu kita video call,” janji Farzan sebelum mengakhiri panggilan.
Kedua tangannya terangkat ke atas meregangkan tubuh yang terasa pegal. Menggendong tubuh kurus perempuan tadi malam, ternyata bisa membuat ototnya menegang. Farzan mengembuskan napas lesu saat ingat ada orang asing di flatnya.
“Bahaya kalau kakak lihat,” gumamnya mulai panik.
Sambil mengucek mata, ia berdiri lantas beranjak menuju tempat tidur.
“Mbak,” panggil Farzan membangunkan.
Perempuan itu bergeming.
“Mbak,” ulangnya lagi menendang pinggir tempat tidur, sehingga wanita tersebut tersentak.
Netra hitam lebar itu langsung membesar, kemudian beredar ke sekeliling. Sedetik kemudian, ia meringis karena kepala terasa pusing.
Farzan hanya berdiri sambil berkacak pinggang. “Udah sadar, ‘kan? Sekarang silakan pergi.”
Lagi-lagi perempuan berwajah tirus itu melotot bingung. “Lo siapa? Kenapa gue bisa ada di sini?”
Dia menarik selimut menutupi tubuh yang masih berpakaian lengkap. “Lo apain gue tadi malam?” tanyanya sambil meraba di bagian bawah selimut.
Tawa singkat keluar dari sela bibir Farzan. “Makanya kalau minum jangan kebanyakan, Mbak. Untung ada saya yang tolongin. Kalau nggak, mungkin udah diculik dan diperkosa sama dua bule tadi malam.”
Bibir terisi penuh itu sedikit terbuka ketika kening berkerut. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam, sebelum tertunduk lesu.
“Udah ingat? Nah, sekarang silakan pergi dari sini sebelum ada yang datang,” usir Farzan berusaha sopan.
“Sorry, udah nuduh lo macam-macam. Thanks juga udah tolongin gue.” Wanita itu mengangkat pandangannya.
“You’re welcome.” Farzan menyatukan kedua tangan di depan kepala. “Please, sekarang Mbak pergi ya. Saya nggak mau ada kesalah pahaman.”
Perempuan itu keluar dari selimut yang membungkus tubuh, kemudian mengambil tas yang tergeletak di lantai. Dia malu sekali karena telah menuduh Farzan yang bukan-bukan. Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, ia berdiri takut-takut sambil membungkukkan tubuh.
“Sekali lagi makasih ya,” ucapnya sembari merapikan rambut di sela pusing yang masih terasa.
Farzan mengangguk singkat sambil melirik jam dinding. Dia ingin gadis ini cepat pergi, agar bisa memenuhi janji untuk video call dengan Arini.
Pemuda itu mengulurkan tangan ke arah pintu. “Silakan.”
Perempuan bertubuh semampai itu melangkah menuju pintu, namun kembali membalikkan tubuh menghadap Farzan.
“Nama gue Nadzifa. Gue ke sini cuma buat liburan aja.” Dia nyengir kuda sebelum melanjutkan perkataan. “Gue tahu ini nggak penting buat lo. Tapi gue nggak mau lo berpikir aneh-aneh tentang gue.”
Farzan memiringkan kepala sambil mengerling ke arah pintu. Pertanda gadis itu sudah harus pergi dari sana. Khawatir juga jika Bram datang pagi-pagi ke flatnya. Apalagi pemuda berkacamata tersebut tinggal di flat sebelah.
Gadis bernama Nadzifa itu kembali memutar tubuh menghadap pintu, lantas mengayunkan kaki lagi. Langkahnya berhenti ketika Farzan membukakan pintu.
“Wah kebetulan lo buka pintu, Zan. Tadi ma—” Tiba-tiba sosok yang tidak ingin ditemui Farzan muncul di sela pintu.
Netra di balik kacamata itu memelotot ketika melihat perempuan berada di flat sahabatnya pagi-pagi sekali. Keningnya berkerut ketika pandangan berpindah kepada Farzan. Sudah pasti menuntut penjelasan.
“Nanti gue ceritain,” ujarnya.
Nadzifa hanya tersenyum gugup kepada Bramasta.
“Sekali lagi thanks ya. Kalau lo nggak datang tepat waktu, gue pasti—”
“Udah, Mbak. Saya terima kok ucapan permintaan maaf dan terima kasih dari Mbak. Sekarang pergi ya,” kata Farzan tak sabar.
Kepala Nadzifa manggut-manggut. Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, ia pergi dari sana dengan langkah gontai.
“Ternyata lo diam-diam menghanyutkan, Man,” goda Bramasta menepuk pelan dada Farzan setelah gadis itu menghilang di dalam kotak besi.
“Sialan.” Tangan Farzan naik ke atas, lalu mengusap wajah Bram.
Mereka berdua berjalan memasuki flat yang terlihat berantakan, gara-gara kejadian tadi malam.
“Cuci dulu tuh otak lo. Jangan salah paham.” Farzan mengempaskan tubuh di sofa.
Bram ikut duduk di sebelah sang Sahabat dengan tenang. Ah, tidak tenang juga karena senyum usil masih tergambar jelas di parasnya.
“Gimana nggak suuzan coba. Pagi-pagi ada cewek di flat lo.” Bram tampak antusias. “Udah gitu tadi malam pulang dadakan, tanpa pamitan juga. Wajar dong kalau gue pikir kalian ngapa-ngapain.”
Farzan berdecak malas sambil bersandar di sofa. Dia mulai menceritakan kejadian tadi malam tanpa mengurangi atau melebihkan. Termasuk dengan celotehan Nadzifa ketika bangun, sebelum tertidur lagi.
“Dia ngajak lo nikah?” seru Bram tak percaya.
Farzan mengangkat bahu singkat. “Jangan berpikir kalau lo percaya dengan ucapan orang mabok.”
Bram menegakkan tubuh sambil memangku tangan. “Zan, Zan. Lo pikir ucapan orang mabok nggak bisa dipercaya?”
“Justru orang mabok itu suka ngomong jujur,” sambungnya lagi.
“Udah ah, nggak penting juga.” Farzan mengibaskan tangan malas. Dia kemudian berdiri lagi, berniat membersihkan wajah di kamar mandi.
“Mau ke mana lo?”
“Cuci muka. Ngantuk banget. Nggak bisa tidur tadi malam,” sahut Farzan tanpa menoleh kepada Bran.
“Nggak bisa tidur karena ada cewek cakep?” Bram tidak berhenti menggoda sahabatnya.
“Cakep apaan? Kurus kayak gitu,” teriak Farzan yang sudah berdiri di depan wastafel.
“Iya deh. Bagi lo yang paling cantik itu Kak Arini,” balas Bram ikutan teriak juga.
Farzan hanya tergelak sambil geleng-geleng kepala. Dia segera menggosok gigi, kemudian mencuci muka. Tak lupa juga membasahi rambut bagian atas, agar rapi ketika disisir.
“Sana gih balik. Gue mau VC sama Kak Arini,” usir Farzan mengibaskan tangan singkat.
Senyum usil tergambar jelas di paras Bramasta. Dia berdiri setelah membuang napas singkat. Tangannya bergerak menepuk pundak Farzan dua kali.
“Take your time, Man. Jangan lupa dua jam lagi kita ke kampus,” tutur Bram sebelum beranjak ke luar flat.
Farzan hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi sahabatnya. Setelah memastikan pintu flat tertutup, ia langsung bergerak menuju sofa. Tempat dirinya tidur tadi malam.
Tak lama setelah melakukan panggilan video, wajah cantik Arini sudah memenuhi layar ponsel.
“Akhirnya bisa lihat kamu, Dek,” kata Arini tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipi.
Pemuda itu tersenyum mengamati wajah kakak iparnya yang tampak sedikit pucat. Meski begitu, tidak mengurangi kecantikan alami yang dimiliki perempuan berusia awal empat puluh tahun tersebut.
“Maaf tadi malam ada masalah dikit, jadi nggak bisa VC sama kakak.”
Kening Arini berkerut bingung. “Masalah apa? Kamu nggak kenapa-napa ‘kan, Dek?”
Farzan menggelengkan kepala dengan seulas senyum. Dia suka Arini yang perhatian seperti ini. Ternyata penyakit yang diderita tidak membuat wanita tersebut melupakan dirinya.
“Aku keluar sama teman-teman, trus lihat ada cewek Indonesia yang diganggu sama dua orang bule.”
“Trus?” Arini tidak bisa menutupi raut khawatirnya.
“Alhamdulillah mereka langsung kabur waktu aku ancam.”
“Syukurlah kalau gitu.” Sesaat kemudian iras wajah Arini berganti jail.
“Cewek yang digangguin cantik nggak? Masih muda? Single?” cecarnya sambil menaik-naikkan kedua alis.
“Kakak apaan sih?” sungut Farzan dengan wajah mengerucut.
“Ya kali aja ketemu soulmate gitu, Zan. Jangan sampai ketikung sama Alyssa loh nanti. Udah ada yang nungguin tuh anak,” tanggap Arini tersenyum lebar.
Aku berharap perempuan itu kamu, Kak, batin Farzan terasa sesak.
“Al dan El lagi di sekolah ya, Kak?” tanya Farzan mengalihkan pembicaraan.
Wanita berkerudung itu berdecak dua kali. “Kamu ini persis kayak Mas Brandon. Kalau nggak mau tersudutkan, langsung ganti topik.”
“Bukannya Kakak yang gitu? Kok malah nuduh Mas Brandon,” balas Farzan menyipitkan mata elangnya.
Bola mata Arini naik ke atas seperti sedang berpikir.
Farzan kembali memperhatikan reaksi kakak iparnya. Dia tahu sekarang memori Arini kembali kacau.
“Kakak udah minum obat?”
Wanita itu bergeming.
“Kak?” panggil Farzan.
“Eh? Apa?” Arini kembali melihat ke kamera. “Kamu cepat pulang ya, Dek. Kakak kangen.”
Pemuda tersebut mengangguk berkali-kali dengan tubuh mulai bergetar. Perasaannya terasa sakit melihat kondisi Arini seperti ini.
“Pasti, Kak. Aku akan pulang secepatnya. Aku janji akan jagain Kakak baik-baik,” desisnya tercekat.
Bersambung.....
Delapan bulan kemudian
Hampir delapan belas jam perjalanan dari Zürich menuju Jakarta, membuat Farzan tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Dia sudah tidak sabar bertemu lagi dengan Arini, wanita yang sangat dirindukan saat ini. Sejak beberapa jam yang lalu, foto wanita itu yang selalu dilihatnya di pesawat.
Akhirnya Farzan selesai menempuh pendidikan di kota yang dikenal dengan nama lain Turicum tersebut. Pemuda itu berencana untuk bekerja di perusahaan otomotif dibandingkan harus mengelola perusahaan sang Ayah yang kini ditangani oleh Brandon, kakak tirinya. Apalagi perusahaan The Harun’s Group tidak bergerak di bidang otomotif, melainkan properti dan garment.
Dua jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Farzan berhasil mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta. Seperti biasa, tidak ada yang menjemputnya di bandara karena kondisi kesehatan Arini sedang tidak baik. Kedua keponakannya juga bersekolah, sementara Brandon sibuk dengan pekerjaan di perusahaan.
“Pulang sama apa, Zan?” tanya Bram menepuk bahu Farzan.
“Taksi. Biasa,” jawab Farzan singkat.
Bramasta senyam-senyum melihat wajah semringah sahabatnya. “Senang banget mau ketemu sama pujaan hati.”
Farzan meninju pelan perut Bram, lantas melingkarkan tangan di lehernya. “Pujaan hati apanya?” sungut pemuda itu.
Pemuda berkacamata itu meringis kesakitan dan berusaha melepaskan lingkaran tangan sahabatnya.
“Lo udah janji nggak bakal bahas itu di Jakarta, Bram,” protes Farzan setelah menurunkan lengannya.
“Ya sorry. Lagian gue ‘kan nggak nyebut merek, Zan,” ucap Bram menggerakkan leher yang terasa sedikit sakit.
Farzan kembali mengalihkan pandangan ke tempat baggage conveyor berada. Sorot mata elangnya mencari keberadaan dua koper besar yang diangkut dari Zürich.
“Cari pacar gih sana, biar nggak berlarut-larut tuh perasaan,” saran Bram membuat Farzan kembali menoleh kepadanya.
Pemuda bertubuh tinggi tegap tersebut mengangkat bahu singkat, lantas menggelengkan kepala.
“Kenapa?”
“Ngapain cari pacar kalau cuma buat pelarian,” tanggapnya singkat, “kasihan anak orang dong.”
Bram tertawa mendengar perkataan sahabatnya. Entah berapa kali ia menyarankan hal yang sama kepada Farzan dan sudah berapa kali juga mendengar jawaban serupa.
“Ya udah. Gue harap, lo bisa kuat, Zan.” Bram menepuk lagi pundak sahabatnya tiga kali.
Setelah menemukan barang bawaan masing-masing, mereka berdua segera keluar dari area pengambilan bagasi. Senyuman kembali menghias paras tampan Farzan, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Arini.
Begitu tiba di pintu keluar terminal kedatangan, senyuman itu memudar seketika. Langkah Farzan berhenti saat melihat perempuan yang tidak ingin lagi ditemuinya, kini berdiri di antara puluhan orang yang menunggu kedatangan keluarganya.
“Kenapa, Zan?” Bram bingung sendiri melihat reaksi aneh Farzan.
“Hah?”
“Apanya yang hah? Kenapa berhenti? Counter taksi ada di sebelah sana,” kata Bram menunjuk sebelah kanan pintu masuk terminal.
Farzan menelan ludah, kemudian menurunkan topinya ke bawah. Dia mempercepat langkah menuju tempat pemberhentian taksi.
“Lo kenapa sih, Zan?” Bram sudah berjalan di samping Farzan setelah mengejarnya dengan napas mulai tersengal-sengal.
“Gue pengin cepetan nyampe rumah aja. Kangen sama Mama dan Papa,” desis Farzan asal.
Bramasta menatap curiga sahabatnya. Dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan pemuda itu. Empat tahun mengenal Farzan, ia tahu persis ada yang disimpan olehnya.
“Ya udah. Gue cabut duluan ya. Jangan lupa weekend kita nongkrong di Beer Garden,” pungkas Farzan ketika melihat taksi yang dipesan tiba.
Dia segera meninggalkan Bram yang kebingungan dengan perubahan sikapnya barusan. Taksi mulai berjalan pelan meninggalkan area terminal kedatangan internasional, termasuk dengan perempuan yang dilihat Farzan. Mata elangnya terpejam erat saat tubuh bersandar di jok mobil.
“Gimanapun, dia adalah Ibu kamu. Dia yang melahirkan kamu, jadi harus tetap berbakti ya, Dek.”
Penggalan nasihat yang kerap diberikan Arini kembali terngiang di pikiran pemuda itu. Tangannya naik lagi ke atas, mengusap wajah dengan kasar. Dia mendesah pelan sebelum bersuara.
“Pak, boleh balik lagi ke tempat tadi?” pintanya merasa tak tega meninggalkan perempuan paruh baya itu sendiri di depan pintu terminal.
Taksi segera berputar arah lagi menuju terminal kedatang internasional. Selang beberapa menit kemudian kendaraan roda empat tersebut berhenti di area drop-off penumpang.
“Bisa tunggu sebentar, Pak? Saya cuma sebentar. Argo jangan dimatikan,” ujar Farzan sebelum membuka pintu mobil.
Setelah memastikan Bram sudah tidak ada lagi di sana, ia segera turun dari mobil lalu melangkah ke tempat wanita paruh baya itu berdiri. Ternyata sosok yang ingin dihindari tadi masih berdiri di sana, menunggu kedatangannya.
Farzan menghela napas berat, sebelum menarik tangan kurus itu menjauh dari kerumunan. Sorot matanya menjelajahi wajah yang kini sudah menua. Tidak ada lagi kecantikan yang dulu dibanggakan di sana. Kerutan sudah menghiasi area mata dan kening. Rambut putih juga mendominasi mahkota hitam tebal yang dulu melengkapi sempurnanya kecantikan seorang Rahayu Harun, istri kedua Sandy Harun.
“Kenapa Mommy bisa ada di sini?” tanya Farzan dengan sorot mata dingin kepada wanita yang telah melahirkannya.
Perbuatan Ayu di masa lalu benar-benar membuat Farzan malu. Apalagi ia juga hasil dari perbuatan buruk sang Ibu yang menjebak ayahnya hingga hamil sebelum menikah. Bagi pemuda itu hanya Maylisa Harun yang diakui sebagai ibu di depan teman-temannya.
“Arini yang kasih tahu kalau kamu datang hari ini,” jawab Ayu tanpa bisa menyembunyikan kerinduan dengan buah hati.
Lagi-lagi Farzan mendesah. “Mommy nggak ngerecokin Papa lagi, ‘kan?”
Ayu menggeleng lesu. “Mommy ke sini hanya ingin ketemu sama kamu, Nak. Mommy kangen.”
Tangan yang mulai berkerut itu naik membelai pinggir wajah Farzan yang sudah menunjukkan sisi dewasanya. Dia tumbuh menjadi pemuda yang tampan melebihi kakaknya dulu.
“Sekarang udah ketemu, ‘kan? Sekarang Mommy balik lagi ke Uluwatu.” Farzan memperlihatkan wajah memohon.
Ayu kembali menggeleng seraya mengulas senyum. “Arini sudah pesankan apartemen untuk Mommy tinggal selama satu minggu.”
“Kamu nggak perlu khawatir, Mommy janji nggak akan ganggu Mas Sandy dan Mbak Lisa lagi.” Ayu menggenggam erat kedua tangan Farzan. “Toh kamu juga sudah cukup untuk menjamin kehidupan Mommy,” sambungnya kemudian.
Kening Farzan berkerut dalam ketika mencoba menganalisa perkataan Ayu.
“Kamu akan handle perusahaan Papa, ‘kan?” Ayu mengajukan pertanyaan yang membuat Farzan terkesiap. “Tentu iya, ‘kan? Mommy tahu kamu pasti akan dapat setengah dari group perusahaan itu.”
Pemuda itu tidak menyangka sang Ibu masih saja memikirkan materi. Bahkan setelah dipenjara, Ayu masih belum berubah. Dia tidak habis pikir bagaimana Arini bisa membiarkan ular berbisa seperti ini berkeliaran di Jakarta.
Sorot mata elang Farzan menajam ketika menatap Ayu lurus. Kedua tangan menggenggam erat bahu yang begitu kurus.
“Jika itu alasan Mommy ingin tinggal bersama denganku di sini, sebaiknya buang aja jauh-jauh.” Farzan menarik napas mencoba mengendalikan amarah yang mulai naik. “Aku nggak mau kerja di perusahaan Papa. Lagian perusahaan itu milik Mas Brandon. Jadi jangan pernah berpikir hidup Mommy akan sejahtera denganku.”
Farzan kembali menegakkan tubuh. Dia melangkah pergi meninggalkan wanita itu tak jauh dari pintu keluar terminal kedatangan. Hati terasa sakit ketika menyadari sang Ibu hanya menginginkan materi, bukan murni karena rasa sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya.
“Farzan,” panggil Ayu namun tak dihiraukan.
Pemuda itu terus melangkah menuju taksi yang akan membawanya ke rumah keluarga Harun. Tempat di mana ia bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Lisa dan terutama Arini.
Sekuat tenaga Farzan menahan bulir bening yang ingin keluar dari netra hitamnya. Dia mendadak menjadi anak laki-laki cengeng. Saat ini yang dibutuhkan adalah bahu Arini, tempat ia biasa menumpahkan air mata ketika merasa sedih dengan nasibnya.
Bersambung....