“Menikah sama Amel, atau kamu enggak usah balik ke rumah Mama.” Satu kalimat to the point yang diucapkan Aisyah saat pertama kali teleponnya diangkat, membuat sang putra menggeram di tempatnya. Dia langsung mengeratkan pegangan pada benda elektronik yang masih menempel di telinga kanannya.
Lelaki beralis tebal itu mengembuskan napas panjang. “Mama, masa kalimat pembukanya seperti itu? Tidak ada niat menanyakan kabar anaknya, gitu?” keluhnya seraya memijit pelipis. “Aku juga sudah lama tinggal terpisah sama Mama, ya kali tidak rindu?”
Karena sejak tahun pertama menjadi dosen, dia pindah ke salah satu rumah kontrak di dekat kampus. Selain mempertimbangkan lokasinya yang lebih dekat dengan kampus, daripada jarak dari rumahnya, sedikit banyak tuntutan Aisyah yang menginginkannya segera menikah juga ikut menjadi pertimbangan. Secara tidak langsung, dia menghindari tuntutan sang mama dengan kabur.
“Apakah pantas kamu bertanya seperti itu sama mamamu sendiri? Harusnya Mama yang tanya! Mau sampai kapan kamu mengelak dari Mama, Adib? Mama pusing mikirin kamu. Makin tua kok makin enggak bisa diatur? Disuruh nikah aja susah. Sudah begitu, jarang pulang ke rumah mamanya. Sudah merasa tidak punya mama kali, ya?”
Embusan napas lelaki itu kian gusar. Posisi duduk yang semula tegak, berubah sedikit condong ke depan. Dia menumpu kepala di meja kerjanya. Ekor matanya menatap ke sekeliling, memastikan tidak banyak orang di sana. Beruntung sekali suasana kantor cukup lengang. Karena memang saat itu masih waktunya para dosen mengisi materi di kelas masing-masing. Para staf yang biasanya siaga di kantor, entah sedang ke mana.
Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, akhirnya Adib buka suara karena sang mama yang terus menuntutnya. “Mama, aku lagi di kampus. Aku minta tolong sama Mama, kalau mau bicara soal itu, nanti, ya. Aku akan pulang ke rumah Mama, kita bahas di sana.” Meskipun sudah kesal saat kalimat pembuka telepon sang adalah kalimat menyebalkan itu lagi, Adib memang harus bisa menahan diri untuk tidak lepas kendali. Karena selain kondisi yang tidak tepat—sebab masih berada di tempat kerja—Adib tidak ingin pembicaraan dengan mamanya itu kembali berakhir dengan perdebatan seperti yang sudah-sudah.
“Enggak ada bantahan. Mama sudah kepalang kesal sama kamu. Mumpung anak durhaka yang super sibuk ini sedang kedatangan setan putih untuk mengangkat telepon mamanya sendiri, Mama enggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, atau kamu akan kabur lagi dan susah dihubungi.”
Sekali lagi Adib memijat pelipis. Ekspresi yang tampak di wajahnya yang terbilang rupawan meski dengan warna kulit sawo matang, adalah kusut. Kentara sekali bahwa dia enggan dengan pembahasan yang digiring oleh sang mama. Meskipun pada satu sisi ada rasa bersalah karena memang dia sering mengabaikan pesan dan telepon wanita itu. Ya, demi tidak mendengar tuntutan untuk segera memiliki pendamping hidup, Adib bahkan sampai seperti itu.
“Kenapa diam? Kamu sudah sadar kalau apa yang Mama bilang adalah benar, kan?”
Adib menegakkan tubuh tetapi tidak menjawab pertanyaan sang mama. Dia malah menatap laptop yang masih menyala karena pekerjaannya belum selesai. Yakin bahwa pembicaraan dengan Aisyah ini akan memakan banyak waktu, lelaki yang bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu kampus swasta itu perlahan menutup operasi benda itu. Yang lebih penting saat ini adalah meredakan emosi sang mama. Jadi, dia memang harus mengesampingkan sebentar pekerjaannya. Lagi pula dia memang sudah tidak mempunyai jadwal mengajar setelah ini. Pekerjaan tadi bisa dikerjakan di rumah.
“Ahmad Adib Al-Faroby, kamu dengar Mama bicara, kan? Kenapa malah diam saja?”
Adib menghela napas. “Iya, mamaku sayang. Aku dengar. Ini aku lagi siap-siap untuk pulang ke rumah Mama. Kita akan bahas permintaan Mama yang satu itu.” Adib memasukkan laptop hitam itu ke dalam ransel berwarna hitam pula. Dia rapikan beberapa buku dan jurnal yang berserakan, menumpuknya di satu tempat khusus yang ada di sudut meja. Terakhir, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia melangkah untuk keluar dari kantor Fakultas Tarbiyah itu.
“Awas saja kalau enggak datang. Nanti Mama penggal lehermu biar tahu rasa.”
Adib meringis tanpa suara. Mamanya ini kalau sudah marah, sadis juga. Sangat bisa membuat bulu kuduk merinding. “Kalau aku dipenggal, Mama enggak bakal punya mantu, lo. Alih-alih punya mantu, anaknya pun mungkin bakal tidak ada.”
Aisyah mendengkus keras. “Sembarangan kalau ngomong. Kalau ada di depan Mama, sudah Mama pentokkan ke pintu tuh kepala kamu.”
Lagi, Adib meringis tanpa suara. Dengan spontan dia menggigit bibir mendengar kata-kata mamanya yang kian sarkasme. “Mama, tenang, Ma. Tidak usah emosi begitu, ya. Ini aku kan sudah mau pulang ke rumah Mama.”
“Mama begini juga karena kamu! Mama kesal sama kamu yang hobi berkelit terus kalau Mama ngomong.” Adib beristigfar dalam hati. Jika saja tidak ingat akan siapa dan jasa apa yang telah wanita itu lakukan untuknya, sudah pasti Adib memarahinya habis-habisan. Mood-nya sedang buruk, tetapi dipaksa untuk berdebat. Apalagi kata-kata yang selalu Aisyah ucapkan penuh penekanan dan tidak mau dibantah.
“Berkelit bagaimana, sih, Ma? Perasaan aku tidak ada benarnya di mata Mama.”
“Ya karena kamu selalu membantah Mama. Coba enggak membantah, pasti Mama enggak akan sebegininya sama kamu.”
Mama, oh, Mama. Kenapa makin menjadi-jadi, sih?
“Pak Adib masih ada kelas?” sapa Pak Alka ketika berpapasan dengan Adib di depan pintu. Dosen yang juga mengajar di Fakultas Tarbiyah itu baru saja datang dari kelas—usai mengisi materi. Adib yang tampak sedikit melamun meski kakinya terus melangkah itu lantas mengalihkan pandang ke arah dosen tersebut. Dia kemudian menggeleng sambil tersenyum, memberi isyarat kalau sedang menerima telepon.
“Pamit, ya, Pak,” pelan Adib seraya menjauhkan ponselnya dari telinga. Pak Alka mengangguk maklum, kemudian berlalu menuju dalam kantor. Sedangkan Adib, terus melangkah menuju parkiran dengan panggilan yang masih terhubung dengan Aisyah. Tentunya dengan omelan-omelan yang wanita itu ucapkan sepanjang perjalanan.
Begitu sampai di tempat mobilnya terparkir, Adib membuka pintu kemudian duduk di belakang kemudi. Dia pejamkan matanya untuk menetralisir kekesalan. Membiarkan sambungan teleponnya terhubung dengan Aisyah tanpa pembicaraan apa pun. Tentu saja Adib lelah. Saat memilih untuk fokus dengan dunia karier terlebih dahulu yang baru menginjak tahun ketiga, Aisyah selalu memaksanya untuk segera menikah. Apalagi dengan perempuan yang sama sekali tidak diinginkannya.
“Adib! Kamu ke mana? Kenapa diam saja?”
Anak semata wayang Aisyah itu membuka mata, kemudian menghela napas. “Mama Aisyah, Mama sudah tahu dengan apa yang aku inginkan sekarang, ‘kan? Aku mohon sama Mama, berhenti menuntut aku. Bisa, kan, Ma? Aku lelah dipaksa-paksa terus seperti ini, Ma. Apalagi Mama memaksakan Amelia untuk jadi istriku. Aku lebih kenal Amel daripada Mama. Dari zaman SMP aku dan dia sudah berteman malah.”
“Harusnya itu malah bagus. Kalau kamu tahu bagaimana Amelia, lebih nyaman buat kamu dan dia menjalani pernikahan kalian.”
Adib menutup pintu mobilnya yang ternyata masih terbuka. Beruntung belum ada kendaraan yang akan keluar. Kalau saja ada, sudah pasti dia ditegur oleh pengendara lain. Menyamankan posisi duduknya sebentar, dia lantas menjawab sang mama, “Justru itu yang buat aku menolak, Ma. Tolong, ya, Ma. Jangan paksa aku menikah dengan Amel. Aku sama sekali tidak ada rasa apa-apa sama dia.”
“Urusan cinta itu belakangan, Dib. Yang penting itu kenyamanan. Cinta bisa datang kapan aja.”
"Nah, itu. Aku juga tahu kalau cinta itu tidak terduga. Tapi, Ma. Seperti kata Mama barusan soal kenyamanan, kalau boleh jujur, aku sudah nyaman dengan status teman antara aku dan Amel, Ma. Paling mentok status kakak dan adik. Aku hanya tidak mau membuat salah satu dari kami malah terluka, terkhusus Amel, Ma. Karena tidak adanya penerimaan dari laki-laki yang menjadi suaminya itu pasti sangat menyakitkan. Mama mau melihat aku menyakiti Amel karena tidak bisa memperlakukan dia selayaknya istri nantinya? Mama mau melihat aku menciptakan pernikahan yang tidak bahagia karena salah satu dari yang menjalaninya berdasar keterpaksaan? Menikah itu enggak mudah buat aku, Ma. Butuh persiapan matang. Iya, kalau Amel bisa sabar menghadapi aku, kalau tidak bagaimana? Terus bagaimana dengan keluarganya? Mereka pasti tidak akan terima kalau aku memperlakukan putri kesayangan mereka seperti itu.”
Aisyah berdecak di seberang sana. “Kamu ini anaknya siapa, sih, Dib? Pinter banget cari alasan. Sepanjang itu juga kalimatnya.”
“Ya anaknya Mama dan Papa dong. Anaknya siapa lagi?”
Aisyah terdiam dalam beberapa saat. “Lalu, kalau bukan Amel siapa, Nak? Mama milih Amel karena Mama yakin dia bisa jadi pendamping yang baik untuk kamu. Lagi pula selama ini kamu enggak pernah dekat dengan cewek selain dia. Bahkan banyak mahasiswimu yang terang-terangan ingin dekat denganmu, tapi kamu membentangkan jarak di antara mereka,” protes Aisyah.
Adib bukan tipe lelaki yang sangat tampan. Rupanya bisa dibilang biasa-biasa saja. Namun, lesung di pipinya yang muncul ketika tersenyum menjadi daya pikat tersendiri. Kulitnya tidak begitu terang, tetapi cukup memberi kesan manis. Meski begitu, banyak dari mahasiswinya yang mengaku suka, bahkan ada yang mengatakan kagum terhadap sosok Adib Al Faroby, yang menjadi dosen tetap Fakultas Tarbiyah, di universitas tempatnya mengajar tersebut.
Adib bukan tidak tahu jika banyak di antara mereka ada yang memang sengaja mendekatinya, tetapi sesuai yang dikatakan Aisyah, lelaki itu memang membentangkan jarak. Dalam artian, di dalam kelas dan dunia perkuliahan Adib akan menjadi sosok peramah dan sangat terbuka. Namun, tidak untuk hal-hal yang menyangkut privasinya.
“Perempuan di dunia ini bukan hanya Amel, Ma. Lagian Mama tidak bosan apa memaksakan sesuatu yang tidak aku inginkan? Aku saja bosan ditekan terus sama Mama,” aku Adib pada akhirnya.
Terdengar embusan napas kasar dari balik ponsel Adib. Aisyah bukan tidak memiliki alasan mengapa dia selalu mendesak putra semata wayangnya itu untuk segera menikah. Usianya sudah makin tua. Sedangkan penerus keluarganya hanya Adib seorang. Aisyah juga takut jika anaknya malah memilih melajang seumur hidup. Oh, tidak. Aisyah tidak bisa tinggal diam jika putranya benar-benar berpikir demikian.
Bagi Aisyah, sudah cukup dia membiarkan Adib bebas dari tuntutannya untuk segera menikah sejak lulus kuliah sarjana. Bahkan wanita itu tetap mengizinkan putranya untuk mengontrak rumah itu, padahal dia tahu tujuan Adib keluar dari rumah. Adib harus menikah secepatnya, begitu pikiran Aisyah. Belum lagi, desas-desus yang mulai terdengar tidak mengenakkan telinga karena Adib belum saja menikah. Memang, seharusnya kita tidak selalu mendengarkan ocehan orang lain tentang apa yang kita perbuat. Namun, jika terus-terusan dibiarkan begitu, yang ada mereka makin melunjak. Aisyah tidak mau lagi anaknya menjadi buah bibir para tetangganya.
Sementara itu, Adib tahu semuanya. Dia tahu dengan apa yang menjadi kekhawatiran sang mama hingga mendesaknya untuk segera berkeluarga. Karena memilih menghindari Aisyah dengan mengontrak rumah di dekat kampus, bukan berarti dia mengabaikan sang mama dan yang bersangkutan dengannya. Dia hanya meminta waktu untuk sukses terlebih dahulu di dunia karier, baru setelah itu akan menikah.
“Mama enggak akan bosan untuk yang satu itu, Adib. Kamu harus menikah, Nak.” Suara Aisyah kembali terdengar setelah beberapa waktu berlalu tanpa percakapan. “Mama hanya takut kalau kamu memilih sendirian selamanya, Nak.” Akhirnya alasan paling utama itu terucap dari bibir Aisyah. Suaranya sudah memelan. Hanya kekhawatiran yang tertangkap dari nada bicara wanita itu.
“Yang bilang aku tidak mau menikah itu siapa, mamaku sayang? Aku pasti menikah.” Tanggapan Adib itu membuat Aisyah menghela napas lega. Setidaknya, masih ada keinginan untuk menikah dalam diri putranya itu. “Tapi tidak dalam waktu dekat ini, ya, Ma. Lagi pula Adib baru dua puluh sembilan tahun, ‘kan, Ma.”
Aisyah yang semula berpikir bahwa putranya akan luluh setelah mengucapkan kalimat menenangkan seperti tadi, kembali dibuat kesal oleh kalimat lanjutan yang selalu mengarah pada pengelakan. Wanita itu kembali naik darah. “Baru dua puluh sembilan kamu bilang? Kamu mau nikah di umur berapa, Adib? Di usia empat puluh tahun? Yang benar saja? Kamu enggak lihat, adik-adik sepupu dan teman-teman kamu yang usianya jauh di bawah kamu aja udah punya anak. Bahkan udah ada yang punya dua dan tiga anak, Dib,” omel Aisyah lagi. Dia benar-benar tidak habis pikir mengapa putranya itu sangat keras kepala untuk urusan ini.
“Ada Alfa, kok, Ma. Orang tua dia malah santai banget, tidak seperti Mama.” Adib membekap mulut saat menyadari kalimat apa yang baru saja diucapkan kepada sang mama.
“Kamu ini, ya. Alfa, ya, Alfa. Itu bukan urusan Mama. Sekarang ini urusan kamu. Ayo, apa lagi yang kamu tunggu? Pekerjaan? Kamu sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai dosen, belum lagi kerjaan online kamu itu. Usia kamu juga sudah cukup matang untuk berkeluarga, Nak. Calon? Kan Mama sudah menawarkan Amel ke kamu? Tapi kamu malah menolak. Ayolah, Nak.”
Adib menghela napasnya perlahan. Berbicara dengan Aisyah dan menyangkut pernikahan, pasti akan selalu menguras tenaga. Adib yang bersikeras mengelak, sedangkan Aisyah yang bersikukuh menuntut, membuat pembicaraan di antara keduanya tidak akan pernah absen dari yang namanya perdebatan. Leaki bertubuh kurus tetapi cukup jangkung itu, memijat kening perlahan. Pusing mulai menyergap.
“Iya, Ma. Oke, oke. Terserah Mama saja, deh. Aku akan segera bawa gadis yang akan kujadikan istri, tapi bukan Amel orangnya, dan bukan dalam waktu dekat ini,” putus Adib pada akhirnya. Dia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dari Aisyah. Tidak sopan, memang. Namun, jika Adib tidak melakukannya, Aisyah tidak akan berhenti mengomel dan membuat waktunya terulur untuk menemui Amelia. Padahal hari sudah makin sore. Adib baru ingat jika telah menyetujui janji temu dengan Amelia tadi, sehabis keluar dari kelas.
Mengabaikan pikiran yang kacau karena perdebatan dengan mamanya tadi, Adib menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudi dengan kecepatan standar. Dia memilih untuk tidak terburu-buru karena kepalanya masih pusing. Lebih tepatnya menghindari bahaya, jika dia memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata pada saat pikirannya kalut.
Hampir sepuluh menit dari perjalanan, ponselnya yang berada di kursi samping kemudi berbunyi. Adib melirik sekilas layar benda elektronik yang masih menyala itu. Tertera nama Amelia di sana. Meski sebenarnya lelah melihat nama pemanggil yang tertera, Adib memutuskan memelankan laju mobilnya dan mengangkat panggilan dari perempuan itu.
“Iya, kenapa, Mel?” tanya Adib dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Dia tidak mau terus-terusan berada dalam fase emosi. Bisa-bisa dia stroke mendadak.
“Kamu masih lama enggak, Dib? Aku udah nunggu kamu dari setengah jam yang lalu, lo. Kalau kamu emang enggak niat ketemu sama aku, enggak usah iya-in aja sekalian ajakanku, ‘kan bisa, Dib? Daripada molor kayak gini, bosen tahu sendirian di sini.”
Niat hati untuk bersikap tenang meski suasana hati memang tidak baik-baik saja, sepertinya tidak akan terealisasi. Bagaimana tidak? Baru pembukaan saja, perempuan yang akan Adib temui itu sudah marah-marah. Makin menambah kekesalan hatinya saja. Adib mengeratkan pegangan pada setir mobil. Giginya sudah bergemeretak, menahan gejolak emosi yang makin membuncah dalam hati. Ini salah satu alasan Adib tidak bisa menerima gadis ini masuk ke dalam hidupnya, melebihi batas teman. Amelia sering mengambil kesimpulan sepihak tanpa menanyakan alasan Adib terlebih dahulu. Ditambah kurang sabar, maunya marah terus kalau apa yang diinginkan tidak segera dikabulkan. Bisa dibilang childish, tidak, sih?
Adib memijat keningnya yang semakin terasa pusing. Dia memilih menepikan mobilnya sebentar untuk berbicara dengan Amel. Tentu saja menghindari risiko kecelakaan karena konsentrasinya akan terpecah.
“Harusnya kamu bisa mengerti aku sedikit saja, Mel. Setidaknya aku masih menghargai kamu dengan menerima ajakan pertemuanmu meski aku banyak kerjaan,” balas Adib dengan nada suara bercampur emosi.
“Ya, tapi enggak gini juga, ‘kan, Dib? Aku bosen, kamu juga harusnya ngertiin aku, dong. Kalau kamu mau telat kamu kasih tahu aku, biar aku bisa berangkat agak telat juga,” protes gadis itu tidak mau kalah dan tidak mau disalahkan. “Setelah kamu selalu nyuekin aku, enggak mau aku ajak bertemu sama teman-teman yang lain, sekalinya mau nerima ajakan pertemuan aku, kamu malah bikin aku kesal kayak gini. Capek tahu?!”
Terbuat dari batu atau bagaimana sih, Amelia itu? Adib menggelengkan kepala beberapa kali. Tidak mau makin emosi, akhirnya dia memutuskan, “Sudahlah, Mel. Daripada mengomel seperti itu, mending kamu pulang saja, deh. Aku juga sudah tidak ada mood buat bertemu kamu. Tidak ada gunanya juga aku banyak menjelaskan sama kamu. Yang ada kita malah terus berdebat. Asal kamu tahu, yang merasa lelah bukan hanya kamu, Mel. Aku pun. Banyak kerjaan, iya. Mahasiswiku hampir UAS, naskah yang harus aku benerin dari penerbit juga banyak.”
Karena selain menjadi dosen, Adib mempunyai pekerjaan sampingan, yaitu editor di salah satu penerbit mayor. Sebenarnya, dia sudah ingin berhenti saja menjadi editor. Namun, mengingat betapa sulit perjuangannya hingga bisa lolos menjadi editor di penerbit mayor yang cukup terkenal itu, Adib mengurungkan niatnya untuk resign. Dia tidak ingin perjuangannya itu hilang begitu saja. Meski sulit menjalani dua pekerjaan sekaligus, Adib memilih sabar saja. Dia berusaha mengatur manajemen waktunya sebaik mungkin agar tidak berbenturan, tentunya tidak merugikan dirinya sendiri.
“Maaf, aku membuat kamu kecewa lagi kali ini. Aku tidak mungkin menemui kamu dengan keadaan aku yang juga lagi kacau, Mel. Aku harap kamu bisa mengerti aku, ya?” pungkas Adib. Tanpa menunggu jawaban darinya, dia melempar ponsel itu ke kursi di sampingnya. Dia telungkupkan kepalanya ke sisi setir dan berdiam dalam beberapa saat untuk menenangkan diri. Embusan napasnya terdengar memburu, kentara sekali sedang menahan emosi. Namun, dengan keadaan belum benar-benar tenang, dia kembali menegakkan tubuh, bersiap untuk putar balik perjalanan menuju rumahnya sendiri. Biarlah sang mama akan mengomel kembali karena dia tidak jadi pulang ke sana. Daripada makin menambah masalah karena pikirannya sudah benar-benar kacau, lebih baik menghindarinya dengan tidak bertemu dengan orang-orang yang memang menjadi sumber pikiran itu.
Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, Adib perlahan memutar balik mobil yang dikendarainya. Namun, belum juga berhasil berbalik arah, dia dikejutkan dengan teriakan seorang perempuan berpenampilan acak-acakan yang muncul tiba-tiba. Adib memang berhasil tidak menabrak perempuan itu karena langsung mengerem mendadak, tetapi nasib nahas tetap tidak terelakkan. Tidak tertabrak mobil Adib, dia malah tertabrak mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Perempuan itu berteriak saat tubuhnya terpental ke atas dan jatuh menubruk aspal dengan cukup keras. Darah-darah segar muncrat dari hidung, telinga, bahkan mulutnya.
Sementara Adib, menegang di tempatnya duduk. Dalam beberapa detik, matanya tidak berkedip sama sekali—tetap mengarah kepada perempuan yang sudah tergeletak mengenaskan agak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Perlahan tetapi pasti, tubuh lelaki berkemeja liris putih-hitam itu bergetar. Keringat-keringat dingin menetes dari beberapa bagian tubuhnya karena perasaan terkejut yang sangat kentara. Bibir tebalnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Kedua bola matanya digenangi cairan-cairan bening. Karena bersamaan dengan itu, ingatan tentang kejadian tragis yang pernah dia alami beberapa tahun yang lalu, kembali terlintas.
“Papa,” desisnya seraya mengeratkan pejaman mata. Ternyata, lebih lima belas tahun berlalu, tidak bisa mengubah perasaannya. Dia tetap tidak baik-baik saja jika teringat kejadian itu lagi.
Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan, pikiran Adib berangsur-angsur tenang. Dia terus melanggengkan istigfar dari bibirnya. Beberapa waktu kemudian, dia membuka mata, kemudian melongok ke jendela mobil. Tidak begitu lama melongok, dia menarik kepalanya ke dalam mobil karena tidak kuat dengan bau anyir yang langsung menyeruak ke hidungnya. Hampir saja lelaki itu muntah karena begitu menyengatnya bau darah itu. Tubuhnya yang semula mulai tenang, kembali bergetar. Ternyata dia masih setrauma itu dengan kecelakaan dan yang berhubungan dengan darah.
“Tenang, Adib. Jangan terbawa perasaan seperti ini.” Dia berusaha memberi ultimatum agar dirinya tidak makin kalut. Kalau dia tidak bisa menguasai diri, bagaimana bisa dia akan tiba di rumahnya? Dengan keadaan diri yang sedang kalut, tentu saja sangat berbahaya untuk mengemudi.
Setelah merelaksasi diri dalam beberapa saat dengan menarik napas kuat-kuat dan mengembuskannya perlahan, akhirnya dia kembali melongok ke sisi jendela mobil. Ekor matanya melirik sisi kanan-kiri jalan. Namun, meski sudah lebih lima menit berlalu dari kecelakaan itu, tidak ada tanda-tanda kemunculan orang yang akan membantu. Perempuan itu masih tergeletak tak berdaya di tempatnya. Tidak ada pergerakan apa pun. Jangankan bergerak, merintih pun tidak. Sepertinya dia langsung kehilangan kesadaran sesaat setelah tertabrak. Mobil Inova yang menabraknya pun sudah menghilang entah ke mana. Lagi pula, suasana jalan yang memang sepi, tidak ada rumah-rumah penduduk, mana mungkin ada yang lewat? Kecuali orang-orang yang memang mempunyai kepentingan seperti Adib.
“Kasihan sekali gadis itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan?” lirih Adib seraya menatap lekat-lekat perempuan itu. Bukan tidak dengan alasan dia masih berada di dalam mobil sementara di luar ada orang yang membutuhkan bantuan. Adib menarik kepalanya kembali ke dalam mobil, kemudian menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Lantunan istigfar dan kalimat-kalimat thayyibah masih terus dia baca untuk menenangkan diri. Dia ingin sekali segera membantu perempuan itu, tetapi bayangan masa lalu dan trauma itu membuatnya maju mundur untuk bertindak. Banyak pertimbangan yang dia pikirkan terlebih dahulu untuk menolong perempuan itu. Salah satunya tanggapan keluarganya serta keluarga perempuan itu nantinya. Dilema pun menyergap.
Namun, pada akhirnya, jiwa sosialnya yang tidak tega melihat tubuh perempuan korban tabrak lari yang tergeletak mengenaskan di pinggir jalan raya itu pun membuat Adib memilih memajukan mobilnya mendekati gadis itu. Begitu tiba di tempat yang cukup aman untuk memarkir mobil, dia lantas turun dan membuka pintu belakang mobil tersebut. Dengan menutup hidung menggunakan masker demi meminimalisir terciumnya bau anyir dari darah perempuan itu, Adib melangkah dengan pelan mendekati perempuan itu. Celingak-celinguk sebentar ke sisi kanan-kiri jalan, akhirnya Adib segera membopong gadis itu ke dalam mobilnya. Tidak peduli dengan darah segar yang terus mengalir dan berceceran mengotori kemeja dan mobilnya. Setelah itu, dia segera kembali ke kursi kemudi kemudian segera melajukan kendaraan beroda empat itu menuju rumah sakit langganan keluarganya. Karena memang tidak ada pilihan terbaik bagi Adib selain membawa perempuan itu ke rumah sakit. Dia butuh pertolongan dari orang-orang yang lebih paham.
Dalam perjalanan Adib menelepon Aisyah untuk datang ke rumah sakit itu tanpa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia pikir lebih baik memberi tahu sang mama jika sudah tiba di sana. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan perempuan itu. Pikiran kacau karena ulah mamanya dan Amelia beberapa waktu yang lalu, seolah-olah menguap begitu saja. Berganti kepanikan dan kekhawatiran akan keselamatan perempuan itu.
Kendati demikian, dalam keadaan panik seperti itu, Adib harus tetap bisa mengendalikan diri agar tenang dan bisa selamat sampai tujuan. Dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, tentunya dengan tetap berhati-hati dalam mengemudi, agar segera sampai di rumah sakit yang dituju.
“Please, bertahan, ya. Jangan membuat saya merasa bersalah untuk kedua kalinya, meski bukan saya yang membuatmu seperti ini,” lirih Adib saat mobilnya sudah memasuki parkiran rumah sakit. Dengan cekatan dia turun dari pintu depan, kemudian bergerak ke pintu belakang dan menggendong perempuan itu untuk segera membawanya ke ruang UGD.
“Dokter Andika!” teriak Adib kepada seorang pria paruh baya berkacamata minus yang hendak melangkah ke luar lobi rumah sakit. Entah keberuntungan atau apa, Adib sangat bersyukur bisa bertemu dengan dokter langganan keluarganya itu di sana. Padahal pada hari-hari sebelumnya harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu. Kecuali dalam keadaan tertentu. “Tolong teman saya, Dok!”
Dokter itu lantas memanggil dua perawat laki-laki untuk membawa brankar dorong untuk membawa perempuan itu. Sementara Adib, terus melangkah menggendong perempuan itu mendekati Dokter Andika. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah anak tunggal Aisyah itu selain kepanikan. Dia bahkan seperti tidak merasakan beban sama sekali, padahal sedang menggendong seseorang.
Begitu dua perawat laki-laki itu datang dengan membawa brankar dorong, Adib langsung membaringkan perempuan itu dan membiarkan para tenaga kesehatan itu membawanya ke ruang perawatan gawat darurat.