Bab 1

Aku mendesah frustasi, saat tak menemukan namaku di daftar pemenang. Sesulit itukah? Atau diriku yang tak tahu membuat cerita menarik? Sehingga karyaku tak pernah dilirik oleh editor. 

Sangat sulit bagiku untuk mendapat info lebih tentang cara menulis, membaca artikel saja tak cukup. Sehingga aku mengunduh hampir semua platform novel online, agar aku membaca banyak cerita yang berbeda. 

Kadang aku merasa iri dengan orang-orang yang dengan gampang masuk  list pemenang lomba. Aku hanya bisa menghibur diri dengan kalimat, "Jangan berkecil hati, mungkin saja mereka juga pernah melalui apa yang kau lalui, ini hanya masalah jam terbang".

Aku sudah mencoba segala pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, mulai dari membuat kanal Youtube, mengupload video original di salah satu aplikasi kumpulan video pendek, bahkan aku juga menjual jasa melukis henna craft. Namun, lagi-lagi tak ada yang berhasil. Sesial ini kah diriku?  Apakah Tuhan lupa, membuat naskah tentang kebahagiaan untukku? Ataukah malaikat melewatkan namaku saat pembagian rezeki?

Memiliki kepribadian Introvert menjadi penghalang, circle pertemanan terbatas, sehingga sulit untukku mencari bahan untuk dijadikan sebuah cerita. Rasa malu dan tak enak hati akan melanda saat ingin menggali ide dari teman atau keluarga.

Pernah sekali, aku mencoba bertanya pada kerabat yang berprofesi sebagai prajurit bela negara. Akan tetapi, ia menolak dengan alasan ‘rahasia negara’, padahal tak ada yang salah dengan isi pertanyaanku. Setelah itu, dia membicarakanku dan membuat cerita di story Instagramnya, menjelekkanku karena berani mengorek tentang sebuah rahasia negara. Sementara, aku hanya bertanya tentang pangkat dan syarat menikah bagi seorang prajurit.

Seberapa banyak naskah yang kukirim, selalu ditolak dengan kalimat, "cerita sudah bagus dan gaya penulisan yang rapi. Namun, cerita Anda tak sesuai dengan gaya platform kami". Pertama kali mendapatkan penolakan, membuatku tak pantang menyerah, aku kembali merevisi dan membuat naskah baru. Akan tetapi, berita yang tak menyenangkan itu terus berdatangan membuatku kerap berputus asa.

Aku hanya bisa menangis di pojokan saat kekecewaan lagi-lagi menyerangku. Tak hanya mengirim naskah, aku juga mengikuti beberapa kompetisi di media sosial, tapi lagi-lagi tak ada harapan untuk penulis pemula sepertiku. 

Saat mereka bertanya mengapa aku ingin menulis, jawabanku pasti hanya satu, karena aku ingin mencari uang dan pengakuan dari orang-orang yang meremehkanku. Hanya ini yang bisa kulakukan, duduk berdiam di depan laptop jadulku. 

Aku tak pandai bersosialisasi, sehingga aku tak suka bekerja di toko atau terjun ke pekerjaan yang sering orang-orang sebut ‘Multilevel Marketing’, yang mengharuskan untuk lihai berbicara di depan banyak orang. Kuliahku masih stay di semester akhir, sehingga aku tak bisa mencari pekerjaan kantoran. Dan aku tak punya keterampilan tangan seperti kakakku, yang pandai menjahit dan mendesain pakaian.

Aku hanya bisa menciptakan karangan yang ayahku saja menganggapnya sampah. Ia selalu merendahkan keputusanku, mengatakan bahwa aku tak berguna. Beliau selalu membandingkan dengan kakakku yang memiliki banyak penghasilan.

Bukan hanya beliau, mertua dan iparku juga ikut memojokkanku. Mereka akan berteriak jika aku berdiam diri di kamar. Sehingga menyulitkanku untuk berkonsentrasi. 

Bukan mauku untuk menikah di usia muda, perjodohanlah yang menjadi penyebab statusku harus berubah. Aku pernah berpikir, kemungkinan orang tuaku punya utang yang tak sanggup mereka bayar, sehingga akulah yang dijadikan jaminan. Namun, aku sadar hidupku bukanlah cerita sinetron.

Hidup di keluarga suami yang memiliki perekonomian memadai, menjadi sebuah bumerang bagiku. Mereka sering menganggapku beban hidup bagi suami. Bukankah tugas suami untuk menafkahi istrinya? Lantas, mengapa mereka yang sibuk mengurusi keuanganku?

Suamiku sebenarnya baik, tetapi karena terlalu patuh kepada ibunya, ia juga ikut-ikutan keras padaku. Menomor satukan orang tua memang tak masalah. Namun, kebahagiaan istri juga sangatlah penting dan menjadi patokan kesuksesan seorang suami. 

Pernah sekali, suamiku meminta izin untuk pindah ke rumahnya saja—rumah yang ia beli saat masih bujang—mengikuti kemauanku. Namun, mertuaku melarang dengan alasan adik perempuan suamiku juga sering berkunjung ke rumah mertuanya, sehingga tak ada yang menemani dan mengurusnya di rumah. Lagi-lagi aku mengalah, bukan karena takut kepada mertua, tapi aku menghargai dan menghormati keputusan suamiku. 

“Tak usah banyak kerja, kau istirahat saja. Jangan memaksakan diri, aku tidak akan marah jika kamu tidak membersihkan dalam sehari.” Perkataannya saat itu membuatku sedikit lega, karena aku mengira, bahwa mertuaku adalah orang yang pengertian. Namun, ternyata aku salah. Saat itulah awal cerita, bagaimana mereka menyebarkan berita yang tak benar tentangku.

***

Anara Alfathunnisa Zayba—itu namaku. Indah bukan? Tapi tak seindah kehidupanku. Semenjak pindah ke rumah mertua, aku tak pernah tertawa, tak pernah bercanda, apalagi bercengkrama bersama keluarga dari pihak suami.

Karena itulah, aku sering berbohong agar bisa keluar dari rumah yang mirip penjara. Ralat, sepertinya penjara akan lebih nyaman dibanding rumah mertua. 

“Nara! Di mana baju gamis biru yang kau cuci tempo hari?” teriakan mertuaku menghentikan aktivitasku. Sejak menjadi menantu, semua pekerjaan rumah dialihkan padaku. Ibu mertua sengaja tak melanjutkan kontrak pembantu sebelumnya, sebab aku sudah ada di rumah itu. Terkadang, aku merasa menjadi pembantu berkedok menantu. 

“Di lemari, rak kedua sebelah kiri, Bu,” sahutku yang masih berada di dapur, menggoreng ikan asin kesukaannya.

“Kau menyuruh Ibu mengambilnya sendiri, menantu macam apa kau ini? Dasar pemalas!” gerutu Mira—adik suamiku. 

Mira memiliki usia yang terpaut dua tahun di atasku, membuatnya tak ingin menghormatiku, padahal aku adalah istri kakaknya. Secara terang-terangan ia telah mengibarkan bendera perang padaku.

“Aku sedang memasak, mengapa bukan kau saja yang membantunya?” Aku meliriknya sekilas. Kulihat ia membulatkan mata terkejut mendengar ucapanku. Sebelumnya, aku tak pernah membantah ucapan Mira dan ibu, tetapi kali ini, aku tak ingin terus menerus direndahkan. 

Semakin aku diam, semakin mereka menginjakku. Selama ini aku tak takut. Namun, aku memilih untuk diam karena tak ingin mencari masalah. Akan tetapi, kesabaranku sepertinya sudah menipis. 

Gelar menantu pembangkang dan pemalas sudah tertanam di pikiran orang-orang yang tak tahu menahu kebenaran. Mereka seakan terlalu asyik bercerita tentang orang lain, tanpa harus bertanya tentang kebenarannya. Mengapa? Karena bergosip adalah kesenangan bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan, bagi mereka kebenaran tidaklah penting.

“Kau sudah berani membantah? Siapa yang mengajarimu? Kau harusnya tahu diri, tugas menantu memang seperti itu, bukan?” Mira mendekap kedua lengannya dan memberiku tatapan merendahkan. 

Aku segera mematikan api kompor. “Apakah kau juga dijadikan pembantu di rumah mertuamu?” 

“Jelas tidak! Mengapa aku harus repot mengotori tanganku untuk memberi mereka makan?” 

Aku tersenyum miring menanggapi ucapannya, untung saja suara dengusanku tak terdengar. Ia tak ingin mengotori tangannya di rumah mertua, tetapi menyuruhku mengotori tanganku di rumahnya. Sungguh egois, hanya memikirkan diri sendiri.

Aku segera meninggalkan Mira yang masih saja bercerita tentang kelebihannya di antara para saudara suaminya. Terlahir dari keluarga yang mampu, membuatnya buta akan kekurangan diri sendiri. 

Segera kuhampiri ibu mertuaku yang terlihat kesulitan mencari baju di lemari yang menurutku sangat besar. Apakah ia ingin menyaingi lemari selebriti kelas atas? Baju yang begitu banyak, apakah terpakai di kondisinya yang sudah menua? Sering kali diriku tersenyum kecut melihat mereka menghamburkan uang demi sehelai baju yang hanya terpakai beberapa kali saja. 

“Jika kau ingin ke suatu tempat, pakai saja baju Mira, tak usah beli lagi. Jangan menghamburkan uang,” petuahnya yang kubalas anggukan.

Lebih baik aku memakai baju lamaku daripada harus memakai baju Mira, dan berisiko menjadi bahan ejekan para tetangga. Sudah dipastikan, bahwa Mira akan menceritakan hal itu pada tetangga dan memberinya bumbu sambal pedas mercon,  agar ceritanya terdengar dramatis. Seperti yang sudah lalu. Dia yang menawarkan, tapi dia pula yang menyebarkan berita palsu bahwa aku iri dengan kehidupannya. Sampai baju pun aku memaksa agar ia meminjamkan padaku. 

“Kau juga harus berpenampilan menarik, jangan hanya memakai baju yang itu-itu saja,” omelnya yang lagi-lagi kutanggapi dengan senyuman.

Padahal, dia yang melarangku untuk membeli baju baru, tetapi dia juga yang menyuruhku untuk berpenampilan layaknya orang kaya. Orang berkelas tidak dilihat dari seberapa mahal baju yang ia kenakan atau seberapa terkenal brand yang menempel di tubuhnya. Melainkan dari isi kepala, attitude, manner dan karaktermu sendiri.

“Apakah novelmu sudah selesai? Katanya menjadi penulis punya banyak uang, bukan? Lantas mengapa kau masih bergantung pada kakakku?” Lagi-lagi si Nenek Lampir itu kembali menghampiriku.

Untuk apa kakaknya menikah denganku jika kebutuhan hidup pun harus aku yang mencari?

“Bukankah tugas suami untuk memberi nafkah kepada istri. Kau juga seperti itu, kan?” tanyaku dengan nada mengejek. “Oh iya. Meski sudah menikah kau masih bergantung pada orang tua, bukan?” lanjutku sambil menutup mulut berpura-pura syok akan kenyataan itu.

 Plak!

“Beraninya kau!” teriakan beserta tamparan mendarat tepat di pipi kiriku. “Dia anakku, wajar jika aku membantunya. Daripada kau, tak memiliki ibu sehingga tak ada yang menjadi sandaranmu.”

Sakit? Tidak! Aku sudah kebal dengan segala bentuk pukulan fisik. Justru ucapannyalah yang membuatku kesakitan. Bukan mauku tak memiliki ibu, bukan kehendakku sehingga ibu pergi meninggalkanku. Aku juga merindukan sosoknya, tapi Tuhan sepertinya lebih menyayangi beliau. Ibu sudah tenang di sana, ia tak merasa kesakitan lagi.

“Ingat, Nara! Kau hanya benalu di rumah ini, seandainya Lidya saja yang menjadi menantuku,” harapnya yang kuaminkan dalam hati.

“Jika Lidya yang menjadi menantu perempuan di rumah ini, Ibu harus mempekerjakan asisten rumah tangga. Karena ia tak akan mau mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengotori tangan cantiknya,” balasku dengan suara yang meninggi.

“Kau ... masih saja membantah. Dasar! Wanita tak tahu diri!”

Ya, sebut saja aku seperti itu. Hanya aku yang hina, hanya aku yang tak pantas berada di keluarga ini. Keluarga toxic yang tidak ingin menghargai orang lain. Bagi mereka harta adalah segala-galanya.

Bab 2

“Di saat alur hidupmu tak sesuai rencana, yakinlah bahwa Tuhan lebih tahu yang mana lebih baik untuk dirimu” _ Anonim.

***

“Kau kembali berselisih dengan Ibu dan Mira?” Aku mengerjap lalu menatapnya sejenak.

Bukan hanya mertua dan ipar, lelaki yang ada di hadapanku saat ini pun sering membuatku frustrasi. Pernikahan yang baru menginjak tahun pertama tak bisa kukatakan baik-baik saja.

Sebulan setelah menikah dengannya aku dikagetkan dengan kenyataan, bahwa dirinya ternyata memiliki perempuan lain. Pantas saja, di malam pertama pernikahan, ia tak menyentuhku dan segera bergegas keluar dengan alasan pekerjaan. Alasan yang tak masuk akal, sepertinya hanya dia yang bekerja di malam sakral bagi pengantin baru.

Dan sekarang, aku pun tahu alasan di balik segalanya, suamiku lebih memilih menjamah wanita lain dibanding diriku. Ironis, apakah diriku tak menarik di matanya? Sebagai wanita aku merasa tidak jelek, tinggi semampai, kulit kuning langsat, dan memiliki tubuh yang cukup bagus. Memuji diri sendiri tak apa, kan? Siapa lagi yang akan memuji, jika bukan diri sendiri?

“Jangan terlalu keras pada mereka,” sahutnya lagi sambil melepas kancing di lengan kemejanya.

Aku menatapnya sinis. “Harusnya, Mas, ngucapin kalimat itu pada mereka. Aku tak pernah keras pada mereka, malah sebaliknya, merekalah yang kasar padaku,” aduku padanya.

“Kata Ibu kau yang tak ingin diberi masukan.” Aku mendengus kesal, bagaimana bisa dirinya terlalu percaya dengan orang tua itu.

“Coba, deh, Mas. Saat hari libur, Mas tinggal di rumah, sekali aja. Supaya Mas tahu bagaimana perlakuan mereka padaku? Tolong jangan menutup mata hanya karena Mas nggak cinta sama aku,” timpalku dengan wajah garang yang sudah tak bisa kutolerir lagi.

“Kamu, kok, ngomong gitu sih, Ra? Untuk apa aku menikahimu jika aku tak mencintaimu,” elaknya mengalihkan pandangan dariku.

Aku tahu arti tatapan itu. Ketika seseorang berbohong, ia tak akan bisa menatap mata lawan bicaranya. Meski usia pernikahan kami yang baru seumur jagung, tetap saja aku sudah paham betul dengan arti tatapan dan gestur yang ia lakukan.

Aku mendecakkan lidah. “Sudahlah Mas, aku tak ingin melanjutkan perdebatan ini lagi.” Aku segera keluar dari kamar. Ruang kerja almarhum ayah mertuaku menjadi tujuanku saat ini.

Ruang kerja yang sebenarnya mirip perpustakaan mini, bernuansa coklat dengan rak kayu jati membuatku merasa nyaman. Bau buku yang selalu menjadi obat penenang kala rasa marah merajaiku. Ruangan ini selalu menjadi tempat persembunyianku saat aku tak ingin diganggu.

Sebelum Pak Sudrajat—ayah mertuaku— meninggal, ia memberikan kunci ruang kerjanya yang berada di belakang rumah. Bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama. Mertua dan iparku tak pernah berkunjung, dengan alasan tak ingin teringat tentang beliau. Sehingga hanya akulah yang membersihkan tempat ini.

Ayah mertuaku sangat baik padaku, beliaulah yang membelaku saat Ibu Maya dan Mira menindasku. Karena beliau pulalah, sehingga Mas Agung memilihku menjadi istri, ketimbang Lidya yang saat itu menjabat sebagai kekasihnya.

Tak heran setelah pernikahanku, Lidya selalu menerorku dan melontarkan kata-kata kasar setiap kali kami bertemu. Ya, kami sering bertemu karena berada di kompleks perumahan yang sama. Yang pada akhirnya kuketahui, bahwa ia memilih pindah agar Mas Agung dengan mudah mengunjunginya.

Meski setiap malam Mas Agung selalu berada di rumah, tetapi tak menutup kemungkinan, bahwa ia akan bertemu dengan Lidya di hari kerja. Jika ditanya, apakah aku cemburu? Jawabannya sudah pasti iya.

Meski dijodohkan, aku tak menampik bahwa sekarang rasa suka itu telah ada. Apakah setiap wanita gampang jatuh hati jika telah menetap bersama? Ataukah hanya hatiku yang terlalu gampang menumbuhkan bibit cinta, meski aku tahu bahwa dia telah memiliki wanita lain.

Aku harus menerima cinta yang bertepuk sebelah tangan ini, yang dipastikan tak memiliki harapan sama sekali. Jika ditanya lagi, mengapa aku masih bertahan? Jawabannya mungkin terdengar bahwa aku hanya mencintai uang. Memang betul, siapa yang tidak menyukai uang? Bahkan aku sendiri rela mengubur masa indahku demi mendapat sponsor untuk kuliahku.

Ayahku yang sakit-sakitan tak mampu membiayai kuliahku, sehingga aku terpaksa menerima perjodohan ini. Perjodohan yang telah disepakati oleh ayahku dan ayah mertuaku saat aku masih duduk di bangku SMA.

Jika menerima perjodohan ini, sudah dipastikan bahwa aku akan mendapat suntikan dana untuk melanjutkan pendidikan yang kini berada di semester akhir. Meski memilih jurusan yang tak kusukai, tapi aku berkuliah dengan sungguh-sungguh. Sayang rasanya, telah menghabiskan banyak uang jika aku menjalaninya dengan setengah hati.

Getaran ponsel menyadarkanku dari lamunan yang sedari tadi kugeluti. Kulirik layar ponsel dengan model terbaru, pemberian Mas Agung tempo hari yang membuat Mira ketar ketir. Sehingga ia segera merengek ke ibunya agar dibelikan ponsel yang lebih mahal. Alhasil, wanita cerewet itu mendapat omelan dari Mas Agung, karena ponsel yang ia pinang di konter terdekat baru berusia dua bulan.

“Kau di mana?” Kubaca pesan singkat suamiku. Jelas itu hanyalah sebuah formalitas yang mungkin hanya sandiwara semata.

“Aku sedang merevisi skripsi, dan membutuhkan ketenangan.” Kukirim balasan untuk pesannya dan segera mematikan ponselku. Aku tak peduli dengannya. Ia juga tak akan marah dan khawatir jika aku tak ada di sisinya.

Aku cukup muak dengan perhatiannya yang menurutku semu, Mas Agung seperti menutup mata dengan ketidaknyamanan yang selama ini kurasakan. Rasa cintaku padanya tertutupi dengan sejuta kekecewaan yang ia ciptakan untukku. Istri mana yang tak marah jika suaminya tertangkap basah bergandengan dengan wanita lain? Tak kecewa melihat suaminya tersenyum semringah menatap gadis lain, yang istri sah saja tidak pernah mendapatkannya.

Aku pernah berkunjung ke salah satu kafe terkenal di daerahku, untuk menemui para sahabatku. Niat awal ingin refreshing, justru membuatku makin over thingking. Mas Agung tak melihatku, tapi aku juga berusaha agar tak terlihat olehnya. Untung saja para sahabatku tak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Mereka mengira kehidupan pernikahanku baik-baik saja seperti para pasangan pada umumnya.

Aku terperanjat dari lamunanku, saat mendengar suara daun pintu terbuka. Kulebarkan bola mata ketika melihat Mas Agung berada di ambang pintu. “Untuk apa lagi dia kemari?” batinku bergemuruh.

“Kau mematikan ponselmu?” Ia menghampiriku dengan air muka khawatir.

Khawatir? Ah, tidak mungkin! Dia hanya lelah sehingga wajahnya terlihat lesu. Berharap bahwa laki-laki itu akan khawatir padaku, sepertinya harapan yang terlalu tinggi dan mustahil kudapatkan.

“Lowbat kayaknya,” bohongku berusaha mengelak. Aku berdiri mengambil salah satu buku di rak.

“Kau sedang apa di sini?” Matanya menelusuri setiap sudut ruangan ini.

Aku menunjuk laptop yang telah menyala di atas meja. “Tuh, buat skripsi,” sahutku singkat lalu kembali duduk.

Aku kembali fokus pada aktivitasku, membuka halaman demi halaman buku yang sedang kupegang, mencari informasi yang kubutuhkan. Jantungku berdegup kencang, menjelaskan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja berada di dekatnya. Namun, aku berusaha untuk terlihat santai, memusatkan fokusku ke buku.

Suara langkah kakinya mengacaukan konsentrasiku, kulirik sepatunya yang makin mendekat ke arahku. Ia menarik kursi yang berada di sampingku dan duduk di sana. Kutatapnya sekilas, guratan letih jelas terlihat di wajah tampannya.

“Ada yang bisa kubantu?” tawarnya yang kubalas dengan gelengan. Meski kutahu bahwa dia juga alumni jurusan yang sama, bedanya, dia di New York sedangkan aku di Depok. Namun, lagi-lagi egoku menolak menerima bantuannya. “Mengapa kau sangat keras kepala?” Terdengar decakan di seberang telingaku, dan kuyakini bahwa sekarang ia merasa kesal.

Aku hanya terdiam tak menanggapi, mulutku seperti memiliki beban sehingga sulit bergerak.

“Anara! Mengapa kau seperti ini? Pantaskah seorang istri mengabaikan suami?” Ia tiba-tiba berdiri dan meneriakiku.

Aku mendongak menatapnya. “Suami?” Aku ikut berdiri. “Oh iya, aku lupa kalau kita sudah menikah.” Kutepuk jidatku berpura-pura tak ingat.

Wajah gusar Mas Agung membuatku tak berkutik, sekarang aku tak takut padanya. “Maumu apa, Nara?” ucapnya penuh penekanan, berusaha menekan suaranya agar terdengar tetap stabil, padahal aku yakin bahwa sekarang ia ingin berteriak mengeluarkan amarahnya.

“Aku ingin keluar dari rumah ini?” ujarku santai, lalu mematikan laptop dan menentengnya.

“Baiklah, kita akan pindah besok, kemasi barang-barangmu.”

Mataku membulat, terkejut dengan penuturannya.

“Wah, aku sangat senang mendengarnya, tapi sayang, bukan itu maksudku.” Kulangkahkan kaki berniat meninggalkannya.

“Lalu?”

Aku yang telah membuka pintu segera berbalik. “Aku ingin bercerai.” Kututup daun pintu dengan keras.

“Cerai? Jangan harap! Kau tak akan pernah bercerai denganku,” berangnya yang terdengar jelas di telingaku.

Bab 3

Sebelum menikah, aku selalu berdoa agar terhindar dari mertua dan ipar yang cerewet, tapi Tuhan berkata lain. Mungkin ini bisa kuanggap sebagai karma. Karena dulu, sebelum ibu tiada, aku sering membangkang, membantah dan tak patuh padanya.

Seandainya ibu masih ada, aku tak akan terombang-ambing seperti sekarang. Tak memiliki sandaran, tak memiliki orang untuk berkeluh kesah membuatku seakan hidup sebatang kara. Padahal, aku memiliki suami, masih punya seorang ayah dan bahkan mempunyai saudara perempuan. Ayah yang ikut dengan kakakku di kota yang berjarak cukup jauh dariku membuatku tak bisa berkunjung, kecuali di hari libur lebaran. Mengingat suamiku juga berprofesi menjadi seorang dosen.

Entah bagaimana caranya, mengatur jadwal kerja yang menurutku terlalu padat. Memiliki usaha di bidang properti sekaligus dosen di kampus bergengsi. Pantas saja, guratan lelah setiap hari menghiasi wajahnya.

Aku membuka koper, memasukkan barang-barangku ke dalam lemari. Hari ini kami resmi pindah ke rumah Mas Agung. Rumah yang tak terlalu besar, tapi membuatku lebih nyaman dibanding rumah mewah yang berisikan orang-orang toxic.

Aku memilih tak satu kamar dengan Mas Agung. Meski awalnya ia menolak, tetapi aku bersikeras untuk tidur di kamar terpisah. Ia mengikuti mauku dengan terpaksa. Setelah mengetahui tentang hubungannya dengan Lidya, aku merasa jijik jika harus tidur bersama dengannya.

Selama empat bulan menikah, dia tak pernah menciumku, apalagi meniduriku. Kami tak pernah melakukan kegiatan suami istri pada umumnya.

Aku yakin, ia mendapat kepuasan dari Lidya. Siapa yang akan menolak, jika wanita sejenis Lidya menggodanya? Wanita dengan kulit putih dan halus bak porselen, memiliki body bagai gitar Spanyol. Apalah dayaku yang memiliki tubuh bak kecapi, lurus tak ada lekukan. Bahkan lemak pun enggan menetap di tubuhku.

“Aku lapar.” Mas Agung tiba-tiba menjulurkan kepalanya di pintu kamarku. Nada bicaranya yang terdengar manja membuat keningku berkerut.

Mengapa jika denganku dia berbeda? Kata kerabat yang sering berkunjung ke rumah mertuaku, Mas Agung terkenal cuek dan tak ekspresif. Lalu mengapa lelaki jangkung itu selalu manja padaku?

Aku segera berdiri dan beralih ke dapur. Untung saja kami sudah berbelanja bahan makanan sebelum ke sini. Rumah Mas Agung cukup bersih meski tak dihuni, sebab setiap hari Minggu ada pekerja yang selalu datang untuk membersihkan rumah. Peralatan rumah yang lengkap membuatku bersemangat untuk memasak.

“Aku akan membantumu mencuci beras.” Ia memotong ujung karung dan mengambil beras menggunakan gelas besar.

Aku menggeleng. “Mas, cara buka karung beras nggak dipotong seperti itu, cukup tarik benangnya saja.” Aku mengambil potongan karung dan menarik benangnya untuk memberinya contoh.

“Sama-sama terbuka, kan? Malah lebih cepat jika dipotong atau digunting,” ujarnya, membuatku memutar bola mata jengah.

Aku mendecakkan lidah. “Kan, karungnya bisa dipakai lagi buat simpan sampah kering.”

“Ya, kan, kita punya kantong sampah, Ra. Ngapain pakai karung bekas?” tanyanya dengan air muka heran.

“Iyain aja, deh, Mas. Nggak akan ada kata lumayan di otak Mas yang terlahir dengan sendok emas.”

Seperti pasangan yang harmonis, bukan? Aku pun kerap heran melihat tingkah kami. Kadang seperti pasangan sesungguhnya, kadang pula bagai pasangan palsu.

Aku bingung dengan sifat Mas Agung, kadang baik, kadang manja, kadang pula memberiku banyak perhatian. Sering kali aku dibuat terlena dan terbuai akan segala bentuk perhatiannya. Namun, lagi-lagi realita menamparku. Kenyataan bahwa ia sering bertemu dengan Lidya menyadarkanku bahwa Mas Agung bukanlah milikku seutuhnya. Apakah ia baik padaku hanya untuk menebus dosa yang telah ia lakukan?

“Bagaimana skripsimu?” tanyanya sambil memasukkan panci ke dalam rice cooker.

“Besok aku akan ke kampus untuk merevisi lagi,” balasku tanpa melihat wajahnya.

“Lagi? Sudah berapa kali kau merevisi skripsimu?” Akhirnya aku menoleh menatapnya, ia juga menatapku iba.

“Dua kali,” sahutku singkat, dan fokus ke sayuran yang sedang kupotong.

“Aku akan memeriksanya nanti.” Finalnya tanpa menunggu persetujuanku.

“Tidak usah, Mas,” tolakku yang mendapat pelototan mata darinya.

“Tak ada penolakan!” Suara tegasnya membuatku terdiam. Sifat otoriternya terlalu mendominasi, sehingga aku tak sanggup mengeluarkan kata-kata dan membalas perkataannya.

Ia selalu saja seperti itu, tak mau terkalahkan dan tak mau dibantah. Bukannya takut, aku hanya tak ingin berdebat panjang lebar dan akan menguras energiku yang selama ini ku simpan.

Bukankah menahan emosi adalah kunci agar wajah tetap awet muda, meski tanpa bantuan skincare sekalipun? Ya, anggaplah seperti itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED