Bab 2

"Chika, ini sudah malam biar aku antar." Mas Irsan mengambil tas yang kubawa.

Baru saja kami melangkah meninggalkan kamar sudah terdengar teriakan Ibu.

"Irsan! mau kemana kamu?" Mau apa lagi perempuan tua ini? Tak henti-hentinya membuat kerusuhan.

"Mengantar Chika pulang Bu, kasihan ini sudah malam," ucap Mas Irsan lesu.

"Oh....jadi dia mau minggat? ceritanya dia marah, tidak terima, terus ngambek gitu?" Wewe gombel itu meracau di ujung tangga rumah ini.

"Ini sudah malam Bu, biar aku antar Chika dulu sebentar." Mas Irsan menarik tanganku, agar segera berlalu dari hadapan Wewe gombel, belum sempat kami beranjak, Ibu kembali berteriak.

"Kalau dia mau pergi, biarkan dia pergi sendiri!" teriak Wewe Gombel lantang, tapi Mas Irsan tak mengindahkannya. 

"Berani kamu keluar dari pintu itu, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai anakku!" Kecewa diabaikan, Wewe gombel mengeluarkan senjata pamungkasnya. Dan Mas Irsan pun, tidak berkutik.

"Chika, kamu tunggu di luar dulu ya? Biar aku bujuk Ibu dulu." Mas Irsan, meletakan tasku yang dia bawa, lalu berjalan kearah Ibu, dan membawa Ibu masuk kekamarnya.

Sebagai istrinya aku merasa tidak hargai, dan terluka dengan sikap Mas Irsan yang terlalu penurut. Harusnya dia bisa mengambil sikap, tahu mana yang bisa dituruti mana yang tidak, tapi ini? Selalu saja aku yang harus mengalah.

Lelah, tentu saja, dengan langkah gontai aku keluar kearah pintu. Biarlah aku pulang sendiri, aku bisa minta Citra, adikku untuk menjemput. Sikap Mas Irsan membuatku semakin yakin dengan keputusanku.

Saat sampai di depan pagar, aku berpapasan dengan Ayah yang baru pulang kerja. Baru saja Ayah turun dari mobil, hendak membuka pagar, tapi diurungkannya karena melihatku.

"Chika, kamu mau kemana malam-malam begini? Bawa tas besar pula? Kamu habis berantem sama Irsan?" cerca Ayah mertuaku.

"Mau pulang kerumah Papa, Yah," jawabku lirih.

"Kok Irsan nggak ngantar? Ini sudah malam lho, jadi bener, kalian bertengkar?" tanya Ayah penuh selidik. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. 

"Ayo, Ayah antar!" Tanpa menunggu persetujuanku, Ayah membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan aku masuk.

Dalam perjalanan aku hanya diam, tidak tahu harus ngomong apa, karena selama ini Ayah selalu bersikap dingin kepada siapa pun yang ada di rumah.

"Kalian ribut kenapa?" tanya Ayah lembut.

Entah mengapa lelaki yang biasanya bersikap dingin dan acuh pada orang lain ini, terlihat sangat perduli dan perhatian padaku. Mungkin merasa iba, melihat wanita pergi sendirian dari rumah malam-malam.

Dengan derai air mata, kuceritakan semua kejadian yang baru saja kualami.

"Aku memang tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam rumah, kamu tahu kan? Aku selalu pergi pagi dan pulang malam,  tapi aku tak menyangka, kalau ibumu masih saja seperti itu." Ayah menjeda ucapannya.

"Ibumu memang keras kepala, egois dan mau menangnya sendiri, sampai kapan dia mau berubah, padahal umurnya sudah tak lagi muda, harusnya dia sadar sikapnya itu menyakiti banyak orang." Aku hanya menyimak penuturan Ayah Mas Irsan ini.

"He...he...harusnya kamu yang cerita, eh...ini kok malah jadi Ayah yang curhat." Mertuaku itu terkekeh sendiri.

Hilang sudah kesan dingin, angkuh dan arogan dalam dirinya, yang ada hanya seorang pria yang ramah dan perhatian. 

"Gang itu masuk kan?" tanya Ayah saat mobil sudah memasuki kawasan rumahku.

"Iya Yah, Ayah masih ingat kan?"

"Tentu saja, yang bercat biru itu kan? Kamu pikir Ayahmu ini sudah tua, hingga jadi pelupa." Ayah terkekeh lagi.

Dibalik sikap dinginnya tenyata Ayah adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan, berbanding terbalik dengan istrinya "Wewe Gombel".

"Sudah Yah, terima kasih," ucapku saat mobil berhenti di depan rumahku.

"Sama-sama, Ayah nggak mampir ya, sudah malam, sampaikan salamku untuk Papamu," ucapnya sebelum berlalu.

Menata debaran hati, aku langkahkan kaki menuju pintu rumah masa kecilku, tempat ternyaman yang kumiliki.

"Ceklek!" pintu terbuka sebelum sempat kuketuk, Papa keluar dengan wajah berkerut keheranan.

"Tadi ada suara mobil di depan, Papa pikir tamu, ternyata kamu Chika. Tadi siapa yang ngantar?" Rupanya Papa penasaran dengan suara mobil Ayah tadi.

"Tadi Ayah mertua yang antar, beliau juga nitip salam buat Papa, dan minta maaf tidak bisa mampir." Kuraih punggung tangan Papa, dan mencium punggungnya. 

Lelaki yang menjadi cinta pertamaku itu, menatapku penuh selidik, melihatku pulang sendiri malam-malam, bawa tas  besar pula. 

"Irsan Mana? kamu kok bawa-bawa tas besar segala ada apa?" Sudah kuduga, Papa akan menanyakan hal ini.

"Sudah malam Pa, Chika capek, besok saja ya ceritanya," jawabku sambil berjalan menuju kamarku.

"Hhh..." Papa menghela nafas panjang, aku tahu ada banyak pertanyaan yang ingin Papa lontarkan, tapi Papa tipe orang yang sabaran, dia akan menungguku bercerita dengan sukarela.

"Kamu sudah makan?" Aku hanya menggeleng malas. 

Aku memang belum sempat makan malam, karena sibuk mengurusi Ibu mertuaku yang rewel itu. 

"Makanlah, tadi Citra dan Cica mencoba resep baru, soal rasa jangan ditanya, Papa tidur dulu, capek seharian ngurus toko." ucapnya sambil berlalu.

Namaku Chika Arianti dua puluh lima tahun, aku sulung dari tiga bersaudara perempuan semua, kami dibesarkan Papaku sendiri yang sudah menduda sejak lima tahun yang lalu.

Mamaku meninggal karena kanker, Papa tidak pernah menikah lagi sejak itu, tiap kami tanya tidak adakah niatan untuk mencari pengganti Mama?

"Mikir kalian tiga perempuan saja, kepala Papa sudah pusing, kalau harus tambah satu perempuan lagi, Papa bisa gila," jawab Papa kala itu.

"Kalau punya istri kan nggak pusing sendiri Pa, bisa pusing berdua ha...ha..." seloroh Cica adik bungsuku, membuat kami semua tertawa.

Mengenang masa-masa dulu membuat aku selalu merindukan rumah ini, rumah yang penuh cinta dan kehangatan.

 "Drt...drt...."

Suara nada dering gawaiku membuyarkan lamunanku, panggilan masuk dari Mas Irsan, suamiku.

"Ya, hallo..."

"Chika, kamu sudah sampai rumah? kamu tadi pulang naik apa? Mas mengkhawatirkan kamu, kok tadi nggak nunggu Mas?" Halah Mas...simpan rasa sok perdulimu itu, jerit batinku.

"Iya Mas, tadi diantar Ayah," jawab lesu, males ngomong sama laki-laki lemah ini.

"Ayah? kok bisa? tapi kamu baik-baik saja kan?" Sekarang aja sok khawatir, tadi dia lebih perduli pada ibunya dari pada aku.

"Aku baik-baik saja, Ayah baik kok, nggak gigit," jawabku sekenanya.

Digigit juga nggak apa-apa Mas....orang ayahmu masih ganteng dan gagah gitu, eh, ngomong apa aku tadi?.

"Syukurlah kamu baik-baik saja, aku akan nyusul kamu besok ya, selamat tidur," ucap Mas Irsan mengakhiri panggilan.

Aku tunggu kedatanganmu Mas, apa kamu cukup punya keberanian untuk memperjuangkan aku?

Bersambung....

Terimakasih sudah membaca cerita receh ku. Jangan lupa review ya?

Bab 3

Netra Papa membelalak sempurna, mungkin beliau tidak percaya dengan cerita yang meluncur dari bibirku baru saja.  

Tentang bagaimana mertuaku memperlakukan aku, yang bisa dibilang tidak manusiawi. Aku diperlakukan seperti babu, mengurus semua kebutuhan rumah itu sendiri. Aku yakin, pembantu yang dibayar sekalipun, tak sanggup melakoni pekerjaanku. 

Belum lagi caci maki dan sumpah serapah, yang terlontar dari mulut Ibu. Dan itu terjadi setiap saat, setiap harinya. Dan aku rela menerima semua, atas nama bakti pada suami. 

Tak lupa kuceritakan tenang sikap Mas Irsan yang lemah, tidak berani mengambil sikap apalagi membelaku di depan ibunya.

Tangan yang mulai keriput itu, melepas kaca mata yang bertengger di wajah, kemudian memijit pangkal hidungnya.

"Papa, tidak percaya, ada seorang Ibu yang berperilaku seperti itu. Walaupun kamu hanya menantu, tidak sepatutnya dia keterlaluan memperlakukanmu. 

"Sebagai orang tuamu, tentu Papa tidak terima. Kamu kami besarkan penuh kasih sayang, kami memperlakukannu penih cinta. Meski tidak memanjakanmu, tapi kami tak pernah menyakitimu, baik secara fisik ataupun secara verbal. 

Bukankah dulu Irsan, berjanji akan membahagiakanmu? Tapi mengapa dia diam saja, melihat kamu disakiti ibunya? Laki-laki macam apa, yang mudah mengingkari janjinya," ucap Papa sendu, netranya menerawang kedepan. Ada luka dalam sorot matanya. 

Teringat saat Mas Irsan memintaku kepada Papa untuk dijadikan istri.

"Om, saya mohon restunya. Saya ingin segera mmenikahi Chika," keringat dingin mengalir di kening Mas Irsan, saat mengungkapkan keinginannya pada Papa.

"Apa kamu yakin dengan kata-katamu?," ucap Papa dingin, Papa memang tak suka banyak bicara, kalau belum terlalu kenal.

"Saya yakin Om, saya akan berikan kebahagiaan untuk Chika, Om. Saya janji," ucap Mas Irsan kala itu. 

"Jaminannya apa?"

"Saya akan kembalikan Chika pada Om, sekiranya Chika, tidak bahagia hidup bersama saya," ucap Mas Irsan, mantap.

Bahkan Mas Irsan, tetep kekeh menikahiku meski ibunya tidak merestui, dan terang-terangan menunjukan ketidak sukaannya padaku.

"Siapa yang kau bawa kesini Irsan," ucap Ibu Mas Irsan dengan nada angkuh.

"Chika Bu, dia calon istriku. Kami berencana untuk menikah dalam waktu dekat," ucap Mas Irsan, dibalas ibunya dengan tatapan dingin dan merendahkan.

"Aku mencintainya Bu, aku mohon ibu merestui kami." Mas Irsan berkata tanpa berani menatap ibunya, sementara tangannya menggenggam erat tanganku, mencari dukungan.

"Dia tidak sepadan dengan kita, jangan harap aku akan mengijinkan kamu menikahinya," wanita angkuh itu, bangkit dari duduknya kemudian berlalu.

Aku memang bukan berasal dari keluarga kaya, tapi aku bukan anak orang miskin. Kami memang terbiasa hidup sederhana, lalu apa salahnya?

Mendengar kalimatnya yang merendahkan membuatku merasa terhina.

"Mas, Aku nggak bisa menikah tanpa restu Ibumu," ucapku, setelah sosok Ibu Mas Irsan tidak terlihat lagi.

"Ayolah Chika...kamu jangan menyerah begitu saja, kita buktikan cinta kita bisa menghadapi apa saja," ucap Mas Irsan, menggenggam tanganku.

"Aku tidak yakin Mas, Mas lihat sendiri kan, ibumu tidak menyukaiku, dia menghinaku miskin," ucapku sengit.

"Ibu tidak bilang kamu miskin," ucapnya tak kalah sengit.

"Iya, tapi kata-katanya merendahkanku."

"Aku yakin, kalau melihat kita bahagia Ibu juga akan bahagia, pasti dia akan merestui kita nanti." Nada suara Mas Irsan mulai merendah.

Mas Irsan tak berhenti merayuku agar mau menikah dengannya, hampir setiap hari datang, meski aku tidak ingin menemuinya.

Lama kelamaan hatiku luluh juga, melihat kegigihan Mas Irsan. Dengan syarat tinggal terpisah dari ibunya, aku menerima pinangannya.

Akhirnya pernikahan digelar secara sederhana di rumahku, tanpa dihadiri oleh ibunya. Hanya dihadiri oleh Ayah dan keluarga besarnya saja.

Bagiku tak masalah, tak mengurangi kebahagiaan kami. 

Dua bulan pertama kami tinggal di rumah Papa, tapi setiap hari ibunya selalu menelfon meminta Mas Irsan pulang.

Aku yang masih trauma dengan sikap Ibu saat pertemuan pertama, tentu menolak ajakan Mas Irsan untuk pulang kerumah orang tuanya.

"Kasihan Ibu, Ka. Dia kesepian, kita pulang ya?" rengekan Mas Irsan, tak urung membuat kepalaku pusing juga. 

"Aku yakin Ibu, akan menerimamu, apalagi kalau kamu memberinya cucu nanti." Mas Irsan tak henti merayuku,  hingga akhirnya aku mengalah.

Kupikir Ibu sudah berubah, tidak membenciku lagi, tapi ternyata kebenciannya semakin menjadi.

Aku diperlakukan tidak lebih dari seorang babu, setiap hari ada saja kesalahanku. Yang masakan keasinan lah, lantai kurang bersih lah, setrikaan kurang rapi lah, sepertinya ibu mertuaku tidak puas, kalau tidak memakiku sehari saja.

 "Aku heran sama Irsan, apa sih menariknya dirimu? Sampai tergila-gila padamu? Atau jangan-jangan kamu pelet anakku?" Tak kutanggapi ocehan Wewe Gombel, percuma hanya menghabiskan energi saja.

"Cantik enggak, kaya enggak, nggak becus kerja, mandul lagi!," kalau dia bukan mertuaku, sudah kuremas mulutnya.

Bagaimana aku bisa hamil kalau setiap hati tertekan begini? Tidak gila saja, aku sudah bersyukur..

 "Chika, apa kamu masih mencintai Irsan?" ucapan Papa, membawa kembali anganku yang mengembara.

"Cinta Pa, tapi Chika lelah kalau harus terus mengalah. Chika nggak sanggup diperlakukan seperti ini terus-menerus, Chika menyerah," ucapku datar, tak ada lagi air mata yang menetes, semua sudah kuhabiskan semalam.

"Kita bicarakan ini dengan Irsan, semua harus diselesaikan dengan kepala dingin," ucap Papa bijak.

"Hhh..." Papa menghela nafas, "Papa sampai lupa, belum memeriksa stock barang yang habis." Papa bangkit dari duduknya.

"Sekarang kamu bantu Papa ya, masih ingat caranya kan?" tanya Papa dengan senyum menggoda. 

Saat ini kami sedang berada di ruang bagian belakang toko, yang menjadi kantor Papa. Papaku membuka mini market di belakang rumah, yang kebetulan menghadap jalan raya, toko ini tembus kerumahku.

Dari mini market inilah, Ayah menghidupi kami anak-anaknya. Dulu sebelum ada Indomar*t dan Alfamar*t, mini market Papa ini rame sekali. Sejak kehadiran dua retail besar itu, penghasilan menurun, tapi masih cukup untuk membayar sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bukankah setiap rejeki harus disyukuri, berapapun itu.

"Mas Irsan, bilang akan menyusul kesini hari ini Pa," ucapku sebelum Papa sibuk dengan pekerjaannya.

"Kita lihat saja nanti Ka, Mas Irsanmu maunya bagaimana?"

Seharian kuhabiskan waktu untuk membantu Papa di toko, tak terasa hari sudah sore, biasanya Mas Irsan pulang jam lima.

"Mbak Chika, ada Mas Irsan tuh di depan," ucap Cica, adik bungsuku.

Aduh...aku belum sempat mandi tadi, biasanya aku menyambutnya pulang dalam keadaan bersih dan wangi, tapi kali ini bau terasi.

Bersambung....

Kira-kira Irsan, bakal ikut tinggal di rumah Chika apa enggak ya....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED