Menantu Menjadi Madu 1
"Ceraikan dia Irsan!" teriak mertuaku lantang, meluapkan amarahnya padaku.
Rasanya seperti disambar petir disiang hari, meski ini bukan pertama kalinya Ibu mertuaku mengucapkannya, tapi kali ini rasanya sangat melukai hatiku.
Aku hanya bisa menatap nanar mertuaku, tajam sekali lidahnya, seolah kata-kata yang keluar dari bibirnya, adalah hal biasa.
"Lihat apa yang dia lakukan, Irsan! Menumpahkan sup di pangkuanku! Pakaianku jadi kotor begini, dasar bo doh! Tidak becus melakukan apa pun, percuma kamu peristri perempuan go-blok dan mandul ini!" Netra wanita itu menatapku nyalang, seolah aku mangsa yang harus segera diterkam.
Ibu mertuaku semakin berapi-api memakiku, seolah aku ini hanya seonggok daging tanpa perasaan, yang tak bisa merasakan sakit hati, dan tidak pantas dihargai.
Mudah sekali mulutnya memaki, harusnya dia introspeksi diri. Bagaimana aku bisa hamil, kalau setiap hari dibebani pekerjaan yang tak ada habisnya. Belum lagi sikap ketusnya yang membuatku senewen.
Dan parahnya lagi Mas Irsan, suamiku. Tak pernah berusaha, atau melakukan sesuatu untuk membelaku. dia hanya bisa menurut saja perintah Ibunya.
Kalau bukan statusnya sebagai mertua, sudah aku remas mulut jahatnya. Tidak bisa kah dia bersikap baik padaku? Dia sudah seperti Wewe Gombel saja, bisanya marah-marah.
"Iya Bu...iya...sekarang Ibu istirahat saja dulu ya? Biar Chika, yang beresin semuanya," ucap Mas Irsan lesu, dia membersihkan sup yang menempel di pangkuan Ibu tercintanya itu.
"Kamu itu terlalu lunak sama istrimu, lihat! berbulan-bulan tinggal di sini sikapnya tidak berubah sama sekali, suka seenaknya sendiri." Sekali lagi, Ibu mencelaku.
Ibu, tak henti-hentinya menyalahkanku, padahal kalau saja dia tidak berulah, pasti kekacauan ini tidak akan terjadi.
Tuhan...rasanya ingin kutampar mulut perempuan setengah baya itu, kalau saja tidak takut dosa.
Sudah setahun aku menikah dengan Mas Irsan, selama itu pula dia memusuhiku, dan mencari-cari kesalahanku, entah apa salah dan dosaku padanya, hingga dia begitu membenciku.
Tadi dia minta dibuatkan sup ayam, dia minta mericanya dibanyakin, karena merasa kurang enak badan, dan aku buatkan. Meski pekerjaan yang lain belum kuselesaikan.
Dia memintaku mengantar sup kekamar, pun aku antarkan. Bahkan dengan suka rela aku menyuapinya, tapi apa balasannya untuk ku?
"Sup macam apa ini! rasanya membakar mulut! kamu kasih racun ya! biar aku cepat mati!" ucapnya saat mencicipi, lalu sup yang sudah masuk mulutnya itu pun disemburkan kemukaku.
"Brrtt..." Sup di mulut Bu, berpindah ke wajahku.
"Kan Ibu yang pesen, mau sup yang banyak ladanya, mau disajikan hangat-hangat," ucapku lembut, sambil mengelap mukaku dengan punggung tangan, mencoba menurunkan emosinya, meski sebenarnya amarah sedang menguasai hatiku.
Tiba-tiba mangkuk sup yang kupegang dia tepis, hingga jatuh kepangkuannya, kemudian menggelinding ke lantai dan pecah. Jadilah keadaan lantai kamar Ibu mertuaku penuh tumpahan sup, dan pecahan mangkuk.
Lalu tiba-tiba Mas Irsan masuk, mungkin karena mendengar kegaduhan. Dan seperti biasa, Ibu membuat drama, seolah aku yang salah, dan Mas Irsan percaya begitu saja.
"Chika cepat kamu bersihkan, kamu itu selalu saja begitu, kerja nggak pernah beres," hardik Mas Irsan, dia menatapku tidak suka.
"Mas, ini bukan salahku. Ibu sengaja menepis mangkuk sup yang kupegang. Lihat! Ibu sengaja menyemburkan sup yang sudah dia makan kemukaku," ucapku membela diri.
Jari ini menunjuk wajahku sendiri, agar dia tahu, apa yang sudah dilakukan ibunya.
"Heh! kamu bilang apa? kamu memang menantu kurang ajar, berani memfitnah mertua." Bukannya merasa bersalah, amarah Ibu mertuaku justru makin menjadi-jadi.
"Sudah! Chika, cepat kamu bersihkan kamar Ibu! Pusing kepalaku! tiap hari mendengar kamu ribut terus sama Ibu!" bentak Mas Irsan.
Ini yang kubenci dari Mas Irsan, dia selalu membela Ibu dan tak pernah menghargai perasaanku, sebagai istrinya. Aku jadi merasa seperti babu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku pergi meninggalkan kamar itu, menuju kamarku sendiri. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur, menangis sejadinya. Meluapkan segala sesak di dada.
"Chika, kamu harusnya lebih sabar menghadapi Ibu, bukan malah membalas semua ucapannya," ucap Mas Irsan lembut, rupanya dia langsung menyusulku ke kamar. Mas Irsan duduk di tepi ranjang, tangannya mengelus pelan punggungku.
"Kurang sabar apa Mas? Aku sudah mengalah terus, meski semua yang ku lakukan tidak ada yang benar," ucapku sesenggukan.
"Sabarlah Chika...."
"Sabar! Sabar! Sabar terus! Aku capek Mas! Percuma aku bersabar, kalau ibumu selalu saja mencari-cari kesalahanku!" raungku.
Aku keluarkan semua unek-unek yang lama kusimpan di dada ini, memang tidak merubah apapun, tapi setidaknya aku merasa sedikit lega.
"Lalu aku harus bagaimana? Dia Ibuku, tidak mungkin aku memarahinya, dosa," ucapnya sendu.
"Ya, kalau menyakiti hatiku itu tidak dosa, memang hanya aku yang pantas dimarahi Mas," aku bangkit dari ranjang, berjalan menuju lemari pakaian, dan mengemasi seluruh pakaianku.
"Chika, apa yang kamu lakukan?" Mas Irsan menahan lenganku.
"Sudahlah Mas, aku capek, aku nggak sanggup lagi tinggal di rumah yang sudah seperti neraka ini." Aku melepaskan tangan Mas Irsan.
"Kamu mau pulang kerumah Papa?" tanya Mas Irsan, dan kujawab dengan anggukkan.
"Kalau Papa tanya bagaimana? Apa Papa nggak sedih melihat kamu pulang sendiri? Papa pasti mengira kita sedang bertengkar," tanya Mas Irsan lagi.
"Lebih baik begitu Mas. Biar Papa tahu, kalian sudah berlaku tidak adil padaku," sindiran.
"Hhh..." Mas Irsan menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku tidak bisa meninggalkan Ibu, hanya aku yang dia punya," ucap Mas Irsan frustasi.
"Masih ada Ayah, kan?" selaku.
"Kamu tahu sendiri bagaimana sikap, Ayah. Dingin, dia hidup di duniannya sendiri," Mas Irsan menundukan kepala, aku tahu berat untuknya, jika harus memilih antara istri atau ibunya.
"Lalu aku yang harus berkorban, begitu?" tanyaku tajam.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya lesu.
"Tidak bisakah kamu bersikap tegas, Mas? Kamu sudah punya istri, punya tanggung jawab sendiri," tukasku.
"Aku tahu, tapi aku tidak tega meninggalkan Ibu sendiri." Entah sudah dah berapa kali Mas Irsan berkata seperti ini. Sampai kapan dia terus bersembunyi dibalik ketiak ibunya.
"Aku tunggu di rumah Papa, jika dalam waktu satu bulan kamu tidak menyusulku, aku anggap kamu sudah menceraikanku, dan aku akan menggugatmu kepengadilan," ucapku.
kemudian berlalu meninggalkan kamar ini, kamar yang menjadi tempat kami memadu kasih sepuluh bulan terakhir ini.
Meskipun terasa berat mengambil keputusan ini, Aku yakin ini yang terbaik, lelah hati, terus-menerus di sakiti, walau masih ada cinta di dada, biarlah untuk sementara kita berpisah.
Semoga Mas Irsan bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depan, pernikahan kami berdua.
Bersambung.....
Yuk di krisan.
"Chika, ini sudah malam biar aku antar." Mas Irsan mengambil tas yang kubawa.
Baru saja kami melangkah meninggalkan kamar sudah terdengar teriakan Ibu.
"Irsan! mau kemana kamu?" Mau apa lagi perempuan tua ini? Tak henti-hentinya membuat kerusuhan.
"Mengantar Chika pulang Bu, kasihan ini sudah malam," ucap Mas Irsan lesu.
"Oh....jadi dia mau minggat? ceritanya dia marah, tidak terima, terus ngambek gitu?" Wewe gombel itu meracau di ujung tangga rumah ini.
"Ini sudah malam Bu, biar aku antar Chika dulu sebentar." Mas Irsan menarik tanganku, agar segera berlalu dari hadapan Wewe gombel, belum sempat kami beranjak, Ibu kembali berteriak.
"Kalau dia mau pergi, biarkan dia pergi sendiri!" teriak Wewe Gombel lantang, tapi Mas Irsan tak mengindahkannya.
"Berani kamu keluar dari pintu itu, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai anakku!" Kecewa diabaikan, Wewe gombel mengeluarkan senjata pamungkasnya. Dan Mas Irsan pun, tidak berkutik.
"Chika, kamu tunggu di luar dulu ya? Biar aku bujuk Ibu dulu." Mas Irsan, meletakan tasku yang dia bawa, lalu berjalan kearah Ibu, dan membawa Ibu masuk kekamarnya.
Sebagai istrinya aku merasa tidak hargai, dan terluka dengan sikap Mas Irsan yang terlalu penurut. Harusnya dia bisa mengambil sikap, tahu mana yang bisa dituruti mana yang tidak, tapi ini? Selalu saja aku yang harus mengalah.
Lelah, tentu saja, dengan langkah gontai aku keluar kearah pintu. Biarlah aku pulang sendiri, aku bisa minta Citra, adikku untuk menjemput. Sikap Mas Irsan membuatku semakin yakin dengan keputusanku.
Saat sampai di depan pagar, aku berpapasan dengan Ayah yang baru pulang kerja. Baru saja Ayah turun dari mobil, hendak membuka pagar, tapi diurungkannya karena melihatku.
"Chika, kamu mau kemana malam-malam begini? Bawa tas besar pula? Kamu habis berantem sama Irsan?" cerca Ayah mertuaku.
"Mau pulang kerumah Papa, Yah," jawabku lirih.
"Kok Irsan nggak ngantar? Ini sudah malam lho, jadi bener, kalian bertengkar?" tanya Ayah penuh selidik. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Ayo, Ayah antar!" Tanpa menunggu persetujuanku, Ayah membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan aku masuk.
Dalam perjalanan aku hanya diam, tidak tahu harus ngomong apa, karena selama ini Ayah selalu bersikap dingin kepada siapa pun yang ada di rumah.
"Kalian ribut kenapa?" tanya Ayah lembut.
Entah mengapa lelaki yang biasanya bersikap dingin dan acuh pada orang lain ini, terlihat sangat perduli dan perhatian padaku. Mungkin merasa iba, melihat wanita pergi sendirian dari rumah malam-malam.
Dengan derai air mata, kuceritakan semua kejadian yang baru saja kualami.
"Aku memang tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam rumah, kamu tahu kan? Aku selalu pergi pagi dan pulang malam, tapi aku tak menyangka, kalau ibumu masih saja seperti itu." Ayah menjeda ucapannya.
"Ibumu memang keras kepala, egois dan mau menangnya sendiri, sampai kapan dia mau berubah, padahal umurnya sudah tak lagi muda, harusnya dia sadar sikapnya itu menyakiti banyak orang." Aku hanya menyimak penuturan Ayah Mas Irsan ini.
"He...he...harusnya kamu yang cerita, eh...ini kok malah jadi Ayah yang curhat." Mertuaku itu terkekeh sendiri.
Hilang sudah kesan dingin, angkuh dan arogan dalam dirinya, yang ada hanya seorang pria yang ramah dan perhatian.
"Gang itu masuk kan?" tanya Ayah saat mobil sudah memasuki kawasan rumahku.
"Iya Yah, Ayah masih ingat kan?"
"Tentu saja, yang bercat biru itu kan? Kamu pikir Ayahmu ini sudah tua, hingga jadi pelupa." Ayah terkekeh lagi.
Dibalik sikap dinginnya tenyata Ayah adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan, berbanding terbalik dengan istrinya "Wewe Gombel".
"Sudah Yah, terima kasih," ucapku saat mobil berhenti di depan rumahku.
"Sama-sama, Ayah nggak mampir ya, sudah malam, sampaikan salamku untuk Papamu," ucapnya sebelum berlalu.
Menata debaran hati, aku langkahkan kaki menuju pintu rumah masa kecilku, tempat ternyaman yang kumiliki.
"Ceklek!" pintu terbuka sebelum sempat kuketuk, Papa keluar dengan wajah berkerut keheranan.
"Tadi ada suara mobil di depan, Papa pikir tamu, ternyata kamu Chika. Tadi siapa yang ngantar?" Rupanya Papa penasaran dengan suara mobil Ayah tadi.
"Tadi Ayah mertua yang antar, beliau juga nitip salam buat Papa, dan minta maaf tidak bisa mampir." Kuraih punggung tangan Papa, dan mencium punggungnya.
Lelaki yang menjadi cinta pertamaku itu, menatapku penuh selidik, melihatku pulang sendiri malam-malam, bawa tas besar pula.
"Irsan Mana? kamu kok bawa-bawa tas besar segala ada apa?" Sudah kuduga, Papa akan menanyakan hal ini.
"Sudah malam Pa, Chika capek, besok saja ya ceritanya," jawabku sambil berjalan menuju kamarku.
"Hhh..." Papa menghela nafas panjang, aku tahu ada banyak pertanyaan yang ingin Papa lontarkan, tapi Papa tipe orang yang sabaran, dia akan menungguku bercerita dengan sukarela.
"Kamu sudah makan?" Aku hanya menggeleng malas.
Aku memang belum sempat makan malam, karena sibuk mengurusi Ibu mertuaku yang rewel itu.
"Makanlah, tadi Citra dan Cica mencoba resep baru, soal rasa jangan ditanya, Papa tidur dulu, capek seharian ngurus toko." ucapnya sambil berlalu.
Namaku Chika Arianti dua puluh lima tahun, aku sulung dari tiga bersaudara perempuan semua, kami dibesarkan Papaku sendiri yang sudah menduda sejak lima tahun yang lalu.
Mamaku meninggal karena kanker, Papa tidak pernah menikah lagi sejak itu, tiap kami tanya tidak adakah niatan untuk mencari pengganti Mama?
"Mikir kalian tiga perempuan saja, kepala Papa sudah pusing, kalau harus tambah satu perempuan lagi, Papa bisa gila," jawab Papa kala itu.
"Kalau punya istri kan nggak pusing sendiri Pa, bisa pusing berdua ha...ha..." seloroh Cica adik bungsuku, membuat kami semua tertawa.
Mengenang masa-masa dulu membuat aku selalu merindukan rumah ini, rumah yang penuh cinta dan kehangatan.
"Drt...drt...."
Suara nada dering gawaiku membuyarkan lamunanku, panggilan masuk dari Mas Irsan, suamiku.
"Ya, hallo..."
"Chika, kamu sudah sampai rumah? kamu tadi pulang naik apa? Mas mengkhawatirkan kamu, kok tadi nggak nunggu Mas?" Halah Mas...simpan rasa sok perdulimu itu, jerit batinku.
"Iya Mas, tadi diantar Ayah," jawab lesu, males ngomong sama laki-laki lemah ini.
"Ayah? kok bisa? tapi kamu baik-baik saja kan?" Sekarang aja sok khawatir, tadi dia lebih perduli pada ibunya dari pada aku.
"Aku baik-baik saja, Ayah baik kok, nggak gigit," jawabku sekenanya.
Digigit juga nggak apa-apa Mas....orang ayahmu masih ganteng dan gagah gitu, eh, ngomong apa aku tadi?.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, aku akan nyusul kamu besok ya, selamat tidur," ucap Mas Irsan mengakhiri panggilan.
Aku tunggu kedatanganmu Mas, apa kamu cukup punya keberanian untuk memperjuangkan aku?
Bersambung....
Terimakasih sudah membaca cerita receh ku. Jangan lupa review ya?
Netra Papa membelalak sempurna, mungkin beliau tidak percaya dengan cerita yang meluncur dari bibirku baru saja.
Tentang bagaimana mertuaku memperlakukan aku, yang bisa dibilang tidak manusiawi. Aku diperlakukan seperti babu, mengurus semua kebutuhan rumah itu sendiri. Aku yakin, pembantu yang dibayar sekalipun, tak sanggup melakoni pekerjaanku.
Belum lagi caci maki dan sumpah serapah, yang terlontar dari mulut Ibu. Dan itu terjadi setiap saat, setiap harinya. Dan aku rela menerima semua, atas nama bakti pada suami.
Tak lupa kuceritakan tenang sikap Mas Irsan yang lemah, tidak berani mengambil sikap apalagi membelaku di depan ibunya.
Tangan yang mulai keriput itu, melepas kaca mata yang bertengger di wajah, kemudian memijit pangkal hidungnya.
"Papa, tidak percaya, ada seorang Ibu yang berperilaku seperti itu. Walaupun kamu hanya menantu, tidak sepatutnya dia keterlaluan memperlakukanmu.
"Sebagai orang tuamu, tentu Papa tidak terima. Kamu kami besarkan penuh kasih sayang, kami memperlakukannu penih cinta. Meski tidak memanjakanmu, tapi kami tak pernah menyakitimu, baik secara fisik ataupun secara verbal.
Bukankah dulu Irsan, berjanji akan membahagiakanmu? Tapi mengapa dia diam saja, melihat kamu disakiti ibunya? Laki-laki macam apa, yang mudah mengingkari janjinya," ucap Papa sendu, netranya menerawang kedepan. Ada luka dalam sorot matanya.
Teringat saat Mas Irsan memintaku kepada Papa untuk dijadikan istri.
"Om, saya mohon restunya. Saya ingin segera mmenikahi Chika," keringat dingin mengalir di kening Mas Irsan, saat mengungkapkan keinginannya pada Papa.
"Apa kamu yakin dengan kata-katamu?," ucap Papa dingin, Papa memang tak suka banyak bicara, kalau belum terlalu kenal.
"Saya yakin Om, saya akan berikan kebahagiaan untuk Chika, Om. Saya janji," ucap Mas Irsan kala itu.
"Jaminannya apa?"
"Saya akan kembalikan Chika pada Om, sekiranya Chika, tidak bahagia hidup bersama saya," ucap Mas Irsan, mantap.
Bahkan Mas Irsan, tetep kekeh menikahiku meski ibunya tidak merestui, dan terang-terangan menunjukan ketidak sukaannya padaku.
"Siapa yang kau bawa kesini Irsan," ucap Ibu Mas Irsan dengan nada angkuh.
"Chika Bu, dia calon istriku. Kami berencana untuk menikah dalam waktu dekat," ucap Mas Irsan, dibalas ibunya dengan tatapan dingin dan merendahkan.
"Aku mencintainya Bu, aku mohon ibu merestui kami." Mas Irsan berkata tanpa berani menatap ibunya, sementara tangannya menggenggam erat tanganku, mencari dukungan.
"Dia tidak sepadan dengan kita, jangan harap aku akan mengijinkan kamu menikahinya," wanita angkuh itu, bangkit dari duduknya kemudian berlalu.
Aku memang bukan berasal dari keluarga kaya, tapi aku bukan anak orang miskin. Kami memang terbiasa hidup sederhana, lalu apa salahnya?
Mendengar kalimatnya yang merendahkan membuatku merasa terhina.
"Mas, Aku nggak bisa menikah tanpa restu Ibumu," ucapku, setelah sosok Ibu Mas Irsan tidak terlihat lagi.
"Ayolah Chika...kamu jangan menyerah begitu saja, kita buktikan cinta kita bisa menghadapi apa saja," ucap Mas Irsan, menggenggam tanganku.
"Aku tidak yakin Mas, Mas lihat sendiri kan, ibumu tidak menyukaiku, dia menghinaku miskin," ucapku sengit.
"Ibu tidak bilang kamu miskin," ucapnya tak kalah sengit.
"Iya, tapi kata-katanya merendahkanku."
"Aku yakin, kalau melihat kita bahagia Ibu juga akan bahagia, pasti dia akan merestui kita nanti." Nada suara Mas Irsan mulai merendah.
Mas Irsan tak berhenti merayuku agar mau menikah dengannya, hampir setiap hari datang, meski aku tidak ingin menemuinya.
Lama kelamaan hatiku luluh juga, melihat kegigihan Mas Irsan. Dengan syarat tinggal terpisah dari ibunya, aku menerima pinangannya.
Akhirnya pernikahan digelar secara sederhana di rumahku, tanpa dihadiri oleh ibunya. Hanya dihadiri oleh Ayah dan keluarga besarnya saja.
Bagiku tak masalah, tak mengurangi kebahagiaan kami.
Dua bulan pertama kami tinggal di rumah Papa, tapi setiap hari ibunya selalu menelfon meminta Mas Irsan pulang.
Aku yang masih trauma dengan sikap Ibu saat pertemuan pertama, tentu menolak ajakan Mas Irsan untuk pulang kerumah orang tuanya.
"Kasihan Ibu, Ka. Dia kesepian, kita pulang ya?" rengekan Mas Irsan, tak urung membuat kepalaku pusing juga.
"Aku yakin Ibu, akan menerimamu, apalagi kalau kamu memberinya cucu nanti." Mas Irsan tak henti merayuku, hingga akhirnya aku mengalah.
Kupikir Ibu sudah berubah, tidak membenciku lagi, tapi ternyata kebenciannya semakin menjadi.
Aku diperlakukan tidak lebih dari seorang babu, setiap hari ada saja kesalahanku. Yang masakan keasinan lah, lantai kurang bersih lah, setrikaan kurang rapi lah, sepertinya ibu mertuaku tidak puas, kalau tidak memakiku sehari saja.
"Aku heran sama Irsan, apa sih menariknya dirimu? Sampai tergila-gila padamu? Atau jangan-jangan kamu pelet anakku?" Tak kutanggapi ocehan Wewe Gombel, percuma hanya menghabiskan energi saja.
"Cantik enggak, kaya enggak, nggak becus kerja, mandul lagi!," kalau dia bukan mertuaku, sudah kuremas mulutnya.
Bagaimana aku bisa hamil kalau setiap hati tertekan begini? Tidak gila saja, aku sudah bersyukur..
"Chika, apa kamu masih mencintai Irsan?" ucapan Papa, membawa kembali anganku yang mengembara.
"Cinta Pa, tapi Chika lelah kalau harus terus mengalah. Chika nggak sanggup diperlakukan seperti ini terus-menerus, Chika menyerah," ucapku datar, tak ada lagi air mata yang menetes, semua sudah kuhabiskan semalam.
"Kita bicarakan ini dengan Irsan, semua harus diselesaikan dengan kepala dingin," ucap Papa bijak.
"Hhh..." Papa menghela nafas, "Papa sampai lupa, belum memeriksa stock barang yang habis." Papa bangkit dari duduknya.
"Sekarang kamu bantu Papa ya, masih ingat caranya kan?" tanya Papa dengan senyum menggoda.
Saat ini kami sedang berada di ruang bagian belakang toko, yang menjadi kantor Papa. Papaku membuka mini market di belakang rumah, yang kebetulan menghadap jalan raya, toko ini tembus kerumahku.
Dari mini market inilah, Ayah menghidupi kami anak-anaknya. Dulu sebelum ada Indomar*t dan Alfamar*t, mini market Papa ini rame sekali. Sejak kehadiran dua retail besar itu, penghasilan menurun, tapi masih cukup untuk membayar sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bukankah setiap rejeki harus disyukuri, berapapun itu.
"Mas Irsan, bilang akan menyusul kesini hari ini Pa," ucapku sebelum Papa sibuk dengan pekerjaannya.
"Kita lihat saja nanti Ka, Mas Irsanmu maunya bagaimana?"
Seharian kuhabiskan waktu untuk membantu Papa di toko, tak terasa hari sudah sore, biasanya Mas Irsan pulang jam lima.
"Mbak Chika, ada Mas Irsan tuh di depan," ucap Cica, adik bungsuku.
Aduh...aku belum sempat mandi tadi, biasanya aku menyambutnya pulang dalam keadaan bersih dan wangi, tapi kali ini bau terasi.
Bersambung....
Kira-kira Irsan, bakal ikut tinggal di rumah Chika apa enggak ya....