Aku menatap Marsel dengan sorot mata tak percaya. Detik itu juga, rasanya jantungku seperti diremas dari dalam. Kata-katanya masih menggema di kepalaku, membentur dinding-dinding kesabaran yang sejak tadi sudah retak.
"Jual saja rumah itu, Hil. Kita butuh dana tambahan untuk ekspansi toko. Rumah itu cuma jadi beban."
Nada bicaranya santai. Terlalu santai untuk sesuatu yang bagi hidupku berarti segalanya.
"Apa kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?" tanyaku dengan suara pelan, tapi jelas. Tangan gemetar, kuku-kuku mencengkeram kuat ujung meja makan, seolah itu satu-satunya penyangga untuk tidak roboh saat itu juga.
Marsel tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku dengan pandangan yang... kosong. Bukan dingin, bukan pula tajam. Kosong. Seakan-akan aku ini hanya sekadar variabel dalam rumus perhitungan logisnya.
Baru satu tahun pernikahan kami berjalan. Baru satu tahun sejak aku menyerahkan semua yang kupunya padanya-waktu, tenaga, mimpi, dan harapan. Dan sekarang? Dia ingin aku menjual rumah yang bukan hanya sekadar bangunan, tapi satu-satunya peninggalan dari orang tuaku yang telah tiada.
Rumah itu adalah tempat aku dibesarkan. Tempat aku merangkai masa kecil yang penuh luka tapi juga cinta. Rumah dengan dinding-dinding kusam dan taman kecil yang selalu kurawat setiap akhir pekan. Rumah itu... adalah satu-satunya tempat di dunia yang masih terasa "rumah".
"Rumah itu bukan beban, Marsel," kataku dengan suara gemetar. "Rumah itu satu-satunya yang tersisa dari Mama dan Papa. Kau tahu itu."
Marsel menghela napas panjang. Ia menunduk sebentar, lalu menatapku kembali-kali ini dengan ketidaksabaran yang mulai merayap dalam nada suaranya.
"Hilda, tolong jangan terlalu sentimentil. Aku paham itu warisan dari orang tuamu, tapi kita harus realistis. Kita butuh modal untuk cabang baru. Kita butuh kemajuan."
Aku menatapnya lama. Mataku mulai panas, tapi aku menolak menangis di hadapannya. Bukan kali ini. Bukan soal ini.
"Aku sudah bantu kamu dari awal," suaraku pecah, tapi masih jelas. "Aku jual perhiasan peninggalan Mama, aku berikan tabunganku dari sebelum menikah. Aku bahkan menahan diri dari banyak hal yang dulu penting buatku-hanya demi usahamu. Tapi rumah itu... jangan minta itu juga."
Marsel berdiri, berjalan ke arah jendela. Tangannya menyelip ke saku celana, menatap keluar seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. Tapi aku tahu dia tidak berpikir untuk mengerti perasaanku-dia hanya sedang mencari cara agar aku menurut.
"Hilda," katanya pelan. "Kita ini membangun masa depan. Jangan biarkan masa lalu mengikatmu sampai kamu kehilangan semuanya."
Aku berdiri, kursiku bergeser kasar di lantai keramik.
"Kalau masa lalu itu satu-satunya yang kumiliki, apa menurutmu mudah untuk melepasnya? Kau bilang tentang masa depan. Tapi kenapa rasanya seperti aku satu-satunya yang terus kehilangan sesuatu setiap kali kita bicara soal 'masa depan' itu?"
Marsel memutar tubuhnya menghadapku. "Jangan drama."
"Dengar baik-baik," potongku cepat, mataku menatapnya penuh luka. "Aku tidak akan menjual rumah itu. Titik. Bahkan kalau aku harus menentangmu untuk pertama kalinya sejak kita menikah."
Hening. Beberapa detik terasa seperti selamanya. Marsel menatapku dengan wajah yang tak bisa kubaca. Ada kekecewaan, mungkin. Atau kemarahan yang ditahan.
Akhirnya, dia bicara dengan suara dingin, tajam, seperti pisau yang perlahan menyayat.
"Kalau begitu, mungkin kita harus mulai menimbang kembali arah pernikahan ini, Hil."
Aku terdiam. Tubuhku kaku, seolah seluruh udara dalam ruangan lenyap begitu saja. Kata-katanya mengguncangku lebih dari yang pernah kulalui setahun terakhir.
Kapan terakhir kali aku melihat Marsel dan merasa dicintai? Kapan terakhir kali kami bicara tanpa nada bisnis atau rencana ekspansi atau target omzet? Sejak kapan dia berhenti melihatku sebagai istrinya, dan mulai melihatku sebagai aset?
"Arah pernikahan?" bisikku, nyaris tak terdengar. "Ini bukan tentang arah. Ini tentang siapa yang masih peduli, dan siapa yang hanya ingin menang."
Aku melangkah pergi meninggalkannya di ruang makan, menuju kamar, lalu menutup pintu dengan perlahan. Di balik pintu, aku bersandar, menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.
Rumah itu bukan hanya sekadar bangunan tua dengan cat yang mulai mengelupas. Itu adalah kenanganku. Peluk Mama di pagi hari. Suara Papa mengeluh tentang teh yang kurang manis. Bau kayu tua dari lantai. Dan senyuman terakhir mereka sebelum dunia merenggut semuanya dariku.
Dan sekarang, suamiku... pria yang bersumpah akan menjagaku, malah menjadi orang pertama yang memintaku menghapus sisa kenangan itu dari hidupku.
Aku tidak tahu akan seperti apa esok. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya sejak aku menikah, aku merasa lebih sendirian daripada saat aku ditinggal yatim piatu.
Dan untuk pertama kalinya... aku mulai mempertanyakan, apakah cinta memang cukup untuk menyelamatkan semuanya?
Aku tidak tidur malam itu.
Lampu kamar sudah kupadamkan sejak dua jam lalu, tapi mataku tetap terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Di sebelahku, ranjang masih terasa dingin. Marsel tidak masuk kamar setelah perdebatan kami sore tadi. Aku tak tahu dia tidur di mana, dan jujur saja... aku juga tidak ingin tahu.
Bukan karena aku marah. Tapi karena aku kecewa.
Saat kami menikah setahun lalu, aku pikir pernikahan adalah tentang saling menjaga. Saling memahami. Aku tahu Marsel bukan tipe romantis. Dia bukan pria yang pandai menunjukkan kasih sayang lewat kata-kata. Tapi dia punya ambisi, kerja keras, dan dulu-aku percaya-dia mencintaiku.
Tapi sekarang, semuanya terasa seperti transaksi.
Pagi harinya, aku bangun lebih dulu. Mata masih sembab, kepala berat karena kurang tidur. Tapi aku tetap turun ke dapur, menyiapkan kopi, bukan untuknya-melainkan untuk diriku sendiri. Aku butuh sesuatu yang bisa menahanku untuk tidak hancur di depan suamiku sendiri.
Aku sedang menuang air panas ketika kudengar suara langkah kaki di tangga. Marsel.
Dia muncul di ambang pintu dapur, masih mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin. Wajahnya kusut. Tapi yang paling menyakitkan, bukan karena dia terlihat lelah-melainkan karena dia sama sekali tidak tampak bersalah.
"Kita perlu bicara," katanya tanpa basa-basi.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menarik napas panjang, lalu menyeruput kopiku.
Marsel berjalan pelan ke arah meja makan dan duduk di kursi yang biasa ia tempati. Hening menyelimuti ruangan, sampai akhirnya dia bicara lagi.
"Aku sudah bicara dengan pengembang properti. Mereka bersedia membeli rumah itu dengan harga yang cukup tinggi."
Gelas kopiku nyaris terlepas dari genggaman. Aku membalikkan badan, menatapnya lekat-lekat.
"Kau bicara seolah rumah itu milik kita berdua."
Marsel menatapku datar. "Kita sudah menikah, Hil. Segala sesuatu yang kita miliki harusnya jadi milik bersama."
"Rumah itu bukan milik bersama," sahutku cepat. "Itu warisan orang tuaku. Aku tak pernah menuliskannya sebagai harta gono-gini. Kau tahu itu."
Dia mendengus pelan, dan aku melihat dengan jelas bagaimana ia mulai kehilangan kesabaran.
"Kenapa kau selalu membiarkan perasaan menguasai logika? Ini hanya rumah, Hil-bangunan tua yang bahkan tak layak huni. Kita bisa beli rumah baru yang lebih bagus suatu hari nanti."
Aku tidak bisa menahan tawa getirku. "Kau benar, ini cuma rumah. Tapi kalau kau bisa berkata seperti itu tanpa berpikir dua kali, aku mulai ragu apakah hatimu pernah benar-benar memilikiku."
Marsel bangkit dari kursinya, mendorongnya kasar hingga kaki kursi bergesek keras dengan lantai.
"Aku capek, Hil. Capek terus merasa harus jadi satu-satunya orang yang berpikir ke depan di pernikahan ini. Kau terlalu terikat pada masa lalu. Sampai kapan kau akan terus hidup dari bayang-bayang orang tuamu?"
Aku membeku.
Kata-katanya seperti tamparan yang menghancurkan segalanya. Mata ini kembali panas, tapi aku menolak air mata itu jatuh. Tidak kali ini. Tidak di hadapan pria yang bahkan tak lagi peduli pada luka-lukaku.
"Aku tumbuh tanpa siapa-siapa, Marsel," suaraku serak, rendah, tapi penuh luka. "Mereka satu-satunya keluarga yang kumiliki. Rumah itu satu-satunya tempat di dunia yang masih membuatku merasa aman. Dan kau... kau ingin merenggutnya dariku. Demi uang."
Marsel menatapku, dan untuk sesaat aku pikir dia akan mengalah. Tapi dia hanya menghela napas, mengusap wajahnya, lalu melangkah ke arah pintu.
"Aku akan ke toko. Kita bicara lagi nanti."
Aku mengangguk pelan, meski dadaku bergetar hebat. Ketika pintu tertutup dan suara mobilnya menjauh, barulah aku runtuh.
Aku menangis, duduk di lantai dapur yang dingin. Isak tangisku tertahan, tapi luka di dada ini terasa terlalu dalam untuk sekadar disebut sakit hati. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat benar-benar kumiliki.
Aku menikah karena cinta. Tapi cinta rupanya tidak cukup untuk menghadapi dunia.
Siangnya, aku pergi ke rumah peninggalan orang tuaku. Letaknya di pinggiran kota, agak jauh dari hiruk pikuk jalan utama. Rumah itu memang sudah lama kosong, tapi aku selalu menyempatkan datang sebulan sekali untuk membersihkannya. Hanya... dua bulan terakhir aku terlalu sibuk dengan toko dan urusan Marsel.
Ketika aku membuka pintu kayu tua itu dan menghirup aroma khas ruangan yang lama tak dihuni, ada sesuatu yang berdenyut dalam dadaku. Seperti luka lama yang terbuka, tapi juga hangat... karena aku kembali ke tempat di mana semuanya bermula.
Aku berjalan menyusuri ruang tamu. Menyentuh rak buku peninggalan Papa. Duduk di sofa tua yang masih ada bekas jahitan Mama. Setiap sudut rumah ini menyimpan cerita. Setiap lantai yang berderit, setiap cahaya yang menembus tirai tipis, semua adalah potongan hidup yang tak tergantikan.
Di atas meja kecil di dekat jendela, aku menemukan bingkai foto-foto keluargaku. Mama, Papa, dan aku kecil. Kami bertiga tersenyum, berdiri di depan rumah ini.
Aku mendekap foto itu erat. Dan dalam diam, aku bersumpah.
Aku tidak akan menjual rumah ini.
Tidak untuk Marsel. Tidak untuk uang. Tidak untuk siapa pun.
Kalau pernikahan ini menuntut aku menghapus masa laluku... mungkin sudah saatnya aku bertanya, siapa yang sebenarnya kupilih saat kutinggalkan rumah ini dulu-Marsel, atau diriku sendiri?
Dan untuk pertama kalinya... aku mulai merasa, aku sedang menikahi orang yang salah.
Sudah tiga hari sejak pertengkaran itu, dan Marsel belum kembali ke rumah. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Hanya sunyi, seperti biasanya. Dan seperti biasanya, aku masih berusaha bertahan.
Aku tak tahu kenapa aku masih berharap ia akan mengetuk pintu dan meminta maaf. Tapi yang datang justru bukan Marsel-melainkan seseorang yang sama sekali tidak kuharapkan.
Pagi itu, ketika aku sedang menyiram bunga di teras, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Seorang pria turun, mengenakan jas rapi, wajahnya tak asing-meski aku tak bisa segera mengingat dari mana aku mengenalnya.
Dia berjalan mendekat. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam. Seolah dia tahu sesuatu yang tak kuketahui.
"Hilda?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan. "Maaf, Anda siapa?"
Dia tersenyum tipis. "Saya Arvino. Dulu pernah kerja sama dengan Marsel, di proyek perumahan Green Heights."
Nama itu membuatku langsung siaga. Green Heights. Itu proyek pengembang yang sempat dibicarakan Marsel... tempat dia ingin menjual rumah peninggalan orang tuaku.
"Boleh saya bicara sebentar? Ini tentang suami Anda," katanya sopan, tapi nadanya menyiratkan hal serius.
Kami duduk di ruang tamu. Tanganku dingin, dan ada rasa tak enak di perutku yang sejak awal sudah menolak kehadirannya.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku akhirnya, tak tahan dengan ketegangan.
Arvino mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya, lalu meletakkannya di meja.
"Saya minta maaf sebelumnya. Tapi saya rasa Anda berhak tahu. Marsel... dia sedang terlilit utang cukup besar. Dan rumah yang ingin dia jual-rumah warisan orang tua Anda-satu-satunya aset yang bisa dia jaminkan sekarang."
Aku membeku.
"Apa maksud Anda? Utang dari bisnis?"
Arvino mengangguk. "Sejak tahun lalu, proyek Green Heights gagal. Banyak dana investor lenyap, dan Marsel harus menutup lubang dengan pinjaman dari pihak ketiga. Termasuk dari orang-orang yang... bukan tipe yang bisa Anda ajak duduk santai seperti ini."
Aku menatap map itu. Di dalamnya ada fotokopi dokumen pinjaman, tanda tangan Marsel, dan bahkan beberapa email permohonan dana. Hatiku berdegup kencang. Rasanya seperti menyaksikan hidupku sendiri terlepas dari kendali.
"Kenapa Anda memberi tahu saya semua ini?"
Dia diam sejenak, lalu menatapku lurus.
"Karena saya tahu, kalau Marsel tidak bisa bayar, mereka akan datang mencari keluarganya. Dan saya pernah berutang budi pada orang tua Anda. Pak Armand dulu pernah bantu saya keluar dari masalah hukum yang hampir menghancurkan hidup saya."
Aku menutup wajahku dengan tangan. Nafasku tercekat.
"Jadi selama ini... Marsel berbohong padaku. Tentang keuangan, tentang alasannya ingin menjual rumah."
Arvino bangkit, meletakkan kartu namanya di meja.
"Saya tidak tahu apa rencana dia selanjutnya. Tapi hati-hati, Bu Hilda. Orang-orang itu tidak main-main."
Setelah Arvino pergi, aku duduk diam dalam gelap. Guncangan itu terasa lebih besar dari sebelumnya. Ini bukan lagi tentang rumah. Ini tentang kebohongan. Tentang bagaimana aku menikah dengan seseorang yang menyimpan sisi gelapnya rapat-rapat, bahkan dari istrinya sendiri.
Aku mencoba menelepon Marsel. Tidak aktif.
Malamnya, aku memberanikan diri pergi ke toko tempat kami biasa berjualan barang dekorasi rumah. Saat masuk, toko itu sepi. Beberapa rak kosong. Stok barang tidak seperti biasanya. Aku tahu kami memang sempat menurun penjualannya, tapi aku tidak pernah tahu kondisinya separah ini.
Seorang pegawai lama kami, Rina, menyapaku pelan.
"Bu Hilda... maaf ya, saya mau pamit kerja. Pak Marsel bilang tokonya mau tutup sementara. Katanya banyak urusan pribadi."
Darahku berdesir dingin. "Tutup?"
Rina mengangguk. "Saya juga bingung, Bu. Tapi beberapa vendor juga belum dibayar. Sudah dua bulan."
Aku berterima kasih dan keluar dari toko dengan kepala berdenyut. Mataku mulai menangkap tanda-tanda yang selama ini kupikir hanyalah kepadatan kerja. Tapi ternyata, Marsel bukan hanya sibuk. Dia tenggelam dalam kebohongan.
Sesampainya di rumah, aku duduk di meja makan. Map cokelat itu masih di sana, menatapku seperti hantu. Lalu, tanpa sadar, aku mengambil ponsel dan mulai mencari informasi lain. Aku mencoba mengakses email pribadi Marsel yang dulu pernah ia gunakan di laptop kami.
Kata sandinya belum berubah.
Saat masuk, kotak masuknya penuh dengan pesan dari nama-nama yang tak kukenal-beberapa dengan subjek: "Deadline Pembayaran," "Perpanjangan Jaminan," bahkan "Ancaman Hukum."
Lalu aku menemukan satu email dengan lampiran kontrak yang membuat tanganku gemetar.
Sebuah surat perjanjian-menjual rumah warisan orang tuaku atas nama Marsel, lengkap dengan tanda tangan palsu... yang seolah-olah milikku.
Aku terduduk. Tangisku pecah begitu saja.
Dia tidak hanya menyembunyikan. Dia mencoba menipuku. Dia mencoba menjual rumah itu tanpa sepengetahuanku-dengan memalsukan tanda tanganku.
Dan saat itu, sesuatu dalam diriku mati. Atau mungkin, justru baru lahir.
Bukan rasa cinta. Tapi kehendak untuk bertahan. Untuk melindungi diriku sendiri.
Aku menghapus air mata, lalu membuka laci meja. Aku mengambil amplop surat yang berisi sertifikat rumah itu-yang selama ini kusimpan jauh dari tangan siapa pun, bahkan Marsel tak tahu tempatnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam pernikahan ini, aku tidak merasa takut kehilangan suamiku.
Aku takut kehilangan diriku sendiri... jika aku terus bertahan di sisi pria yang bahkan tak segan mengkhianatiku demi menyelamatkan dirinya.
Hilda akhirnya menemukan bahwa Marsel tak hanya berbohong, tapi juga mencoba memalsukan dokumennya.