“Berengsek! Berani-beraninya lo sentuh gue!”
Satu tamparan dilayangkan Indira pada Gio. Playboy di sekolah Indira yang sudah mengambil kesempatan untuk meremas salah satu bagian tubuhnya yang menggoda di bawah pinggul.
Dirinya terlalu larut dalam hentakan musik di klub. Bahkan, ingar bingar tadi yang sempat mememakakan telinga, kini berhenti dan dirinya bersama pria berengsek itu mulai menjadi objek pandangan mereka semua.
Tidak sedikit dari para pria di sekitar mereka mulai mengolok Gio yang masih memegang pipi kanannya setelah mendapatkan tamparan keras dari perempuan bertubuh semampai dengan rambut sedikit ikalnya. Bola mata dengan manik hitam itu terlalu menggoda pria lain untuk menatapnya lebih lama dan berfantasi liar saat pandangan mereka semakin turun menuju bibir ranum seksi itu.
Usianya masih terbilang muda, tapi sudah mampu menarik perhatian pria sepertinya. Tubuh indah dengan tinggi 168 senti. Cukup ideal bagi perempuan Asia.
“Aduh, bro ... sakit, ya?” ejek salah satu suara yang sudah membuat Indira dan Gio berada dalam satu lingkaran. Menjadi tontonan gratis untuk mereka.
Gio mengetatkan rahangnya saat semakin banyak para pria mengejek dirinya dan merangkum dalam satu suara jika dirinya terlalu mudah dipermalukan oleh seorang perempuan.
“Dia udah apain lo, Ra?!” panik Naomi, perempuan mungil itu mendekati sahabatnya yang masih menatap tajam Gio yang memandangnya lekat, masih memegang pipi.
Indira menunjuk dengan tatapan tajam pada Gio, mengarah pada wajah pria playboy itu dan mengatakan, “Dia sudah berani sentuh tubuh gue. Mengambil kesempatan dalam kesempitan saat kita terlalu asik mengikuti suara musik dari dj,” ungkapnya.
Kemudian, tanpa diduga, Indira melayangkan tamparan di pipi lainnya yang langsung membuat mereka semua terperangah.
“Itu karena lo menganggap mudah perempuan lain bisa terangsang sama lo! Tapi nggak akan pernah berlaku buat gue, berengsek!”
Penutupnya, Indira sudah menginjak kaki Gio membuat pria itu semakin merintih sakit dan tidak bisa berbuat apa pun. Ia mengepalkan tangannya melihat Indira berlalu, izin pada sahabatnya ke arah toilet.
‘Lo pikir diri lo siapa sampai bisa mempermalukan gue, ha? Mari kita lihat apa yang bisa lo lakukan saat nggak ada satupun orang yang bisa menonton aksi gue untuk bersikap tidak senonoh pada lo, Indira Aubrey.’
Senyum licik terpatri di wajah Gio Daniel. Pria bertubuh tinggi, pemain basket dan menjabat sebagai Kapten tapi memiliki sikap bad boy dan sangat sering berganti kekasih. Sayangnya, Indira belum bisa ia taklukan. Perempuan itu sepertinya tidak pernah menargetkan dirinya untuk menjadi kekasihnya. Karena Indira pun terkenal sebagai playgirl.
Ia suka bergonta ganti kekasih.
Perempuan itu membasuh dengan perasaan kesal wajahnya. Menatap lamat-lamat cermin wastafel di toilet perempuan dan mengetatkan rahang saat bayangan dan sentuhan tangan nakal Gio bermain di sana.
Untung ia segera sadar. Dirinya memang sangat sensitif dengan sentuhan pria. Ia masih harus melindungi diri meskipun Indira sadar ia sering melanggar perintah orangtuanya yang terlalu memaksa dirinya untuk tinggal di rumah tanpa menjadi seorang perempuan pembangkang.
Ia meringis pelan. Menyesali dalam hati saat inilah perlakuan yang harus dirinya terima. Terutama pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya.
“Sebaiknya gue pulang lebih cepat atau orangtua gue bakal sadar anak gadisnya nggak ada di rumah,” cetusnya sudah bergidik ngeri jika Mama tersayangkan akan ‘meledak-ledak’.
“Dicubit aja sakit, apalagi dimaki,” lanjutnya tidak sanggup mendapatkan rentetan nasehat sepanjang jalan tol.
Namun, saat ia sudah berjalan keluar toilet, ia menjerit dan tubuhnya di dorong kasar ke dinding. Ia meringis sakit dan nyaris merasa remuk. Tapi, saat matanya terbuka, ia membeliak, mendapati Gio sudah mengungkung tubuhnya.
“Halo, Cantik ...”
“Sudah puas mempermalukan gue yang terlihat nggak berkutik tadi? Puas menginjak harga diri gue?” seringainya pun semakin puas mendapati Indira berontak, melepaskan diri tapi ia sudah menekan tubuh bagian depan, menahan Indira agar tidak kabur.
Ia menahan kedua tangan Indira di sisi tubuh perempuan itu.
“Lepaskan tangan gue, berengsek! Seharusnya sudah cukup gue mempermalukan lo! Nggak usah diulang lagi atau lo bakal malu!” sungutnya menatap tajam Gio yang kini tersenyum penuh arti padanya.
“Lupa jika ingar bingar itu terlalu berisik di area depan? Sedangkan kita berada di koridor toilet yang sepi.” Ia semakin suka melihat wajah pucat Indira.
“Gue mau membalaskan semua perlakuan lo pada gue, Sayang ... gue mau menuntut hak gue karena lo udah menampar kedua pipi gue hanya untuk hal sepele,” jelasnya dan Indira menjerit saat wajah Gio sudah membenam di perpotongan leher jenjangnya.
“Menyingkir dari tubuh gue, bodoh! Gue nggak sudi disentuh sama lo!” pekik Indira meronta.
Ia berusaha menggerakkan tubuhnya agar bibir itu tidak terus menerus mengendus dan sialnya sudah mencium leher jenjang Indira. Ia ketakutan. Tangannya gemetar saat tidak bisa berkutik saat ada pria melakukan hal gila yang seperti Gio perbuat padanya.
Terutama kedua lututnya ditahan. Ia tidak bisa melakukan perlawanan.
“Akh!”
Tubuh Indira segera dibalik cepat dan kedua tangannya di piting, jadi satu di belakang punggung Indira.
Indira menangis. Kedua bawah pinggulnya kembali diremas, lebih kuat dan salah satu dadanya ikut menjadi pelampiasan pria itu dari belakang.
“Tolong ... siapa pun tolongin gue ...” tangisnya pecah.
Ia dilecehkan dan ini sudah sangat keterlaluan. Tubuhnya bergetar hebat mendengar tawa sumbang Gio. Ini sia-sia saja, sampai Indira tidak henti berteriak—mencoba menyamai suara dengan ingar bingar—yang nyatanya tidak berhasil.
“Cukup dengan kegilaanmu, Anak muda,” cetus suara dan sebelum Gio terkesiap, begitupun dengan Indira yang masih menangis.
Indera pendengaran perempuan itu sudah diisi dengan suara pukulan bertubi-tubi. Gio mengerang kesakitan dan Indira berbalik ketakutan, mendapati Gio tersungkur, tidak bisa melawan tubuh yang lebih tinggi darinya, mencoba menjadi penyelamat bagi Indira Aubrey.
Pria berkulit putih dengan persentase tiga puluh persen menuruni keturunan Jepang itu menegakkan tubuhnya. Ia membersihkan kedua tangan dan menatap dengan senyum remeh pada anak muda yang tidak bisa menyamai kekutannya.
“Jika kamu berani, hadapi pria seusiamu atau pria yang memiliki kekuatan sama, bukan untuk menyakiti perempuan lemah,” ungkapnya sambil melepaskan jas hitamnya.
Indira terkesiap. Pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh proporsional, tidak berotot besar, tapi sangat tampan itu sudah menyampirkan jas miliknya di gaun pendek Indira.
Gaun yang menampilkan bahu putihnya dengan lengan panjang. Malam ini perempuan itu tampil cantik dengan gaun berwarna maroon.
“Ayo. Aku akan mengantar kamu sampai depan lobi,” ucapnya tersenyum lembut, menuntun dengan meraih kedua bahu Indira.
Seperti terhipnotis dengan senyum dan bagaimana perlakuan lembut pria berambut hitam dengan tatanan rapi itu, Indira hanya diam dan menurut untuk pergi keluar klub lewat pintu belakang.
Embusan angin malam memainkan rambut panjangnya yang sedikit ikal. Ia mengeratkan hangatnya jas yang dipakai Indira dan aroma maskulin itu semakin membuatnya nyaman.
“Ingin singgah ke apartemenku? Mungkin lebih menarik bersama pria dewasa sepertiku dibandingkan bersama pria muda di dalam sana,” ungkap pria itu membuat tubuh Indira membeku.
Manik hitamnya membeliak, mendengar pernyataan yang terkesan santai. Bahkan, pria itu seperti mengejeknya lewat senyum manisnya.
“BERENGSEK! LO PIKIR GUE PEREMPUAN MURAHAN YANG NGGAK BISA MEMENTINGKAN LOGIKA DIBANDINGKAN RISIKO NANTINYA DI MASA DEPAN, HA?!”
Pria dewasa itu terkesiap. Ia mendapatkan tamparan keras dari Indira.
“DASAR PRIA TUA! SEENAK JIDAT LO NGOMONG SANTAI KAYAK TADI! NGGAK SUDI GUE BILANG TERIMA KASIH SAMA LO!” teriaknya sekaligus mengumpati pria bertubuh tinggi yang masih terpaku di hadapannya.
Dengan kesal, Indira melempar jas tersebut ke aspal di bawah dan menginjaknya. “Nih! Sebagai ucapan terima kasih gue sama Om mesum kayak lo!”
**
“Semua ini sudah menjadi bukti akurat! Mau berbohong dengan alasan apalagi, Indira Aubrey anak Mama tersayang?!”
Indira menunduk seperti tersangka dan mengatupkan rapat bibir saat namanya sudah dipanggil lengkap. Ia sudah tahu, tidak akan ada kata maaf saat nama lengkap disebut, penuh penekanan dan tatapan mengerikan dari sang Mama yang berkacak pinggang di hadapannya.
“Ma-af, Ma ...” lirihnya semakin tertunduk dan tidak ingin memerhatikan lembaran foto tercetak dan wajahnya sudah memerah saking malunya.
“Kalau Mama nggak paksa Naomi untuk mengaku, Mama nggak akan tau anak gadis Mama sudah disentuh pria lain. Iya, kamu nolak di sana. Jelas, CCTV itu sudah membuktikannya. Tapi kalau berlanjut atau dia bersikap kasar sama kamu, gimana?! Siapa yang rugi?!”
“Semua orang yang sayang sama kamu, Nak! Terutama diri kamu sendiri!”
“Ma. Kasihan anak kita,” sela Papa Indira yang melihat bahu putrinya sudah bergetar.
Semalam, dirinya ditarik paksa oleh sang istri untuk mengetahui keberadaan putrinya tiap malam. Sang istri khawatir jika Indira kembali berulah dan terbukti saat tidak mendapati anak gadis mereka di kamar pukul sepuluh malam.
Mengendap-endap lagi. Pergi diam-diam tanpa pamit dan membuat Mama Indira khawatir dan merasa sakit jika anak semata wayangnya terus berbohong. Usianya masih muda, tapi jika sejak dini tidak bisa diatur, entahlah apa yang akan terjadi ke depannya.
Wanita itu mengusap kasar wajahnya. Ia tidak bisa melihat putrinya menangis, tapi ia juga tidak ingin seperti ini. Ia sangat menyayangi putrinya dan mungkin, karena rasa sayang yang berlebihan, Indira terlalu menganggap mudah segala hal.
Termasuk ucapan dirinya sebagai seorang Ibu.
“Dira janji nggak akan mengulanginya lagi, Ma ...” lirih perempuan itu dan terutama mengingat perlakuan tidak senonoh dari Gio.
Ia terlalu takut mengatakan semua yang ada. Cukup saat foto di area dance floor itu menjadi bukti saja. Ia sangat malu dan untung saja Gio tidak bisa melakukan hal lebih padanya.
“Mulai sekarang kamu harus ikuti kemauan Mama,” cetus wanita itu masih berkacak pinggang di hadapan Indira.
Sedangkan suaminya duduk tenang di sofa ruang keluarga sisi lainnya.
Indira segera mengangguk cepat, masih dengan tertunduk dan menautkan kedua jemari tangan. Ia takut dengan sang Mama yang hari ini jauh lebih mengerikan dari hari lainnya. Jantungnya pun terus berdisko. Saking kuatnya takut keluar.
“Sekarang kamu bersiap-siap. Kita akan pergi,” lanjutnya membuat Indira mendongakkan kepalanya.
“Kita mau ke mana?”
“Udah! Ikut aja kalau kamu masih mau nurut sama Mama. Kecuali kamu udah nggak mau jadi anak Mama tersayang lagi.”
Indira menelan saliva susah payah saat Mama Indira berlalu begitu saja keluar ruang keluarga dan beranjak ke lantai dua tanpa mengucapkan kalimat manis seperti biasa.
“Pa? Mama marah banget sama Dira, ya?”
Lelaki itu mengangguk pelan. “Mama kamu benar, Nak. Ikuti saja setiap apa yang Mama kamu mau dan kemarahan Mama kamu bakal mereda. Kamu nggak kasihan sama Mama dan Papa? Kami menasehati segala hal yang baik untuk kamu ke depannya.”
Indira tertunduk sedih. Ada penyesalan yang cukup besar hari ini. Bagaimanapun, ia masih bisa berpikir pakai logika dan hati terkecilnya jika apa yang dilakukannya memang sudah keterlaluan.
Perempuan itu mengembuskan napas pelan dan beranjak untuk pergi ke kamarnya. Bersiap dan menuruti segala keinginan sang Mama.
**
Entahlah. Indira harus merutuki nasibnya saat harus mengikuti sang Mama. Bagaimana tidak? Ia diperkenalkan oleh wanita yang lebih tua empat tahun dari sang Mama. Mengelukan ia di hadapan wanita itu. Memuji anaknya sendiri dan dibalas yang sama oleh wanita yang sepertinya tidak terlalu mudah tersenyum.
Tante ini memang memuji aku. Tapi masa nggak bisa kasih senyum yang lebih lebar. Kan, takut. Pikir Indira dalam hati dan memaksakan senyum saat wanita itu menatapnya lurus.
Wanita dengan rambut model sanggul dan tas dengan brand ternama di atas meja kafe menandakan jika wanita itu bukanlah dari kalangan biasa. Ia berada di strata atas dalam status sosial berbentuk piramida jika Indira lihat.
Ia mengamati dari bagaimana wanita itu berpakaian dan kulit putihnya. Meskipun usianya lebih tua dari sang Mama, tetap saja kecantikannya tidak jauh berbeda dengan Mama Indira.
“Akhirnya putraku sudah datang juga,” cetus wanita di hadapannya yang langsung membuat Mama Indira tersenyum semringah.
“Halo, Mi. Maaf, Liam terlambat datang. Papa membutuhkan bantuan Liam tadi,” balas sang anak menyapa dengan memeluk dan mencium bergantian kedua pipi sang Mama.
Di hadapan mereka, Indira sukses menganga lebar mendapati pria bertubuh tinggi itu terlihat akrab bersama wanita di hadapannya. Bahkan, senyum manisnya sudah mengingatkan Indira pada pria semalam.
“Selamat siang, Tante. Maaf, Liam terlalu lama datang.”
“Wah, tidak masalah, Nak. Tante nggak nunggu terlalu lama, kok. Tante mengerti,” balasnya berdiri dan balas memeluk Liam.
Indira mengerjap bingung dengan apa yang dilakukan sang Mama. Namun, saat ia akan memanggil Mamanya yang kembali duduk, suara berat itu sudah menyentak Indira.
“Halo, Indira. Salam kenal. Namaku Liam Ogawa.”
Tubuh Indira mematung. Liam—pria yang ia umpati dan injak jas mahalnya—berdiri dan mengulurkan tangan berkenalan dengannya.
Satu pukulan di punggung tangan Indira membuat perempuan itu mengerjap, menatap bingung Mamanya.
“Balas uluran tangan Liam, Dira. Jangan buat malu Mama di hadapan mereka,” bisiknya berusaha menahan kekesalan melihat keterdiaman putrinya.
Liam tersenyum manis, berjabat tangan dengan perempuan yang memiliki telapak tangan lembut. Sepertinya perempuan di hadapannya terlalu enggan berurusan dengan dapur atau memang terlihat pandai merawat kulit tubuh. Terutama di bagian wajah cantiknya, sangat memesona dipandang tanpa jerawat seperti perempuan remaja kebanyakan.
“Lo—eh, Kakak, tau dari mana namaku?”
“Tante dan Mamamu saling memberikan foto anak kami, Nak,” cetus Mama Liam menatap lurus Indira yang menelan saliva susah payah.
“Iya, Dira. Mama sudah sepakat akan memperkenalkan kamu dengan Liam. Sebenarnya sudah sepakat bulan lalu, tapi sepertinya waktunya belum cukup tepat.”
Manik hitam itu membeliak sempurna. Sedangkan pria yang duduk di hadapannya hanya tersenyum manis. Indira tersentak saat Liam mengedipkan sebelah matanya, seolah mengejek Indira karena baru mengetahui pertemuan ini sudah direncanakan.
“Ayo, Mbak. Bukannya kita mau pergi berbelanja di Mal ini?”
“Iya. Tunggu sebentar.”
Indira menatap Mamanya bingung, berganti dengan Mama Liam.
“Indira, silakan kamu berkenalan dengan Liam, ya. Tante tinggal kalian berdua selama dua jam. Setelah itu, putuskan kapan tanggal pertunangannya.”
Saat itu pula Indira sukses mengang dengan manik hitam membeliak sempurna. Saking bodohnya ia mengekspresikan keterkejutan, Liam yang duduk di hadapannya tertawa puas.
Ia tidak menyangka bisa mendapati ekspresi wajah Indira sangat lucu.
**
“Kenapa lo bersikap jadi orang asing semalam, kalau akhirnya lo udah kenal gue?”
“Memangnya siapa yang mengatakan kalau aku kenal sama kamu?”
“Ih! Mami lo bilang, udah tau siapa gue dari foto yang saling dikasih antara nyokap kita?”
Liam terkekeh pelan melihat bagaimana Indira begitu menggebu berbicara padanya tanpa menyesuaikan lagi intonasi dan tarikan napas yang perempuan itu gunakan.
“Aku kenal kamu lewat foto, bukan secara langsung. Jadi, aku nggak salah sama sekali,” jelasnya melipat kedua tangan di atas meja dan menatap lekat perempuan berparas cantik dengan rambut sedikit ikalnya.
“Siapa tau, wajah di foto sama aslinya berbeda. Tapi, aku rasa memang beneran berbeda. Kamu terlihat lebih cantik dibandingkan foto yang diberikan Mami padaku,” ungkapnya membuat Indira tersedak.
Pria itu melihat tingkah lucu Indira menatapnya tajam. “Dasar pria tua yang mesum! Jangan harap pertunangan ini beneran berjalan lancar!”
“Doa yang baik-baik aja. Nggak bagus kalau doa yang kamu pinta buruk. Banyak perasaan yang akan tersakiti kalau pertunangan ini nggak berhasil. Terutama aku.”
Lagi. Indira tidak bisa menutupi rasa kaget dan tidak percayanya dengan sikap percaya diri pria tampan itu. Ia selalu menjawab setiap ucapan Indira begitu santai tanpa mendominasi.
“Kamu masih SMA, tapi cukup cantik juga untuk siswi seusiamu,” ungkap Liam menangkup sisi wajahnya dan menahan siku di atas meja sebagai tumpuan.
Indira membeliak. Ia nyaris tidak bisa menelan salivanya saat Liam menatapnya dalam senyum manisnya. “Usiamu tujuh belas tahun, kan?”
Perempuan itu mengangguk kaku. Ia terlalu aneh dan tidak bisa dipandang lekat oleh pria tampan yang memiliki garis keturunan Jepang. Sepertinya ia mengikuti mendapati keturunan dari sang Papa.
“Nggak akan menjadi kendala kalau kamu memutuskan menerima pernikahan ini.” Ia menegakkan tubuh, menatap lekat manik hitam yang menatapnya dengan terpaku.
Liam tersenyum manis. “Kita hanya berbeda tiga belas tahun.”
“APA?!”
Sial!
Saat itu pula, Indira menutup rapat bibirnya, menahan rasa malu saat kali kedua ia dipandang sinis dan menjadi objek perhatian pengunjung kafe. Hari ini benar-benar membuatnya sangat malu dan merasa seperti orang asing yang masuk dalam lingkaran yang penuh kejutan.
Ia tidak pernah tahu bagaimana pertemuan ini sudah direncanakan dan Mamanya akan menjodohkan dirinya dengan pria yang lebih tua tiga belas tahun darinya?!
“Lo ... jadi ... jadi, lo seharusnya gue beneran panggil Om?!”
Indira pikir, usia pria itu sekitar dua puluh lima tahun.
Liam tertawa kecil. “Kenapa? Aku terlihat muda dari usiaku?”
Perempuan itu mendengkus dan menatap tidak percaya tingkat percaya diri Liam. “Seharusnya gue nggak usah panggil lo Kakak. Lebih baik gue panggil lo Om.”
“Ya. Om-om yang dekatin perempuan muda seperti kamu,” sambungnya memainkan alis dan menatap genit Indira.
“Lo juga. Kenapa terlihat akrab banget, sih! Dari awal kenal lo udah sangat mesum! Gue benci didekati pria dewasa dan mesum kayak lo!”
“Sekarang nggak mau, nanti juga nggak bakal nolak.”
Indira menggeram dan menangkup kepala dengan kedua telapak tangannya. Frustrasi sendiri dengan tiap jawaban santai yang terlontar dari Liam.
Pria dewasa di hadapannya terlalu bersikap tenang dan ia sudah kalah telak.
“Untuk apa bersikap formal? Memanggil dengan sebutan ‘kamu – saya’ kalau akhirnya kita akan semakin dekat dengan hubungan baru? Semakin menjadikan panggilan kita terlalu berjarak, kita akan semakin sulit mendapati interaksi yang intens dan akrab.”
Perempuan itu menatap Liam tidak berkedip.
“Sumpah! Lebih baik lo tolak pernikahan ini sebelum terjadi! Gue masih sekolah! Belum lulus dan terutama gue bukan tipe perempuan yang sesuai untuk pria dewasa kayak lo, Om-om genit ...” gemasnya dalam bicara yang sontak membuat Liam tidak tahan untuk tertawa.
“Minimal cari perempuan yang selisih usianya nggak jauh dari lo. Please, tipe kita beda. Jangan rusak masa depan gue dengan pernikahan bersama Om-om tua kayak lo. Mama juga, dikasih calon suami yang ketuaan gini.”
“Tadi, kamu bilang usiaku nggak mencerminkan perawakanku? Aku kelihatan lebih muda, kan? Nggak masalah kalau kita melanjutkan pernikahan ini,” balasnya semakin mendesak dan menyudutkan Indira.
“Mama ....”
Indira memanggil merengek dan frustrasi pada sang Mama tercinta. Tidak tahan berada lama-lama bersama Liam. Tapi justru ia kembali menjadi tontonan gratis oleh pengunjung kafe. Indira terlalu sebal dengan sikap Liam.
“Gue bakal panggil lo Om!”
“Nggak masalah. Bukannya terdengar menarik? Kamu terlihat menjadi seorang sugar baby.”
Bibir Indira terbuka sempurna. Ia menganga, kaget dengan tiap jawaban Liam yang selalu santai dan satu lagi, sangat mesum.
“Gue bakal bilang sama Mama, kalau gue menolak pernikahan ini. Sama aja pemaksaan! Gue nggak setuju!”
Wajah Liam terlihat begitu sedih mendengarnya. Ia mengembuskan napas pelan. “Padahal, aku nggak mempermasalahkannya. Aku setuju saat melihat wajah calon tunanganku. Cantik dan terlihat sangat muda.”
“Aku bisa mengajari banyak hal padanya.”
Manik hitamnya membeliak sempurna. “Dasar Om mesum!”
**
“Pokoknya Dira nggak setuju kalau Mama berencana menjodohkan Dira sama Om tua itu!”
“Siapa yang kamu bilang ‘Om tua’, Dira? Liam belum genap berusia tiga puluh tahun dan dia terlihat masih muda diusianya sekarang. Pasti kamu nggak akan sangka usianya dipertemuan awal, kan?”
Indira terdiam. Ia memang mengakui ucapan Mamanya dan sudah terbukti saat mereka sedikit mengenal usia mereka yang cukup jauh selisihnya.
Perempuan itu menggeleng cepat dan menatap Mamanya yang santai meletakkan tas di atas ranjang kamar wanita itu. Ia masih enggan untuk menyetujui pertunangan ini.
“Tapi, Ma—“
“Nggak, nggak dan nggak. Mama nggak akan mau mendengar penolakan kamu karena sudah berjanji untuk menuruti kemauan Mama.”
“Tapi nggak dengan perjodohan ini, Mama Dira tersayang ...”
“Anak Mama tersayang ... tolong turutin permintaan Mama ini, ya? Kamu mau buat Mama marah, lagi?”
“Ma,” kekeuhnya.
“Seratus kali kamu menolak, terus bersikap kayak gini, Mama nggak akan mengubah keputusan Mama.”
“Mami Liam bilang, keputusan ada di tangan kami. Kenapa Mama yang mengambil alih?”
“Eh? Liam? Kalian sudah sangat dekat rupanya,” cetus Mamanya menatap Indira dalam binaran bahagia, sedangkan Indira gelagapan saat tidak menyembutkan embel-embel ‘Kakak’ dalam ucapannya.
“Nggak, Ma! Dari tadi Dira bahkan udah menolak sebelum keputusan ini ditentukan,” selanya cepat dan membuat Mama Indira berdecak kesal.
“Pokoknya nggak bisa! Titik nggak pakai koma!” tegasnya dan berlalu ke luar kamar, meninggalkan Indira yang mencoba meredam rasa kesal dan napasnya yang memburu.
Ia mengacak rambutnya frustrasi. “Dia juga menerima aja. Dasar Om mesum! Wajar aja dia nggak mau menolak, orang gue masih anak kecil yang terlalu mudah jadi mangsa dia. Keenakan dia, sedangkan gue nggak punya pengalaman apa pun sama pria lain meskipun sering disebut playgirl!”
**