“Saya akan lunasi biaya operasi suami kamu. Tapi dengan satu syarat,” ucap seorang wanita tua yang masih terlihat cantik itu pada Alana. Wanita tua itu bernama Nita.
“Apa syaratnya, Ma?” tanya Alana dengan tubuh yang basah kuyup.
“Tinggalkan Andra. Dan pergi sejauh mungkin dari kehidupannya.”
Bola mata Alana membeliak. Ia terkejut dengan syarat yang diucapkan oleh ibu mertuanya. Meninggalkan Andra? Bagaimana mungkin.
Andra adalah suaminya. Terlebih saat ini lelaki itu sedang terbaring lemah di rumah sakit.
“Tapi aku tidak bisa melakukan itu, Ma. Aku tidak bisa meninggalkan Andra. Dia suamiku dan dia sangat membutuhkanku saat ini.”
“Andra anakku. Aku bisa merawatnya dengan baik,” tukas Nita cepat. “Dulu aku yang membesarkannya. Tapi setelah dewasa, dia malah jatuh ke dalam jerat perempuan miskin seperti kamu dan memilih pergi dari rumah ini. Sekarang lihat apa yang terjadi pada Andra? Kamu hanya bisa membawanya hidup susah. Kamu membuat Andra menderita. Jadi sebaiknya kamu tinggalkan dia. Biarkan Andra hidup bahagia dengan wanita yang lebih baik dari kamu,” lanjut Nita dengan nada tinggi.
Alana menggeleng. Berpisah dengan Andra? Membayangkannya saja Alana tidak sanggup.
Hujan masih mengguyur dengan deras, Alana hanya dibiarkan berdiri di depan pintu rumah. Sebab Nita tak akan pernah membiarkan Alana menginjakkan kaki di rumahnya yang megah.
“Aku dan Andra saling mencintai, Ma. Tolong jangan berikan syarat seberat ini. Aku berjanji akan berusaha membahagiakan Andra. Tolong jangan minta kami untuk berpisah. Apalagi saat ini aku sedang mengandung cucu Mama,” mohon Alana sambil menangis. Ia mengusap perutnya.
“Andra sudah tahu kamu hamil?” tanya Nita menyelidik.
Alana menggelengkan kepalanya. “Belum, Ma.”
“Bagus. Kalau begitu gugurkan,” cetus Nita tanpa perasaan.
Mata bening Alana membola, ia menggeleng dengan cepat.
“Tidak, Ma. Aku tidak mau membunuh bayi ini. Ini buah cinta kami, dia tidak berdosa.”
Nita berdecih dengan kesal. “Andra itu lelaki sehat. Dia masih bisa mendapat banyak anak dari wanita lain. Kalau kamu benar-benar sayang pada anak saya dan ingin dia sembuh. Maka tinggalkan dia dan pergi jauh dari kehidupannya. Hanya itu.”
Alana mengusap air matanya, kepalanya terangkat dengan wajah memohon.
“Aku tidak bisa meninggalkan Andra, Ma. Aku mencintainya,” ucap Alana.
Nita menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. Tanda ia mengejek.
“Terserah kalau kamu tidak mau meninggalkan anak saya. Maka silahkan cari uang ke tempat lain,” ucap Nita lalu membalikan tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah.
Alana terhenyak mendengar perkataan ibu mertuanya. Kemana lagi Alana harus mencari uang untuk biaya operasi Andra? Ia tidak memiliki sanak saudara untuk dimintai pertolongan. Sementara operasi Andra harus segera dilakukan malam ini juga. Jika tidak, nyawa Andra dalam bahaya.
Maka sebelum Nita benar-benar menutup pintu, dengan cepat Alana menahannya.
“Tunggu, Ma.”
“Ada apa lagi?” sentak Nita.
“Aku, aku bersedia meninggalkan Andra,” putus Alana pada akhirnya. Nita langsung menyunggingkan senyum kemenangan. “Tapi tolong bantu biayai operasinya, Ma. Dokter bilang Andra harus dioperasi secepatnya,” lanjut Alana.
Sebagai seorang istri, Alana tahu ini pilihan yang berat. Meninggalkan suami yang dicintai dengan keadaan hamil. Tapi apa yang bisa Alana perbuat? Saat ini hidup dan mati Andra bergantung padanya.
***
Alana terduduk di depan ruang operasi Andra, ia meremas buku jarinya dengan erat. Sementara salah satu tangannya memegang sebuah map yang harus ia tandatangani.
“Cepat tanda tangan! Kenapa lama? Kamu mau Andra lebih lama lagi mulai operasinya?” sentak Nita yang berdiri melipat kedua tangannya di depan Alana.
Alana mendongkak menatap Nita. Namun ibu mertuanya itu sama sekali tidak peduli dengan matanya yang sembab. Alih-alih pada janin yang sedang dikandungnya.
‘Maafin aku, Ndra. Aku terpaksa menandatangi surat cerai ini demi kesembuhan kamu. Sekali lagi aku minta maaf, Ndra. Aku cinta kamu,’ ucap Alana dalam hati.
Sebelum kemudian ia menggerakan tangannya untuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu. Surat cerai yang telah dipersiapkan oleh ibunya Andra.
Melihat tangan Alana yang bergetar, senyum puas langsung tergambar di wajah Nita. Ia senang karena akhirnya Andra dan Alana berpisah. Maka Nita bebas menjodohkan Andra dengan wanita pilihannya.
“Sudah, Ma,” ucap Alana pelan setelah ia selesai menandatangani surat cerainya.
Nita merebut map itu kasar. Lantas senyumnya semakin lebar saat melihat tandatangan Alana di sana.
“Bagus. Sekarang kamu pergi dari sini,” usir Nita.
Alana bangkit berdiri dan menggeleng.
“Biarkan aku menunggu sampai operasi Andra selesai, Ma. Aku mau tahu pasti keadannya.”
“Andra akan baik-baik saja. Sekarang kamu tepati janji kamu. Pergi sejauh mungkin dari hidup anak saya. Jangan pernah tunjukan batang hidungmu sedikitpun di depan Andra. Dan satu lagi, besok pagi kamu harus sudah mengosongkan kontrakan kalian. Karena saya tidak mau Andra mencari kamu ke tempat kumuh itu,” sentak Nita memberi peringatan. Lalu mendorong Alana hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
“Ma, aku akan pergi Ma aku janji. Tapi aku mau tunggu sampai operasi Andra selesai. Biarkan aku tetap di sini dulu. Aku mau tunggu Andra, Ma.”
“Satpam!” Nita berteriak memanggil keamanan. Alana menggeleng dan terus memohon pada ibu mertuanya.
Tak lama seorang lelaki berseragam keamanan datang menghampiri Nita.
“Iya, Bu.”
“Perempuan ini membuat kegaduhan di depan ruang operasi anak saya. Tolong seret dia keluar!”
“Baik, Bu. Ayo, Mbak. Ikut saya keluar.” Satpam itu menarik tangan Alana.
“Tidak mau. Andraa! Andra! Ma, aku mau tunggu Andra Ma.”
Alana terus berteriak. Namun Nita sama sekali tidak peduli. Ia tersenyum senang melihat Alana terus diseret keluar.
“Akhirnya, saya bisa juga pisahkan kamu dengan Andra. Anak saya tidak pantas bersanding dengan perempuan miskin seperti kamu, Alana,” ucap Nita sambil berpangku tangan.
***
Jarum jam di dinding rumah sakit menunjukan pukul dua pagi.
Nampak seorang lelaki bertubuh tegap dan jangkung terbaring lemah di sebuah ranjang. Perlahan jari-jemarinya bergerak lembut. Bergetar seolah ingin menunjukan kalau ia telah sadar.
Meski berat, lelaki itu berusaha membuka kelopak matanya sedikit. Maka langit-langit rumah sakit menjadi pemandangan pertama yang ia lihat.
“Al-ana..”
“Alana..”
Suaranya bergetar memanggil nama wanita yang begitu ia cintai. Matanya menatap sekeliling, tapi ia tidak melihat siapapun di dalam ruangan ini. Kemana Alana?
“Alana!”
Kini ia memanggil dengan suara yang agak keras. Hingga membuat Nita dan suaminya yang sedang tidur di sofa, terbangun. Mereka terkejut mendengar Andra berteriak memanggil-manggil Alana. Nita dan Darma—suaminya, langsung menghampiri Andra saat melihat lelaki itu hendak bangkit untuk turun dari ranjangnya.
“Andra! Kamu tidak boleh turun dulu. Kaki kamu masih sakit. Bekas operasi kamu belum sembuh betul, Ndra!” Nita menahan lengan Andra dengan panik.
“Istirahat, Andra. Dokter menyarankan kamu jangan terlalu banyak bergerak,” Darma menambahkan. Sembari membetulkan posisi Andra agar berbaring dengan benar.
“Di mana Alana, Ma? Pa? Kenapa Andra tidak melihat dia?”
Nita berdecak dalam hati. Orang pertama yang Andra tanyakan pasti Alana. Sepertinya wanita itu sudah berhasil menguasai hati dan pikiran Andra.
Darma pun memasang wajah malas saat mendengar nama Alana. Menurutnya, nama Alana bahkan tak pantas untuk sekadar disebut-sebut di dalam keluarga mereka.
Kedua orang tua Andra memang sangat membenci Alana, karena mereka menganggap kalau Alana sudah membuat Andra memilih meninggalkan rumah demi menikah dengannya.
Padahal dulu Andra sudah mau dijodohkan dengan anak rekan bisnis mereka. Tetapi Andra menolaknya dengan tegas. Lantas pergi dari keluarganya, dan menikah tanpa restu dengan wanita miskin seperti Alana.
“Ma? Aku sedang bertanya. Di mana Alana?”
“Alana sudah pergi, Ndra,” Nita menjawab pelan. Sambil menampilkan wajah sedih di depan Andra.
“Pergi? Pergi bagaimana maksudnya?” Andra bertanya panik.
“Dia pergi meninggalkan kamu bersama laki-laki lain.” kali ini Darma yang menjawab.
Dan kening Andra berkerut mendengarnya. Papanya bilang kalau Alana pergi bersama laki-laki lain? Tidak! Andra tidak akan percaya itu sedikitpun.
Alana sangat mencintainya. Mana mungkin ia akan tega meninggalkan Andra? Orang tuanya pasti bohong. Alana tidak pernah meninggalkannya.
Jika berkenan, mampir ke novelku yang lainnya yuk! Siapa tahu ada yang kalian suka.
Judulnya:
1. CEO in My Bed
2. Gadis yang Ternoda
3.Salah Pilih Pengantin.
“Tidak mungkin! Aku tidak percaya. Alana tidak akan melakukan itu!”
“Tapi memang itu yang terjadi, Ndra. Alana sendiri yang bilang pada Mama dan Papa. Kalau dia tidak mencintai kamu lagi. Dia bosan hidup susah bersama kamu. Lebih lagi karena kecelakaan itu, kedua kaki kamu bermasalah. Alana bilang dia tidak mau memiliki suami yang cacat dan tidak berguna. Untuk itu dia pergi dengan kekasih barunya yang bisa memberinya kemewahan. Alana benar-benar pergi, Ndra. Dan dia ingin cerai dari kamu,” Nita memberikan penjelasan palsu.
Tetapi kepala Andra tetap menggeleng dengan tegas.
“Bohong! Alana tidak mungkin bilang begitu sama Mama. Kalian pasti bohong. Kalau Mama dan Papa tidak mau memberitahu di mana Alana. Maka biar Andra sendiri yang pergi mencarinya!” Andra berusaha kembali bangkit.
Tapi tangan Nita dengan cepat menahannya lagi.
“Jangan, Ndra. Ingat kaki kamu. Bisa fatal akibatnya kalau kamu memaksakan banyak bergerak saat ini.”
“Tapi Aku mau mencari Alana, Ma. Aku ingin memastikan kalau semua yang kalian bilang itu tidak benar. Alana pasti ada di rumah saat ini!” tegas Andra.
“Kamu jangan keras kepala, Andra. Sudah berapa kali Papa bilang sama kamu. Alana itu bukan gadis yang baik. Dia hanya memanfaatkan kamu untuk menguras harta keluarga kita. Buktinya, dia tidak tahan hidup miskin dengan kamu, ‘kan? Dia malah pergi dengan laki-laki lain di saat kaki kamu sedang tidak berdaya seperti ini,” Darma mencoba mempengaruhi pikiran Andra.
Agar anaknya itu percaya kalau Alana memang bukan wanita baik-baik.
“Biarkan aku pergi dan memastikan, Pa. Karena hatiku sangat yakin kalau Alana tidak mungkin meninggalkanku begitu saja.”
“Tapi sekarang masih gelap, Ndra. Kamu juga baru sadar. Mama khawatir sama kamu,” Nita menyentuh lengan Andra yang terbaring dengan mata yang memanas.
“Oke. Kalau kamu memang tidak percaya pada kita. Silakan cek sendiri ke rumah kontrakan kalian. Tapi jangan sekarang. Ini masih pukul dua pagi. Setidaknya tunggu besok setelah kamu mendapat izin dari rumah sakit. Dan Papa pesankan satu hal sama kamu. Jangan menangis jika nanti kamu mendapati kenyataan kalau Alana memang menghianati pernikahan kalian.” Darma berkata dengan tegas.
Andra meneguk ludahnya kasar. Ia menatap nanar pada Darma yang berlalu keluar dari ruang rawatnya. Sementara Nita mengelus rambut cepak Andra yang nampak kusut dan berkeringat.
Setetes air mengembang di bola mata Andra yang bening, kemudian jatuh dan menganak sungai melewati kedua pelipisnya.
Hatinya tetap teguh. Ia tak akan percaya Alana pergi meninggalkannya sebelum Andra melihat buktinya sendiri.
***
Mobil milik Nita sudah terparkir rapi di depan sebuah rumah kontrakan yang nampak kumuh dan sederhana. Rumah dimana Andra dan Alana tinggal berdua dan menjalani kehidupan mereka setelah menikah.
Nita berdecih dalam hati, manakala matanya berpendar menatap rumah itu. Ia tidak menyangka jika Andra mau tinggal di rumah yang bahkan menurut Nita lebih pantas disebut kandang ayam.
Padahal dulu Andra hidup berkemewahan. Andra dulu menjabat sebagai kepala manajer keuangan di kantor milik Darma. Tetapi kemudian ia bertemu dengan Alana yang merupakan salah satu karyawan di sana. Kecantikan dan kelembutan hati Alana, mampu meluluhkan perasaan Andra.
Dengan berani, Andra berani mengenalkan Alana pada kedua orang tuanya. Namun yang didapat bukanlah doa restu, melainkan tatapan menghina dan makian yang mereka lontarkan pada Alana.
“Mama tidak setuju kamu menikah dengan dia, Ndra. Kamu sudah Mama jodohkan dengan Sherly!” kata Nita saat itu. Ia berdiri dengan wajah marah di samping Darma.
“Aku tidak pernah menyetujui perjodohan itu, Ma. Aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak ku cintai hanya karena kepentingan perusahaan. Niatku sudah bulat. Aku ingin menikahi Alana meski tanpa restu dari kalian!” Andra berkata dengan tegas. Sebelah tangannya menggenggam tangan kiri Alana.
Alana mendongkak. Ia menatap Andra dengan pandangan tak percaya. Jika lelaki itu akan mempertahankan dirinya di hadapan kedua orang tuanya. Tetapi Alana tidak mengharapkan semua itu. Ia tidak ingin jadi penyebab hancurnya hubungan Andra dengan keluarganya.
“Kamu bahkan berani membangkang orang tua kamu sendiri hanya karena wanita itu, Andra! Apa yang sudah wanita itu berikan sama kamu? Apa dia sudah memberikan tubuhnya?”
“Cukup, Pa! Berhenti menghina Alana! Dia bukan gadis seperti yang Papa pikirkan!” Andra menggeram seraya mengepalkan tangannya. Hatinya sakit mendengar Alana terus saja dihina oleh Darma dan Nita.
“Lalu apa? Jangan bilang kalau dia sudah mengguna-guna kamu!” kali ini Nita yang bicara. Lalu ia melemparkan tatapan tajamnya pada Alana. “Heh, perempuan! Jawab saya, pada dukun siapa kamu mengguna-guna Andra?” Nita menghampiri Alana dan langsung mencengkram kedua pundak Alana dengan kencang. Hingga Alana merintih kesakitan.
“Hentikan, Ma! Mama menyakiti Alana!”
“Biarkan! Biar perempuan tidak tahu malu ini tahu dimana derajatnya. Beraninya dia bermimpi mau jadi istri kamu, Andra! Dia harus mati! Dia harus mati!” Nita memindahkan tangannya di leher Alana. Mencekiknya dengan kuat.
Andra panik dan berusaha menolong Alana yang nyaris kehabisan napas. Sementara Darma tetap berdiri tak peduli. Menyaksikan semuanya dalam diam seraya berpangku tangan.
“Uhuk.. uhukk..”
“Mama keterlaluan! Mama hampir saja membunuh Alana!” teriak Andra ketika ia berhasil melepaskan tangan Nita dari leher Alana yang langsung terbatuk-batuk.
“Mama tidak peduli. Wanita murahan ini sudah membuat kamu menolak perjodohan dengan Sherly! Dia sudah membuat kamu berani membangkang Mama dan Papa. Dia sudah membuat kamu berubah, Andra!”
“Aku memang sudah berubah, Ma. Dan memang Alana yang merubahku. Alana yang membuat aku sadar kalau kebahagiaan bukan hanya soal harta. Selama ini yang ada di pikiran kalian hanya soal uang dan uang. Tanpa pernah memikirkan kebahagiaanku sendiri sebagai anak kalian. Dan sebelum aku kenal Alana, aku sudah menolak perjodohan itu dengan tegas. Niatku membawa Alana ke sini adalah untuk meminta restu. Karena aku masih ingat kalian sebagai orang tua.”
“Sampai mati pun, kami tidak akan pernah merestui pernikahan kalian!” tegas Darma yang bicara. Nita mengangguk mengiyakan pernyataan suaminya.
Andra mendengus, lalu menyunggingkan senyum kecut.
“Sekarang aku tahu. Kalau kalian memang selalu egois dan tak peduli pada kebahagiaanku. Hari ini juga aku akan angkat kaki dari rumah ini. Besok aku akan menikahi Alana dan menjadikan dia istriku. Dengan atau tanpa restu kalian!” putus Andra membuat kedua bola mata orang tuanya membeliak terperangah.
Alana pun nampak terkejut dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Andra. Ia hendak bicara, tapi tangan Andra lebih dulu menariknya untuk segera meninggalkan rumah itu.
“Andra! Selama kamu masih bersama dengan wanita itu. Kamu bukan anak kami!” teriak Papa Andra saat langkah Andra dan Alana menjauh dari pandangan mereka. Sementara Nita menangis di dekapan suaminya.
Andra terus menggenggam tangan Alana melewati pintu utama rumah orang tuanya.
“Andra.. tolong jangan begini. Mereka itu orang tuamu—“
“Kamu dengar sendiri tadi, Alana? Mulai sekarang, aku bukan anak mereka lagi!”
Alana menggelengkan kepalanya. Ia menatap Andra dengan pipi yang sudah basah. Lalu tangan Alana meraih kedua telapak tangan Andra, mengusapnya dengan lembut.
“Tidak pernah ada yang namanya bekas anak, Andra! Aku memang sangat mencintai kamu. Tapi aku tidak mau egois dengan hubungan ini. Aku tidak mau menjadi penyebab keretakan hubungan antara orang tua dan anak. Mereka berbuat seperti itu demi kebahagiaan kamu, Ndra. Jadi biarkan aku yang mengalah. Aku yang akan mundur dan kamu kembalilah pada keluargamu.”
“Tidak Alana! Aku tidak mau kehilangan kamu. Dan apa yang kamu bilang itu salah. Kedua orang tuaku tidak pernah memikirkan apapun kecuali uang. Sekarang aku sudah mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Kamulah kebahagiaan itu. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membiarkan kamu lepas dariku.”
“Tapi, Andra—“
“Ssstt..” Andra menatap Alana lekat seraya menempelkan telunjuknya di bibir mungil wanita itu. “Berhentilah bicara dan aku mau kamu jawab iya untuk menikah denganku!”
Alana mengusap air matanya yang kembali meluruh. Sejujurnya ia kasihan pada kedua orang tua Andra yang harus kehilangan anak mereka karena dirinya. Tetapi Alana juga sangat mencintai lelaki di hadapannya ini.
Biarlah Alana menjadi egois sekarang. Sama halnya dengan Andra, Alana pun tidak ingin kehilangan kebahagiaannya.
“Iya, Ndra. Aku mau menikah dengan kamu!” jawab Alana saat itu. Yang seketika mengembangkan senyum di wajah Andra. Andra langsung meraih tubuh Alana untuk kemudian memeluknya dengan erat.
Mereka tidak peduli jika saat ini mereka masih berada di pelataran rumah Andra yang megah. Yang jelas, tidak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Alana dan Andra kala itu.
“Ndra! Suster dari tadi menunggu kamu turun dari mobil. Kenapa masih melamun? Kamu tidak jadi masuk ke rumah itu?”
Andra terhenyak dari lamunannya. Ia melihat ke samping. Ternyata pintu mobil sudah di buka dari luar, dan sebuah kursi roda tersedia di bawah untuk menampung tubuh kekar Andra.
Andra mengangguk. Lalu kemudian ia turun dengan dibantu oleh Nita dan perawatnya. Andra menatap rumahnya yang nampak sepi, sunyi dari luar. Perasaan tidak enak seketika menyergap hatinya begitu saja.
‘Mungkin Alana sedang tidur siang. Jadi rumahnya terlihat sepi.’ batin Andra.
Kursi roda itu didorong oleh perawat untuk mendekati pintu. Dengan mudahnya pintu yang tidak dikunci itu terbuka. Lantas mereka masuk ke dalamnya.
“Alana! Alana! Kamu di mana sayang? Aku pulang!”
Nita memutar bola matanya jengah mendengar panggilan Andra pada istrinya. Karena tidak ada sahutan dari Alana, Andra meminta pada suster untuk mendorongnya ke kamar.
“Alana…”
Kening Andra berkerut saat ia juga tak mendapati Alana di dalam kamar mereka. Perasaan Andra makin tak menentu, ketika manik matanya melihat beberapa benda yang nampak berserakan di atas tempat tidur. Benda itu seperti…
Dengan cepat Andra mendorong kursi rodanya sendiri untuk mendekat.
“Alana!” napasnya tercekat. Andra rasanya ingin mati saat ini juga. Ia tidak menyangka dengan apa yang ia lihat saat ini.
Sebuah dokumen surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Alana kini berada dalam genggamannya. Belum puas Alana membelah hatinya dengan surat cerai itu, mata Andra juga disuguhi dengan pemandangan nahas yang lain.
Buku nikah mereka sudah berserakan dalam keadaan robek di atas kasur. Juga ada selembar surat yang mana tulisan tangannya sangat Andra kenali. Itu tulisan tangan Alana.
‘Andra. Maaf aku pergi tanpa pamit. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya bilang sama kamu. Aku sudah tidak sanggup hidup sama kamu, Ndra. Aku bosan hidup susah dan hanya mengandalkan gajimu yang kurang untuk menutupi kebutuhan kita. Apalagi sekarang kaki kamu lumpuh. Hidup kita pasti akan semakin susah.’
‘Untuk itu aku memilih menyerah dengan pernikahan ini. Aku jatuh hati pada lelaki lain. Dan dia berjanji akan memenuhi kebutuhanku dan memberikan semua yang aku mau. Maaf, Ndra. Terimakasih untuk cinta kamu selama ini. Tolong tandatangani surat cerai kita. Karena aku sudah tidak mencintai kamu lagi.’
Seiring dengan air matanya yang menganak sungai di pipi, Andra meremas surat itu di tangannya. Kepalanya mendongkak menahan semua rasa sakit. Kemudian menggeleng tak menyangka.
“Tidak! Kamu tidak bisa meninggalkanku, Alana. Kamu tidak boleh meninggalkanku. Aku mencintaimu. Jangan minta bercerai dariku. Tolong jangan pergi Alana! Jangan pergi..” Andra meraung-raung mengacak semua surat yang ada di atas tempat tidur itu hingga jatuh bertebaran di bawah lantai.
Nita dan suster dengan cepat menenangkannya sebelum Andra semakin kalap dan memperburuk kondisinya.
“Sadar, Ndra! Sadar! Alana sudah pergi! Dia sudah tidak mencintai kamu lagi. Berhenti menghabiskan air mata kamu hanya untuk menangisi wanita seperti dia!”
Tapi Andra masih meraung. Seolah tak mendengarkan Nita sama sekali. Ia meremas dan mengacak sprei untuk menumpahkan tangis dan emosinya.
“Kenapa kamu pergi, Alana? Kenapa? Aku memang lumpuh saat ini. Tapi kamu jangan khawatir. Kakiku akan sembuh lagi nanti. Aku masih bisa cari uang untuk kamu. Aku masih bisa bekerja. Jadi tolong pulanglah Alana. Aku tidak mau cerai darimu.”
Nita menegakan tubuhnya sambil menghembuskan napas kesal. Ia sangat kesal pada Alana yang berhasil menguasai hati dan pikiran Andra. Rasanya Nita ingin menjambak Alana saat ini juga.
“Andra! Dengar Mama! Kamu itu laki-laki yang kuat! Berhenti menangisi dia!” Nita menangkup kedua pipi Andra dan membuat Andra menatap tepat pada matanya.
“Aku masih tidak bisa percaya, Ma. Alana pergi meninggalkanku. Dia merobek buku nikah kami dan menulis sebuah surat yang membuatku hancur. Dia bilang, dia sudah tidak mencintaiku lagi..”
“Dari awal, Mama dan Papa sudah memberitahu kamu. Kalau Alana itu bukan wanita yang baik-baik. Dia hanya mau memanfaatkan harta kamu, Ndra. Hanya harta yang dia cari. Dia pikir dia akan menjadi kaya setelah menikah dengan kamu. Tetapi akhirnya dia menyerah juga saat yang dia dapatkan hanya kesusahan. Mama minta kamu berhenti membuang air mata untuk wanita murahan itu! Dia tidak pantas untuk kamu tangisi!”
Andra merapatkan bibirnya, menahan rasa sesak yang begitu mendera di dalam hatinya. Matanya terpejam mengingat wajah Alana yang selalu ia pandang sebelum tidur. Tapi kini wajah itu menyisakan luka yang mendalam di hatinya. Alana sudah membuat hidupnya hancur berantakan.
“Kembalilah, Ndra! Lupakan perempuan itu. Papa dan Mama akan sangat senang kalau kamu mau kembali ke rumah kita. Buktikan pada Alana, kalau kamu bisa jadi orang yang sangat sukses. Biar perempuan itu menyesal telah meninggalkan kamu!”
Nita mempengaruhi pikiran Andra. Tentu saja ia tak ingin Andra dan Alana kembali bertemu sampai kapanpun.
Yang Nita inginkan adalah Andra kembali ke dalam rumahnya. Dan membantu Darma untuk mengelola perusahaan mereka. Lantas kemudian, Nita dan Darma akan melanjutkan rencana mereka yang dulu sempat tertunda.
Yaitu meneruskan perjodohan Andra dengan Sherly.
***
“Sudah, Andra. Jika kamu belum bisa, sebaiknya tidak usah dipaksakan,” ucap Ken—terapis yang membantu proses fisioterapi Andra.
Ken melihat Andra terjatuh ke bawah saat baru saja akan berlatih berdiri. Ia mengulurkan tangannya hendak mengangkat tubuh Andra. Tetapi dengan cepat Andra menepisnya.
“Aku bisa. Aku tidak mau mengakhiri terapi ini tanpa memulainya!” Andra berkata dengan suara yang tegas.
Ken menghela napasnya pelan. Pasien yang satu ini begitu keras kepala. Tapi ia mengangguk sebagai jawaban.
“Baiklah. Kalau kamu memang mau melanjutkan, biar aku bantu kamu berdiri.”
Andra menurut. Ia tak protes saat Ken berusaha mengangkat tubuh bagian atas Andra. Sementara Andra sendiri menjangkau tiang yang ada di kedua sisinya. Agar kakinya bisa berdiri dengan tegak.
Nita memerhatikan dari belakang. Ia menggigit jari dan meringis saat Andra beberapa kali nyaris terjatuh lagi.
“Sudah ku bilang ‘kan, kalau aku bisa!” Andra berkata saat ia berhasil berdiri. Meski tubuhnya agak condong ke depan dikarenakan kakinya masih belum bisa tegak dengan benar.
“Bagus. Aku tahu kamu tidak patah semangat, Andra.” ken menyahut.
Andra merasakan sedikit goyah di kakinya. Tapi ia merapatkan bibirnya dan menahan agar kakinya tidak tumbang lagi. Andra meyakinkan dirinya sendiri, kalau ia pasti bisa sembuh. Kakinya pasti akan bisa berjalan kembali.
Andra bukan lelaki yang cacat! Ia adalah lelaki yang normal!
Namun rupanya ucapan itu tak selaras dengan tubuhnya. Karena beberapa detik kemudian tangan Andra yang memegangi tiang, bergetar dengan hebat. Keringat dingin berucuran di kening dan pelipisnya.
Selanjutnya tubuh yang jangkung dan kekar itu ambruk begitu saja. Membuat Ken bergegas mendekat. Nita bahkan menjeritkan nama Andra, dan berlari menghampiri anaknya itu.
“Andra! Sudahlah. Terapinya hari ini sudah saja. Nanti kamu bisa terapi lagi lain waktu,” Nita menyentuh lengan Andra.
“Iya, Andra. Terapinya cukup sampai di sini. Jika kamu jatuh terus-menerus. Tidak akan baik untuk kondisi kakimu,” tambah Ken.
Namun lagi-lagi Andra menggeleng dengan tegas.
“Tidak! Aku masih mau latihan berdiri satu kali lagi.”
“Ndra! Tapi Mama khawatir—“
“Ma! Jangan perlakukan aku seolah aku ini adalah laki-laki yang lemah dan tidak berdaya! Aku akan bisa berdiri, Ma. Aku pasti bisa berjalan lagi. Aku harus menunjukan pada wanita itu, kalau aku bukan lelaki cacat seperti yang dia katakan. Aku harus membuatnya menyesal, karena telah meninggalkanku!” tegas Andra dengan tatapannya yang tajam.
Ken mungkin tidak mengerti dengan apa yang Andra katakan. Tentang siapa wanita yang Andra maksud. Ia memilih tidak ikut campur karena ia hanyalah seorang terapis di sini.
Tetapi Nita terkejut dengan amarah yang Andra pancarkan dari matanya. Lelaki itu seperti menyimpan dendam yang mendalam untuk Alana. Dan hal itu tentu saja membuat Nita merasa sangat senang. Akhirnya ia bisa juga membuat Andra membenci Alana.
‘Lihat saja Alana. Aku tidak akan diam mendapat penghianatan seperti ini. Bersenang-senanglah dengan kehidupanmu yang sekarang selagi kamu bisa. Karena jika sudah saatnya, aku akan merebut semua kesenangan itu untuk membalas semua rasa sakit yang sudah kamu buat!’ batin Andra.
Nampaknya kebencian telah mendarah daging di hatinya untuk Alana.
***
Delapan tahun berlalu…
“Tuan Andra. Saya minta maaf, karena belum berhasil menemukan di mana Alana berada.” Rian—salah satu orang suruhan Andra kini berdiri menghadap Andra dengan wajah tegangnya.
Bukan apa? Tatapan mata Andra yang tajam seakan terasa menusuk ke dalam jantungnya. Andra telah berubah menjadi lelaki tegas yang tak berperasaan. Ia tak segan menghardik semua orang yang tak bisa menjalankan tugasnya dengan benar.
Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Kini kedua kaki Andra sudah bisa berdiri dan berjalan dengan normal. Berkat terapi yang rutin ia jalani. Tetapi luka di hatinya tak kunjung samar. Luka itu masih sepekat delapan tahun yang lalu. Dan Andra sampai saat ini masih mencari di mana perempuan yang sudah memberinya luka itu berada? Alana adalah penyebab dari semua rasa sakit yang Andra derita.
Tentu saja Andra tidak akan puas sebelum bisa menemukan Alana, dan memberikan pelajaran pada wanita itu.
“Kamu gagal? Dan masih berani menghadap kepadaku?”
“Maaf, Tuan. Saya akan berusaha mencari Alana sampai ketemu. Saya akan pastikan itu, Tuan. Saya janji.”
“Aku tidak percaya,” kata Andra dengan nada dingin. “Sekarang juga kamu akan ku pecat. Keluarlah dari ruanganku dan jangan berani hadapkan wajahmu lagi padaku!”
Bola mata Rian melebar. Ia menatap Andra penuh harap, kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Rian tidak ingin dipecat. Menjadi orang suruhan Andra untuk mencari Alana adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa menjamin hidupnya. Sebab Andra tak segan membayar orang-orang suruhannya dengan jumlah besar.
Untuk itu, Rian akan sangat malang jika ia harus kehilangan pekerjaanya ini.
“Saya mohon jangan pecat saya, Tuan Andra. Saya akan pastikan jika saya bisa menemukan Alana dan membawanya pada anda. Tolong berikan saya kesempatan satu kali lagi. Saya tidak ingin dipecat—“
Andra tak menggubrisnya meski Rian memohon hingga mulut lelaki itu berbusa. Jemari tangan Andra yang keras kini bergerak menekan sebuah tombol yang ada di atas meja kerjanya.
Tak lama kemudian, dua orang keamanan datang untuk menghadap Andra.
“Bawa dia keluar! Dia sudah mengganggu pekerjaanku!” suruh Andra pada kedua keamanan itu. Mereka mengangguk patuh pada Andra, lantas dengan cepat meringkus Rian yang berontak tak ingin ditarik keluar. Ia masih ingin memohon pada Andra agar tidak memecatnya.
“Tidak, Pak! Saya tidak mau. Tuan Andra, tolong jangan pecat saya—“
Andra mendengus, melihat punggung ketiga orang itu yang kini menghilang dari balik pintu ruang kerjanya.
Setelah bisa berjalan dengan normal, Darma memang langsung memberikan kepemimpinan perusahaannya pada Andra. Karena ia tahu, jika Andra bisa mengembangkan perusahaannya dengan baik.
Terbukti dengan banyaknya proyek besar dan berjumlah fantastis yang berhasil Andra taklukan. Hingga Andra bisa membawa bisnis ayahnya jauh lebih maju dari sebelumnya.
Sementara Darma memilih diam di rumah. Sebab usianya yang semakin menghadap senja, membuat kondisi tubuhnya mudah jatuh sakit. Jadi ia membiarkan Andra yang mengendalikan semuanya.
“Di mana kamu bersembunyi, Alana?” Andra bertanya sinis. Di dalam ruang kerjanya yang sepi. sunyi. Tidak ada satu orang pun di sana kecuali dirinya.
“Jangan harap kamu bisa lepas dari aku semudah itu. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu harus membayar apa yang kamu lakukan padaku delapan tahun yang lalu. Wanita murahan sepertimu, harus mendapatkan balasannya!” kecam Andra dengan gigi yang mengeletuk.
Tatapan matanya sarat akan benci dan kemarahan. Sementara tangannya terkepal dengan erat di atas meja, hingga jari-jemarinya nampak memutih.
Alana telah menorehkan luka di hatinya terlalu dalam. Hingga luka itu berbekas dan menyisakan kebencian.