Bab 1

"Barra, kamu bebas dan bisa hidup bersama wanita yang kamu cintai!"

Binar beranjak dari atas tempat tidur dengan hati-hati, dia mengambil pakaiannya dari atas lantai yang berantakan, dan langsung mengenakannya, menutupi bekas ciuman panas di sekujur tubuhnya. Rasa sakit di bagian inti tubuhnya mengingatkannya pada kegilaannya tadi malam bersama Barra.

Binar menahan air matanya, dia menenangkan dirinya agar dia tidak merasakan sakit yang membuat hatinya jadi rapuh. Wanita itu mengeluarkan surat perjanjian perceraian dari dalam tasnya, dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.

Binar masih terdiam dan dia berdiri di samping tempat tidur dan menatap pria itu yang saat ini tubuhnya tidak ditutupi kain sehelai benang pun. Pria ini adalah pria yang dicintainya selama tujuh tahun: Barra Atmadja.

Pada waktu itu, Salim Atmaja, ayahnya Barra sedang sakit keras dan tak bisa melakukan apa-apa, Salim menginginkan Barra, sang pewaris utamanya untuk segera menikah agar perusahaan bisa diambil alih dengan segera sampai ada seorang pemuka agama bernama Anton, salah satu orang yang selalu memberi nasehat pada keluarga Atmadja meramal bahwa tanggal lahirnya cocok untuk pernikahan. Tanggal lahirnya bisa membawa keberkahan untuk kelangsungan keluarga Atmadja di masa depan, karena itu, ayah dan ibu tiri Binar memaksanya untuk menikah dengan Barra Atmadja dan langsung menyerahkan wanita itu pada keluarga Atmadja secara suka rela.

Atas perjodohan yang dilakukan oleh Salim itu membuat Barra muak, dia tidak menyukai kehadiran Binar! Dia merasa Binar hanya wanita matre, wanita yang tak sepadan dengannya yang berusaha menggodanya agar dia tertarik pada wanita yang dia anggap murahan itu. Namun, berbeda dengan Binar, saat dia tahu akan menikah dengan Barra Atmadja, wanita itu yang awalnya tidak suka dijodohkan akhirnya bisa tersenyum karena pria itu adalah Barra, pria yang diam-diam selalu Binar kagumi sejak lama, dan ternyata mimpinya menikah dengan pria itu menjadi nyata! Bagaimana bisa Tuhan mengabulkan rencananya tanpa dia sangka sama sekali?

Tapi saat malam pertama tiba, ternyata Barra sangat membencinya, pria itu bersikap dingin padanya. "Binar, kamu bukan orang yang ingin aku nikahi. Kamu tidak memenuhi syarat untuk menjadi istriku! Jadi jangan berharap kalau aku sudi menikah denganmu! Aku menikah karena papa yang memintanya, aku tidak akan pernah menganggap keberadaanmu sampai kapan pun!"

Ucapan Barra selalu jadi luka di hatinya, tapi Binar tidak menyerah, dia yakin kalau dia bersabar dan tulus mencintai Barra, maka hati pria itu akan luluh dan Barra akan mengubah benci di hati menjadi cinta. Tapi, ternyata kesabarannya pun ada batasnya, harapannya seperti angin yang berlalu begitu saja karena saat kemarin dia berada di rumah sakit dan harus dirawat beberapa hari, Binar menerima pesan WhatsApp yang menunjukan potret Barra sedang melakukan makan malam romantis dengan Chelsea Estelle, mantan kekasih Barra yang selalu pria itu sebut namanya dan dibandingkan dengannya. Hatinya sakit dan patah, luka yang dia rasakan sangat perih. Binar tahu sampai kapan pun dia tidak akan memenangkan hati suaminya karena di mata pria itu, dia hanya lah penganggu! Wanita yang tidak diinginkan hadir di dalam hidup Barra.

Satu-satunya cara agar luka tidak membunuh hidupnya, Binar harus melepaskan Barra. Dia akan bercerai dengan pria itu dan pernikahan ini tak perlu dilanjutkan lagi!

Binar langsung tersadar dari lamunannya, dia tidak boleh terlalu lama di sini. Dia harus pergi karena Barra masih tertidur.

"Sudah waktunya untuk pergi! Aku tidak mau lemah lagi untuk tetap tinggal di sisinya dengan memeluk luka," ucap Binar. "Selamat tinggal, Barra!"

Kita tidak akan pernah bertemu lagi! Binar langsung bergegas pergi tanpa melihat ke arah belakang. Hatinya telah mati karena luka.

***

Barra terbangun dan dia melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Tadi malam, dia telah diberi obat tidur oleh Binar, jadi dia hanya bisa membiarkan wanita itu melakukan apa pun yang dia inginkan padanya ... Hal yang paling dibenci adalah dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan dengan gila memintanya terus pada Binar. Tanpa Barra sadari, tubuh Binar selalu membuatnya seperti kecanduan.

Barra pun tak mengerti kenapa dia bisa terperangkap dalam perasaan yang dia benci? Dan sebagai seorang CEO dan juga pebisnis handal, dia telah melihat begitu banyak skema di dunia bisnis dan bisa menguasai semuanya, tetapi sekarang dia telah jatuh pada seorang wanita! Wanita yang sangat dia benci! Rasanya sekarang, dia hanya ingin mencekik wanita terkutuk itu. Barra mengedarkan pandangan ke semua arah di kamarnya dengan marah, mencari sosok keberadaan Binar, tapi wanita itu tak terlihat sama sekali.

"Wanita sialan itu dimana?" tanya Barra kesal, dan kedua matanya melihat ada sekilas dokumen yang tersimpan di sisi ranjangnya. Barra langsung mengambil dokumen itu dan membacanya, tak lama keningnya mengernyit. "Surat perjanjian perceraian?" tanyanya tak percaya, wajahnya langsung merah padam."Apakah dia akan mengajukan cerai? Bagaimana mungkin?"

Ini pasti taktik wanita itu agar bisa menarikku ke sisinya.

"Apa yang ingin dilakukan wanita murahan ini?" tanya Barra agak kesal.

Barra langsung bangun dan keluar. Begitu dia tiba di lantai bawah, salah satu asistennya, Pak Hadi, datang dan melaporkan dengan hormat, "Tuan Barra, tadi Nyonya Binar sudah pergi!"

"Kapan?" Pria itu bertanya dengan nada mendesak.

"Ini pagi-pagi sekali hari ini!"

Barra segera menatap pintu. Entah kenapa, dia panik dan juga gelisah. 'Apakah dia benar-benar pergi?' tanyanya dalam hati.

***

Enam tahun kemudian.

Singapura.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Dokter Binar. Sudah dua hari aku tidak pulang untuk acara ini."

"Proyek ini sangat penting dan kita tidak boleh membuat kesalahan. Untungnya, ini hampir selesai." Balas Binar berbicara, dia mengenakan jas putihnya dan hendak memasukkan ponselnya ke dalam laci mejanya, tapi ada notif pesan masuk.

Ada dua pesan. Binar langsung membukanya tanpa menunggunya.

[Mami, apakah pekerjaanmu sudah selesai?]

[Mami, kamu belum pulang selama dua hari!]

Binar masih sedikit lelah, tetapi ketika dia membaca pesan dari kedua putranya, dia tersenyum. Hanya kedua putra kembarnya itu lah jadi obat saat dia merasa lelah luar biasa.

Enam tahun lalu, dia pergi ke Singapura untuk melanjutkan studinya setelah meninggalkan Barra. Binar yang tadinya lulusan kedokteran umum akhirnya melanjutkan lagi dan mengambil spesialis pengobatan tradisional, dan Binar tidak menyangka bahwa kegilaan malam itu bersama Barra akan membuatnya hamil. Binar melahirkan tiga bayi kembar, satu bayi perempuan, dan kedua bayi laki-laki, namun putrinya meninggal karena kekurangan oksigen.

Nama kedua putra kembar Binar adalah Bumi dan Langit! Keduanya adalah dunia bagi Binar. Bumi dan Langit adalah anak yang cerdas, bahkan sangat kritis seperti orang dewasa.

Binar tersenyum, dia langsung membalas pesan dari kedua anaknya yang sudah pandai mengirim pesan.

[Kalian berdua tinggal di rumah dan jangan membuat repot Tante Mila. Mami akan pulang secepat mungkin setelah Mami menyelesaikan pekerjaan di rumah sakit. Jangan membuat masalah].

Setelah mengirim pesan, Binar langsung memasukkan ponselnya ke laci mejanya dan langsung memasuki ke ruang operasi.

Sepuluh menit kemudian.

Salah satu perawat dan asisten Binar datang untuk melaporkan, "Dokter Binar ada yang tidak beres. Instrumennya rusak, dan komputer yang menyimpan data juga terhapus, banyak data pasien di sana dan juga penelitian masalah prosedur bedah plastik itu sangat penting sekali."

Binar segera me-restart komputer. Yang mengejutkannya, ada wajah menggemaskan yang muncul di layar. Dia tidak bisa menahan tawa, dan kemudian dia berkata kepada perawat yang panik, "Jangan panik, aku tahu alasannya! Aku ke luar dulu, kamu tetap di sini!"

Binar langsung keluar dari ruangan staff-nya, dia bertemu dengan Dokter Vaness, dokter senior yang berjalan ke arahnya.

"Saya mendengar bahwa instrumen dan komputer laboratorium rusak? Apakah sudah diperbaiki? Ini terkait dengan hasil penelitian yang sangat penting masalah penemuan baru untuk operasi plastik," kata Vaness terlihat khawatir.

"Jangan khawatir, Dokter Vaness. Datanya pasti akan kembali." Nada bicara Binar terdengar tenang.

Ketika Vaness melihat betapa tenangnya Binar menjawabnya, dia tiba-tiba menyadari sesuatu. "Apakah kedua bocah itu melakukannya lagi?"

***

Halo, teman-teman. Selamat jatuh cinta dengan kisah Binar dan Barra, kembali lagi bertemu dengan ISMI. Buku ini adalah proyek terjemahan dari HotBuku. Jangan lupa review-nya, dan selamat membaca. ISMI harap teman-teman jatuh cinta dengan karya luar biasa ini. Jaga kesehatan, bahagia selalu ^^

Bab 2

"Apakah kedua bocah itu yang melakukannya?"

Binar tersenyum. "Aku minta maaf karena mempermalukan diriku sendiri, Dokter Vanes, nanti data itu pasti akan kembali."

Dua puluh menit kemudian, kedua putra kembarnya dibawa ke klinik bedah plastik milik Dokter Vaness. Kedua anak itu melihat ekspresi serius di wajah maminya, mereka sedang berpikir dengan mencari alasan.

"Mami, silakan duduk. Mami sudah bekerja keras."

"Mami, apakah Mami mau minum? Aku akan mengambilkannya untuk Mami."

"Mami, apakah bahunya sakit? Biarkan aku memijatmu ..."

Binar ingin memberi kedua anak itu pelajaran, tetapi ketika dia melihat kedua anak itu seperti ini, dia tidak bisa memaksa dirinya untuk memarahi mereka. Mereka sangat menggemaskan, namun Binar tentu saja harus mendidik kedua putra kembarnya dengan baik, dia tidak mau memanjakan keduanya dan membiarkan kesalahan mereka hanya karena keduanya masih kecil.

Binar meraih salah satu dari mereka dan membawa mereka berdua ke depannya. "Apakah kamu tahu kamu salah?" tanyanya.

Langit menggaruk kepalanya dan berkata, "Mami, kami hanya tidak ingin Mami bekerja terlalu keras."

Bumi meletakkan tangannya di pinggangnya dan menggema, "Ya, Mami berat badanmu turun banyak. Kami hanya kasihan padamu. Aku harap Mami bisa istirahat."

Di samping mereka, Dokter Vanes berkata, "Kalian berdua telah menghancurkan komputer dan instrumen. Tahukah kamu bahwa ada catatan pekerjaan Mami kalian? Datanya rusak, dan Mamimu tidak akan istirahat. Sekarang dia harus bekerja untuk waktu yang lama. beberapa hari lagi."

Bumi mendongak dan berkata dengan suara kekanak-kanakan, "Kami tidak akan merusak data Mami. Kami semua memiliki datanya sudah di backup. Selain itu, kami memiliki banyak perlindungan untuk data Mami. Ini sangat aman." Anak itu menatap Binar dengan percaya diri. "Jika Mami tidak percaya padaku, aku akan menunjukkannya pada Mami."

Saat Bumi berbicara, dia mengeluarkan laptop yang dibawanya, dan mulai mengetuknya dengan jari-jari kecilnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian.

"Selesai!" seru Bumi..

Binar langsung menghampiri Langit untuk memeriksa hasil komputer, dan kemudian berkata kepada Dokter Vaness, "Dokter, percobaan telah mencapai tahap akhir, dan sebagian besar data ada di sini. Aku akan mengirimkan data saat ini terlebih dahulu. Aku akan mengirimkan sisanya nanti."

Dokter Vaness menyaksikan seluruh proses dari samping dan saat ini, dia benar-benar kagum.

Kedua anak kembar Binar sungguh sangat jenius, kenapa bisa anak yang harusnya hanya bermain saja malah mempunyai kecerdasan di luar nalar? Binar sungguh diberkahi Tuhan dengan kedua anak yang luar biasa! Bumi sangat pintar dalam berbicara di forum, bahkan sangat pintar berdebat dengan berita-berita luar negeri dan investasi yang baik dalam bisnis. Sedangkan Langit, dia sangat ahli dalam teknologi, pintar dalam membuat program, meski usianya masih kanak-kanak, Langit sudah menjadi hacker terkenal. Selain itu, mereka tidak hanya berbakat, tetapi juga tampan, lincah, dan ceria.

Setiap kali mereka membuat masalah dan ingin memarahi mereka, siapapun tidak berani memarahi kedua anak yang menggemaskan itu, dan selalu saja ada hal yang tak terduga dari dua anak kembar jenius itu.

Setelah merasakan tatapan Dokter Vaness, Binar segera berkata, "Aku sangat menyesal telah membuat Dokter khawatir. Tolong jangan marah. Dokter harus menjaga kesehatan dengan baik."

'Jangan marah. Jangan memarahinya!' batin Dokter Vaness. Pria paruh baya itu berhenti sejenak dan kemudian tersenyum. "Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan apapun tentangmu kali ini."

"Terima kasih, Dokter. Anda selalu saja kami repotkan," balas Binar.

"Aku punya tugas yang sangat penting untukmu." Vaness tersenyum. "Aku berencana untuk kembali ke Jakarta dan membuka klinik besar di sana terutama klinik kecantikan atau klinik bedah. Saat ini, aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Setelah memikirkannya, aku pikir kamu adalah pilihan terbaik."

Binar tercengang dan ragu-ragu. "Kembali ke Jakarta?" tanyanya tak percaya. Binar tentu saja terkejut ketika Dokter Vaness mengatakan tentang Jakarta sebab enam tahun lalu, ketika dia pergi, dia tidak pernah berpikir untuk kembali.

Sekarang dia harus kembali? Binar sangat berat untuk pergi dari negara ini karena dia sudah terbiasa tinggal di sini. Binar ingin menolak, tetapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa.

Dokter Vaness berkata, "Binar, aku harap kamu bisa mempertimbangkannya lagi karena Pengembangan dan klinik bedah plastik atau kecantikan sedang trend di Indonesia, kita harus membukanya agar masyarakat tak perlu ke luar negeri untuk melakukan bedah plastik. Kamu juga dokter bedah yang luar biasa dan juga banyak pasien di sini yang memujimu, mereka pun menyangka wajahmu ini adalah hasil bedah plastik, padahal kecantikan kamu ini adalah alami, pengalamanmu juga banyak, jadi aku harap kamu bisa kembali ke Jakarta." Dokter Vaness tersenyum, "Kamu tidak lagi lemah seperti dulu. Bahkan jika kamu menghadapi beberapa masalah, kamu masih memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya. Jadi jangan takut."

Dokter Vaness sudah mengatakan itu, jadi Binar tidak bisa mengatakan apa-apa. Sebenarnya apa yang dikatakan Dokter Vaness itu tidak salah.Dalam beberapa tahun terakhir, dia memang telah melewatkan banyak hal dan juga berkembang lebih baik lagi, dan akan mudah untuk menyelesaikan masalah apa pun.Tidak perlu takut apa pun.Dan itu sudah enam tahun berlalu. Pria itu mungkin sudah mati, atau dia benar-benar melupakan dirinya sendiri. Apa yang harus ditakuti?

"Dokter, saya bersedia untuk kembali," kata Binar.

Vaness sangat senang. "Bagus sekali. Saat kamu kembali kali ini, aku akan membiarkan Jessie mengikutimu, selain itu, akan ada juga tim profesional untuk membantu kamu dalam pekerjaan nanti di Jakarta"

"Terima kasih, Dokter Vaness," balas Binar tersenyum.

...

Esok hari kemudian, Binar naik ke pesawat bersama kedua anaknya.

Setengah jam sebelum pesawat mendarat, kedua anak lucu itu saling berpandangan dengan girang. Sesuai kesepakatan, mereka datang ke toilet pesawat. Dua anak kembar berkumpul dan sedang mendiskusikan sesuatu.

"Kita akhirnya akan mendarat, Bumi, perhatikan baik-baik. Orang ini." Langit menunjuk seorang pria yang di depan mereka.

"Apakah dia papi kita?" tanya Bumi.

"Ya, dia adalah orang brengsek yang menelantarkan istri dan anaknya." Langit menjawab dengan sok dewasa.

"Huh, jika kita menemukan kesempatan, kita harus memberinya pelajaran!" balas Bumi dengan mimik wajah kesal tapi dengan mimik wajah yang lucu.

Tak lama, ada ketukan di pintu. "Langit, Bumi, kalian berdua harus segera keluar. Saatnya turun dari pesawat."

"Oke!" balas Bumi dan Langit dengan kompak.

...

Setengah jam lagi berlalu.

Di aula bandara Soekarno Hatta.

Ini adalah pertama kalinya Binar membawa kedua anak itu kembali ke tanah air mereka. Melihat pemandangan yang familiar di depannya, dia merasa sedikit bersemangat.

Mereka bertiga baru saja turun dari pesawat, tapi kedua mata Langit menatap salah satu gerai makanan yang menarik matanya.

"Mami, aku ingin mencobanya. Kelihatannya enak." Langit menatapnya dengan matanya yang besar dan bahkan tidak berkedip.

Bumi menepuk dahinya dan berkata, "Produk lokal ini pada dasarnya dibeli dan dibawa pergi oleh para turis. Kita harus tinggal di sini untuk jangka waktu tertentu, jadi kita tidak perlu membelinya."

Binar mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambut si kecil. "Kucing kecil yang rakus."

Langit meraih lengan Binar dan mengguncangnya ke depan dan ke belakang. "Aku ingin tetap mencobanya, Mami. Aku belum pernah memakannya."

"Oke, oke, oke, Mami akan membawa makanan itu dan membelinya."

Binar menunggu di dekat pintu gerai makanan itu sambil berdiskusi dengan asistennya, dan setelah berdiskusi secara singkat mengenai rencana setahun kedepan serta hunian di Jakarta, dia langsung meraih ponselnya dan berniat mengirim pesan pada Vaness, namun dia tidak memencet tombol send karena ada suara yang tidak asing terdengar olehnya.

"Kamu harus mendapatkannya kembali! Kamu bahkan tidak bisa menjaga anak kecil. Apa yang kamu lakukan!" Suaranya penuh amarah, tapi masih rendah dan menyenangkan seperti sebelumnya.

Binar mendongak dan melihat seorang pria tidak jauh dari tempatnya berdiri. Begitu banyak orang di bandara, tetapi dia masih melihatnya sekilas dari kerumunan. Jas hitam itu menggambarkan sosoknya yang sempurna. Sosoknya yang tinggi dan lurus persis sama seperti dulu, dengan profil yang berbeda, seperti patung perunggu yang sempurna. Pria yang siluetnya saja terlihat seperti dewa yang rupawan. Detik ini Binar hanya bisa tertegun dan mendadak pikirannya kacau, ternyata seberapa lama waktu telah berlalu tetap saja hatinya hancur, luka yang pria itu berikan meninggalkan jejak air mata untuk hidupnya. Pria itu tetap sama! Angkuh, dingin, dan juga seperti monster.

"Barra!" lirih Binar. Dia tidak berharap untuk bertemu dengannya pada hari pertama dia kembali ke tanag air. Jantungnya tidak bisa membantu tetapi mempercepat sedikit.Tapi segera kembali normal.Tidak ada emosi lain di wajahnya kecuali ketidakpedulian. Dia akhirnya bisa berdiri dengan tenang di depan pria ini. Ya, Binar tidak mau lagi kalah dan tertindas, baginya pria itu telah mati tepat pada malam dia meninggalkan rumah itu dengan surat cerai itu.

Pada saat ini, dua anak yang pergi membeli makanan khas nusantara kembali padanya.

"Mami, aku sudah membelinya." Bumi dengan bangga mengeluarkan sebuah tas.

Binar menunduk untuk melihat kedua putranya. Mereka adalah putranya, dan mereka terlihat sangat mirip satu sama lain.Tidak, Binar tidak bisa ditemukan oleh pria itu. Kedua putra kembarnya adalah hartanya dan dia tidak mau satu orang pun mengambil hal yang berharga di hidupnya.

Binar segera memegang tangan kedua putra kembarnya. "Ayo pergi. Tante Tyas sudah menunggu kita." Setelah itu, dia pergi dengan cepat.

Pada saat yang sama, Barra sepertinya telah mendengar suara yang dikenalnya, jadi dia melihat ke arah suara itu. Ada seorang wanita di belakang kerumunan.

Dia tampak seperti wanita itu, Binar!

"Dia kembali?"

***

Bab 3

Barra berjalan menghampiri kerumunan yang menghalangi wanita itu. Dia baru mengambil dua langkah ketika dia melihat dua anak berusia lima atau enam tahun di sisi wanita itu. Tidak, wanita itu tidak mungkin Binar, dia mungkin hanya salah melihat atau menduganya..Wanita itu telah dengan kejam meninggalkan anak itu, dan dia telah pergi dengan sangat tegas pada saat itu. Tidak mungkin baginya untuk kembali. Dan yang harus dia lakukan sekarang adalah menemukan anak itu sesegera mungkin, daripada membuang terlalu banyak waktu untuk wanita asing.

Pada saat ini, tangan kanan Bara, Steve, datang untuk melapor. "Tuan, waktu Andat tersisa satu jam lagi, Anda masih memiliki laporan kerja."

"Tunda semua pekerjaan itu!" Barra memerintahkan dengan suara dingin.

Steve berkata dengan hormat, "Oke."

"Tuan, Nona Kecil tidak jauh. Orang-orang kita telah memperluas pencarian mereka. Jangan terlalu khawatir." Steve mengatakannya dengan tenang.

Nona kecil itu adalah cahaya untuk Barra. Biasanya, dia akan memegangnya tangannya sangat erat karena takut dia akan jatuh. Sekarang setelah dia pergi, Tuan Muda Barra merasa cemas luar biasa. Baginya anaknya itu adalah yang paling berharga, kerja sama yang bernilai ratusan milirian itu tidak lagi penting. Dengan ekspresi muram, Barra berjalan dengan khidmat menuju Maybach hitam di sisi jalan.

Tak lama mobil milik Barra menjauh dari bandara.

...

Pada saat yang sama, Binar masih menunggu sahabatnya, Tyas.

Langit dan Bumi memperhatikan wajah maminya yang pucat pasi, mereka juga memperhatikan bahwa maminya sedikit aneh. Kenapa Mami mereka seperti ketakutan dan langsung meraih lengan keduanya? Ada yang aneh! Mereka harus segera mencari tahu.

"Tyas.." Binar akhirnya melihat sahabatnya, jadi dia melambaikan tangannya di depannya.

Tyas adalah sahabatnya, dan dia juga seorang dokter sekarang. Dia bekerja di rumah sakit milik keluarganya.

"Ah, Binar, Bumi, Langit..." Tyas berlari ke arah mereka bertiga.

"Maaf, aku terlambat. Ada kemacetan di jalan," kata Tyas mesra sambil memeluk lengan Binar.

"Tidak masalah. Kami baru saja tiba," kata Binar sambil tersenyum.

Kedua Mata Tyas tak terlepas melihat dua bocah kembar itu dan dia memperhatikan wajahnya yang terlihat tampan dan menggemaskan. Jadi dia berjongkok dan memegang mereka di lengannya. "Apakah kamu merindukan Mommy cantikmu?"

Bumi berkata, "Tentu saja, kami sangat merindukanmu."

Langit pun menimpali, "Tante Tyas, kamu tampaknya lebih cantik."

"Ucapan kalian sangat mabis, apa bibir kalian berdua itu mengandung madu, kan?" Kata Tyas sambil tersenyum. "Ayo pergi. Ikuti Mommy cantik kalian!"

Empat puluh menit kemudian, Tyas memarkir mobilnya di depan area vila yang ada disekitar Jakarta. Binar telah memintanya untuk mencarinya beberapa hari yang lalu.

"Wow, tempatnya sangat nyaman, aku suka di sini" kata Binar kepada sahabatnya.

Tyas mengangkat alisnya dan berkata dengan bangga, "Pemilik rumah ini sudah pindah ke luar negeri dan ini pun tak lama diswwakan dan aku langsung membayarnya. Aku beruntung. Dan yang paling penting adalah tempat ini sangat dekat dengan rumahku. Kita bisa sering mengunjungi satu sama lain di masa depan."

"Terima kasih, Tyas. Maaf aku merepotkanmu lagi, aku tidak punya teman lagi selain kamu," ucap Binar.

Tyas tertawa. "Aku suka kalau kamu mengandalkanku."

Binar tersenyum, dia melihat jam di arloji tangannya. "Ah, sudah waktunya makan malam! Anak-anak, ayo kita ke luar, kita akan makan malam yang enak, kalian pasti ingin menikmati makanan khas Indonesia, di sini jauh lebih enak."

Langit dan Bumi mendengar bahwa ada sesuatu yang enak untuk dimakan, mata mereka berbinar dan keduanya semua sangat bahagia. Keduanya tanpa diperintah langsung berlari ke luar dengan semangat.

Binar tahu bahwa kedua putranya sedikit lapar, jadi dia melepas sepatu hak tingginya dan mengikuti mereka keluar.

***

Setelah Binar dan lainnya tiba di tempat parkir sebuah restoran dan melaju ke tempat parkir.Tiba-tiba, seorang gadis kecil berlari keluar dari depan dan tepat berada di depan mobilnya. Ini membuatnya takut dan dia buru-buru menginjak rem. Kemudian mereka pun dengan cepat keluar dari mobil dan melihat seorang gadis kecil yang terjatuh di depan mobil.

Binar bertanya dengan tergesa-gesa, "Nak, apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu terluka? Apakah kamu merasa sakit?" Wanita itu melihat dengan teliti dan tidak melihat ada luka sedikit pun. Anak kecil ini sangat lucu, batinnya.

Fitur wajah gadis kecil ini sangat indah, kulitnya putih, matanya besar, hidungnya kecil, dan dia mengenakan gaun putri merah muda-ungu. Rambutnya indah dan memakai bando pink yang imut. Kemudian, gadis kecil itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Binar dengan rasa takut dan juga hati-hati, kedua matanya pun seperti ingin menangis. Gadis kecil itu menggeleng lemah dan menunduk lagi.

"Jangan takut. Kami bukan orang jahat." Binar menghibur gadis kecil itu sambil tersenyum. Melihat ekspresi sedih gadis kecil itu, dia merasa sedikit terluka, dia menatapnya lembut.

Binar melihat sekeliling, tetapi tidak ada satu orang pun. "Kenapa kamu di sini sendirian? Di mana keluargamu?"

Gadis kecil itu memeluk boneka itu di tangannya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus menggelengkan kepalanya terus menerus.

Binar tidak tahu apa yang harus dia katakan karena anak itu tidak mengatakan sepatah kata pun, dan tidak ada cara bagi mereka untuk melanjutkan percakapan mereka.

Pada saat ini, Bumi mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Binar, "Mami, anak ini sangat imut. Dia hanya tidak berbicara."

"Dia tidak bisa bisu, kan?" tanya Langit menambahkan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED