Bab 1

Pada malam hari, di langit malam sebuah kota kecil pinggiran pantai, terlihat banyak sekali bintang bertaburan, terlihat lebih jelas dibandingkan dengan langit perkotaan. Gemerlap bintang berkelap-kelip dengan indah, menerangi langit kota.

Di tepi pantai, terlihat seorang gadis sedang berdiri dan menatap ke kejauhan. Dia baru saja bertengkar dengan ayahnya karena dia menolak untuk berangkat ke luar negeri. Dia mengunjungi kota kecil pinggiran pantai ini secara impulsif, degan maksud menjernihkan pikirannya, tetapi ayahnya telah melacak keberadaan gadis ini dengan GPS. Ayahnya mencarinya sejauh ini dan memintanya untuk pulang bersamanya besok. Selama kunjungannya beberapa hari di sini, dia mulai menyukai kota kecil tepi pantai ini, membuatnya nyaman dan merasa seperti di rumah sendiri. Dia tidak tahu apakah bisa merasa nyaman seperti ini lagi bila pergi ke luar negeri.

Suara deburan ombak menghempas tepian pantai terdengar begitu melankolis. Hari ini adalah hari terakhirnya di kota tepi pantai ini, jadi dia ingin menikmati momen ini selama mungkin.

Tiba-tiba, muncul kilauan sinar kembang api yang dengan terangnya menghiasi langit malam. Sayangnya, kilauan itu hanya melesat sekilas saja, dan dia malah menjadi sedikit galau. Pada saat yang sama, dia melihat beberapa huruf berukuran besar tertera di langit. Terlintas di benaknya, "Orang yang bernama Jessica pasti sangat bahagia menyaksikan kembang api ini."

Dia telah menyusuri kota kecil tepi pantai ini seharian hingga dia merasa sedikit lelah. Akhirnya, dia meninggalkan pantai dan menuju hotel. Setelah mandi, dia berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata, tetapi tetap tak bisa tertidur. Selama beberapa hari ini, dia kerap menolak untuk pergi ke luar negeri, tapi pada akhirnya menyerah dan menuruti kehendak ayahnya. Lalu, untuk apa dia kerap melawannya sejak awal?

Saat sedang tenggelam dalam pikirannya, dia mendengar seseorang mendorong pintunya hingga terbuka. Tetapi, siapa yang masuk ke kamarnya malam-malam begini?

Di ruangan yang gelap, dia tidak bisa melihat apapun, tetapi dia bisa mendengar ada suara benturan. Dia tidak berani membuat suara hingga seorang pria yang baru masuk itu berbaring di tempat tidur di sebelahnya, bau alkohol. Dia mengira pria itu salah masuk kamar. "Hei, kamu salah kamar," ucap gadis itu dengan ragu sambil mencoleknya.

Malam ini, dia berubah dari seorang gadis polos menjadi seorang wanita dewasa. Saat fajar, dia mengambil sesuatu dan langsung beranjak pergi.

Setelah berjalan keluar dari kamar, dia melihat nomor kamar dan menyadari bahwa dialah yang salah masuk kamar.

Setelah kembali ke rumah, dia terus terngiang tentang apa yang terjadi malam itu. Bagaimanapun juga, dia telah kehilangan keperawanannya.

Liburan musim panas selama tiga bulan berlalu begitu saja dalam sekejap mata. Tapi baru-baru ini, dia sering muntah dan kurang selera makan, hingga membuat cemas sang ayah. Oleh karena itu, dia diantar ke rumah sakit oleh keluarganya untuk diperiksa, dan mendapati bahwa dirinya tengah hamil.

Dia langsung dicekam oleh rasa ketakutan. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia telah hamil. Untuk pertama kali, ayahnya, Edwin Salim, yang selalu baik terhadapnya, membentak gadis itu dengan kemarahan. "Marina Salim, bisa-bisanya kamu begitu tidak tahu malu? Siapa ayah dari kandunganmu itu?"

Marina menggelengkan kepalanya tanpa sepatah kata pun. Dia tidak mampu mengenali secara jelas wajah pria yang bersamanya malam itu.

"Kamu tidak mau memberitahuku, ya?"

"Ayah, aku... "Aku juga tidak tahu siapa dia", balasnya tergagap."

"Gugurkan kehamilanmu. Jika kamu membesarkan janin ini, hidupmu akan hancur."

Mendengar ini, wajah Marina langsung menjadi pucat. Wajahnya berlinang air mata sambil menatap ayahnya, lalu menggelengkan kepalanya. "Ayah, Aku ingin mempertahankan janin ini."

Edwin langsung menunjuk ke arah pintu dan jarinya gemetaran karena amarah. "Keluar. Mulai sekarang, kamu bukan putriku lagi!"

Marina dengan pelan memegang perutnya dan menggigit bibirnya. Dia bertekad untuk mempertahankan janin tersebut apa pun yang terjadi.

Kemudian, saat dia sedang mengemasi barang-barang, dia berkata pada Ibunya, "Bu, aku benar-benar minta maaf. Aku akan pergi malam ini."

Sambil memegang tangan putrinya, Leni berkata, "Marina, Ayahmu hanya sedang terbawa emosi sekarang. Dia pasti akan mengunjungimu dalam beberapa hari ke depan."

Tetapi Marina tidak ingin mengambil resiko dipaksa untuk melakukan aborsi, jadi, dia memutuskan untuk pergi. Malam itu, dia meninggalkan rumah tempat dia dibesarkan selama delapan belas tahun ini. Dia tidak tahu ke mana lagi harus pergi, tidak ada pilihan selain meneruskan perjalanan seperti air mengalir.

Bab 2

Enam tahun kemudian...

Di kantor CEO sebuah perusahaan Prancis, seorang pria paruh baya yang gemuk sedang duduk di meja, sambil menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang penuh nafsu.

Bibir merah wanita itu melengkung sedikit hingga menjadi sebuah seringai saat ia menyerahkan surat pengunduran diri. Sambil melihat pria itu, ia tidak mau mengatakan apa pun selain yang seharusnya dikatakan. "Pak, saya tidak bisa terus bekerja di perusahaan ini, karena saya tidak bisa memenuhi syarat yang Anda ajukan. Saya tidak akan pernah menjual tubuh saya demi uang. Kita tidak akan bertemu lagi di masa mendatang."

"Apa kamu yakin akan hal tersebut? Apakah kamu tidak takut kamu mungkin tidak akan mendapatkan pekerjaan lainnya di Prancis untuk ke depannya?" Pria itu bertanya, sambil menyipitkan matanya ke arahnya.

Marina mengejek di dalam hatinya terhadap ancaman yang memiliki maksud terselubung dan berpikir, 'Mengapa aku harus takut?' Ia memandang pria di hadapannya itu dan menjawab dalam bahasa Prancis yang fasih, "Saya tidak pernah menyesali keputusan saya."

Sesudah menyerahkan surat pengunduran dirinya, ia berjalan keluar dari gedung kantor itu dan menarik nafas dalam-dalam. Ini adalah kelima kalinya ia mengundurkan diri dari pekerjaannya karena pelecehan seksual dari bosnya. Putranya selalu mengejeknya bahwa ia tidak bisa bertahan pada pekerjaannya untuk lebih dari tiga bulan. Kali ini, belum sampai tiga bulan, dia sudah mengundurkan diri.

Saat melihat gedung perusahaan, ia tiba-tiba teringat kalimat dari puisi Hamilton Hsu, Ucapkan Selamat Tinggal Lagi untuk Cambridge: "Saya pergi dengan tenang, sama tenangnya saat saya datang. Saya melambaikan tangan pada awan yang kemerahan di langit bagian barat." Ia akan pergi dengan anggun seperti ia datang.

Marina dengan perlahan berjalan kembali ke rumah kontrakannya. Enam tahun yang lalu, ia terlantar tanpa rumah, dan kejadian pada malam itu masih teringat jelas di benaknya, seolah baru terjadi kemarin. Ayahnya telah membentak padanya, "Apa kamu tidak tahu bahwa kamu telah mempermalukan keluarga kita? Mulai sekarang, kamu bukanlah putriku!"

Malam itu, ia telah pergi meninggalkan rumah. Ketika dia menelepon ke rumah pada saat baru-baru ini, ibunya pun berkata, "Marina, kamu harus pulang. Ayahmu hanya marah saja pada saat itu. Tapi setelah bertahun-tahun kamu pergi, ia sering menghabiskan waktunya sendirian di dalam kamarmu."

Membayangkan kejadian itu saja sudah membuat hati Marina tersayat. Ia juga mau pulang, tapi ia tidak bisa melakukan itu. Kalau ia pulang, bagaimana caranya ia akan menghadapi orang tuanya? Saat itu hari sudah larut dan ia harus menjemput putranya dari sekolah.

Matahari terbenam yang indah di langit menandai akhir hari tersebut. Marina menggandeng tangan putranya dan menuntunnya di sepanjang jalanan yang ramai. Khawatir orang-orang akan menabrak putranya, ia segera mengangkat putranya ke atas punggungnya dan menggendongnya sepanjang perjalanan.

Saat mereka sampai ke rumah mereka, yang merupakan apartemen kecil berukuran belasan meter persegi, ia berkata kepada putranya, "Mikael, aku akan membawamu ke tempat di mana kakek-nenekmu tinggal. Kamu bisa tinggal di sana setelah itu. Bagaimana pendapatmu tentang hal ini?"

Mikael Salim mengedipkan matanya yang besar dan terlihat cerah. "Bu, apa kita benar-benar akan kembali untuk melihat kakek-nenekku? Pekerjaan Ibu bagaimana? Bukankah Ibu harus pergi bekerja?"

Marina sudah mengajukan pengunduran dirinya pada hari ini, jadi ia bebas untuk pulang mengunjungi orang tuanya.

"Bu, apa Ibu dipecat oleh bos kali ini? Atau apakah Ibu hanya bosan dengan pekerjaan Ibu dan berhenti?"

Marina mencubit wajah kecil putranya dan kemudian tersenyum. "Kali ini aku berhenti atas keinginanku sendiri. Apa kamu menjadi anak yang baik di sekolah belakangan ini?"

"Ibu konyol, jangan terus mencubit wajahku. Aku tidak akan jadi tampan lagi. Aku tidak akan memaafkan ibu kalau ibu merusak citraku."

"Huh, kamu hanyalah anak kecil, citra apa yang kamu punyai? Lupakanlah itu," balas Marina dengan main-main.

"Ibu, kamu tidak mengerti. Banyak orang di sekolah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah seorang pria muda yang tampan. Apa aku hanya seorang anak kecil bagimu?"

Selama enam tahun terakhir, pertikaian kecil dengan putranya telah menjadi hal yang biasa bagi Marina. Tapi ia masih tetap sangat senang. Ia adalah orang yang sangat spontan, jadi setelah memberitahu Mikael bahwa ia ingin mengantarnya pulang, ia langsung mulai mencari tiket pesawat secara online. Kemudian, ia mulai mengemasi barang-barang mereka. Bagaimana pun, itu sudah berlalu enam tahun. Ia tidak punya pilihan selain untuk pulang.

Ia memberi tahu sahabatnya bahwa ia akan meninggalkan Prancis, tetapi ia tidak memastikan tanggalnya. Ia tidak mau sahabatnya untuk datang menemaninya saat ia pergi, karena ia pikir akan terlalu menyakitkan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Di bandara, Mikael mengusap tangan ibunya untuk menghiburnya. "Bu, aku tahu ibu tidak suka akan kegiatan di mana orang mengantarmu pergi. Ibu tidak mau berpisah dengan mereka. Tapi jangan menangis, atau aku akan ikut menangis juga."

Begitu mereka tiba di negara asal mereka, Marina menarik kopernya masuk ke dalam taksi. Dalam perjalanan, ia menggerakkan jari-jarinya dengan gelisah, sambil memikirkan apa yang akan terjadi. Ia hanya berharap seluruh keluarganya bisa tenang dan berbicara baik-baik. Sudah enam tahun, jadi semua orang seharusnya sudah mulai bisa melepaskan banyak hal sekarang. Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, jadi saat terbaik menyelesaikan masalah adalah pada saat itu juga.

Tak lama kemudian, taksi itu berhenti di depan rumah masa kecilnya. Ada banyak vila baru di sekitar rumah itu yang membuat daerah itu sedikit asing, tapi pintu rumahnya masih terlihat sama persis. Sambil menatapnya, ia memiliki perasaan campur aduk dan bertanya-tanya apakah ayahnya sudah menenangkan diri setelah bertahun-tahun.

Jantungnya berdebar dengan kencang saat ia menekan bel pintu. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan saat ia bertemu orang tuanya. Lagi pula, ini semua adalah salahnya. Ia adalah orang yang tidak bisa menerima pilihan aborsi, meskipun ia tahu secara jelas siapa ayah dari bayi tersebut. Malam itu, pria di ruangan tersebut baru saja berbisik di telinganya, "Jessica, panggil aku Mike."

Walaupun ia kehilangan keperawanannya kepada pria itu, ia tidak melihat wajah pria itu sepenuhnya. Ia hanya tahu namanya adalah Mike. Itulah alasan ia menamai putranya Mikael.

Sekarang karena enam tahun sudah berlalu, Marina yakin bahwa semua hal sudah berubah. Ia penasaran akan keadaan ayahnya.

Pada saat ia tenggelam dalam pikirannya, seorang wanita berpakaian pelayan membuka pintu itu dan melihat kepadanya. "Boleh saya bertanya siapa yang Anda cari?"

"Aku..." Setelah ragu-ragu untuk sejenak, Marina pun berkata, "Aku di sini untuk bertemu dengan Tuan Edwin Salim."

"Tunggulah sebentar. Saya akan bertanya kepada Tuan Edwin."

"Tentu saja, terima kasih."

Marina melihat sekelilingnya. Enam tahun sudah berlalu, tapi ini masih rumah yang ia kenali. Tiba-tiba, hatinya terasa sakit. Ia tidak tahu apakah ayahnya akan marah kepadanya atau tidak. Enam tahun yang lalu, ia benar-benar kehilangan kesabaran kepadanya dan bahkan mengatakan kepadanya bahwa ia bukanlah putrinya lagi, dan bahwa ia tidak seharusnya muncul di hadapannya lagi.

Akan tetapi, ia sudah mengabaikan harga dirinya dan kembali untuk melihat ibunya, bersamaan untuk memberi kesempatan kepada ayahnya untuk melihat cucu laki-lakinya.

Sekali lagi, pintu itu terbuka. Tapi pada kali ini, wanita lain yang berdiri di sana. Wanita itu adalah ibunya, yang sudah enam tahun tidak ia temui. Helaian rambut perak terurai pada pelipis ibunya.

Setelah melihat putrinya, Leni tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menarik Marina ke dalam pelukannya dan kemudian terisak, "Marina, akhirnya kamu kembali. Apa kamu tahu betapa aku merindukanmu selama bertahun-tahun ini?"

Tak pernah mudah bagi Marina untuk menahan air matanya. Begitu ia melihat ibunya, ia tidak bisa menahan tangisannya. "Bu, aku juga rindu padamu!"

Melihat kedua orang itu yang saling berpelukan, Mikael sedikit batuk. Ia memandang ibunya dan berkata sambil tersenyum, "Bu, Ibu sangat bersemangat hingga Ibu melupakanku."

Baru pada saat itulah Leni menyadari keberadaan anak laki-laki kecil di sebelah putrinya. Ia terlihat sangat lucu dan tidak asing, seakan mereka pernah bertemu sebelumnya.

"Halo, Nenek. Ibuku yang konyol sedang menangis lagi. Ibu tidak pernah bisa menahan air matanya." Mikael menggelengkan kepalanya dengan helaan nafas tak berdaya.

Leni pun tersenyum dan berbalik badan ke arah Marina. "Nah, anakmu sudah berusia lima tahun. Marina, ayo masuklah terlebih dulu."

Marina menyeka air matanya dan mengikuti ibunya ke dalam rumah, yang diikuti oleh putranya. Sesudah meletakkan barang bawaannya, ia melihat ayahnya, yang sedang duduk di sofa, dan berkata dengan lembut, "Ayah, aku pulang."

Tak ada ekspresi apa pun di wajah Edwin. Ia hanya berkata dengan dingin, "Bagus kamu sudah pulang."

Meskipun nadanya dingin, Marina tahu bahwa ia sangat peduli padanya. Ia adalah satu-satunya anak dari keluarga Salim. Sangat tidak mungkin bagi Edwin untuk tidak mencintainya. Bahkan, Edwin menyesal telah mengusir putrinya dari rumah itu pada enam tahun lalu. Sekarang setelah ia pulang, keluarganya bisa bersatu kembali.

Sambil melihat Edwin, Leni berkata dengan kesal, "Kamu benar-benar keras kepala! Kamu bahkan tidak mengganti kunci pintu rumah kita karena kamu percaya bahwa putri kita akan kembali suatu hari nanti."

Saat ia mendengar ibunya mengatakan itu, Marina pun merasa sedikit lega di dalam hatinya dan berkata dengan penuh semangat, "Bu, jangan katakan itu. Itu semua adalah kesalahanku. Lagi pula, jika Ibu benar-benar sudah mengubah kuncinya, aku tidak akan bisa pulang ke rumah."

Mikael melihat mata ibunya yang dipenuhi dengan air mata. Ia sudah tahu bahwa ibunya tidak akan bisa menahan air matanya dalam situasi yang seperti ini.

Ia menjulurkan kepala kecilnya dan menatap pria tua di hadapannya. Matanya berbinar, dan ia berkata dengan sopan, "Kakek, ini adalah pertama kali bagi kita untuk bertemu. Tapi, Ibu sering menunjukkan foto Kakek dan Nenek kepadaku."

Melihat sosok kecil di hadapannya itu, Edwin pun merasakan sebuah rasa gembira muncul di dalam dirinya. Anak di depannya ini adalah cucunya! Meskipun ia menentang Marina untuk melahirkan bayi itu, ia sekarang merasa senang untuk melihat cucunya.

Setelah selesai merapikan barang bawaan miliknya, Marina mendengar ponselnya berdering. Ia mengangkat ponselnya dan melihat nomor yang ada pada layar ponselnya tersebut. Saat ia menjawab panggilan itu, orang di panggilan telepon itu berkata, "Marina, mengapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu akan pulang?"

Saat mendengar nadanya yang kesal, Marina pun berkata dengan nada yang meminta maaf, "Maafkan aku, Albert. Aku tidak ingin berakhir menangis di bandara. Aku sudah sampai di rumah, dan orang tuaku sudah memaafkanku. Mulai sekarang aku akan tinggal di sini."

Albert ingin mengatakan sesuatu tentang hal tersebut, tetapi akhirnya, ia memutuskan untuk tidak melakukannya dan berkata, "Di masa depan, apa setidaknya kamu bisa memberitahuku ke mana kamu akan pergi? Aku tadi mau mengajak Mikael ke taman hiburan setelah perjalanan bisnisku."

Malamnya pada saat makan malam, semua orang duduk yang ada mengelilingi meja seperti sebuah keluarga yang bahagia. Edwin dan Leni merasa sangat bahagia untuk melihat cucu kecil mereka.

Edwin juga tak bisa menahan diri untuk mengagumi putrinya yang telah bertumbuh dalam enam tahun terakhir itu. "Marina, pasti semua terasa sulit bagimu selama ini," katanya.

Marina kemudian menggelengkan kepalanya. "Itu semua tidak sesulit itu, Ayah. Bagaimana pun, itu adalah kesalahanku. Aku seharusnya tidak pergi meninggalkan rumah. Jika waktu itu kita membicarakannya baik-baik, mungkin tidak akan terjadi seperti ini."

Bab 3

Walaupun mereka baru saja kembali ke rumah, Marina dan Mikael tidak bisa duduk diam saja tanpa melakukan apa pun sepanjang hari. Oleh karena itu, orang tua Marina langsung mencarikan sekolah untuk Mikael. Marina, di sisi lain, harus mendapatkan pekerjaan. Tetapi, setelah melihat-lihat beberapa iklan lowongan pekerjaan, malah membuatnya merasa frustrasi. Selama enam tahun terakhir, ia selalu bekerja sebagai sekretaris. Seandainya pun ia terpilih untuk posisi pekerjaan yang lain, ia takut bahwa dirinya tidak akan dapat melakukannya.

Edwin memintanya untuk bekerja di dalam bisnis milik keluarganya, tetapi ia bersikeras mengatakan bahwa ia akan mencari pekerjaan sendiri. Setiap kali Marina mengatakan hal ini, Mikael akan menggodanya tentang pekerjaan yang ia miliki sebelumnya. Suatu malam, pada saat makan malam, ia berkata, "Kakek, ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu. Ibu sangat bodoh sehingga dia dipecat dari setiap pekerjaan hanya dalam waktu tiga bulan. Sebenarnya, aku merasa kasihan pada Ibu."

Mendengar hal ini, Edwin menjadi sangat gembira. Ia mengenal putrinya dengan baik. Tapi ia tidak tahu apa atau berapa banyak yang telah dihadapi putrinya selama beberapa tahun ini. Dengan samar, ia mengingat malam hari yang hujan pada enam tahun lalu itu.

Saat itu, sesudah mengetahui bahwa Marina itu hamil, ia menyuruhnya melakukan aborsi, tetapi Marina bersikeras untuk mempertahankan bayi itu.

Dalam rasa marah, ia mengusir Marina untuk keluar dari rumah dan mengatakan padanya bahwa ia tidak sudi memiliki seorang putri seperti dirinya. Namun, Marina adalah anak tunggalnya, satu-satunya orang yang ia sayangi untuk sepanjang hidupnya. Saat Marina pergi, ia langsung menyesalinya. Tapi apa yang terjadi sudah terjadi, dan ia tidak bisa mengubah itu.

Saat Marina sedang mencari sebuah pekerjaan, Mikael terus mengejeknya tentang ketidakmampuannya untuk mempertahankan sebuah pekerjaan untuk lebih dari tiga bulan. Untuk membuktikan anaknya salah, ia membuat sebuah kesepakatan dengan anaknya. Kalau ia bisa bertahan pada satu pekerjaan yang sama untuk lebih dari tiga bulan, maka Mikael akan membuatkannya sarapan setiap pagi untuk satu tahun.

Setelah selesai mandi, Mikael duduk di ruang keluarga dan menonton TV sendirian. Ia jarang menangis atau membuat sebuah kegaduhan. Ia hanya penasaran mengapa anak-anak yang lain punya seorang ibu dan ayah. Sedangkan ia hanya memiliki ibu.

Ia pernah bertanya pada Marina mengenai siapa ayahnya. Oleh karena itu, Marina pun menjawab, "Mikael, aku benar-benar tidak tahu siapa ayahmu. Ini semua adalah salahku sehingga kamu tidak memiliki seorang ayah. Apa kamu menyalahkanku?"

Mikael tidak menyalahkan ibunya, tapi terkadang ia merasa bahwa ibunya tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Sebetulnya, ia tidak peduli siapa ayahnya tersebut, selama ibunya tetap berada di sisinya.

Tak lama kemudian Mike mulai pergi bersekolah, tapi Marina masih sibuk mencari sebuah pekerjaan. Ia sudah bekerja sebagai seorang sekretaris selama bertahun-tahun lamanya, tapi semua bosnya pasti melecehkannya dan membuatnya mengundurkan diri dalam rasa marah. Seperti yang sudah dikatakan oleh putranya, tidak ada pekerjaannya yang bertahan lebih dari tiga bulan.

Sudah enam tahun berlalu, melihat Mikael yang tumbuh hari demi hari, Marina merasa sedikit bersalah. Kalau ia bisa melihat wajah ayah Mikael dengan jelas pada malam itu, ia setidaknya akan punya sebuah jawaban untuk pertanyaan Mikael.

Saat ia melihat ke layar televisi, ia melihat kepada wartawan berita yang mengatakan direktur dari Grup M, Mike Bingei, sudah pulang ke rumah.

'Mike Bingei? Nama itu terdengar agak akrab. Aku pikir Ayah mengucapkan nama itu hari ini.' Marina melihat laporan berita tersebut, dan kemudian melihat pada gambar pria itu di layar televisi. Matanya melotot, dan ia melihat kepada putranya yang sedang tidur. 'Mereka berdua benar-benar mirip. Apa Mike ini adalah bajingan yang sama dengan yang ada di ruangan itu pada malam tersebut? Apa dia ayah dari anakku?'

Tapi seusai berpikir untuk sejenak, Marina dengan cepat menggelengkan kepalanya. 'Bagaimana itu bisa terjadi? Hanya karena mereka punya nama yang sama tidak berarti dia adalah pria yang sama dengan yang di dalam ruangan pada malam tersebut. Apalagi dia baru saja pulang dari luar negeri. Tidak mungkin itu adalah dia.'

Ia mematikan TV dan menggendong Mike kembali ke kamarnya. 'Dia sudah besar sekarang. Aku bahkan hampir tidak kuat untuk menggendongnya lagi. Selama bertahun-tahun, dia pasti merindukan ayahnya untuk berada di sisinya.'

Setelah menempatkan Mike di tempat tidurnya dan menyelimutinya, Marina dengan lembut mencium keningnya. Kemudian, ia menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia melihat bahwa kamarnya terlihat sama persis dengan waktu di mana ia pergi meninggalkan rumah ini. 'Ayah pasti membersihkan kamarku setiap hari. Kenyataannya, orang tuaku selalu mencintaiku.' Sambil merenung, air matanya spontan mengalir turun ke wajahnya.

Setelah beberapa saat, ia mengambil sebuah kalung dan melihat kata "Mike" di kalung tersebut. 'Apakah nama pria itu benar-benar Mike?'

Mengabaikan kalung itu, ia pergi membuka internet dan mencari informasi tentang Mike Bingei. Lalu, Marina melihat sebuah iklan perekrutan untuk menjadi sekretaris Mike, terbelesit keinginan di benaknya untuk melamar pekerjaan tersebut. 'Jika aku menjadi sekretarisnya, aku dapat mengetahui apakah dia adalah orang yang berhubungan intim denganku pada malam itu. Lagi pula, aku memang sedang mencari pekerjaan, dan posisi ini sangat cocok untukku. Aku akan mencobanya.'

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED