Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong

Dosa Dalam Pelukan Brondong

7.9 / 10.0
Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan pengusaha kaya, terasa hampa tanpa kehangatan. Rasa sepi menuntunnya pada Ellandra, pemuda memikat berusia 23 tahun yang ia temui di klub malam. Hubungan yang semula hanya pelarian sesaat ini perlahan mengancam keutuhan pernikahannya. Situasi kian rumit akibat rahasia besar suaminya, kemunculan kekasih Ellandra, dan masa lalu yang kelam. Di tengah asmara terlarang ini, Sheana harus memilih pria yang sanggup menghidupkan kembali jiwanya.
Ringkasan Dosa Dalam Pelukan Brondong
Kehidupan Sheana, wanita 35 tahun yang bersuamikan pengusaha kaya, terasa hampa tanpa kehangatan. Rasa sepi menuntunnya pada Ellandra, pemuda memikat berusia 23 tahun yang ia temui di klub malam. Hubungan yang semula hanya pelarian sesaat ini perlahan mengancam keutuhan pernikahannya. Situasi kian rumit akibat rahasia besar suaminya, kemunculan kekasih Ellandra, dan masa lalu yang kelam. Di tengah asmara terlarang ini, Sheana harus memilih pria yang sanggup menghidupkan kembali jiwanya.
Baca Selengkapnya

Dosa Dalam Pelukan Brondong Bab 1

"Kalau seperti ini... apa aku masih sama? Masih Sheana yang kamu kenal dulu?"

Sheana menatap dalam, hanya beberapa inci dari wajah Ellan-baru saja bibirnya lepas dari pemuda yang terpaut belasan tahun darinya itu.

Ellan tak menjawab. Tapi ia bertindak. Tangannya menangkap lengan Sheana, menariknya kembali. Dalam sentakan cepat, tubuh wanita itu dibalik, dan bibir mereka bertemu lagi.

Ciuman itu rakus. Kasar. Terburu-buru. Tangannya menyusup ke balik kaos longgar Sheana, menyentuh kulit hangat yang selama ini hanya jadi imajinasi.

Sentuhan berubah liar. Remasan menggantikan kelembutan. Bisikan Sheana yang memintanya tenang, tenggelam oleh gejolak yang tak terbendung.

Pakaian mereka lepas satu per satu. Tak ada lagi jarak, hanya napas yang menyatu dan panas tubuh yang menyesakkan ruang.

"Shea..." bisik Ellan.

Panggilan itu nyaris seperti peringatan-tapi tak cukup kuat menghentikan amukan di dadanya. Tatapan mereka bersentuhan. Dalam mata Sheana ada getar-bukan penolakan, tapi ragu yang hanya Ellan bisa memahaminya.

Ia tak berhenti. Melangkah, melebur, memecah rindu, sepi, dan luka yang tak kunjung pulih.

"Aku kangen banget sama kamu, Shea..." desisnya.

Tubuh mereka menyatu, dalam gerakan yang menyakitkan sekaligus penuh gairah.

Mereka saling mencari, berganti posisi, berlayar dalam sunyi. Hingga akhirnya, dalam desakan terakhir, Ellan mencapai puncak. Ia tenggelam di pelukan Sheana, dengan wajah terkubur di leher wanita itu.

Saat menarik diri, matanya menangkap sesuatu di dada kiri Sheana. Sebuah tato kecil bertuliskan satu huruf.

"Ini... inisial namaku?" bisiknya, nyaris tak percaya.

Sheana tak menjawab. Tapi malam itu, waktu seolah berhenti di kamar yang hanya milik mereka.

Cinta mereka adalah luka.

Cinta mereka adalah kenangan.

Terlalu menyakitkan untuk diingat,

Tapi terlalu indah untuk dilupakan.

Meski jarak dan waktu telah memisahkan mereka selama bertahun-tahun.

***

Sheana bersandar di dada Ellan. Kulit mereka masih hangat, napas mulai tenang. Jari-jari Ellan menyusuri rambutnya pelan, seperti ingin merekam semuanya.

Ellan mencium ubun-ubunnya. "Aku masih ingat malam pertama kita ketemu," bisiknya nyaris tak terdengar.

Sheana tak menjawab. Tapi genggamannya pada tangan Ellan menguat-itu cukup sebagai jawaban.

"You looked so... out of place. Tapi entah kenapa, kamu juga jadi wanita paling cantik di ruangan itu."

Suara Ellan nyaris mengantuk, tapi ingatannya tajam.

"Waktu itu kamu ngeliat aku kayak orang asing yang nggak penting. But that night, something clicked."

"Stop," gumam Sheana dengan mata terpejam. "You're making it sound too romantic."

Ellan terkekeh pelan.

"Biarin. Karena emang itu yang aku rasa. You were chaos... Tapi tiap kali deket kamu, dunia aku malah lebih tenang. Kamu bikin hidup aku jungkir balik, tapi aku juga nggak mau semuanya kembali kayak dulu."

Sheana diam. Hening menggantung.

Tatapannya menyentuh langit-langit kamar yang remang, membangkitkan kenangan yang begitu jelas, begitu hidup.

Beberapa tahun yang lalu,

Ia berdiri di tepi lounge dengan segelas wine di tangan dan mini dress yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Memperlihatkan lekuk yang tak lagi muda, tapi justru menampilkan kedewasaan yang mahal.

"Lo cantik banget, sumpah," bisik Grace, menyilangkan kaki sambil menyesap cocktail. "Tapi auranya... depressing abis. Kayak lo baru ditinggal nikah."

Sheana menghela napas. "Lo tahu yang lebih parah?"

"Apa?"

"Gue bahkan belum sempet ditinggal. Gue masih dijadiin figuran di rumah sendiri."

Grace mendecak pelan. "Sheana... lo tuh smart, classy, desirable. Masalahnya bukan di lo, tapi di suami lo yang super membosankan itu."

"Boring, tapi masih jadi alasan Mama Dirga nelpon gue tiap hari," gumam Sheana. "Dan malam ini gue harus pulang cepet karena beliau mau nginap besok."

"Oh for f-" Grace menahan umpatan. "Forget Dirga. Malam ini, lo butuh... disruption. Dan-ah, perfect timing."

Sheana tidak menjawab. Tatapannya menelisik kerumunan, memperhatikan tawa berlebihan para wanita di antara rayuan palsu dari pria-pria muda yang menjual senyum seperti komoditas. Manis tapi tak sepenuhnya tulus. Semua terasa... kosong.

"Gue nggak yakin ini ide bagus," gumamnya, jari-jarinya menyentuh permukaan dingin gelas wine yang belum ia sentuh.

Grace mendesah, lalu menyandarkan tubuh. "Lo tuh terlalu kaku, Na. Bukan berarti lo harus tidur sama siapa pun. Kadang, lo Cuma butuh seseorang buat dengerin lo sambil nemenin minum. That's it."

"Dan cowok-cowok itu... dibayar buat pura-pura peduli?" sindir Sheana.

"Enggak semua pura-pura. Ada yang emang pinter bikin perempuan ngerasa hidup lagi." Grace melirik seseorang di kejauhan, lalu mengangkat tangan, memberi isyarat.

Sheana buru-buru menarik lengannya. "Grace, serius. Gue Cuma pengen duduk, minum, terus pulang."

"Terlambat." Grace terkekeh. "He's coming."

Dan di detik itulah, Sheana melihatnya. Seorang pria muda, berpakaian hitam kasual yang dipadu dengan jaket kulit dan sneakers putih bersih. Rambutnya sedikit messy, senyumnya terlalu percaya diri, tapi bukan tipe yang menyebalkan. Usianya mungkin dua puluh lima, atau lebih muda. Tapi caranya berjalan... tidak seperti anak-anak.

"Ellandra, ini Sheana. Temen gue," kata Grace cepat, sebelum berdiri. "She's a bit tense, so be nice."

"Always," sahut Ellan, suaranya dalam dan lembut. Matanya langsung menatap Sheana tanpa ragu. "Hi."

Sheana meneguk ludah. "Grace, gue-"

"Terserah lo mau ngobrol atau enggak. Tapi paling enggak, kasih kesempatan," ujar Grace sambil berjalan menjauh, meninggalkan mereka berdua dalam jarak yang terlalu dekat untuk sebuah pertemuan pertama.

Sheana hendak protes, tapi Ellan sudah duduk di seberangnya. Menyilangkan kaki dan menyender santai, seperti ini bukan pertama kalinya ia duduk di hadapan wanita yang jauh lebih dewasa darinya.

"First time?" suaranya dalam, serak, dan... terlalu intim untuk orang yang baru dikenal.

Sheana mengangkat alis. "What makes you think so?"

"Karena Cuma orang yang pertama kali datang ke tempat ini yang kelihatan segugup kamu." Ia tersenyum, manis dan sedikit nakal. "Kecuali kamu memang suka berpura-pura nggak tahu cara bersenang-senang."

"Dan kamu senang menebak-nebak orang?"

"Kadang. Tapi lebih sering... nebaknya tepat."

"Sounds like a dangerous habit."

"Cuma kalau kamu takut ketahuan."

"Dan kamu pikir aku takut?"

Ellan tertawa singkat. "Grace bilang, kamu bukan tipe yang suka tempat berisik seperti ini," ucapnya. Suara itu berat, berlapis senyum tipis yang menyebalkan-tapi justru itu yang membuat siapapun sulit untuk berpaling darinya.

Sheana menoleh, menahan ekspresi. "Grace seharusnya juga bilang kalau aku sedang bosan."

Ellan tertawa pelan. "Bosan bisa sangat berbahaya kalau ditangani dengan cara yang salah."

Sheana memiringkan kepala. "Kamu kerja di sini?"

Ellan tertawa kecil. "Nggak. Tapi kadang aku disewa untuk menemani klien tertentu. Jadi, yeah... semacam freelance."

"Freelance," Sheana mencibir. "Gigolo, maksudnya?"

Ellan tersenyum, tidak tersinggung. "I prefer 'companion'. Tapi kalau itu adalah istilah yang nyaman kamu pake... gapapa."

"Dan kamu bisa 'dianggap nyata' dengan semua ini?" Sheana mengisyaratkan ke lounge.

"Kalo kamu yang nanya, yes. Karena dari tadi mata kamu nyari alasan buat pulang, tapi kakinya nggak gerak.

Sheana terkekeh pelan. "Pede banget."

"Nope. I'm full of curiosity. Tentang perempuan cantik yang duduk di sini dengan gaun mahal, tapi matanya... kosong."

Sheana diam.

Ellan melanjutkan, lebih lembut. "What broke you?"

Pertanyaan itu membuat dada Sheana sesak. Tapi juga terasa... seperti pelukan diam-diam.

"Kalo aku bilang... I forgot how to feel?" bisiknya.

Ellan menatapnya. Lama.

"Then let me remind you," katanya pelan.

Mata mereka bertaut. Untuk sesaat, waktu melambat.

Sebelum Sheana sempat menjawab, Grace muncul kembali dan menyelamatkan mereka dari kekhusyukan yang nyaris terlalu intim.

"I'll leave you two," katanya sambil mengedipkan mata. "Tapi inget ya, no touching. Karena gue nggak mau bayar lo dobel."

Sheana tertawa kecil.

Ellan hanya menyeringai. "Don't worry," katanya, masih menatap Sheana. "Gue nggak minta dibayar lebih kok. Tapi, if we ever meet again... I'd probably charge you interest."

Sheana mengernyit, tapi tersenyum.

"Kita nggak akan ketemu lagi."

"You sure?" bisik Ellan sambil merapikan rambutnya. "Jakarta itu kecil. Dan... takdir tuh selera humornya emang suka ngaco. Has a sick sense of humor, you know?"

Sheana tidak menjawab. Tapi di balik senyum tipisnya, ada rasa aneh yang belum bisa ia beri nama.

Ia tak tahu, dalam hitungan hari, mereka akan bertemu lagi. Lebih cepat dari yang mereka kira. Bukan sebagai dua orang asing, tapi sebagai bagian dari rahasia takdir yang sama sekali tak terduga.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dosa Dalam Pelukan Brondong

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam. Apakah pernikahan ini berjalan atas sisa cinta, atau justru menjadi ajang pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu? Kini, sebagai suami istri, keduanya harus berkomitmen meski bayang-bayang masa lalu terus mengusik. Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, berbagai rahasia dan konflik pun mulai bermunculan, menguji kesetiaan serta keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Alicia Huang rela mendonorkan sumsum tulang belakang demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun setuju dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka wajib dirahasiakan dari publik. Kini, Alicia harus menjalani hari-hari sebagai istri yang disembunyikan layaknya wanita simpanan. Akankah pernikahan kontrak penuh rahasia ini menumbuhkan benih cinta sejati, atau justru menyisakan luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa ada celah untuk menghindar. Takdir menyeretnya menjadi istri seorang bandar narkoba yang sangat kejam. Kini, seluruh kehidupannya sepenuhnya terjebak di tengah lingkaran hitam dunia kriminal yang penuh intrik mematikan serta ancaman bahaya yang terus mengintai setiap saat.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED