Beberapa hari setelah malam itu, Sheana mengira kehidupannya akan kembali normal. Dia bahkan mengira pertemuan dengan Ellan hanya akan jadi satu cerita absurd yang akan ia simpan di sudut paling gelap dalam pikirannya-dan dilupakan.
Dia salah.
Pagi itu, Sheana berdiri di samping Dirga, suaminya, di depan pintu sebuah rumah mewah bergaya kolonial modern. Pekarangan luas, pohon palem simetris, dan seorang satpam berjas hitam yang membungkuk hormat ketika membuka pintu gerbang otomatis. Sejak awal, Sheana sudah merasa tidak nyaman.
"Kenapa aku harus ikut, Ga?" gumamnya sambil membetulkan scarf tipis di leher.
Dirga tersenyum singkat. "Pak Alvino itu orang penting. Beliau pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara. Beliau juga sangat menghargai gesture kekeluargaan. Kalau aku datang sendiri, itu terasa terlalu formal."
"Dan membawa istri akan membuatnya tampak lebih... hangat?"
"Lebih manusiawi," jawab Dirga, sebelum mengetuk pintu besar dengan ukiran khas Eropa itu.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi membukakan pintu. "Silakan masuk. Tuan sedang di ruang tengah."
Interior rumah itu tak kalah megahnya. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, lukisan cat minyak di setiap dinding, dan aroma lembut sandalwood yang menguar dari diffuser mahal.
Di ruang tengah, Alvino duduk bersandar di kursi empuk, selimut tipis menutupi kaki. Wajahnya tampak pucat, tapi senyum yang ia berikan cukup hangat.
"Sheana, ini Pak Alvino," Dirga memperkenalkan.
"Senang berkenalan, Nyonya Sheana," ucap Pak Alvino dengan suara serak namun berwibawa.
Sheana membalas dengan senyum sopan. "Saya juga, Pak."
Mereka berbincang cukup lama. Pak Alvino sempat tertawa pelan ketika Dirga bercerita soal kampanye sosial yang melibatkan perusahaan media mereka. Tapi kemudian suasana menjadi lebih tenang, bahkan sedikit berat, saat Pak Alvino mengalihkan topik.
"Kadang saya berpikir, buat apa semua ini kalau anak sendiri malah seperti orang asing."
Dirga tertawa pelan. "Yang mana? Yang bungsu atau-"
"Yang satu-satunya," potong Alvino dengan nada getir. "Ellandra. Dia lebih suka jadi seniman jalanan ketimbang meneruskan bisnis yang sudah kubangun tiga puluh tahun ini."
Sheana yang sedari tadi menatap jendela berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ellandra?
"Dia jarang pulang. Lebih sering hidup entah di mana. Katanya ingin 'menemukan dirinya'. Kalau bukan anakku sendiri, pasti sudah kutendang keluar dari hidupku," lanjut Alvino.
Dirga menanggapi dengan hati-hati, "Anak Anda belum ingin mengurus perusahaan?"
"Dia bahkan nggak mau pulang."
Sheana memperhatikan perubahan ekspresi Pak Alvino. Ada rasa kecewa yang tak ia tutupi. "Dia bilang ingin hidup bebas, menjelajah dunia. Tapi saya tahu... dia hanya kabur dari tanggung jawab."
Belum sempat Sheana merespons, seorang asisten rumah tangga datang dengan langkah tergesa.
"Maaf, Tuan... Tuan muda sudah pulang."
Pak Alvino mendongak. "Suruh dia ke sini. Sekarang."
Semua kepala menoleh.
Langkah kaki terdengar menyusuri lorong marmer. Dan kemudian, pintu dibuka perlahan. Ellan masuk dengan jaket kulit disampirkan di bahu dan rambut sedikit acak seperti baru bangun tidur. Matanya yang tajam segera menangkap sosok Sheana-yang sama terkejutnya.
"Ellan," panggil Alvino.
Ia mengangguk. "Dad."
Matanya sekilas beradu pandang dengan Sheana. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk menyampaikan ribuan kalimat yang tak bisa diucapkan di ruangan itu.
Sheana seketika menolak irama normal jantungnya.
Itu benar-benar Ellan yang ia kenal beberapa malam lalu.
Wajah pemuda itu tampak sedikit lelah, tapi masih sama. Matanya menyapu ruangan dengan tenang.
Keduanya terdiam. Mata mereka terkunci satu sama lain. Sekilas, napas Sheana tertahan. Ellan pun tampak membeku di tempat, seolah waktu di sekitarnya berhenti berdetak.
Dirga menoleh, heran melihat keheningan yang aneh itu.
"Kamu kenal?" tanyanya pelan pada Sheana.
Sheana cepat-cepat menggeleng. "Nggak. Cuma... kaget aja."
Ellan tersenyum. Bukan senyum gigolo. Tapi senyum anak muda yang baru saja menemukan sesuatu yang tak terduga. Ia melangkah masuk, menyapa ayahnya dengan cepat, lalu-dengan penuh kesadaran-berdiri tepat di depan Sheana.
Dirga bangkit, menjabat tangan Ellan. "Akhirnya bisa bertemu juga. Aku Dirga, sahabat ayahmu."
Elan mengangguk sopan. "Ellandra."
Lalu ia menoleh ke Sheana.
"Tante?" gumamnya pelan.
Sheana menegang.
Ellan tersenyum tipis, lalu buru-buru menambahkan, "Ah, maaf, saya kira Anda ibu teman saya. Mirip sekali."
Dirga tertawa. "Istriku. Sheana."
"Pantas," bisik Elan, matanya tak lepas dari Sheana. "Pantas... terlalu cantik untuk seorang ibu teman."
Sheana menyunggingkan senyum datar.
Alvino kembali sibuk bicara dengan Dirga, menuntunnya untuk melihat koleksi lukisan di ruang tengah. "Kamu ikut, Ell?"
"Nanti nyusul," sahut Ellan santai. Begitu dua pria itu berjalan menjauh, keheningan menggantung.
Sheana memalingkan wajah, berdiri sambil merapikan roknya. "Kecil dunia ini, ya?"
Ellan menyeringai. "Sheana... dramatik banget. Aku suka," katanya pelan, seperti mengomentari dialog film.
"Biasa aja," sahut Sheana, agak ketus.
Ellan menyandarkan diri di dinding, menyilangkan tangan. "Kau kelihatan gugup. Tapi tenang, aku jago jaga rahasia."
Sheana mendesah. "Bagus. Karena kalau kau buka mulut, aku juga bisa buka semuanya."
"Oh?" Ellan menaikkan alis. "Maksudmu... kamu akan bilang ke Daddy kalau aku kerja sambilan?"
Sheana menatapnya tajam. "Kalau perlu, iya."
Ellan melangkah pelan, memperkecil jarak. "Dan aku akan bilang... kamu salah satu klienku. Gimana? Mau sama-sama hancur atau-kita main aman?"
Sheana tercekat. Ini bukan lagi permainan biasa.
"Kamu brengsek," bisiknya, tapi tak bergeming.
"Dan kamu cantik sekali waktu marah," gumam Ellan, lebih rendah. "Ayo, kasih nomormu. Biar aku pastikan kamu nggak nyasar lagi ke tempat begitu."
Sheana mendelik. "Jangan berharap aku akan datang lagi."
"Aku nggak berharap," Ellan tersenyum miring. "Tapi... berharap itu gratis."
Ia menyodorkan ponsel. Dengan kesal, Sheana mengetik nomornya, lalu menyerahkan kembali tanpa berkata apa-apa.
"Terima kasih, Nyonya Dirga," bisik Ellan, lalu berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan jejak tawa di balik bibirnya yang tak sepenuhnya ramah.
Di luar sana, suara Alvino dan Dirga mulai terdengar kembali, menghapus keintiman singkat yang barusan terjadi.
Sheana duduk di pinggir ranjang. Lampu kamar redup, sementara suara air dari kamar mandi dalam menandakan Dirga masih mandi. Ponselnya bergetar pelan.
[Notifikasi WhatsApp – Nomor tak dikenal]
Udah bisa napas normal, Sheana? Or masih kebayang aku duduk di seberang kamu tadi siang?
Sheana melirik layar, alisnya naik setengah.
Typing...
Typing...
Tapi tak jadi dikirim. Baru saja dia meletakkan ponsel, notifikasi lain masuk.
Kamu acting-nya bagus banget. Tapi sorot mata nggak pernah bohong.
Sheana menggertakkan gigi, lalu membalas cepat.
Sheana:
Ngapain sih kamu nyimpen nomorku?
Ellan:
Ya karena aku emang perhatian.
Lagipula, who else's gonna remind you to behave?
Sheana:
Lucu banget. Kamu pikir aku bakal ketar-ketir ketemu kamu lagi?
Ellan:
Nggak. Tapi tadi kamu kayak orang baru keluar dari ruang interogasi FBI.
I'd say... cute.
Sheana:
Aku udah bilang, aku bukan bagian dari duniamu.
Ellan:
Ah, denial is hot.
Sheana:
Kamu emang sengaja cari masalah ya?
Ellan:
Nope. Just good at reading people. Dan kamu tuh gampang banget dibaca.
I mean... married to Dirga Aryan Bimantara? Come on.
Sheana membeku. Tangannya memegang ponsel erat. Satu bagian dari dirinya ingin berhenti baca, tapi bagian lainnya... penasaran.
Sheana:
Kamu nggak tahu apa-apa soal hidupku.
Ellan:
Maybe. Tapi aku tahu gimana rasanya jadi invisibly miserable.
Sheana:
Kamu bener-bener drama.
Ellan:
I'm just observant.
And guess what? I like what I see.
Sheana:
Kamu tuh gigolo. Udah cukup buat ngelus dada.
Ellan:
Correction. Part-time entertainer. Big difference.
Sheana:
Aku gak tertarik ketemu kamu lagi.
Ellan:
Aku belum ngajak ketemu.
Tapi... since you brought it up-wanna grab a drink tonight?
Sheana:
Hard no.
Ellan:
Yakin? Aku bisa bikin kamu lupa sama semua mimpi buruk yang kamu peluk tiap malem.
Sheana:
Kamu tuh toxic.
Ellan:
Maybe. Tapi kamu tetep bales chat
aku.
Tiba-tiba voice note masuk. Suara napas berat dan satu kalimat pendek.
"You'll think about me tonight. Just wait."
Sheana buru-buru menghapusnya. Ia menarik napas dalam, menatap bayangan dirinya di cermin. Matanya tajam, tapi ada getar di bibirnya yang tak bisa ia bantah.
Dalam hati, ia berpikir...
This guy is dangerous.
Tapi justru itu yang bikin dia tak bisa sepenuhnya memalingkan diri.
*
Kamar dipenuhi aroma sabun segar, bercampur dengan uap hangat dari kamar mandi yang baru saja digunakan. Dirga melangkah keluar dengan handuk melingkar di pinggang, rambutnya masih basah dan air menetes dari ujung dagunya. Tubuhnya yang tegap dan terawat memancarkan pesona maskulin yang tak pernah gagal menggetarkan dada Sheana-meski ia tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan.
Sheana menelan ludah pelan. Punggungnya menegang saat Dirga lewat di dekat tempat tidur tanpa mengucap sepatah kata pun. Jarak mereka hanya selemparan bantal, tapi terasa seperti dipisahkan ribuan kilometer.
Sudah berapa lama mereka seperti ini? Dingin, formal, nyaris tanpa sentuhan. Padahal mereka tidur di ranjang yang sama.
Ia teringat perjodohan itu-tiga belas tahun lalu. Ayahnya yang terlilit utang besar pada perusahaan milik keluarga Bimantara akhirnya menyerah. Demi menutup aib dan menyelamatkan bisnis keluarga, Sheana dikorbankan.
"Anggap saja ini investasi jangka panjang," begitu kata ayahnya.
Saat itu, Sheana masih dua puluh dua. Lulusan baru yang bahkan belum sempat menikmati dunia. Dan Dirga? Tujuh tahun lebih tua, pewaris tunggal dengan reputasi dingin dan tak pernah terlihat dengan perempuan mana pun di depan publik. Pernikahan mereka lebih mirip kesepakatan bisnis dibanding ikatan emosional.
Tapi kenyataan tak pernah sesederhana yang tampak. Meski jarang disentuh, meski nyaris tak pernah dibelai, malam-malam tertentu Dirga tetap menyentuhnya. Diam-diam. Tanpa banyak bicara. Tanpa ciuman, tanpa pelukan setelahnya.
Seperti transaksi yang dipenuhi rasa malu.
Dan malam ini, Sheana ingin lebih dari itu.
Ia menyampirkan rambutnya ke satu sisi, membiarkan lehernya terbuka. Malam terlalu sunyi untuk hanya tidur tanpa suara. Ia membiarkan jari-jari menelusuri garis dada Dirga secara halus saat ia duduk di tepi ranjang.
"Ga..." bisiknya lembut.
Pria itu menoleh, sejenak tatapan mereka bertemu. Dirga tampak ragu. Namun ia tak menolak ketika Sheana bersandar, mendekat, hingga jarak mereka tak lebih dari dua inci.
Hanya perlu satu gerakan kecil untuk mencium.
Satu.
Tapi...
"Maaf, aku capek." Suaranya datar.
Sheana terdiam. Bibirnya masih setengah terbuka saat Dirga menarik diri dan membalikkan badan, masuk ke bawah selimut dan memejamkan mata.
Tak ada pelukan. Tak ada kehangatan. Hanya penolakan.
Sheana berdiri pelan, menahan napas agar tak terdengar isaknya. Ia tahu ini bukan pertama kalinya. Tapi malam ini, penolakan itu terasa seperti tamparan.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil bantal dan berjalan keluar kamar.
Dirga tahu. Tapi ia tetap diam.
**
Kamar sebelah gelap, hanya diterangi lampu tidur redup. Sheana melempar bantal ke kasur, lalu duduk sambil menatap ponselnya.
Kesal. Terluka. Dan sedikit... malu.
Lalu jemarinya mulai bergerak sendiri. Ia membuka kolom chat-nama itu ada di urutan atas.
Ellan.
Ia mengetik cepat, tanpa berpikir:
Still up?
Balasan datang hanya dalam hitungan detik.
Always. Missing me already?
Sheana mendengus.
Jangan GR. I'm just... bored.
Jam segini tuh bahaya kalau kamu lagi bosen, sweetheart.
Aku baru aja keluar dari kamar suamiku. Aku berhak dong bosen.
Ellan mengirim voice note singkat, suaranya rendah dan menggoda.
"Come out. Gimana kalau aku bantu ilangin rasa bosan itu? I'm not far."
Sheana menggigit bibirnya. Ia tahu ini gila. Tapi rasa kecewa itu seperti bensin yang disiram ke bara amarahnya.
I don't even have makeup on.
"Nggak usah dandan. Datang aja, apa adanya."
Gak bisa. I'm in pajamas.
Even better. Mau taruhan aku bakal nyampe sana dalam lima belas menit?
Dan entah kenapa, tawa kecil keluar dari mulut Sheana.
Dia benar-benar sinting.
Ponselnya berdering. Nama Ellan terpampang di layar.
Ia menjawab, setengah berbaring di ranjang.
"Seriously, Ellan? Tengah malem gini?"
"Seriously, Sheana? You texted me first," balasnya enteng. "Jam segini, istri orang yang cakep tiba-tiba nge-chat... masa aku bilang 'nggak boleh'?"
Suara Sheana tercekat, antara ingin tertawa dan ingin marah.
"Kamu enggak pernah serius ya?"
"Cuma sama kamu aku jadi kayak badut. Di luar sana, aku CEO bayangan loh. Punya crown invisible, ingat nggak?"
Sheana menahan tawa. "Aku lagi enggak mood bercanda, Ell."
"Fine. Tapi aku tahu kamu marah. You sound... invisibly miserable."
Diam.
Lalu, pelan-pelan, Sheana menjawab, "Aku enggak tahu kenapa aku chatting kamu barusan."
"Karena kamu kesepian. And I don't blame you."
Tiba-tiba, suara Ellan berubah serius.
"Let me see you tonight. Just talk, I promise. No funny stuff."
"Aku... nggak tahu."
"Ten minutes, babe. Aku tunggu di bawah, hoping you show up. Tapi kalau nggak... I'll leave, heartbroken. Fair enough?"
Sheana memejamkan mata. Perasaan berkecamuk. Tapi tubuhnya tetap bergerak ke arah lemari pakaian.