"Kalau seperti ini... apa aku masih sama? Masih Sheana yang kamu kenal dulu?"
Sheana menatap dalam, hanya beberapa inci dari wajah Ellan-baru saja bibirnya lepas dari pemuda yang terpaut belasan tahun darinya itu.
Ellan tak menjawab. Tapi ia bertindak. Tangannya menangkap lengan Sheana, menariknya kembali. Dalam sentakan cepat, tubuh wanita itu dibalik, dan bibir mereka bertemu lagi.
Ciuman itu rakus. Kasar. Terburu-buru. Tangannya menyusup ke balik kaos longgar Sheana, menyentuh kulit hangat yang selama ini hanya jadi imajinasi.
Sentuhan berubah liar. Remasan menggantikan kelembutan. Bisikan Sheana yang memintanya tenang, tenggelam oleh gejolak yang tak terbendung.
Pakaian mereka lepas satu per satu. Tak ada lagi jarak, hanya napas yang menyatu dan panas tubuh yang menyesakkan ruang.
"Shea..." bisik Ellan.
Panggilan itu nyaris seperti peringatan-tapi tak cukup kuat menghentikan amukan di dadanya. Tatapan mereka bersentuhan. Dalam mata Sheana ada getar-bukan penolakan, tapi ragu yang hanya Ellan bisa memahaminya.
Ia tak berhenti. Melangkah, melebur, memecah rindu, sepi, dan luka yang tak kunjung pulih.
"Aku kangen banget sama kamu, Shea..." desisnya.
Tubuh mereka menyatu, dalam gerakan yang menyakitkan sekaligus penuh gairah.
Mereka saling mencari, berganti posisi, berlayar dalam sunyi. Hingga akhirnya, dalam desakan terakhir, Ellan mencapai puncak. Ia tenggelam di pelukan Sheana, dengan wajah terkubur di leher wanita itu.
Saat menarik diri, matanya menangkap sesuatu di dada kiri Sheana. Sebuah tato kecil bertuliskan satu huruf.
"Ini... inisial namaku?" bisiknya, nyaris tak percaya.
Sheana tak menjawab. Tapi malam itu, waktu seolah berhenti di kamar yang hanya milik mereka.
Cinta mereka adalah luka.
Cinta mereka adalah kenangan.
Terlalu menyakitkan untuk diingat,
Tapi terlalu indah untuk dilupakan.
Meski jarak dan waktu telah memisahkan mereka selama bertahun-tahun.
***
Sheana bersandar di dada Ellan. Kulit mereka masih hangat, napas mulai tenang. Jari-jari Ellan menyusuri rambutnya pelan, seperti ingin merekam semuanya.
Ellan mencium ubun-ubunnya. "Aku masih ingat malam pertama kita ketemu," bisiknya nyaris tak terdengar.
Sheana tak menjawab. Tapi genggamannya pada tangan Ellan menguat-itu cukup sebagai jawaban.
"You looked so... out of place. Tapi entah kenapa, kamu juga jadi wanita paling cantik di ruangan itu."
Suara Ellan nyaris mengantuk, tapi ingatannya tajam.
"Waktu itu kamu ngeliat aku kayak orang asing yang nggak penting. But that night, something clicked."
"Stop," gumam Sheana dengan mata terpejam. "You're making it sound too romantic."
Ellan terkekeh pelan.
"Biarin. Karena emang itu yang aku rasa. You were chaos... Tapi tiap kali deket kamu, dunia aku malah lebih tenang. Kamu bikin hidup aku jungkir balik, tapi aku juga nggak mau semuanya kembali kayak dulu."
Sheana diam. Hening menggantung.
Tatapannya menyentuh langit-langit kamar yang remang, membangkitkan kenangan yang begitu jelas, begitu hidup.
Beberapa tahun yang lalu,
Ia berdiri di tepi lounge dengan segelas wine di tangan dan mini dress yang membingkai tubuhnya dengan anggun. Memperlihatkan lekuk yang tak lagi muda, tapi justru menampilkan kedewasaan yang mahal.
"Lo cantik banget, sumpah," bisik Grace, menyilangkan kaki sambil menyesap cocktail. "Tapi auranya... depressing abis. Kayak lo baru ditinggal nikah."
Sheana menghela napas. "Lo tahu yang lebih parah?"
"Apa?"
"Gue bahkan belum sempet ditinggal. Gue masih dijadiin figuran di rumah sendiri."
Grace mendecak pelan. "Sheana... lo tuh smart, classy, desirable. Masalahnya bukan di lo, tapi di suami lo yang super membosankan itu."
"Boring, tapi masih jadi alasan Mama Dirga nelpon gue tiap hari," gumam Sheana. "Dan malam ini gue harus pulang cepet karena beliau mau nginap besok."
"Oh for f-" Grace menahan umpatan. "Forget Dirga. Malam ini, lo butuh... disruption. Dan-ah, perfect timing."
Sheana tidak menjawab. Tatapannya menelisik kerumunan, memperhatikan tawa berlebihan para wanita di antara rayuan palsu dari pria-pria muda yang menjual senyum seperti komoditas. Manis tapi tak sepenuhnya tulus. Semua terasa... kosong.
"Gue nggak yakin ini ide bagus," gumamnya, jari-jarinya menyentuh permukaan dingin gelas wine yang belum ia sentuh.
Grace mendesah, lalu menyandarkan tubuh. "Lo tuh terlalu kaku, Na. Bukan berarti lo harus tidur sama siapa pun. Kadang, lo Cuma butuh seseorang buat dengerin lo sambil nemenin minum. That's it."
"Dan cowok-cowok itu... dibayar buat pura-pura peduli?" sindir Sheana.
"Enggak semua pura-pura. Ada yang emang pinter bikin perempuan ngerasa hidup lagi." Grace melirik seseorang di kejauhan, lalu mengangkat tangan, memberi isyarat.
Sheana buru-buru menarik lengannya. "Grace, serius. Gue Cuma pengen duduk, minum, terus pulang."
"Terlambat." Grace terkekeh. "He's coming."
Dan di detik itulah, Sheana melihatnya. Seorang pria muda, berpakaian hitam kasual yang dipadu dengan jaket kulit dan sneakers putih bersih. Rambutnya sedikit messy, senyumnya terlalu percaya diri, tapi bukan tipe yang menyebalkan. Usianya mungkin dua puluh lima, atau lebih muda. Tapi caranya berjalan... tidak seperti anak-anak.
"Ellandra, ini Sheana. Temen gue," kata Grace cepat, sebelum berdiri. "She's a bit tense, so be nice."
"Always," sahut Ellan, suaranya dalam dan lembut. Matanya langsung menatap Sheana tanpa ragu. "Hi."
Sheana meneguk ludah. "Grace, gue-"
"Terserah lo mau ngobrol atau enggak. Tapi paling enggak, kasih kesempatan," ujar Grace sambil berjalan menjauh, meninggalkan mereka berdua dalam jarak yang terlalu dekat untuk sebuah pertemuan pertama.
Sheana hendak protes, tapi Ellan sudah duduk di seberangnya. Menyilangkan kaki dan menyender santai, seperti ini bukan pertama kalinya ia duduk di hadapan wanita yang jauh lebih dewasa darinya.
"First time?" suaranya dalam, serak, dan... terlalu intim untuk orang yang baru dikenal.
Sheana mengangkat alis. "What makes you think so?"
"Karena Cuma orang yang pertama kali datang ke tempat ini yang kelihatan segugup kamu." Ia tersenyum, manis dan sedikit nakal. "Kecuali kamu memang suka berpura-pura nggak tahu cara bersenang-senang."
"Dan kamu senang menebak-nebak orang?"
"Kadang. Tapi lebih sering... nebaknya tepat."
"Sounds like a dangerous habit."
"Cuma kalau kamu takut ketahuan."
"Dan kamu pikir aku takut?"
Ellan tertawa singkat. "Grace bilang, kamu bukan tipe yang suka tempat berisik seperti ini," ucapnya. Suara itu berat, berlapis senyum tipis yang menyebalkan-tapi justru itu yang membuat siapapun sulit untuk berpaling darinya.
Sheana menoleh, menahan ekspresi. "Grace seharusnya juga bilang kalau aku sedang bosan."
Ellan tertawa pelan. "Bosan bisa sangat berbahaya kalau ditangani dengan cara yang salah."
Sheana memiringkan kepala. "Kamu kerja di sini?"
Ellan tertawa kecil. "Nggak. Tapi kadang aku disewa untuk menemani klien tertentu. Jadi, yeah... semacam freelance."
"Freelance," Sheana mencibir. "Gigolo, maksudnya?"
Ellan tersenyum, tidak tersinggung. "I prefer 'companion'. Tapi kalau itu adalah istilah yang nyaman kamu pake... gapapa."
"Dan kamu bisa 'dianggap nyata' dengan semua ini?" Sheana mengisyaratkan ke lounge.
"Kalo kamu yang nanya, yes. Karena dari tadi mata kamu nyari alasan buat pulang, tapi kakinya nggak gerak.
Sheana terkekeh pelan. "Pede banget."
"Nope. I'm full of curiosity. Tentang perempuan cantik yang duduk di sini dengan gaun mahal, tapi matanya... kosong."
Sheana diam.
Ellan melanjutkan, lebih lembut. "What broke you?"
Pertanyaan itu membuat dada Sheana sesak. Tapi juga terasa... seperti pelukan diam-diam.
"Kalo aku bilang... I forgot how to feel?" bisiknya.
Ellan menatapnya. Lama.
"Then let me remind you," katanya pelan.
Mata mereka bertaut. Untuk sesaat, waktu melambat.
Sebelum Sheana sempat menjawab, Grace muncul kembali dan menyelamatkan mereka dari kekhusyukan yang nyaris terlalu intim.
"I'll leave you two," katanya sambil mengedipkan mata. "Tapi inget ya, no touching. Karena gue nggak mau bayar lo dobel."
Sheana tertawa kecil.
Ellan hanya menyeringai. "Don't worry," katanya, masih menatap Sheana. "Gue nggak minta dibayar lebih kok. Tapi, if we ever meet again... I'd probably charge you interest."
Sheana mengernyit, tapi tersenyum.
"Kita nggak akan ketemu lagi."
"You sure?" bisik Ellan sambil merapikan rambutnya. "Jakarta itu kecil. Dan... takdir tuh selera humornya emang suka ngaco. Has a sick sense of humor, you know?"
Sheana tidak menjawab. Tapi di balik senyum tipisnya, ada rasa aneh yang belum bisa ia beri nama.
Ia tak tahu, dalam hitungan hari, mereka akan bertemu lagi. Lebih cepat dari yang mereka kira. Bukan sebagai dua orang asing, tapi sebagai bagian dari rahasia takdir yang sama sekali tak terduga.
Beberapa hari setelah malam itu, Sheana mengira kehidupannya akan kembali normal. Dia bahkan mengira pertemuan dengan Ellan hanya akan jadi satu cerita absurd yang akan ia simpan di sudut paling gelap dalam pikirannya-dan dilupakan.
Dia salah.
Pagi itu, Sheana berdiri di samping Dirga, suaminya, di depan pintu sebuah rumah mewah bergaya kolonial modern. Pekarangan luas, pohon palem simetris, dan seorang satpam berjas hitam yang membungkuk hormat ketika membuka pintu gerbang otomatis. Sejak awal, Sheana sudah merasa tidak nyaman.
"Kenapa aku harus ikut, Ga?" gumamnya sambil membetulkan scarf tipis di leher.
Dirga tersenyum singkat. "Pak Alvino itu orang penting. Beliau pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di Asia Tenggara. Beliau juga sangat menghargai gesture kekeluargaan. Kalau aku datang sendiri, itu terasa terlalu formal."
"Dan membawa istri akan membuatnya tampak lebih... hangat?"
"Lebih manusiawi," jawab Dirga, sebelum mengetuk pintu besar dengan ukiran khas Eropa itu.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi membukakan pintu. "Silakan masuk. Tuan sedang di ruang tengah."
Interior rumah itu tak kalah megahnya. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, lukisan cat minyak di setiap dinding, dan aroma lembut sandalwood yang menguar dari diffuser mahal.
Di ruang tengah, Alvino duduk bersandar di kursi empuk, selimut tipis menutupi kaki. Wajahnya tampak pucat, tapi senyum yang ia berikan cukup hangat.
"Sheana, ini Pak Alvino," Dirga memperkenalkan.
"Senang berkenalan, Nyonya Sheana," ucap Pak Alvino dengan suara serak namun berwibawa.
Sheana membalas dengan senyum sopan. "Saya juga, Pak."
Mereka berbincang cukup lama. Pak Alvino sempat tertawa pelan ketika Dirga bercerita soal kampanye sosial yang melibatkan perusahaan media mereka. Tapi kemudian suasana menjadi lebih tenang, bahkan sedikit berat, saat Pak Alvino mengalihkan topik.
"Kadang saya berpikir, buat apa semua ini kalau anak sendiri malah seperti orang asing."
Dirga tertawa pelan. "Yang mana? Yang bungsu atau-"
"Yang satu-satunya," potong Alvino dengan nada getir. "Ellandra. Dia lebih suka jadi seniman jalanan ketimbang meneruskan bisnis yang sudah kubangun tiga puluh tahun ini."
Sheana yang sedari tadi menatap jendela berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ellandra?
"Dia jarang pulang. Lebih sering hidup entah di mana. Katanya ingin 'menemukan dirinya'. Kalau bukan anakku sendiri, pasti sudah kutendang keluar dari hidupku," lanjut Alvino.
Dirga menanggapi dengan hati-hati, "Anak Anda belum ingin mengurus perusahaan?"
"Dia bahkan nggak mau pulang."
Sheana memperhatikan perubahan ekspresi Pak Alvino. Ada rasa kecewa yang tak ia tutupi. "Dia bilang ingin hidup bebas, menjelajah dunia. Tapi saya tahu... dia hanya kabur dari tanggung jawab."
Belum sempat Sheana merespons, seorang asisten rumah tangga datang dengan langkah tergesa.
"Maaf, Tuan... Tuan muda sudah pulang."
Pak Alvino mendongak. "Suruh dia ke sini. Sekarang."
Semua kepala menoleh.
Langkah kaki terdengar menyusuri lorong marmer. Dan kemudian, pintu dibuka perlahan. Ellan masuk dengan jaket kulit disampirkan di bahu dan rambut sedikit acak seperti baru bangun tidur. Matanya yang tajam segera menangkap sosok Sheana-yang sama terkejutnya.
"Ellan," panggil Alvino.
Ia mengangguk. "Dad."
Matanya sekilas beradu pandang dengan Sheana. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk menyampaikan ribuan kalimat yang tak bisa diucapkan di ruangan itu.
Sheana seketika menolak irama normal jantungnya.
Itu benar-benar Ellan yang ia kenal beberapa malam lalu.
Wajah pemuda itu tampak sedikit lelah, tapi masih sama. Matanya menyapu ruangan dengan tenang.
Keduanya terdiam. Mata mereka terkunci satu sama lain. Sekilas, napas Sheana tertahan. Ellan pun tampak membeku di tempat, seolah waktu di sekitarnya berhenti berdetak.
Dirga menoleh, heran melihat keheningan yang aneh itu.
"Kamu kenal?" tanyanya pelan pada Sheana.
Sheana cepat-cepat menggeleng. "Nggak. Cuma... kaget aja."
Ellan tersenyum. Bukan senyum gigolo. Tapi senyum anak muda yang baru saja menemukan sesuatu yang tak terduga. Ia melangkah masuk, menyapa ayahnya dengan cepat, lalu-dengan penuh kesadaran-berdiri tepat di depan Sheana.
Dirga bangkit, menjabat tangan Ellan. "Akhirnya bisa bertemu juga. Aku Dirga, sahabat ayahmu."
Elan mengangguk sopan. "Ellandra."
Lalu ia menoleh ke Sheana.
"Tante?" gumamnya pelan.
Sheana menegang.
Ellan tersenyum tipis, lalu buru-buru menambahkan, "Ah, maaf, saya kira Anda ibu teman saya. Mirip sekali."
Dirga tertawa. "Istriku. Sheana."
"Pantas," bisik Elan, matanya tak lepas dari Sheana. "Pantas... terlalu cantik untuk seorang ibu teman."
Sheana menyunggingkan senyum datar.
Alvino kembali sibuk bicara dengan Dirga, menuntunnya untuk melihat koleksi lukisan di ruang tengah. "Kamu ikut, Ell?"
"Nanti nyusul," sahut Ellan santai. Begitu dua pria itu berjalan menjauh, keheningan menggantung.
Sheana memalingkan wajah, berdiri sambil merapikan roknya. "Kecil dunia ini, ya?"
Ellan menyeringai. "Sheana... dramatik banget. Aku suka," katanya pelan, seperti mengomentari dialog film.
"Biasa aja," sahut Sheana, agak ketus.
Ellan menyandarkan diri di dinding, menyilangkan tangan. "Kau kelihatan gugup. Tapi tenang, aku jago jaga rahasia."
Sheana mendesah. "Bagus. Karena kalau kau buka mulut, aku juga bisa buka semuanya."
"Oh?" Ellan menaikkan alis. "Maksudmu... kamu akan bilang ke Daddy kalau aku kerja sambilan?"
Sheana menatapnya tajam. "Kalau perlu, iya."
Ellan melangkah pelan, memperkecil jarak. "Dan aku akan bilang... kamu salah satu klienku. Gimana? Mau sama-sama hancur atau-kita main aman?"
Sheana tercekat. Ini bukan lagi permainan biasa.
"Kamu brengsek," bisiknya, tapi tak bergeming.
"Dan kamu cantik sekali waktu marah," gumam Ellan, lebih rendah. "Ayo, kasih nomormu. Biar aku pastikan kamu nggak nyasar lagi ke tempat begitu."
Sheana mendelik. "Jangan berharap aku akan datang lagi."
"Aku nggak berharap," Ellan tersenyum miring. "Tapi... berharap itu gratis."
Ia menyodorkan ponsel. Dengan kesal, Sheana mengetik nomornya, lalu menyerahkan kembali tanpa berkata apa-apa.
"Terima kasih, Nyonya Dirga," bisik Ellan, lalu berbalik pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan jejak tawa di balik bibirnya yang tak sepenuhnya ramah.
Di luar sana, suara Alvino dan Dirga mulai terdengar kembali, menghapus keintiman singkat yang barusan terjadi.
Sheana duduk di pinggir ranjang. Lampu kamar redup, sementara suara air dari kamar mandi dalam menandakan Dirga masih mandi. Ponselnya bergetar pelan.
[Notifikasi WhatsApp – Nomor tak dikenal]
Udah bisa napas normal, Sheana? Or masih kebayang aku duduk di seberang kamu tadi siang?
Sheana melirik layar, alisnya naik setengah.
Typing...
Typing...
Tapi tak jadi dikirim. Baru saja dia meletakkan ponsel, notifikasi lain masuk.
Kamu acting-nya bagus banget. Tapi sorot mata nggak pernah bohong.
Sheana menggertakkan gigi, lalu membalas cepat.
Sheana:
Ngapain sih kamu nyimpen nomorku?
Ellan:
Ya karena aku emang perhatian.
Lagipula, who else's gonna remind you to behave?
Sheana:
Lucu banget. Kamu pikir aku bakal ketar-ketir ketemu kamu lagi?
Ellan:
Nggak. Tapi tadi kamu kayak orang baru keluar dari ruang interogasi FBI.
I'd say... cute.
Sheana:
Aku udah bilang, aku bukan bagian dari duniamu.
Ellan:
Ah, denial is hot.
Sheana:
Kamu emang sengaja cari masalah ya?
Ellan:
Nope. Just good at reading people. Dan kamu tuh gampang banget dibaca.
I mean... married to Dirga Aryan Bimantara? Come on.
Sheana membeku. Tangannya memegang ponsel erat. Satu bagian dari dirinya ingin berhenti baca, tapi bagian lainnya... penasaran.
Sheana:
Kamu nggak tahu apa-apa soal hidupku.
Ellan:
Maybe. Tapi aku tahu gimana rasanya jadi invisibly miserable.
Sheana:
Kamu bener-bener drama.
Ellan:
I'm just observant.
And guess what? I like what I see.
Sheana:
Kamu tuh gigolo. Udah cukup buat ngelus dada.
Ellan:
Correction. Part-time entertainer. Big difference.
Sheana:
Aku gak tertarik ketemu kamu lagi.
Ellan:
Aku belum ngajak ketemu.
Tapi... since you brought it up-wanna grab a drink tonight?
Sheana:
Hard no.
Ellan:
Yakin? Aku bisa bikin kamu lupa sama semua mimpi buruk yang kamu peluk tiap malem.
Sheana:
Kamu tuh toxic.
Ellan:
Maybe. Tapi kamu tetep bales chat
aku.
Tiba-tiba voice note masuk. Suara napas berat dan satu kalimat pendek.
"You'll think about me tonight. Just wait."
Sheana buru-buru menghapusnya. Ia menarik napas dalam, menatap bayangan dirinya di cermin. Matanya tajam, tapi ada getar di bibirnya yang tak bisa ia bantah.
Dalam hati, ia berpikir...
This guy is dangerous.
Tapi justru itu yang bikin dia tak bisa sepenuhnya memalingkan diri.
*
Kamar dipenuhi aroma sabun segar, bercampur dengan uap hangat dari kamar mandi yang baru saja digunakan. Dirga melangkah keluar dengan handuk melingkar di pinggang, rambutnya masih basah dan air menetes dari ujung dagunya. Tubuhnya yang tegap dan terawat memancarkan pesona maskulin yang tak pernah gagal menggetarkan dada Sheana-meski ia tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan.
Sheana menelan ludah pelan. Punggungnya menegang saat Dirga lewat di dekat tempat tidur tanpa mengucap sepatah kata pun. Jarak mereka hanya selemparan bantal, tapi terasa seperti dipisahkan ribuan kilometer.
Sudah berapa lama mereka seperti ini? Dingin, formal, nyaris tanpa sentuhan. Padahal mereka tidur di ranjang yang sama.
Ia teringat perjodohan itu-tiga belas tahun lalu. Ayahnya yang terlilit utang besar pada perusahaan milik keluarga Bimantara akhirnya menyerah. Demi menutup aib dan menyelamatkan bisnis keluarga, Sheana dikorbankan.
"Anggap saja ini investasi jangka panjang," begitu kata ayahnya.
Saat itu, Sheana masih dua puluh dua. Lulusan baru yang bahkan belum sempat menikmati dunia. Dan Dirga? Tujuh tahun lebih tua, pewaris tunggal dengan reputasi dingin dan tak pernah terlihat dengan perempuan mana pun di depan publik. Pernikahan mereka lebih mirip kesepakatan bisnis dibanding ikatan emosional.
Tapi kenyataan tak pernah sesederhana yang tampak. Meski jarang disentuh, meski nyaris tak pernah dibelai, malam-malam tertentu Dirga tetap menyentuhnya. Diam-diam. Tanpa banyak bicara. Tanpa ciuman, tanpa pelukan setelahnya.
Seperti transaksi yang dipenuhi rasa malu.
Dan malam ini, Sheana ingin lebih dari itu.
Ia menyampirkan rambutnya ke satu sisi, membiarkan lehernya terbuka. Malam terlalu sunyi untuk hanya tidur tanpa suara. Ia membiarkan jari-jari menelusuri garis dada Dirga secara halus saat ia duduk di tepi ranjang.
"Ga..." bisiknya lembut.
Pria itu menoleh, sejenak tatapan mereka bertemu. Dirga tampak ragu. Namun ia tak menolak ketika Sheana bersandar, mendekat, hingga jarak mereka tak lebih dari dua inci.
Hanya perlu satu gerakan kecil untuk mencium.
Satu.
Tapi...
"Maaf, aku capek." Suaranya datar.
Sheana terdiam. Bibirnya masih setengah terbuka saat Dirga menarik diri dan membalikkan badan, masuk ke bawah selimut dan memejamkan mata.
Tak ada pelukan. Tak ada kehangatan. Hanya penolakan.
Sheana berdiri pelan, menahan napas agar tak terdengar isaknya. Ia tahu ini bukan pertama kalinya. Tapi malam ini, penolakan itu terasa seperti tamparan.
Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil bantal dan berjalan keluar kamar.
Dirga tahu. Tapi ia tetap diam.
**
Kamar sebelah gelap, hanya diterangi lampu tidur redup. Sheana melempar bantal ke kasur, lalu duduk sambil menatap ponselnya.
Kesal. Terluka. Dan sedikit... malu.
Lalu jemarinya mulai bergerak sendiri. Ia membuka kolom chat-nama itu ada di urutan atas.
Ellan.
Ia mengetik cepat, tanpa berpikir:
Still up?
Balasan datang hanya dalam hitungan detik.
Always. Missing me already?
Sheana mendengus.
Jangan GR. I'm just... bored.
Jam segini tuh bahaya kalau kamu lagi bosen, sweetheart.
Aku baru aja keluar dari kamar suamiku. Aku berhak dong bosen.
Ellan mengirim voice note singkat, suaranya rendah dan menggoda.
"Come out. Gimana kalau aku bantu ilangin rasa bosan itu? I'm not far."
Sheana menggigit bibirnya. Ia tahu ini gila. Tapi rasa kecewa itu seperti bensin yang disiram ke bara amarahnya.
I don't even have makeup on.
"Nggak usah dandan. Datang aja, apa adanya."
Gak bisa. I'm in pajamas.
Even better. Mau taruhan aku bakal nyampe sana dalam lima belas menit?
Dan entah kenapa, tawa kecil keluar dari mulut Sheana.
Dia benar-benar sinting.
Ponselnya berdering. Nama Ellan terpampang di layar.
Ia menjawab, setengah berbaring di ranjang.
"Seriously, Ellan? Tengah malem gini?"
"Seriously, Sheana? You texted me first," balasnya enteng. "Jam segini, istri orang yang cakep tiba-tiba nge-chat... masa aku bilang 'nggak boleh'?"
Suara Sheana tercekat, antara ingin tertawa dan ingin marah.
"Kamu enggak pernah serius ya?"
"Cuma sama kamu aku jadi kayak badut. Di luar sana, aku CEO bayangan loh. Punya crown invisible, ingat nggak?"
Sheana menahan tawa. "Aku lagi enggak mood bercanda, Ell."
"Fine. Tapi aku tahu kamu marah. You sound... invisibly miserable."
Diam.
Lalu, pelan-pelan, Sheana menjawab, "Aku enggak tahu kenapa aku chatting kamu barusan."
"Karena kamu kesepian. And I don't blame you."
Tiba-tiba, suara Ellan berubah serius.
"Let me see you tonight. Just talk, I promise. No funny stuff."
"Aku... nggak tahu."
"Ten minutes, babe. Aku tunggu di bawah, hoping you show up. Tapi kalau nggak... I'll leave, heartbroken. Fair enough?"
Sheana memejamkan mata. Perasaan berkecamuk. Tapi tubuhnya tetap bergerak ke arah lemari pakaian.