Bab 1

Mas, boleh ya, dia tinggal di sini bersama kita?" Juli mulai bertanya bahkan merayu suaminya.

"Tidak, dia tidak bisa tinggal disini, aku harus mengatakan ini berapa kali padamu, Juli."

"Tapi, Mas."

Juli kini yang tengah berdebat dengan suaminya, Juli kini membujuk dan terkesan memaksakan kehendaknya pada Hardi.

Setelah jam makan malam, mereka kedatangan tamu, Juli terus saja membujuk suaminya, agar mau mengizinkan Vira untuk tinggal di rumah mereka. Juli merasa kasihan pada wanita itu.

"Kenapa si Mas, rumah kita ini kan besar dua lantai, ada banyak kamar kosong di sini, apa salahnya jika kita membantunya."

"Tidak Juli, aku tidak suka ada orang lain di rumah kita, pokoknya aku tidak setuju dan tidak suka jika Vira tinggal disini," ujar Hardi.

Lelaki itu tetap kekeh, dia memang tidak suka akan niat baik istrinya yang mau membantu Vira.

"Aku, butuh privasi Juli, aku merasa tidak bebas jika ada orang asing di rumah kita," tukas Hardi begitu tegas pada istrinya.

Hardi terlihat sangat kesal dengan istrinya ini, dia terlalu baik, hinga ingin menampung orang lain di dalam rumah mereka.

"Kita ini baru saja menikah Juli, masa sudah ada orang lain di rumah kita. Tidak pokoknya aku tidak setuju." Hardi melirik sebal ke arah Istrinya, Juli masih saja memaksa Hardi.

"Mas, kasian Vira, dia di usir sama suaminya, bukan hanya itu, suaminya juga KDRT padanya, apa mas gak kasian sama dia, coba mas liat pipi dia biru lebam begitu." Juli masih saja membujuk Hardi suaminya, jujur saja dia merasa Kasian pada wanita itu.

"Ya kasian, tapi bukan begini cara membantunya, kalau kamu mau bantu dia, ayok kita pergi ke polisi. Kita laporkan suaminya, setelah ini Vira bisa pulang ke kampungnya," tukas Hardi memberitahu istrinya.

Hardian akhirnya memberi solusi untuk masalah Vira, emang seharunya kasus KDRT seperti ini harus di laporkan ke pihak yang berwajib.

Juli merasa tak enak hati karena itu urusan rumah tangga mereka.

"Tapi, Mas! Itukan rumah tangga mereka, aku merasa tak nyaman, kesannya terlalu ikut campur."

"Hemmm ...." Hardi menghela napas panjang di depan istrinya, dia melihat ke arah Juli yang kini tengah memohon padanya.

"Ya sudahlah, terserah kamu saja. Tapi dia jangan lama-lama di sini, paling lama hanya satu bulan saja dia tinggal di sini," ucap Hardian pada istrinya, lelaki itu pasrah karena tak ingin berdebat lagi dengan Juli.

Karena percuma saja berdebat dengan istrinya, Juli tetap ingin membantu Vira, untuk wanita itu tinggal bersama mereka.

Juli langsung tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa senang.

"Iya," ucap Juli langsung saja mengiyakan perkataan Hardi, dia mengiyakan saja dulu ucapan suaminya, yang terpenting saat ini Vira bisa mendapat tempat tinggal dan merasa aman.

Hardi dan Juli lalu berjalan keluar dari dapur menuju ke arah ruang tamu, di ruang tamu sudah ada Vira yang tengah duduk di sana menanti keduanya, dia juga merasa sungkan dan tak enak hati sebenarnya.

Mata wanita itu sembab, pipinya terdapat luka lebam berwarna biru keunguan, dia benar-benar di perlakukan tidak baik oleh suaminya.

Saat melihat Hardi dan Juli datang Vira langsung saja berdiri, dan tersenyum sungkan ke arah mereka berdua.

"Maaf, Juli, Hardi. Aku mohon izin aku menumpang di rumah kalian." wanita itu lalu memohon pada Hardi untuk di izinkan menumpang di rumahnya.

Vira sendiri bingung, dia tak tahu harus kemana lagi, dan meminta bantuan ada siapa lagi, selain pada Juli saat ini.

Hardi mendengus kesal, lelaki itu hanya melirik tajam ke arah Vira, terlihat jelas jika dia tak suka padanya.

Juli lalu menyenggol lengan suaminya, memberi kode pada suaminya untuk menjawab pertanyaan Vira dan mengizinkan wanita itu untuk tinggal bersama mereka.

"Iya," ucap Hardi merasa tak rela, Hardi langsung berjalan ke atas menuju ke kamarnya.

Vira melihat itu, dia merasa sungkan dan tak enak hati pada mereka.

"Maafin aku ya, Jul, aku jadi gak enak merepotkan kalian."

"Sudah, kamu tenang saja, mas Hardi gak apa-apa kok, dia emang begitu orangnya, tapi sebenarnya dia baik, cuma ya gitu dia agak sinis," ungkap Juli meyakinkan Vira.

Juli tersenyum ramah ke arah Vira wanita itu lalu mengajak Juli untuk ke kamar.

"Ayok, aku antar kamu ke kamar."

Mereka lantas berjalan ke kamar tamu yang ada di lantai bawah, letaknya tak jauh dari ruang makan.

"Ini kamarnya, ini kamar tamu tapi kamu boleh tinggal dan menempatinya, kamar ini kosong," ucap Juli sambil tersenyum ke arah Vira.

Juli mengajak Vira untuk masuk ke dalam kamar itu, mereka duduk di atas tempat tidur.

"Kamu bisa istirahat sekarang, kamu sudah makan apa belum?” tanya Juli pada Vira.

"Aku sudah makan, aku mau istirahat aja," ucap Vira.

"Aku tinggal dulu ya, kamu istirahat saja di sini, anggap rumah sendiri." Juli tersenyum ramah wanita itu lalu melangkah keluar mendekati pintu.

"Terima kasih Julia," ucap Vira yang menghentikan langkah Julia saat dia akan membuka pintu itu.

Juli lalu menoleh ke arah belakang dia tersenyum ramah pada Vira, Juli lalu membuka pintu itu dan menutupnya kembali.

Di dalam kamar, Hardi merasa begitu kesal dengan sikap istrinya, dia lalu mengambil laptopnya dan berjalan mendekati meja rias, Hardi lalu mengerjakan pekerjaannya di sana.

Tak lama kemudian Juli masuk ke dalam kamar dia melihat suaminya sedang bekerja di depan meja rias.

Hardi hanya melirik saja ke arah Juli dia tak berniat untuk melihat wanita itu hatinya masih merasa kesal pada istrinya.

"Loh, Mas, kamu kok tumben kerja di sini? Biasanya kamu kerja di ruang tamu, atau di ruangan lain," tanya Juli, wanita itu lalu mendekati suaminya.

"Nggak, di dalam aja, ada penghuni lain di dalam rumah ini, nanti terganggu," ucapnya begitu sewot.

Juli tersenyum, mendengar perkataan suaminya, Juli langsung saja, berusaha merayu suaminya dia mencolek-colek Hardi.

"Mas, ucapnya begitu mesra memanggil Hardi."

"Sudah gak usah colek colek begini, geli. Kmu tidur saja sana, aku mau kerja jangan di ganggu."

Mendengar perkataan suaminya yang masih merasa kesel padanya Juli langsung berjalan mendekat ke arah lemari Juli mengambil lingerie seksi berwarna merah miliknya.

Dia tahu bagaimana cara membujuk suaminya, agar tidak marah lagi padanya.

Juli masuk ke kamar mandi, dan melepas semua pakaian yang saat ini dia kenakan, Juli mengganti ya dengan lingerie merah yang sudah dia bawa.

Tak lama kemudian Juli keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu berdiri tepat di tengah pintu kamar mandi, satu tangannya memegang pinggang. Juli lalu memanggil suaminya.

"Mas, mas Hardi." suara Juli begitu lembut dan mesra saat memanggil suaminya.

Hardi menoleh ke arah istrinya, Hardi membulatkan kedua matanya, dia tertegun melihat Juli yang kini tampil menggoda. dia hampir saja kesusahan menelan saliva nya sendiri.

"Sa ... sayang, ka-kamu ...."

Bab 2

Juli berdiri dengan pakaian seksi, gaun tidur berwarna merah, wanita itu tersenyum menggoda ke arah suaminya, perlahan Juli berjalan mendekati Hardi.

"Mas."

Hardi mulai tertarik dengan penampilan menggoda istrinya, namun dia sedikit jual mahal, dan tak ingin terkesan mudah untuk di bujuk.

"Kamu harus tahan ya! Jangan goyah," batin Hardi seolah memperingati juniornya yang di bawah agar tidak tegak menjulang. Hardi sempat melirik ke arah Juli.

"Apaan si, sudah sana." Hardi sungguh kesal dengan tingkah laku Juli, kenapa istrinya itu berpakaian seperti itu disaat seperti ini, jika dia tak lagi dalam mode marah mungkin saja Hardi sudah menerkam Juli saat ini.

"Katanya mau tidur," ucap Hardi pada Juli. Lelaki itu masih melirik ke arah istrinya, matanya tertuju pada belahan yang begitu menggoda imannya, ingin sekali, dia melahap dua bongkahan melon yang ada di depannya saat ini.

Hardi langsung menggelengkan kepalanya membuyarkan pikirannya yang mulai tidak kondusif.

Juli lalu berjalan melewati Hardi, tangan juli mulai membelai pundak Hardi sepanjang dia melewati suaminya, darah Hardi berdesir hebat, seketika bulu kuduknya berdiri, merasakan sensasi aneh yang kini menjalar di tubuhnya, tubuhnya seperti tersengat listrik saat tangan Juli membelai lembut pundaknya, kini Juli lalu berjalan ke tempat tidur.

Juli kemudian berbaring di atas ranjang dengan posisi, miring menghadap suaminya satu tangannya, menahan beban tubuhnya kini posisinya setengah berbaring, dia terlihat begitu seksi dan menggoda

Juli terus saja menatap ke arah suaminya. Dia menepuk tempat tidur di sampingnya. Sambil mengeringkan sebelah matanya sesekali dia mengigit bibir bawahnya dengan begitu menggoda

"Mas," panggil Juli dengan suara yang begitu lembut dan menggoda.

"Sini."

Hardi melihat ke arah Juli, lelaki itu terus menatap istrinya, dia begitu kesusahan menelan salivanya sendiri, pandangan matanya menyusuri setiap lekuk tubuh Juli, dari mulai kaki hingga ke kepala, terlihat Juli tengah tersenyum ke arahnya.

"Kesini dong, Mas. Temani aku di tempat tidur," ucap Juli lagi sambil tersenyum, sambil memanggil suaminya dengan isyarat tangannya.

Hardi masih jual mahal, lelaki itu menggelengkan kepalanya, dia tak ingin kalah dan mudah tergoda begitu saja dengan istrinya

"Nggak mau, kamu tidur aja duluan," jawab Hardi, sambil terus menatap ke arah paha mulus istrinya yang sedikit terekspos karena gaun tidur yang dia kenakan sedikit naik ke atas. walaupun sebenarnya Hardi sungguh sangat ingin. Namun lelaki itu sekuat tenaga menahan desiran yang ada di dalam dadanya, juniornya saat ini sudah mulai menunjukkan sinyalnya.

"Tahan, tahan, jangan mudah terpancing," gumamnya begitu lirih.

Hardi kembali mengarahkan pandangannya ke laptop tapi sesekali dia sambil curi-curi pandang ke arah Juli.

Hardi melirik ke arah istrinya, tanpa sengaja dia melihat kembali belahan yang begitu menggoda iman.

Juli yang tahu kalau suaminya curi-curi pandang, padanya, wanita itu tersenyum dan menjadi semakin bertingkah lebih menggoda suaminya lagi.

Gaun yang di kenakan Juli saat ini begitu seksi, setiap lekuk tubuhnya terekspos begitu sempurna, Juli sengaja menurunkan satu tali gaunnya, dia masih berusaha untuk menggoda Hardi saat ini

”Mas, yakin nih kamu gak mau?” ucap Juli semakin memancing Hardi suaminya, suaranya begitu menggoda, dia berkata dengan begitu lembut.

"Mas, aku tau sebenernya kamu mau, kalau memang mau kesini aja," ucap Juli sambil mengerlingkan sebelah matanya.

Hardi jadi tertawa, mendengar ucapan sang istri dan tingkah lakunya, lelaki itu, tidak jadi marah dengan istrinya.

Hardi lalu pindah ke tempat tidur. Dia menutup laptopnya dan menghampiri istrinya yang kini tengah terbaring disana. Juli kini tersenyum penuh kemenangan.

Akhirnya suaminya berhasil luluh juga, dia sangat tahu kelemahan suaminya, dan sangat hafal sekali dengan tabiat suaminya itu, dia tak akan bisa berlama-lama marah pada Juli.

"Apaan si kamu, berpakaian seperti ini, ha? Kau ingin menggodaku ya?" Hardi kini sudah berada di dekat istrinya lelaki itu lalu mengelitik pinggang istrinya.

Sontak saja Juli merasa geli, wanita itu lalu tertawa, sambil menghalangi tangan suaminya yang terus mengelitik pinggangnya.

"Tidak, mas ampun, hahahaha, geli! mas. Jangan," ucap Juli memohon agar suaminya berhenti mengelitiknya.

"Tidak, aku tidak kan melepaskan mu kali ini, kau sudah berani menggoda ku, jadi kau harus terima hukumannya dari ku." Hardi terus aja mengelitik pinggang istrinya hingga istrinya kegelian dan tertawa karena ulahnya.

"Iya, Mas. Ampun, aku janji tidak akan lagi menggoda mu."

"Janji?"

"Iya, aku janji mas, sudah mas."

Hardi lalu menghentikan aksinya, Juli kemudian mengatur deru nafasnya, begitu pun Hardi karena begitu bersemangat memberi hukuman pada istrinya itu mereka kini terlihat mengatur napas.

Hardi melihat ke arah Julia, karena deru nafas istrinya itu membuat dua gunung kembarnya pun ikut naik turun.

Hardi meneguk salivanya, ada sesuatu yang bangkit di balik celana yang ia kenakan saat ini. Hardi kemudian menggeser tubuhnya untuk lebih dekat lagi dengan istrinya.

Hardi menyatukan keningnya dan kening Juli, Hardi melihat bibir mungil istrinya, dia lalu mendekatkan bibirnya dan mulai mencium bibir Juli.

Perlahan ciuman itu berubah menjadi sebuah lumatan, Juli tak tinggal diam, dia membalas lumatan suaminya dengan sedikit membuka mulutnya.

Hardi alu memasukkan lidahnya kedalam mulut Juli, dan bermain di sana, tangannya tak tinggal diam, mulai menggerayangi dua bongkahan melon yang sedari tadi sudah menjadi tujuannya.

Hardi meremas salah satu melon itu dengan begitu lembut, dan mempermainkan ujung melon itu dengan memilinnya.

Ahh ...

Ehemm ...

Suara suara indah pun keluar dari bibir manis Juli, memenuhi kamar mereka.

Sedangkan di luar, saat ini Vira tengah merasa haus wanita itu bangun dari tempat tidurnya, dia melihat ke arah meja tak ada air di sana. Vira ingin minum saat ini, tenggorokannya terasa kering sekali.

Namun Vira merasa ragu-ragu untuk keluar dari kamar, tapi karena dia begitu haus dan ingin minum saat ini.

Vira lalu memberanikan diri untuk berjalan keluar kamar, dia membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan, wanita itu lalu turun ke bawah, dengan perlahan berjalan menuju dapur.

Saat Vira melewati kamar Juli, dia mendengar suara-suara dari dalam kamar itu, Dia jadi ngerasa nggak enak sendiri, namun dia pun juga penasaran dengan suara-suara itu.

Vira sedikit menajamkan pendengarannya, kini terdengar jelas suara yang ada di dalam kamar itu, Vira merasa agak aneh, ada sesuatu di dalam dirinya, darahnya berdesir saat mendengar suara Juli dan suaminya di kamar itu.

Vira langsung memutuskan untuk berjalan ke dapur dan menyudahi aksinya itu, dia takut jika nanti tiba-tiba mereka keluar dan memergoki dirinya yang kini tengah menguping.

Vira tak tahu dimana kontak lampu, karena dia masih baru di rumah itu, Vira masih bingung, mencari kontak lampu yang dia sendiri tak tahu dimana.

Vira meraba-raba untuk mencari kontak lampu, tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja.

Gelas itu langsung jatuh dan pecah. Vira merasa takut sekali saat ini, dia begitu bodoh dan ceroboh sekali.

Juli dan Hardi yang tengah memadu kasih dan sayang, sedikit terganggu mendengar suara pecahan gelas tersebut.

"Mas, kamu dengar gag ada suara?"Juli membuka matanya lalu bertanya pada Hardi.

Bab 3

Namun Hardi tidak menjawabnya, lelaki itu masih melakukan ritualnya menuntaskan permainan mereka.

"Mas, kita periksa dulu yuk." Juli mengajak Hardi untuk memeriksanya terlebih dahulu

Hardi yang kini berada di atas tubuh istrinya lalu menghentikan gerakan pinggulnya, lelaki itu menatap ke arah istrinya.

"Nanti aja ya, palingan juga kucing," ucap hardi yang lagi-lagi menolak ajakan Juli, saat Hardi hendak melakukan gerakannya lagi Juli masih tetap berbicara dan memaksanya.

"Mas, jangan gitu. Ayo kita periksa dulu sebentar ke bawah, ayo mas, ini kita lanjut nanti aja," ucap Juli memaksa suaminya.

Hardi sudah Susah payah membujuk istrinya, namun istrinya itu tetap saja memaksa untuk memeriksanya lebih dulu.

"Mas, di rumah kita kan ada Vira, bagaimana kalau suami Vira datang kesini, di mencari-cari keberadaannya dan ingin mengancamnya lagi."

Juli menduga-duga hal yang terjadi di bawah, dia baru teringat tentang Vira yang kini tinggal bersamanya.

Mendengar tentang Vira, Hardi jadi kesal lagi, seketika moodnya langsung hilang. Dia langsung melepaskan diri dari Juli, dan bergeser ke sampingnya.

"Kamu saja yang ke dapur sendiri, aku gak mau, aku mu tidur," ucap Hardi agak sedikit kesal dengan tingkah istrinya.

Juli langsung bangun dari tempat tidur begitu saja tanpa memperdulikan kekesalan suaminya itu.

Juli langsung berjalan menuju ke kamar mandi wanita itu lalu bersih-bersih secepatnya, setelah selesai membersihkan diri, Juli lalu berjalan ke arah lemari mengambil kimono tidurnya.

Juli sempat melihat ke arah Hardi yang kini tengah terbaring membelakanginya.

"Aku akan membujuknya lagi nanti," gumam Juli, yang sedikit merasa bersalah pada Hardi suaminya.

Juli lalu pergi memeriksa ke dapur, Juli berjalan menuruni anak tangga, ternyata si Vira tengah memecahkan gelas yang ada di meja.

Juli lalu segera menghampiri Vira, wanita itu kini tengah membersihkan pecahan gelas tersebut. Vira yang melihat kedatangan Juli, lalu meminta maaf padanya.

"Maafkan aku Juli, aku pasti telah mengganggu mu yang sedang bersama suamimu, aku tidak sengaja memecahkannya, saat aku mencari kontak lampu."

Vira lalu menjelaskan kepada Juli, agar wanita itu tidak salah paham padanya.

"Sudah tidak apa-apa," ucap Juli. Juli mau tak mau ikut membersihkan pecahan gelas itu, walaupun Vira menolak bantuannya.

"Juli kau mau apa, sudah biar aku saja, yang membereskannya kau kembalilah ke kamarmu," ucap Vira menolak bantuan Juli.

Namun juli tetap memaksa dan ingin membantunya, setelah selesai membereskan pecahan gelas itu, Juli lalu kembali lagi ke kamarnya, begitu pun dengan Vira.

Juli bermaksud untuk meminta maaf kepada suaminya itu. Dia sudah menyusun kalimat demi kalimat agar suaminya tak marah lagi dengannya.

"Aku harus meminta maaf padanya, dan menjelaskan jika tidak terjadi apa-apa."

Juli dengan cepat berjalan ke kamarnya, wanita itu lalu membuka pintu kamarnya, dia segera menutup pintu itu dan menghampiri suaminya.

Juli melihat ke arah Hardi, ternyata suaminya itu sudah tidur, saat ini.

Juli lalu merasa tak enak hati, dia mengusap lembut lengan suaminya berusaha untuk membangunkannya lagi.

"Mas, Mas bangun. Mas ayo kita lanjutin lagi, di bawah gak ada apa-apa," ucap Juli membangunkan Hardi.

Hardi lalu membalik tubuhnya, dan terlentang, sudahlah, kita tidur saja, aku sudah mengantuk, kamu juga sebaiknya langsung tidur saja," tolak Hardi lelaki itu tidak mau, dan tetap memejamkan matanya tanpa melihat ke arah Juli.

Juli yang mendengar ucapan sang suami, langsung ikut terbaring di samping suaminya, sesekali Julia melihat ke arah suaminya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.

Sebelum Juli benar-benar memejamkan. Matanya, sekali lagi dia melihat ke arah Hardi, lelaki itu tetap memejamkan matanya. Akhirnya Juli pun ikut terlelap.

Tanpa terasa, pagi hari pun tiba, Juli bangun kesiangan, wanita itu terlalu lelap dan nyenyak dalam tidurnya.

Juli membuka matanya, lalu matanya mengarah pada jam yang ada di atas nakas, Juli langsung melompat kaget, di lihatnya Hardi kini pun sudah siap di depan kaca.

"Mas, kenapa gak bangunin ku si?”

Hardi yang mendengar suara istrinya lalu menoleh ke arahnya, lelaki itu saat ini tengah memasang dasinya.

"Masih banyak waktu, kalau kamu bersiap dari sekarang," ucap Hardi, seperti biasa dia akan menunggu istrinya dan mengantarkannya ke kantornya terlebih dahulu.

"Tapi mas, aku belum masak sarapan loh, untuk kita berdua," tanya Juli lagi dengan wajah yang cemberut saat ini.

Hardi lalu menoleh kembali ke arah istrinya, "nanti kita beli di restauran cepat saji, kita beli makanan jadi saja, kita makan di mobil cari menu yang gampang saja untuk kita sarapan, kan biasanya kita selalu begitu," jawab Hardi lagi.

Juli lalu menundukkan kepalanya wanita itu merasa bersalah karena kejadian tadi malam, suaminya itu sudah sangat sabar selama ini, namun Juli sadar jika dirinya yang terlalu banyak permintaan.

"Mas, maafin aku ya, untuk yang semalam, aku tau aku salah, aku terlaku banyak menuntut dan meminta padahal kamu udah sabar banget ngadepin sikap aku." juli meminta maaf sekali lagi pada Hardi.

Hardi tersenyum lalu berjalan menghampiri istrinya.

"Sudah tidak apa-apa, sekarang kamu mandi nanti kita terlambat," jawab Hardi sambil mengusap lembut kepala istrinya.

"Makasih ya mas, kamu emang suami yang baik," ucap Juli sambil tersenyum, dia merasa lega karena suaminya tidak marah terhadapnya, Juli langsung turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah Juli masuk kamar mandi, Hardi ingin keluar, lelaki itu hendak bikin kopi. Awalnya Hardi sedikit ragu saat mau keluar.

Karena dia teringat, jika dirumahnya ada Vira, Hardi tidak terlalu akrab dengan wanita itu, dia merasa risih, jika ada orang lain yang di rumahnya.

Tapi Hardi tetap keluar, dia langsung turun ke bawah berjalan menuju ke dapur. Ternyata di dapur sudah ada Vira.

Wanita itu juga sudah membuat sarapan pagi, dan sudah dihidangkan di meja. Vira menyusun satu persatu piring dan beberapa alat makan di atas meja makan.

Melihat kedatangan Hardi, Vira agak merasa sungkan, namun dia memberanikan diri untuk bertanya.

"Mas Hardi, mau sarapan?" tanya Vira.

Hardi melihat sekilas ke arah Vira yang saat ini tersenyum ke padanya.

"Aku mau bikin kopi," jawab Hardi singkat. Dia langsung mengalihkan pandanganya lagi.

"Sini mas, biar aku saja yang buatkan kopinya, Mas Hardi duduk saja di sana." Vira menawarkan diri untuk membuatkan kopi untuk Hardi.

"Tidak, tidak usah. Terima kasih, aku bisa bikin sendiri," ucap Hardi menolak niat baik Vira.

Saat Hardi dan Vira tengah berargumentasi Juli datang dan melihat ke arah mereka berdua.

"Kalian kenapa?”

Vira dan Hardi yang tak mengetahui kedatangan Juli, mereka berdua langsung menoleh ke arahnya secara bersamaan, mereka bertiga pun saling bersitatap

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED