Sampul Novel Benih Lain di Kandungan Istriku

Benih Lain di Kandungan Istriku

8.9 / 10.0
Kehidupan rumah tangga Kian mendadak terguncang setelah ia menemukan alat tes kehamilan positif di dekat ranjangnya. Penemuan ini langsung mengarahkan kecurigaannya pada Aurelie, sang istri. Situasi terasa kian pelik dan menyiksa batin karena Kian tahu persis bahwa dirinya mandul, sebuah fakta medis yang membuatnya mustahil memiliki anak. Kini, ia didera tanda tanya besar: benarkah ada sosok pria lain yang telah menghamili istrinya?
Ringkasan Benih Lain di Kandungan Istriku
Kehidupan rumah tangga Kian mendadak terguncang setelah ia menemukan alat tes kehamilan positif di dekat ranjangnya. Penemuan ini langsung mengarahkan kecurigaannya pada Aurelie, sang istri. Situasi terasa kian pelik dan menyiksa batin karena Kian tahu persis bahwa dirinya mandul, sebuah fakta medis yang membuatnya mustahil memiliki anak. Kini, ia didera tanda tanya besar: benarkah ada sosok pria lain yang telah menghamili istrinya?
Baca Selengkapnya

Benih Lain di Kandungan Istriku Bab 1

"Bagaimana? Sudah siap?"

Kian menoleh ke belakang dan mendapati ibunya sudah berdiri di ambang pintu kamar. Ia lantas bergerak mendekati wanita itu. Di depan ibunya, Kian hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan sang ibu.

"Kian bisa pergi sendiri, Ma," ucap Kian seraya melangkah menuruni satu per satu anak tangga itu dengan tangan yang digandeng oleh ibunya. "Lagipula, kalau Mama ikut nanti di sana tidak ada yang bisa dikerjakan," sambungnya.

"Mama akan menemanimu, Nak," sahut Tania dengan cepat. Bukan ia tidak mempercayai Kian untuk menjaga diri. Hanya saja, ia takut jika di jalan akan terjadi hal buruk pada putra bungsunya. Dan jika hal itu terjadi, jelas Tania tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Kian terkekeh sejenak sebelum ia meraih kedua tangan Tania dan menggenggamnya dengan sangat erat. Ia putar tubuh ibunya hingga berdiri berhadapan. Sepasang bola mata sipit yang terlihat lebih sayu itu menatap lekat wajah tua Tania. "Mau sampai kapan Mama tidak bisa mempercayai Kian?" tanya Kian dengan suara yang sangat lembut. Tak lupa senyum tipis, tetapi manis itu.

"Selama do'a Mama masih mengalir, percayalah kalau Kian akan selalu baik-baik saja," sambung laki-laki itu masih dengan suara lembutnya.

Helaan napas panjang Tania terdengar. Mendengar ucapan putranya, ia memang selalu berhasil kalah. Meskipun rasa khawatir itu tidak akan pernah sirna jika Kian bepergian tanpa dirinya. Akan tetapi, Tania juga tidak ingin memaksa Kian. Sebab, ia tahu jika putranya memang butuh ruang dan waktu untuk melakukan aktivitasnya sendiri. Baik, Tania harus menyadari bahwa Kian kini sudah tumbuh dewasa. Bukan lagi Kian yang seperti dianggapnya, Kian kecil yang menggemaskan.

"Trust me, Ma."

Tania mengangguk dan tersenyum. "Ya sudah. Kau hati-hati. Setelah dari rumah sakit, kau akan langsung pulang?"

Kian mengangguk cepat.

"Mama buatkan makanan favoritmu."

Kian langsung mengangkat ibu jarinya. "Ok!"

Tania melepaskan kepergian Kian setelah putra sulungnya itu berpamitan. Dengan tatapan sendu ia menatap punggung lebar Kian hingga benar-benar menghilang dari pandangan. "Maafkan Mama kalau belum bisa membuatmu nyaman dengan kekhawatiran Mama," bisik Tania hingga tanpa sadar air matanya lolos dari kelopak mata yang sudah mulai ditumbuhi keriput halus.

°°°

Langkah Kian melaju perlahan menapaki ubin-ubin putih bersih gedung putih itu. Seperti biasa, akan ada beberapa petugas rumah sakit yang menyapanya. Ya, Kian merupakan salah satu orang yang terbilang rutin mengunjungi bangunan itu. Bahkan, setiap minggunya. Tidak heran jika banyak petugas yang mengenalnya.

Hanya beberapa kali mengetuk pintu. Kian langsung memasuki sebuah ruangan yang sudah menjadi ruang wajib yang dikunjungi.

"Maaf, ya, aku terlam ...." Kalimat Kian tergantung begitu saja ketika yang ia temukan di dalam ruangan itu bukanlah orang biasanya. Namun, sosok perempuan yang duduk manis di kursi seraya menatapnya dengan kedua alis terangkat sempurna.

"Oh, maaf. Aku kira Dokter Aiman," ucap Kian seraya menundukkan kepalanya sedikit. Lalu, ia melihat perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum dengan manis. Dalam beberapa detik, Kian terpaku di tempat. Bohong jika Kian tidak terpesona dengan senyuman perempuan yang begitu manis itu. Apalagi, tatapannya begitu teduh.

Kian dengan cepat tersadar dan hendak beranjak ke luar.

"Tunggu saja di sini."

Suara perempuan itu berhasil menghentikan langkahnya. Tak hanya laju sepasang tungkai milik Kian saja yang terhenti. Akan tetapi, detak jantungnya juga seakan ikut berhenti. Suara itu ... Ah, terdengar sangat lembut dan sampai ke hati.

"Sepertinya, Dokter Aiman sebentar lagi balik," sambung perempuan itu dengan suara yang tak disadari berhasil membuat dunia Kian berubah.

Kian menoleh ke belakang setelah semuanya kembali normal. "Tidak apa-apa tunggu di sini?" tanya Kian dengan nada suara ragu-ragu.

"Ya, memangnya kenapa kalau tunggu di sini sama-sama?"

Kian pun hanya bisa tersenyum. Ia kemudian mendekat ke arah perempuan itu. Tangannya menyeret pelan kursi lain dan duduk.

Hening dalam beberapa saat. Hingga suara perempuan itu kembali terdengar. Namun, terdengar sedikit ragu.

"Hm, mau konsultasi, ya?"

Kian mengangkat kepala dan menatap perempuan itu. Lalu, mengangguk seraya mengulum senyum. "Konsultasi wajib," jawabnya.

Perempuan itu mengangguk. Ia paham maksud Kian.

"Kau juga?"

Perempuan itu menggeleng pelan. "Aku di sini hanya praktik," balasnya.

Kian mengulurkan tangan tanpa ragu. "Aku, Kian," ucapnya memperkenalkan diri seraya menunggu uluran tangannya disambut oleh lawan bicaranya. Ya, meskipun Kian sendiri tidak tahu apakah uluran tangan itu akan bersambut atau bahkan sebaliknya.

Akan tetapi, Kian merasakan tangannya tergenggam. Ia pandangi tangan putih mulus yang kini sudah berjabat dengannya itu.

"Namaku, Aurelie. Aurelie Razeta Giovandra," jawab perempuan itu seraya menunjuk sebuah name tag yang ada di bajunya.

Kian pun langsung menatap ke arah jari telunjuk perempuan yang sudah memperkenalkan dirinya dengan panggilan Aurelie itu. "Aurelie," ulang Kian.

Aurelie hanya tersenyum mendengar Kian menyebut namanya.

Lalu, tak lama pintu ruangan terbuka. Sosok yang kedua manusia di dalam ruangan itu tunggu datang juga.

"Maaf, ya, Rel, sudah membuatmu menunggu lama," ucap Aiman. Lalu, ia menatap Kian. "Sudah lama?"

Baik Kian maupun Aurelie hanya tersenyum.

"Dok, saya bisa tunggu sampai pekerjaan Dokter selesai dulu," ucap Aurelie yang paham, bahwa Aiman saat ini sedang kedatangan salah satu pasiennya.

"Maaf, ya, harus membuatmu menunggu lagi," ucap Aiman merasa tidak enak hati.

"Tidak apa-apa, Dok," balas Aurelie. "Kalau begitu saya permisi dulu."

"Kau bisa tunggu di sofa saja, Rel. Setelah ini, kita bisa lanjutkan," ujar Aiman dan langsung diiyakan oleh Aurelie.

Hening setelah Aurelie beranjak menyisakan Kian dan Aiman yang duduk berhadapan kini. Terlebih Kian, laki-laki itu hanya diam memperhatikan Aiman yang fokus melihat sebuah hasil pemeriksaan dan sesekali menatapnya dengan tatapan datar.

"Bagaimana?" tanya Kian yang sebenarnya paham arti tatapan dokter sekaligus temannya itu. Kian sudah terlalu sering melihat ekspresi tersebut yang menandakan ada yang tidak beres.

"Kau pasti tahu, 'kan?" Aiman menatap Kian dengan serius. Ia melihat laki-laki itu hanya tersenyum sumbang. "Ki, kali ini saja dengarkan aku," sambung Aiman dengan nada memelas.

Hening.

"Jika kau tidak bisa mendengarku sebagai dokter. Dengarkan aku sebagai temanmu. Kondisimu saat ini ...."

"Yes. I know. Kau tidak perlu lanjutkan," ucap Kian dengan cepat memotong kalimat Aiman.

"Jika kau sudah tahu, kau bisa pikirkan matang-matang jalan keluar yang pernah aku katakan waktu itu."

Kian mengangguk. Lalu, tersenyum untuk memecah suasana yang terlampau serius itu.

"Aku serius."

"Aku juga tidak menganggapmu sedang bercanda," balas Kian cepat seraya tertawa kecil. "Gantengmu hilang jika terllu serius seperti itu."

Aiman hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan pasien sekaligus temannya itu. Namun, ia tahu apa yang dilakukan Kian hanya untuk mengalihkan kesedihannya. Aiman paham itu.

Kian mendekatkan wajah. Lalu, berbisik, "Juniormu cantik juga. Apa kau bisa memperkenalkanku dengannya?"

"Sialan!" umpat Aiman. "Bisa-bisanya kau berpikir sejauh itu."

Kian tertawa kecil. "Tapi, aku serius."

"Jika kau serius, aku bisa atur."

Kian sejenak terdiam. "Tapi, sepertinya tidak mungkin. Tidak akan ada perempuan secantik dia yang mau denganku."

"Itu hanya pikiranmu saja," balas Aiman. "Kau terlalu psimis."

Sebelum Kian kembali angkat suara. Aiman lebih dulu berucap lagi, "Tidak ada yang sempurna, Ki. Kau harus ingat itu."

Kian hanya terdiam. Lalu, tersenyum tipis. Setelah itu, Kian meminta undur diri.

Langkah Kian terhenti tepat di depan Aurelie yang masih setia menunggu Aiman. Ia layangkan sebuah senyum bersi terbaiknya. "Aku duluan, ya."

Aurelie membalas senyuman itu seraya mengangguk. Setelah Kian benar-benar pergi. Aurelie hanya bisa terdiam. Perbincangan Kian dan Aiman tentang kondisi Kian bisa ia dengar. Meski tidak dijelaskan dengan sangat rinci, Aurelie tahu ada sesuatu yang serius tengah terjadi. Akan tetapi, ia tidak bisa juga mencampuri hal itu, karena itu bukan ranahnya.

"Separah itu," monolog Aurelie dengan berbisik.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Benih Lain di Kandungan Istriku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania, pengacara pemberani yang mempertaruhkan nyawa demi keadilan, kerap berseteru dengan rival masa kecilnya yang dingin, Yudi. Walau menentang perjodohan, takdir mengikat mereka dalam pertunangan rahasia yang diatur orang tua. Di tengah konflik perasaan benci dan cinta, bahaya besar mengintai saat Tania nekat melawan Wijaya, konglomerat kejam dalang kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Alicia Huang rela mendonorkan sumsum tulang belakang demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith. Namun, ia mengajukan syarat agar Anthony bersedia menikahinya. Anthony pun setuju dengan satu tuntutan mutlak: pernikahan mereka wajib dirahasiakan dari publik. Kini, Alicia harus menjalani hari-hari sebagai istri yang disembunyikan layaknya wanita simpanan. Akankah pernikahan kontrak penuh rahasia ini menumbuhkan benih cinta sejati, atau justru menyisakan luka mendalam bagi mereka?
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Kehadiran Nadia membuat jalinan cinta Raka dan Cherry terancam kandas. Raka merasa tersisih karena kekasihnya itu selalu mendahulukan sang sahabat yang berkacamata tebal. Murka pun tak terbendung kala ia sadar posisinya telah tergeser menjadi nomor dua bagi Cherry. Namun, kecemburuan hebat ini justru menuntun Raka pada sebuah titik balik hidup yang sama sekali tak terduga. Mampukah hubungan mereka selamat saat prioritas Cherry tak lagi utuh untuknya?
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang di sekitarku tewas secara mengerikan. Mulai dari sahabat, kerabat dekat, hingga musuh-musuh yang pernah berbuat jahat kepadaku, semua berakhir tragis. Sang pembunuh berdarah dingin beraksi sangat rapi tanpa meninggalkan bukti sedikit pun. Teror mencekam ini terus berlanjut, memakan korban baru tanpa bisa dihentikan. Kini, di tengah misteri yang tak terpecahkan, nyawaku sendiri pun terancam menjadi target berikutnya dari sosok misterius yang mengintai.
Sampul Novel She's Mine
9.3
Salju mengerahkan segalanya demi membawa She's Mine bersaing di industri fesyen. Namun, di puncak kesuksesan, ia terjebak dilema asmara masa lalu yang rumit. Justin, sang mantan pacar, datang kembali untuk mengejarnya. Di sisi lain, ada Mars yang selalu setia menyokong bisnisnya. Demi meredam rumor miring yang mengancam reputasi perusahaannya, Salju kini dituntut segera memilih satu di antara mereka untuk menyelamatkan karier dan masa depannya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED