Bab 1

"Bagaimana? Sudah siap?"

Kian menoleh ke belakang dan mendapati ibunya sudah berdiri di ambang pintu kamar. Ia lantas bergerak mendekati wanita itu. Di depan ibunya, Kian hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan sang ibu.

"Kian bisa pergi sendiri, Ma," ucap Kian seraya melangkah menuruni satu per satu anak tangga itu dengan tangan yang digandeng oleh ibunya. "Lagipula, kalau Mama ikut nanti di sana tidak ada yang bisa dikerjakan," sambungnya.

"Mama akan menemanimu, Nak," sahut Tania dengan cepat. Bukan ia tidak mempercayai Kian untuk menjaga diri. Hanya saja, ia takut jika di jalan akan terjadi hal buruk pada putra bungsunya. Dan jika hal itu terjadi, jelas Tania tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Kian terkekeh sejenak sebelum ia meraih kedua tangan Tania dan menggenggamnya dengan sangat erat. Ia putar tubuh ibunya hingga berdiri berhadapan. Sepasang bola mata sipit yang terlihat lebih sayu itu menatap lekat wajah tua Tania. "Mau sampai kapan Mama tidak bisa mempercayai Kian?" tanya Kian dengan suara yang sangat lembut. Tak lupa senyum tipis, tetapi manis itu.

"Selama do'a Mama masih mengalir, percayalah kalau Kian akan selalu baik-baik saja," sambung laki-laki itu masih dengan suara lembutnya.

Helaan napas panjang Tania terdengar. Mendengar ucapan putranya, ia memang selalu berhasil kalah. Meskipun rasa khawatir itu tidak akan pernah sirna jika Kian bepergian tanpa dirinya. Akan tetapi, Tania juga tidak ingin memaksa Kian. Sebab, ia tahu jika putranya memang butuh ruang dan waktu untuk melakukan aktivitasnya sendiri. Baik, Tania harus menyadari bahwa Kian kini sudah tumbuh dewasa. Bukan lagi Kian yang seperti dianggapnya, Kian kecil yang menggemaskan.

"Trust me, Ma."

Tania mengangguk dan tersenyum. "Ya sudah. Kau hati-hati. Setelah dari rumah sakit, kau akan langsung pulang?"

Kian mengangguk cepat.

"Mama buatkan makanan favoritmu."

Kian langsung mengangkat ibu jarinya. "Ok!"

Tania melepaskan kepergian Kian setelah putra sulungnya itu berpamitan. Dengan tatapan sendu ia menatap punggung lebar Kian hingga benar-benar menghilang dari pandangan. "Maafkan Mama kalau belum bisa membuatmu nyaman dengan kekhawatiran Mama," bisik Tania hingga tanpa sadar air matanya lolos dari kelopak mata yang sudah mulai ditumbuhi keriput halus.

°°°

Langkah Kian melaju perlahan menapaki ubin-ubin putih bersih gedung putih itu. Seperti biasa, akan ada beberapa petugas rumah sakit yang menyapanya. Ya, Kian merupakan salah satu orang yang terbilang rutin mengunjungi bangunan itu. Bahkan, setiap minggunya. Tidak heran jika banyak petugas yang mengenalnya.

Hanya beberapa kali mengetuk pintu. Kian langsung memasuki sebuah ruangan yang sudah menjadi ruang wajib yang dikunjungi.

"Maaf, ya, aku terlam ...." Kalimat Kian tergantung begitu saja ketika yang ia temukan di dalam ruangan itu bukanlah orang biasanya. Namun, sosok perempuan yang duduk manis di kursi seraya menatapnya dengan kedua alis terangkat sempurna.

"Oh, maaf. Aku kira Dokter Aiman," ucap Kian seraya menundukkan kepalanya sedikit. Lalu, ia melihat perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum dengan manis. Dalam beberapa detik, Kian terpaku di tempat. Bohong jika Kian tidak terpesona dengan senyuman perempuan yang begitu manis itu. Apalagi, tatapannya begitu teduh.

Kian dengan cepat tersadar dan hendak beranjak ke luar.

"Tunggu saja di sini."

Suara perempuan itu berhasil menghentikan langkahnya. Tak hanya laju sepasang tungkai milik Kian saja yang terhenti. Akan tetapi, detak jantungnya juga seakan ikut berhenti. Suara itu ... Ah, terdengar sangat lembut dan sampai ke hati.

"Sepertinya, Dokter Aiman sebentar lagi balik," sambung perempuan itu dengan suara yang tak disadari berhasil membuat dunia Kian berubah.

Kian menoleh ke belakang setelah semuanya kembali normal. "Tidak apa-apa tunggu di sini?" tanya Kian dengan nada suara ragu-ragu.

"Ya, memangnya kenapa kalau tunggu di sini sama-sama?"

Kian pun hanya bisa tersenyum. Ia kemudian mendekat ke arah perempuan itu. Tangannya menyeret pelan kursi lain dan duduk.

Hening dalam beberapa saat. Hingga suara perempuan itu kembali terdengar. Namun, terdengar sedikit ragu.

"Hm, mau konsultasi, ya?"

Kian mengangkat kepala dan menatap perempuan itu. Lalu, mengangguk seraya mengulum senyum. "Konsultasi wajib," jawabnya.

Perempuan itu mengangguk. Ia paham maksud Kian.

"Kau juga?"

Perempuan itu menggeleng pelan. "Aku di sini hanya praktik," balasnya.

Kian mengulurkan tangan tanpa ragu. "Aku, Kian," ucapnya memperkenalkan diri seraya menunggu uluran tangannya disambut oleh lawan bicaranya. Ya, meskipun Kian sendiri tidak tahu apakah uluran tangan itu akan bersambut atau bahkan sebaliknya.

Akan tetapi, Kian merasakan tangannya tergenggam. Ia pandangi tangan putih mulus yang kini sudah berjabat dengannya itu.

"Namaku, Aurelie. Aurelie Razeta Giovandra," jawab perempuan itu seraya menunjuk sebuah name tag yang ada di bajunya.

Kian pun langsung menatap ke arah jari telunjuk perempuan yang sudah memperkenalkan dirinya dengan panggilan Aurelie itu. "Aurelie," ulang Kian.

Aurelie hanya tersenyum mendengar Kian menyebut namanya.

Lalu, tak lama pintu ruangan terbuka. Sosok yang kedua manusia di dalam ruangan itu tunggu datang juga.

"Maaf, ya, Rel, sudah membuatmu menunggu lama," ucap Aiman. Lalu, ia menatap Kian. "Sudah lama?"

Baik Kian maupun Aurelie hanya tersenyum.

"Dok, saya bisa tunggu sampai pekerjaan Dokter selesai dulu," ucap Aurelie yang paham, bahwa Aiman saat ini sedang kedatangan salah satu pasiennya.

"Maaf, ya, harus membuatmu menunggu lagi," ucap Aiman merasa tidak enak hati.

"Tidak apa-apa, Dok," balas Aurelie. "Kalau begitu saya permisi dulu."

"Kau bisa tunggu di sofa saja, Rel. Setelah ini, kita bisa lanjutkan," ujar Aiman dan langsung diiyakan oleh Aurelie.

Hening setelah Aurelie beranjak menyisakan Kian dan Aiman yang duduk berhadapan kini. Terlebih Kian, laki-laki itu hanya diam memperhatikan Aiman yang fokus melihat sebuah hasil pemeriksaan dan sesekali menatapnya dengan tatapan datar.

"Bagaimana?" tanya Kian yang sebenarnya paham arti tatapan dokter sekaligus temannya itu. Kian sudah terlalu sering melihat ekspresi tersebut yang menandakan ada yang tidak beres.

"Kau pasti tahu, 'kan?" Aiman menatap Kian dengan serius. Ia melihat laki-laki itu hanya tersenyum sumbang. "Ki, kali ini saja dengarkan aku," sambung Aiman dengan nada memelas.

Hening.

"Jika kau tidak bisa mendengarku sebagai dokter. Dengarkan aku sebagai temanmu. Kondisimu saat ini ...."

"Yes. I know. Kau tidak perlu lanjutkan," ucap Kian dengan cepat memotong kalimat Aiman.

"Jika kau sudah tahu, kau bisa pikirkan matang-matang jalan keluar yang pernah aku katakan waktu itu."

Kian mengangguk. Lalu, tersenyum untuk memecah suasana yang terlampau serius itu.

"Aku serius."

"Aku juga tidak menganggapmu sedang bercanda," balas Kian cepat seraya tertawa kecil. "Gantengmu hilang jika terllu serius seperti itu."

Aiman hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan pasien sekaligus temannya itu. Namun, ia tahu apa yang dilakukan Kian hanya untuk mengalihkan kesedihannya. Aiman paham itu.

Kian mendekatkan wajah. Lalu, berbisik, "Juniormu cantik juga. Apa kau bisa memperkenalkanku dengannya?"

"Sialan!" umpat Aiman. "Bisa-bisanya kau berpikir sejauh itu."

Kian tertawa kecil. "Tapi, aku serius."

"Jika kau serius, aku bisa atur."

Kian sejenak terdiam. "Tapi, sepertinya tidak mungkin. Tidak akan ada perempuan secantik dia yang mau denganku."

"Itu hanya pikiranmu saja," balas Aiman. "Kau terlalu psimis."

Sebelum Kian kembali angkat suara. Aiman lebih dulu berucap lagi, "Tidak ada yang sempurna, Ki. Kau harus ingat itu."

Kian hanya terdiam. Lalu, tersenyum tipis. Setelah itu, Kian meminta undur diri.

Langkah Kian terhenti tepat di depan Aurelie yang masih setia menunggu Aiman. Ia layangkan sebuah senyum bersi terbaiknya. "Aku duluan, ya."

Aurelie membalas senyuman itu seraya mengangguk. Setelah Kian benar-benar pergi. Aurelie hanya bisa terdiam. Perbincangan Kian dan Aiman tentang kondisi Kian bisa ia dengar. Meski tidak dijelaskan dengan sangat rinci, Aurelie tahu ada sesuatu yang serius tengah terjadi. Akan tetapi, ia tidak bisa juga mencampuri hal itu, karena itu bukan ranahnya.

"Separah itu," monolog Aurelie dengan berbisik.

Bab 2

Rupanya, perkenalan yang teramat singkat di ruangan Aiman hari itu tak hanya berakhir sebagai sebatas perkenalan saja. Atas bantuan Aiman, Kian benar-benar serius mendekati Aurelie dan mendapatkan respons yang sangat baik. Beberapa kali mereka jalan berdua meski tanpa hubungan yang jelas. Akan tetapi, keduanya begitu menikmati kebersamaan yang tercipta dengan asyik. Bahkan, ketika Kian tengah dirawat di rumah sakit sekalipun. Aurelie dengan senang hati sesekali menemani laki-laki itu.

Lalu, hari ini adalah tepat empat bulan setelah perkenalan singkat mereka. Dan hari ini juga mereka memutuskan untuk melangsungkan pernikahan. Mereka akan berjanji di hadapan Tuhan untuk saling mencintai satu sama lain. Mengikat hubungan mereka dengan ikatan halal.

Aurelie sudah duduk di pinggir tempat tidur setelah wajahnya dipoles begitu cantik dan mengenakan gaun berwarna putih bersih. Perempuan cantik itu merasa gerogi. Beberapa kali ia harus mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri.

"Sudah siap?"

Aurelie langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Dari balik pintu muncul sosok wanita dengan kebaya berwarna biru muda yang tampak juga sangat cantik. Aurelie masih bisa saja mengulum senyum manisnya meski tengah dilanda kegugupan yang teramat sangat. Sembari menunggu wanita yang tak lain adalah manusia yang sudah mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya itu melangkat mendekat, ia bangkit dan berdiri di dekat tempat tidur.

"Aku gerogi, Ma," ucap Aurelie seraya menunjukkan kedua telapak tangannya yang tampak berkeringat. Lalu, ia menyatukan tangannya dan saling menggenggam erat satu sama lain. Sejauh ini, baru kali ini Aurelie merasakan perasaan yang bahkan untuk menggambarkan dengan jelas saja ia tidak bisa. Apakah memang semua pengantin baru seperti ini?

Jena-sang ibu-hanya terkekeh kecil mendengar ucapan dan melihat ekspresi yang ditunjukkan putri semata wayangnya itu. Jena lantas meraih kedua telapak tangan sang putri dan menggenggamnya dengan erat. Seakan mentransfer ketenangan untuk perempuan manis buah cintanya itu. "Atur napas, ya. Kau hanya butuh tenang," ujarnya dengan suara yang sangat lembut.

"Apakah Mama dulu seperti ini juga?"

Sekali lagi, Jena terkekeh mendengar pertanyaan Aurelie. Lalu, ia menganggukkan kepala. "Mungkin lebih dari yang kau rasakan saat ini," balas Jena. "Tapi, Oma yang selalu meyakinkan Mama untuk tetap tenang," sambungnya.

Jena menatap lekat sepasang bola mata bulat milik Aurelie. "Dan sekarang, kau juga harus melakukan hal yang sama," ucap Jena seraya melayangkan senyum versi terbaiknya.

Seperti terhipnotis, Aurelie langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu.

°°°°°

"Saya terima nikah dan kawinnya Aurelie Razeta Giovandra binti Eza Giovandra dengan emas kawin tersebut dibayar tunai."

Ucapan kalimat syukur menggema mengisi ballroom hotel yang menjadi ruang pernikahan itu. Beberapa di antara manusia-manusia dalam balutan kebaya itu tak ayal menitikkan air mata haru. Terlebih dengan seorang perempuan berbalut kebaya putih bersih yang tengah menggenggam tangan sang ibu. Adalah Aurelie.

Perempuan itu tanpa sadar menitikkan air mata setelah Kian dalam sekali tarikan napas berhasil mengucapkan ijab kabul. Ia merasa terharu, karena kini Kian sudah membuktikan dan berjanji di hadapan Tuhan menjadikannya seorang perempuan yang akan dipercaya menemani laki-laki itu sepanjang hidup. Meski tak saling mengenal lama, ia begitu yakin dan dengan cepat menaruh hati pada Kian.

Jena menuntun Aurelie berjalan mendekat ke arah di mana Kian duduk mengucapkan ijab kabul. Ratusan pasang mata menjadi saksi bagaimana kecantikan Aurelie terpancar dengan sempurna. Bak seorang model, Aurelie menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. Tak ayal beberapa di antara mereka langsung memuji kecantikan perempuan itu. Kecantikan yang begitu mempesona.

Kian. Laki-laki itu bahkan tanpa berkedip menatap Aurelie yang berjalan dengan begitu anggun perlahan mengikis jarak dengannya. Mata sembapnya semakin terlihat menyipit ketika sebuah lengkungan manis tercipta menghiasi wajah. Kian seperti tidak percaya, bahwa sekarang ia sudah berhasil mempersunting perempuan pujaan hatinya. Perempuan yang mau menerimanya dalam kondisi yang bisa dikatakan tidak sempurna.

Kini, Kian dan Aurelie berdiri dengan posisi saling berhadapan. Keduanya saling melempar tatapan begitu dalam untuk beberapa saat. Lantas, Aurelie meraih tangan Kian, menggamit, dan mencium tangan laki-laki itu. Sedangkan, Kian langsung meraih kepala istrinya dan mencium kening Aurelie cukup lama.

Laki-laki itu berbisik di telinga sang istri, "Aku mencintaimu, Aurelie Razeta Giovandra."

Pipi Aurelie memerah. Ia menundukkan kepala tersipu malu. "Jangan buat aku salah tingkah di depan orang banyak, Ki," ucap Aurelie dengan suara kecil yang membuat Kian tertawa.

Selepas ijab kabul dilanjutkan dengan acara resepsi. Suasana ramai penuh kebahagiaan itu begitu dinikmati oleh Kian. Ia masih tidak percaya, bahwa hari ini akan benar-benar terjadi dan akan menjadi salah satu hari terindah dalam hidupnya.

Keduanya sudah mengenakan pakaian berbeda dari sebelumnya. Namun, masih tetap setia dengan wajah penuh kebahagiaan itu.

Sebagai raja dan ratu sehari, Kian dan Aurelie harus siap menerima ucapan selamat dari setiap tamu undangan yang menghadiri acara mereka. Mereka harus berdiri lama. Sampai sepasang bola mata bulat Aurelie terarah pada wajah laki-laki di sampingnya.

"Kau capek? ya?" tanya Aurelie dengan suara yang sangat lembut. Di balik kelembutan suara itu, tersirat kekhawatiran di sana.

Kian menoleh. Ia tak langsung menjawab. Ditatapnya wajah cantik dalam polesan make up itu. "Tadinya aku capek. Tapi, setelah aku melihat wajah cantik istriku, capekku langsung hilang," balas Kian membuat pipi Aurelie bersemu merah.

Sebal, tetapi berhasil membuat Aurelie tersipu. "Ki, sudah. Jangan menggombaliku terus," ucap Aurelie dengan suara gemasnya.

"Kata siapa aku sedang menggombalimu, hm? Kau memang cantik, Sayang."

Sekali lagi, Aurelie dibuat tersipu oleh Kian.

"Ki, kalau kau capek bilang, ya," ucap Aurelie setelah beberapa saat terdiam. Jujur saja, ia takut jika kondisi laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu akan menurun. Aurelie tahu jika Kian tidak bisa dipaksakan. Sebab, kondisi tubuhnya tidak sama dengan kondisi tubuh orang normal. Dan Aurelie sangat takut hal buruk terjadi pada Kian.

"Iya. Kau tenang saja," balas Kian dan menggenggam tangan istrinya. Ia bahagia mendapatkan perhatian sesederhana ini dari Aurelie. Ya, meskipun sebelumnya Aurelie juga sering memberikan perhatian sederhana padanya. Mengingatkan minum obat, misalnya.

"Rel."

Aurelie mengangkat pandangan. Menatap sepasang mata sipit milik suaminya yang tengah menatapnya lekat.

"Terima kasih, ya, sudah mau menjadi bagian dari cerita hidup aku," tukas Kian dengan nada serius.

Aurelie mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan yang sangat cantik. Ia kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. "Apa aku boleh bilang terima kasih juga?"

Kian mengangguk cepat.

"Terima kasih juga sudah memilihku menjadi pasanganmu," ucap Aurelie. Berbeda dengan Kian, nada suara Aurelie justru terfengar bergetar. Kian sadar itu.

"Jangan nangis, ya. Nanti cantiknya hilang."

Seketika Aurelie terkekeh dan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Kian. Laki-laki itu entah berapa kali lagi ia akan membuat Aurelie salah tingkah.

Bab 3

Kian menatap wajah cantik yang begitu tenang dalam lelap itu. Pelan-pelan ia sematkan anak rambut milik istrinya di belakang telinga agar tidak terganggu tidurnya. Sampai sebuah senyum manis tercipta menghiasi wajahnya yang terpahat begitu rapi dan tampan itu. Ia melihat ketenangan yang sama di wajah Aurelie ketika tersenyum. Memang, Aurelie adalah salah satu alasan kehidupan Kian lebih berwarna.

Sampai detik ini, jujur saja Kian masih belum menyangka jika ia sudah berhasil mengikrar janji di hadapan Tuhan dan ratusan pasang mata untuk menjadikan Aurelie bagian dari hidupnya. Lebih tidak menyangka lagi, Aurelie bisa menerimanya dengan keadaan yang sebut saja segabai sebuah kecacatan permanen.

"Cantik sekali," puji Kian melihat Aurelie yang merasa tidak terganggu meski tangannya terus bermain dengan lembut di wajah natural itu. Sekali lagi, Kian hanya bisa tersenyum menyaksikan kecantikan istrinya dalam jarak sedekat itu.

Masih ingin terus menikmati pahatan cantik wajah Aurelie, tetapi sesuatu yang sudah tak aneh lagi dirasakan oleh Kian. Sontak saat itu juga Kian menyingkirkan tubuhnya perlahan dari dekat sang istri. Lalu, duduk dengan menjuntaikan kaki di bibir tempat tidur.

Sebuah ringisan pelan terdengar. Kian menoleh ke belakang, takut-takut jika istrinya dengar. Namun, semua masih aman. Aurelie masih setia dalam lelapnya.

Sebelum ia tertangkap basah oleh Aurelie, bersama sakit yang menyerbu dengan buas area perutnya Kian perlahan bangkit dengan tubuh sedikit membungkuk dan tangan yang menekan area penuh kesakitan itu. Lama sekali rasanya untuk sampai di pintu kamar.

Kian ke luar dari kamar yang sekarang bukan lagi hanya miliknya seorang. Akan tetapi, kamar yang kini sudah memiliki penghuni baru. Di depan pintu yang sudah tertutup rapat, Kian berdiri dengan menahan rasa sakit di perutnya. Belum lagi rasa mual yang tak mau kalah menyerbu. Kian menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang. Namun, nihil. Tak ada satupun dari penghuni rumah itu yang terlihat.

Seraya menahan rasa sakit itu. Kian bergerak pergi.

Di pertengahan anak tangga Kian bertemu dengan sang kakak. Kian bersyukur akan hal itu. Sebab, ia tidak akan mati konyol, karena kesakitan dan tidak ada yang menolong.

"Tolong bantu aku," pinta Kian yang tenaganya mulai terkuras perlahan. Suaranya saja sudah terdengar sangat lemah.

Sang kakak, Nara, langsung bergegas mendekat. Ia meraih tangan adiknya dan mengalungkan di lengan. "Kau mau ke mana? Harusnya ke kamarmu saja," tukas Nara dengan nada khawatir melihat kondisi adik semata wayangnya itu.

Kian langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak mau jika Aurelie tahu, Mas," balas Kian seraya menahan sakitnya.

Harusnya Nara paham dengan sifat adiknya yang tidak pernah mau orang lain tahu tentang kesakitannya. Akan tetapi, tidak dengan menyembunyikan dari orang paling dekat. Terlebih Aurelie yang notabene adalah istri Kian sendiri.

"Aku tahu kau tidak mau membuat susah siapapun. Tapi, kali ini aku tidak habis pikir jika istrimu sendiri tidak mau kau beritahu," ucap Nara. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap adiknya.

"Jika kau tidak mau membantuku. Tolong jangan ajak aku untuk berdebat, Mas," tegas Kian. Bicara dengan Nara dengan topik yang sama tidak akan pernah selesai jika ia tak mengalah. Nara pasti akan memaksa dan menceramahinya panjang lebar.

Helaan napas panjang Nara terdengar sangat jelas. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus menasihati adiknya.

Baiklah. Sekarang tugas Nara membantu Kian terlepas adiknya itu masih belum mau mendengarnya.

°°°°°

Tubuh di atas tempat tidur itu bergerak perlahan seiring terdengarnya lenguhan lembut. Sepasang bola mata yang tadinya terkatup rapat pelan-pelan terbuka. Dalam beberapa saat Aurelie terdiam dan menelisik langit-langit ruang di mana ia berteduh kini. Lalu, Aurelie tersadar bahwa sekarang ia sudah tidak lagi berada di kamarnya. Akan tetapi, di kamar seorang laki-laki yang baru mempersuntingnya. Beruntung Aurelie cepat tersadar. Jika tidak, ia pasti sudah berteriak karena berada di tempat yang asing.

Aurelie menelisik setiap inci ruang yang sekarang akan menjadi kamarnya bersama Kian. Ia juga tidak lupa mencari sosok Kian yang tadinya juga tidur di sampingnya. Namun, saat terbangun ia tak mendapati laki-laki itu.

"Ini sudah jam berapa?" monolog Aurelie setelah merubah posisinya yang semula berbaring dan kini bersila. Ia mengangkat pandangan dan melihat jam dinding. "Hampir jam enam," gumamnya.

Aurelie masih mencoba mencari keberadaan Kian. "Kian di mana, ya? Kenapa nggak bangunin aku dari tadi," ucapnya lagi. Ia melangkah ke arah kamar mandi untuk mencari Kian. Namun, tidak ada tanda-tanda Kian ada di dalam.

Masih dengan muka bantal dan rambut sedikit berantakan diikat asal. Aurelie ke luar dari kamar. Ketika ia berada di depan pintu. Tak sengaja ia melihat Nara berjalan hendak menuruni anak tangga. Awalnya, Aurelie malu menyapa kakak iparnya itu. Namun, Nara adalah satu-satunya orang yang pertama ia temukan dan bisa ia tanya tentang keberadaan Kian.

"Mas Nara!" panggil Aurelie dengan suara lebih keras.

Langkah Nara terhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara. Dan seketika itu juga Nara terpaku di tempat melihat Aurelie yang berdiri di depan pintu kamar. Ia seperti tengah melihat sosok perempuan yang belum tergantikan di dalam hatinya. Aurelie benar-benar terlihat seperti mantan istrinya.

"Hm, Mas," panggil Aurelie dengan ragu-ragu ketika Nara tidak merespons panggilannya. Bahkan, laki-laki itu seperti tidak menyadari keberadaannya yang sangat dekat.

"Oh, iya, kenapa?" Nara terbata. Ia bahkan sedikit tersentak ketika melihat Aurelie yang sudah berdiri di hadapannya. Ia tidak menyadari perempuan itu bergerak mengikis jarak dengannya. Ia sibuk dengan isi kepalanya yang seketika bergerilya mengingat perempuan manis di masa lalunya itu.

"Hm, lihat Kian, tidak?" tanya Aurelie masih dengan perasaan ragu dan tidak enak. Ia takut jika menyinggung Nara atau membuat Nara merasa tidak dihormati sebagai orang yang lebih tua.

"Kian," ulang Nara menyebutkan nama adiknya. Nara sebenarnya ingin memberitahu di mana keberadaan Kian pada Aurelie. Akan tetapi, ia juga tidak mau jika nanti Kian akan marah padanya.

"Tidak tahu, Rel. Mungkin di bawah," ucap Nara. Ia tak sepenuhnya berbohong. Sebab, Kian memang berada di lantai bawah rumah bertingkat itu. Akan tetapi, Nara hanya tidak memberitahu di mana ruangan pasti keberadaan Kian.

"Oh, baik, Mas. Terima kasih, ya," ujar Aurelie dengan sopan. Seolah ia tengah berbicara dengan senior atau bahkan dosennya. Lalu, sikap yang Aurelie tunjukkan benar-benar seperti seorang junior penakut.

"Kalau begitu aku ke bawah dulu, Mas. Permisi," ujar Aurelie lagi dengan bahasa yang terdengar formal dah kaku. Ia mendahului langkah Nara dan meninggalkan kakak iparnya itu.

Selepas kepergian Aurelie, Nara masih berdiri menatap punggung perempuan itu. Jantungnya berdegup kencang, persis seperti yang ia rasakan ketika bertemu mantan istrinya dulu. "Apa kau yang sengaja mengirim perempuan yang mirip denganmu ke sini, Ta?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED