Bab 1

SAAT sedang lembur di kantor tempat utamaku merancangkan desain-desain bangunan, tanpa sadar setelah aku merilekskan punggungku ke sandaran kursi di belakangku dengan kedua tangan berperan sebagai bantal untuk kepalaku, aku malah merenungkan ucapan adikku kemarin malam: mengenai permintaan adikku kepadaku untuk menyentuh istrinya karena mereka berdua sudah didesak kedua belah pihak keluarga untuk segera memiliki keturunan.

Aku benar-benar galau sekarang. Kenapa aku harus menodai adik iparku? Mungkin, kalau hanya sebatas diminta adikku untuk menikahi kekasih adikku, aku masih bisa menerima, tetapi kalau untuk berzina, bagaimana aku bisa melakukannya—meskipun aku bukan laki-laki alim—sementara perasaan tidak tega kepada adik iparku terus-menerus datang untuk menghampiriku, bahkan di dalam mimpiku?

Di sini, ingatan masa lalu sudah menerobos masuk ke dalam benakku. Pada suatu malam dengan keadaan langit sedang tidak bagus, terus-menerus menangis deras sejak hari masih sore, Niken—kekasih Nara, adikku—harus bernasib malang karena diusir dari rumah setelah terciduk kalau dirinya tengah hamil di luar nikah, adikku benar-benar bingung dan hanya bisa menyuruh kekasihnya untuk menginap di sebuah indekos selama beberapa hari selagi memikirkan solusi, tetapi adikku akhirnya malah memintaku untuk menikahi dan mengakui anak di dalam perut kekasihnya demi nama baik keluarga.

Bulan lalu, di hadapan seluruh penghuni rumah—ayahku, ibuku, adikku, dan adik iparku—aku mengaku kepada mereka semua kalau diriku sudah menghamili seorang perempuan dengan tidak lupa untuk membawa serta kekasih adikku, sekalian memperkenalkan karena adikku sendiri belum pernah mempertemukan kekasihnya dengan keluarga kami.

"Keterlaluan!"

Usai mendengar pengakuanku, tentu ayahku langsung naik pitam, bahkan tidak segan-segan untuk menghancurkan paras tampan wajahku dengan tinjuannya, secara bertubi-tubi. "Bagaimana kau bisa berbuat begini?!" tanya ayahku dengan suara besar dan bernada tingginya, mungkin karena saking kerasnya sampai terdengar hingga ke telinga tetangga.

Ketika ayahku bermain tangan, ibuku memilih untuk duduk diam di sofa di ruang keluarga, menangis dengan isakan pelan, beberapa kali sampai ditenangkan adik iparku. Lepas detik demi detik berlalu, ibuku hanya melayangkan tatapan tidak menyangka kepadaku dan berkata dengan nada sedih luar biasa, "Ibu sangat kecewa kepadamu."

"Maaf, Yah, Bu," ucapku untuk menanggapi kata-kaya ayah dan ibuku dalam kondisi berlutut di lantai dengan kedua tangan nyaris tergerak untuk meremas kedua pahaku, menahan diriku supaya tidak mengungkapkan fakta sebenarnya. "Aku khilaf."

Akhirnya, amarah kedua orangtuaku tetap menghasilkan keputusan positif—terutama untuk adikku—karena selang satu minggu pasca guncanganku di ruang keluarga, aku dan kekasih adikku segera dinikahkan sekalipun acaranya tidak sampai dibuat besar-besaran, asalkan segenap kerabat dan tetangga sudah tahu.

Berhubung malam semakin larut dan suasana di ruangan selama bermenit-menit sudah teramat sepi, keputusanku adalah segera meninggalkan pekerjaanku sebagai satu-satunya mata pencaharianku, setidaknya untuk sekarang.

Pulang ke rumah dengan menggunakan mobil—masih masuk kategori biasa, bukan mewah dengan harga sampai miliaran rupiah—sudah dilakoninya setelah membelinya secara kredit dengan pembayaran dilakukan dalam jangka waktu dua tahun.

Rupanya, sekalipun sudah disengajakan untuk tiba di rumah di jam-jam tidur sehingga terhindar dari adikku, aku malah masih sempat dipertemukan dengan adikku. Parahnya, adikku langsung mengajakku ke ruang baca untuk bicara berdua.

Dari manik mataku, adikku terlihat sedang teramat sedih selagi duduk di salah satu sofa dalam keadaan sedang merokok, suatu kebiasaan buruk dan telah dijalankan dalam kurun waktu lebih dari lima tahun. Dia lagi-lagi mengadu kepadaku karena orangtua dan mertua sudah bertambah menggebu-gebu seiring dengen berjalannya waktu, menuntut adikku dan adik iparku berdua untuk segera memiliki momongan sebelum tahun berganti. "Ayolah, Kak, kalau bukan kepada kakak, kepada siapa lagi aku bisa meminta tolong?" ucap adikku, masih sangat kukuh dengan kemauannya.

"Kau tahu sendiri, bukan? Aku tidak bisa meminta tolong kepada orang luar."

Di seberang sofa tempat adikku duduk, aku hanya mengangkat wajah dengan ekspresi kurang berminat, menatap adikku sebentar sebelum menunduk dan memainkan tangan kananku di atas paha kananku dengan jari telunjuk diketuk-ketukkan ke daerah lutut. Meski tidak sampai harus becermin, aku yakin sekali kalau kerutan halus di atas kedua alisku tampak sangat nyata.

"Biarkan aku memikirkannya lagi," kataku kemudian setelah menatap ke arah adikku lagi, tetapi adikku hanya membuang napas dengan kasar, terlihat kecewa dengan responsku barusan, sampai-sampai adikku memilih untuk segera enyah dari hadapanku.

Yang aku lakukan selain mengusap wajah dengan telapak tangan kananku adalah menghela napas. Berat hatiku setelah melihat sikap adikku barusan. Aku tidak mau merusak hubungan persaudaraan kami berdua hanya gara-gara keplinplananku, ditambah jawaban setengah-setengah dariku ternyata cukup memperparah semuanya.

***

Sarapan bersama sudah merupakan kebiasaan keluarga secara turun-temurun. Meski hanya dihuni enam orang, mereka benar-benar seperti orang besar tetapi terlihat sederhana karena sebagian besar urusan rumah selalu dikerjakan sendiri.

Mungkin, setelah kedatangan adik iparku, ibuku merasa sangat terbantu karena adik iparku selalu ikut turun tangan mulai dari memasak hingga mencuci pakaian. Anehnya, sekalipun adik iparku berasal dari kalangan berada, kenapa seakan-akan dirinya malah terlalu buta dengan kemewahan?

Dia sangat aneh, tamatan sarjana strata 1 bidang komunikasi, malah memilih bekerja sebagai guru di sebuah taman kanak-kanak, kurang peduli dengan merek pakaiannya, tidak seperti istriku, sekaligus kekasih adikku, hanya tamatan SMA, berasal dari kalangan biasa, tetapi memiliki gaya hidup sampai menyaingi langit, teramat malas untuk tidak melakukan apa pun dengan selalu menjadikan kehamilan sebagai alasan

Baiklah. Poin terpenting dari sejumlah keluh kesahku hanya satu. Aku tanpa sadar telah mengagumi kepribadian dari adik iparku: dapat menjaga martabat dan mampu menutup setiap keburukan suami untuk digantikan dengan kalimat-kalimat bernada bangga.

"Nad."

"Uang dari suamimu masih cukup, bukan?" tanya ibuku setelah adikku sudah berangkat ke restoran, istriku telah masuk kamar, ayahku sedang memberi makan ikan di kolam samping rumah, sementara aku masih berada di meja makan, belum siap-siap bekerja karena kantor tempatku mengais rezeki baru dibuka pukul sembilan nanti, sekitar dua jam dari sekarang.

Wajar kalau ibuku tiba-tiba bertanya begitu. Adik iparku selalu belanja keperluan rumah tangga tanpa perlu menunggu perintah dan uang dari ibuku. Jika sudah waktunya, maka dirinya akan langsung berinisiatif. Dia malah sampai hapal dengan selera setiap anggota keluarga.

"Masih, kok, Bu," jawab adik iparku.

Meski adikku tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun batin kepada adik iparku karena adikku merasa kalau hanya bisa diberikan kepada istriku, setahuku adik iparku tidak pernah mengeluh, apalagi sampai mengadu dan mengungkit-ungkitnya secara gamblang di depan muka ibuku dan ayahku.

Aku teringat dengan reaksi adik iparku ketika pertama kali tahu bahwa bayi di dalam perut istriku adalah anak suaminya. Tidak ada maksudku untuk menguping pembicaraan antara adikku dan adik iparku. Segalanya terjadi di luar rencanaku. Sebab, kamarku dan kamar adikku hanya bersebelahan dan dihubungkan oleh sebuah pintu sebagai bukti dari kedekatan kami selaku kakak dan adik.

"Jika benar kalau anak dalam kandungan Kak Niken adalah milikmu, maka kau tidak boleh sampai lepas tangan. Dia sangat membutuhkanmu sebagai ayahnya," ucap adik iparku ketika malam pertama pernikahanku dengan kekasih adikku.

"Ya, aku tahu," jawab adikku untuk menanggapi, sementara aku hanya berdiri dengan punggung tersandar di balik pintu cokelat di belakangku. Untunglah, kekasih adikku masih berada di luar sehingga tidak perlu mendengar perbebatan mereka dan muncul di tengah-tengah mereka untuk selanjutnya berperan sebagai biang masalah untuk membuat keduanya semakin memanas.

"Tapi, untuk sementara waktu ... dan tidak tahu sampai kapan, aku hanya bisa mengaku sebagai pamannya."

"Nolan," seru ibuku, sungguh membuatku tersentak dan tersadar dari lamunanku, kilas balik mengenai peristiwa di masa lalu buyar seketika.

"Iya, Bu," sahutku setelah menatap wajah ibuku. Sungguh, mendadak perasaanku tidak enak, rasa-rasanya ibuku akan segera menyinggung sikap istriku.

"Sejak menjadi bagian dari keluarga kita, sepertinya istrimu masih mendirikan sebuah benteng pemisah antara kita. Apakah kau tidak bisa menyuruh istrimu untuk sering-sering keluar kamar dan mengobrol bersama kita?"

"Ibu tidak ingin apabila kita di sini terkesan mengucilkan istrimu."

"Iya, Bu," sahutku dengan memaksakan senyum di wajahku, "aku akan bicara kepadanya."

Miris, di dalam hati, aku hanya bisa berkata, 'Maaf, Bu. Dia memang istriku. Tapi, istriku hanya mau mendengarkan anak keduamu, Bu.'

***

Bab 2

MASIH seperti sebelum-sebelumnya, adikku mengusir istrinya—mungkin, lebih cocoknya adalah kehadiran istriku di kamar adikku telah menggusur istrinya—dan meminta istrinya untuk satu kamar denganku karena rumah kami hanya memiliki tiga kamar, harus melalui sebuah pintu penghubung supaya tidak ketahuan orangtua.

Aku masih mengingat dengan jelas. Pada kali pertama, adik iparku sangat ketakutan ketika dihempaskan ke kamarku, sampai memutuskan untuk tidur di balkon daripada harus satu ruangan denganku. Meski aku sudah menjamin kalau aku tidak akan berbuat macam-macam, adik iparku terus bersikeras menolak. Alasannya?

Dia pernah mengatakan, "Kak, kalau kita sampai hanya berduaan dengan lawan jenis, maka sosok ketiganya adalah setan. Mereka bisa membisikkan kejahatan kepada kita sehingga berpeluang besar terjadi zina."

Jawabanku dulu bisa dibilang cukup simpel, "Tapi, aku tidak pernah tertarik kepadamu, terlebih kau selalu mengenakan pakaian tertutup, bahkan sehelai rambutmu pun ... aku tidak bisa melihatnya."

Entah mengapa, aku semakin tengiang-ngiang dengan momen dahulu sehingga percakapan kami seperti sedang diputar ulang untuk mengingatkan diriku, betapa uniknya sosok adik iparku.

"Kak Nolan tidak pernah kelaparan?"

"Pernah."

"Jika di bumi sudah tidak ada apa pun selain rumput ... masih yakinkah kalau manusia tidak akan menyantapnya?"

Maksud adik iparku adalah kalau di dunia hanya tersisa dirinya sebagai sebagai satu-satunya wanita, apakah aku masih bisa untuk tidak menyentuhnya?

"Ha?"

"Tapi, aku tidak akan sampai begitu ... aku mampu mengendalikan nafsuku dengan baik."

"Semoga."

Alhasil, karena tidak mau turut mempersulit adik iparku, aku selalu menggeser lemari di kamarku untuk dijadikan sebagai dinding pembatas kami, menciptakan ruangan tersendiri, merelakan kasur besarku untuk ditiduri adik iparku sementara setiap malam diriku hanya akan beralaskan sebuah kasur lantai dengan bahan tidak terlalu tebal dan tidak lembut sama sekali. Intinya, aku mengalah darinya.

Mungkin, secara tidak langsung kami sama-sama sedang rebahan dalam posisi saling membelakangi. Uniknya, andaikan tidak terdapat lemari di antara kami, maka seperti tengah menggambarkan suatu pasangan suami dan istri setiap sedang dihadapkan dengan keributan besar. "Apakah kau membenci suamimu?"

Ingin sekali tanganku tergerak untuk menampar mulutku, bisa-bisanya malah mempertanyakannya, bagaimana kalau adikku sampai mendengarnya? Ah, tidak, sepertinya adikku sudah berada di alam mimpi. Tiba-tiba, kedua telingaku menangkap suara feminin bernada rendah. "Haruskah?"

Ada kepedihan dalam suara adik iparku. Dia terkesan tidak pernah menginginkan hidupnya untuk berjalan demikian. Tapi, apakah ada pilihan lain? "Kenapa kau mau menikah dengan adikku?" tanyaku kemudian.

"Masih bisakah aku menolak?"

Dua sisi dalam satu irama. Di posisi serba salah. Aku tahu. Dia hanya mau berbakti kepada orangtuanya, tidak mengharapkan orang-orang tercintanya dibelenggu kekecewaan, terlebih ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung, teramat susah untuk bisa menolak perjodohan. "Kak Nolan sudah pernah mendengar kisah Asiyah binti Muzahim?"

Kuakui, tawaku nyaris meledak. Akan tetapi, aku mencoba menahannya dengan mulut dibiarkan setengah terbuka, tidak suka berbuat keributan, terutama di malam-malam sunyi. "Bagaimana bisa? Bahkan, aku baru mendengar namanya barusan," tanggapku.

"Kak, kalau mereka tidak dipertemukan, mungkin manusia tidak akan bisa memetik sebuah pelajaran berharga," ucap adik iparku, dari suaranya sungguh menunjukkan kalau pemiliknya sedang tersenyum tipis. Apakah karenaku?

"Aku yakin, Kak. Dibalik pertemuanku dengan suamiku, tentu ... ada hikmahnya," lanjut adik iparku, entah bodoh atau terlalu baik, "dan bukankah seharusnya aku bersyukur karena cobaanku masih tidak ada apa-apanya?"

Lama sekali aku terdiam, sekitar lima menitan. Meski tidak terluka secara fisik, secara batin adik iparku harusnya sangat menderita gara-gara sikap tidak acuh adikku, tidak pernah dihargai sebagai sebenar-benarnya istri. Aku sangat heran, kenapa adikku malah menyianyiakan wanita nyaris sempurna seperti istrinya?

"Nad."

"Apakah kau masih sanggup untuk bertahan dengan kelakuan buruk suamimu?"

Tidak ada jawaban. Wajar, mungkin karena aku terlalu menyita waktu dalam menciptakan jeda, hingga malam mendadak berubah membosankan dan tanpa sadar adik iparku lantas tertidur dengan sendirinya, tidak menunggu aba-aba dan memberikan tanda. Dalam keheningan, seulas senyum tahu-tahu sudah mekar di wajahku setelah terbayang kecantikan adik iparku hingga menumbuhkan perasaan kagum di dalam diriku.

Terus terang, rasa penasaran selalu menghampiriku, kenapa adik iparku tidak pernah melepaskan kerudungnya di hadapanku? Bukankah sekarang mereka berdua sudah menjadi keluarga? Tiap hari, batinku tidak bersedia berhenti untuk bertanya-tanya, adakah rahasia besar dan teramat menakjubkan di balik kerudung adik iparku? Lagi, di dalam kepalaku tiba-tiba terlintas permintaan adikku. Apa aku terima saja, ya?

***

Makan siang bersama teman sekantor di kantin atau di luar—kalau sempat dan minat—sudah merupakan kebiasaaanku sejak kali pertama tergabung dengan perusahaan tempatku bekerja sekarang. Di kantin, bersama ketiga temanku, aku sudah mulai memanjakan perutku, kami berempat terlihat duduk dengan posisi mengitari sebuah meja di area paling tepi di dekat pintu masuk.

Akrab dengan tawa khas masing-masing, seakan bercakap-cakap selagi makan adalah suatu kewajiban. Aktivitasku terhenti sejenak, tetapi tanganku masih memegang sendok. Wajah sudah diangkat, bibirnya mulai terbuka secara perlahan sebagai wujud keragu-raguannya. "Aku tidak mengerti. Kenapa sekalipun sudah disakiti suaminya, seorang wanita masih tetap bersikap baik kepada suaminya?" tanyaku dengan nada serius sehingga suasana santai sebelumnya langsung tergantikan, terlebih ketiga kawanku secara serentak malah terdiam, sama-sama merenung untuk memikirkan jawaban.

"Mungkin," jawab Ardi, laki-laki berkumis tipis di sebelah kirinya, tangan kanannya masih memegang sendok dan terlihat setengah melayang di udara, "bukan manusia, tapi malaikat."

Aku tersenyum tipis setelah tiba-tiba malah terngiang kecantikan paras adik iparku, sebuah keindahan langka dan bersifat candu, semoga dapat kunikmati secara berulang-ulang. "Malaikat, ya? Bukan bidadari?" tanyaku di dalam hati.

Lepas menyaksikan keanehanku, kawan-kawanku tentu akan menganggap kalau diriku sudah sinting atau telah kerasukan makhluk halus? Entahlah. Akan tetapi, meski demikian, tetap tidak bisa apabila terus kutahan-tahan.

"Lan, tidak biasanya kau bertanya hal-hal begini, kau tidak sedang menyukai istri orang, bukan?" tanya laki-laki berkulit paling cerah di antara kami berempat, di seberang meja sedang bermain-main dengan mi dengan menggunakan sumpitnya.

Uhuk! Uhuk!

Aku tersedak udara. Benar-benar tanpa dapat diduga. Hingga akhirnya, tangan kananku segera terangkat untuk meraih sebotol air mineral di atas meja, cepat-cepat kubuka tutupnya dan kuteguk isinya untuk meredakan jeritan dari tenggorokanku. Jadi, di sini aku belum atau memang tidak pernah berencana untuk memberitahukan kepada teman-temanku mengenai statusku?

Intinya, aku tidak akan nyaman kalau sudah membeberkannya, terlebih lagi—seratus persen yakin—pernikahanku dengan kekasih adikku tidak mungkin dapat berumur panjang. Bukankah aku masih memiliki hak untuk menentukan pasangan hidupku sendiri? Tapi, apakah aku berani untuk menyuarakan hatiku? Ah, berbicara soal pasangan hidup, kenapa tiba-tiba aku malah kepikiran adik iparku?

***

Bab 3

PADA suatu siang menjelang sore, aku harus ke rumah sakit untuk mengantar istriku, sementara adikku sudah lebih di sana, menunggu kami selagi masih mengantre, terlihat sangat siap untuk menemani istriku periksa ke dokter kandungan. Lepas meninggalkan beranda rumah sakit, tiba-tiba aku teringat sesuatu, sebuah momen singkat pada malam pernikahanku, istriku pernah tersenyum manis kepadaku hanya sebagai salam pembuka sebelum berkata, "Kak, terima kasih, ya ... sekarang anakku bisa terus berdekatan dengan ayahnya."

Langit berubah mendung seketika, entah karena apa sehingga bisa tersinggung sedemikian rupa. Hujan mulai turun dengan deras. Laksana kejutan tidak terduga di tengah sepinya hari. Di saat-saat aku sedang fokus menyetir, kedua telingaku dapat mendengar suara gemericik air setiap mendarat di atas permukaan bertekstur keras dan manik mataku bisa melihat sejumlah jejak air di kaca depan.

Di sebuah halte serba merah, sesosok wanita dengan muka sudah tidak asing di kepalaku terlihat sedang berteduh di antara belasan manusia bernasib malang seperti dirinya, bahkan sampai memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan. Lantas, tanpa menunggu lama, aku segera bertindak untuk menepikan mobilku sebelum bergegas turun dan menembus lontaran anak panah berwujud cair dari atas awan dengan maksud untuk menghampiri adik iparku.

"Nad, kenapa masih di sini?" tanyaku setelah aku sudah tiba di depan tempat adik iparku tengah berdiri. "Kau tidak membawa jas hujan?"

Sepertinya, adik iparku masih tertegun dengan kehadiranku. Buktinya, sudah detik demi detik berlalu, adik iparku baru bisa menjawab pertanyaanku dengan tatapan kaku terarah kepadaku. "Bukan, Kak."

Dirasa adik iparku terlalu lamban dalam merespons, hanya dalam jeda waktu sebentar aku sudah bertanya lagi, "Terus?"

Ha? Adik iparku tidak sudi untuk menghormatiku? Aku tidak mengerti, mengapa adik iparku sampai harus menunduk untuk menghindari sinar mataku. Bukankah akan dinilai tidak sopan kalau setiap bertukar kata kita tidak berkanan untuk menatap lawan bicara kita? Baiklah, anggaplah seolah-olah aku tidak pernah mempermasalahkan sehingga tidak ada alasan untukku menegurnya.

"Motorku tidak bisa dinyalakan," jawab adik iparku, akhinya, selepas waktu berhargaku sudah cukup tersita. "Mm, kau pulang bersamaku saja, ya," usulku kemudian, tangan kananku sempat terangkat untuk menggaruk salah satu pelipisku, takut apabila sampai ditolak mentah-mentah.

Melihat adik iparku mencengkeram kain baju di daerah kedua sikunya, sebelum wanita itu memperoleh keputusan, bibirku cepat-cepat kubuka untuk mengimbuhkan, "Nanti, aku akan menyuruh orang bengkel untuk mengambil motormu dan memperbaikinya."

"Sudah sore," ucapku lagi untuk meyakinkan hingga membuat adik iparku seperti tidak memiliki opsi lain.

Jujur, hatiku lebih berbunga-bunga ketika berada dalam satu mobil dengan adik iparku, daripada dengan istriku beberapa waktu lalu. Entah mengapa, rasa-rasanya kedamaian dan ketentraman senantiasa terpelihara dengan baik untuk menyenangkan diriku. Di dalam mobil, ketika aku hendak menyalakan mesin, secara tidak sengaja ekor mata kiriku malah mendapati adik tiriku sedang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Aku segera berinisiatif dengan melepaskan jasku untuk kusodorkan ke arahnya. "Pakailah," kataku, "aku tahu, kau kedinginan."

"Mm, terima kaksih, Kak," sahut adik iparku, tampak kikuk selagi menerima jasku dengan ragu-ragu, seakan-akan sudah dapat menebak kalau aku akan bersikeras memaksa andaikan memperoleh penolakan.

Tidak ada obrolan berikutnya. Bibir kami sama-sama terkunci dengan rapat. Aku sedang tidak memiliki topik untuk diramaikan, sementara adik iparku ... kapan pernah terbuka kepadaku? Bukankah dirinya baru akan mengungkapkan sesudah ditanya terlebih dahulu?

Tiba di rumah, kami berpapasan dengan ibuku ketika memasuki rumah karena ibuku sedang berjalan dari arah dapur, mungkin akan ke lantai dua. "Eh, kok ... kalian bisa barengan begini?" tanya ibuku, tidak lama setelah adik iparku sedikit membungkuk dan meraih tangan kanan ibuku dengan daerah punggung ditempelkan sekilas ke salah satu pipinya.

"Motor Nada mogok, Bu," jawabku, tidak ada kesempatan untuk adik iparku untuk menegaskan ulang karena ibuku terlihat mencari-cari sesuatu sebelum bertanya, "Di mana istrimu?"

"Ha?" Tidak sampai berselang lama, aku kelabakan seketika, tidak kepikiran kalau akan disambut dengan pertanyaan demikian. Lepas menginstruksikan otak untuk berputar, bibirku baru terasa ringan untuk tergerak dalam rangka menyampaikan alibiku. "Mm, aku terpaksa menitipkan istriku di restoran karena ... aku harus segera merampungkan pekerjaanku, sementara istriku sedang menginginkan masakan salah satu koki di sana," kataku, terdengar kurang lancar.

Dahi ibuku berkerut samar. Tampaknya, gara-gara aku malah meninggalkan istriku di restoran dengan begitu teganya. Apa mau dikata, adikku dan kekasihnya apabila sudah berduaan di luar tentu akan kelayapan ke mana-mana, sampai tidak mengenal waktu lagi.

"Lalu," ucap ibuku menggantung, masih dengan kening berkerut dan tatapan heran diarahkan kepadaku, hingga akhirnya ibuku bertanya, "Istrimu akan pulang bersama adikmu?"

Garis senyum di wajahku berfungsi dengan baik sebagai bentuk usahaku dalam menutupi kebohonganku. "Begitulah, Bu," jawabku dengan tangan kanan nyaris terangkat untuk menggaruk kepala belakangku.

Dari manik mataku, kepala ibuku terlihat terayun pelan ke arah kiri dan kanan sebanyak dua kali selagi bergumam, "Ada-ada saja."

Dalam hitungan singkat, aku segera memilih untuk cepat-cepat kabur dengan menjadikan mandi sebagai alasan termudah untukku, daripada nanti malah ditanya lebih detail. Ibuku bisa curiga kalau bibirku sampai terbuka untuk memberikan jawaban asal-asalan. Bukankah kalau aku terasa berada di hadapan ibuku sama artinya dengan bunuh diri?

***

Ketika aku sedang berusaha menyelesaikan desainku di ruang baca, adikku tiba-tiba datang menghampiri, lalu memerhatikan hasil kerjaku sejenak dengan kedua tangan dilipat di depan dada dan pandangan menilai. Tentu saja, rasa percaya diri tidak akan kubuat dominan karena kehadiran adikku bukan hanya sebatas mau mengomentari kerjaanku, melainkan untuk suatu tujuan tertentu.

"Bagaimana?" Apa kau sudah membuat keputusan?" tanya adikku tidak lama kemudian dengan wajah diangkat dan sorot mata mengarah kepadaku. Pedihnya, pertanyaan barusan semata-mata hanya untuk menagih jawabanku atas permintaan adikku sebelumnya, persis seperti dugaanku.

Aktivitasku terhenti setelah fokusku sudah sepenuhnya terbagi. Helaan napasku terdengar untuk mengiringi gerakan kedua telapak tanganku pada waktu akan menumpu di atas permukaan meja. "Aku tidak bisa, Nara," ucapku dengan berat hati.

Dari ekspresi wajahku terbaru, segalanya sudah terwakilkan dengan sangat jelas. "Dia terlalu baik untuk disakiti," imbuhku tidak sampai berselang lama.

"Tapi, Kak. Ibu terus menuntutku," rengek adikku. Dia terlihat kecewa, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk merayuku, "bisa-bisa ... kami dipaksa bercerai dan merusak hubungan kerja sama antara kedua belah keluarga."

Bukan rahasia pribadi, adikku diharuskan memikul beban berupa meneruskan bisnis keluarga. Jika terjadi sesuatu, maka adikku bisa sangat merasa bersalah. Mungkin, kalau hanya sebatas bisnis pribadi, adikku tidak akan sampai dirundung perasaan gelisah tanpa ampun. "Berikan aku waktu tambahan," kataku kemudian, entah mengapa seulas semyuman tipis tiba-tiba dikembangkan adikku.

"Terima kasih, Kak. Aku selalu bisa mengandalkanmu," sahut adikku dengan tangan kanan terangkat untuk menepuk pundak kiriku sebanyak dua kali.

Dirasa urusan denganku telah beres, adikku segera pamit untuk keluar dari ruang baca duluan, sementara aku malah memutuskan untuk rapi-rapi sebentar sebelum mengayunkan kedua kakiku menuju kamar dalam rangka mengistirahatkan badan.

Lepas balik badan sesudah menutup pintu kamarku, tiba-tiba ponsel di tangan kiriku bergetar. Aku bergegas memeriksa dengan menunduk dan manik mata terarahkan ke layar setelah ponselku berada dalam genggaman kedua tanganku. Ada satu pesan dari adikku melalui sebuah aplikasi percakapan berlogo telepon warna hijau.

Aku sudah mencampurkan obat ke dalam minuman istriku.

Deg.

Aku tentu sengaja mendongak untuk menatap sesosok perempuan berpakaian serba tertutup di atas kasur selaku objek pikirku sekarang. Di sana, adik iparku sedang menggeliat aneh, seperti tidak nyaman karena kepanasan. Ah, tidak perlu dipertanyakan terus, aku sudah sangat paham sebabnya. Tapi, haruskah aku menunaikan tugasku sekarang? Terlebih lagi, situasi bisa dikatakan teramat menguntungkan sehingga nanti aku tidak usah kerepotan andaikan memperoleh perlawanan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED