Chapter 1
Cila menatap pemandangan melalui kaca jendela kereta Jayana Luxury yang melaju kencang dengan sendu. Matanya masih sembab bahkan kini kepalanya mulai nyeri. Ia meraba kepala Ritsleting tas selampang di pangkuannya, membuka dan merogoh seperti mencari sesuatu namun tidak menemukan apapun. Cila menghela nafas panjang, meratapi nasib yang harus dijalaninya sungguh tragis. Apakah dirinya sungguh tidak beruntung? Cila menempelkan kepalanya dikaca jendela. Ia memejamkan mata, berharap bisa tertidur walau sebentar saja. Namun, pikirannya melayang, mengingat kejadian 2 minggu yang lalu.
“Mas, aku mampir ke kantor ya.” Begitulah isi pesan Whatsapp yang dikirim Cila pada Dandi Darmawangsa, suaminya. Ia hanya ingin mengajak suaminya makan siang bersama. Namun, Dandi tidak kunjung membalas pesannya. Tanpa pikir panjang Cila melaju dengan mobil pribadinya menuju kantor tempat Dandi bekerja.
“Maaf bu, Pak Dandi sedang keluar. Belum lama berangkat.” Ucap salah satu staf yang ditemui Cila.
Cila tersenyum ramah,”Oh, baiklah. Tidak apa-apa. Katakan pada Bapak, bahwa saya datang kemari ya.”
Cila segera pergi meninggalkan kantor sambil berusaha menelpon Dandi namun tetap tidak tersambung. Perut Cila sudah tidak bisa di ajak kompromi. Sudah berbunyi sejak tadi seperti ada konser Justin Bieber yang sangat meriah didalam sana. Cila melihat ada restoran Jepang diseberang jalan. Tanpa pikir panjang ia segera melangkahkan kaki ke restoran itu.
Belum lama Cila duduk di salah satu meja yang kosong di sudut ruangan Resto dengan gaya Jepang. Ia mendengar tawa yang sangat ia kenali. Ya, itu suara Dandi suaminya. Dengan cepat ia mencari asal suara itu guna memastikan pendengarannya.
Namun, tubuh Cila tiba-tiba kaku dan tak mampu digerakkan. Nafasnya tertahan dan dadanya sesak. Ia melihat dengan kedua matanya, Dandi, pria yang telah hidup bersamanya selama 5 tahun itu sedang mengecup bibir gadis muda dan cantik yang duduk bersandar didadanya. Sesekali jemari Dandi yang kekar membelai anak rambut yang tertiup angin dan menyentuh pipi gadis itu.
Cila terpaku dan tidak mampu berbuat apapun. Detak jantungnya sangat cepat. Untuk menghampiri mereka berdua pun kaki Cila tidak kuasa. Ia segera bergegas saat melihat keduanya seperti hendak pergi dari resto itu. Tanpa memikirkan perutnya yang kosong, Cila diam-diam mengikuti arah mereka berdua pergi.
Dengan sangat hati-hati Cila mengikuti mobil yang dikendarai suaminya. Ia takut Dandi mengenali mobil yang ia kendarai untuk menguntitnya. Cila, tetap berusasha berpikir positif, ia berharap mereka tidak memiliki hubungan khusus atau apapun. Cila tahu, ia punya banyak kekurangan, ia belum bisa memberikan apa yang Dandi inginkan dalam pernikahannya. Namun, selama ini pula Dandi selalu membesarkan hari Cila jika ia merasa sedih karena omongan orang tentang hal itu.
Kini, Pria yang sangat ia kagumi dan cintai kedapatan sedang bermesraan didepan matanya. Sesekali Cila menyeka bulir air mata yang turun tanpa ia pinta. Kembali ia menenangkan diri dan berpikir bahwa ini tidak seperti yang ia pikirkan.
Namun lagi-lagi kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan. Mobil Cila kini berada di Lobby Artemis Hotel. Cila menghela nafas panjang dan segera memarkirkan mobil dan mengejar Dandi yang sudah lebih dahulu masuk kedalam hotel itu.
“Maaf mba, saya mau tanya. Pria yang pakai jas Dongker dengan dasi merah yang masuk bersama seorang wanita yang memakai dress hitam tadi kamar no berapa ya?” tanya Cila pada resepsionis.
“Maaf bu, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi tamu ditempat ini.” Jawab resepsionis itu.
Cila mengiba pada resepsionis itu, “Tolong mba, tadi itu suami saya dengan seorang perempuan yang saya tidak kenali. Saya sudah mengikuti mereka sejak dari restoran Jepang sampai kesini.” Ujar Cila memelas.
“Maaf bu, saya tidak bisa membantu.”
Cila menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisnya kini benar-benar pecah. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia tidak mampu berpikir jernih atas apa yang ia alami hari ini, semuanya terjadi begitu cepat tanpa ia sadari.
“Ada apa ini Suci?” ucap seorang pria pada mba resepsionis .
Terdengar resepsionis itu berbisik pada pria tadi. Cila tidak menghiraukan yang mereka lakukan, karena yang ada didalam kepala Cila adalah segera menyusul Dandi dan memastikan apa yang dilihatnya bukanlah hal yang buruk untuk pernikahannya.
Pria itu berdehem, “Maaf bu. Dengan ibu siapa?”
Cila perlahan membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya. “Pricila Putry Patty” jawab Cila sambil mengelap air mata yang membanjiri wajahnya.
Pria itu tersenyum ramah, “ Ibu Cila tenang dulu ya. Kami akan bantu semampunya.”
Cila mengangkat wajah dan menatap pria itu,”saya hanya perlu nomor kamar yang mereka pesan. Saya janji tidak akan membuat keributan disini.” Jawab Cila penuh harap.
Pria itu kembali tersenyum,”boleh tunjukan Foto yang ibu punya pada kami sebagai validasi kalau memang benar pria yang masuk tadi adalah orang yang ibu maksud?”
Cila merogoh tas yang dijinjingnya dan meraih ponsel. Ia membuka Galery Photo dan menunjukan beberapa gambar yang tersimpan diponselnya. Terlihat sesekali mba reseptionis menganggukan kepala dan menunjuk2 gambar yang dilihatnya.
“Baik bu. Saya akan memegang perkataan ibu sebelumnya. Tidak ada keributan.” Ucap Pria itu tegas.
“Iya pak. Saya janji tidak akan membuat keributan.”
Pria itu mengangguk pelan, “Baik, ibu boleh ikut saya.” Ucap pria itu sambil berjalan menuju lift.
Dengan cepat Cila mengikuti pria itu dari belakang. Tubuh Cila gemetar hebat. Antara lapar dan takut menjadi satu. Pria didepannya sesekali menoleh kebelakang memastikan Cila mengikuti arahannya.
“Ini kamar atas nama bapak Dandi Darmawangsa. Dipesan dua hari yang lalu selama tujuh hari. Saya harap ibu menepati janji yang sudah ibu Cila katakan sebelumnya.” Ucap Pria itu dengan tegas.
Cila mengangguk pelan. Ia benar-benar tidak bertenaga.
“Saya akan memperhatikan dari lorong diujung sana. Jika terjadi sesuati yang tidak diinginkan saya akan segera datang menghampiri ibu Cila.” Ujar Pria itu sambil berjalan meninggalkan Cila didepan pintu kamar.
Cila menatap dalam pintu kamar yang asing didepannya. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia harus mengalami kejadian yang menyayat hati seperti ini lagi. Tidak kah cukup hanya masa kecilnya saja? Haruskah kehidupan dan rumah tangganya kembali mengulang cerita lama yang tidak ingin ia ingat?
Cila mengetuk pintu dengan pelan. Ia sedang berusaha menata emosi yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Ia harus tetap tenang agar bisa mencerna setiap kejadian yang akan ia alami setelah pintu yang ia ketuk ini terbuka.
“Cari siapa ya?” ujar seorang gadis dari balik pintu, ia seperti menyembunyikan sebagian tubuhnya.
Cila menatap wajah gadis itu. Benar saja, dia adalah gadis yang ia lihat bermesraan dengan suaminya di resto Jepang tadi.
Cila menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan,“Pak Dandinya ada?”
Gadis itu menoleh kedalam. Ia terdengar setengah berbisik pada seseorang yang Cila yakini adalah Dandi suaminya.
“ini ada yang cari kamu.” Sahut gadis itu sambil berlari kecil meninggalkan pintu yang sedikit terbuka.
Tanpa pikir panjang Cila segera mendorong pintu itu hingga membentur dinding. Ia lupa harus meredam tenaganya yang tersisa sedikit.
Terlihat seorang pria sedang mengancing kemeja putih terkejut melihat Cila berdiri memaku di pintu masuk.
“Cila.? ujarnya kaget.
Air mata Cila mengalir di ujung kedua matanya. Belum hilang ingatan Cila tadi pagi saat mengambilkan kemeja yang dikenakan Dandi dan memasangkan Dasi berwarna merah yang menjadi favoritnya selama ini. Namun kini ia harus melihat kemeja itu terbuka di depan wanita selain dirinya.
“Apa yang aku lihat ini, seperti yang aku pikirkan,Dan?” ucap Cila dengan suara parau.
Dandi segera berlari kecil menghampiri Cila. “Tenang Cila, aku bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Cila mengangkat wajahnya menatap langit-langit kamar itu sejenak, “apa yang bisa kamu jelaskan? Bahwa kamu ketahuan bermesraan di Restauran Jepang tadi dan kedapatan berdua dengan wanita yang bukan istri kamu? Dan sekarang istrimu tepat berada didepan kamu?” ucap Cila dengan suara meninggi.
Dandi menunduk malu. Ia tidak dapat berkelit. Ia sadar akan perbuatannya pada Cila. “Aku minta maaf sayang.”
“Jangan panggil aku sayang. Yang kamu lakukan ini bukan arti sayang seperti ucapanmu.” Balas Cila. “Jadi kamu mengakui, hubungan sprecialmu dengan wanita itu?” tanya Cila pada Dandi yang tertunduk malu.
“Hubungan ini tidak disengaja, Cil. Aku benar-benar Khilaf. Aku baru bertemu dengannya sebulan yang lalu.” Terang Dandi sambil meremas kedua tangannya.
Dandi seperti anak kecil yang ketahuan mencuri makanan dari balik tudung saji. Tidak seperti Dandi yang ia kenal selama ini. Sepertinya Cila harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan dia hadapi kedepannya.
“Aku tahu, aku salah karena belum bisa memenuhi keinginan kamu, mama dan saudara-saudara kamu agar memiliki momongan. Tapi apakah pantas, aku diperlakukan seperti ini? Dimana Cinta yang sering kamu ucapkan ketika terbesit ingin melakukan hal kejam seperti ini? Apakah semudah itu kamu hilangkan, Dan?”
Dandi meraih kedua tangan Cila dan menggenggamnya erat. “Aku masih mencintai kamu, Cil. Aku enggak mau kehilangan kamu. Tidak bisakah kamu memaafkan kesalahan yang tidak sengaja aku perbuat ini demi rumah tangga kita?”
Cila segera melepaskan tangannya,” Apa?! Demi rumah tangga kita? Aku tidak salah dengar? Apa terlintas dalam pikiran kamu, rumah tangga kita saat kamu bermesraan dengan perempuan ini?” bentak Cila.
Cila mendengar langkah kaki dari dalam. Ia tahu perempuan itu pasti mendengar percakapannya. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan wanita itu. Namun, entah mengapa Cila sangat ingin mendengar penjelasan dari wanita itu juga.
“Kamu yang didalam! Sini ketemu istrinya juga. Jangan berani ketemu suaminya saja.” Ujar Cila dengan nada tinggi.
Wanita itu berjalan pelan mendekati Cila dan Dandi. “ Saya tidak merasa harus meminta maaf kepada siapapun. Perasaan saya pada Mas Dandi tulus. Untuk apa saya merasa bersalah pada perasaan yang tulus ini.” Ucap Wanita itu dengan mata yang tuju pada Cila.
Cila mengepalkan telapak tangannya. Perkataan wanita ini sangat keterlaluan. Apakah Ia tidak menaruh iba sedikitpun padanya karena panghianatan ini? Minimal terhadap sesama wanita?
“Nama kamu siapa? Apa Orang Tua kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan ini?”
Wanita itu menatap Cila tajam,”Enggak ada hubungannya orang tua saya dengan kejadian ini. Kamu pikir, kamu siapa bawa-bawa orang tua saya. Urusan kamu dengan saya bukan dengan orang tua saya.” Ucap Wanita itu dengan nada tinggi.
“Metha, tolong jangan bersuara keras. Banyak orang akan mendengar dan melihat.” Sahut Dandi lembut pada wanita yang di sebut Meta oleh Dandi.
“Oh, nama kamu meta?” ujar Cila.
“Iya.” Jawab Metha ketus.
“kamu benar mencintai Dandi?”
Metha berjalan menghampiri tas yang tergeletak diatas meja nakas dan merogoh sesuatu. Ia kembali dengan memegang sebuah amplop Putih ditangan kanannya dan memberikannya pada Cila dengan kasar. “kamu butuh bukti yang seperti apa lagi hah?”
Cila melihat Kop Surat didepan amplop tangannya. Tertulis disitu Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermawati. Jantung Cila keakan berhenti berdetak. Bibirnya bergetar, dengan cepat ia merobek amplop itu dan membaca isinya dengan seksama.
Tangan Cila lemas, tanpa sadar ia membalikkan tubuh menjauh dari Dandi maupun Metha. Ia ingin segera melarikan diri dari hadapan mereka. Namun, kakinya tidak mampu berjalan lebih cepat. Dengan langkah gontai ia meninggalkan Dandi yang setengah terkejut melihat isi amplop yang dibaca Cila tadi.
Cila berdiri mematung melihat pintu lift. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk menekan tombol turun. Namun, pria yang tadi mengantarnya dengan sigap menekan tombol turun sehingga pintu lift terbuka.
“Mari bu Cila. Akan saya antar sampai ke lobby.”
Cila terlihat kebingungan. Pikiran dan perasaanya kini tidak menentu. Walau ia berusaha sekuat tenaga untuk tenang, namun semuanya itu sia-sia. Keadaan ini sungguh membuatnya kacau. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa ringan dan seketika roboh di dalam lift, beruntung pria itu dengan sigap menangkap tubuh Cila sehingga tidak sampai menyentuh lantai lift.
“Suci, kamu sudah menelpon keluarga ibu ini?”
“tidak ada yang menjawab, Pak. Bagaimana kalau kita panggil suaminya saja?” ujar Suci sambil mengusap hidung Cila dengan minyak kayu putih. Sudah 30 menit sejak Cila pingsan di lift dan belum sadar.
Yohan menggeleng lemah.“rasanya kita terlalu ikut campur dalam masalah keluarganya.” Jawab Yohan Pratama sambil menatap iba Cila yang terbaring di Sofabed. “Sebaiknya kamu kembali kedepan. Kasihan Dila tidak ada yang backup kalau banyak tamu yang datang.” Sambung Yohan.
“Baik Pak.”
Yohan Menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Entah yang keberapa kali ia menyaksikan kejadian seperti ini. Seorang istri yang memergoki suaminya berselingkuh begitupun sebaliknya. Bahkan aksi jambak-jambakan antara istri sah dan pelakor juga pernah ia saksikan secara langsung. Namun, kali ini entah mengapa perasaan Yohan begitu sedih. Ia seperti turut dalam perasaan hancur yang dialami oleh wanita ini.
Bahkan dalam kondisi lemah dan tak dasarkan diri, air mata wanita ini terus menetes. Sesekali Yohan mengambil Tissue dan mengelap air mata Cila yang mengalir deras ujung kedua matanya. Tersirat dengan jelas kesedihan yang mendalam dirasakan oleh wanita ini.
Cila mulai menggerakan tangannya perlahan dan menyentuh kening. Ia merasakan sakit kepala yang hebat. Samar-samar ia melihat lampu yang menyilaukan mata dan mengerang pelan. Ia merasa asing berada ditempat ini. “ini dimana?” ujarnya saat melihat seorang pria dengan wajah cemas duduk disampingnya.
“Ibu lagi ada di rest room karyawan hotel Artemis.” Jawab pria itu sambil menyuguhkan segelas Teh manis hangat pada Cila.
“Terimakasih” ujar Cila sambil menuguk teh manis hangat hingga kandas. “maaf sudah merepotkan bapak. Dan maaf juga karena membuat keributan dihotel ini.” Sambung Cila dengan wajah tertunduk.
“Tidak apa-apa. Saya maklumi kejadian tadi. Bagaimana keadaan ibu sekarang? Sudah merasa baikan?”
Terdengar kuat bunyi perut Cila yang sejak tadi minta diisi. “Maaf, saya belum sempat makan siang hari ini.” Ucapnya sambil memegang perutnya yang keroncongan. Mungkin ini salah satu penyebab ia pingsan.
Pria itu tertawa pelan sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. “Baiklah, dihotel ini ada restauran dengan banyak menu spesial. Mau saya antarkan?”
Cila tersipu malu sejenak ia melupakan apa yang baru saja terjadi dalam hidup dan rumah tangganya. Bukan berati ia memaafkan dan melupakan kesalahan yang telah diperbuat Dandi dan Metha. Perutnya peru diisi. Cila mengikuti Pria itu dari belakang sambil berlari kecil. Langkah pria didepannya ini sangat cepat, Cila yang kekurangan tenaga hampir tidak bisa ,mengejarnya.
“Ibu Cila berjalan menuju koridor sebelah sana, maka ibu akan menemukan restauran hotel ini.” Ujar Pria itu sambil menujukan arah yang harus dilalui Cila.
“Oh. Baik pak. Terimakasih banyak.”
Baru saja pria itu membalikkan tubuhnya, Cila dengan cepat menarik ujung lengan kemeja Pria itu. “Maaf. Boleh saya tahu nama bapak?”
Langkah pria itu tertahan, dan ia melihat lengan kemejanya ditarik kemudian tersenyum tipis menatap wajah Cila.
“Nama saya Yohan Pratama.”
“ahh. Pak Yohan. Terimakasih banyak atas bantuan bapak. Jika bapak berkenan boleh suatu saat nanti kita makan siang bersama sebagai rasa terimakasih saya?”
Yohan tersenyum, merogoh saku belakang celana dan membuka dompet. Ia menyodorkan kartu namanya pada Cila. “ini kartu nama saya.”
“Terimakasih pak.”
“Semoga masalah bu Cila cepat terselesaikan”
Cila mengangguk pelan dan melihat Pak Yohan berjalan meninggalkannya.
***
“Permisi bu..” sayup-sayup tersengar suara pria asing terdengar ditelinga Cila. Ia membuka matanya perlahan, ternyata ia ketiduran sebentar. Cila meraba tas yang ada dipangkuannya dan memeriksa ponsel. Sepuluh panggilan tidak terjawab dari Dandi. Sudah dua minggu ini Cila menghindari semua panggilan Dandi. Dan ia sudh meminta bantuan sahabatnya Santi yang bekerja sebagai pengacara untuk membantu proses perceraiannya.
“Iya ada apa?” sahut Cila pada pria asing yang berdiri disampingnya.
Pria itu mengangguk ramah, “Bangku disamping ibu orangnya kemana ya?” ujarnya sambil menunjuk bangku disebelah kiri Cila.
Cila merapikan posisi duduknya menjadi tegak,”Dari Gambir tadi emang enggak ada orang mas.”jawab Cila dengan dahi mengerut. Ia berusaha mengingat dan memang belum ada seorang pun yang duduk disampingnya sejak ia naik dari stasiun gambir padahal perjalanan sudah satu jam.
Pria itu menggaruk kepala sembari melihat kekanan dan kiri seperti mencari seseorang. Namun, ia memutuskan untuk pergi ketika tidak menemukan orang yang ia cari. “Maaf bu, mungkin saya salah ingat nomor bangkunya.” Ucap pria itu sambil meninggalkan Cila.
“Iya mas, enggak apa-apa” sahut Cila enggan.
Cila menatap kearah luar jendela, terlihat sawah-sawah yang hijau menyegarkan pandangannya. Ia kembali menanyakan hati atas tindakannya melakukan perjalanan kali ini. karena semua orang khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Cila mengingat kejadian belum lama ini menimpanya.
Entah kenapa, Cila mulai meragukan keputusannya. Ia sangat merasa asing dan kesepian. Tidak ada teman bicara ataupun orang yang dikenalinya saat ini. niat hati ingin mendapatkan ketenangan namun kini ia malah semakin merasa sendiri dan kesepian.
Andai saja Dandi tidak melakukan perselingkuhan ini, mungkin saat ini Dandi berada disampingnya. Cila segera menepis pikirannya agar tidak melayang terlalu jauh. Ia sadar bahwa saat ini ia harus memaafkan dirinya terlebih dahulu sebelum ia memaafkan apa yang dilakukan Dandi terhadap dirinya. Ia berusaha berdamai dengan segala keadaan yang terjadi sehingga bisa menjalani kehidupannya dengan bahagia. Jika tidak demikian, maka sia-sialah perjalanannya kali ini. Dan selamanya ia akan membenci Dandi.
Cila menatap Ponselnya yang kembali bergetar. Panggilan masuk dari Dandi. Dengan malas Cila menjawab panggilan itu,” ada apa?”
“Kamu dimana Cil?” tanya Dandi gusar. “Aku telpon kamu ari tadi enggak dijawab.”
Cila menghela nafas panjang, “Aku enggak merasa harus menjawab setiap panggilanmu Dandi. Jadi tolong, biarkan aku sendiri. Keputusan aku sudah bulat aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini lagi. Semoga kamu berbahagia dengan perempuan itu.”
“Tapi Cila, aku hanya mencintai kamu. Bisakah kita bertemu empat mata untuk membicarakan ini baik-baik?” Pinta Dandi dengan suara memelas.
Cila menegakkan tubuhnya,”Apa? Cinta kamu bilang? Berani-beraninya kamu sebut cinta dari bibir kamu yang busuk itu? Jangan pernah mempertanyakan perasaan aku pada kamu Dandi. Semua yang aku jalani selama lima tahun bersama kamu adalah tulus sampai dihari kamu menghianatiku.”
Terdengar suara isak pelan Dandi.”Maafkan aku Cila. Tapi aku benar-benar masih sayang sama kamu.”
Cila tak kuasa menahan tangisnya, air matanya mengalir membasahi pipi.”Maaf Dandi, wanita itu lebih membutuhkan kasih sayang kamu dari pada aku. Ingat, bayi dalam kandungannya adalah anak kandung kamu. Akan lebih disayangkan jika kamu meninggalkan mereka berdua demi aku yang tidak bisa memberimu anak.” Ucap Cila dengan suara bergetar. “aku sudah merelakan kamu bersamanya. Jadi mulai hari ini, tolong jangan hubungi aku lagi. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan pada Santi, ia yang akan mengurus segala hal mengenai perceraian kita.” Sambung Cila sambil menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Dandi.
Cila memejamkan mata dengan ponsel didekepan dadanya. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya namun hal itu sangat tidak mungkin. Bisa-bisa ia dikerubungi oleh penumpang satu gerbong. Cila menutupi wajah dengan kedua tangannya, sesekali terdengar isak tangis sedikit keras. Kenyataan ini benar-benar menyiksa jiwanya. Masa kecil yang dilalui Cila tidak seperti anak-anak pada umumnya. Ia harus berjuang hidup sendiri bersama mama yang mengalami depresi karena papanya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Karena tidak kuat menerima kenyataan itu, mama Cila akhirnya berpulang hanya enam bulan setelah bercerai dari papanya.
Karena tidak suka dengan sifat dan perlakuan papanya Cila yangsaat itu berumur 10 tahun memaksa untuk hidup sendiri dirumah peninggalan mamanya. Karena kuatir tante Mala yang menjadi ibu sambungnya mencari seorang pembantu untuk mengurus segala keperluan Cila. Budi Wandhi begitu Cila menyapanya.
“bude, Cila kangen” Isak Cila dengan suara rendah. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. semua tentang masa lalunya tiba-tiba muncul dalam ingatan dan membuatnya semakin bersedih. Beruntung kursi disampingnya tidak ada orang. Setidaknya Cila bisa mengis dan meratapi nasibnya tanpa mengganggu orang lain.
“Permisi bu.” Ucap seorang pria yang berdiri di ujung kursi sebelah kanannya lalu duduk tanpa meminta persetujuan Cila.
Cila segera mengambil tissu di pangkuannya dan mengelap air mata yang membasahi wajahnya dan membuang ingus yang sejak tadi mengganggu pernafasannya.
“Maaf, boleh lihat tiketnya. Saya hanya memvalidasi kalau benar ini kursi bapak.” Ujar Cila dengan suara serak.
“oh, baik. Sebentar ya bu.” Jawab bapak itu sambil merogoh saku celana jeans biru dongker yang dikenakannya.
“ini bu, silahkan periksa.” Ujar bapak itu sambil memberikan selembar kertas yang adalah tiket miliknya.
Cila mengambil tiket itu dan memastikan nomor kursi sudah benar. Namun,matanya tertuju pada nama yang tertulis pada tiket yangada ditangannya. “Yohan pratama?” gumamnya pelan. Nama itu seperti tidak asing. Cila pengalihakan pandangannya kearah pria itu untuk memastikan bahwa ia adalah Yohan yang ia kenal.
“Pak Yohan?” sahut Cila setengah berteriak.
Chapter III
accidentally
Yohan Pratama menoleh dengan dahi mengerut. Ia mengamat-amati wanita yang berteriak memanggil namanya. Seperti mengingat sesuatu Yohan tersenyum lebar. Ia ingat pada wanita yang duduk disampingnya dengan wajah sembab memakai sweater dongker dan rambut acak-acakan. Wanita ini terlihat lebih kacau dari sebelumnya.
“Iya. Saya Yohan. Hemm.. Ibu Cila bukan?” tanya Yohan memastikan ia tidak menyebutkan nama yang salah.
Cila tersenyum lebar dan mengangguk cepat. “Pak Yohan mau kemana?” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanan kearah Yohan.
Yohan menyambut uluran tangan Cila,”Saya ada keperluan di daerah Bromo, Bu.” Sahut Yohan “Ibu sendiri ?” sambungnya sambul melepaskan tangan Cila.
“iya, saya sendirian Pak.” Ujar Cila sambil menunjukan jari telunjuknya pada Yohan.
Yohan tertawa pelan. “ Maksud saya, Bu Cila mau pergi kemana?” terang Yohan.
Cila menepuk dahinya pelan, “Ahh. Saya salah paham. Saya mau liburan ke Bromo pak.” Ujar Cila tersipu malu.
Yohan mengangguk pelan. “Healing ya Bu.”
Cila tersenyum tipis. Healing adalah kata yang terlalu mewah untuk melabeli perjalanannya. Belum setengah jalan saja ia sudah dicecar dengan panggilan dari Dandi yang tak kunjung usai. Belum lagi pesan singkat yang entah sudah berapa banyak masuk dalam kotak masuk ponselnya. Cila sama sekali tidak berhasrat untuk memeriksa bahkan membaca semua isi pesan Dandi.
“Tujuan awalnya sih Pak. Semoga aja terwujud.” Ucap Cila sambil merogoh tas dan mengambil ponselnya yang kembali bergetar. “Sebentar ya pak.” Sambung Cila setelah menatap layar ponsel dan melihat nama penelpon.
Yohan mengangguk pelan.” Silahkan Bu.”
Cila segera menekan tombol terima sambil menggeser posisi duduknya membelakangi Yohan.
“Iya bude?” Sahut Cila.
“Ya ampun Non, Bude cemas dari tadi Non Cila enggak angkat telpon Bude. Non Cila sudah dimana?” terdengar nada cemas bude Wandi dari seberang.
“Maaf bude, Cila tadi ketiduran sebentar. Cila enggak tau ini dimana. Tapi baru 2 jam perjalanan bude. Masih lama sampe Malang.” Ujar Cila menenangkan hati wanita paruh baya yang Sejak Kecil merawatnya.
Bude Wandi mendesah cemas. “Pokoknya Non Cila jangan lupa kabari bude ya..” pinta Bude wandi.
Cila mengangguk pelan, ‘Iya bude. Cila janji bakalan kabari bude.” Ucap Cila pasti. “Bye bude.”
Sambungnya lagi.
“Iya non, Hati-hati ya” balas Bude Wandi masih dengan nada cemas.
Cila mengusap layar Ponsel dan masih mendapati Pop-Up pesan dari Dandi. Dengan malas Cila menggeser pesan-pesan tersebut dengan jari telunjuknya sambil bibir dikerutkan. Hatinya masih dipenuhi kesedihan. Cila kembali menatap keluar jendela dan berharap perjalanan ini cepat berakhir. Setidaknya jika tiba di Malang ia bisa menikmati pemandanga Alam yang sesungguhnya, bukan dari jendela ini.
“Bu Cila mau ini? saya ada beberapa potong Roti beli di stasiun tadi.” Ujar Yohan sambil menyodorkan kantong plastik putih bertuliskan Fresh Bakery.
Cila menoleh kearah Yohan. “Oh iya pak. Saya ambil ini.” ucap Cila sambil mengambil satu potong Roti yang diatasnya penuh dengan butiran coklat warna-warni. “Makasih ya.”
Yohan mebalas dengan anggukan kepala dan senyum ramah. Sejujurnya ia tidak tahu harus melakukan apa. Raut wajah Cila sangat sendu. Matanya sembab, rambut panjangnya di kuncir tidak beraturan ditambah dengan segepok tissu yang berada dipangkuannya. Ia benar-benar terlihat lebih kacau dari sebelumnya. Sepertinya Rumah tangga mereka tidak baik-baik saja.Yohan enggan menanyakan tentang hal itu, ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain ataupun membuat hati Cila semakin bersedih.
“Di Bromo nginap dimana bu?”tanya Yohan memecahkan kesunyian dan rasa canggung diantara mereka sambil mengunyah roti Coklat pisang ditangannya.
Cila menutup mulut dengan tangan kanan dan berusaha menelan potongan roti yang baru saja masuk kemulutnya. “ Teras Bromo resort, Pak.”
“Wah kebetulan sekali, saya juga menginap disana.” Sahut Yohan dengan mata nanar.
Senyum Cila melebar. “Benarkah?”
Yohan mengangguk pelan.
Cila menghela nafas lega dengan seulas senyum di wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara bantingan keras dari arah depan tempat duduk mereka. Diikuti oleh suara tangisan wanita yang sangat menyayat hati. Lalu berdiri seorang pria bicara dengan nada tinggi pada wanita yang sedang menangis itu sambil mendorong kasar kepalanya.
“Duh ada apa ini?” celetuk Yohan sambil memiringkan tubuhnya melihat kearah depan.
Cila meremas tangannya, ia menggeser tubuhnya ke arah jendela. Suasana menjadi tegang dan tangisan wanita itu semakin menjadi-jadi. Cila merasa tubuhnya gemetar. Ia tahu, ia ketakutan. Tanpa sadar ia meremas tangan Yohan dengan kuat, beruntung saat itu Yohan memakai jaket tebal untuk menghindari udara dingin dari AC kereta. Sehingga remasan tangan Cila tidak begitu terasa.
Terkejut karena Cila memegang tangannya, Yohan menoleh kearah Cila yang sedang memejamkan kedua mata dengan keringat yang bercucuran. Wajahnya kelihatan lebih pucat dari sebelumnya.
“Bu Cila kenapa?”
Cila hanya mampu menggeleng kepalanya pelan. Degup jantungnya berpacu dengan detik jam ditangannya dan nafasnya terengah-engah.
Yohan menjadi gusar. Sesekali ia mengangkat kepala melihat kearah depan sambil memperhatikan kondisi Cila yang belum bergeming.
“Kamu beneran baik-baik saja Cila?” tanya Yohan Gusar sambil menatap tiap centi wajah Cila. Terlihat keringat yang becucuran ditengah-tengah ruangan berAC, bibir Cila gemetar begitu pula dengan tangannya.
“Pak...” itu adalah kata terakhir yang diucapkan Cila sebelum tiba-tiba tubuhnya lemas, bersandar di pelukan Yohan.
Yohan tersentak kaget. Tubuh Cila mendarat dalam pelukannya dengan cepat. Wanita ini pingsan pikirnya. Yohan segera menurunkan sandaran kursi agar Cila bisa berbaring walau tidak sepenuhnya. Yohan mencondongkan badannya kebawah, membuka tas ransel yang ada dikakinya. Ia mancari minyak kayu putih yang dibelinya saat distasiun. Entah mengapa saat itu Yohan seperti tersihir untuk membeli minyak kayu putih yang sebelumnya tidak pernah ia gunakan. Ternyata minyak itu akhirnya berguna walau bukan untuk dirinya.
Cila mengerang pelan. Tangannya yang lemah tiba-tiba saja mendarat di tangan Yohan dan menggenggamnya erat.
Yohan dengan Sigap memperhatikan respon Cila yang pelan-pelan mulai sadar.
“Cila, Kamu tidak apa-apa?” nada gusar terdengar dari ucapan Yohan. Ia menyentuh kening Cila dan memperhatikan tiap centi raut wajah Cila yang sembab dan sendu. Yohan menghela nafas panjang, syukurlah suhu tubuh wanita ini tidak panas. Mungkin ia terkejut dengan kejadian tadi pikir Yohan.
“Aku... aku... takut.. Yohan” sahut Cila dengan suara serak.
“Tenang Cila, semua sudah baik-baik saja.” Ucap Yohan menenangkan.
Cila perlahan membuka kedua matanya, masih tersisa genangan air mata pada kelopak matanya. Degup jantungnya masih tidak karuan, bahkan jemarinya kini ikut gemetar.
Yohan dengan sigap mengambil sebotol air mineral dan memberikan pada cila. “Ayo minum dulu.”
Cila mengangguk lemah sambil meneguk air mineral ditangannya, “Terimakasih ya.” Ucap Cila sambil mengelap sisa air di pinggir bibirnya dengan lengan baju. “Aku enggak kebayang gimana jadinya kalau enggak ada kamu tadi.” Sambung Cila sambil menatap mata Yohan.
Tanpa disadari, Cila merasakan hal yang janggal pada perasaannya. Ia merasa nyaman berada didekat pria ini. Yohan bukanlah pria di usia 30an seperti Cila, terlihat dari rambut yang sudah mulai memutih dan guratan halus di garis senyum dan ujung matanya. Menyadari Cila masih menggenggam tangan Yohan, dengan cepat Cila menarik tangannya salah tingkah.
“Maaf.” Ucap Cila singkat.
Yohan tersenyum tipis. “sudah merasa baikan?”
Cila melirik Yohan dan tersenyum malu, “Iya, sudah merasa enakan kok.”
Yohan merapikan posisi duduknya kearah depan sambil membuang nafas panjang. “Mereka sudah diamankan petugas kereta tadi.” Ucap Yohan menceritakan kejadian yang terjadi sewaktu Cila pingsan.
Cila mengangguk pelan, “mengapa mereka ribut begitu? Kasian yang perempuannya sampai menangis begitu.” Tanya Cila penansaran.
“suaminya ketahuan selingkuh.” Ucap Yohan hati-hati.
Cila tersentak sambil menatap Yohan , “Really?”
Yohan menangguk, “Ya, begitulah.”
Cila menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil mengusap dadanya sendiri. Kamu harus kuat Cila, ada banyak wanita diluar sana yanng juga merasakan apa yangkamu alami bahkan lebih parah. Ucap Cila dalam hati.
“ada banyak kejadian rumit yang terjadi dalam kehidupan ini. dan tidak sedikit orang sulit menemukan jalan keluarnya. Walau terkadang ada orang yang memandang kita sebelah mata dengan semua kejadian yang kita alami, tatapi yang paling tahu seberapa sulit penderitaan dan kesedihan kita adalah diri kita sendiri. Jadi jangan terganggu pada ucapan orang lain yang tidak tahu apa-apa tentang kita.” Ucap Yohan sambil tesenyum tipis kearah Cila.
Cila menatap Yohan dalam-dalam. Pria ini benar-benar membuatnya berdebar.
“Aku boleh bareng kamu ke Hotel?” Ucap Cila Cepat.