Sampul Novel Karma Manis untuk Tuan yang Sombong

Karma Manis untuk Tuan yang Sombong

7.9 / 10.0
Skandal tak terduga dengan Arjuna Adiwangsa, anak majikannya, menghancurkan rencana pernikahan pria itu dengan Valerie. Tuduhan pun mengarah pada Arunika Kinanti, memicu kebencian mendalam dari Arjuna. Walau sempat melarikan diri, Kinanti akhirnya tertangkap dalam keadaan mengandung. Demi reputasi keluarga, Arjuna terpaksa menikahinya. Namun, sebuah syarat kejam menanti: Kinanti wajib merelakan bayinya dan pergi setelah bercerai, membuatnya terjebak dalam rumah tangga yang dingin.
Ringkasan Karma Manis untuk Tuan yang Sombong
Skandal tak terduga dengan Arjuna Adiwangsa, anak majikannya, menghancurkan rencana pernikahan pria itu dengan Valerie. Tuduhan pun mengarah pada Arunika Kinanti, memicu kebencian mendalam dari Arjuna. Walau sempat melarikan diri, Kinanti akhirnya tertangkap dalam keadaan mengandung. Demi reputasi keluarga, Arjuna terpaksa menikahinya. Namun, sebuah syarat kejam menanti: Kinanti wajib merelakan bayinya dan pergi setelah bercerai, membuatnya terjebak dalam rumah tangga yang dingin.
Baca Selengkapnya

Karma Manis untuk Tuan yang Sombong Bab 1

Suara detak jam dinding di kamar itu terasa seperti hantaman palu yang memukul kepala Kinanti. Bau parfum pria yang mahal bercampur dengan aroma alkohol yang menyengat menusuk hidungnya. Kinanti mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang terasa tercecer di lantai. Kepalanya berat sekali, seolah ada bongkahan batu yang menekan saraf-saraf di pelipisnya.

Perlahan, ia merasakan sesuatu yang asing. Tekstur seprai sutra yang halus di bawah telapak tangannya, dan kehangatan kulit seseorang yang bersentuhan dengan lengannya. Kinanti menoleh dengan kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok di sampingnya.

Arjuna Adiwangsa.

Pria itu masih terlelap, napasnya teratur namun berat. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan menutupi dahi. Namun yang membuat dunia Kinanti runtuh bukan sekadar melihat Arjuna di sana, melainkan fakta bahwa mereka berdua berada di balik selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh masing-masing.

"Nggak... nggak mungkin," bisik Kinanti. Suaranya serak, nyaris hilang.

Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ia ingat Arjuna pulang dalam keadaan mabuk berat setelah merayakan proyek barunya. Sebagai orang yang menumpang di rumah itu dan merasa berutang budi, Kinanti hanya berniat membantunya sampai ke kamar. Ia membawakan segelas air lemon hangat, lalu... sisanya gelap. Semuanya tertutup kabut hitam yang pekat.

Kinanti menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai dengan tangan gemetar. Ia ingin segera lari. Ia ingin menghilang sebelum matahari benar-benar naik. Namun, sebelum ia sempat turun dari ranjang, pintu kamar itu terbuka dengan dentuman keras.

"Surprise! Happy birth-"

Kalimat itu terputus di udara. Di ambang pintu, Valerie berdiri mematung. Kotak kue di tangannya merosot, jatuh ke lantai hingga isinya hancur berantakan. Di belakangnya, beberapa teman Arjuna dan asisten rumah tangga ikut terpaku.

Suasana seketika membeku. Oksigen seolah tersedot keluar dari ruangan itu.

Arjuna tersentak bangun karena suara gaduh itu. Ia duduk dengan kasar, matanya yang merah karena sisa alkohol menatap nanar ke arah pintu, lalu beralih ke sampingnya-ke arah Kinanti yang sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan seprai sambil menangis sesenggukan.

"Valerie?" suara Arjuna parau, penuh kebingungan.

Valerie tidak menjawab. Wajah cantiknya pucat pasi, air mata mulai mengalir deras menghapus riasan wajahnya yang sempurna. Ia menatap Kinanti dengan tatapan yang sangat menghina, seolah melihat kotoran yang paling menjijikkan di muka bumi.

"Jadi ini kelakuan kamu, Jun? Sama dia? Sama pembantu ini?" suara Valerie melengking, pecah oleh rasa sakit yang luar biasa.

"Val, ini nggak seperti yang kamu lihat. Aku... aku nggak tahu," Arjuna mencoba turun dari ranjang, tidak peduli dengan kondisinya sendiri, tapi Valerie sudah lebih dulu berbalik dan lari meninggalkan ruangan itu.

Arjuna menggeram frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri, lalu tatapannya beralih pada Kinanti. Tidak ada lagi kehangatan atau rasa kasihan di matanya. Yang ada hanyalah kilatan kemarahan yang bisa membakar siapa saja.

"Apa yang kamu lakuin, Kinanti?!" bentak Arjuna. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu.

"Aku... aku nggak tahu, Mas. Aku bener-bener nggak tahu," Kinanti tergugu. Tubuhnya gemetar hebat sampai giginya bergemeletuk.

Arjuna merangsek maju, mencengkeram rahang Kinanti dengan kuat hingga gadis itu memekik kesakitan. "Nggak tahu? Kamu pikir aku bodoh? Kamu sengaja, kan? Kamu kasih apa di minuman aku semalam?"

"Nggak, Mas! Sumpah, aku cuma bawain air lemon..."

"Bohong!" Arjuna mendorong Kinanti hingga kepalanya terbentur sandaran ranjang yang keras. "Kamu itu cuma parasit di rumah ini. Orang tua aku kasih kamu tempat tinggal, kasih kamu makan, kasih kamu sekolah, tapi ini cara kamu balas budi? Kamu mau jebak aku supaya bisa jadi nyonya di rumah ini, iya?!"

Kinanti menggeleng kuat-kuat. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang memerah. "Aku nggak pernah punya niat kayak gitu, Mas. Demi Tuhan..."

"Jangan bawa-bawa Tuhan dengan mulut kotor kamu itu!" Arjuna berdiri, menyambar jubah mandinya dan memakainya dengan kasar. "Lihat apa yang kamu buat. Kamu hancurin rencana aku sama Valerie. Hari ini seharusnya aku melamar dia secara resmi di depan keluarga besar!"

Kinanti hanya bisa meringkuk, memeluk lututnya di atas ranjang yang kini terasa seperti tempat eksekusi. Ia merasa sangat kecil, sangat rendah. Statusnya sebagai "gadis kampung" yang ditolong keluarga Adiwangsa kini benar-benar menjadi senjata untuk menghakiminya. Di mata semua orang di rumah ini, ia hanyalah orang asing yang tahu diri, dan sekarang ia dianggap sebagai pengkhianat yang menusuk dari belakang.

Arjuna berjalan ke arah jendela, menatap ke luar dengan napas memburu. "Keluar," ucapnya dingin.

Kinanti mendongak kaget. "Mas..."

"Keluar dari kamar aku! Dan jangan pernah muncul di depan muka aku sampai aku tahu gimana cara bersihin kekacauan yang kamu buat ini!"

Kinanti segera memunguti pakaiannya dan lari menuju kamar mandi di dalam kamar itu untuk berganti pakaian secepat kilat. Setiap detik yang ia habiskan di sana terasa seperti siksaan. Saat ia keluar, Arjuna masih berdiri membelakanginya, bahunya naik turun menahan amarah yang meledak-ledak.

Begitu Kinanti keluar dari kamar Arjuna, ia disambut oleh tatapan-tatapan tajam dari para pelayan yang berkumpul di lorong. Mereka berbisik-bisik, suara mereka cukup keras untuk didengar oleh telinga Kinanti.

"Nggak nyangka ya, kelihatannya aja polos, ternyata licik banget."

"Iya, dasar nggak tahu diri. Sudah ditampung malah mau nyolong anak majikan."

Kinanti terus berlari menuju kamarnya yang kecil di bagian belakang rumah. Ia mengunci pintu, lalu luruh ke lantai. Dadanya sesak, rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya sampai hancur. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha agar isak tangisnya tidak terdengar keluar.

Ia teringat almarhum ibunya. Pesan terakhir ibunya adalah agar ia selalu menjaga kehormatannya, karena itu satu-satunya harta yang ia miliki sebagai orang miskin. Dan sekarang, dalam satu malam, harta itu hilang. Hilang oleh pria yang selama ini diam-diam ia kagumi, pria yang kini justru menjadi orang yang paling membencinya di dunia.

Pikiran Kinanti melayang pada Valerie. Valerie adalah wanita yang sempurna. Cantik, kaya, dan sangat mencintai Arjuna. Kinanti tahu betapa hancurnya perasaan wanita itu. Tapi siapa yang akan peduli pada kehancuran perasaan Kinanti? Siapa yang akan bertanya apakah ia juga merasa tersiksa?

Di rumah ini, ia hanyalah bayangan. Dan bayangan tidak punya hak untuk merasa sakit.

Pukul sepuluh pagi, ketukan keras di pintunya membuat Kinanti tersentak. Itu adalah suara Bik Sumi, kepala pelayan di sana.

"Kinanti, keluar! Tuan Besar manggil kamu di ruang tengah."

Kinanti mengusap wajahnya yang sembap. Ia merapikan pakaiannya yang kusut, mencoba terlihat setegar mungkin meski kakinya terasa seperti jeli. Ia berjalan menyusuri lorong yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa begitu dingin dan mencekam.

Di ruang tengah, seluruh keluarga sudah berkumpul. Tuan Adiwangsa duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang sangat gelap. Di sampingnya, Nyonya Adiwangsa menangis pelan sambil memegang tisu. Dan Arjuna... pria itu berdiri di sudut ruangan, menatap lurus ke arah dinding, sama sekali tidak mau melirik ke arah Kinanti.

"Duduk," perintah Tuan Adiwangsa singkat. Suaranya berat dan penuh wibawa, jenis suara yang tidak menerima bantahan.

Kinanti duduk di kursi kayu paling pinggir, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Saya nggak mau bertele-tele," Tuan Adiwangsa memulai. "Apa yang terjadi semalam adalah aib terbesar keluarga ini. Kamu, Kinanti, saya sudah anggap kamu seperti anak sendiri. Saya biayai kuliah kamu, saya kasih kamu tempat tinggal yang layak. Kenapa kamu tega melakukan ini pada Arjuna?"

"Saya nggak melakukannya, Tuan... saya..."

"Cukup!" bentak Tuan Adiwangsa. "Bukti sudah jelas. Kamu ada di ranjangnya. Dan Arjuna bilang dia nggak sadar sama sekali. Itu artinya kamu yang mengambil kesempatan dalam kesempitan."

Kinanti ingin menjerit. Ia ingin membela diri, mengatakan bahwa ia juga tidak sadar, bahwa ia juga merasa ada yang aneh dengan kepalanya semalam. Tapi siapa yang akan percaya? Dia hanya gadis miskin dari kampung, sementara Arjuna adalah putra mahkota kebanggaan mereka.

"Ayah, aku nggak mau nikah sama dia," Arjuna tiba-tiba bersuara. Suaranya tajam seperti pisau. "Aku mau cari Valerie. Aku mau jelasin ke dia. Aku nggak sudi bertanggung jawab buat sesuatu yang nggak aku inginkan."

Nyonya Adiwangsa mendongak. "Tapi Jun, kalau sampai dia hamil gimana? Nama keluarga kita taruhannya."

"Hamil?" Arjuna tertawa sinis, tawa yang membuat bulu kuduk Kinanti berdiri. "Gampang. Suruh dia gugurkan atau buang saja. Aku nggak peduli. Dia yang mau ini terjadi, kan? Jadi dia yang harus tanggung risikonya sendiri."

Kata-kata itu menghujam jantung Kinanti lebih dalam dari apa pun. Ia menatap Arjuna dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka pria yang biasanya bersikap sopan dan lembut itu bisa mengucapkan kata-kata sekejam itu.

"Arjuna! Jaga bicara kamu!" tegur Tuan Adiwangsa. "Kita bukan keluarga biadab. Tapi saya juga setuju, pernikahan bukan solusi sekarang. Kinanti, untuk sementara, kamu jangan keluar dari rumah ini. Saya akan kirim kamu ke rumah peristirahatan di puncak sampai situasi tenang. Saya nggak mau ada media atau orang luar yang tahu soal ini."

"Tapi Tuan, kuliah saya..."

"Lupakan soal kuliah kamu untuk sekarang!" suara Tuan Adiwangsa meninggi. "Kamu sudah bikin malu keluarga ini, masih berani mikirin kuliah? Kamu harusnya bersyukur saya nggak lempar kamu ke jalanan detik ini juga!"

Kinanti terdiam. Ia meremas ujung bajunya sampai kukunya memutih. Di ruangan itu, ia merasa seperti terdakwa yang sudah divonis bersalah bahkan sebelum persidangan dimulai.

Arjuna berjalan mendekat ke arah Kinanti. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Kinanti sehingga gadis itu bisa mencium aroma kemarahannya.

"Kamu pikir kamu menang, Kinanti?" bisik Arjuna, sangat pelan namun penuh penekanan. "Kamu salah. Kamu baru saja memulai neraka kamu sendiri. Aku nggak akan pernah maafin kamu. Selamanya."

Setelah mengatakan itu, Arjuna pergi begitu saja, menyambar kunci mobilnya dan keluar dari rumah dengan kecepatan tinggi. Bunyi derit ban mobilnya terdengar sampai ke dalam rumah, menandakan betapa kalutnya perasaan pria itu.

Kinanti ditinggal sendirian di tengah ruangan, di bawah tatapan kecewa Tuan dan Nyonya Adiwangsa. Ia merasa dunianya sudah runtuh. Tidak ada jalan kembali. Nama baiknya, masa depannya, dan harga dirinya sudah hancur berkeping-keping.

Malam itu, Kinanti duduk di pinggir ranjang kamarnya yang sempit. Ia sudah mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam tas ransel tua miliknya. Ia tidak akan menunggu sampai besok untuk dikirim ke rumah puncak. Ia tidak mau menjadi tawanan di bawah rasa bersalah yang tidak ia lakukan.

Ia menatap cermin kecil di depannya. Wajahnya terlihat sangat kusam, matanya bengkak. Ia meraba perutnya yang masih rata. Sebuah ketakutan baru muncul di benaknya. Bagaimana jika perkataan Nyonya Adiwangsa benar? Bagaimana jika benih Arjuna benar-benar tertanam di sana?

"Nggak, Tuhan... tolong jangan sekarang," isaknya.

Ia teringat betapa baiknya Arjuna padanya selama dua tahun terakhir. Bagaimana pria itu sering membawakannya buku-buku kuliah, atau sekadar menanyakan apakah ia sudah makan. Kebaikan-kebaikan kecil itu yang membuat Kinanti menyimpan rasa secara diam-diam. Tapi sekarang, kebaikan itu telah menguap, digantikan oleh kebencian yang murni.

Kinanti berdiri, menyandang tasnya. Ia membuka jendela kamarnya yang tidak berteralis. Ini adalah lantai satu, cukup rendah untuk ia lompati. Ia tidak punya tujuan, tidak punya banyak uang di dompetnya. Tapi tinggal di sini hanya akan membuatnya semakin gila.

Ia melompat keluar, mendarat di atas rumput yang basah karena embun malam. Dengan langkah terburu-buru, ia melewati gerbang samping yang biasanya tidak terkunci rapat. Ia berlari menjauh dari rumah megah itu, menjauh dari kehidupan yang sempat ia impikan, tanpa tahu bahwa takdir sedang menyiapkan kejutan yang jauh lebih besar di depan sana.

Kinanti terus berlari sampai napasnya tersengal-sengal. Ia sampai di sebuah halte bus yang sepi. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia duduk memeluk tasnya. Hujan mulai turun rintik-rintik, seolah ikut menangisi nasibnya.

Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Arjuna sedang mabuk-mabukan di sebuah bar, mencoba menghapus bayangan wajah Kinanti yang menangis dari ingatannya. Ia tidak tahu bahwa Valerie sedang mengemasi barang-barangnya untuk pergi ke luar negeri, meninggalkan luka yang tak terobati. Dan yang paling penting, ia tidak tahu bahwa di dalam dirinya, sebuah kehidupan baru sedang mulai terbentuk-sebuah kehidupan yang nantinya akan mengikatnya kembali pada Arjuna dalam ikatan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kebencian.

Nasi sudah menjadi bubur. Dan Kinanti harus belajar menelan bubur yang pahit itu sendirian, di tengah dinginnya malam dan ketidakpastian masa depan. Ia hanyalah gadis kampung yang malang, yang terjebak dalam permainan takdir yang terlalu besar untuknya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Karma Manis untuk Tuan yang Sombong

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Jasmine Bintang, yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir, selalu dikecewakan oleh ibunya sendiri. Harapannya untuk bahagia sirna setelah menikah dengan Ardan Mahendra yang kaya raya. Alih-alih diterima, keluarga Ardan justru merendahkan fisiknya. Penderitaan Jasmine memuncak ketika Anindya, mantan kekasih suaminya, datang membongkar kepalsuan pernikahan mereka. Saat Jasmine menuntut cerai demi harga dirinya, Ardan menolak keras dan mengancam tidak akan membiarkannya pergi.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menebus adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari rela menjual kesuciannya pada Keyko Khayang Gumelar seharga 100 juta rupiah. Di tengah kemalangan itu, ia tanpa sengaja bertemu dengan duda tampan bernama Damian di supermarket. Kini, Daiva berada di persimpangan jalan ketika Keyko dan Damian sama-sama berjuang memenangkan hatinya. Siapa pria yang akan dipilih Daiva untuk menemani masa depannya dan melepaskannya dari bayang-bayang masa lalu?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.3
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi demi menolong Zoey, membuat nenek Cherish syok hingga meninggal dunia tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey. Merasa dikhianati, Cherish tegas mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan bersedia memberikan apa saja, bahkan nyawanya, demi mendapatkan kembali cinta Cherish yang telah pergi.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Demi Rania, tunangannya, Baskara tega memaksaku mendonorkan sumsum tulang. Kedekatan masa kecil kami kini musnah, berganti kebencian buta darinya setelah fitnah keji Rania menghancurkanku. Akibat rekaman asusila palsu itu, Baskara menyiksaku dan menculik orang tuaku, memaksaku melihat mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah penyakit parah yang kusembunyikan, dia justru menyuruhku mati. Tanpa ragu, aku menuruti keinginannya dan melompat ke jurang maut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED